Senin, 18 April 2011

Malaikat Hidup Gue Part 22


***

"Shilla ?" gumam Rio tanpa sadar.

Dengan separuh jiwa yang telah berhasil ia tarik kembali dari alam mimpi, Rio meraih handphonenya. Detik berikutnya, pemuda berambut hitam dengan poni ke samping itu mulai sibuk berkutat dengan alat komunikasi praktis hasil perkembangan IPTEK di tangannya. Setelah menekan tombol angka 3 yang biasanya secara otomatis akan langsung menghubungkannya dengan pemilik nomor +6285724101997, Rio segera mendekatkan handphonenya ketelinga.

"Shilla, angkat Shil." ujarnya tidak sabar. Entah mengapa, Rio merasa perlu untuk segera menghubungi gadis itu dan menceritakan mimpinya.

Dari sebrang sana nada tunggu terus terlantun samar, mengisi sepi yang begitu nyata dalam ruangan ini. Detik terus terlewati, dan yang tercipta masih saja sebentuk keheningan.

Percayalah..
Hanya dirinya paling mengerti
Kegelisahan jiwamu kasih
Dan arti kata kecewamu
Rio... Yakinlah..
Hanya dia yang paling memahami
Besar arti kejujuran diri
Indah sanubarimu kasih
Percayalaah..

Bulu kuduk Rio meremang, ia mengusap tengkuknya. Merasakan ada yang membisiki bait-bait nada itu, dekaaat sekali. Suara itu, suara yang sangat Rio kenal. Milik penawan hatinya, milik gadis cinta pertamanya yang Rio hantarkan sendiri keharibaan Tuhan, suara itu... Dea. Hatinya mencelos, tertohok kian dalam, seperti diingatkan tentang sesuatu yang selama ini terabaikan. Sebuah rasa tersembunyi yang sebaiknya segera ia kuat. Lantas apa ??

"Astaga, gue pasti udah gila." gerutunya, setengah frustasi.

Tanpa fikir panjang, apa efek bagi tubuhnya, Rio mencabut paksa selang bening yang semula menempel pada lengan kirinya. Lantas menyibuk selimut dengan kasar dan berlalu meninggalkan ruangan yang selama hampir 2 minggu ini memenjarakannya.

***

Si-Masa-Lalu itu telah melepas jeratnya...

Berbeda dengan Rio yang 'seharusnya' mulai terlepas dari rantai-rantai masa lalu yang selama ini mengepung gerak-geriknya dari segala penjuru, gadis dengan dagu tirus berkulit sawo matang itu, dimalam yang sama malah mendapati dirinya semakin terseok-seok dalam menapaki hari-harinya, mendapati dirinya semakin tidak logis kalau tidak mau dibilang gila. Berpijak pada harapan-harapan kosong yang sejatinya, ia tau tidak akan pernah menjadi kenyataan. Ia melambungkan angannya, dan disaat yang bersamaan harus kembali merasakan sakitnya dihempas kenyataan. Munafik, kalau sebelumnya, gadis itu bilang semua akan baik-baik saja. Toh, sekarang buktinya tidak ada yang jadi baik, semenjak pemuda itu menghilang. Ada sisi kosong yang begitu kentara dalam dirinya dan menuntut untuk diisi. Meski akal sehatnya gencar berorasi menuntut agar sebentuk hati itu segera melengserkan kekuasaannya atas diri gadis ini, itu sama sekali tidak merubah apapun. Semuanya akan tetap sama. Detik-detik terasa begitu lama terurai, tapi setelah terangkai, satuan waktu itu malah membentuk temali bersimpul rindu yang menjeratnya tanpa ampun. Mengikatnya disatu titik menyebalkan yang bertajuk penantian.

"...kontestan terakhir pada malam hari ini, dengan nomor urut 28, Alyssa Saufika..."

Suara berirama khas, yang dikumandangkan seorang belia berbusana long dress dengan motif batik lewat mikrofon ditangannya, memaksa gadis tadi, Ify, agar segera beringsut dari posisi duduknya. Sekilas, Ify merapikan gaunnya. Gaun putih susu dengan detail manik sederhana disekitar dada dan ujung-ujungnya, gaun pemberian Rio. Perlahan ia berjalan menyusuri panggung megah itu. Lighting yang sempurna, desain yang mengagumkan, serta sorot mata seluruh penonton yang tertuju padanya, membuat Ify gugup. Ia berusaha mengulum senyum dengan kikuk.

"Kalau gugup, liat kita aja Fy. Kita di kursi barisan depan sisi kiri. Good luck ya sista gue tersayang."

Kata-kata Agni sebelumnya, dibackstage, membuat Ify menoleh ke sisi kiri kursi barisan depan. Dilihatnya Sivia tengah melambai-lambai kearahnya, serta Agni dan Gabriel yang kompak mengepalkan tangan mereka dan mengangkatnya tinggi-tinggi. Tapi, Ify, hatinya malah semakin bergetar melihat semua itu. Ya, ada yang kurang. Ada yang masih Ify tunggu. Orang yang merekomendasikan kontes ini untuknya. Orang yang berkata sangat ingin melihat permainan piano Ify. Sejenak Ify tercenung, lantas batu-batu kebenaran itu ditindihkan dengan paksa kedalam dadanya. Terasa menyesakkan. Pangeran dari Kerajaan Menyebalkan itu, benar-benar tidak datang untuknya malam ini.

Ify memejamkan matanya, menarik nafas dalam-dalam, mengusir perasaan ingin menganulir keputusannya mengikuti kontes ini. Sekali lagi, ditiliknya setiap sudut gedung ini, semua penonton mulai berbisik-bisik ricuh. Dewan juri yang semula duduk tegap dengan antusias, kini nampak mulai bosan menunggu Ify mulai menunjukkan kepiawaiannya memakinkan piano. Ify semakin nervous, ia merutuki jari-jarinya yang entah mengapa tiba-tiba saja jadi beku.
Ingin sekali Ify mencoret namanya dari daftar peserta kontes ini, apalagi kalau melihat peserta-peserta sebelumnya yang selain begitu apik dalam memaikan tuts-tuts nada, ditunjang juga oleh kualitas vocal yang memang diatas standart. Dalam kontes ini, setiap kontestan diperkenankan turut bernyanyi, bukan sekedar bermain musik.

"Ini buat nenek dan buat kamu, Mario." ujar Ify, dalam hati.

Berangkat dari ikrar hatinya, Ify memperoleh kekuatan untuk kembali menggerakkan jemarinya. Sebuah intro lagu anak-anak yang sudah lama lekang, mengalun sederhana, membius ricuh yang sempat membahana, lantas menggantinya dengan hening.

Satu-satu..
Daun-daun..
Berguguran, tinggalkan tangkainya.
Satu-satu..
Burung kecil.
Berterbangan, tinggalkan sarangnya.
Jauh-jauh, tinggi.
Kelangit yang biru.

Andaikan, aku punya sayap
Ku kan terbang jauh
Mengelilingi angkasa
Kan kuajak, ayah bundaku
Terbang bersamaku
Mengelilingi dunia.

Beberapa penonton yang hadir dan dewan juri, tampak mulai larut dalam permainan piano Ify. Jari-jari gadis manis ini dengan lincah masih menari diatas grand piano putih itu, mendentingkan alunan nada sederhana yang memanjakan indera pendengaran. Lagi-lagi Ify menyapu pandangannya, melirik sisi kiri kursi barisan depan. Disana ada Cakka dan Agni yang entah kompakan atau memang ber-chemistry kuat, keduanya sama-sama mengenakan baju berwarna merah marun. Lalu disebelahnya, terlihat Sivia yang terus menggandeng lengan Alvin, gadis itu melempar senyum kearah Ify saat mata mereka beradu. Disisi Alvin, ada sang Mama yang merangkul Iel yang duduk di kanannya. Dikursi berikutnya, ditempati mama dan papa Ify yang sengaja datang malam ini, untuk menyaksikan kembali putri tunggalnya bermain piano. Dan siluet terakhir adalah milik sosok cantik Shilla, gadis berambut panjang itu terlihat sangat bahagia, duduk diapit mama dan papanya.

Mereka semua nampak tersenyum lebar, seakan telah menemukan kembali sayap-sayap yang akan mampu membawa mereka terbang, menjangkau angan dan cita yang tergantung diujung kerlip bintang. Semua tampak begitu indah dan sempurna, malam ini. Layaknya sebuah kisah, bergenre happy ending, maka malam ini seakan jadi scene terakhir untuk menutup satu lagi balada seorang anak manusia.

Permainan piano Ify terus berlanjut, tapi suara ribut-ribut kembali terdengar. Seharusnya Ify sudah mulai kembali bernyanyi sejak tadi, tapi gadis itu malah memandang kosong. Konsentrasinya buyar, Ify, mata gadis itu mulai berkaca-kaca. Jujur saja ia, iri. Kenapa sepertinya, diantara teman-temannya, hanya ia yang tidak diijinkan bahagia ??

"Apa-apaan sih tu orang ? Gak niat banget mainnya." cibir family dari salah-satu kontestan yang duduk dibelakang Shilla.

"Satu-satu.. Burung kecil, berterbangan tinggalkan sarangnya. Jauh-jauh.. Tinggi, kelangit yang biru..."
Suara merdu Shilla, terdengar mengimbangi permainan piano Ify, dari kursi penonton. Ify terkesiap, menyadari dirinya telah melewatkan beberapa part dalam lagunya. Saat ia mengalihkan fokusnya kebangku penonton, tanpa di aba-abai terlebih dulu, suara rancak dan serentak, terdengar berkumandang, melengkapi alunan nada yang dihasilkan tuts-tuts putih-hitam yang Ify tekan. Beberapa penonton, terutama sobat-sobat Ify, ikut melantunkkan reff lagu yang Ify mainkan.

Andaikan, aku punya sayap
Ku kan terbang jauh
Mengelilingi angkasa
Kan kuajak ayah bundaku
Terbang bersamaku, mengelilingi dunia...

Terbang bersamakuu.. Mengelilingi duniaa..

Suara sopran milik Ify menutup lagu itu dengan sempurna. Standing applause dihadiahkan sebagian penonton dan dewan juri, yang benar-benar terkesan pada performance Ify.
Ify tau, permainan pianonya tidak cukup baik malam ini. Tepuk-tangan yang dihadiahkan kepadanya, Ify rasa semata-mata memang karena feel dari lagu itu sendiri yang sudah sangat mendalam. Apalagi lagu anak-anak itu sudah jarang diperdengarkan, saat Ify membawakannya malam ini, seakan mengobati rasa rindu sebagian orang-orang itu, akan masa kecil mereka.

Saat memberikan salam hormat, tanpa bisa dicegah mata Ify kembali menelusur setiap sudut gedung serba guna itu. Pangeran Kerjaan Menyebalkan itu, benar-benar tidak datang. Tak kuasa menahan tangisnya, Ify segera turun dari stage, dan memeluk mamanya.

"Kenapa sih dia nyebelin banget. Tinggal datang aja apa susahnya sih. Ify benci, benci banget sama dia." adu Ify, pada wanita anggun yang tengah membelai lembut rambut panjang Ify.

"Dia siapa, Nak? Siapa yang kamu maksud, sayang ??" tanya sang Mama.

Ify tidak menjawab, memilih menenggelamkan diri dalam dekapan hangat mamanya, berharap tetesan air matanya yang belum begitu deras, bisa secepatnya dibendung.

Masih dari balik pelukan mama, Ify menangkap siluet Shilla yang duduk tak jauh dari tempatnya, bersama Iel. Saat bola mata indah milik dua gadis cantik itu beradu, cepat-cepat Shilla melempar pandangannya ke objek lain.


Setelah melepas pelukannya, Ify menghampiri Shilla, berniat mengucapkan terima kasih karena sedikit banyak, gadis itu telah membantu performance pertamanya malam ini, setelah lama vacum bermain piano.

Tapi kemudian Ify terpaku ditempatnya. Sederet tulisan tangan Shilla yang tersusun rapi dalam secarik kertas, mengingatkan Ify pada sesuatu. Tidak ada yang istimewa, kertas itu hanya berisi sebuah e-mail dan keyword untuk searching sebuah video di youtobe, sepertinya Iel meminta Shilla menyalinkan untuknya.

"Jadi surat ditaman itu, elo yang tulis Shil ?" tegur Ify, tiba-tiba.

Shilla terkesiap. Saat mengangkat kepalanya, Shilla mendapati Ify tengah berdiri angkuh didepannya. Melipat kedua tangan didada, lengkap dengan ekspresi wajah menuduh.

"Surat ? Surat apa Fy ? Maksud lo apa ?"

"Gak usah sok gak ngerti deh lo." Ify merebut kertas yang Shilla pegang, "Ini tulisan lo kan ? Sama persis, sama tulisan yang ada disurat itu. Surat yang gue terima ditaman komplek perumahan Rio, gue hafal banget. Jadi elo yang tulis surat itu, apa sih maksud lo ? Kalau lo masih suka sama Rio, jangan kayak gini dong Shil, caranya." ujar Ify, panjang lebar.

"Kok lo ngomongnya gitu sih Fy ? Gue gak ngerti, maksud lo apa ?" kilah Shilla, wajahnya kian memucat.

"Gak usah bohong deh, Shil." Ify mendorong bahu Shilla.

"Weis, sabar girl. Gak pake emosi bisa kali ya ? Malu diliat orang." bela Iel.

Beruntung saat itu, seorang penyanyi solo sedang tampil sebagai penutup kontes malam ini, jadi suara-suara bernada tinggi yang dikeluarkan sedikit tersaru oleh dentum soundsystem.

"Yel, cewek ini tu pembohong. Dia tau dimana Rio, tapi di.."

"Nggak, gue gak tau dimana Rio. Lo jangan asal gitu dong, Fy."

"BOHONG.. Lo bohong kan. Lo tau dimana Rio kan?"

"Gue gak tau Fy."

Pada saat yang bersamaan handphone Shilla menyala, menampilkan ikon gagang telfon dan sederet nomor. Shilla menggigit bibir. Dengan satu gerakan cepat, buru-buru direjectnya panggilan yang baru masuk itu.

Tapi detik berikutnya,handphone Shilla kembali menyala. Lagi-lagi Shilla merejectnya.

"Kenapa gak diangkat ? Dari Rio ?" tebak Ify, "Ada apa sih sama kalian, kenapa gue gak tau apa-apa tentang Rio, sedangkan lo, lo tau semuanya ? Padahal selama ini, gue yang bantu dia." lanjut Ify sarkatis.

Shilla semakin memucat dan salah tingkah. Jari-jari tangannya, bergerak gelisah, meremas-remas gaun biru laut yang ia kenakan. Ify tersenyum sinis. Dan saat handphone Shilla kembali menyala, Ify dengan gesit buru-buru menyambarnya.

"Kalau ini bukan Rio, boleh dong gue yang angkat. Pengen tau suaranya." kata Ify, santai.

Shilla tidak sempat mengelak, hanya bisa berdoa, agar apapun yang terjadi sesudah ini, itu akan jadi yang terbaik untuk semuanya.

Klik

Tombol hijau pada keypad handphone Shilla ditekan, dan...

"Hallo Shil.." sapa orang disebrang sana.

Darah Ify berdesir cepat. Suara baritone itu, suara yang sangat Ify rindukan. Meski terdengar serak dan parau, Ify tetap bisa mengenalinya.

"Hallo Shil, kok direject sih, gue telfonin daritadi juga."

Ify masih terdiam. Menikmati setiap gelombang bunyi yang dihantarkan ke ruang dengarnya. Menyimak dengan seksama, seakan-akan mulai besok ia akan tuli dan tidak bisa lagi, mendengar suara berat pemuda disebrang sana, lagi.

"Shil, kok diem aja sih ? Kenapa ?"

"Ri.. Rioo.."

Hanya satu kata itu yang bisa Ify keluarkan, sisanya menolak untuk terkuar. Lebih memilih, tertahan di tenggorokannya. Tapi tidak perlu merangkai kata-kata yang lebih panjang lagi, karena penelfon diujung sana, sudah langsung menutup sambungannya setelah mendengar suara Ify.

Ify memicing mata pada Shilla, dengan kasar dilempar handphone Shilla, kearah kursi. Dan..

PLAKK

tamparan keras dari Ify, mendarat tepat dipipi kanan Shilla.

"Ambil Rio buat lo." tandas Ify, lalu berlari meninggalkan Shilla dan Iel yang sama-sama masih shock dengan apa yang Ify lakukan.

"Ada apa nih ?" tanya Cakka yang datang bersama Agni, Sivia dan Alvin.
Perlakuan Ify tadi tampaknya terlihat juga oleh keempat orang ini.


"Gue sama sekali gak ngerti, apa lo mau jelasin Shil? Ada apa sebenarnya?" tanya Iel hati-hati. Melihat, Shilla masih bengong sembari memegangi pipi kanannya yang memerah.
Iel memagut dua bola mata coklat cemerlang milik Shilla dalam sorot tajam. Seakan menegaskan bahwa gadis dihadapannya itu tidak boleh dan tidak akan bisa membohongi seorang Gabriel.

"Gak ko. Gak ada apa-apa, Yel." jawab Shilla, suaranya terdengar bergetar.

Iel menggelengkan kepalanya, lantas berdecak, "Ck, Shilla.." Iel meletakkan kedua tangannya pada bahu Shilla. Membimbing tubuh gadis itu, agar berhadapan lurus dengannya, "Gue gak akan maksa lo buat cerita. Tapi gue yakin, ada sesuatu yang lo sembunyiin. Ify gak mungkin marah-marah kayak tadi tanpa alasan kan ? Kalau lo bener-bener tau dimana Rio, tolong bilang sama dia, kita kangen." lanjut Iel.

Shilla menunduk dalam, tak kuasa menatap manik mata Iel yang tenang namun menyudutkan.

"Maafin gue Yo.." bisiknya dalam hati. Shilla memutuskan untuk jujur pada mereka, paling tidak ia bisa mengatakan bahwa Rio baik-baik saja, sehingga mereka tidak perlu khawatir.

"Ma.. Maaf.. Maafin gue. Maaf, gue emang tau dimana.. Dimana Rio, sekarang." aku Shilla, berbata-bata.

Semua terperangah.

"Jadi selama ini kamu tau dimana Rio, Shil ? Dan.. Dan kamu gak kasih tau kita. Ya Tuhan, Shilla, keterlaluan banget sih kamu." cibir Sivia, tak habis fikir.

"Ma.. Maaf, tapi.. tapi ini permintaan Rio, gue udah terlanjur janji sama Rio. Gue sama sekali gak ada maksud buat bohongin kalian. Please, percaya sama gue. Gue juga kepaksa."

"Kenyataannya kamu bohongin kita semua Shil, gimana kita bisa percaya sama kamu. Kamu tau Rio dimana, dan dengan teganya kamu biarin kita cari-cari dia, kita bahkan udah kayak orang bego sempet mikir kalau Rio diculik. Terutama Ify, lo gak kasian sama dia ? Bukannya akhir-akhir ini kalian deket, paling gak harusnya lo kasih tau dia." timpal Sivia.

"Jadi selama ini Rio menghilang ? Bukan lagi ke luar negri sama orang tuanya, kayak yang selama ini kalian bilang ? Apa Rio pergi karena gue nyalahin dia tempo hari." Alvin melontarkan sebuah pertanyaan. Pemuda berkemeja kotak-kotak putih itu diizinkan dokter, untuk malam ini saja keluar dari rumah sakit dan menghadari kontes piano yang diikuti Ify.

"Sumpah demi apapun gue selalu berusaha bujuk Rio, buat balik ke Bandung. Atau paling gak, dia bisa datang kesini malam ini, tapi kondisinya gak memungkinkan sekarang. Gue udah gak tau lagi harus dengan cara apa bujuk Rio, supaya mau nelfon Ify barang sekali. Gue gak berniat jahat, sumpah. Kalian percaya sama gue." papar Shilla sungguh-sungguh. Masih dengan kepala tertunduk, Shilla melanjutkan perkataannya, "Emm, dan soal kenapa lo gak dikasih tau tentang semua ini, mungkin lo bisa tanya sama yang lain. Karena gue juga gak tau, kenapa mereka gak mau kasih tau yang sebenarnya ke elo, Vin. Tapi kalau alasan kenapa Rio milih ngehindarin kalian, dia cuma bilang tempatnya bukan ditengah-tengah kalian lagi.

Yang gue tangkep sih, kayaknya Rio mulai ngerasa asing ditengah persahabatan kalian bertiga yang emang udah lama banget, Yel, Vin, Kka. Rio ngerasa saat dia ngelakuin kesalahan, gak akan ada satu orang pun yang bersedia belain dia. Rio gak berarti apa-apa buat kalian bertiga, dan bukan gak mungkin suatu saat akhirnya kalian juga bakal jauhin Rio karena sebuah kesalahan kayak yang kemarin terjadi, toh dia cuma orang baru, bukan siapa-siapa kan buat lo bertiga. Dan sebelum itu terjadi, Rio milih ngejauh lebih dulu dari kalian. Belum lagi soal Ify kalian tau sendiri kan, jadi manusiawi lah menurut gue kalau Rio milih pergi." tutur Shilla, sekarang dengan nada yang lebih tenang dari sebelumnya.

"Kita gak anggap Rio orang asing, kita cuma berusaha netral. Waktu masalah Alvin sama Rio, kita gak mungkin kan memihak salah satunya. Dua-duanya sahabat kita." bela Cakka.

"Gue ngerti Kka, dan gue yakin Rio juga ngerti. Cuma fikirannya lagi rancu waktu itu ini. Rio sangka, kalian gak akan bisa terima dia lagi."

"Tunggu deh, Shil. Kenapa kok kayaknya lo tau banyak banget tentang Rio. Emang ada apa sama kalian berdua ?" selidik Cakka.

Shilla tersenyum tipis "Gue tu.."

"Shilla sayang, pulang yuk." suara lembut seorang wanita membuat Shilla dan yang lain menoleh. Mama Shilla sedang berjalan kearah mereka, "Papa udah nunggu dimobil. Yuk, pulang." ajak sang Mama.

"Iya Ma, bentar lagi aja, Shilla mau.."

"Kan ngobrolnya bisa besok lagi. Udah ah, ayo, kasian Papa udah nunggu daritadi. Udah malam."

Shilla mendengus kesal, "Ya udah deh, gue duluan ya, guys. Gak usah khawatir, Rio bakal baik-baik aja. Nanti gue sampaiin salam kangen dari kalian." ujar Shilla. Gadis itu, lantas melambaikan tangan kanannya kearah empat orang temannya yang masih konsisten dengan tatapan penasaran mereka.

***

Aku bertahan, karena ku yakin cintaku kepadamu
Sesering kau coba 'tuk mematikan hatiku
Tak 'kan terjadi, karena ku tau kau hanya untukku...

Meski angin berhembus demikian kencang. Lihatlah, seberapa jauh ia sanggup menerbang kenangan yang telah terpintal, lantas merajut sebuah kisah yang kemudian menyelimuti relung hati.

Meski hujan begitu semangat menggulirkan rinainya. Lihatlah, cukup kuatkah ia, sampai mampu mengikis satu nama yang tanpa sengaja telah tertoreh dalam asa dengan begitu apik dan sempurna.
Kenangan. Tidak akan ada yang bisa membuatnya lekang. Bahkan otoriter sang waktu.

Agni menghentak-hentakkan ujung sepatunya dengan lantai, menghasilkan bunyi tuk-tuk-tuk untuk mengisi sepi yang ada. Benar kata orang, hal yang paling menyebalkan adalah dibuat menunggu. Hatinya terus saja mengumpat pemuda yang mengiriminya pesan singkat beberapa waktu yang lalu dan berjanji akan menjemputnya tepat pukul 4 sore, lantas dengan sangat menyebalkannya pemuda itu, ia entah lupa atau bagaimana, hingga sampai detik ke 21.600 sejak Agni pertama kali menunggunya, ia belum juga datang. Tapi anehnya, tubuh Agni sama sekali tak berniat bergeser barang seinci pun dari tempatnya menunggu. Tidak seperti biasa, kakinya juga tidak memprovokasi agar segera hengkang dari sana.

Agni melipat kedua tangannya didada, memasang tampang kesal yang sekesal-kesalnya, saat deru mesin kendaraan bermotor terdengar memasuki selasar rumahnya.

"Sorry ya gue telat. Ya udah, jalan sekarang aja yuk." ajak Si Pengemudi cagiva hitam yang kini terparkir didepan Agni.

"Ulang tahun lo, kapan ?" tanya Agni dengan nada sewot, sambil berjalan gontai menghampiri Si Pengemudi tadi.

"Masih lama sih, kenapa emang ?" jawabnya santai. Belum menyadari, medan kini telah berubah. Gadis kuncir kuda itu, telah menebar aura neraka kemana-mana.

"Gak pa-pa sih, kalau elo ulang tahun, gue bakal kasih kado jam tangan segede papan tulis kalau perlu. Jam tangan segede gitu, kayaknya gak ngefek sama sekali buat lo." Agni menunjuk jam tangan digital biru tua, yang melingkari pergelangan tangan kiri Si Pengemudi tadi.

"Hehe. Sorry ya gue ngaret banget. Eh, tapi kita jadi kayak dè javu gini ya, dulu waktu pertama kali kita jalan juga gue telat. Cuma bedanya, sekarang lo gak pake gaun.Hehehe." kekehnya.

Agni terdiam, mendengar penuturan Si Pengemudi dihadapannya itu. Kalau orang tadi bisa terkekeh beberapa kali, Agni sama sekali tidak ingin tersenyum barang sedikitpun. Bagi Agni, saat-saat itu sama sekali tidak layak untuk diungkit, hanya akan membuatnya semakin sakit.

Kenangan. Masa yang terkistralkan. Dimensi yang terbekukan. Yang bisa diputar ulang kapanpun saat Sang Pemilik ingin kembali mengenang tapak-tapak yang pernah dilewati. Yang bernama kenangan, bak debu pada kaca yang basah, sekali menempel akan sulit untuk dienyahkan.

"Dan bedanya, sekarang gue udah tau, kalau elo sebenarnya gak pernah sayang sama gue." tandas Agni.

Si Pengemudi tadi, Cakka, ia tersenyum miris, tidak tau harus bagaimana lagi meyakinkan Agni tentang perasaannya terhadap gadis itu.

***

Aku bertahan, ku akan tetap pada pendirianku.
Sekeras kau coba 'tuk membunuh cintaku.
Dan aku tau, kau hanya untukku.

Tempat yang sama. Dengan senja dalam balutan warna jingga yang sama. Rimbunan daun yang sama, bahkan tangan yang menggenggamnya pun masih milik orang yang sama.
Tapi yang melingkupinya justru rasa yang berbeda. Bukan lagi sejuk dan tenang seperti kala itu, tapi lebih kepada sedih dan perih. Seakan tempat ini menyimpan ribuan bilah pisau tak kasat mata yang terus menghunus hatinya.

Rumah pohon ini. Sama seperti dulu, dari sini Agni bisa melihat hampir semua lukisan alam yang disuguhkan "Sang Maestro". Tapi yang tampak jelas dimata Agni justru hanya sebuah kenyataan, bahwa semua yang telah ia berikan, hanya dihargai segelas jus dan semangkuk baso oleh pemuda yang duduk disampingnya itu.

Agni tidak tau, apa maksud Cakka mengajaknya ketempat ini lagi, pemuda itu juga masih memilih diam. Agni yang tidak ingin berlama-lama tinggal disini, akhirnya membuka suara, "Jadi apa yang mau lo omongin, Kka ?" tanya Agni, mengingat isi pesan singkat yang Cakka kirimkan.

Cakka menoleh lantas tersenyum kecil, "Gue cuma mau pamit Ag, lusa gue mau ke Singapore dan menetap disana."

"Singapore ? Emang... Kenapa Kka?"

"Karena lo, Ag. Habisnya, lo gak mau maafin gue sih." balas Cakka, bercanda.

Agni mengerutkan kening, "Gue serius kali Kka, nanyanya." protes Agni.

"Hehe, iya. Gue ke Singapore buat nemenin bokap gue berobat. Kata Om gue, dengan teraphy dan serangkaian pengobatan disana, bokap gue bisa sembuh total. Gue minta doa lo ya."

Agni mengangguk kecil, "Iya, gue doain."

Setelah tiga kata yang dilotarkan Agni, keduanya kembali terdiam. Membiarkan desau angin yang sibuk bercerita, tentang balada-balada tempat yang dikunjunginya. Membiarkan daun-daun saling berbisik, mengimbangi ricuh suara burung yang hendak kembali ke sarang.

"Gue udah mau pergi Ag, dan gak tau kapan gue bisa balik ke Indonesia. Apa.. Apaa.. Elo belum mau maafin gue Ag ??" tanya Cakka, ragu.

"Emm, gue selalu coba lupain semuanya, supaya gue bisa maafin lo. Tapi itu gak gampang, Kka."

"Berarti elo juga belum percaya, kalau gue bener-bener sayang sama lo dan gue nyesel atas semua perbuatan gue ke elo ?"

"Itu bukan urusan gue lagi Kka. Semuanya udah lewat, buat gue ada ataupun enggak rasa sayang itu di hati lo, semua udah gak berpengaruh apapun."

"Dulu gue pernah bilang kan Ag, elo cewek pertama yang gue kasih tau keadaan bokap gue, elo cewek pertama yang gue kasih tau, tentang tempat rahasia gue ini. Dan elo Ag, elo cewek pertama yang bener-bener gue sayang. Itu semua bukan gombalan kayak yang sering gue bilang sama cewek-cewek lain. Itu serius Agni, dari sini." Cakka meraih tangan kanan Agni dan meletakkan didadanya.

"Gue mau pulang Kka." Agni menarik tangannya dengan kasar. Lantas berdiri, lalu menuruni rumah pohon itu.

Cakka segera menyusulnya, "Ag.. Agni.. Gerimis Ag, lo tau kan kita naik motor. Kalau pulang sekarang nanti lo kehujanan." cegah Cakka, seraya mengimbangi, langkah-langkah cepat Agni.

Tiba-tiba Agni menghentikan langkahnya. Menatap marah pada Cakka, dan berkata, "Kka, gue gak mau lama-lama disini. Gue gak mau. Kenapa sih lo ajak gue kesini lagi, gue mau lupain lo Kka, gue mau lupain lo. Gue sakit, sampai sekarang sakit itu masih ada... harusnya...  harusnya lo ngerti, Kka. Lo ngertiin gue." Agni meraung, suaranya membaur dengan isak tangis miliknya sendiri.

Cakka hanya bisa memandangi bulir-bulir air mata Agni jatuh, lalu bermuara pada tanah berlumut di bawah sana. Ia sadar betul, kata-kata maaf tidak akan ada maknanya lagi. Ia terlalu sering melafalkannya didepan gadis ini. Satu gerakan reflek, Cakka menarik tubuh Agni dalam pelukannya. Mengizinkan gadis itu membagi tangisnya, menbiarkan relungnya semakin di penuhi rasa bersalah, membiarkan batinnya semakin sedih karena rintihan gadis dalam rengkuhannya itu.

Yang bernama kenangan itu, bila manis ia akan jadi candu. Sedang bila pahit, ia akan jadi ranjau, bahkan untuk dua hati yang sejatinya saling memilih.

***

Guguran bunga-bunga bougenville berwarna pink tua yang berjatuhan, menjadi background yang sangat cantik untuk gadis cantik yang tengah berdiri dibawah pohonnya.

Berulang kali gadis ini melongok kekiri jalan, lalu melirik jam abu-abu senada rok seragamnya yang melingkah dipergelangan tangannya. Sesekali ia mengibas-ngibaskan selembar kertas foto copyan yang sejak tadi dipegangnya.

"Ini taksi pada kemana sih, heran deh giliran ditunggu gak ada yang nongol. Mana panas banget pula." gerutunya kesal.

"Shil, Shillaa.."

Gadis tadi menoleh, mendengar teriakan yang mengumandangkan namanya. Zevana dan Angel, dua orang gadis yang telah Shilla coret dari list best friendnya, berjalan tergesa kearah Shilla.

"Kenapa ?" tanya Shilla, jutek. Dengan santai, ia menggelembungkan permen karet rasa strawberry yang sejak tadi dikunyahnya.

"Mmh, kita.. Anu Shil, kita mau.. Anu.." Angel tampak menyenggol-nyenggol lengan Zevana, "Lo juga bantuin ngomong dong, Ze." bisiknya.

Zevana, atau Zeze begitu ia akrab disapa, malah menggeleng keras-keras.

"Kenapa lo, geleng-geleng begitu, kayak ayam mabok aja lo." cibir Shilla.

"Shil, kita mau.. Kita mau.. Mau.."

"Mau apaan, permen karet gue? Nih." Shilla melemparkan beberapa buah permen karetnya.

"KitaMauMintaMaafShil." ucap Zeze dengan cepat, takut Shilla tiba-tiba akan meledak dan menghujaninya dengan caci maki.

Shilla mendelik.

"Iya Shil, kita mau minta maaf. Kita tau kita salah, kita gak tulus sahabatan sama lo, selama ini kita manfaatin lo." tambah angel.

"Kemana aja Jeng, eh ya ampun, baru pada sadar ya, rupanya." celetuk Shilla, meniru gaya bicara ibu-ibu PKK.

"Shilla, kita serius tau." ujar Zeze.

"Maca ciih ?"

"Kita tau Shil, lo kecewa banget sama kita.."

"Emang." potong Shilla, menyela ucapan Angel.

"Please Shil, maafin kita. Kita kangen sama lo, gue sama Zeze pengen, kita sahabatan kayak dulu. Kita mau berubah Shil, kita juga mau punya banyak temen kayak lo sekarang. Maafin gue, Shilla." tutur Angel, sungguh-sungguh.

"Kalian gak tau kan gimana perasaan gue waktu Gabriel bilang kalian lebih mentingin liburan dibanding nyawa gue, gue sakit hati tau gak ? Kalian gak peduli sama gue, waktu gue lagi susah. Apa itu namanya sahabat ??"

"Shilla, kita tau kita salah. Kita janji gak akan kayak gitu lagi. Gue kangen saat-saat kita ngumpul bertiga kayak dulu lagi. Gue gak pengen persahabatan kita hancur, Shil. Kita bersedia ngelakuin apapun, asal lo maafin kita." Zeze terlihat hampir menangis saat berkata demikian.

Shilla memutar bola matanya,dan memandangi Zevana serta Angel dari atas sampai kebawah dengan tatapan yang sangat menyebalkan, hal yang sudah lama tidak dilakukan oleh Seorang Ashilla Zahrantiara yang dulu begitu angkuh dan sengak.

Kedua sobat kental Shilla, sudah menyerah. Mendesah keras-keras, karena tau, Shilla tidak mungkin mau memaafkan mereka.

"HAHAHAHA.." tiba-tiba Shilla tertawa keras-keras, "MISS YOU TOO, SISTAAA. Gue juga kangen banget sama kalian. Shilla yang baik hati ini sudah memaafkan kalian." tutur Shilla riang dan langsung memeluk kedua sahabatnya.

Angel dan Zevana tersenyum lebar, hampir bersamaan, mereka berkata, "Jadi kita dimaafin Shil ?"

"Woyadong. Tapi awas aja, kalau diulangin lagi. Gue bikin galau seumur hidup, lo berdua." ancam Shilla, setelah melepas pelukannya.

Tin.. Tiiinnn

Suara klakson vios silver milik Gabriel, membuat tiga belia tadi menepi.

"Belum pulang, Shil ?" tanya Iel , setelah menurunkan kaca mobilnya. Shilla menggeleng, "Mau bareng ?" tawar Iel.

"Gak deh Yel, gue mau bareng Angel sama Zeze aja." tolak Shilla dengan iringan seulas senyum.

"Oh, ya udah kalau gitu. Girls, duluan ya..." pamit Iel, Vios silvernya langsung meluncur meninggalkan kepulan debu yang melayang beberapa centi dari permukaan aspal, setelah dilewati ban mobil Iel.

"Ecie, cie. Princess baik hati kita ini jadi idola baru ya rupanya ? denger-denger direbutin tiga pangeran ganteng sekaligus." goda Angel jail.

Pipi Shilla bersemu merah, "Idih apaan sih, pada lebay deh." tukasnya, salah tingkah.

"Beruntung banget ya, Si Itu tu, berhasil memenangkan sayembara cintanya princess Shilla." tambah Zeze.

"Yang beruntung tu gue kali. Bisa jadian sama cowok keren, pinter, jago basket, perhatian pula." tutur Shilla, malu-malu.

"Aaarrh, cerita, cerita. Lo ditembak dimana Shil sama dia, trus romantis gak, ayo dong cerita ke kita." desak Angel, kabar bahwa sahabatnya telah memiliki kekasih sejak sekitar dua minggu yang lalu memang sudah Angel dan Zevana ketahui.

"Romantis dong pastinya. Dia main gitar dan nyanyiin satu lagu buat gue, diatas perahu kecil ditengah-tengah danau. Udah gitu, malam itu bintangnya banyaaaak banget. Romantis be.ge.te deh pokoknya." pamer Shilla.

"Aaaaaarh, maauuu.." koar Angel dan Zeze kompak.

"Emang ya, kalau udah jodoh gak kemana." tutur Angel, yakin.

"Ya udah ceritanya kita lanjut di cafè depan sana aja yuk. Gue yang traktir deh, itung-itung PJ buat kalian." Usul Shilla.

Ketiga gadis berseragam putih abu itupun melenggang menyebrangi jalan raya, menuju sebuah cafè yang memang tidak begitu jauh dari gedung SMA Citra Bangsa.

Sahabat..
adalah orang yang tidak akan memberimu cahaya saat gelap menjelang. Tapi ia akan senantiasa menjadi lilin, yang rela habis demi terangmu.

Sahabat...
Adalah orang yang tidak akan beranjak jauh dari tempatnya disisimu, meski berulang kali kamu memintanya pergi.

Sahabat...
Ia tidak merasa perlu untuk dendam, saat kamu lupa membagi tawamu dengannya, dan akan selalu mencurahkan maafnya saat kamu digelincirkan khilaf dan terseret dalam salah.

***

Hahaahaa

Suara tawa renyah itu, membuat Debo mempercepat ritme ayunan kedua kakinya. Ify tertawa ?? Setelah Rio menghilang yang Debo tau Ify tidak pernah tertawa seriang itu. Bahkan saat Cakka bertingkah konyol sekonyol konyolnya orang konyol sekalipun, gadis itu tidak pernah tertawa. Tentu saja derai tawa Ify tadi membuat Debo penasaran, apa Rio sudah kembali dan ada didalam ??

Setelah sampai didepan pintu rumah Ify, Debo berniat mengetuknya. Tapi kemudian pintu lebih dulu terbuka, dari dalam muncul Ify dan seorang pria hitam manis yang setahu Debo bernama Riko, kapten basket SMA Nusantara. Ada apa dia dirumah Ify malam-malam begini ? Debo mematung dengan tangan yang masih terangkat diudara.

"Patung baru Fy ? Tadi perasaan pas gue masuk belum ada deh." celetuk Riko seraya menyeringai lebar kearah gadis berpiyama merah jambu disampingnya.

"Helloo, mas.. Mas !!" Riko mengibas-ngibaskan lengannya didepan wajah Debo.

Debo terkesiap.

"Eh iya. Anu Fy, eh, gue mau.." Debo tampak kelimpungan, merangkai kalimat untuk mengklarifikasi maksud dibalik ekspresi bodohnya tadi.

"Kenapa De ?" tanya Ify, heran.

"Emm, gue ada perlu Fy sama lo." Debo melirik Riko dengan tatapan Elo-Mendingan-Cepet-Pergi.

Riko yang seakan bisa mengerti bahasa isyarat lewat mata yang digunakan Debo, segera berinisiatif untuk pamit sebelum diusir, "Ya udah deh, gue balik ya Fy. Semoga sekarang lo ngerti." pamit Riko, ia segera berlalu setelah menerima anggukan kecil dan seulas senyum manis dari Ify.

Setelah sosok Riko menghilang ditengah temaranya malam, Ify kembali fokus pada pemuda didepannya, Debo.
Ify bersandar pada pintu dan memasukan kedua tangannya kedalam saku piyama yang ia kenakan.

"Ada perlu apa sama gue ?" tanya Ify, malas.

"Tadi Riko ngapain kesini, Fy ? Terus tadi lo ketawa-ketawa gitu sama dia, ngetawain apaan sih ?"

Ify mengangkat alisnya, "Sejak kapan lo hobi ngurusin, urusan gue ?" balas Ify, jelas sekali nada tidak suka yang Ify tekankan pada kalimatnya.

"Okelah, emang bukan urusan gue. Fy, lo masih peduli sama Rio ?"

"Lo kesini cuma buat nanya hal gak penting kayak gitu ke gue ?"

"Ck" Debo berdecak kesal, "Gak pake sinis gitu bisa kali Fy. Gue kesini cuma mau nolongin Kak Acel, dia jauh-jauh datang dari Manado buat ketemu lo. Kebetulan dia ketemunya sama gue, ya udah gue anter dia kesini. Itu orangnya.." Debo menunjuk seorang pemuda dengan garis wajah mirip Rio, yang sekarang sedang memejamkan mata sambil menyandarkan kepalanya pada jok mobil mercedes benz yang ia bawa. Pemuda yang kata Rio hanya berbeda 17 bulan dengannya itu terlihat begitu lelah dan sedih.

"Kak Acel, kakaknya Rio kan ? Ngapain dia mau ketemu gue ?"

Debo mengangkat bahunya, "Katanya buat sesuatu yang penting, kayaknya sih berhubungan sama Rio."

Rio. Mendengar nama itu darah Ify kembali berdesir cepat. Jantungnya lagi-lagi berdetak abnormal. Ify memang sudah berusaha melupakan pemuda itu, menghapusnya, mengabaikannya, sama seperti yang telah Rio lakukan terhadapnya. Tapi ternyata, sia-sia. Lihat saja, hanya dengan mendengar nama itu, tubuh Ify sudah memberikan respon yang tidak biasa. Semua masih begitu jelas, tidak tersamar, apalagi pudar.

"Sorry deh, tapi gue gak mau tau lagi soal Rio. Dia punya kehidupan sendiri, gue juga punya kehidupan sendiri. Gue gak mau berurusan lagi sama dia, toh emang itu kan yang Rio mau ?" tolak Ify tegas.

"Tapi Fy, kak Acel gak mungkin repot-repot sampai ke Bandung segala, kalau gak ada sesuatu yang penting. Paling gak lo temuin dia, atau biar gue panggil aja dianya kesini ?"

"Gak perlu." cegah Ify, "Gue udah bilang kan, gue gak mau ada urusan apa-apa lagi sama Rio. Bilang sama kakaknya Rio itu, gue minta maaf gak bisa bantu apa-apa. ada hal lain yang mau lo sampaiin ? Kalau cuma soal Rio, maaf tapi gue udah gak peduli." tandas Ify.

"Fy, lo kira gue peduli sama Rio. Kalau mau jujur gue juga masih benci sama dia. Tapi ini demi kemanusiaan. Ada seorang kakak yang jauh-jauh mau nemuin lo, demi adiknya, apa lo sama sekali gak tergerak buat bantu. Gimana kalau yang dimaksud penting itu menyangkut nyawa Rio ?"

Ify melengos tetap tidak peduli, "Bagus dong, kalau dia mati kan dia jadi bisa bersatu sama sepupu lo." jawab Ify sekenanya, ia benar-benar marah didikte macam-macam oleh Debo, seakan-akan Ify adalah gadis paling tidak berperasaan.

"Tapi Fy, lo kan.."

"Selamat malam Debo." Ify tidak menunggu Debo menuntaskan kalimatnya, ia lantas menutup pintu rumahnya dengan kasar, hingga terdengar bunyi BRAK yang cukup keras.

Didalam, Ify bersandar lemas pada pintu. Perlahan, tubuhnya melorot ke lantai. Ify terus menggeleng sambil merapal sebuah kalimat, "Jangan nangis Ify. Jangan nangis." kalimat itu terus diulang Ify, sebelum akhirnya berhenti karena Si Perapal mendengar satu kalimat yang diteriakkan Debo dari luar.

Tidak ada hujan, kilat apalagi petir. Tapi Ify merasa bagai disambar guntur-guntur dengan gelegar maha dahsyat. Tubuhnya bergetar. Tertatih Ify menggapai handle pintu, berharap Debo masih bertahan diluar sana. Dan Tuhan mau berbaik hati menormalkan lidahnya yang tiba-tiba jadi beku, untuk sekedar bertanya, tentang kebenaran kalimat yang tadi Debo teriakkan.

***

Jendela yang menghadap langsung kearah timur itu, dibiarkan terbuka. Berharap sirkulasi udara yang berjalan lancar bisa merubah atmosfer ruangan ini menjadi lebih segar. Tapi ternyata tidak, angin malam yang bertiup sepoi, mengusap lembut apapun yang dilewatinya, nyatanya sama sekali tidak bisa membuat para penghuni ruangan ini untuk setidaknya melonggarkan argumen.

"Mau ya sayang, demi Mama Vin, demi masa depan kamu juga, Nak." Mama Alvin masih terus berusaha membujuk putranya itu agar mau menjalani pengobatan sekaligus operasi di Singapore. Sang Mama sengaja menggunakan kata-kata sehalus mungkin, agar Alvin luluh.

"Gak mau Ma, kenapa harus di Singapore sih, Ma ? Kalaupun nanti Alvin dapat donor mata, terus dioperasi dan sukses, yang pengen Alvin liat pertama kali tu temen-temen Alvin. Dan seandainya operasinya gagal, lalu terjadi sesuatu sama Alvin, Alvin mau selalu deket sama temen-temen Alvin. Alvin gak mau ke Singapore. Lagi pula disana Alvin juga belum dapat donor mata yang pasti kan ?"

"Tapi Vin, akhir-akhir ini kamu bilang bagian sekitar mata kamu sering sakit kan ? Pihak rumah sakit sudah membuat surat rujukan agar kamu berobat ke Singapore. Alvin, kami ingin yang terbaik buat kamu, Nak." Papa ikut menimpali.

"Alvin gak mau Pa, Ma... Alvin takut."

"Vin, elo gak perlu takut, gue bakal ikut nemenin lo ke singapore. Kalau elo udah sembuh, kita bisa pulang secepatnya, elo bisa segera ketemu sama anak-anak, yang penting lo sembut dulu." Iel turut membujuk Alvin.

"Gabriel, kamu gak mungkin ikut Nak, kondisi kamu sendiri belakangan ini gak stabil. Singapore itu gak deket, Mama gak mau kamu malah drop nantinya." cegah Sang Mama, tampak khawatir.

"Ma, Iel baik-baik aja kok. Selama ini Iel juga sering kan keluar negri sama Papa. Iel mau nemenin Alvin Ma, Pa.." rajuk Iel, setengah memohon. Entah karena apa, Ia merasa perlu untuk ikut. Iel merasa akan terjadi sesuatu, dan ia akan sangat dibutuhkan disana. Hati kecilnya terus memerintahkan Iel agar ikut bersama Alvin serta Mama dan Papanya ke Singapore.

"Baiklah, Yel. Kamu boleh ikut." ujar Sang Papa pada akhirnya.

"Tapi Mas.."

"Kebetulan dokter Fadli sedang riset bersama timnya di Singapore juga, kalaupun Iel drop, dokter Fadli pasti bersedia memback up. Tapi semoga saja, tidak terjadi hal-hal yang tidak kita inginkan. Jadi bagaimana Alvin, kamu setuju berangkat ke Singapore ?" tanya Papa kembali pada Alvin yang terduduk diatas ranjangnya.

"Alvin mau Pa, tapi Via juga ikut ya. Alvin mau Via juga ditangani tim medis yang lebih profesional di Singapore, lagipula Via sakitnya belum parah, masih mungkin sembuh tanpa harus transplantasi, kalau ditangani oleh dokter-dokter ahli."

"Kalau ibu Sivia setuju, mama sih tidak masalah kalau Sivia ikut."

"Papa juga. Papa harap kalian berdua akan lekas sembuh, siapa tau setelah sehat kalian berniat untuk melangsungkan pertunangan, nantinya." goda Papa Alvin, tanpa memperhatikan perubahan ekspresi kedua putranya.

"Semoga Tuhan memperkenankan itu semua terjadi." pinta Iel dalam hati. Ia tersenyum simpul. Paling tidak pengorbanannya selama ini tidak akan sia-sia kalau pada akhirnya dua orang yang paling berarti untuk Iel, keduanya bisa bersatu dalam kidung bahagia yang sempurna.

***

Sabtu, 12 Maret 2011

Malaikat Hidup Gue -part 21-

Cakka melongo.

Apa yang dilihatnya benar-benar membuat lututnya bagai dilolosi tulang-belulang. Desiran darahnya serasa beku, rahangnya seakan terpagut dalam posisi menganga dan sulit untuk dikembalikan seperti keadaan normal.

"Ada apa lagi, ini ?" lirih seorang gadis dengan suara bergetar.

Cakka menoleh, didapatinya Sivia sudah terduduk lemas disampingnya, dengan dua mata bersorot sendu yang mulai mengeluarkan air mata.

"Bangun, Vi..." Cakka meraih tangan gadis itu, lantas dengan lembut membingbingnya kearah objek yang membuat mereka sama-sama terpana. Benda mati itu... Ya, Cakka ataupun Via tentu hafal betul siapa pemiliknya.

Benda itu, satu dari sekian banyak yang sering berjejer rapi di selasar rumah Alvin. Mobil berwarna silver keluaran terbaru, dengan plat nomer yang didesain khusus untuk seorang Alvin. Mobil yang baru dua bulan ini kuncinya mendarat di tangan kokoh Alvin. Mobil yang dihadiahkan Omanya untuk Alvin, cucu kesayangannya. Tapi sekarang, mobil yang harganya bisa ditaksir mencapai 9 digit itu benar-benar tak berbentuk. Tidak bisa lagi dikategorikan dalam deretan kendaraan mewah. Entah telah besinggungan dengan apa mobil itu. Sampai-sampai bannya tidak lagi berjumlah empat, bagian depan dan belakang benar-benar ringsek, rusak parah.

Tapi tentu saja bukan itu yang jadi soal. Yang menggelayutkan rasa cemas dalam benak Cakka dan Sivia adalah, jika mobilnya saja separah ini lantas bagaimana dengan pengemudinya ? Bagaimana dengan Alvin ??

"Selamat siang, Pak." tegur Cakka, setelah berdiri tepat dihadapan seorang bapak berseragam polisi lengkap dengan segala macam atributnya.

"Selamat siang de. Ada yang bisa saya bantu ?" balas salah satu dari kedua polisi yang ada disana, yang lain masih sibuk memasang police line disekitar mobil Alvin.

"Mmh... apa mobil ini baru saja mengalami kecelakaan, Pak ?" tanpa diberitahu pun Cakka sudah tau betapa bodohnya pertanyaan yang baru saja ia ajukan.

"Astaga Cakka, anak idiot kena busung lapar juga tau kalau tau mobil ini abis kecelakaan. Bego banget lo." rutuknya dalam hati.

"Iya dik, baru saja terjadi kecelakaan dikawasan Dago, dan mobil ini yang mengalami kerusakan paling parah. Pengemudinya sudah ditangani oleh pihak rumah sakit sejak 5 jam yang lalu. Kami juga sudah mencoba menghubungi keluarga korban." papar polisi tadi.

"ba..bagaimana kronologisnya, Pak ? Lalu bagaimana kondisi terakhir korban ?" tanya Cakka dengan suara bergetar. Kalau saja bukan laki-laki, ia akan langsung histeris atau minimal menangis tersedu-sedu seperti yang tengah Sivia lakukan sekarang.

"Menurut saksi mata, mobil korban melaju dengan kecepatan tinggi dari arah timur, dari arah yang berlawanan mobil pick up berusaha menyalip kendaraan di depannya namun kehilangan kontrol dan menabrak mobil korban dari depan. Bersamaan dengan itu, dari belakang mobil truk pengangkut pasir juga lepas kendali dan menghantam bagian belakang mobil ini." jelas polisi tadi, ia menarik nafas sejenak sebelum melanjutkan kalimatnya, "Kami pihak kepolisian belum tau pasti bagaimana kondisi korban, karena saat tiba dilokasi, korban sudah dilarikan ke rumah sakit ini. Apa adik ini, mengenal korban ? Kami sudah menghubungi nomor milik saudara Gabriel, ia menyanggupi untuk segera datang kemari, tapi sampai saat ini, kami belum bertemu dengan saudara Gabriel." lanjut polisi tadi.

"Gabriel juga baru saja dilarikan kerumah sakit ini Pak. Begini saja, kebetulan saya keluarganya, nanti saya akan coba menghubungi orang tua Alvin." jawab Cakka, sedikit berbohong.

"kami harap adik bisa segera menghubungi keluarga korban, kami khawatir pihak rumah sakit akan ragu-ragu melakukan tindak penyelamatan kalau tidak ada persetujuan pihak keluarganya." kata polisi kedua yang sekarang ikut bergabung dalam kelompok kecil yang tampaknya tengah asik berdiskusi di selasar rumah sakit.

"Baik Pak, saya akan menghubunginya sesegera mungkin. Sekarang, Alvinnya sendiri dimana, Pak ?"

"Ruang ICU lantai dasar."

"trimakasih, Pak. Kalau begitu kami permisi dulu." Cakka mengangguk hormat.

"trimakasih juga atas kerjasamanya. Selamat sore." balas polisi pertama dengan nada yang tegas dan berwibawa.

Cakka segera menggandeng Sivia, meraih tangan gadis yang sedari tadi masih sibuk menangis.

Saat tiba ditikungan yang mengarah ke kiri untuk menuju ruang ICU Sivia menarik tangannya dari Cakka.

"Kenapa lagi, Vi ?" tanya Cakka gusar. Kenapa disaat-saat seperti ini, Sivia malah melancarkan aksi diam mematung seperti itu.

"Ak..akuu..ak..aku.."

"Kenapa Vi ? Ayolah kita mesti cepet liat keadaan Alvin."

"Maaf Kka, tapi aku..aku mau liat keadaan Iel dulu."

Sumpah demi apapun, saat ini ingin sekali Cakka menggunakan tangannya untuk menyadarkan gadis ini.

"Vi, lo jangan egois gini dong. Alvin tu masih cowok lo, dan posisinya sekarang dia pasti jauh lebih butuhin lo ketimbang Iel. Emang lo gak pengen tau apa, gimana kondisinya ?" Cakka memicing mata kearah Sivia, rahangnya mengeras, tangannya terkepal kuat-kuat disisi tubuhnya.

"Tapi aku khawatir sama Iel." jawab Sivia sambil terus menunduk dalam-dalam dan memilin-milin ujung bajunya.

"Alvin tu selalu ada buat lo, dia sayang banget sama lo. Sekarang apa salahnya kalau elo prioritasin dia dulu dibanding Iel."

"Kka, aku cuma mau liat Iel dulu, sebentar."

"Ya Ok. Ok. Terserah, terserah lo Vi. Tapi lo inget baik-baik, kata-kata gue. Kehilangan itu gak enak, dan seharusnya elo jaga apa yang udah lo punya, jangan ngejar apa yang belum pasti." pesan Cakka. Ia lantas berbalik dan meninggalkan Sivia dengan hati dongkol setengah mati. Tak habis fikir.

Sedangkan Sivia, tanpa menunggu detik bergulir terlalu lama lagi, ia langsung berlari memutar arah setelah Cakka berlalu. Sivia tidak merasa perlu, repot-repot mencerna apa yang dikatakan Cakka tadi. Ia khawatir pada Alvin, tapi lebih dari 70% hatinya mencemaskan Iel, Sivia tidak bisa dan tidak ingin mengingkari kenyataan itu.

Ia berjalan cepat, menyusuri bangsal-bangsal rumah sakit. Melewati beberapa kamar dan ruang kerja dokter-dokter spesialis dirumah sakit ini.

Gadis ini kemudian mengatur nafasnya setelah sampai di depan pintu kamar rawat yang biasa Iel tempati. Setelah irama nafasnya dirasa telah kembali teratur, Sivia menyibak sejumput rambut yang jatuh ke depan tubuh melewati bahunya, setelah itu diputar kenop pintu kayu didiepannya.

Saat daun pintu terbuka, Sivia mendapati Iel sedang berusaha turun dari ranjangnya.

"Iel !! Kamu mau ngapain ?" tanya Sivia, seraya membantu memapah Iel, "Agninya mana ?" lanjutnya bertanya.

"Agni ke toilet. Via, Alvin, Vi.... Alvin. Tadi yang telfon aku tu polisi, mereka bilang Alvin kecelakaan jam sebelas tadi, dan dilarikan ke rumah sakit ini. Ayo Vi, kita cari Alvin." tutur Iel panik, kedua tangannya mengguncang-guncangkan pundak Sivia.

"Iya Yel, iya. Aku tau kok, sekarang Cakka lagi liat kondisi Alvin."

"Jadi kamu udah tau Alvin kecelakaan, Vi ?"

Sivia mengangguk.

Iel mendengus keras-keras. Matanya yang semula terlihat galau dan khawatir, kini berkilat marah.

"Terus kenapa kamu malah ada disini ? Kenapa gak ikut Cakka ?" kata Iel dengan nada menyentak.

"Ak..aku cu..cuma mau liat kondisi kamu dulu Yel, aku khawatir sama kamu." jawab Via takut-takut. Beda dengan sentakan Cakka sebelumnya, sentakan Iel tampaknya lebih berefek pada gadis berkulit putih ini. Matanya yang indah langsung meluncurkan jejak-jejak air mata yang lantas berpencar membasahi kedua pipinya, sebelum akhirnya jatuh menetes diatas permukaan lantai berkeramik putih yang dipijaknya.

"Aaaargh." Iel mengacak rambutnya, "Kamu tuu..." Iel menunjuk lurus kearah Sivia, lalu melempar tinjunya ke udara, entah apa maksudnya.

"Via, aku mohooon. Jangan lagi peduliin aku. Jangan bikin aku serba salah, Vi. Aku udah relain kamu buat Alvin dan sekalipun aku gak ada niat buat rebut kamu dari dia. Ok, Vi, dulu mungkin pernah ada kita. Mimpi kita, kisah kita, harapan kita. Tapi sekarang beda. Sekarang cuma ada aku dan kamu, aku dengan kehidupanku, begitu juga kamu. Kamu dan Alvin adalah dua orang yang sangat aku sayangi dan akan sangat membahagiakan buat aku kalau kalian bisa bersatu." Iel menyentuh kedua pipi Sivia dan menyeka air mata yang terpeta disana.

"Apapun yang pernah aku lakuin buat kamu, itu gak ada apa-apanya dibanding semua hal yang pernah Alvin lakuin buat kamu. Kamu harus bisa bahagia disisinya."

Tanpa membiarkan Sivia menimpali segala macam ucapannya tadi, Iel sudah berlalu. Sivia hanya bisa memandangi punggung pangeran masa kecilnya itu dengan perasaan tak menentu.

***

Cakka melongok ke dalam ruang ICU didepannya, lampu yang ada diatas pintunya padam. Berarti tidak ada tindakan medis yang sedang dilakukan didalam sana. Jantung Cakka berdegup kian cepat. Apa ia sudah terlambat ? Apa Alvin sudaahh...

Tidak. Tidak. Cakka segera menepis fikiran-fikiran buruk yang menyambangi otaknya.

Cakka sedikit kaget, saat dirasakan tepukan pelan di pundak kirinya. Seorang suster berdiri tepat dibelakangnya.

"Ada yang bisa saya bantu, dik ?" tanya suster tadi, dengan lembut.

"Mmh, iya Sus. Begini, tadi pukul 11 ada korban kecelakaan kan ? Katanya, dilarikan ke ICU lantai dasar, tapi kok tidak ada ya?"

"Oh, pasien itu ya ? Operasi yang dilakukan pada pasien telah usai 3 jam yang lalu. Sekarang pasien sudah di pindahkan ke kamar inap, di lantai 3. Kamar mawar nomor 11"

"Oh, gitu ya Sus. Trimakasih kalau begitu."

"Sama-sama, dik. Permisi."

Setelah suster tadi lenyap dari jangkauan matanya, Cakka segera berjalan kearah kanan, menaiki lift menuju lantai 3.

Tepat, setelah Cakka tiba dikamar mawar nomor 11, seorang pria berdasi pastel dengan kemeja warna senada yang dibalut jas putih, keluar dari kamar itu.
Ragu-ragu, Cakka mendekat lalu melontarkan pertanyaan yang sudah diujung lidahnya, "Bagaimana kondisi Alvin, dokter ??" tanya Cakka, pada pria yang diyakininya adalah seorang dokter itu.

"Adik keluarga pasien ?"

"Iya dok, saya sepupunya. Orang tua pasien sedang diperjalanan." jawab Cakka asal. Ia terpaksa berbohong karena kalau tidak mengaku keluarga Alvin, seperti pihak polisi ataupun rumah sakit enggan memberikannya informasilebih rinci.

"Sebelumnya kami pihak rumah sakit mohon maaf yang sebesar-besarnya karena telah melakukan tindakan medis tanpa menunggu persetujuan keluarga. Tapi ini terpaksa kami lakukan agar bisa sesegera mungkin menyelamatkan nyawa pasien. Kalau untuk kondisi pasien sendiri, mendengar kecelakan dahsyat yang menimpanya, rasanya untuk tetap hidup saja itu sudah mu'jizat. Tapi ternyata Tuhan memberikan lebih, pasien tidak mengalami cidera-cidera parah, hanya saja... Hanya saja.. Terjadi kerusakan pada bola mata pasien akibat tertancap serpihan-serpihak kaca. Kami sudan melakukan operasi dan berjalan lancar." tutur sang dokter dengan sangat jelas.

"Apaa.. apa kerusakan itu menyebabkan kebutaan, dok ?" tanya Cakka hati-hati.

"Ya, tapi tetap bisa sembuh apabila pasien mendapatkan donor mata."

Tubuh Cakka benar-benar lemas, serasa bumi sebentar lagi akan menenggelamkannya bersama keterkejutannya atas semua ini.

"Baiklah," ujar sang dokter sambil menepuk-nepuk pundak Cakka, "Pasien sudah bisa ditemui, tapi tidak boleh lebih dari 2 orang yang masuk kedalam. Dan kalau orang tuanya datang, tolong beritahu agar segera menemui saya. Permisi. Selamat sore."

Cakka membungkuk kecil,memberi hormat pada sang dokter, sebelum dokter itu berlalu.

Ceklik.

Pintu coklat itu dibuka Cakka setelah dokter tadi menghilang. Di dalamnya seorang pemuda dengan wajah oriental yang khas tengah duduk bersandar dialasi bantal yang menempel pada kepala tempar tidur, dengan bagian sekitar mata yang di tutupi kain perban.

"Alvin..." lirih Cakka.

"Cakka ya ?" tebak pria tadi, ia menyeringai lebar.

"Iya Vin, ini gue. Kok bisa jadi kayak gini sih Vin ? Sejak kapan elo ngebut segala ?" tanya Cakka yang telah duduk ditepi ranjang Alvin sekarang.

Alvin mengangkat bahunya dengan santai, "Semalem gue tu ke Malang, nemuin orang tua gue, kebetulan mereka lagi di Indonesia. Gue pengen ngobrol banyak, terutama tentang Iel. Setelah semaleman ngobrol, pas paginya gue bangun, gue baru inget ada final pertandingan basket hari ini. Akhirnya, karena gak mau telat, gue nekat nyetir sendiri Malang-Jakarta, pas udah deket-deket Dago dan gak tau gimana kejadiannya, gue cuma denger ada bunyi BRAK, terus gak tau lagi. Semuanya gelap."

"Terus sekarang perasaan lo gimana ?"

"Legaa..."

Cakka mengerutkan kening, "Lega gimana maksud lo ?"

"Yang lain mana ? Iel mana, Kka ?" bukannya menjawab pertanyaan Cakka sebelumnya, Alvin malah balik bertanya.

Cakka sempat kelimpungang mengarang jawaban yang baik dan benar, karena tidak mungkin ia bercerita semua yang telah terjadi, pada Alvin.

"Iel lagi cari minum di cafètaria, Via lagi ke toilet, yang lain masih nunggu prosesi penyerahan tropi bergilir di GOR."

"Oh, jadi kita menang ??" wajah Alvin semakin berbinar, sama sekali tidak seperti orang yang baru saja kehilangan penglihatannya.

"Iya Vin, kita menang."

"Good job, boys. Sayang gue gak bisa ikutan tadi."

"Alvin..." suara berat milik seorang pria terdengar hampir bersamaan dengan suara lembut milik gadisnya. Disusul oleh langkah rusuh kaki-kaki mereka yang mendekat kearah Alvin.

"Syukur, elo selamet Vin." Iel mengurut dada.

"Iel ?" tangan kanan Alvin terjulur seperti mencari-cari sesuatu.

Iel tersenyum getir melihat keadaan saudaranya itu, "Gue disini Vin." Iel meraih tangan kanan Alvin.

"Gue masih tetep ganteng kan, Yel, walaupun pake-pake perban begini." celetuk Alvin, lalu terkekeh pelan.

"Apa sih lo Vin, malah cengengesan kayak gitu." cibir Iel.

"Biar aja. Elo juga yang sakit parah, masih suka cengengesan." Alvin membela diri.

"Lo aneh deh Vin, ada apa sih ?"

"Gak ada apa-apa." timpal Alvin santai, "Via.. Mana Via ? Tadi gue denger suaranya."

Melihat kenyataan bahwa Alvin masih mencari-cari dan menyadari keberadaannya, membuat Sivia makin merasa bersalah. Ia hanya bisa melempar pandangan takut-takut kearah Alvin dan Iel, bergantian.

"Ii..iya Vin. Aku disini." jawab Sivia, gugup.

"Aku mau ngomong Vi, sama kamu. Berdua aja, boleh ?"

Sivia mengangguk, meski sadar Alvin tidak akan melihat anggukannya.

Cakka dan Iel yang sudah merasa diusir secara halus, merekapun keluar dari kamar itu.

Awalnya, baik Alvin maupun Sivia sama-sama terdiam. Menunggu yang lain untuk memulai pembicaraan.

"Vin, maafin aku ya.." akhirnya Sivialah yang berinisiatif menyudahi keheningan yang tercipta beberapa detik lalu.

"Maaf buat apa?"

"buat semuanya. Buat kebodohan aku, buat keegoisan aku, buat kebohongan yang pernah aku lakuin. Aku bener-bener minta maaf atas semua itu."

"kenapa harus kamu yang minta maaf ? Justru disini aku yang paling salah, dan wajar aja kalau karena kesalahan itu, aku juga yang paling sakit. Aku gak peka, aku gak mau peduli, padahal segala macam fakta udah dibeberkan didepan mata aku. Aku dengan PDnya tetap berfikir bahwa kamu sayang sama aku, dan cuma sama aku. Gak ada yang lain. Dan tanpa sadar aku nyakitin banyak hati, termasuk hati aku sendiri. Sekarang kamu bebas Via, kamu gak perlu lagi belajar sayang sama aku, sayangi orang yang emang bener-bener pilihan kamu, aku akan tetap turut bahagia atas itu." Alvin mengucapkan kalimat panjang itu dengan tulus.

Sivia memandangi lelat-lekat pemuda yang sedikit pucat, dihadapannya itu. Ada perasaan tidak rela, ketika ia mendapati kalimat-kalimat yang baru saja dilontarkan pemuda itu.
Sivia tidak lagi menangis, tapi sorot matanya terlihat lebih nelangsa dibanding sebelumnya. Air wajahnya, seakan menunjukkan gadis 16 tahun ini tengah memikul beban orang sedunia.

"Maksud kamu apa Vin ??"

"Hubungan kita berakhir, sampai sini aja Vi. Mungkin, Aku gak cukup sabar untuk bertahan dengan orang yang sama sekali gak bisa membuka hatinya buat aku. Kamu dan iel adalah dua orang yang sangat aku sayangi, dan akan sangat membahagiakan buat aku kalau kalian bisa bersatu. Aku rasa itu akan jauh lebih baik."

Kalimat itu lagi. Kalimat yang sama persis dengan kalimat yang diucapkan Iel. Sivia membatin sedih. Merasakan dirinya seperti disetarakan dengan bola yang bisa dengan mudah dioper kesana-kesini. Ia menggigit bibir, menahan tangisnya agar tidak pecah.
Bukan, Sivia bukan menangis karena pada akhirnya ia tidak mendapatkan satu pun dari dua saudara ini. Itu terlalu picik.
Ia menangisi kebodohannya sendiri. Ia menangis karena sadar, telah melukai dua hati yang sejatinya sama-sama sangat menyayanginya.

"Dari aku kecil kalian selalu jagain aku, lalu kenapa sekarang saat kalian sama-sama dalam kesulitan, kalian malah minta aku jauhin kalian ? Aku cuma pengen ada selalu disamping kalian berdua, gak peduli apapun status aku." batin Sivia.

"Via...kok kamu diem aja sih? Kamu pasti lagi nangis ya ? Maaf Vi, aku gak bermaksud bikin kamu sedih, tapi aku bener-bener minta supaya mulai sekarang kamu harus selalu ada disamping Iel. Anggap aja ini permintaan aku yang terakhir."

"Kamu ngomong apa sih, Vin ?"

"Aku gak pernah minta apapun sama kamu sebelum ini. Aku harap permintaan aku kali ini, bisa kamu penuhin Vi. Jadilah malaikat hidupnya Iel, ajak dia bermimpi, suruh dia bertahan, bujuk dia supaya cepet sembuh. Kamu mau kan Vi ?"

"Kenapa mesti aku Vin ? Aku rasa kalau kamu mau Iel sembuh, harusnya kamu minta tolong sama dokter-dokter ahli. Bukan aku."

"Satu-satunya tindakan medis yang bisa menyelamatkan Iel adalah cangkok sumsum tulang, tapi sayangnya itu udah gak mungkin lagi..."

Alvin menerawang, mengingat pembicaraannya kemarin malam dengan kedua orang tuanya.
Ia merasa perlu untuk menceritakan obrolan singkat itu pada Sivia.

"Kemarin malam aku menemui orang tuaku di Malang...."


FlashBack : On

Tiga orang dalam ruangan ini terbalut hening. Hiruk pikuk kendaraan yang melintasi jalan raya didepan salah satu hotel di daerah Malang ini, sama sekali tidak menggugah minat mereka untuk melanjutkan obrolan yang sempat terhenti. Detik terus berlalu, tapi tetap tak ada jawaban untuk pertanyaan pemuda sipit yang tengah duduk diapit kedua orang tuanya itu.
Sesekali hanya helaan nafas panjang yang sering terdengas, menggambarkan dengan tegas betapa berat beban yang tengah merundung penghuni-penghuni salah satu kamar hotel ini.

"Kenapa pada diem sih ? Atau jangan-jangan bener ya, yang anak pungut itu Alvin bukan Iel , iya ?" desak pemuda sipit tadi, pada kedua orang tuanya yang masih terlihat letih dalam balutan baju kantor mereka.

"Cukup Alvin !! Itu pertanyaan yang sangat bodoh. Jelas-jelas kamu ini anak kami. Kamu putra kandung papa." balas sang papa dengan suara tegas.

"Lalu kenapa banyak banget yang kalian sembunyiin dari aku. Bahkan aku gak tau kalau kalian bangun panti asuhan dan parahnya pembangunan panti asuhan itu atas permintaan Iel. Kenapa kalian lebih sayang sama Iel, kenapa ? Aku ngerasa jadi orang asing ditengah keluargaku sendiri." pemuda sipit tadi, Alvin, ia setengah berteriak, otot-ototnya nampak sangat kentara, menyembul disekitar pelipisnya.

"Alvin, maafkan mama, kalau kamu merasa di perlakukan tidak adil. Tapi percayalah, kamu putra kandung mama. Mama hanya berfikir diusianya yang belum genap 17 tahun dengan penyakit separah itu, Iel lebih labil dan butuh diperhatikan dibanding kamu. Mama tidak bermaksud membeda-bedakan, kalian berdua sama-sama putra kebanggaan mama. Mama rela berkorban apapun untuk kalian." tutur mama Alvin dengan mata berkaca-kaca.

"Papa juga minta maaf, Vin. Kalau selama ini terlalu keras pada kamu. Papa juga sering membanding-bandingkan kamu dengan Iel, tapi itu semata-mata karena Papa mau dengan kondisi kamu yang jauh lebih baik dari Iel, kamu paling tidak bisa selangkah lebih maju darinya, kamu lebih bisa membuat kami, orang tua kandungmu bangga. Tapi kenyataannya, selama ini kamu malah lebih sibuk dengan band, basket, fotografi, kamu tidak pernah serius dengan nilai-nilai akademikmu. Papa hanya takut, masa depan kamu akan terbengkalai karena hobi-hobi yang kamu jadikan prioritas itu. Mama ataupun papa tidak ada yang berniat membuatmu tidak nyaman, maafkan kami kalau selama ini kamu merasa tersisih." kata Papa Alvin, sungguh-sungguh. Sorot matanya begitu hangat, tidak lagi berang dan penuh kekesalan.

Alvin tercenung, Papanya benar. Selama ini, dengan egois, Alvin selalu menganggap apa yang dipilihnya adalah yang terbaik. Ia lebih sering memberontak, berbeda dengan Iel yang selalu mengangguk patuh, apapun yang dititahkan atas dirinya.

Alvin melirik Papa dan Mamanya bergantian, "Maafin Alvin ya Ma, maafin Alvin, Pa... Alvin sering bikin mama sama papa kesel. Alvin lebih sering ngelawan kalian." ucapnya penuh sesal. Alvin lantas memeluk mamanya dengan erat. Sesaat Ia terbius oleh usapan lembut sang mama di kepalanya. Belaian halus seorang ibu yang entah sudah berapa lama tidak dirasakannya.

"Kamu sudah besar, Alvin. Pertanyaan semacam tadi Papa harap tidak akan kamu lontarkan lagi. Kamu yang lahir dari rahim Mama, dan DNAmu yang cocok dengan Papa. Apapun yang terjadi, kamu anak kandung kami, dan tidak ada yang bisa merubah itu." tandas sang Papa, sambil menggulung kemeja garis-garisnya lalu berjalan kearah meja, meraih sebotol air mineral yang ada diatasnya.

"Ma, Pa... Apa Iel, tidak bisa sembuh dari penyakitnya ? Kata dokter, penyakitnya sudah sangat parah ?" tanya Alvin, tiba-tiba.

Ekspresi kedua orang tuanya yang semula tersenyum hangat kini berubah muram. Alvin sadar pertanyaannya barusan benar-benar berosmosis ria dengan cepat, atmoser ruangan ini tiba-tiba saja jadi pilu.

"Iel bisa sembuh hanya dengan transplantasi sumsum tulang, tapi pendonornya harus dari pihak keluarga kandung dan dilakukan sebelum menginjak usia 12 tahun. Papa sudah berusaha mencari orang tua Iel kemana-mana, tapi saat menemukan alamatnya ternyata kedua orang tua Iel sudah meninggal. Papa terus berusaha mencari tau dimana kediaman keluarga Iel yang lain. Tapi hingga detik ini hasilnya nihil. Lagipula usia Iel sudah menginjak 17 tahun." tutur sang Papa, terlihat sangat sedih.

"Jadi maksudnya Iel gak bisa sembuh ?" Alvin merasa hatinya dihujani gumpalan-gumpalan rasa bersalah yang bermetamorfosa menjadi batu-batu besar yang menyesakkan. Mengingat pertengkaran terakhirnya dengan Iel, dan sampai detik ini Alvin belum bertegur sapa lagi dengan saudara angkatnya itu.

"keajaiban itu bisa saja terjadi, Nak. kita hanya bisa berdoa.." ujar Mama Alvin singkat.

FlashBack : Off


"Baguslah, berarti hubungan kamu sama orang tua kamu membaik kan, sekarang." timpal Sivia setelah Alvin menyelesaikan cerita.

"Ya, tapi bukan itu point pentingnya. Intinya, Iel gak butuh lagi pertolongan medis. Dia butuh seorang motivator, dan aku yakin kamulah orangnya."

"Kita, Vin. Bukan cuma aku atau kamu aja. Tapi kita."

"Jadi kamu mau bantu aku, supaya Iel sembuh ?"

"Asalkan kamu mau janji satu hal sama aku?"

"janji ? Janji apa ?"

"biarin aku ngerawat kamu Vin, paling gak sampai mata kamu sembuh. Anggap aja itu tanda trimakasih aku atas semua kebaikan kamu selama ini. Kau mau janji ?"

Alvin tidak mengiyakan, karena dalam hatinya, ia telah berjanji untuk tidak berhubungan lagi dengan gadis ini lagi. Demi saudaranya, demi Iel.
Alvin memilih untuk tersenyum kecil, dan untungnya Sivia sepertinya menganggapnya senyum itu sebagai jawaban 'iya'. jadi Alvin tidak perlu repot-repot menampik janji yang di ajukan Sivia sebagai syarat untuknya.

"Ya udah kalau gitu, aku keluar ya. Kamunya istirahat." pamit Sivia.

Alvin mengangguk. Sivia kemudian membantu Alvin berbaring, membenahi letak selimutnya, lalu mengelus rambut hitam Alvin beberapa kali.

"Kamu orang baik Vin, sangat baik. Kata malaikat itu lebih cocok buat kamu, dibanding aku." tutur Sivia dalam hatinya.

Tak bisa menampik, Via menyadari ada rasa nyaman yang menjalari tubuhnya, saat kedua matanya menelusuri lekuk sempurna wajah Alvin, "Apa rasa itu mulai ada, Tuhan? Kalaupun iya, ia datang terlambat, sangat terlambat." lagi-lagi batinnya riuh bergumam, berbanding terbalik dengan bibir tipisnya yang terkunci rapat.

Perlahan, Sivia melangkah keluar, meninggalkan Alvin yang entah sudah tertidur atau belum, Sivia tidak tau, karena kedua mata Alvin berbalut kain perban.

Diluar, Cakka dan Iel tengah berjalan mondar-mandir dengan gelisah. Disisi kanan pintu terdapat sederet kursi berwarna biru yang dua diantaranya telah ditempati Agni dan Ify. Via menatap mereka satu-persatu, tapi tiba-tiba saja kepalanya berkunang, perutnya sakit, keringat dingin mulai meluncur dari dahinya.

"Alvin bilang apa, Vi ?" tanya Iel.

Sivia tidak menjawab, ia terlalu sibuk dengan sakit yang menderanya.
Sivia merasakan tubuhnya limbung, kedua kakinya lemas, lantas semua jadi hitam dan gelap.
Ia pingsan.

***

"Via tidak apa-apa, hanya kelelahan. Kalian sudah bisa menjenguknya didalam. Silahkan." ujar seorang dokter
yang baru saja usai memeriksa Sivia.

Setelah berkata demikian, sang dokter melonggarkan dasi garis-garis hitam-abu yang mencekat lehernya, lalu melenggang pergi meninggalkan 4 orang anak yang tengah memandangnya dengan tatapan menuntut suatu penjelasan.

"Dok !!" panggil Iel.

Dokter tadi berhenti berjalan, lalu menoleh.

"Apa Sivia itu pasien dokter Raka ?" tanya Iel, pada dokter yang bernama Raka tadi.

"Ya, Via pasien saya." jawab dokter Raka seraya mengangguk.

"Mmh, setau saya... Dokter biasa menangani pasien yang bermasalah dengan ginjalnya, lalu... apa.. Sivia juga mengalami masalah pada ginjalnya, sehingga harus ditangani oleh dokter ?"

Dokter Raka tersenyum sekilas, "Kamu Gabriel ya ? Pasien kebanggaannya dokter Fadli ?" tanyanya.

Ia menganggukkan kepala.

"Pantas. Kamu sepertinya sudah hafal ya dokter-dokter disini berikut spesialisasinya." Dokter Raka menepuk pundak Iel, sebelum melanjutkan kalimatnya, "Sivia memang pasien baru saya. Awalnya Via ditangani oleh dokter kulit, karena sering gatal-gatal terutama dibagian punggungnya, tapi beberapa waktu lalu, terdeteksi bahwa ginjalnya mengalami kerusakan. Via sering minum obat-obat sakit kepala dalam jangka waktu yang sudah cukup lama dan kurang mengkonsumsi air putih, sehingga kinerja kedua ginjalnya mengalami penurunan."

"Maksud dokter, Via mengalami gagal ginjal ?" kini giliran Ify yang bersuara.

"Mungkin terlalu ekstrem kalau dibilang gagal ginjal, kedua ginjalnya masih berfungsi walaupun tidak sempurna. Tapi itu bisa saja terjadi kalau Via terus-terusan menolak melakukan transplantasi ginjal."

"Jadi sampai sekarang Via masih menolak melakukan tranplantasi dok ? Tapi kenapa memangnya ? Setau saya transplantasi semakin cepat dilakukan akan semakin baik." kata Agni, ikut menimpali.

"Pendonor ginjal harus dari keluarga kandung. Ginjal Via dengan ibunya cocok, tapi Via menolak kalau ibunya harus mendonorkan satu ginjal untuknya. Kami sudah meyakinkan Via bahwa seseorang tetap bisa hidup normal dengan satu ginjal, tapi Via tetap bersikukuh menolaknya. Selain itu masalah biaya juga menjadi kendalanya." dokter Raka kembali memaparkan semua hal yang diketahuinya dengan sangat rinci.

Semua terdiam. Alvin, lalu sekarang Via.
Ya, tidak heran kalau Cakka, Iel, Ify ataupun Agni, sama-sama tidak berselera untuk bicara.

"Ada lagi yang ingin kalian tanyakan ?" tawar dokter Raka.

"tidak dok. Kami rasa cukup. Trimakasih banyak." balas Cakka.

"Baiklah saya permisi kalau begitu. Selamat malam." pamit dokter Raka, diiringin seulas senyum.

Setelah sosok dan bayangan dokter Raka hilang ditelan remang malam, Cakka, Iel, Ify dan Agni segera masuk ke dalam kamar rawat umum yang berisi 4 ranjang tidur. Disalah satu kepala satu ranjang itulah, Sivia menyandarkan tubuhnya yang lemas.

Sivia mengangkat wajahnya, ketika bunyi tap-tap-tap dari sepatu yang beradu dengan lantai, berhenti. Dihadapannya 4 orang tengah kompak mempertontonkan raut kecewa di wajah mereka.

"Maafin aku..." lirih Sivia, ia sudah tau dimana letak kesalahannya. Menutupi hal sekrusial itu dari sahabat-sahabatnya tentu bukan suatu tindakan yang patut dibenarkan.

"Kita maafin kamu kok cantik, sama kayak kita bersedia maafin Iel dulu." tutur Agni, sembari merengkuh tubuh sahabatnya itu dalam sebuah pelukan hangat.

"Tapi mulai sekarang janji ya, gak pake rahasia-rahasiaan lagi kalau ada apa-apa." tambah Ify, yang juga turut memeluk kedua sahabatnya.

Cakka dan Iel, hanya bisa memandangi tiga sahabat itu dengan sorot mata penuh kerinduan.

"Kapan kita terakhir kumpul-kumpul di kantin ya, Yel ? Gue sampai lupa, gue kangen d'orions." ujar Cakka setengah berbisik. Gabriel mengangguk setuju.

***

Agni berjalan gontai menyusuri trotoar jalan yang masih dihuni beberapa penjajak makanan kecil. Tangannya mencengkram erat tas selempang yang ia kenakan, sesekali kakinya menendang-nendang kerikil kecil yang bergeletakan disepanjang jalan yang dilalui. Angin malam yang dingin membuatnya berkali-kali harus membenahi cardigan coklatnya agar lebih erat menempel pada tubuhnya, kadang Agni juga menggosok-gosokan telapak tangannya untuk
menghalau rasa dingin.

Tin.. Tiinn

Sebuah cagiva hitam berhenti tepat didepannya. Sang pengemudi tersenyum ramah setelah melepas helm fullface yang dikenakan.

"Riko ?"

"Sendirian Ag ?? Darimana ?"

"Eh, iya, gue sendiri. Abis dari RS, jengukin temen."

"Oh, ya udah, yuk. Gue anter pulang aja. Udah malem, gak baik cewek jalan sendirian malem-malem."

Agni melirik jam digital hitam yang melingkari pergelangan tangannya. Jam 9 malam. Ternyata memang sudah larut malam, pantas saja sudah mulai sepi.

"Gak deh Ko, gak enak kalau cewek lo liat. Apalagi dia sobat gue juga, entar malah salah faham lagi." Agni menolak dengan halus.

"Ya elah, nyantai aja kali, Ag. Cewek gue gak cemburuan kok. Udah ah, ayo naik." bujuk Riko.

"Beneran gak pa-pa nih ?"

"Iya, iya, bawel deh. Udah pegangan lo." perintah Riko setelah Agni diboncengnya.

Meski enggan, Agni menurut. Dilingkarkan kedua tangannya pada pinggang Riko. Setelah itu, cagiva hitam andalan Riko melesat cepat, membelah lalu lintas malam kota Bandung.

Dari kejauhan, seseorang yang memperhatikan Agni dan Riko, mulai berbisik perih pada angin, "Semoga lo bahagia sama pilihan lo." gumamnya, sarat akan nada kecewa.

Percayalah,
tidak ada hal lain yang lebih menyesakkan,
selain penyesalan yang selalu datang dibuntuti kata terlambat.

***

"Iya Yo... Aku janji gak akan nangis lagi. Ya aku cuma ngerasa gak enak aja. Iya.... Kamu juga baik-baik ya disana.... Jangan lupa makan..... Hahaha, Ok. Kamu hutang satu lagu sama aku kalau gitu..... Sip-sip, bye..."

Shilla mengulum senyum simpul, setelah menekan tombol merah pada keypad handphonenya.

"Dimana Rio ?" suara berat itu membuat Shilla terperejat. Hampir saja handphonenya terlepas dari genggaman tangannya.

"De.. Debo, sejak kapan lo disitu ?"

"udah lama. Cukuplah buat denger semua pembicaraan lo sama Rio barusan."

"Jangan sok tau deh lo, tadi tu bukan Rio." sergah Shilla, gadis ini menekan seluruh rasa gugupnya dan betul-betul berusaha untuk bersikap sewajar mungkin. Ia tidak ingin, rencana yang sudah tersusun apik, berantakan hanya karena keteledorannya.
"Elo gak usah ngelak deh, Shil. Gue udah mergokin lo telfon sembunyi-sembunyi kayak gini, 3 kali. Pertama, pas final basket. Kedua, pas kita jenguk Alvin dan ketiganya, sekarang. Gue yakin yang lo telfon itu Rio kan ?"

"Bukan !!"

"Bohong !!"

"Udah deh, lo jangan ngaco."

"Ok. Kalau gitu, siniin HP lo." Debo dengan sigap merebut handphone Shilla.

"Privat number." gumamnya, setelah beberapa detik memeriksa handphone Shilla.

"Udah gue bilang, yang telfon tadi tu bukan Rio. Ngeyel sih lo." Shilla masih terus mempertahankan argumennya, dengan kasar ia merebut kembali handphonenya dari tangan Debo.

"Shil, gue yakin lo pasti tau kan dimana Rio sekarang ? Lo harus kasih tau Ify, dia jauh lebih berhak tau ketimbang lo." desak Debo, ia merasa berhutang budi pada Ify, dan berharap ia bisa membalasnya dengan mendesak Shilla agar memberitahukan keberadaan Rio.

"kenapa emangnya? Kenapa Ify lebih berhak tau dari gue ?"

"Karena Ify bener-bener sayang sama Rio."

"Oh, trus Rionya ? Apa dia juga sayang sama Ify, kalau iya kenapa Rio ngehindarin Ify ?"

"Jadi benerkan lo tau sesuatu, lo tau kan Rio dimana ?"

"Iya, gue emang tau dimana Rio. Terus lo mau apa, heuh ?"

"SHIL, ELO HARUS KASIH TAU IFY DIMANA RIO." raung Debo. Untungnya saat itu seluruh siswa kelas XI IPA 1 sedang berolahraga, sehingga pertengkaran dua orang ini tidak terlalu menyita perhatian.

"GAK-AKAN-PERNAH." ujar Shilla tegas.

"Elo jangan keterlaluan gitu dong Shil."

"Gue ?" Shilla mengarahkan telunjuknya kedepan wajahnya, "heh, justru yang keterlaluan tu mereka, gak Ify, gak Iel, cuma nambah-nambahin beban fikirannya Rio doang. Si alvin juga, seenak-enaknya gebukin anak orang. Pas Rio ada, disalah-salahin, Rio menghindar dibilang pengecut. Mereka gak ada yang ngerti kan, gimana perasaan Rio ? So, yang keterlaluan siapa ? Mereka semua tu yang keterlaluan. Terutama lo, perusak. Jadi jangan sok care deh, sama Ify, Rio ataupun yang lain." cibir Shilla sinis, "Tapi tenang aja, gue gak sejahat yang lo fikir kok, gue bakal kasih tau Ify dimana Rio, tapi nanti kalau Rio udah siap ketemu Ify."

"Gimana kalau Rio gak pernah siap ketemu Ify lagi ?"

"Gampang aja. Berarti Ify gak akan pernah ketemu Rio lagi." Shilla menyeselesaikan kalimatnya dengan santai. Lalu berlenggang keluar kelas menuju lapangan, setelah sekilas melempar senyum menyebalkan lengkap dengan tatapan extra mencibir pada Debo.

"Rio-Shilla ? Kok jadi gini sih." gumam Debo, bingung.

***

Waktu sudah beranjak setengah jam dari tengah malam, tapi kedua mata indah milik pemuda ini tak kunjung terpejam. Tetesan cairan yang kemudian mengalir melalui selang yang menempel pada lengan kirinya serta bunyi tik-tok-tik-tok dari jam dinding persegi panjang didepannya terdengar lebih jelas daripada sebelumnya. Ia selalu benci saat-saat sendiri seperti ini. Ini kelewat sunyi, terlalu sepi, dan bayangan itu pasti akan datang lagi. Menyeretnya hingga kedasar yang paling gelap dalam hidupnya, memaksanya untuk kembali pada sebuah masa yang harusnya sudah terlupakan sejak lama.

Pemuda ini tidak tau lagi, mana yang lebih sakit. Tubuhnya atau hatinya. Masa lalu itu terus menghantui langkahnya. Mengusiknya saat terjaga, menekannya saat terlelap, ia benar-benar tersiksa.

Mungkin terlalu lelah, akhirnya sayup-sayup kelopak matanya mengatup, alis-alis matanya teranyam sempurna. Pemuda itu, ia tertidur.


Mereka bilang setiap kali angin berhembus,
seseorang disuatu tempat tengah menitipkan salam rindu untuk orang terkasihnya.
Mereka bilang setiap kali langit gelap,
seseorang disuatu tempat telah meminta bintang-bintang untuk menghiasi mimpi orang tersayangnya.
Mimpi... Terkadang jadi isyarat tak terbaca berisi jawaban atas pertanyaan yang kau ajukan.


Pemuda tadi berjalan disebuah padang. Luas. Hijau. Dan sangat indah. Disisi kirinya tampak mawar-mawar dengan aneka warna tengah di gandrungi kawanan kupu-kupu. Disisi kanannya, pantulan mentari sore terbias jelas dipermukaan air danau yang tenang. Di depan serta belakang pemuda tadi, ilalang-ilalang setinggi pinggul berayun luwes disentuh angin. Pemuda tadi terlihat bingung, dimana Ia sekarang ? Disurga kah ??

Ya, ini pasti surga, karena tepat saat pemuda tadi menoleh, matanya menangkap sosok cantik bak malaikat degan cahaya putih yang memancar dari setiap inci tubuhnya, senyum manis terpeta pada parasnya yang ayu, tatapannya lembut seumpama lembayung senja, rambutnya terurai, berkilau dan meliuk mengikuti gerak tubuhnya.

Pemuda tadi terpana.

"Apa kabar Yo ? Lama ya kita gak ketemu." suara itu menyapanya syahdu, terdengar merdu seperti nyanyian putri-putri duyung penghuni danau hitam pada film Harry Potter and The Goblet of Fire.

Pemuda tadi terkesiap. Sosok itu mengenalnya, "Dea ?" gumam pemuda tadi, ragu-ragu.

Sosok cantik tadi mengangguk.

"kamu betul-betul Dea ?"

"Iya Rio, aku Dea. Aku nemuin kamu buat ngembaliin ini." sosok cantik yang mengaku jelmaan Dea itu menarik lengan kanan Rio dan menggambarkan lambang Love yang dibubuhi tulisan hati ditengah-tengahnya.

"Ini hatimu," katanya seraya tersenyum, "Maaf, aku menahannya terlalu lama. Aku rasa kamu mulai membutuhkannya untuk menyayangi orang lain. Kamu selalu bilang aku adalah bintangmu. Tapi kamu perlu tau Rio, gadis yang jatuh bangun membantumu itu adalah mataharimu. Orang bisa hidup tanpa bintang, tapi gak ada yang sanggup hidup tanpa matahari. Aku gak akan pernah rela, kalau tempatku di hatimu digantikan orang lain, tapi aku akan lebih gak rela kalau kamu hancurin hidup kamu, dan jadiin aku sebagai alasannya. Itu konyol."

Pemuda tadi masih mematung. Rio, dengan kaku hanya satu kalimat yang ia ucapkan, "Aku kangen kamu, De."

Sosok Dea lagi-lagi hanya mengumbar senyum. Sepertinya ia sadar betul senyumnya lebih indah dari seluruh bunga-bungaan yang ada didunia.
Tanpa mengeluarkan kata-kata lagi, Dea menjauh, semakin lama semakiiin jauh. Tangan Rio terus terulur berusaha menyentuh sosok cantik itu, tapi Dea tak lagi ada dalam jarak yang bisa Rio jangkau.

"De, kamu mau kemana ? Jangan tinggalin aku lagi, De. Aku ikut kamu, Deaa..."

"Aku bahagia ditempatku Yo, dan kamu juga harus bahagia disana. Salam untuk malikatmu dan untuk Debo."

Sosok Dea lantas menghilang ditelan gumulan kabut putih.

Bruk.

Rio menjatuhkan dirinya. Bersamaan dengan itu, akalnya dibenturkan pada sebuah kesadaran. Masa lalu telah melepaskan belenggunya. Sekarang tinggal Rio sendiri, sudah beranikah ia hengkang dari masa lalu dan menjemput masa depannya ? Sudah cukup tangguhkah ia kalau suatu saat, ia harus kehilangan lagi ??

"aku akan membantumu..."

Suara lembut itu membuat Rio mengangkat wajahnya ?? Seorang gadis dengan kedua sayap dibalik punggungnya, mengulurkan tangan dengan tulus kearah Rio.

"kamu..."

Rio terhenyak, tubuhnya dibanjiri keringat dingin. Jantungnya berdegup kencang, nafasnya memburu. ia terbangun dari tidur singkatnya. Apa yang barusan ia alami ? Mimpikah ?
Tapi kenapa terasa begitu nyata.

"Shilla..." gumam Rio, tanpa sadar.


***