Pelangi Persahabatan Kami
***
separuh darimu menjadi bagian dari kami
separuh darimu memberikan kekuatan pada kami
dan separuh darimu menjadi setitik kehidupan untuk kami
tetesan air langit masih saja mengguyur bumi, sejak tadi pagi.
Awal november. ah ya, tentu saja hujan yang berkuasa. bahkan tumpahan air langit itu tidak mengizinkan senja muncul hari ini untuk sekedar menjemput mentari kembali keperaduannya. Dan aku masih terdiam di sini sejak beberapa menit lalu. mendengar dendang tangis milik seseorang yang sepertinya aku kenal. Pemuda tampan dan manis begitu kata orang tentangnya. Tapi aku tak tau bagaimana rupanya, ya... karena memang aku belum pernah melihatnya. Aku ify, karena sebuah kecelakaan aku buta sejak kecil dan karena itu pula aku tinggal dipanti ini setelah orang tuaku meninggal akibat kecelakaan yang sama. dengan langkah tersaruk, kucoba menghampiri pemilik dendang tangis itu.
"ngapain kamu disini sendirian yo?" tanyaku padanya.
"jangan sok peduli. pergi sana!" ketusnya padaku.
"yo, ayo kita masuk, kamu kan baru sembuh." ajakku sedikit memaksa.
"gue bilang jangan sok peduli! udah lo pergi sana. gue baik-baik aja. GUE SEHAT," tekannya setengah berteriak, "Gue nggak kayak lo sama teman-teman lo yang lemah, penyakitan," tambahnya, kasar.
Ah menyakitkan sekali ucapan pemuda ini. ada apa dengannya? mengapa mulutnya bisa bicara setajam dan semenusuk itu? Tapi sudahlah, aku tidak peduli dengan apa yang baru saja dikatakannya, yang terpenting adalah segera mengajaknya masuk karena udara di pelataran sini, mulai terasa mendingin. aku tentu tak akan tega membiarkan rio, sahabatku, sendirian di luar padahal cuaca sedang begitu tak bersahabat apalagi dia baru sembuh dari sakitnya.
"kalo kamu nggak mau masuk, aku juga bakal tetep di sini temenin kamu," ancamku.
"udah deh, PERGI SANA!!!"
Aku merasa dorongan keras pada tangan kananku, hingga tubuhku tersungkur. sepertinya Riolah pelaku pendorongan itu.
"ify!!!" teriak suara baritone yang aku yakini milik Alvin.
kemudian terdengar langkah-langkah kaki yang berlarian ke arahku dan sepasang tangan lembut yang membantuku untuk bangun.
"fy, kamu nggak apa-apa?" suara seorang gadis menyapa indera pendengaranku, sepertinya aku mengenal suara itu. suara milik sivia, sahabat sekaligus gadis yang membantuku berdiri tadi (sepertinya).
Mereka semua adalah sahabat-sahabat terdekatku. Alvin, Sivia dan Rio tentunya. kami berkawan sangat dekat. Alvin adalah penderita penyakit kerusakan hati, sedangkan sivia menderita gagal ginjal. Aku sendiri (seperti sudah aku katakan tadi), buta. Panti ini memang dibangun khusus untuk anak-anak seperti kami. anak-anak yang diberikan kelebihan oleh Tuhan. Ya penyakit-penyakit yang kami derita, aku menyebutnya sebagai kelebihan. bukan apa-apa aku hanya tidak ingin menambah beban hidup anggap saja semua yang Tuhan berikan padamu kemarin, hari ini ataupun esok adalah kelebihan yang pantas disyukuri. paling tidak itu akan membuatmu merasa lebih baik dan mengurangi beban. Di panti ini kami merasa lebih nyaman, kami merasa sama dan senasib, di sini kami belajar saling melengkapi, belajar peduli, saling menyemangati dan berbagi.
Tapi rio? Dia berbeda dengan kami, seperti yang (sering) dia katakan, Rio tidak sakit. Tidak cacat seperti kami. setauku, sebelas tahun yang lalu, ibu panti membawa seorang anak berusia sekitar lima tahun. anak itu menagis terus. Ibu panti bilang beliau menemukan anak itu, di station. Anak itu menangis kebingungan mencari ibunya. mungkin dia terpisah dari orang tuanya atau mungkin sengaja di tinggal. Ah, entahlah, itu tidak penting untuk kami. Saat itu yang kami fikirkan adalah kami akan mempunyai teman baru lagi yang bernama Rio.
"orang tuaku, pasti akan menjemputku."
itu adalah kalimat andalan rio yang aku hafal betul. Dulu saat awal-awal Rio tinggal di panti, anak itu menolak setiap kali kami ajak bermain. Dia sepertinya tidak suka dengan keberadaan kami, dia lebih suka sendiri, asik dengan dunianya yang entah berisi apa, tak ada yang tau, karena memang tak pernah dibagi. Tapi seiring berjalannya waktu, sosok asli rio mulai muncul. Rio anak yang lucu dan baik hati. Pada dasarnya rio itu ramah dan penyanyang, kami semua jadi mulai terbiasa membaur dengannya, sebagaimana Rio pun mulai bisa menerima kami sebagai bagian dari hidupnya yang baru.
Aku, sivia, alvin dan rio memang sangat akrab. Kami sering bermain bersama. Rio mengajari banyak hal pada kami, termasuk semangat yang tak pernah padam untuk sembuh. Rio yang mengajari alvin bermain gitar, menemani bermain sepak bola, bahkan rio juga tidak canggung membantu sivia merawat bunga-bunganya. Rio juga selalu menceritakan hal-hal yang tidak bisa aku lihat, seperti keindahan saat mentari terbenam, bunga yang bermekaran, rinai hujan, juga tentang sosok alvin dan sivia. Rio bilang alvin itu ganteng, tinggi, kulitnya putih. sedangkan sivia, cantik, pipinya bulat menggemaskan. Dan rio bilang kalau aku itu manis, dengan dagu tirus dan rambut lurus yang membingkai wajahku.
Tapi entah mengapa sejak beberapa bulan lalu, sosok rio mulai berubah. ia kembali menjadi rio yang dulu, yang tertutup, yang tak mengizinkan seorangpun masuk dalam hari-harinya. rio yang cenderung kasar dan sangat menyebalkan.
"yo, kamu apa-apaan sih?" bentak alvin.
"LO NGGAK USAH IKUT CAMPUR!"
"tapi kita sahabat kamu yo dan kita sedih liat kamu kayak gini. ada apa sebenarnya?" tambah sivia.
"kamu kenapa sih yo? Kita kangen rio yang dulu," tanyaku sehalus mungkin.
"ini gue rio. Yang ada di hadapan lo semua, inilah rio yang asli. Rio yang kemarin udah mati. MATI!"
aku mendengar langkah-langkah kaki menjauh, sepertinga sepasang kaki milim Rio. Ya Tuhan ada apa dengan sahabatku itu?
*
sore itu selepas hujan, kami bertiga, aku,alvin dan sivia (lagi-lagi tanpa Rio), berkumpul di danau bintang. Danau ini, riolah yang menemukannya. Sudah berapa lama rio tidak mengunjungi tempat ini? Akhir-akhir ini, rio lebih sering mengunci diri di kamarnya. Danau ini menurut cerita Rio, di kelilingi barisan pohon pinus dengan daun-daun mungilnya yang berwarna hijau cerah yang selalu berhias butiran-butiran air selepas hujan. Air danaunya bergerak perlahan membiaskan langit di atasnya. Saat malam, danau ini akan menghamparkan ribuan bintang, karena itulah Rio menamainya danau bintang.
"eh, eh lihat ada pelangi!" kata alvin, heboh.
"oh ya?" balasku.
"iya fy," jawab sivia, singkat.
"andai ada rio di sini, pasti dia akan dengan senang hati bercerita tentang perwujudan pelangi itu," batinku,
"aku kangen rio" gumamku.
"kita juga, fy." timpal alvin dan sivia bersamaan.
Setelah itu, kami terdiam. Tak berapa lama pelangi pun hilang. kami bergegas untuk pulang, Sivia menuntunku perlahan. tapi kemudian derap kami terhenti.
"ada apa?" tanyaku tak mengerti.
ternyata alvin dan via melihat rio melangkah perlahan ke arah sebuah pohon, rio menggali lubang di sana dan menguburkan sesuatu.
"Eh Rio kenapa? kok kayaknya nangis?" sivia bertanya-tanya.
"rio nangis? Aku mau samperin dia," kataku.
"jangan fy, entar kamu kena bentak lagi. udahlah mungkin dia udah nggak butuh kita." cegah alvin.
"tapi dia kan sahabat kita, kasihan," belaku.
"Iya Fy, tapi mungkin Rio emang lagi butuh sendiri untuk beberapa waktu," imbuh Sivia.
*
Dua minggu setelah kejadian itu, sekarang di sinilah kami. ditemani suara guntur yang melolong menyeramkan, kami berdiri bisu menunggui sosok lemah seorang pemuda. Dari percakapan Alvin dan Sivia, pemuda itu tertidur pulas dalam sebuah ruangan, ia terlihat begitu letih, guratan kesakitan hampir menghilangkan ketampanannya. Rambutnya menipis, kulitnya pucat, bibirnya hampir seputih salju dan tangan yang dulu selalu diulurkan untuk membantu teman-temannya, kini terkulai tak berdaya di sisi tubuhnya. memilukan bukan?
Air mata? Ah ya tentu tak dapat lagi dihitung, berapa banyak yang sudah tertumpah.
"rio selalu bilang, kalian segalanya untuknya, maafkan sikap rio selama ini pada kalian. dia hanya tidak ingin kalian sedih saat dia pergi nanti," jelas ibu panti kepada kami.
Aku terisak, "ibu jangan bilang begitu, rio pasti sembuh. Kita selalu mendoakannya," ucapku getir.
Semua hanyut dalam kesedihan dan doa. Doa untuk sahabat terbaik kami. Aku takut, entah mengapa aku merasa rio akan segera pergi meninggalkan kami, tapi segera kutepis perasaan itu. Bagaimana jadinya kami tanpa dia, bukankah dia yang selama ini menyemangati kami, yang ikut merasakan kesakitan alvin, yang ikut menangis melihat sivia kemoterapi, yang selalu berbaik hati jadi tongkatku, cahayaku. Tentu tuhan tidak akan sejahat itu, mengambilnya dari kami. Bersamaan dengan doa yang terus mengalir untuk rio yang sedang berjuang di dalam sana, memori tentang riopun mengalir dalam fikiran kami masing-masing.
"HAHAHA."
kami kompak menertawakan rio yang (sepertinya) terpeleset ke dalam air danau saat itu, rio tentu saja hanya ketawa-ketiwi tidak jelas. memang sangat aneh bocah itu.
"eh, eh, lihat tu ada pelangi," tunjuk sivia.
"eh iya, tapi kok nggak ada warna hijaunya ya?" tanya alvin heran.
"bukan nggak ada vin, mungkin belum jelas. Pelangi itu akan selalu datang dengan warna yang lengkap. sama kayak kita yang selalu sama-sama," jelas rio.
"iya ya Yo, pengen deh kita selalu sama-sama. persahabata kita kayak warna-warni pelangi gitu, selalu lengkap. Tapi sayangnya nggak mungkin ya, suatu hari, salah satu dari kita pasti bakal pergi duluan. hm... nggak kebayang gimana sedihnya."
"jangan ngomong git dong Vi. alvin pasti bakal dapat pendonor hati, kamu pasti bakal dapat ginjal yang cocok dan ify juga akan bisa melihat lagi. percaya deh, suatu saat kalian akan sembuh dan lihat pelangi itu sama-sama sambil tersenyum," tutur Rio, menyemangati
"iya aku percaya. aaaaa...jadi nggak sabar pengen bisa liat pelangi," seruku.
*
kami berlari kecil di koridor rumah sakit. sivia terus menggandeng tanganku. Senyum manis merekah di sudut bibir kami.
Rio sadar.
Ah bahagia sekali rasanya mendengar berita ini dari ibu panti.
"rio," sapa alvin.
"haiii," rio tersenyum, kami menatapnya sedih, "pada kenapa sih, nggak usah didramatisir gitu deh. gue sadar bukan buat liat kalian sedih-sedih gitu."
"kamu harus janji yo." kata alvin.
"janji apa?" tanya rio.
"janji nggak bakal ninggalin kita," lanjut alvin.
"iya. dan kamu juga harus cepet sembuh yo," tambahku.
Rio tidak mengiyakan, "Gue pengen jalan-jalan ke luar. kalian mau anterin kan? nggak akan lama kok, sebentar aja," pinta rio.
"ya udah ,tapi sebentar aja ya. kamu kan harus istirahat," balas Alvin.
"aku minta izin ke dokter dulu kalau gitu," usul sivia.
*
kamipun mulai menyusuri jalan berumput menuju ke taman rumah sakit dan kalian tau? Rio meminta aku. aku yang buta ini, untuk mendorong kursi rodanya. Dia selalu mengarahkanku, menuntunku ke jalan yang tepat. Aku semakin sadar akan sangat sulit berpisah darinya, dia adalah titik cerah yang tuhan kirimkan untuk sosok-sosok dalam kegelapan seperti aku. Saat sampai, kami disambut oleh bau khas tanah yang yang tersiram air hujan.
"eh, eh, ada pelangi," teriak via.
"selalu indah," guman rio.
Kami semua menatap barisan warna itu. akupun seakan menemukan lengkungan berwarna itu dalam kegelapan.
"aku pengen jadi warna merahnya, kuat dan berani, supaya bisa jagain kalian," kata alvin, tiba-tiba.
"kalo aku pengen jadi kuning, ceria dan periang, supaya aku bisa bikin hari kalian selalu cerah," lanjutku.
"aku pengen jadi warna hijaunya, tenang dan lembut. Biar aku bisa bawain kalian kesejukan." tambah sivia.
"dan gue pengen jadi hujannya," ucap rio.
"kenapa hujan yo? Kenapa nggak jadi langitnya. langit tempat pelangi bergantung," saranku.
"suatu saat, kita pasti akan pisah, dan gue bakal jadi orang pertama yang mempersatukan kita. Kalian tau kan, pelangi nggak akan muncul tanpa seruan hujan. Karena itu gue pengen jadi hujan, hujan yang akan memanggil kalian, warna-warni pelangi."
aku menangkap kata-kata itu sebagai ucapan selamat tinggal. bukankah Rio dulu bilang kami akan melihat pelangi bersama-sama sambil tersenyum. lalu kenapa sekarang tiba-tiba pemuda ini bicara tentang perpisahan? Aku berfikir bahwa rio sadar bukan untuk sembuh, tapi hanya untuk mengizinkan kami mendengar suaranya untuk yang terakhir kali.
"kita balik yuk yo!" ajakku.
"entar fy, tunggu pelanginya hilang," rio menolak.
Kami menikmati kemunculan pelangi sore itu, pelangi terakhir yang bisa kami nikmati bersama kehadiran rio. karena setelah itu, bersamaan dengan pelangi yang memudar, mata riopun perlahan merapat. terpejam dan tak akan pernah terbuka lagi untuk selamanya. kami tidak akan mendengar celoteh ramai pemuda itu lagi ataupun permainan musiknya yang mengagumkan.
"hiks," aku mendengar sivia terisak.
"pelanginya udah hilang yo, ayo kita balik," lirih alvin.
Kita sama-sama tau bahwa jiwa rio telah meninggalkan raganya. Aku menggenggam tangan rio, sedingin es. Saat menuju rumah sakit aku kembali yang mendorong kursi roda itu, kali ini alvinlah yang mengarahkanku. kami fikir permintaan Rio agar akulah yang mendorong kursi rodanya adalah permintaan terakhir pemuda baik hati itu. kini tentu berbeda, raga yang duduk di atas kursi roda tak lagi menunjukan arah yang harus kutempuh. Kami semua terdiam, merasakan gejolak kesedihan dalam relung hati.
*
hari itu cuaca cerah, burung- burung berterbangan di angkasa. Kami berdiri di sini, di bawah sebuah pohon besar di tepi danau bintang.
"sekarang vin!" pinta sivia.
alvin pun mulai menggali tanah itu, tak berapa lama sebuah kotak muncul dari dasar lubang yang tidak terlalu dalam. Alvin mengambil dan membersihkannya dari beberapa bulir tanah. Kami bertiga sepakat untuk segera membukanya. Membuka kotak yang rio kubur waktu itu. Saat kami membukanya, kami dapati lima buah benda di sana, hiasan meja berbentuk gitar dari alvin, syal biru tua dari sivia, gantungan kunci berbentuk bola basket dariku dan selembar foto. Foto kami berempat sedang tertawa lepas menatap kamera.
"ternyata memang manis," batinku.
Ya, inilah kali pertama aku melihat wajah rio. pemuda itu memang terlihat manis, wajahnya ramah, tatapan matanya hangat dan senyumnya, tipe senyum yang selalu berhasil membuat siapapun yang melihatnya ingin ikut tersenyum. Sekarang kami bertiga telah sembuh. tak tahu ada keajaiban apa dan bagaimana ceritanya, tiba-tiba sehari setelah kepergian rio menuju keabadian, ada seorang pendonor yang suka rela memberikan separuh dari dirinya untuk menjadi setitik kehidupan untuk kami.
Dan terakhir, penghuni kota Rio adalah sepucuk surat yang ditaruh di dasar kotak. Alvin mulai membuka dan membacakannya. Aku dan sivia mendengarkan.
Gue Rio. gue bukan cowok hebat, bukan pemain basket, penyanyi terkenal ataupun cowok keren yang diuber-uber banyak cewek. Gue Rio dan gue cuma cowok biasa. seorang yang baru nemuin kebahagian di sini. di panti ini. gue baru ngerasain gimana rasanya disayangi, gimana indahnya diperhatiin dan dianggap ada. dari kecil gue sendiri, nggak tau lah mungkin gue dibuang sama orangtua gue, mungkin mereka nggak sanggup biayain hidup gue, atau mungkin karena gue anak dari hasil hubungan gelap. ah itu nggak penting buat gue. gue bersyukur karena dengan gitu akhirnya gue bisa ketemu mereka. Ify, sivia dan alvin. Sobat kebanggaan gue. semangat gue, hidup gue.
Gue rela nuker apapun yang gue punya demi mereka. Saat gue tau, mereka bakal cepat ninggalin gue, gue takut, gue sedih. gue berdoa supaya gue duluan yang dipanggil tuhan, supaya gue nggak perlu ngerasain sedihnya kehilangan mereka. Dan tuhan kabulin doa gue dengan kanker otak. haha lucunya sesaat gue sempet berfikir itu anugrah, tapi gue langsung sadar ,gimana mereka kalo gue pergi, siapa yang bakal jagain mereka?
Berpura-pura semuanya baik-baik aja, tentu bukan hal yang mudah, jadi gue milih jauhin mereka. Gue nggak mau semangat mereka buat sembuh hilang saat tau keadaan gue. Gue nyesel sama doa gue, gue nggak yakin sanggup biarin mereka sedih. gue nggak akan sanggup ninggalin mereka, gue masih pengen liat senyum mereka. Akhirnya gue putusin, gue titipin sebagian dari gue ke mereka. kalau suatu saat gue benar-benar pergi, gue bakal donorin mata untuk ify hati untuk alvin dan ginjal untuk sivia. semoga tuhan kasih keajaiban dan organ-organ tubuh gue cocok sama mereka dan gue bakal tetap bisa di sisi mereka meski dalam wujud yang nantinya akan berbeda.
Tak ada airmata yang tercurah dari kami bertiga, melepas sahabat terbaik kami tentu bukan dengan airmata. dan kmai yakin rio tidak akan suka melihat kami menangis. Lagipula hujan telah mewakili kami. aneh ya, saat ini hujan turun cukup deras, padahal hari sangat cerah, bahkan mentari tak beranjak dari tempatnya. Kami berlari-lari kecil di tengah hujan, seperti yang sering rio lakukan dulu, kami berkejaran dan tertawa lepas menikmati hujan. Biarlah raganya menjauh, tapi kasih sayangnya tentu masih mengalir dalam deru darah kami.
"eh, liat ada pelangi," tunjuk sivia.
"kamu berhasil jadi hujan yo," ucapku lirih.
"rio berhasil bawain pelangi buat kita," lanjut alvin.
Kamipun berdiri tegak, menautkan tangan kami, menatap barisan warna yang di kirim sahabat kami,pelangi persahabatan kami.
the end
***
best regard
via
Minggu, 06 Februari 2011
Tanpa Tangan Kananku (cerpen)
Tanpa Tangan Kananku (cerpen)
***
Kemilau cahaya mentari menerobos masuk ke dalam kamar anak laki-laki itu. Sang empunya kamar tiba-tiba tersentak, ia terjaga dari mimpi-mimpi kecilnya. Segera ia bangkit dan menyibak selimut hangatnya. dijejakkan kakinya kelantai, ah masih terasa dingin ternyata. Dengan tergesa diambilnya tas sekolah doraemon di meja dekat tempat tidurnya, dikeluarkan sebuah gambar dari dalam tas itu. Sepasang kaki mungil itu langsung berlari lincah keluar kamar. entah apa yang akan dilakukan bocah lucu itu.
"ma, pa, mama, papa!!!" teriaknya menunggu sahutan.
Seorang perempuan paruh baya tergopoh-gopoh menghampirinya.
"aden, kok udah bangun?" tanya wanita yang ternyata pembantu rumah tangga, di rumah mewah itu.
"bi, mama sama papa mana?" tanya bocah itu.
"nyonya sama tuan sudah berangkat ke bandara tadi pagi-pagi sekali, den. Mereka ada rapat di luar kota." jelas si Bibi.
"yaahh, padahal aku mau nunjukin ini," rajuk anak itu kecewa, sambil mengangsurkan buku gambarnya.
"wah, bagus sekali gambarnya. dapat nilai 9 ya?" puji si Bibi saat mengamati gambar anak laki-laki itu.
"bi,aku pengen deh main ke dufan bareng mama sama papa, aku pengen makan es krim bareng mereka. Aku kangen mereka, bi," rengek anak itu dengan suara manja khas anak kecil sambil memeluk pinggang si Bibi.
si Bibi membalas pelukannya dengan mengelus rambut anak majikannya itu, "iya, nanti ya, kalo mereka sudah tidak sibuk. Aden tau kan mereka sibuk itu juga buat aden. Sekarang mandi dulu ya, kan mau sekolah."
Mario stevano, begitulah nama yang diberikan orang tuanya kepada bocah laki-laki itu. Ia baru berusia 6 tahun, tahun ini adalah tahun pertamanya di Sekolah Dasar. Rio adalah anak yang manis dan pintar, ia ramah dan penyayang. Celoteh dan tingkahnya selalu membuat orang lain, gemas. Rio anak yang baik, tidak pernah rewel meski sering ditinggal orang tuanya bekerja. Tapi bagaimanapun Rio hanya seorang anak kecil yang kadang merindukan saat-saat bersama orang tuanya, ia juga ingin rapor sekolahnya diambil oleh orang tuanya, seperti teman-teman yang lain. ia ingin orang tuanya yang merawatnya saat sakit, ia juga sangat ingin merayakan ulamg tahun bersama mama-papanya, bukan hanya kue ulang tahun bertingkat atau kado-kado yang menggunung, bukan... bukan itu yang rio harapkan.
*
"mama, besok mama dateng ya ke sekolah rio, sekolah rio mau ngadain acara peringatan hari ibu," pinta rio sambil bersandar manja di bahu mamanya. Kebetulan hari itu mamanya sedang berada di rumah.
"mama nggak bisa rio, besok mama ada kerjaan."
selalu begitu, rio hafal betul, kata-kata itu. Karena memang selalu kata-kata itulah yang terlontar saat rio meminta mama atau papanya menemaninya, entah untuk sekedar main ,mengajari membuat PR ataupun datang ke acara sekolah rio.
"tapi besok Rio nyanyi lho, ma. Mama nggak pengen lihat?"
"sama bibi aja ya, sayang."
"Rio maunya sama mama" rengek rio.
"ya udah, besok mama usahain ya. Udah sana main lagi!"
mama rio kembali berkutat dengan laptop, pena dan kertas-kertasnya. Rio pun menurut, bocah itu keluar dengan senyum manis mengembang di wajah lucunya, mengingat mamanya akan hadir di sekolahnya, besok. Setelah beberapa langkah, rio berbalik, ia berlari kecil ke arah mamanya, lalu dengan tangan-tangan kecilnya dipeluk mama tercintanya itu.
"I LOVE YOU, MOM," ucap Rio tulus dengan bahasa inggris khas anak SD.
Mama Rio tersenyum kecil, kemudian dielusnya rambut rio dengan lembut.
*
kubuka album biru penuh debu dan usang kupandangi semua gambar diri kecil, bersih belum ternoda
fikirku pun melayang dahulu penuh kasih teringat semua cerita orang tentag riwayatku
nada-nada yang indah s'lalu terurai darinya tangisan nakal dari bibirku takkan jadi deritanya
suara rio mengalun memenuhi ruangan itu. memang belum terdengar merdu, tapi cukup untuk membuat orang terharu karena lagu itu terlantun dari bibir kecil dengan segenap ketulusan. Dentingan piano dan barisan lilin di belakang rio, membawa semua orang larut dalam bayangan sosok seorang ibu.
Tangan halus dan lembut t'lah mengangkat tubuh ini, jiwa raga dan seluruh hidup rela dia berikan
"lagu ini, buat mama Rio tercinta," ucap rio di sela-sela jeda lagunya.
Kata mereka diriku slalu ditimang kata mereka diriku slalu dimanja...
sejak awal rio berdiri di panggung, sudah berkali-kali ia menatap barisan penonton di hadapannya, berharap menemukan sosok mamanya berdiri dan tersenyum kepadanya. Tapi hingga detik ini, Rio tidak juga melihat mamanya disudut manapun diruangan ini.
Oh, bunda ada dan tiada dirimu kan selalu, ada di...
Rio sudah hampir menyelesaikan penampilan bernyanyinya. lagu yang ia nyanyikan akan segera berakhir, mungkin sama dengan harapan rio atas kedatangan mama ataupun papanya, semuanya sudah hampir kandas. Terakhir kali, matanya menyapu setiap sisi ruangan itu, tapi hasilnya tetap nihil. Ia menarik nafas sejenak dan meneruskan nyanyiannya tadi.
Ada didalam hatikuuu...
Prok-prok-prok suara tepuk tangan penonton menutup penampilan rio.
"t'limakasih" rio tersenyum dan membungkuk.
Rio turun dari panggung diiringi tatapan kagum para orang tua murid yang hadir.
mama nggak datang, mama bohongin Rio, batin rio kecewa.
Tapi rio tidak menangis seperti layaknya anak kecil lain, tidak ada setitik pun airmata yang terpeta di wajah lucunya, ia terus tersenyum. Senyum tulus yang selalu disuguhkan pada siapapun yang ia temui.
*
malam telah begitu larut, gelap dan sunyi. Hanya deritan jangkrik yang masih terdengar meraung di tengah kebisuan malam, tapi rio belum juga terlelap masih asyik bermain dengan puzzle-puzzlenya.
"ayo den, sudah malam,aden bobo yuk!" bujuk si bibi.
"Rio pengen nunggu mama sama papa pulang, Bi" rio menolak.
Tak berapa lama deru mobil terdengar memasuki halaman rumah rio, rio segera membukakan pintu.
"mama, papa" sapa rio, bersemangat.
"rio kok, belum bobo?" tanya Mamanya.
"Rio mau kasih liat ini ma, pa. Lihat Rio dapet nilai MTK 100. Nilai Rio paling tinggi lho," rio bangga, sambil menyodorkan selembar kertas dengan tulisan khas anak TK dan angka 100 tertulis di sudut kanan atasnya. Tapi mama ataupun papanya tidak ada yang berminat untuk sekedar mengulurkan tangan dan meraih kertas yang disodorkan rio itu.
"iya, nanti papa beliin hadiah ya," balas papa rio sambil lalu.
Sedikit kecewa, tapi rio tidak menyerah. Ia berlari kecil, lalu menarik tangan mama dan papanya. "Rio punya kejutan. ayo ma, pa, lihat!"
"rio, mama sama papa capek, besok aja ya," ujar sang mama.
Rio tetap menarik tangan kedua orang tuanya ke arah bagasi. Di sana tertengger dengan anggun sebuah mobil berwarna hitam mengkilap, mobil itu keluaran terbaru, harganya tentu sangat mahal. mobil itu baru tiba sore tadi di rumah rio.
"lihat ni, mobil papa rio gambarin, supaya kalo mama sama papa pergi kerja, mama sama papa selalu ingat rio. kata bu guru gambar rio bagus," rio menunjukkan gambar di atas mobil baru papanya itu.
Ia menggambari mobil itu dengan paku. alhasil mobil mewah itu menjadi korban kepolosan rio. Mobil itu dipenuhi coretan crayon dan lecet-lecet akibat goresan paku.
"ini mama," rio menunjuk satu gambar dari tiga gambar yang ada, "ini papa dan yang kecil ini-"
tiba-tiba papa rio menarik tangan kanan rio, mengambil gagang sapu terdekat dan....
Plak-plak-plak.
Tangan kecil itu dipukuli sejadi-jadinya.
"bandel kamu, bandel. Siapa yang suruh coret-coret mobil papa, bandel!!!" seru papa rio marah, mungkin karena sangat lelah dan emosi, ia jadi begitu tega berbuat seperti itu pada putra semata wayangnya.
"ampun pa, ampun...ampun pa," rio menangis terisak-isak, tangan kanannya sudah merah berdarah.
"sudah pa, sudah. kasian ri,o" mama rio mencoba menenangkan suaminya yang tengah dikuasai amarah.
"sudah tuan, kasian den rio," si bibi datang dan langsung memeluk tubuh rio.
"BAWA DIA, DASAR ANAK NAKAL! KAMU JUGA TIDAK BECUS MENJAGA ANAK KECIL BISA-BISANYA RIO MENGGAMBARI MOBIL SAYA SEPERTI INI. NGAPAIN SAJA KAMU?" papa Rio memaki-maki si Bibi dengan suara keras.
"hiks, hiks, tangan Rio sakit, Bi..." lirih rio.
*
Lima hari kemudian, luka di tangan rio membengkak, badannya pun sudah tiga hari ini sangat panas. Si bibi sudah berulang kali bicara pada orang tua rio agar segera membawanya ke Rumah Sakit.
"beri saja parasetamol atau dikompres, paling demam biasa. Saya belum ada waktu untuk mengantar Rio ke Rumah Sakit, bi" begitu jawaban mama rio.
Papa Rio lebih parah lagi, "anak itu memang sangat manja" komentarnya, pedas.
Tepat satu minggu setelah kejadian itu, rio dilarikan ke Rumah Sakit karena sudah hampir seharian rio tak sadarkan diri.
"amputasi!"
CTTAAARR
kilatan petir bagai berlomba menghujam hati orang tua rio, saat mendengar keputusan dokter. Ternyata mereka terlambat, tangan kanan rio infeksi dan harus diamputasi. Mama rio terus menangis, membayangkan putra tunggalnya akan cacat. Dan beribu sesalpun singgah di benak papa rio. Anak yang selalu ceria, anak yang tanpa mereka sadari selalu membuat mereka bangga...aarrghhh, entah apa yang akan dikatakan rio kelak ketika dewasa, bila mengetahui kebodohan orang tuanya. entah bagaimana orangtua Rio menjelaskan semuanya pada anak itu.
sehari pasca operasi, rio sudah dipindahkan ke kamar inap. mama rio masih terus terisak saat mengamati rio yang sangat lucus aat tertidur pulas.
"kapan terakhir kali kita mengecup keningnya ya, pa?" tanya mama rio lirih pada suaminya yang sedang duduk termenung dengan tatapan kosong.
"ergghh," rio mengerang dan mulai membuka matanya, "mama, papa."
"iya, nak?" tanya mama rio yang langsung mendekatkan wajah pada Rio.
"maafin Rio ya, ma, pa. Rio janji nggak akan nakal lagi," bukannya menjawab mama rio malah menangis tersedu.
rio berusaha bangun untuk menenangkan mamanya dan..."tangan? kemana tangan rio mah? Papah kemana tangan rio?" Rio kebingungan melihat tangannya yang tinggal sebelah, "ampun pa, rio minta maaf. kembaliin tangan rio pah, nanti rio nggak bisa gambar lagi," selaput bening pun mulai luruh satu-persatu dari mata rio.
"sayang, maafin mama," mama rio menghamburkan pelukannya, "Rio sakit nak, tangan rio harus dipotong kalau nggak nanti rio nggak bisa ketemu mama sama papa lagi, nggak apa-apa ya nak. Rio jangan nangis, nanti mama ikut sedih sayang."
Tiba-tiba saja papa Rio meraih pisau buah yang ada di atas meja kecil dekat tempat tidur Rio, "Rio potong tangan papa saja nak, ayo cepat potong tangan papa. ini semua gara-gara papa. Rio boleh hukum papah nak. potong tangan papa!!!" papa Rio menangis, dari ekspresi wajahnya tampak penyesalan yang luar biasa. belum pernah Rio melihat papanya sesedih itu.
"Papa..." Rio memeluk papanya dengan satu tangan, "Rio nggak mau potong tangan papa, rio nggak mau. Rio nggak apa-apa kok tangannya dipotong, daripada Rio nggak bisa ketemu papa sama mama lagi." rio mengusap air mata papanya dengan lembut, "tapi ma, pa, rio sekarang udah nggak punya tangan kanan, apa Rio tetap anak mama sama papa?" tanya rio polos.
orang tuanya mengangguk. "kamu tetep putra papa. mario putra kebanggaan papa."
Rio tersenyum, "Rio sayaaang banget sama mama dan papa." ucap rio tulus.
Ucapan rio tadi membuat relung dada orang tuanya semakin penuh sesak dengan rasa bangga. Rio begitu berbesar hati padahal cobaan yanh diberikan Tuhan sangat berat untuk ukuran anak seusianya. Rio adalah anugrah paling luar biasa yang Tuhan titipkan pada kedua orang tua Rio.
*
Seorang pria dan wanita berdiri mengapit seorang pemuda tampan dengan senyum khasnya. Mereka berada dalam sebuah pameran. pameran tunggal, MARIO STEVANO.
Aula gedung itu kini dipenuhi guratan warna warni dari kuas yg ditorehkan oleh tangan kiri rio. Tiga belas tahun telah berlau semenjak kejadian menyedihkan itu dan pelukis terkenal, itulah rio sekarang. ia membuktikan bahwa cacat tidak bisa menghambat bakat dan impiannya. Dengan bangga kini ia berdiri tegak, diiringi pujian dan sanjungan yang selalu terlontar dari mulut pemuja lukisannya.
"ma, pah, rio mau bilang makasih. Kalo dulu papa nggak mukul tangan rio, mungkin sampai sekarang rio akan lebih suka mencoret-coret mobil dibanding menggambar di atas kanvas," ucap rio sambil tersenyum polos, senyum khas rio yang sejak kecil sudah menjadi cirinya.
Orang tua Rio pun hanya mampu mengucap syukur yang tak terbilang jumlahnya karena telah dianugrahi anak seluar biasa Rio. Mereka menatap haru pada putra mereka yang tengah menuai sukses dengan segala keterbatasannya. mereka sangat bangga, bangga pada putra mereka, rio si anak tanpa tangan kanan.
The end
***
best regard
via
***
Kemilau cahaya mentari menerobos masuk ke dalam kamar anak laki-laki itu. Sang empunya kamar tiba-tiba tersentak, ia terjaga dari mimpi-mimpi kecilnya. Segera ia bangkit dan menyibak selimut hangatnya. dijejakkan kakinya kelantai, ah masih terasa dingin ternyata. Dengan tergesa diambilnya tas sekolah doraemon di meja dekat tempat tidurnya, dikeluarkan sebuah gambar dari dalam tas itu. Sepasang kaki mungil itu langsung berlari lincah keluar kamar. entah apa yang akan dilakukan bocah lucu itu.
"ma, pa, mama, papa!!!" teriaknya menunggu sahutan.
Seorang perempuan paruh baya tergopoh-gopoh menghampirinya.
"aden, kok udah bangun?" tanya wanita yang ternyata pembantu rumah tangga, di rumah mewah itu.
"bi, mama sama papa mana?" tanya bocah itu.
"nyonya sama tuan sudah berangkat ke bandara tadi pagi-pagi sekali, den. Mereka ada rapat di luar kota." jelas si Bibi.
"yaahh, padahal aku mau nunjukin ini," rajuk anak itu kecewa, sambil mengangsurkan buku gambarnya.
"wah, bagus sekali gambarnya. dapat nilai 9 ya?" puji si Bibi saat mengamati gambar anak laki-laki itu.
"bi,aku pengen deh main ke dufan bareng mama sama papa, aku pengen makan es krim bareng mereka. Aku kangen mereka, bi," rengek anak itu dengan suara manja khas anak kecil sambil memeluk pinggang si Bibi.
si Bibi membalas pelukannya dengan mengelus rambut anak majikannya itu, "iya, nanti ya, kalo mereka sudah tidak sibuk. Aden tau kan mereka sibuk itu juga buat aden. Sekarang mandi dulu ya, kan mau sekolah."
Mario stevano, begitulah nama yang diberikan orang tuanya kepada bocah laki-laki itu. Ia baru berusia 6 tahun, tahun ini adalah tahun pertamanya di Sekolah Dasar. Rio adalah anak yang manis dan pintar, ia ramah dan penyayang. Celoteh dan tingkahnya selalu membuat orang lain, gemas. Rio anak yang baik, tidak pernah rewel meski sering ditinggal orang tuanya bekerja. Tapi bagaimanapun Rio hanya seorang anak kecil yang kadang merindukan saat-saat bersama orang tuanya, ia juga ingin rapor sekolahnya diambil oleh orang tuanya, seperti teman-teman yang lain. ia ingin orang tuanya yang merawatnya saat sakit, ia juga sangat ingin merayakan ulamg tahun bersama mama-papanya, bukan hanya kue ulang tahun bertingkat atau kado-kado yang menggunung, bukan... bukan itu yang rio harapkan.
*
"mama, besok mama dateng ya ke sekolah rio, sekolah rio mau ngadain acara peringatan hari ibu," pinta rio sambil bersandar manja di bahu mamanya. Kebetulan hari itu mamanya sedang berada di rumah.
"mama nggak bisa rio, besok mama ada kerjaan."
selalu begitu, rio hafal betul, kata-kata itu. Karena memang selalu kata-kata itulah yang terlontar saat rio meminta mama atau papanya menemaninya, entah untuk sekedar main ,mengajari membuat PR ataupun datang ke acara sekolah rio.
"tapi besok Rio nyanyi lho, ma. Mama nggak pengen lihat?"
"sama bibi aja ya, sayang."
"Rio maunya sama mama" rengek rio.
"ya udah, besok mama usahain ya. Udah sana main lagi!"
mama rio kembali berkutat dengan laptop, pena dan kertas-kertasnya. Rio pun menurut, bocah itu keluar dengan senyum manis mengembang di wajah lucunya, mengingat mamanya akan hadir di sekolahnya, besok. Setelah beberapa langkah, rio berbalik, ia berlari kecil ke arah mamanya, lalu dengan tangan-tangan kecilnya dipeluk mama tercintanya itu.
"I LOVE YOU, MOM," ucap Rio tulus dengan bahasa inggris khas anak SD.
Mama Rio tersenyum kecil, kemudian dielusnya rambut rio dengan lembut.
*
kubuka album biru penuh debu dan usang kupandangi semua gambar diri kecil, bersih belum ternoda
fikirku pun melayang dahulu penuh kasih teringat semua cerita orang tentag riwayatku
nada-nada yang indah s'lalu terurai darinya tangisan nakal dari bibirku takkan jadi deritanya
suara rio mengalun memenuhi ruangan itu. memang belum terdengar merdu, tapi cukup untuk membuat orang terharu karena lagu itu terlantun dari bibir kecil dengan segenap ketulusan. Dentingan piano dan barisan lilin di belakang rio, membawa semua orang larut dalam bayangan sosok seorang ibu.
Tangan halus dan lembut t'lah mengangkat tubuh ini, jiwa raga dan seluruh hidup rela dia berikan
"lagu ini, buat mama Rio tercinta," ucap rio di sela-sela jeda lagunya.
Kata mereka diriku slalu ditimang kata mereka diriku slalu dimanja...
sejak awal rio berdiri di panggung, sudah berkali-kali ia menatap barisan penonton di hadapannya, berharap menemukan sosok mamanya berdiri dan tersenyum kepadanya. Tapi hingga detik ini, Rio tidak juga melihat mamanya disudut manapun diruangan ini.
Oh, bunda ada dan tiada dirimu kan selalu, ada di...
Rio sudah hampir menyelesaikan penampilan bernyanyinya. lagu yang ia nyanyikan akan segera berakhir, mungkin sama dengan harapan rio atas kedatangan mama ataupun papanya, semuanya sudah hampir kandas. Terakhir kali, matanya menyapu setiap sisi ruangan itu, tapi hasilnya tetap nihil. Ia menarik nafas sejenak dan meneruskan nyanyiannya tadi.
Ada didalam hatikuuu...
Prok-prok-prok suara tepuk tangan penonton menutup penampilan rio.
"t'limakasih" rio tersenyum dan membungkuk.
Rio turun dari panggung diiringi tatapan kagum para orang tua murid yang hadir.
mama nggak datang, mama bohongin Rio, batin rio kecewa.
Tapi rio tidak menangis seperti layaknya anak kecil lain, tidak ada setitik pun airmata yang terpeta di wajah lucunya, ia terus tersenyum. Senyum tulus yang selalu disuguhkan pada siapapun yang ia temui.
*
malam telah begitu larut, gelap dan sunyi. Hanya deritan jangkrik yang masih terdengar meraung di tengah kebisuan malam, tapi rio belum juga terlelap masih asyik bermain dengan puzzle-puzzlenya.
"ayo den, sudah malam,aden bobo yuk!" bujuk si bibi.
"Rio pengen nunggu mama sama papa pulang, Bi" rio menolak.
Tak berapa lama deru mobil terdengar memasuki halaman rumah rio, rio segera membukakan pintu.
"mama, papa" sapa rio, bersemangat.
"rio kok, belum bobo?" tanya Mamanya.
"Rio mau kasih liat ini ma, pa. Lihat Rio dapet nilai MTK 100. Nilai Rio paling tinggi lho," rio bangga, sambil menyodorkan selembar kertas dengan tulisan khas anak TK dan angka 100 tertulis di sudut kanan atasnya. Tapi mama ataupun papanya tidak ada yang berminat untuk sekedar mengulurkan tangan dan meraih kertas yang disodorkan rio itu.
"iya, nanti papa beliin hadiah ya," balas papa rio sambil lalu.
Sedikit kecewa, tapi rio tidak menyerah. Ia berlari kecil, lalu menarik tangan mama dan papanya. "Rio punya kejutan. ayo ma, pa, lihat!"
"rio, mama sama papa capek, besok aja ya," ujar sang mama.
Rio tetap menarik tangan kedua orang tuanya ke arah bagasi. Di sana tertengger dengan anggun sebuah mobil berwarna hitam mengkilap, mobil itu keluaran terbaru, harganya tentu sangat mahal. mobil itu baru tiba sore tadi di rumah rio.
"lihat ni, mobil papa rio gambarin, supaya kalo mama sama papa pergi kerja, mama sama papa selalu ingat rio. kata bu guru gambar rio bagus," rio menunjukkan gambar di atas mobil baru papanya itu.
Ia menggambari mobil itu dengan paku. alhasil mobil mewah itu menjadi korban kepolosan rio. Mobil itu dipenuhi coretan crayon dan lecet-lecet akibat goresan paku.
"ini mama," rio menunjuk satu gambar dari tiga gambar yang ada, "ini papa dan yang kecil ini-"
tiba-tiba papa rio menarik tangan kanan rio, mengambil gagang sapu terdekat dan....
Plak-plak-plak.
Tangan kecil itu dipukuli sejadi-jadinya.
"bandel kamu, bandel. Siapa yang suruh coret-coret mobil papa, bandel!!!" seru papa rio marah, mungkin karena sangat lelah dan emosi, ia jadi begitu tega berbuat seperti itu pada putra semata wayangnya.
"ampun pa, ampun...ampun pa," rio menangis terisak-isak, tangan kanannya sudah merah berdarah.
"sudah pa, sudah. kasian ri,o" mama rio mencoba menenangkan suaminya yang tengah dikuasai amarah.
"sudah tuan, kasian den rio," si bibi datang dan langsung memeluk tubuh rio.
"BAWA DIA, DASAR ANAK NAKAL! KAMU JUGA TIDAK BECUS MENJAGA ANAK KECIL BISA-BISANYA RIO MENGGAMBARI MOBIL SAYA SEPERTI INI. NGAPAIN SAJA KAMU?" papa Rio memaki-maki si Bibi dengan suara keras.
"hiks, hiks, tangan Rio sakit, Bi..." lirih rio.
*
Lima hari kemudian, luka di tangan rio membengkak, badannya pun sudah tiga hari ini sangat panas. Si bibi sudah berulang kali bicara pada orang tua rio agar segera membawanya ke Rumah Sakit.
"beri saja parasetamol atau dikompres, paling demam biasa. Saya belum ada waktu untuk mengantar Rio ke Rumah Sakit, bi" begitu jawaban mama rio.
Papa Rio lebih parah lagi, "anak itu memang sangat manja" komentarnya, pedas.
Tepat satu minggu setelah kejadian itu, rio dilarikan ke Rumah Sakit karena sudah hampir seharian rio tak sadarkan diri.
"amputasi!"
CTTAAARR
kilatan petir bagai berlomba menghujam hati orang tua rio, saat mendengar keputusan dokter. Ternyata mereka terlambat, tangan kanan rio infeksi dan harus diamputasi. Mama rio terus menangis, membayangkan putra tunggalnya akan cacat. Dan beribu sesalpun singgah di benak papa rio. Anak yang selalu ceria, anak yang tanpa mereka sadari selalu membuat mereka bangga...aarrghhh, entah apa yang akan dikatakan rio kelak ketika dewasa, bila mengetahui kebodohan orang tuanya. entah bagaimana orangtua Rio menjelaskan semuanya pada anak itu.
sehari pasca operasi, rio sudah dipindahkan ke kamar inap. mama rio masih terus terisak saat mengamati rio yang sangat lucus aat tertidur pulas.
"kapan terakhir kali kita mengecup keningnya ya, pa?" tanya mama rio lirih pada suaminya yang sedang duduk termenung dengan tatapan kosong.
"ergghh," rio mengerang dan mulai membuka matanya, "mama, papa."
"iya, nak?" tanya mama rio yang langsung mendekatkan wajah pada Rio.
"maafin Rio ya, ma, pa. Rio janji nggak akan nakal lagi," bukannya menjawab mama rio malah menangis tersedu.
rio berusaha bangun untuk menenangkan mamanya dan..."tangan? kemana tangan rio mah? Papah kemana tangan rio?" Rio kebingungan melihat tangannya yang tinggal sebelah, "ampun pa, rio minta maaf. kembaliin tangan rio pah, nanti rio nggak bisa gambar lagi," selaput bening pun mulai luruh satu-persatu dari mata rio.
"sayang, maafin mama," mama rio menghamburkan pelukannya, "Rio sakit nak, tangan rio harus dipotong kalau nggak nanti rio nggak bisa ketemu mama sama papa lagi, nggak apa-apa ya nak. Rio jangan nangis, nanti mama ikut sedih sayang."
Tiba-tiba saja papa Rio meraih pisau buah yang ada di atas meja kecil dekat tempat tidur Rio, "Rio potong tangan papa saja nak, ayo cepat potong tangan papa. ini semua gara-gara papa. Rio boleh hukum papah nak. potong tangan papa!!!" papa Rio menangis, dari ekspresi wajahnya tampak penyesalan yang luar biasa. belum pernah Rio melihat papanya sesedih itu.
"Papa..." Rio memeluk papanya dengan satu tangan, "Rio nggak mau potong tangan papa, rio nggak mau. Rio nggak apa-apa kok tangannya dipotong, daripada Rio nggak bisa ketemu papa sama mama lagi." rio mengusap air mata papanya dengan lembut, "tapi ma, pa, rio sekarang udah nggak punya tangan kanan, apa Rio tetap anak mama sama papa?" tanya rio polos.
orang tuanya mengangguk. "kamu tetep putra papa. mario putra kebanggaan papa."
Rio tersenyum, "Rio sayaaang banget sama mama dan papa." ucap rio tulus.
Ucapan rio tadi membuat relung dada orang tuanya semakin penuh sesak dengan rasa bangga. Rio begitu berbesar hati padahal cobaan yanh diberikan Tuhan sangat berat untuk ukuran anak seusianya. Rio adalah anugrah paling luar biasa yang Tuhan titipkan pada kedua orang tua Rio.
*
Seorang pria dan wanita berdiri mengapit seorang pemuda tampan dengan senyum khasnya. Mereka berada dalam sebuah pameran. pameran tunggal, MARIO STEVANO.
Aula gedung itu kini dipenuhi guratan warna warni dari kuas yg ditorehkan oleh tangan kiri rio. Tiga belas tahun telah berlau semenjak kejadian menyedihkan itu dan pelukis terkenal, itulah rio sekarang. ia membuktikan bahwa cacat tidak bisa menghambat bakat dan impiannya. Dengan bangga kini ia berdiri tegak, diiringi pujian dan sanjungan yang selalu terlontar dari mulut pemuja lukisannya.
"ma, pah, rio mau bilang makasih. Kalo dulu papa nggak mukul tangan rio, mungkin sampai sekarang rio akan lebih suka mencoret-coret mobil dibanding menggambar di atas kanvas," ucap rio sambil tersenyum polos, senyum khas rio yang sejak kecil sudah menjadi cirinya.
Orang tua Rio pun hanya mampu mengucap syukur yang tak terbilang jumlahnya karena telah dianugrahi anak seluar biasa Rio. Mereka menatap haru pada putra mereka yang tengah menuai sukses dengan segala keterbatasannya. mereka sangat bangga, bangga pada putra mereka, rio si anak tanpa tangan kanan.
The end
***
best regard
via
Label:
Cerpen
