Lihatlah mendung, fahami bagaimana caranya merindu hujan
Begitu indah dalam panggilan-panggilan yang manis
Untuk yang dirindu, dibiarkan diri tergelapi
Dibiarkan diri dirutuki penduduk bumi
Ah, mendung lagi mendung lagi
Pernahkah ia tahu bahwa hujan yang dirindukan justru akan membinasakan?
Pernahkah ia mengerti bahwa hujan yang akan membawanya pada ketiadaan lantas menari dengan pelangi pada akhirnya?
Tak tahukah mendung akan hal itu?
Tentu!
Tentu saja mendung tahu, lantas mengapa ia masih bertahan dalam kerinduan pada hujan yang menyakitkan?
Lihatlah lebah dan fahami usahanya mencapai bunga
Begitu gigih dalam pengharapan yang tulus
Direlakan diri terbang jauh
Bahkan ke tempat-tempat tak terduga
Asing
Hingga sayapnya melemah didera angin
Akankah ia kecewa jika bunga yang dituju mungkin tak bermadu
Akankah ia berhenti saat tahu bunganya dikelilingi belukar berduri
Tidakkah ada yang memberitahu lebah tentang hal ini?
Ada!
Tentu saja ada, lantas mengapa lebah masih dalam usahanya untuk bunga yang tak pasti?
Dan terakhir
Lihatlah bintang, fahami penantiannya pada pagi
Begitu manis dalam setia yang indah
Biar sekitarnya gelap
Biar ia sendiri diejek malam
Biar yang lain meragu pada sinarnya
Tetap dinanti pagi hingga redup terangnya diri
Pernahkah bintang tahu bahwa pagi akan datang hanya jika ia pergi
Pernahkah bintang tahu penghuni langit mengingini pagi dengan mentari
Tak mengertikah bintang tentang hal ini?
Mengerti!
Tentu saja mengerti, lantas mengapa bintang masih setia pada pagi yang melukai?
Mendung, lebah, bintang…
Ada apa dengan mereka?
Tidakkah merasa perbuatannya sia-sia?
Buang-buang waktu saja
Ada apa dengan mereka?
Tidak pernah ada yang tahu jawabannya
Tapi…
Coba lihat apa yang ingin mereka ajarkan
Merindu dengan rindu terdalam
Berusaha dengan usaha terhebat
Setia dalam kesetiaan terbaik
Bisakah kita seperti mereka?
Bisakah kita?
best regard
via
Senin, 30 Desember 2013
Sabtu, 02 November 2013
Bulan Bintang
Aku adalah yang sedang dalam perjalanan pulang
Dari petang menuju pagi yang terang
Matahari mulai berujar selamat tinggal
Semua jadi senyap, tersaru pekatnya gelap
Sambil terus merapal doa
Kuambil langkah yang pertama
Sepanjang perjalanan
Aku bertemu kerikil dan duri-duri
Bersua kubangan, tanjakan dan tajamnya tikungan
Ah Pagi, untuk bersamamu ternyata tidak mudah
Seringkali aku merasa lelah
Bahkan untuk sekedar maju satu langkah
Saat benar-benar takut dan putus asa
Di langit sana bermunculan titik-titik pembawa cahaya
Aku mengenalinya, orang-orang menyebutnya bintang
mereka berkedip nakal, manis sekali benda langit itu
Bintang mengenalkanku pada kawan karibnya
Namanya bulan
Pemilik sinar mengagumkan
Tidak ada penghuni malam yang lebih cantik dari bulan
Aku menyukai keduanya, bulan serta bintang
Mereka akan jadi kawan perjalananku menjemput Pagi
Aku terus berjalan
Menyusuri malam yang lebih suka terdiam
Tidak pernah ramah
Malam yang selalu dingin dan basah
Aku tidak akan kalah oleh keadaan ataupun gelapnya malam
Bulan dan Bintang telah memberikan cahaya terbaiknya
Mengiringiku, menemani menjadi pelipur sedih dan gusarku
Aku tidak ingin berhenti
Dan lihat! sekarang aku disini
Aku sampai pada tujuanku
Menemui pagi yang selalu kusukai
Pagi yang tak pernah alpa kukagumi
Dan untuk Pagi, aku membawakanmu bingkisan
Buah tangan dari perjalananku tadi malam
Sebuah pesan yang tak boleh terlupakan
Berterimakasihlah pada mereka
Bulan dan bintang...
Tanpa mereka, aku tidak akan sampai disini
tidak akan pernah sampai padamu, Pagi
Berterimakasihlah pada mereka
Bulan dan Bintang
Mereka…
Aku memanggilnya orang tua
Aku mencintai keduanya
Mereka teman dan pelindung paling setia
Tanpa mereka, kita tidak akan pernah berjumpa
Dari petang menuju pagi yang terang
Matahari mulai berujar selamat tinggal
Semua jadi senyap, tersaru pekatnya gelap
Sambil terus merapal doa
Kuambil langkah yang pertama
Sepanjang perjalanan
Aku bertemu kerikil dan duri-duri
Bersua kubangan, tanjakan dan tajamnya tikungan
Ah Pagi, untuk bersamamu ternyata tidak mudah
Seringkali aku merasa lelah
Bahkan untuk sekedar maju satu langkah
Saat benar-benar takut dan putus asa
Di langit sana bermunculan titik-titik pembawa cahaya
Aku mengenalinya, orang-orang menyebutnya bintang
mereka berkedip nakal, manis sekali benda langit itu
Bintang mengenalkanku pada kawan karibnya
Namanya bulan
Pemilik sinar mengagumkan
Tidak ada penghuni malam yang lebih cantik dari bulan
Aku menyukai keduanya, bulan serta bintang
Mereka akan jadi kawan perjalananku menjemput Pagi
Aku terus berjalan
Menyusuri malam yang lebih suka terdiam
Tidak pernah ramah
Malam yang selalu dingin dan basah
Aku tidak akan kalah oleh keadaan ataupun gelapnya malam
Bulan dan Bintang telah memberikan cahaya terbaiknya
Mengiringiku, menemani menjadi pelipur sedih dan gusarku
Aku tidak ingin berhenti
Dan lihat! sekarang aku disini
Aku sampai pada tujuanku
Menemui pagi yang selalu kusukai
Pagi yang tak pernah alpa kukagumi
Dan untuk Pagi, aku membawakanmu bingkisan
Buah tangan dari perjalananku tadi malam
Sebuah pesan yang tak boleh terlupakan
Berterimakasihlah pada mereka
Bulan dan bintang...
Tanpa mereka, aku tidak akan sampai disini
tidak akan pernah sampai padamu, Pagi
Berterimakasihlah pada mereka
Bulan dan Bintang
Mereka…
Aku memanggilnya orang tua
Aku mencintai keduanya
Mereka teman dan pelindung paling setia
Tanpa mereka, kita tidak akan pernah berjumpa
Label:
Random
