Tampilkan postingan dengan label Cerpen. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Cerpen. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 12 Maret 2011

Kesempatan Keempat (cerpen)

Dua orang cowok tampan dengan postur tinggi tegap berjalan menyusuri koridor sekolah yang masih sepi. Mereka sesekali bercanda dan tersenyum ramah pada teman-teman mereka.

XI IPA 2

begitu nama yg tertera didepan sebuah kelas, kedua cowok tadi langsung masuk menerobos kelas bersama cerca cahaya mentari yg langsung jatuh dideretan kursi paling belakang.

Kelas ini, masih sepi, hanya ada beberapa siswa didalamnya, bahkan petugas piket hari ini pun sepertinya belum datang karena papan tulis pun masih penuh coretan sisa pelajaran kemarin.

"lho,vi,kamu kenapa?" tanya salah satu cowok tadi,pada sivia

"elo,liat aja keluar" jawab ify,gadis berbehel yg duduk disebelah sivia.

Ify masih mengelus-elus punggung sivia,mencoba menenangkan via,agar berhenti menangis.

Kedua cowok tadi pun berbegas keluar,saat mereka keluar kelas,keduanya langsung menangkap pemandangan tak mengenakkan.

"keterlaluan banget sih dia" geram,salah satu dari mereka.

Keduanya lalu kembali ke dalam kelas,meletakkan tas mereka,dibangku pojok barisan kedua dari pintu.

"udah liat?? Begitu tu kelakuan sahabat lo berdua. Vin,yel.. Nasehatin kek. Lo berdua gak kasian apa sama via?" desak ify kepada kedua cowok,yang akrab disapa iel dan alvin,tadi.

"mulut kita udah sampe keriting fy,nasehatin dia" jawab alvin.

"tu elo denger sendiri kan vi? Udah deh putusin aja sih, ngelunjak tau, dia tuh"  kata ify emosi.

Via hanya menggeleng keras, tanda menolak usul ify tadi. Air matanya kembali terurai membasahi tissue yang sejak tadi, ia gulung-gulung ditangannya

 "yaudah,kita coba ngomong lagi deh ya,sama dia. Kamu jangan nangis dong" bujuk iel.

Keduanya lalu melangkah pasti ke arah lapang basket.

"Rio" panggil alvin.

Saat itu seorang gadis cantik sedang mengelap keringat rio dengan sapu tangannya. Sejak tadi rio dan gadis itu tampak mesra,rio merangkul gadis itu seolah-olah sedang mengajari gadis itu bermain basket.

"ekh,elo vin,yel." sapa rio

"emm,yaudah deh,acha duluan ya kak" pamit gadis cantik tadi.

"oh iya,daah cantik" balas rio.

"itu raissa kan? Murid baru pindahan dari aussie?" Tanya Iel.

"pantesan langsung populer,cantik ya?" puji alvin,rio mengangguk setuju.

"lo ngapain pagi-pagi udah berduaan sama dia" tanya iel sinis.

"ya,dia kan,minta ajarin maen basket,ya gw ajarin,emang salah??" jawab rio kalem.

"SALAH YO,SALAH. Kenapa sih yo,lo gak mikirin sedikit aja perasaannya via,dia sedih yo liat lo sama cewek lain tadi" bentak iel.

"lho,kenapa via mesti sedih,gw kan gak ngapa-ngapain sama acha" jawab rio masih dengan gaya coolnya.

"lo keterlaluan banget sih,kalian tu udah 2 tahun pacaran,tapi elo gak pernah berubah,mau lo apa sih?"

"lo gak usah nyeramahin gw gitu deh,yel"

"apa lo bilang??" iel sudah siap melayangkan tinjunya.

"WEISST,STOP,KAWAN. Kita ini sobatan ,jangan pake emosi donk ,kita omongin baik-baik" kata alvin menengahi.

"yel gw tau ya, lo masih terobsesi sama via,tapi gak usah sok deh lo, nyeramahin gue. Dan inget ya, jangan pernah berharap lo bisa rebut via dari gw" gertak rio

"oya ?? oke. Kita liat aja nanti, terus pertahanin sifat buruk lo ini,yo. Dan gw bakal dengn mudah rebut sivia dari lo" ancam iel lalu pergi.

"akh,SHIT" umpat rio.

"sivia liat lo sama acha dan dia nangis. Elo minta maaf sana" suruh alvin.

"oh,yaudah ntar gw minta maaf"

"minta maaf sekarang yo, ikutin saran gw kalo lo masih nganggep gw sobat lo"

"iya,iya. Akh,kenapa sih jadi pada bawel banget" gerutu iel.


***

sivia masih asik menatap layar ponselnya, matanya tak mau beralih dari sana. Sebuah foto, ia dengan gaun putih dan sebuah mahkota kecil tertengger anggun di puncak kepalanya, bersanding dengan cowok tampan berjas hitam, layaknya pangeran yang datang dari negeri dongeng.

Foto itu diambil saat perayaan ulang tahun via yang ke 14, 2 tahun lalu. Saat itu ,rio dan via baru saja seminggu jadian. Kini hubungan mereka telah berjalan 2 tahun, tapi selama itu, sivia lebih sering merasa sedih dari pada bahagia, lebih sering menelan kekecewaan, lebih sering mengalah, tapi semua telah terlanjur. Ia terlanjur menyerahkan hatinya sepenuhnya pada pria itu,pria tampan dengan senyum yang khas, RIO. Hingga kini ,sulit untuknya pergi dan mengakhiri semuanya. Tanpa terasa 2 butiran bening jatuh dari bola matanya, ia mengusap foto rio yang terpampang menjadi wallpaper di ponselnya.

"via" panggil rio,via buru-buru menghapus air matanya dan langsung menoleh.

"ek,iya,kenapa yo??"

"harusnya aku yang tanya, kamu kenapa?" rio lalu duduk di samping via

"aku gak ppapa kok" jawab via, rio melirik ponsel via.

"itu foto kita ya vi?" Via mengangguk.

"masih disimpan aja,vi. Hhehe" rio terkekeh.

"Aku kangen sama kamu, yo" ujar via pelan, bahkan mungkin rio yang berada disebelahnya pun tidak mendengar.

"maafin aku ya vi.aku gak tau kalo kamu gak suka aku deket-deket sama acha. Kamu mau kan maafin aku"

"maaf aku gak akan pernah abis yo buat kamu" ujar via mantap, padahal pada kenyataannya maaf dan sabarnya sudah mencapai batas maksimum, ia keluarkan untuk rio.

"makasih ya,cantik" gombal rio, via menyendarkan kepalanya dipundak rio. Dan dengan begini saja, ia sudah sangat bahagia, kesalahan yang rio lakukan semuanya terhapus dan termaafkan.

***

via sedang besenandung kecil,sambil berguling-guling mengitari kasurnya. Ia memeluk boneka kelinci lucu pemberian rio.

Tak berapa lama, ponselnya bergetar.

Drrt.drrt.drrt

1 new message

from : iel 'gabriel'

woii, bakpau jalan yuk :-P
udah lama gak jalan.

via dengan cepat segera menulis beberapa kata untuk membalas pesan dari gabriel tadi.

To : iel 'gabriel'

sipp, gw juga gak ada acara sama rio.
Jemput Jam 7 ya, jangan ngaret.

From : iel 'gabriel'

sipp tuan putri,gw langsung OTW.

Pukul 7 lewat 5 menit,klakson motor iel terdengar. Via pun segera keluar rumah, setelah berpamitan kepada orang tuanya.

"telat 5 menit,hukumannya traktir gw es krim" Kata via sambil melipat kedua tangannya di dada.

"iya,iya, gw traktir deh, sampe menggigil kalo perlu." sahut iel.

Akhirnya mereka berdua pergi berjalan-jalan. Mereka sepakat, tempat yang akan dikunjungi pertama kali adalah tempat makan jagung bakar. Lalu nonton, maen timezone dan terakhir disini, cafe aluna.

"widih orang pacaran semua yel. Lo ngapain ngajak gw kesini" protes via.

Cafe ini memang sangat cocok untuk sepasang kekasih ,cafe ini mengambil konsep back to nature dengan gemericik aliran sungai buatan, barisan obor-obor kecil, dan tanaman-tanaman merambat yang tumbuh indah, membaur dengan rumputnya yang tumbuh rapi. Sungguh sangaaatt indah dan romantis. Tapi saat memasuki cafe, mata via langsung berkaca-kaca.

"lho,kok nangis sih vi ,kamu gak suka tempatnya? Yaudah kita pulang aja ya" Kata iel lembut.

Tapi sivia sama sekali tak beranjak, ia tetap menatap lurus ke depan, iel ikut memandang ke arah yang dilihat via.

Sejenak ia merutuki kebodohannya mengajak via,kesini. Dengan emosi yang memuncak ,iel segera menghampiri rio yang tengah duduk dengan seorang gadis yang wajahnya sering kali bolak-balik menghiasi cover-cover majalah remaja, seorang model cantik, Dea Amanda.

BRAKK

"brengsek lo"

BUGG

iel memukul rio tepat di perutnya,hingga ia jatuh tersungkur.

"hei,apa-apaan sih lo" jerit dea.

"DIEM LO,gw gak ada urusan sama lo."

"lo apaan sih,yel??" tanya rio.

"elo masih nanya? Gila ya,lo tu cowok apa bukan sih? Dulu shilla, nova, zeva, agni, acha dan sekarang cewek ini ,otak lo dimana sih,yo? gak mikirin perasaan via banget sih lo?"

"heh,lo gak bisa dong nyalahin gw, toh elo berdua juga jalan dibelakang gw" bela rio.

"tapi kamu kan tau iel itu sahabat aku, dan kenapa juga kamu mesti bohong, Yo. Kamu bilang mau nganterin mama kamu check up??" ucap via, lirih.

"ya, aku sama dea juga cuma temen" sergah rio.

"alah,udah lah vi. Gak ada untungnya ngomong sama dia" rio lalu menarik via,mengajaknya meninggalkan cafe itu.

"rio gak pa-pa?" tanya dea,ketika iel dan via sudah menghilang dibalik remang malam.

"gak pa-pa de,maap ya jadi kayak gini"

"iya gak pa-pa kok, kayaknya cewek kamu salah faham ya" dea tersenyum manis,rio hanya membalasnya dengan anggukan kecil.


***


2 minggu berlalu sejak kejadian itu, rio sama sekali tidak mencoba meminta maaf pada via. Disekolah pun mereka tidak saling bertegur sapa. Rio masik asik dgn kebiasaan buruknya, tebar pesona ke setiap gadis. Sedangkan via masih tenggelam dalam sakit dan kecewanya. Keduanya tidak ada yang mau nencoba memperbaiki hubungan mereka, membiarkan hubungan itu menggantung tanpa kepastian.

"lo sama via gimana yo?" tanya alvin saat kedua tengah duduk bersama menikmati jam kosong dikantin.

"gimana apanya?" tanya rio santai

"lo udah coba minta maaf?"

"udah, tapi gak direspon, yaudah, gw biarin aja. Dia lagi butuh waktu buat sendiri kali"

"lo tu kayaknya main-main banget sih sama via, kan kasian via ,yo. Sebenernya lo tu sayang gak sih sama dia?"

"sayang lah, kalo gak sayang, ngapain juga gw jadiin cewek gw" jwb rio santai.

"yaudah minta maaf dong yo, in ikan salah lo" desak alvin.

"udah akh,nanti aja"

"terserah lo deh,semoga via masih sabar nunggu lo, dan nggak berbalik ninggalin lo." sindir alvin.

"uhuk.uhuk.uhuk" rio tersedak mendengar perkataan alvin tadi.

Alvin benar, bagaimana kalo via meninggalkannya, bagaimana bila nanti via pergi darinya.
Rio sungguh tak mengerti, apa yang sebernya ia rasakan pada via?
Sejauh apa ia membutuhkan via?
Dan bisakah ia, tanpa via?


"emmh,yaudah deh vin,gw pinjem hp lo."

"nih" alvin mengangsurkan ponselnya.

Rio lalu memencet beberapa nomor yg sudah ia hapal diluar kepala.
Selama 2 tahun terakhir ini, nomer itu yang selalu mengingatkannya untuk belajar, untuk makan, mengucapkan selamat tidur untuknya. Rio tertegun kembali.

"woii,bengong lagi lo" sentak alvin.

"hhehe" rio nyengir.


Klik


rio menekan tombol warna hijau disudut kiri atas ponsel alvin.

"Halo,vin" sapa seorang gadis diujung sana.

"halo via. Ini aku rio"

"oh,mmh. Kamu yo,ada apa yo??"

"mmh,vi pulang sekolah,aku tunggu di taman ya,bisa kan??"

"emang ada apa yo? Aku ada ekskull"

"pengen ngobrol aja. Yaudah gak pa-pa kok aku tunggu deh."

"oke,kalo gitu"

"sampe nanti, vi"

"iya, Yo."



tut-tut-tut



sambungan telepon pun terputus. Rio mengulas senyum.

"nih vin. Thanks ya"

"udah kelar?"

"nanti,gw mau ngobrol dulu sama via."

"ohh oke. Sipp. Baek, baek lo mulai sekarang, sama via" pesan alvin. Rio mengangguk. Keduanya lalu meneruskan menyantap makanan pesanan masing-masing. Rio juga akhirnya merasa lega, karena bisa bicara lagi dengan via. Kalo mau jujur,rio sangat merindukan sivia.

***

bel sekolah sudah 2 jam yang lalu berbunyi, rio masih menunggu via ditaman sekolah. Jemarinya sibuk menekan-nekan tombol ponselnya, ntah sedang apa??

"haii yo,lama ya?" sapa via sambil tersenyum.

"ekh via,gak pa-pa kok" balas rio.

"ada apa yo?"

"mmh,aku mau ngasih ini" rio menyerahkan sebuah kotak musik berbentuk love, dengan warna coklat tua. Saat sivia membukanya, mengalun suara lembut rio dari dalam kotak musik tadi, seorang peri kecil juga terlihat menari berputar ditengah-tengahnya, sangat indah...

Kau seperti nyanyian dalam hatiku yang memanggil, rinduku, padamu..
Kau seperti udara yg ku hela kau selalu ada..
Hanya dirimu yang bisa membuatku tenang,
tanpa dirimu, aku merasa hilang, dan sepi..

dan sepi..

dan seeppiii...


Via tersenyum.

"suka gak??" via mengangguk.

"makasih ya"

"aku kangen vi sama kamu, maafin aku ya buat yg kemaren. Aku gak mau diem-dieman kayak gini,l agian kalo kamu nya ngambek ,lusa aku ke prom nite sama siapa? Maafin rio ya cantik."

via terdiam, sejujurnya maaf darinya akan selalu ada untuk rio. Tapi ia sudah cukup kecewa dengan rio,berulang kali via melapangkan hatinya,berulang kali pula rio mengecewakannya.

"vi,via.. Kok diem sih? Rio dimaafin gak nih?" tanya rio sambil tersenyum. Senyum yg selalu bisa meluluhkan via, membuatnya meleleh seketika.

"hah,ekh iya,emmh,aku..aku maafin rio kok"

selalu begini, via selalu saja yang kalah, pertahanan dihatinya selalu berhasil ditembus rio hanya dengan senyumnya.

"kita baikan ya" rio mengacungkan jari kelingkingnya, yang langsung disambut tautan kelingking via.

"vi, rio ke toilet dulu ya, abis itu rio anter pulang" pamit rio,via mengangguk. Rio pun segera pergi,dengan sedikit berlari. Tanpa rio sadari ponselnya tertinggal ditaman.

Drrt.drrt.drrt.

Ponsel rio bergetar, menampilkan ikon amplop lengkap dengan sebuah nama.

Via meraih ponsel itu, mengamati nama yang tertera dilayarnya. Hatinya berdesir, sebagai pacarnya, via merasa berhak untuk membuka pesan tadi. Perlahan ia menekan tombol open, otomatis pesan terbuka.

From : Ashilla

yaudah, ati-ati ya, love you too.

Senyum dibibir sivia yg tadi sedikit merekah, kini kembali memudar karena kata-kata 'love you too' tadi.

Belum sempat via membenahi hatinya yang sedih, kini seorang gadis manis dengan rambut indah bergelombang ,berlari kecil ke arahnya.

"hai kak via" sapanya.

"oh, haii juga..mmh??"

"acha kak, nama aku acha. Ekh kak, kata kak rio kakak itu sahabatnya kan rio ya? Aku mau titip ini dong." acha mengangsurkan sebuah kotak berbungkus kado pink cerah, yang sejak tadi ia pegang.

Belum sempat via menjelaskan apa sebenarnya statusnya dengan rio, acha sudah kembali berbicara. "mmh, bilangin ya kak, salam sayang dari acha" acha tersipu lalu segera berlari dengan pipi yg merah merona.

Via menatap bungkusan kardus ditangannya.

"aarghh"

via melempar kado itu dengan kasar, lalu mengijak-injaknya, hingga tak berbentuk.

Ia kemudian terduduk, kedua tangannya menutup wajahnya yg tengah dibanjiri air mata.

"lho via, kok kamu nangis??" tanya rio yang sudah duduk manis disebelah rio.

"aku mau pulang, yo"

"tapi kamu kenapa?"

"aku mau pulang,rio. SEKARANG !!"

"ia, iya, ya udah ayo pulang" via menghapus air mata via dan menggandengnya ke arah parkiran.

***

"kamu cantik via" puji rio.

Malam ini adalah malam yg ditunggu-tunggu oleh seluruh siswa dan malam ini juga malam yang via pilih untuk menegaskan hubungannya dgn rio. PROM NITE.

Via malam itu memang terlihat sangat cantik dengan short dress berwarna gold dengan jahitan dibuat menggelembung dibagian bawah, pita berwarna senada ia pasang pada rambutnya yang diikat terurai dipundak sebelah kirinya.

Rio yang terlihat tampan setiap hari, malam ini jauh terlihat lebih tampan dengan kemeja coklat panjang yg ia gulung hingga ke siku dipadukan, jeans hitam.

Keduanya lalu bergandengan memasuki ruang pesta. Seperti yang telah mereka duga, ruang pesta malam ini sudah penuh dengan pasangan-pasangan yg terlihat tengah berdansa dibawah  gemerlap lampu pesta.

Setelah melewati sekitar 2 jam di pesta itu, via mengajak rio menjauh dari hingar bingar pesta, ke tempat yang tidak begitu ramai. Ia juga mengajak iel turut bersamanya.

"mmh, hari ini aku mau ngomong sesuatu Yo, sesuatu yg harusnya bisa aku ungkapin dari dulu" ucap via tanpa ragu, tatapan matanya pasti. Ia sudah memikirkan ini berulang kali, memikirkan keputusan ini jauh-jauh hari.

"yo, kita udah jadian lama. Kita juga sempet putus, sebelum akhirnya nyambung lagi. Dan itu bukan cuma sekali yo, kita udah coba perbaikin hubungan kita berulang kali, dan, dan...daaann ini saatnya aku berhenti yo, aku mau nyerah,semua kesempatan yang aku kasih, selalu kamu sia-siain"

Degg

rio mulai mengerti kemana arah pembicaraan via dan tiba-tiba saja rasa takut bercampur sesal, mengendap dihatinya.

"mungkin kita akan lebih cocok jadi temen yo. Aku butuh orang yg juga bisa tulus sayang sama aku, cuma sama aku. Dan sayangnya orang itu bukan kamu yo" via melirik iel dan meraih tangannya. "maafin via yo ,maaf.. Tapi ini saatnya kita jalanin hidup kita masing-masing"

"tapi vi...."


"......PENAMPILAN DARI MARIO" teriak MC dari atas panggung, sekaligus memotong ucapan rio tadi.

Rio memang pengisi acara dimalam promnite ini, dan ia didaulat untuk menyumbangkan suara merdunya.

"yaudah vi, apapun itu, aku cuma bisa berdoa agar kamu selalu bahagia. Maafin aku ya ,udah 3 kali, sia-siain kamu" rio mencium kening via lembut, lalu pergi menenteng gitarnya berjalan gontai ke arang panggung.

Saat diatas panggung, mata rio menatap lurus dan tajam ke arah sivia.

"lagu ini untuk seseorang yang selama ini selalu bertahan buat gw, dan tanpa sadarudah gw sia-siain...sivia azizah.."

semua mata langsung tertuju pada via, semua orang menepi,s ekarang dari panggung ke tempat via berdiri ada jalan kosong yg seperti sengaja dibuat oleh seluruh siswa yg datang malam ini.

Rio mulai memetik senar gitarnya.

Dan pabila esok
datang kembali
seperti sedia kala
disaat kau bisa bercanda..

Dan
perlahan kau pun
melupakanku,
mimpi buruk mu
dimana tlah ku tancapkan duri tajam
Kaupun menangis, menangis sedih
maaf kan aku...

Lupakan lah saja diriku
bila itu bisa membuatmu
kembali bersinar dan berpijar seperti dulu kala.

Caci maki saja diriku
bila itu bisa membuatmu
kembali bersinar dan berpijar seperti dulu kala.

Dan bukan maksudku
bukan inginku
melukai mu
sadarkah kau, disini ku pun terluka
melupakanmu, menepikanmu,
maafkan aku..

Setiap petikan gitar ataupun suara yg rio lantunkan, nampaknya degnn hati dan sungguh-sungguh. Via yang tidak tahan berlama-lama disana, takut pendiriannya kembali runtuh bila memandang mata Rio, mendengar suara RIo, akhirnya via memutuskan untuk pergi, ia sudah berbalik memunggungi rio, tapi el menahannya.

"aku sempet kecewa vi, karena kamu tanpa sengaja udah jadiin aku alesan buat mutusin rio. Tapi sebagai sahabat aku cuma mau kasih tau kamu satu hal. Kalo orang yg kamu cinta, nyakitin kamu, jangan benci dan lari dari dia, berterima kasihlah, karena dia udah bikin kamu bisa liat dunia dari 2 sisi yg berbeda dan belajar untuk menghadapinya" tutur iel panjang lebar,dengan tangan yg masing menggenggam tangan via.

Rio yg melihatnya, hanya bisa menatap getir. Sivia telah memberikan kedua sayapnya untuk rio. Tidak peduli via sendiri terbelenggu dan tidak bisa pergi darinya. Tapi dengan sengaja ia patahkan sayap-sayap itu, kini rio dan via sama-sama terluka.

Lupakan lah saja diriku
bila itu bisa membuatmu
kembali bersinar
dan berpijar seperti dulu kala.

Caci maki saja diriku
bila itu bisa membuatmu
kembali bersinar dan berpijar seperti dulu kala.

Jreng.

Satu petikan terakhir menyudahi penampilan rio,tepuk tanganpun membahana memenuhi ruangan itu. Rio pun berjalan,ke backstage.

"vi untuk masa depan kadang kita harus mau melangkah ke belakang. Dibelakang sana rio lagi nunggu kamu ,dan mungkin dia itu masa depan kamu, ayo jemput" iel tersenyum, via menatapnya sekilas.

Lalu dengan cepat ia berlari, ke backstage, memeluk rio dari belakang sambil terisak,  "aku sayang kamu yo,aku sayang kamu"

rio masih cukup kaget, tapi dengan cepat ia segera memeluk via membelai rambutnya yg nampak sedikit berantakan, "aku juga via, maafin aku ya vi, aku selalu kecewain kamu."

"selalu ada kesempatan buat orang yg ingin berubah dan memperbaiki diri." ucap via sambil melepas pelukannya.

"jadi kamu ngasih kesempatan buat aku?"

"iya, kesempatan ke 4 buat mario. Jangan kecewain aku lagi ya, janji?"
"janji" rio mengangguk mantap, rio kembali merengkuh tubuh via, dan memeluknya diiringi suitan dan tepuk tangan riuh teman-teman mereka.

Sayap-sayap itu memang telah patah, tapi masih ada kesempatan untuk menyembuhkan sayap itu, hingga nanti dapat mereka gunakan kembali untuk terbang bersama-sama.

Iel yg dari kejauhan menatap mereka ,kini tersenyum.

"melepas orang yg kita cintai saat dia tersenyum bahagia akan lebih mudah, dibanding terus berada disisinya saat ia menangis" batin iel.

"semangat gabriel, positifnya persahabatan lo sama rio akan tetep baik"

ia melepas jasnya, menyampirkannya dipundak sebelah kanan lalu keluar dari aula sekolah, membaur dengan alam yg kini bertabur bintang dan diterangi bulan.

Ia tersenyum dan bangga akan dirinya sendiri. Banyak orang yg berani meraih cintanya, tapi tidak banyak yang bisa dan mau merelakan cintanya pergi, menjemput kebahagiaannya sendiri.

Ia melangkah dengan mantap menyongsong hari esoknya yang pasti akan lebih indah dan berhias nada-nada dari suara hati yang lain...


the end

***

Jangan Menyerah (cerpen)

Ini hanya sebuah kisah sederhana, sangat sederhana. Didalamnya tak akan kamu temui bagian-bagian romantis bak Rama dan Shinta, bagian-bagian menegangkan bak petualangan Harry Potter ataupun cerita-cerita picisan khas sinetron.

Ini hanya sepenggal kisahku. Aku dan perjuanganku.. Ini hanya uraian singkat tentang hidup, tentang dunia, dimana bukan hanya ada yang baik dan yang buruk, bukan hanya ada cinta dan benci, bukan hanya ada hitam dan putih, akan selalu ada sisi abu-abu yang tak terjamah artinya. Akan selalu ada yang semu, akan selalu ada mimpi-mimpi kecil yang dilambungkan, meski semua itu tak pernah pasti.

***
Lazuardi langit telah meluruh sejak tadi, begitu juga dengan lembayung senja yang tadi memanyungi ufuk barat. Gelap pun mulia datang membayang. Waktu terus bergerak menipu, seakan perlahan tapi ternyata meninggalkan aku jauh dibelakang. Ya, inilah hidup, inilah dunia, terus berputar tanpa pernah mau menunggu. Menunggu mereka yang ringkih, mereka yang letih dan tertatih menjalani hidup.

Dan saat semua orang mulai sibuk mengimbangi putaran cepat sang waktu, aku masih disini, masih disini. Terduduk memaku diri, menatap jengah pada hamparan bintang diatas sana, yang seperti sedang mengejekku.

Arak-arakan awan jingga yang tadi menjemput sang bola bumi untuk berpulang, kini telah berganti langit malam dengan warna biru tua. Seperti biasa, tak ada yang menarik untukku. Mataku menerawang, memandang kosong pada rumpun pohon bamboo yang tumbuh di halaman rumahku, yang tengah bergerak luwes bak tarian putri keraton.

Huuuhh....

Ingin rasanya berhenti, ingin rasanya menyerah, aku lelah.

Hari ini 28 Juli. Ah, sudah 8 hari. Sudah lebih dari seminggu dia pergi menghadap Rabb-nya. Dan hingga kini, tidak secuil pun rasa ikhlas itu menyentuhku. Kenapa Tuhan, kenapa harus dia? Ada lebih dari 6 milyar orang, yang menghuni planet ini. Lalu kenapa harus Keke yang kau panggil, kenapa mesti sahabatku ??

Semua berawal dari egoku, ego bocah SD yang masih aku bawa hingga seragam putih abu melekat hampir 3 tahun di tubuhku. Hari itu, aku ingat sekali, tanggal 20 Juli. Mendung tak henti-hentinya bergelayut manja diatas langit, dari pagi sampai sore. Rinai hujan dan gemuruh petir seperti jadi lakon utama dalam pertunjukan yang dipertontonkan alam, sore ini.
Motor Keke sudah terparkir sejak lebih dari 20 menit yang lalu dipelataran sebuah toko.

"ayolah Ke, kita terobos saja hujannya" desakku pada Keke waktu itu. Tapi Keke diam saja, bibir kecilnya tetap terkatup rapat. Kedua tangannya terlipat tenang didada.
"Ke, kalau terlalu lama disini kita tidak akan dapat apa-apa, warnetnya juga pasti sudah penuh. Sedangkan file untuk try out SNMPTN itu mesti di download secepatnya. Ayolah Ke," aku merajuk, kuhentakkan kaki kananku keras-keras.

"sabar sebentar bisa tidak sih?" tukas Keke, kesal.

"lho, kok kamu malah marah sih?? ini kan juga salahmu, kenapa begitu teledor menghilangkan flashdisc ku. Kamu jangan santai-santai gitu dong." ujarku, tegas.

"baiklah, baiklah. Aku memang tidak pernah menang bersikukuh denganmu. Tapi tanggung sendiri akibatnya kalau kamu jatuh sakit setelah ini." ancam Keke.

Keke mulai berjalan kearah motornya, aku tersenyum puas. Sejurus kemudian, deru mesin motor yang menyala mulai terdengar disela keracak air hujan menerpa jalanan beraspal.

Perlahan motor Keke mulai melaju, membelah jalan Ir. H. Juanda yang nampak lengang. Sore ini kami berniat pergi kewarnet untuk mendownload sebuah File. Ya, try out SNMPTN di STAN memang menggunakan sistem online dan ada beberapa File yang harus kami download secepatnya.

Selama perjalanan, beberapa kali aku melihat Keke menyeka wajahnya. Air hujan nampaknya mulai mengganggu jarak pandangnya. Bukannya mereda, langit malah semakin brutal mencurahkam air, kulit-kulitku mulai terasa sakit diciprati air hujan.

"KEKE AWAAAASS" teriakku lantang. Saat sebuah mobil pick up hitam dengan kecepatan tinggi dari arah berlawanan, melaju tanpa kendali kearah motor Keke.

Sorotan lampu depannya yang menyala, memaksa mataku untuk terpejam, dan BRAK. Semuanya gelap. Terakhir pendengaranku lamat-lamat hanya mendengar suara Keke yang berteriak dan dentuman keras dari benturan besi yang bertabrakan.

Ya, dan teriakan terakhir Keke itu sampai saat ini masih terus menghantuiku. Ah, seandainya waktu itu aku tidak memaksa Keke menerobos hujan, seandainya dulu aku mau bersabar, seandainya, seandainya, seandainya.....
OK, aku tau, kalimat yang dimulai dengan kata 'seandainya' adalah satu dari sekian banyak wujud sebuah penyesalan.

Semilir angin malam mulai mengusik lamunanku. Desaunya perlahan menggerakan kentungan dari bambu yang di pasang ditepian atap. Derik bising binatang malam mulai terdengar, pertanda kawanan nyamuk akan segera melancarkan agresinya kalau aku tidak segera pergi. Ku putuskan untuk segera masuk, tertatih ku gunakan tongkat yang selama beberapa hari ini telah berjasa membantuku berjalan. Ku langkahkan kaki menyusuri lantai granit rumahku, hingga akhirnya aku berhenti tepat didepan sebuah pintu berbahan dasar kayu aras, dengar poster salah seorang pemain basket favoritku. Perlahan ku putar kenopnya dan pintupun berderik terbuka. Wangi lavender yang khas langsung menyerbu indera penciumku.

Merasa lelah, aku segera merebahkan tubuhku dikasur berseprai biru muda yang terletak di tengah kamar ini.
Aku meraih sebuah foto yang tergeletak pasrah didekat bantal. Ku elus bingkainya dengan lembut. Ku pandangi foto itu lekat-lekat, ada dua orang gadis dalam foto itu. Aku dan Keke tentunya.

"aku kangen kamu Ke, kapan kita main sama-sama lagi? Kamu kangen juga kan sama aku?" aku mulai meracau tak jelas. Air mata pun mulai mengalir membentuk riak kecil yang sepertinya telah hapal alur mana yang akan mereka lalui, sebelum mendarat dibantal nantinya.

"Keke, maafin aku ya Ke. Maafin aku. Aku egois. Aku selalu maksa-maksa kamu dan selalu bikin kamu kesel." tuturku, sedih.

Selain pada Keke, pandanganku juga tersita oleh benda bundar itu, yang sedang diapit tangan kanan Keke. Bola basket.

Ya, basket. Olahraga favoritku, dan Keke tentunya. Basket juga lah yang menjadi 'mak comblang' persahabatan kami. Aku, Keke dan basket adalah tiga hal yang seakan tak bisa dipisahkan. Tapi sepertinya, mulai sekarang aku harus melupakan olahraga itu. Melupakan bunyi 'duk-duk-duk' dari bola yang memantul, melupakan ring yang bergerak saat dimasuki bola, aku harus melupakan impianku jadi atlet basket, ya, aku harus melupakannya.

Kenapa?


Karena tidak ada kan selama ini, pemain basket pincang. Dan sialnya aku pincang, kecelakan itu selain mengambil sahabat terbaikku, juga telah membuatku cacat.
Rasanya hidupku tidak lagi berguna, apa coba yang bisa dilakukan seorang gadis pincang sepertiku ?? Semua profesi pasti,menuntut sebuah kesempurnaan. Aku hanya akan membuat kedua orang tuaku malu dan repot.

Drrt.drrt.drrt

Ponsel ku bergetar, aku terhenyak sesaat, sebuah amplop kuning menari-nari dilayar LCDnya.

1 new message

from : Rio

heh? :)

aku segera membalas pesan singkat yang dikirimkan Rio barusan. Jari-jariku langsung menari lincah diatas keypad.

To : Rio

apa?

From : Rio

belum tidur kamu? Lagi apa?

To : Rio

belum. Lagi kangen.

From : Rio

kangen daku, ya?

To : Rio

PD sekali dikau. Aku kangen Keke, tau. Hei, aku telfon ya? Boleh?


Satu detik, dua detik...
Satu menit, dua menit...

Sms terakhir dariku tak kunjung mendapat balasan. Sudah hampir satu jam aku menunggu sms Rio. Sudah tidur barang kali, batinku. Aku pun bergegas tidur, barang kali aku akan mendapatkan kedua kaki yang normal di alam mimpi, ya walaupun hanya dalam mimpi.

Keesokkan harinya, menjelang subuh, aku terjaga. Ku lirik jam doraemon yang tertengger nyaman diatas meja belajarku, kombinasi jarum pendek dan jarum panjangnya menunjukan pukul 5 pagi. Dari jendela yang lupa aku tutup semalam, terlihat angkasa yang terbelah dua. Semu kemerahan diufuk timur dan sebagaian masih berwarna biru gelap. Sorot keperakan dari sinar bulan juga masih tersisa memulas langit.

Aku kembali meraih ponselku. Kalau-kalau ada pesan yang masuk. Dan benar saja, ada beberapa pesan yang masuk, salah satunya dari Rio.

From : Rio

yang telah pergi, relakanlah. Tugasmu sekarang adalah menjaga apa yang masih tersisa untuk kau miliki. Datanglah keacara perpisahan SMA kita nanti malam, kalau kamu ingin bertemu denganku.


Aku mengerutkan dahi, "tumben mau ketemu." gumamku.

Rio, menurut ceritanya, dia adalah teman sekolahku. Kami satu sekolah di SMAN 1 Cikampek, hanya kelas kami berbeda. Meski satu sekolah sampai detik ini kami belum pernah bertemu langsung. Mungkin karena kami berdua bukan termasuk siswa-siswa yang cukup eksis di sekolah, jadi kami sama-sama belum saling tau. Aku pertama kali berkenalan dengannya lewat jejaring sosial facebook. Tiap kali kuajak bertemu atau ku telfon pasti Rio menolak dengan berbagai alasan. Aku tau bagaimana suara Rio hanya dari, rekaman-rekaman yang ia kirimkan padaku. Tapi aku mencoba tidak peduli, toh yang penting Rio cukup asik untuk ku jadikan teman. Selama hampir 1 tahun aku mengenalnya, dia sangat baik. Dia selalu mau mendengarkan keluh kesahku, selalu menyemangatiku dan menasehatiku dengan bijak, tidak terkesan menggurui.

Dan kalau sekarang, Rio mengajakku bertemu rasanya, tumben sekali. Dengan semangat, aku segera mengetikan jawaban untuk Rio.

To : Rio

aku mau bertemu dengan mu, tapi kenapa mesti disekolah sih? Kamu kan tau bagaimana keadaanku. :(

From : Rio

bersikaplah dewasa, lari dari kenyataan tidak akan membuahkan apapun selain menjadikanmu pengecut.

Membaca pesan dari Rio, hatiku mencelos. Apa tadi dia bilang, pengecut?
Ya, mungkin aku pengecut, tapi itu bukan inginku, salahkan saja Tuhan, mengapa Ia menjadikan aku pengecut.

From : Rio

aku tunggu kamu dikelasmu, XI IPA 2, aku harap kamu mau datang.

Sms dari Rio kembali masuk dalam list inbox ponselku. Aku tidak langsung membalasnya, karena aku sama sekali tidak ingin dan tidak yakin berani datang ke acara itu.

"Acha," suara lembut itu terdengar mengeja namaku dari luar, bersamaan dengan itu seorang wanita berwaras keibuan menyeruak masuk, senyum khasnya selalu terpeta membuat ia selalu terlihat cantik dan menarik. Ya, walaupun gurat-gurat kelelahan terpeta jelas di wajahnya. Semenjak ayah di PHK, ia lah yang membanting tulang menafkahi kami sekeluarga. Ia adalah bundaku, bunda nomor satu didunia.

"Acha mau pake dress yang mana, hari ini ada acara kelulusan kan disekolah? Biar bunda siapkan." ucapnya, lembut.

"Acha, tidak ingin pergi bunda." tolakku.

"lho, memang kenapa?"

"apa Acha pantas pergi dan merayakan kelulusan, bunda? Sedangkan gara-gara Acha, Keke malah sama sekali belum sempat melihat hasil ujiannya," aku menunduk sedih.

"nanti malam bunda akan antar Acha datang ke acara kelulusan disekolah. Dan bunda tidak ingin mendengar bantahan." Kata bunda menegaskan.

"tapi bun..."

sebelum aku berhasil menggenapi kalimatku, bunda sudah melengos pergi. Ya, sepertinya aku memang tidak mempunyai options lain, selain datang ke acara itu.lagi pula meliha ekspresi bunda tadi, aku sama sekali tidak ingin mmbantahnya

Malam harinya, setelah menempuh perjalanan kurang dari 30 menit aku sudah sampai dipelataran sekolah. Aku sempat ragu untuk turun, kalau bunda tidak memaksa. Aku tidak siap, aku belum siap menerima tatapan-tatapan aneh atau cibiran yang mungkin akan aku terima didalam nantinya.

"perlu bunda temani, Cha?" tanya bunda, aku menggeleng pelan.

"ya udah, Acha turun dulu ya." pamitku, segera turun dari mobil avanza silver methallic yang tadi mengantarku.

Langit sangat indah, malam ini. Biru cerah, dengan hamparan bintang dan formasi bulan yang sempurna, ah, memang sangat cocok dijadikan background alam untuk berpesta.
Suara hingar bingar pesta mulai terdengar dari dalam. Sekolahku memang cukup luas, jadi tidak perlu menyewa gedung untuk acara kelulusan malam ini. Ku pandangi bangunan dihadapanku itu, dibalik dinding-dinding kokohnya tersimpan kenangan masa putih abu-abu ratusan anak. Bangunan ini juga yang menjadi saksi bisu persahabatanku dengan Keke, cerita-cerita kecil tentang perjuangan kami, tugas-tugas kami, rentetan keluh dan kesah, tentang mimpi-mimpi kami yang lahir disini, tentang cinta monyet kami, semua terkukung dalam menara candu ilmu ini. Ah, aku tak sanggup, sungguh, kakiku beku tak bisa melangkah. Sampai kurasakan ada sepasang tangan yang mendorong bahuku.

"Rio ?" lirihku.

Pemuda itu tersenyum sekilas, ia mengangguk. kami lalu berjalan bersisian dalam diam, mulai memasuki arena sekolah yang disulap indah oleh panitia menjadi tempat pesta yang luar biasa. Manusia-manusia disini nampaknya sedang sangat sibuk dengan urusan masing-masing, sehingga kemunculan gadis pincang yang merupakan teman seangkatan mereka ini, tidak begitu menyedot perhatian.

Rio, aku melirik pemuda disamping ku ini. Raut wajahnya terlihat tenang dan tegas, langkah-langkah lebar dari kaki-kaki panjangnya mengarah ke kelas XI IPA 6, yang terletak di belakang perpustakaan.

Setelah sampai, lagi-lagi ia hanya tersenyum, detik berikutnya Rio terlihat mulai sibuk dengan ponselnya.

Drrt.drrt.drrp.

Merasa ponselku bergetar, aku segera merogoh sakuku.

From : Rio

akhirnya, kamu datang. Senang bertemu denganmu, Acha.

Aku mengeryitkan dahi, menautkan kedua ujung alisku, bingung. Sudah sedekat ini masa sih, ngobrolnya harus lewat SMS, kok rasanya kurang kerjaan sekali ya?

Belum sempat aku meminta penjelasan atas SMS yang ia kirim, Rio sudah mengangsurkan sebuah kotak padaku, lalu pergi.

"Rio, mau kemana, Rioo, Yoo !!" aku mencoba memanggilnya agar kembali, tapi Rio hanya melambaikan tangan kanannya kearahku. Mulutnya terbuka seperti hendak mengucapkan sesuatu, tapi kemudian tertutup lagi. Aku hanya bisa memandangi tubuh tegapnya yang semakin menjauh. Setelah bayangan Rio menghilang, aku mengalihkan pandanganku pada kotak yang ada ditanganku. Sebuah kotak berukuran sedang, berbalut kertas kado berwarna biru laut dengan jalinan pita senada diatasnya sebagai hiasan.

Setelah meyakinkan diriku sendiri bahwa kotak itu diberikan Rio untukku dan bukan hanya sekedar titipan, dengan sangat tidak sabar, aku segera merobek kertas kado yang menyelimuti kotak itu.

Didalam kotak itu terdapat beberapa novel, alat tulis, satu ring kertas HVS dan sebuah kartu ucapan bersampul keperakan.

Perlahan, aku membuka kertas ucapan itu. Pupil mataku segera bergerak, mengikuti rangkaian tulisan rapi yang menyemut membentuk beberapa kalimat.



Acha,
kamu pernah bilang kan, selain jadi atlet basket, kamu juga bercita-cita jadi seorang penulis ?? Kejar impian itu Cha, karena sebuah mimpi dibuat bukan untuk dilupakan begitu saja. Apa yang diambil Tuhan ikhlaskanlah karena pada kenyataannya semua memang miliknya-Nya.

Diujung sana ada seorang ibu yang selalu bermunajat untukmu, diujung sana ada seorang ayah, yang rela memeras peluhnya, mengabaikan lelahnya untukmu. Jangan buat mereka kecewa, Cha. Buktikan dengan segala kekuranganmu, kamu tetap bisa membuat keduanya bangga.
Don't give up.

RIO.


Aku tertegun membacanya, tulisan itu seperti jadi tamparan yang keras untukku. Alangkah tidak bersyukurnya aku, menganggap diriku orang paling menyedihkan didunia. Tiap malam aku menangis menghujat Tuhan yang menurutku tidak adil. Pikiranku dijejali oleh prasangka-prasangka buruk terhadap-Nya. Ya, aku baru sadar, ternyata aku sangat pandai menghancurkan hidupku sendiri.

"lagu ini, kami persembahkan untuk teman-teman semua yang akan segera melepas seragam putih abu-abu, yang akan segera meninggalkan sekolah kita tercinta, yang akan segera meniti tangga-tanga baru dalam hidup. Apapun yang ada dan menghadang kita didepan sana, jangan menyerah kawan. Jangan pernah menyerah."

Suara seorang pria dari arah panggung memecah lamunanku, dari tempatku berdiri aku bisa melihat dua orang pemuda yang tengah berdiri diatas panggung. Seorang pemuda bermata sipit yang kalau tidak salah adalah Alvin sang mantan ketua OSIS dan.... RIO.

Seiring dengan petikan senar gitar yang mulai dimainkan Rio, seluruh penerangan ditempat itu padam. Hanya tersisa lilin-lilin yang menyala dibeberapa tempat.

Lagu jangan menyerah yang merupakan hits d'masiv band, terus dilantunkan. Suasana haru mulai melingkupi, ketika beberapa dari para siswa mulai memberikan pelukan perpisahan sambil membisikan kata-kata pengantar dan doa, agar masing-masing dapat berhasil dalam jalan yang mereka pilih. Ada beberapa diantara mereka yang terlihat tidak ingin berpura-pura kuat, mereka membiarkan buliran air mata jatuh mengantarkan kenangan selama tiga tahun yang akan segera mereka lepas.

"kamu lulus Ke, kita lulus. Selamat ya, Ke." lirihku sambil memandang langit.

Syukuri apa yang ada
hidup adalah anugrah
tetap jalani hidup ini
melakukan yang terbaik
Tuhan pastikan menunjukan
kebesaran dan kuasa-Nya
pada hamba-Nya yang sabar
dan tak kenal putus asa

dan tak kenal putus asa... (Jangan Menyerah - D'Masiv)

Prok-prok-prok

tepuk tangan riuh rendah, menutup penampilan Alvin dan Rio. Keduanya mulai terlihat turun dari panggung.
Aneh? Kenapa Rio tidak ikut bernyanyi, padahal dari rekaman-rekaman suara yang ia kirimkan padaku, suara Rio sangat indah, jauh lebih merdu dari suara Alvin. Tapi kok dia tadi hanya memainkan gitar, apa dia bohong soal suara itu?

Drrt.drrt.drrt

Ponselku, lagi-lagi bergetar. Segera ku pencet tombol tengah, pesan yang barusan masuk itu pun segera terbuka.

From : Rio

Tuhan selalu punya rencana indah dibalik semua perkara yang telah terjadi. Kita sama Cha, aku juga kehilangan sesuatu yang sangat ku banggakan, Suaraku. Suara yang tempo hari sering ku kirimkan padamu, pita suaraku rusak karena sebuah kecelakan. Tapi aku memilih untuk bangkit, menjadi gitaris juga tidak buruk, dan aku harap, kamu juga memilih hal yang sama.
Bangkit.


Lagi-lagi aku dibuatnya tertegun, jadi selama ini? Rio bisu?

"ya Tuhan, betapa kuasa-Mu tak terbantahkan. Dengan suara seindah itu, awalnya aku yakin Rio akan jadi penyanyi hebat. Tapi takdir-Mu bicara lain." batinku.

Aku tersenyum, rasanya saat ini ingin sekali aku memeluk bunda dan ayah, lalu berkata, "aku akan sukses bunda, aku akan membuatmu bangga, ayah."

Malam ini, di sekolah ini, di SMA ini, aku disuguhi proses sesungguhnya dari pendewasaan.
Dan pelajaran malam ini, tidak akan pernah aku lupakan, tidak-akan-pernah. Terutama pesan yang sangat berharga dari si bisu.

"trimakasih Rio, kamu membukakan semua tabir gelap yang selama ini menutup pandanganku. Kelak kamu akan jadi orang yang paling awal, yang akan ku kirimi novel pertamaku." ucapku dalam hati.

***

Saat aku memilih untuk melangkah maju, aku tau, aku tak bisa lagi berhenti.
Dan aku pun tak pernah ingin berhenti.
Meskipun sesekali, akan ku pelankan langkahku, dan sesekali aku akan menoleh ke belakang, melihat sudah seberapa jauh jejak-jejak yang telah ku tapaki unjuk maju.
Meski nanti akan terasa lelah tapi aku tak mau menemukan diriku menyerah.
Aku tidak ingin menemukan diriku tersudut sebagai pengecut, terbelenggu oleh masa lalu, terkubur dalam himpitan penyesalan.
Aku akan terus berjalan menatap berani pada dunia, karena aku punya sesuatu yang harus ku gapai, yang harusku kejar. Karena aku punya mimpi, aku punya harapan dan cita-cita...





THE END

Cinta Diam-Diam (cerpen)

Cinta..
Adalah ketulusan, keindahan dan kebahagiaan tanpa syarat.

Akan selalu terasa ada meski tak pernah tergapai tangan, tersentuh jari dan terlihat mata.

***

menatap indahnya senyuman diwajahmu,
membuatku terdiam dan terpaku.

Terdiam dan terpaku.
2 kata yang sudah sangat akrab dengan pemuda ini. Setiap melihat gadis itu, lidahnya kelu, tubuhnya beku, otaknya seperti tak mau bekerja hanya sibuk merapal nama gadis itu, dadanya pun serasa sesak dipenuhi rasa kagum.

Senyumnya. Binar matanya, urai rambutnya, gadis itu selalu berhasil membuat pemuda ini terbang melayang menembus lapisan langit, diiringi bunga-bunga merah jambu yang bermekaran dalam hatinya, tapi sejurus kemudian ia terhempas, jatuh,dan dipaksa bangun dari mimpi indahnya oleh kenyataan.

Ya,kenyataan. Ia hanya berani terduduk disini mengagumi pesona gadis itu dari jauh, mencintainya dalam diam. Sedangkan disana telah ada jemari milik pemuda lain yang telah meraih bintangnya, mengurungnya dalam satu ikatan.

Cinta diam-diam..
Bila disekolah ada tugas untuk mendeskripsikan tiga kata itu, maka pemuda inilah yang akan mendapatkan nilai sempurna.

3 tahun, dan ia tetap bertahan.
Selama itu perasaannya hanya tersembunyi, ia nikmati sendiri, ia tutup rapat-rapat dalam dasar hatinya, hingga tak terjamah oleh seorang pun, termasuk ole gadis ya mengaku 'sahabat'nya.

Pemuda tadi terlalu sibuk merutuki dirinya yang begitu mudah di permainkan perasaan, yang begitu pengecut hingga tidak berani untuk sekedar merapal cinta. Ia tidak menyadari bahwa objek yang sejak tadi menari dalam fikirnya kini telah terduduk manis mengambil posisi disampingnya.

"huuh, BT, BT, BT, BT" serunya kesal, sambil menghentak-hentakan kedua kakinya, pemuda tadi tersentak, dengan cepat ia menarik kembali jiwanya ke alam nyata.

"iel tu nyebelin banget sih, osis lah, rapat, proposal, mpk, terus aja begitu, udah mau nyaingin presiden aja tu sibuknya, kapan coba ada waktunya buat aku." keluh gadis tadi.
"kenapa sih, nona sivia. Kebiasaan deh, dateng-dateng ngomel." tanggap pemuda tadi.
"aku batal lagi jalan sama iel. Katanya dia mau rapat. Ngeselin banget kan??" cibir gadis bernama lengkap sivia azizah, itu.
"ya dia kan ketos via. Kamu harus ngerti dong." saran pemuda tadi sok bijak.

Ia tidak yakin, ada pemuda yang lebih bodoh darinya. Membiarkan dirinya menjadi 'tong sampah' tempat gadis yang ia sayangi, berkeluh kesah tentang pemuda lain.

"udah deh, kamu belain iel terus, dia tu gak usah dibelain." protes via, ia mendengus sebal dan melancarkan aksi mengerucutkan bibir.

JEPRETT

kamera yang sejak tadi di pangkunya, ia arahkan pada sivia. Ekspresi lucu via saat sedang BT pun terabadikan dalam kamera pemuda tadi.
Via terhenyak.

"ekh,ikh apaan sih,norak. Hapus,hapus,hapus" seru via.
"gak akh lucu tau, liat deh, ntar aku pasang di mading."
"ikh, jelek gituuu..."
"emang."
"aaaaah,apus,apus." rengek via.
"gak akh, hhehe. Wlek,wlek, via jelek." godanya lalu bernyanyi.

"MARIOOO,HAPUUUSS" teriak sivia, sambil mengejar pemuda yang ternyata bernama mario tadi.
Kejar-kejaran di tengah taman sekolah bak film india pun tak bisa di elakkan.

***

suasana menegang, ruangan yang biasanya beratmosfer ceria dan kompak ini, kini sangat sunyi. Alvin jonathan sang waketos, sejak tadi sudah mencetuskan hobby barunya yaitu menyaingi setrikaan, dengan sibuk bolak-balik di depan pintu ruang OSIS, cemas.

"iel kemana sih, rapat udah mau mulai belom nongol juga, mana kepsek sama ketua yayasan udah dateng, pula. HPnya gak aktif, aduh gimana nih?" gumam alvin setengah kesal.

"iel gak bisa dateng, dia ada urusan. Biar gw aja yang gantiin." ucap suara di belakang alvin, alvin menoleh.
"rio ??"
"ayo masuk kita mulai rapatnya."
"ta.ta..tapi kan.."
"udah percaya aja. Gak akan gw ancurin kok rapat kalian." rio pun melenggang santai memasuki ruang osis.
Alvin dengan kepasrahan yang luar biasa (?) mengekor rio, dibelakang.

Meleset dari perkiraan alvin, rio memang membuktikan ucapannya. Bukan hanya berjalan lancar, rapat juga berlangsung dengan santai dan hangat dibawah pimpinan rio. Ide-ide brilian rio acap kali membuat semua anggota rapat termasuk ketua  Yayasan berdecak bangga. Senyum dan pembawaan rio yang asik juga mampu memancing kreativitas anggota-anggota yang lain, sehingga rapat berjalan lebih mudah.

"bapak senang sekali dengan konsep yang kamu buat, semoga eksekusinya berjalan lancar." itulah pujian dari ketua yayasan yang sekaligus menjadi kata-kata penutup rapat hari itu.

Setelah melewatkan seharian menyusun konsep pensi bersama rio, hampir semua anggota osis menarik kesimpulan bahwa rio lebih baik dari gabriel.

"thanks ya yo. Gw gak tau deh, kalo gak ada lo. Lo hebat banget, baru sekali ikut rapat tapi ide-ide lo udah nyatu banget sama tema dasar yang tim osis buat." puji alvin.

"akh, elo berlebihan vin. Biasa aja kali, gw banyak belajar dari bokap." tjar rio merendah.
"ya whatever lah, yang jelas buat gw lo tu hebat. Sekali lagi thanks ya."
"iya,iya. Sama-sama koko."
"ya udah, gw duluan deh. Bye." pamit alvin.
"oke, bye." timpal rio sambil melambaikan tangannya.

Drrt.drrt.drrt.

Rio merogoh HP nya yang bergetar dari dalam saku.

From : via^sista

Riooooo, aku seneng banget. Aku lagi dinner lho sama iel \\(^_^)//


rio tersenyum membaca pesan singkat dari sivia, ntah benar atau tidak apa yang ia lakukan tadi yang penting baginya, gadis itu, sivia, bahagia.

***

"makasih ya, yel." ucap via lembut, saat ia turun dari motor iel.
"ya ampun, iya vi. Udah berapa puluh kali, kamu bilang makasih? Udah akh, cepet masuk sana, udah malem. Cepet tidur dan mimpiin aku ya." pesan iel, sambil mengusap puncak kepala kekasihnya itu.
"kalo gitu aku masuk dulu ya. Love you." via tersenyum manis.
"love you too, princess." ia balas tersenyum dan mengedipkan sebelah matanya.

Via pun berlalu, melangkah ringan ke dalam rumahnya, ia yakin akan mimpi sangat indah malam ini.

Prok-prok-prok.

"wow, bagus, bagus. Jadi ini urusan lo?" ujar alvin dengan nada mencibir, tadi ia kebetulan lewat rumah via.
"lho,vin? Kok lo masih pake seragam, baru pulang ya?" tanya iel polos.
"gw kira urusan apaan. Jadi lo gak dateng rapat cuma karena mau pacaran,heuh?? Dimana tanggung jawab lo,yel??"
"maksud lo apa sih gw gak ngerti,vin."
"lo inget kan hari ini ada agenda pembahasan pensi sama kepsek dan ketua yayasan. Trus kenapa lo gak dateng yel?? Untung aja ada rio."
"rio?? Aduh, gw makin gak ngerti deh. Bukannya jadwal rapatnya diundur besok, rio bilang gitu ke gw."
"alah udah lah yel. Lo tu udah salah, gak usah pake nyalahin orang. Lo tau?? Gw rasa rio lebih cocok jadi pemimpin, dia cerdas, kerjanya juga cepet dalam sehari aja proposal, denah lokasi, sponsor, pamflet, daftar acara, kepanatiaan, semua kita kebut bareng-bareng dan udah selesain hari ini. Ya, saran gw sih, mending besok lo buat surat pengunduran diri deh dari jabatan lo, pasti kepsek lebih seneng kalo ketosnya rio. Gw juga sih." kata-kata alvin barusan benar-benar membuat iel tersinggung, apalagi alvin bicara dengan sangat sinis dan langsung pergi begitu saja, sesudahnya.

"ALVIN,VIN, ALVIN, ARGH, RIO....SIALAN LO." geram iel.

***

BUG-BUG-BUGG

pukulan iel mendera tubuh rio bertubi-tubi tanpa ampun, darah mulai mengalir dari sudut bibir rio.

"apa maksud lo,heuh?"

BUG

"JAWAB !!! Mau sabotase jabatan gw, mau nunjukin kalo lo lebih hebat, iya??"

BUG BUGG

rio masih diam tak membalas, ia sadar betul apa yang telah ia lakukan adalah salah. Membohongi iel.
Tapi bukan kah, terkadang cinta memhalalkan yang salah??

"ayo lawan gw, kenapa lo diem aja. Sialan lo,yo. Gw gak nyangka. Berdiri lo."

iel menarik keras baju seragam yang kini di penuhi noda darah. Saat itu, rio tengah memarkirkan motornya di halaman rumah, kemudian tiba-tiba iel yang mungkin sudah mengintainya dari tadi, memukulnya dari belakang hingga jatuh tersungkur.

"elo bohongin gw yo, lo emang sobatnya cewek gw, tapi jangan kira gw gak bisa kasar sama lo." emosi iel makin menjadi melihat aksi bungkam rio. Ia mengeluarkan sebuah benda dari dalam sakunya, benda itu berkilau keperakan terkena terpaan sinar bulan.

"jawab gw apa maksud lo? Atau pisau ini bakal ngulitin muka sok ganteng lo ini." ancam iel, sambil mendekatkan pisaunya ke wajah rio.

"oke,gw bakal jawab, tapi turunin dulu pisau lo itu." pinta rio, yang kemudian dikabulkan oleh iel.

"gw gak ada maksud apa-apa, gw juga gak mau jabatan lo. Gw cuma gak mau orang yang gw sayang terus-terusan kecewa. Kalo lo selalu sibuk, orang yang gw sayang bakal sedih dan gw gak suka liat dia sedih." jelas rio dengan cool.

Iel tertegun, ia memerlukan waktu untuk mencerna kemana arah pembicaraan rio tadi. Seiring dengan itu, cengkraman di kemeja rio pun mengendur. Rio tidak menyia-nyiakan kesempatan itu, ia mendorong tubuh iel, iel yang kelabakan langsung terjatuh. Rio segera berlari ke dalam rumahnya.

"woii rio. Argh, SHIT. Sial, apa coba maksudnya tadi." umpat iel marah.

***

pagi ini masih sama seperti pagi-pagi kemarin. Matahari masih dengan senang hati berpijar membagikan cahanya pada bumi. Sinarnya juga masih berkenan menghangatkan rumput-rumput hijau yang basah tersentuh embun.

Sivia masih asik mengamati sebuket mawar putih yang (lagi-lagi) diterimanya. Ia bersenandung kecil diiringi kicau burung yang bertengger santai diranting pepohonan.

"pagi via." sapa iel sambil berjalan ke arah teras rumah via.
"pagi, tumben pagian jemputnya."
"hhehe, pengen numpang sarapan dulu nih." celetuk iel.
"huuh,ada-ada aja deh."
"ekh, bunga dari siapa tuh?" tanya iel, mengamati rangkaian bunga indah yang digenggam gadisnya itu.
"dari pangeran aku" jawab via enteng.
"pangeran?? Maksud kamu?" tanya iel curiga, ekspresi tidak wajar khas orang cemburu pun langsung terpeta di wajah tampannya.

"dih, udah deh, ngaku aja, gak usah belaga bego gitu. Udah ketebak kali."

"belaga bego apa sih?" batin iel bingung.

"emmh, makasih ya yel, tiap hari kamu kirimin aku bunga, coklat, kartu ucapan, puisi, selama 2 tahun pula. kamu tu bener-bener bikin aku ngerasa special, tau gak."

"kamu ngomong apa sih,vi. Aku gak pernah kirimin kamu semua itu. Dan lagi, aku kalo mau kasih kamu sesuatu pasti secara langsung, gak dengan cara pengecut model begitu. Kita juga kan baru kenal 1 tahun lalu."

"jangan becanda deh,yel. Kalo bukan kamu siapa lagi yang tau semua kesukaan aku, yang tau kalo Kalo aku lagi sedih atau seneng? Lagian di kartu pengirimnya ada nama kamu kok, liat ni." via menyodorkan secarik kertas pada iel.

Selamat pagi.
Bunga yang cantik untuk gadis cantik.
Semoga aromanya bisa selalu menyejukkan hari-harimu.

Stev.

Iel membaca barisan kata yang tertulis pada secarik kertas berwarna merah hati itu.

"stev itu stevent kan, nama kamu gabriel stevent kan??" ujar via, dari air mukanya, via nampak sangat berharap iel akan tersenyum dan mengangguk.

"bukan vi,bukan aku. Tapi kayaknya aku tau deh tulisan ini. Mmh,tulisan siapa ya?? Kayaknya temen sekelas kita deh." tebak iel.

"muhammad raynald prasetya?? Gak ada stev-stevnya."
"ahmad fauzy adriansyah?? Sama aja."
"alvin jonathan?? Bukan, cakka kawekas nuraga?? Gak mungkin juga."

iel mulai mengabsen satu persatu nama teman-teman cowok di kelasnya, dan tinggal satu orang yang belum terapal namanya. Satu orang yang memang sangat dekat dengan sivia.

Iel dan via berpandangan, lalu melirihkan nama itu bebarengan.

"Mario Stevano Aditya."

"yapp itu dia orangnya vi. RIO. Stev untuk stevano. Dia sengaja nyisipin nama itu, biar kamu nyangkanya aku yang ngirimin semua itu." iel mendeskripsikan dugaannya.
"gak mungkin, rio itu sahabat aku."
"justru karena dia sahabat kamu,jadi dia bisa tau semua tentang kamu. Ayo ikut aku." iel menarik kasar lengan kanan sivia, kalau beruntung iel bisa membongkar secret admirernya via hari ini juga.

"yel, denger aku, siapapun orang itu. Aku sayangnya sama kamu yel dan itu gak akan berubah, udahlah yel, lupain aja."

"udah deh vi, gak usah bawel. Mumpung masih pagi." iel berkata sambil memandang dingin pada sivia.

Tanpa sempat pamit kepada orang tua via, mobil iel sudah meluncur cepat membelah lalu lintas pagi yang mulai merapat. Tak sampai 20 menit, mobil iel sudah berbaris rapi dengan kendaraan lain di tempat parkir sekolahnya. Via dan iel mulai berjalan menyusuri koridor-koridor panjang, yang masih sepi. Saat tiba dikelas, belum ada tanda-tanda kehidupan disana. Kosong. Sinar matahari pun sepertinya belum sampai Berkunjung ke ruangan ini. Mereka segera bersembunyi dibelakang meja guru yang cukup tinggi dan besar, saat mendengar derap-derap kaki mendekat.

Pintu terbuka.

Dan feeling iel benar.
Dari luar menyeruak masuk seorang pemuda berperawakan tinggi tegap, ia menendeng sebuah gitar dan setangkai bunga bougenville. Iel dan via tau pasti siapa pemuda itu, tapi tidak seperti biasanya, pemuda itu tidak mengenakan seragam sekolah. Ia hanya mengenakam kemeja putih yang di pasangkan dengan jeans hitam, jam tangan berwana gelap juga melingkar di pergelangan tangan kirinya. Pemuda tadi berjalan gontai ke arah meja nomer 2 di deretan dekat jendela, meja via. Ia duduk bersila diatas meja itu, memandang lekat-lekat pada kursi yang pemiliknya tengah mengacak-acak hatinya.


Ku  akui  aku  memang  cemburu
Setiap  kali  kudengar  namanya  kau  sebut
Tapi  ku  tak  pernah  bisa
Melakukan  apa  yg  seharusnya  kulakukan
Karena memang  kau  bukan  milikku

Ku  akui  aku  merindukanmu
Meski  ternyata  tak  pernah  kau  merindukanku
Tapi  ku  tak  pernah  bisa
Melakukan  apa  yg seharusnya  kuinginkan
Karena  memang  kau  bukan  milikku

Sesungguhnya  ku  tak  rela
Jika  kau  tetap  bersama  dirinya
Hempaskan  cinta  yg  kuberi

Semampunya  ku  mencoba
Tetap  setia  menjaga  segalanya
Demi  cinta  yg  tak  pernah  berakhir

Ku  akui  aku  merindukanmu
Meski  ternyata  tak  pernah  kau merindukanku
Tapi  ku  tak  pernah  bisa
Melakukan  apa  yg  seharusnya  kuinginkan
Karena  memang  kau  bukan  milikku

Sesungguhnya  ku  tak  rela
Jika  kau  tetap  bersama  dirinya
Hempaskan  cinta  yg  kuberi

Kejujuran  hati  yg  tak  mungkin  dapat  ku  pungkiri
Keinginanku  untuk  kau  tau  isi  hatiku
Demi  cinta  yg  tak  pernah  berakhir....

rio bernyanyi diiringi petikan gitar yang tadi ia tenteng.
Suaranya mengalun merdu, membuat setiap gadis yang mendengarnya dipastikan bisa langsung meleleh, ya,tapi terkecuali 'gadis itu'....

"RIO..." panggil via.

Rio sempat kaget, mendapati iel dan via dibelakangnya, tapi kemudian ia menormalkan kembali raut wajahnya. Santai dan cool, ciri khas rio.

"makasih buat semuanya yo, tapi kamu harus tau, kita cuma sahabat dan gak akan pernah bisa lebih dari itu. Maaf." tegas via.

"dan kamu juga harus tau via, aku gak pernah minta lebih dari itu." rio tersenyum, meski wajahnya dipenuhi lebam kebiruan.

Rio lalu pergi, tetap dengan senyum. Entah mengapa iel bisa merasakan ketulusan yang besar dalam senyum itu. Rio lebih bisa membahagiakan via dibanding dirinya, iel meyakini itu.

Via melirik setangkai bunga yang rio tinggalkan beserta secarik surat...

Bukan mawar, lily atau anggrek, hanya setangkai bougenville, bunga yang sangat sederhana, bahkan terkesan biasa saja, tapi bogenville tetap sebuah bunga, didalamnya tetap terdapat Tetesan madu. Sama seperti persahabat, sesederhana apapun itu, tetap akan ada cinta di dalamnya.

Sahabatmu, dan akan selalu jadi sahabatmu.
Mario.

Iel segera mengejar rio, setelah via selesai membacakan catatan kecil itu.

"RIO." panggil iel.

"gw gak akan ganhu kalian lagi. Janji." teriak rio dari balik mobil.

Setelah mengucap kalimat tadi, mobil rio langsung melesat meninggalkan sekolah, iel segera menyusulnya. Kedua mobil itu langsung melesat menyusuri jalan raya.

"IEL JANGAAN...." teriak via, yang baru berhasil menyusul ke luar.
Via segera menyetop taksi yang kebetulan lewat dan menyuruh taksi itu untuk mengikuti mobil iel.

Iel terus memacu mobilnya, tapi ternyata kecakapan rio dalam mengemudikan mobil tidak bisa dianggap remeh. Sedan hitam rio, menyalip dengan mulus diantara mobil-mobil lain. Bak diarena balapan, iel dan rio tidak mempedulikan mobil lain, yang juga telah mengeluarjan pajak cukup besar untuk bisa menikmati jalanan itu. Iel terus fokus pada mobil rio, beberapa kali ia sempat berhasil menyalip rio, tapi sedetik kemudian mobil rio kembali meluncur bebas mendahuluinya.

Gas diinjak sekuat tenaga, jarum pada speedometer sudah menunjukan angka yang ekstrem. Lampu dan rambu lalu lintas, tidak lagi idiindhkan.
2 orang pemuda,
dan keduanya tidak ada yang menyadari maut tengah mengintai mereka lebih ketat.

CCIIITTT

rem mobil rio diinjak dengan mendadak, setelah terdengan bunyi debam dan dentuman yang keras dibelakangnya. Putaran ban pada mobil berhenti seketika, menimbulkan percikan bunga api kecil.
Rio terhenyak, melihat pemandangan yang tertangkap kaca spionnya.

Mobil iel...

Terguling dan terbakar, diseret sebuah truk , dengan kecepatan penuh rio segera berlari. Orang-orang sudah berkerumun di tempat kejadian, tapi tak ada satu pun yang berani mendekat, untuk menolong iel yang tengah meregang nyawa dalam mobil. Dengan kedua tangannya sendiri, rio mengeluarkan iel dari puing-puing besi yang sudah meremuk.

"bertahan yel, bertahan. Ambulance...ambulance." teriak rio setelah berhasil Mengeluarkan iel.

"IEL.." jerit via histeris, ia segera memangku kepala iel dan mengusap darah yang mengalir di pelipisnya.

"lo bego banget sih yo, ngapain juga lo kabur. Takut gw gebukin lagi ya?? Gw cuma mau nanya kok, seberapa sayang, lo sama cewek cengeng ini." iel melirik via, yang tengah tersedu.

"AMBULANCE..AMBULANCE. TOLONG DONG..." teriak rio.

"maaf ya yo, soal kemaren. Satu hal yo, lo udah mulai dan lo juga harus akhirin semuanya. Stev untuk stevano, jagain sivianya gw ya, kalo nggak bakal gw gentayangin lo, kalo gw mati. Lo berani ngasih coklat, bunga, puisi.. Berarti lo juga harus berani jaga hatinya via.." tutur iel, panjang lebar.

"via, kayaknya cinta kamu salah alamat ya? Dan aku udah anterin kamu ke orang yang tepat, ke hati yang benar."

via hanya bisa menggeleng, ucapan iel terasa bagai ucapan selamat tinggal untuknya.

"aku sayangnya sama kamu yel, sama kamu." lirih via.
"jangan nangis can...tik."

kalimat itu adalah kalimat terakhir yang keluar dari mulut iel, karena sesudahnya mata iel mulai terpejam seiring nafas yang berhenti berhembus.

***


potong kuenya
potong kuenya
potong kuenya
sekarang juga.
Sekarang juga.

"ayo dong keke, potong kuenya." titah seorang wanita dengan lembut, keke memggeleng.

"keke sedih ya, ngerayain ulang tahunnya cuma sama mama, gak sama temen-temen?" tanya manita itu dengan nada lembut yang sama, ia membelai rambut panjang putrinya.

"bukan gitu ma, keke gak mau kok tiap ulang tahun dirayain rame-rame. Keke seneng ngerayain sama mama, tapi kue pertama keke buat papa,mah. Tapi papanya gak ada, keke gak mau potong kuenya." tutur gadis manis itu.

Happy birthday keke.
Happy birthday keke.
Happy birthday,
happy birthday,
happy birthday keke.

"PAPAAA..." teriak keke, ia segera menghampiri seorang pria dengan jas rapi dan berkacamata tanpa bingkai, keke langsung memeluk dan mencium pipi papa kebanggaannya itu.

"papa dateng?"
"iya dong, kan papa udah janji. Papa juga bawa ini nih." pria itu mengeluarkan sebuah boneka cantik berukuran sedang kepada anaknya.

"wauw Barbie.." tangan gadis itu sudah terulur hendak menggapai boneka itu.
"eits, tunggu dulu, masih inget janji keke sama papa?"
"inget dong, gak boleh nakal, harus jadi anak pinter, nurut sama mama dan sayang sama mama juga papa." keke mulai mengabsen janjinya satu persatu.

"sipp, nih kalo gitu. Jaga baik-baik ya bonekanya." pria tadi tersenyum hangat.

"okidi pah. Ayo,ayo,kita potong kuenya." keke menarik lengan papanya dengan semangat.

Ya, beberapa tahun telah terlalui, meski tidak dengan mudah. Dan rio telah berusaha memenuhi pesan iel dulu, menjaga sivia semampunya. Sivia kini telah menjadi pendampingnya, ibu dari anaknya dan permaisuri dalam istananya. Tak masalah bagi rio meski seringkali via masih memanggilnya 'yel', meski via lebih mengingat hari jadiannya dengan iel daripada hari ulang tahun rio.
Tak masalah bagi rio selamanya ia harus berbagi dengan sosok masa lalu yang kenangannya tak pernah mati. Karena bagi rio dari awal cintanya adalah sederhana, rasa miliknya dan untuknya sendiri.

Ia juga tak pernah keberatan putri pertamanya menyandang nama gabrie, ia selalu belajar tulus dan itulah yang memudahkan langkahnya selama ini.

Selalu senyum dan kelembutan yang ia suguhkan, bukan paksaan atau tuntutan. Ia hanya berharap suatu saat dirinya akan memiliki tempat di hati via, Walau hanya sebatas ruang sempit dan kecil.

"makasih ya yo."
"buat?"
"buat semuanya, kamu selalu berusaha bikin aku dan keke bahagia."
"itu emang tugas aku kan,vi."
"aku janji yo,aku akan selalu belajar lebih sayang sama kamu."
rio tersenyum simpul.
"aku akan selalu tunggu vi, sampai janji itu benar-benar terpenuhi." balas rio,sambil mendaratkan kecupan di kening vi.

JEPREET

sebuah kamera mengabadikan momen itu.

"hayo,mama sama papa pacaran ya, keke bilangin bu guru lho. Hhahaha." keke tertawa renyah.
"ikh, keke nakal ya. Mana siniin kameranya, dia mirip kamu tu, suka motret sembarangan." gerutu via pada rio.

"gak mau, wlek,wlek." keke berlari menaiki tangga.
"kejar dong" tantangnya.

Rio dan via saling berpandangan, lalu Tersenyum kompak

"SERRBUU KEKE.."

Mereka lalu berkejaran mengelilingi istana mereka, diiringi gelak canda dan tawa. Ketiganya larut dalam kebahagian.
Kebahagian besar yang terlahir berkat satu hal kecil, ketulusan.

Mencintai dalam diam, akan selalu jadi rasa rahasia dalam hati, tak peduli sesering apa ia berkorban, seberapa lama ia bertahan, sesakit apa yang dirasa, seberapa jauh jarak yang direngkuh, tetap tak akan pernah ada penghargaan untuk seorang pengecut yang hanya berani mencintai diam-diam.
Tapi tuhan adalah zat maha adil diantara yang paling adil, suatu saat semua ketulusan akan selalu di ganjar-Nya dengan harga yang sangat mahal.



THE END

Itu Aku (cerpen)

Seorang pria masih terduduk disebuah bangku dikoridor sekolah. Raut wajahnya terlihat letih dah sedih. Satu tangannya menenteng sebuah gitar akustik. Kemeja krem khas sekolahnya,sudah sangat berantakan. Berkali-kali ia menatap sebuah ruang tak jauh dari tempat ia duduk,ruang redaksi mading. Sudah 2 jam lebih,ia termenung disini ditemani terik mentari,mengamati dedaunan yg terbang lembut beberapa centi dari permukaan tanah karena tiupan angin,lalu kembali jatuh perlahan. Koridor ini sudah sangat sepi,semua siswa mungkin sudah kembali kerumah masing-masing.

"fuihhh" pemuda itu menghela nafas dan mengacak rambutnya,mungkin frustasi.
Ia kembali menunduk dalam,terpejam sejenak,menyembunyikan sorot matanya yg redup.

"rio?" seorang gadis mengagetkannya. Pemuda yg disapa rio tadipun mengangkat kepalanya dan tersenyum.

"kok kamu...." belum selesai gadis itu berbicara,rio telah berdiri menghampirinya,ia memetik senar gitarmya,perlahan ia berjalan menghampiri gadis itu. Gadis yg sudah hampir 1 tahun ini berstatus sebagai kekasihnya. Gadis manis dgn lekuk tubuh sempurna,rambut yg terurai indah dan senyum menawan.


Ribuan  hari  aku  menunggumu
Jutaan lagu  tercipta  untukmu
Apakah  kau  akan  terus begini
Masih  adakah  celah  di  hatimu
Yang masih  bisa  tuk  ku  singgahi
Cobalah  aku  kapan  engkau  mau

Tahukah  lagu  yang  kau  suka
Tahukah  bintang  yang  kau  sapa
Tahukah  rumah  yang  kau  tuju...
 Itu aku...

Coba keluar  di  malam  badai
Nyanyikan  lagu  yang kau  suka
Maka  kesejukan  yang  kau  rasa
Coba keluar  di terik  siang
Ingatlah bintang  kau  sapa
Maka  kesejukan yang  kau rasa

Tahukah  lagu  yang  kau  suka
Tahukah  bintang  yang  kau  sapa
Tahukah  rumah  yang  kau  tuju...
Itu aku...
Percayalah...  Itu   aku...



Rio menatap gadis itu,matanya seakan meminta suatu kepastian. Ia bernyanyi dgn tulus,berharap gadisnya ini mengerti apa yg ia maksud.


Sejenak keduanya terdiam,angin semilir mengusik keheningan yg tercipta.

"mm..makasih" seru gadis itu lirih.
"untuk?"
"lagunya"
"oh..oke. Kamu kenapa sih,udah 2 minggu ini kamu terus jauhin aku. Reject telepon,smsm juga gak dibales,malah kadang nomer kamu gak aktif" tanya rio lirih
"aku cuma itu,aku.."
"kamu capek ya,ngadepin aku? Maaf ya"
"nggak yo,bukan gitu."
"trus kenapa?" tanya rio lembut,gadis itu menunduk.
"salah aku apa?" tanya rio,telunjuknya mengangkat dagu gadis itu,dan menatap matanya tajam.
"cukup yo,cukup. Kamu jangan mojokin aku kayak gitu" bentak gadis itu.
"makanya kamu bilang donk,kamu kenapa?"
"sorry,aku gak mau ngebahas ini sekarang" jawabnya singkat lalu pergi. Baru beberapa langkah,rio berteriak. "EGOIS,KAMU EGOIS TAU GAK?? Aku udah lama Nungguin kamu. Nunggu supaya bisa ngomong sama kamu,selama ini kamu ngehindar,KAMU EGOIS TAU GAK??" rio tampak emosi,gadis itu berbalik.
"apa kamu bilang? Nunggu? Oh,jadi kamu sekarang ngomongin waktu sama aku,yo. Iya??" tanya gadis itu.
"2 minggu lalu,kamu janji nonton sama aku, 3 jam yo,3 jam aku tunggu kamu,tapi kamu batalin gitu aja,minggu lalu ulang tahun aku,aku nungguin kamu seharian dicafe,tapi kamu bilang gak bisa,dan 3 hari lau,aku pengen ngomongin hubumgan kita,tapi apa?? BAND LO,SELALU BAND LO,IYA KAN?? Yo,aku tu butuh kamu disamping aku,bukan cuma suara kamu yg kamu kirimin tiap malem,bukan yo,bukan itu. Aku mau marionya aku." gadis itu berteriak sambing menangis,kekecewaan yg lama mengendap,skarang terkuak habis.

Untung sekolah sudah sepi saat itu,jadi pertengkaran sepasang kekasih ini tdk begitu mengundang perhatian.

"tapi kan,kamu seharusnya ngertiin aku,sedi...."
"selalu yo,aku selalu ngertiin kamu,aku selalu sayang sama kamu,tapi aku capek yo,capek. Alvin aja selalu ada waktu buat via,padahal dia satu band kan sama kamu."
"tapi aku kan leadernya.."
"TRUS APA MENURUT LO,GW BANGGA,LO YG EGOIS,TERSERAH,LO MAU MILIH BAND LO,ATAU APAPUN,TERSERAH LO,GW GAK PEDULI" gadis itu pergi dgn marah.
"fy,IFY,IFYYY" rio memanggil-manggil nama kekasihya itu. Sejenak ia,berfikir untuk mengejar ify,tapi entah mengapa kakinya beku. Benarkah tadi yang ify bilang 'capek'. Benarkah ify udah capek,jalanin semua,akankah kisahnya dgn ify berakhir??


-----------


Seminggu kemudian

tidak ada yg berubah,meski waktu terus menggulirkan detik,yg berubah menjadi rajutan menit,rangkaian jam dan perlahan beranti hari. Ify dan rio,belum juga melontarkan maaf. Sahabat-sahabat mereka sudah berulang kali mencoba mendamaikan perang dingin antara keduanya,tapi nihil.

Sampai tiba suatu sore,saat itu mendung sudah bergelayut diawan,mencurahkan hujan dgn derasnya. Angin berhembus kencang,menggoyangkan pucuk-pucuk cemara disebrang jalan. Langit berwarna kelabu pucat,seperti wajah rio yg sejak tadi siang berdiri dibwah guyuran hujan.
"IFY,MAAFIN AKU FY, PLISS" teriak rio,tapi tak ada respon,jendela kamar di lantai 2 rumah mewah itu pun terus tertutup.

Rio memutuskan untuk terus menunggu,ia merasa bersalah dan ingin segera memperbaiki hubungannya. Beberapa waktu berselang,rio sudah basah kuyup dan menggigil. Tak lama,sebuah mobil sedan hitam meluncur kearahnya.

"rio,ngapain kamu disini?" ify segera keluar dari mobil itu dan segera menghampiri rio,tak urung dress birunya pun ikut basah kuyup ditempa air hujan.
"ify ngapain sih ujan-ujanan?" seorang cowok manis,menghampiri ify dan memayunginya.
"siapa dia?" tanya rio getir,meski badannya terasa dingin membeku,tapi hatinya serasa dipenuhi api yg berkobar.
"gw debo,cowoknya ify." jwb cowok itu,rio terdiam butuh waktu yg lama baginya untuk mencerna pernyataan debo.
"oh gitu ya,yaudah maap fy gw ganggu. Selamat sore alyssa,permisi" kata rio sinis.
"yo,rio tunggu,rio biar aku jelasin,MARIO.." ify berlari mengejar,tapi rio terlanjur menjauh.
"ify,dia siapa?" tanya debo.
"gw mau masuk" jwb ify singkat,lalu masuk kedalam rumah,tanpa peduli pd debo yg masih tampak bingung.
Air matanya sudah bersaing dgn derasnya hujan yg turun diluar sana.
"non" sapa pembantu ify.
"kenapa bi?".
"tadi ada den rio,nungguin non ify lama bgt,sampe kehujanan diluar,bibi bilang non ify gak ada,den rionya gak percaya. non ify udah ketemu?"
" udah"
"kok gak diajak masuk non?" bukannya menjawab ify malah melengos pergi kekamarnya ingin segera membenamkan wajahnya,menumpahkan air matanya pada bantal.

Setelah ia memasuki kamar,tak lama Handphonenya bergetar.

1 new message

from : via 'sista'

KETERLALUAN LO !!! Rio itu sepupu gw.
Jangan pernah bilang lo sahabat gw. Lo gak tau rio tu sayang bgt sama lo.
Pengkhianat lo,fy. Gw tutupin kebohongan lo selama ini,lo bilang debo cuma masa lalu lo.
Kita semua dipihak rio dan lo sendiri,LO SENDIRI.
KITA BAKAL CARIIN GANTI LO,BUAT RIO YG SERIBU KALI LEBIH BAIK DARI LO,PENGKHIANAT.


Tangan ify bergetar hebat,benarkah apa yg dibacanya tadi?
Sivia sahabatnya juga ikut memusuhinya? Kenapa? Kenapa harus ify yg Yang disalahkan?

"rio selalu lupa sama gw,apa salah kalo sekarang gw nemuin kebahagian dan lebih milih debo" batin ify. Ia terlalu sibuk menangis,hingga ia samapai lupa berganti pakaian dan tertidur dengan dressnya yg basah.

Esok hari,sinar mentari memaksa masuk kekamar ify dari jendela yg ternyata belum ditutup gordennya semalam oleh ify. Ify terbangun,saat matanya perlahan terbuka,ia mendapati satu tangkai anggrek,bunga favoritnya,tergeletak bersama sebuah kaset. Ify tdk bersemangat untuk menyetelnya,hari ini hari minggu,seharian ify menghabiskan waktu didalam kamarnya.
Kadang ia tersenyum mengenang indah,masa-masa bersama rio,lalu senyumnya memudar saat mengingat pertengkaran kemarin.
Setelah mentari hampir tenggelam,terdengar ketukan halus dipintu kamarnya.
"fy,tadi debo telepon" seru suara mamanya dari balik pintu. Ia baru sadar,ada janji dgn debo malam ini.
Saat hendak mandi,pandangan ify tersita oleh sebuah kaset yg diterimamanya tadi pagi.

"kaset apaan ya??" gumamnya,ia segera menyetel kaset itu.

sedetik kemudian suara itu menyapanya,suara yang sangat ia kenal,suara yang selalu menghantarkannya dalam mimpi indah setiap malam,suara orang yang tanpa sengaja telah ia lukai..


setelah  kupahamiku  bukan  yang  terbaik  yang  ada  di  hatimu
tak  dapat  kusangsikan  ternyata  dirinyalah  yang  mengerti  kamu
bukanlah  diriku..
kini  maafkanlah  aku
bila  ku  menjadi  bisu  kepada  dirimu
bukan  santunku  terbungkam  hanya  hatiku  terbatas
tuk  mengerti  kamu
maafkanlah  aku...

walau  kumasih  mencintaimu
ku  harus  meninggalkanmu
ku  harus  melupakanmu
meski  hatiku  menyayangimu
nurani  membutuhkanmu  ku  harus  merelakanmu

dan   hanyalah  dirimu  yang  mampu  memahamiku
yang  dapat  mengerti  aku
ternyata  dirinyalah  yang  sanggup  menyanjungmu  yang  lama  menyentuhmu
bukanlah  diriku

walau  kumasih  mencintaimu
ku  harus  meninggalkanmu
ku  harus  melupakanmu
meski  hatiku  menyayangimu
nurani  membutuhkanmu  ku  harus  merelakanmu


Ify tertegun,tanpa diperintah air matanya tercurah tandas dipipinya,memori indah tentang pangeran hatinya itu pun tersusun kembali dalam ingatannya. Rio...
Ify ingat betul saat pertama kali rio menyatakan perasaannya,waktu mereka menjadi pasangan romeo n' juliet dlm drama musikal sekolah.
Lalu saat rio dgn konyol mati-matian belajar basket,hanya karena ify blang ia suka cowok pemain basket. Atau saat dgn bodohnya rio mencarikan es krim rasa ketan item,yg jelas-jelas gak ada,cuma gara-gara mau menuhin syarat ify sbg tanda permintaan maaf.
Banyak hal yg telah rio lakukan untuknya,tp dgn jahatnya ia selingkuh,hanya karena rio sibuk akhir-akhir ini.

Fy,,

suara rio terdengar menyapa ify dlm kaset itu.

Nona alyssaku..
Kamu benar fy,bukan,bukan cuma suara aku yg kamu butuhkan.
Maaf fy,maaf,karena aku gak bisa jadi cowok yg baik buat kamu.

"gak yo,kamu baik bgt yo,aku yg salah" bela ify dihatinya.
Suara rio tetap  terdengar dari kaset yg diputar ify.

Makasih ya fy,karena kamu udah mau sabar ngadepin aku selama ini.
Aku gak akan nyalahin kamu atas pilihan kamu,aku tau,harusnya aku sadar dari dulu,kamu terlalu berharga untuk selalu dinomor dua kan.
Kamu terlalu berharga buat nunggu,aku gak sadar bahwa diluar sana akan banyak cowok yg siap bahagiain kamu lebih dari aku.
Aku bodoh,dan karna kebodohan aku,aku memilih pergi.
Aku pamit fy,bukan karna aku pengecut. Bukan juga untuk lari,tapi aku takut. Takut,aku akan semakin sulit melepas kamu,kalo aku tetep disini.
Aku juga gak akan pernah bisa liat kamu bahagia sama orang lain.
Malam ini,aku berangkat ke aussie. Jaga diri kamu baik-baik ya,simpen kaset ini sbg kenang-kenangan dari aku. Semoga kamu selalu bahagia...


Kaset itu berhenti,ify termenung. Keyakinan bahwa debo lah cintanya,kini runtuh. Ia ragu,ntahlah,ntah debo yg datang dgn sejuta sanjungan,dgn sikapnya yg romantis. Atau rio cowok nyebelin yg sangat tulus menyayanginya. Ia melangkah dgn lunglai kekamar mandinya.
Malam ini?! Secepat itu kah??
Ya,kisahnya dgn rio memang telah tutup buku,dan disisinya sudah ada debo,tapi mampukah debo menggantikan rio,menggeser posisi rio yg telah bertahta dihatinya selama 1 tahun ini.


---------


Di cafe

ify hanya mengaduk-aduk makanannya,fikirannya terus melayang kemasa-masa dibelakang,masa tentang sosok itu,sosok yg lbh senang memberinya buku dibanding coklat atau bunga.
Sosok yg lbh senang mengajarinya bermain gitar dibanding nonton,sosok yg mengucapkan selamat malam dgn caranya sendiri,mengirimi ify suara indah lewat ponsel.
Sejenak ify merasa matanya panas,ia mencoba mengalihkan pandangannya dari debo yg duduk dihadapannya dan terus menatap kearahnya. Matanya menyapu seluruh bagian cafe ini,ia baru menyadari ternyata cafe ini,cafe favoritnya dgn rio,cafe bernuansa alam alami. Teratai mengapung indah di kolam didepan cafe,bunga-bunga mawar berderet menghiasi jalan setapak,bahkan saat melirik kearah pintu,ia seperti melihat rio sedang tersenyum,membawa seikat anggrek seperti malam dinner mereka yg pertama,dulu.

"hiks,hiks,hiks" ify terisak.
Sekuat tenaga ia menahan air mata penyesalannya,tapi takmampu..

Bukan,ternyata bukan ini yang ify mau,bukan pujian,bukan perlakuan istimewa,bak seorang putri,bukan adegan-adegan romantis seperti dlm novel.
Ify lbh suka ke danau liat ikan,maen layangan dipadang ilalang,membaca buku ditaman,main piano,asal semua itu dikakukan bersama rio,semua jadi istimewa. Dan itulah,itulah yg ify rindukan,RIO.

"kamu kenapa fy?" tanya debo lembut.
"gak ppapa kok" ify menghapus air matanya.
"aku duluan,debo" ia mengambil selempang ungunya,lalu tergesa keluar cafe dan pergi dgn taksi.

"ify,ify..fy..." debo berteriak memanggil ify,ia berlari menuju mobilnya dan mengikuti taksi ify.

Taksi biru ify berhenti tepat disebuah bandara,ify melirik jam tangannya,pukul 19.25.
Ify segera keluar dan berlari ke dalam bandara,berkali-kali ia mengedarkan pandangannya,mencari sosok rio dikerumunan orang dgn koper-koper ditangan mereka.

"lo mana sih,yo??" gumamnya resah dan gugup.

Ify akhirnya menyerah,mungkin ia terlambat. Letih,ify pun terduduk lemas,kedua tangannya menutup wajahnya yg dibanjiri air mata.
"rio..hiks..rio" isaknya.
"apa fy??" jwb rio yg entah sejak kapan telah berdiri didepan ify.
"rio" ify mengangkat wajahnya.
Ia lalu memeluk rio erat,seakan tak mengizinkan rio sedikitpun beranjak dari sisinya.
"maafin ify,yo"
"udah,gak ppapa kok" jwb rio lembut.
"kamu mau kemana yo?" tanya ify setelah melepaskan pelukannya
"aussie fy,aku mau ngelanjutin study ku disana" jwb rio.
"trus??"
"trus apa?"
"hubungan kita gmana?"

keduanya kembali terdiam,bingung. Rio sama sekali tdk siap membicarakan ini langsung dgn ify,ia blum siap kehilangan gadisnya itu.

"aku gak akan pergi,kalo aku denger dari mulut kamu sendiri,bahwa kamu sayang dan mau aku tetep tinggal" kata rio sebagai jawaban dari pertanyaan ify tadi.
"IFY.." seru debo yang baru datang,setelah tadi sempat kehilangan jejak taksi ify.
"debo.."
"dia sebenarnya siapa sih,fy" tanya debo gusar.
"debo,seben..."
"fy,aku gak suka sikap kamu yg kayak tadi." potong debo.
"pergi gitu aja,ninggalin aku cuma buat nemuin cowok ini,iya,gitu fy?!" kata debo sambil Menatap sinis pada rio.
"rio ini sebenernyaa..."

"RIO AYO NAK,CEPET." panggil bunda amanda,ibunda rio.
"yaudah fy,gw pamit ya.." rio mengacak poni ify,lalu tersenyum. Rio menyeret kopernya,dgn hati yg pedih akhirnya ia harus pergi.. Ify menatapnya dgn tatapan ragu.

"tante manda.." teriak ify sambil berlari kecil.
"iya,kenapa fy?"
"ify,mau minta izin,tan. Ify mohon izinin rio tetep tinggal disini,nemenin ify" pinta ify sambil melirik kearah rio yg kini tersenyum lega.
"iya cantik tante izinin,lain kali,jangan ngambek-ngambekan lagi ya,kalian kan udah gede" nasehat tante manda,ibunda rio ini memang sangat menyayangi ify.
"makasih tante" tante manda mengangguk..


lalu ify berjalan kearah debo.

"debo,rio itu pacar aku,sebenernya kamu,mmm..."
"ya,gw ngerti maksud lo fy." jwb debo,ia lalu menghampiri rio.
"maap ya,bro. Gw udah ganggu hubungan lo berdua"
"gak ppapa kok" jwb rio sambil menepuk bahu debo.

"rio" panggil ify,rio tersenyum lalu menghampiri ify dan memeluknya.
"i love u, mr.busy" bisik ify.
"love u too" balas rio.

"EKHMM,mupeng deh gw" celetuk debo.
"HHAHAHAHAHA" rio dan ify tertawa kompak.

Tante amanda,yg menyaksikan kejadian itu dari jauh hanya bisa menggelengkan kepalanya lalu berguman.

"jadi inget waktu muda" 


"dalam hidup..bukan sosok yang sempurna yang harus dicari,tapi sosok yang bisa menyempurnakan kehidupan kita.. hingga terdapati kebahagiaan yang hakiki."


THE END

Si Ganteng Kalem (cepen)

"kiri-kiri-kiriii" teriak seorang gadis,sambil bersungut-sungut ia turun dari public transportasion a.k.a angkutan umum.
Ia menyodorkan uang seribu perak,kearah supir.

"neng,neng" panggil si supir.
"apa? Mau ngajak dangdutan?" sentak gadis itu.
"bukan neng,ini ongkosnya kurang neng"
"ye,si abang,saya kurang ibadah aja,tuhan gak protes kok,lagian gara-gara angkot abang yg jalannya,kayak banteng mabok,liat ni rambut saya jadi berantakan" gerutu gadis itu.
"ye,kagak mau ngasih ya udah,kagak usah pake ngatain soulmate saya dong" balas si supir sambil menggas kembali mobilnya.

Gadis itupun bergegas,ia memasuki halaman sebuah gedung bercat hijau cerah dgn tiang bendera tegak menyongsong sang dwiwarna.
SMAN 1 BANDUNG..


pagi itu sangat cerah,awan biru bergerak mengitari mentari pagi yg berpendar hangat,bau embun basah masih menyeruak diantara kepulan asap yg sudah mulai menyebar. Barisan pohon asoka mulai menggugurkan bunganya yang berwarna orange cerah.
Gadis tadi masih merapikan rambutnya yg hitam panjang tergerai.

"via" panggil seseorang,pada gadis yg ternyata bernama via tadi.
"ekh,lo fy" balas via pada ify gadis manis dgn dagu runcing yg tadi memanggilnya,kini ify berlari kecil kearahnya.

"hapalan PKN 7 halaman lebih 246 kaliat 97 kata,ditambah matematika,drama bhs.inggris plus praktikum kimia. Menurut lo,apa kita hari ini bisa balik dlm keadaan sehat wal'afiat?" tanya ify dgn tampang nelangsa.
"ntahlah,makanya tadi gw udah bikin surat wasiat,sebelum pergi kesekolah" jawab via,matanya menerawang.
"ide bagus" ify mengangguk.
mereka lalu kembali berjalan menuju kelas mereka.


Dikelas


"pagi girls" sapa ify dan via kompak.
"pagi via,pagi ify" jwb shilla dgn nada lirih khas orang mau meregang nyawa.
"pagi,sob" balas agni singkat.
"jah pada kenape lo pada? Patah hati gara-gara JB nembak gw" celetuk ify,sambil memainkan anak rambutnya dgn jari telunjuk.
Shilla dan agni saling berpandangan dgn tatapan 'hancurlah masa depan kita'. Mereka lalu kompak mengangkat selembar kertas dgn tulisan angka 2 besar sekali berwarna merah.
"hah?" via mendekat mulutnya
"hhahaha,mama kalian bakal seneng,karena kalian bawain bebek tuh,buat makan malem,hhahaha.." ify tertawa.
"diem deh lo,ipot,liat ni ulangan lo" shilla sewot,sambil menyerahkan selembar kertas pada ify,ify menerimanya,lalu tersenyum.
"biarinlah,buat tambah koleksi tongkat nenek gw" ia lalu memasukkan kertas ulangannya kedalam tas.
"kamu dpt berapa vi?" tanya agni.
"gak jauh beda,gw dapet 4" via tersenyum miris.

Ify,shilla,via dan agni memang sudah lama berkawan,keempatnya memang kurang begitu pandai dalam MIPA,mereka mengambil jurusan IPA juga karena paksaan orang tua masing-masing.

"kalo begini terus,kita bakal dipecat jadi anak" gerutu via.
"tuhaann,aku mohon,kirimkanlah pangeran ganteng yg pinter buat ngajarin hambamu yg manis ini" ify berdoa.

Ketiga temannya kompak menggeleng dan bersabda..
"aduh,ozann"



"bu winda datang" seru seorang siswa.

Tak berapa lama bu winda masuk,semua anak langsung ternganga,melihat penampilan baru
bu winda yg pake rok mini dan highheels *bener kagak tuh nulisnya* 20 cm,ckckck.

Tapi sebenernya bukan itu yg membuat semua anak terpana,bu winda sih,mau pake rok mini kek,baju besi kek,pake koteka,pake daun pisang kek,emang ngefek,gak ngurus gak mikirin.

"cakep"
"so cute"
"manis bgt"

semua anak cewek langsung semangat berkomentar tentang sosok setengah manusia setengah malaikat (?) berjalan dibelakang bu winda.
"ekhm" bu winda berdehem "pagi,anak-anak hari ini kalian kedatangan teman baru,silahkan perkenalkan diri kamu" perintah bu winda.
"halo temen-temen" sapanya.
"halooo"
"kenalin nama saya Mario Stevano Aditya Haling,kalian bisa panggil saya rio,vano,atau adit,terserah kalian,enaknya gimana"
"kalo panggil pangeran boleh?" tanya shilla malu-malu.
"woooo" anak-anak menyuraki,rionya hanya tersenyum kalem.
"rumah saya dijalan asia-afrika"
"ohh,bukan di gw,yo?" celetuk ify,sambil pasang tampang mupeng stadium akhir.
"seneng bisa kenalan sama kalian,mohobantuanya ya.." rio merunduk sedikit lalu tersenyum.
"baiklah rio,silahkan duduk disebelah ozy"
"bu,kok gak ada season tanya jawab?" protes agni.
"tanya jawab? Kamu kira ini acara mamah dan aa',curhat dong" ejek bu winda,sambil berbalik.


Dubragg

"aduh" bu winda jatoh,keserimpet sepatunya.
"hhahahaha" tawa anak-anak.
"DIAMM" teriak bu winda.

Pelajaran pun akhirnya dimulai,tp tak satupun dari siswa cewek yg memperhatikan.

"angel" tegur bu winda,yg menangkap basah kuyup(?) angel sedang tersepona memandang rio.
"iya bu" angel gelagapan
"coba sebutkan,manfaat mempelajari trigonometri dlm kehidupan sehari-hari?"
"mmh,untuk anu bu,itu,untuk seperti anu,mengungkapkan perasaan" jawab angel asal,bu winda mendelik.
"misalnya gini bu,aku sama rio itu sin 90 derajat,aku tanpa rio itu cos 90derajat dan kekaguman aku pada rio itu tan 90derajat,gitu bu" jelas angel susah payah.
"maksudnya??" bu winda bingung.
"sin 90 itukan 1,cos 90 itu nol dan tan 90 itu tak terhingga. "
"jadi" ozy menyela "maksudnya angel sama rio itu satu,angel tanpa rio itu kosong,dan kekaguman angel pada  rio itu tak terhingga"
"sip betul sekali" angel mengangguk puas.
"hoeks" anak-anak yg lain tiba-tiba saja ingin muntah massal.
 Rionya mah Cuma senyum doank....
 Yaolloh,cuma senyum doank.

"angel kamu itu..."



tet tet tet

baru saja bu winda ngambil ancang-ancang mau berkicau,ekh udah bel istirahat,selamet dah tu si angel.

"ekh,ekh,kenalan yuk sama dia" ify semangat banget ngajak temen-temennya kenalan sama rio.
"lo kagak liat noh" kata agni menunjuk kearah meja rio yg sekarang udah disabotase sama cewek-cewek ajaib penghuni kelas ini.
"akh itu sih gampang,liat ni ya" shilla berjalan kearah merela,lalu mengambil nafas dalam-dalam..

"WOII,ADA DANIEL RADCLIFFE NARI BALLET DIKANTINN" semua anak sontak terdiam,beberapa detik kemudian mereka dgn cepat berlari keluar kelas.
"beres" shilla bangga.
"bagus shill,pertahankan" puji via. Mereka lalu menghampiri rio yg kini duduk tenang disuduk kelas.

"hhai rio,kita belum kenalan,gw shilla"
"gw ify"
"aku sivia"
"gw agni" bergiliran mereka menjabat tangan rio dan memamerkan senyum terbaik masing-masing.

"gw rio,seneng kenal sama kalian" balas rio.
"apalagi gw yo,seneng kuadrat dah" batin ify.

Tiba-tiba terdengar derap langkah tergesa menuju kelas.
"roman-romannya kita bakal diserang ni?" celetuk agni.

"SHILLAA mana danielnya,ada juga mang tarjo lagi nari jaipong" protes acha.

"teman-teman...kabuurr" shilla dan yang lain jelas langsung kabur sebelum meletus perang dunia III.


Sepulang sekolah


"sstt,stt,ada rio tuh" kata shilla
"nah,kesempatan gw ni" kata ify. "mau ngapain lo,fy" tanya agni.
Ify tdk menjawab,malas terus berjalan kearah rio yg sedang asik jalan sambil baca bukunya.

Brugg

"auww" rintih ify.
"aduh sorry,lo gak ppapa kan??" tanya rio.
"enggak kok" jwb iey manis,ia mengedipkan sebelah matanya ke arah teman-temannya.
"oh,syukur deh. Yaudah,gw duluan ya fy" rio pergi.
"ekh,ekh,tapi kan,lho?? Rio,rioo" rio tetap berjalan menjauh. Shilla,sivia dan agni menghampiri ify.

"hhahaii jatoh bu?" ledek agni.
"huuhh,gak bakat lo fy,liat gw nih."
sivia mulai berjalan anggun,menghampiri rio yg saat ini terlihat tengah asik membaca mading sekolah.

"uupss" sivia menjatuhkan sapu tangannya.
"ambil donk,ambil,ayo ambil" batin via,kemudian ia berbalik ternyata rio memang mengambil sapu tangan via,tapi dgn jijik-jijik,rio hendak membuangnya ketempat sampah.
"ekh,ekh,jangan. Itu punya gw" cegah sivia.
"oh sorry,gw gak tau,gw kira sengaja dibuang" via manyun,ia bisa melihat ketiga temannya terkikik mengamatinya.

"hhaii rio" sapa mereka ketika menghampiri via dan rio.
"hhai juga,ekh boleh nanya gak?"
"tanya apa yo? Boleh kok" balas agni.
"disini ada ekskull apaan aja sih?"
"oh,ada basket,ada futsall,musik,teater,pecinta alam,banyak deh" jawab shilla.
"mmhh,kalo fotografi ada?"
"ada yo,tapi kurang banyak peminatnya,ekskullnya gak asik,anak-anak yg populer gak ada yg ikut ekskull itu, iya kan??" ify meminta pendapat,teman-temannya mengangguk setuju.
"emang rio mau ekskull apa? Musik aja,nanti bareng kita-kita- saran via.

"fotografi,gw hobi motret" jawabnya kalem,lalu pergi,sambil melambaikan tangan kanannya.

shilla,sivia,ify dan agni,kompak bercengo ria..
"kita salah ngomong kayaknya" celetuk via.


Keesokan harinya.

Hari ini ulangan bhs.inggris,pelajaran yg paling rio benci *ceritanya*.
Rio udah gelagapan aja,mengingat waktunya tinggal 15 menit lagi.

"sstt,sstt" rio bergumam pelan pada meja dibelakang,tempat agni dan shilla.
"nomer 5 dong" pinta rio.
Dengan semangat shilla menuliskan jawabannya dan menyodorkannya pada rio.

"SHILLA,LO APA-APAAN SIH?" sentak agni,semua menoleh ke arah mereka.
"rio kan nanyanya sama gw,kok lo yg ngasih jawabannya?" protes agni.
"aduh,mampus gw" batin rio.
"ye lo kePD'an,orang rio nanya sama gw" balas shilla.
"rio tu minta jawabannya sama gw,iya kan Vi?" agni mencari dukungan.
"meneketehe"
"lo sama gw kan pinteran gw" ejek shilla.
"HHEI,ada apa ini,jangan ribut" tegas pak toyib (?)
"ini sir,rio kan mau nanya sama saya,ekh makah si alay ini yg ngasih jawaban" jelas agni.
"apa lo bilang?" sentak shilla.
"KALIAN BERTIGA,IKUT BAPAK" teriak pak toyib menggelegar memekak telinga dan meluluh lantakan gendang telinga setiap anak *lebe



dilap. Upacara

"rio maap ya,gara-gara kita..." shilla menunduk.
"gak ppapa kok,salah gw juga" jawab rio kalem.
"salah gw minta bantuan sama orang kayak lo pada" batin rio.


Tiba-tiba



Brugg


agni terjatuh

"ag,lo kenapa??" shilla panik,rio dgn segera berlari ntah kemana.
"asik,pasti gw bakal digotong sama rio" batin agni yg ternyata,pura-pura pingsan,dan beberapa menit kemudian..

byuurrr

"aarrgggh" agni tersentak,air satu ember bekas cucian piring mengguyur tubuhnya.
"akhirnya lo sadar juga" hela rio,agni manyun.
"sadar sih sadar,trus baju gw,gimana nih" gerutu agni.
"yaudah nanti gw pinjemin jaket gw" kata rio.

"ahhahaii,kalo gitu sih disiram bekas air mandi kebo juga gak jadi soal" seru agni dlm hati.



Sepulang sekolah

"hai girls" sapa rio
"hhai rio"
"ekh,ntar maldm dateng ya,ke party dirumah gw" kata rio.
"oh,lo ultah yo?" tanya ify.
"nggak kok,cuma sekedar acara syukuran aja,sekalian biar kalian semua juga tau rumah gw" jawag rio..
"ohh gitu,tenang kita bakal dateng kok" jawab agni..
"yaudah thanks ya,gw duluan,daahh" pamit rio
"dahh rio"


"ekh,ekh,dengerin. Gw punya firasat,di acara party nanti malem rio bakal milih salah satu dari kita buat jadi ceweknya" bisik ify pada ke 3 sobatnya,saat rio mulai menjauh.
"masa sih?" tanya shilla ragu.
"woyadong,gw yakin,hhehe" jawab ify mantap.
"yah,berharap dikit gak ppapa kali ya,siapa tau dia pangeran yg dikirim tuhan sbg jawaban doa kita selama ini,pinter,baik,cakep,perfect" tambah sivia.





Malam harinya



pesta dirumah rio malam itu berlangsung sangat ramai,halaman belakang rumah rio disihir menjadi tempat party yg sangat menakjubkan,kolam renangnya dihiasi lilin yg mengapung tenang,pohon-pohonnya dihiasi beberapa lampu kecil kelap kelip,tangga-tangga batu dihiasi barisan lilin putih yg indah.

Semua larut dalam suasana pesta rio,beberapa teman rio dari sekolah lamanya juga turut hadir. Pedar bintang dan cahaya bulan yg sempurna menambah lengkap acara malam ini.

"rio mana ya" tanya via

shilla,sivia,ify dan agni sudah tiba dilokasi (?) keempat gadis ini sekarang terlihat sangat cantik dgn dress masing-masing,rambut mereka dibiarkan tergerai lurus membingkai paras ayu mereka.
"ekh,itu rionya dateng" tunjuk ify.
"hhai semua" sapa rio.
"hhai juga rio" jawab mereka kompak.
"oh iya,kenalin ini dea,cewek gw" rio mengenalkan cewek yg digandengnya,seorang cewek manis dgn dress ungu membalut tubuh langsingnya.

Shilla,sivia,ify dan agni ternganga.

"aku dea,seneng bisa kenal kalian" dea memamerkan senyum manisnya.
"yaudah,gw sama dea,ke tamu yg lain dulu ya" pamit rio.

"gw penge mati aja" agni putus asa.
"jerawat gw pasti tumbuh banyak bgt besok" keluh sivia.
"sia-sia deh gw dandan berjam-jam" rengek ify.
"kayaknya gw bakal pindah aja deh ke london,minta balikan sama daniel radcliffe" celetuk shilla *hhaha,kasian shilla,danielnya kan udah jadian sama aku*

keempatnya sdkarang terduduk lemas dikursi masing-masing,meratapi nasib mereka yg sangat buruk sampe tdk bisa diutarakan lewat kata-kata (?)

"hhaii,girls" sapa seorang cowok
"hhaii,hhaii,hhaii,gak tau gw lagi kesel apa,gw makan juga dah ni orang" gerutu shilla.
"shill,shill" ify menyenggol-nyenggol shilla.
"apaan sih"
"liat.." shilla mengankat kepalanya..
"OMAIIGOTT" seru shiilla.
"tuhan aku gak jadi mati deh" ralat agni,.
"boleh kenalan kan??" tanya salah seorang cowok.
"boleh banget" seru via sambil mengulurkan tangannya..


merekapun akhirnya berkenalan. ternyata yang menghampiri mereka tdi itu adalah sobat-sobat rio,anak fotograpi.

beberapa saat kemudia setelah asik ngobrol=ngobrol sama pasangan masing-masing,mereka kembali duduk berkumpul..

"iel gak kalah manis dari rio,udah gitu dia juga pinter Matematik" kata via.
"alvin juga gak kalah keren dari rio,udah gitu pinter kimia pula" ucap shilla.
"tak ada rio,debo pun jadi,hhehe.. debo juga pinter fisika lho" pamer ify..
"cakka,ya.. gak seberani rio sihh,tapi so cute.. gw gemes bgt sama dia,dan dia juga pinter biologi" tambah agni.


"ekh,tunggu deh" kata shilla
"matematika" shilla menunjuk sivia
"fisika" shilla menunjuk ify
"biologi" shilla menunjuk agni
"dan kimia" ia mengarahkan telunjuknya kedepan wajahnya..


sesaat mereka terdiam



krik,krik,krik..






1





2





3



"AHHAHAHAHAHA" mereka kompak tertawa..
"bukan cuma bisa date bareng,tapiii...." kata ify.
"JUGA BISA BELAJAR BARENG,yeeeee" seru mereka kompak..