Well ini sebenarnya cerbung lama yang udah pernah gue post tahun 2010an kalo nggak salah. tapi waktu itu tulisannya masih berantakan banget, jadi iseng-iseng gue betulin tulisannya dan sedikit alurnya yang juga nggak keruan, habis itu gue repost. kalau yang ada waktu buat baca lagi, silakan dibaca lagi, kalaupun nggak ya ini kayak yang gue bilang tadi cuma sekedar iseng-isengan aja.
*
Malaikat Hidup Gue Part 3
***
"Fy lo jadikan pura-pura pacaran sama gue?" bisik Rio pelan pada saat jam pelajaran matematika berlangsung.
Ify memutar kedua bola matanya, "tadinya sih gue ok aja mau bantuin lo, tapiii...berhubung tadi pagi aja lo udah bikin gue gondok setengah mampus, jadi ya..." ify menggantung kata-katanya.
"eh fy, kalo lo nggak mau bantuin gue, gue bikin hidup lo nggak tenang. I promise," ancam rio fasih.
Ify mendelik, "jah, ngancam pula, gue nggak takut."
Rio merengut, memamerkan ekspresi kecewa yang menurut ify mirip seorang bocah yang tidak dipenuhi keinginannya.
"muka lo biasa aja kali. Iya, iya, gue bantuin."
Rio mengangkat sebelah alis matanya, "well berarti entar malam lo ke partynya shilla sama gue. dandan yang cantik, jangan malu-maluin, gue mau gelar konfrensi pers tentang hubungan baru kita," pesan rio panjang lebar.
"bawel," cela Ify, kesal.
"hai rio," sapa shilla, gadis itu menghampiri tempat duduk rio dan ify, tersenyum manis hanya pada salah satu dari dua orang di hadapannya, "kamu datang kan ke birthdayku nanti malam?"
"Lihat entar deh," balas Rio ketus.
Shilla mengangguk pelan, lantas segera kembali ke kursinya, tidak ingin kejadian bentak-membentak tempo hari terulang lagi.
*
jam istirahat sudah berbunyi sekitar lima belas menit yang lalu. rio yang tadi memisahkan diri dari kawan-kawannya menuju perpustakaan, sekarang memilih bergabung dengan mereka yang duduk berkeliling di kantin.
"kemana aja lo Yo? baru nongol, untung ni kantin belum dikosongin sama si Ify," kelakar Alvin yang dibalas plototan menyeramkan dari Ify.
"Cari referensi tugas," jawab rio singkat, lalu matanya mulai berkeliling mengamati seisi kantin, tanpa sengaja sepasang bola mata rio terpagut tepat pada coklat jernih milik Ify yang baru Rio sadari duduk tepat di hadapannya, "apa lo ngeliatin gue, ganteng?" sengak Rio.
"idih muka nggak beraturan gitu, lo bilang ganteng??" ejek ify tak mau kalah.
"terserah deh, susah ya ngomong sama orang susah," Rio mengibaskan satu tangannya, tak acuh.
"lo tu blangsak, dasar rese!" gerutu Ify kesal. benar-benar tidak tahu diri pemuda di depannya ini, sudah meminta bantuan padanya bukannnya bermanis-manis ria malah bersikap menyebalkan seperti itu. huh awas saja.
"Udah deh kalian ribut mulu deh, saling suka baru tahu rasa lho," komentar Via.
"Gue sih nggak mungkin suka sama Ify, Vi. nggak tau deh kalau tu cewek aneh naksir gue," Rio mengaduk-aduk jus mangga yang baru saja diantarkan pelayan ke mejanya.
"Idih sarapan apa lo tadi pagi? PD amat, bung?" Cibir Ify, "gue juga ogah kali sama lo."
"Ya we'll see, jangan panggil gue rio kalo gue nggak bisa bikin lo suka sama gue."
"kalau bukan rio, terus gue panggil lo apa dong? Paijo?" Gabriel menatap Rio sok polos.
Rio berdecak, "Ck, whatever."
*
Drrt, drrt.
ify merasakan handphone dalam sakunya bergetar.
From : Rio kunyuk
jam 7 gue jemput di rumah lo, gue nggak suka nunggu jadi be on time.
Ify segera mengetikkan beberapa kalimat untuk membalas pesan singkat dari Rio.
To : Rio kunyuk
sipp, kunyuk.
From : Rio kunyuk
lo tu, kuyuk!
To : Rio kunyuk
bisa nggak sih lo nggak usah cari ribut sama gue?
From : Rio kunyuk
nyuruh gue? siapa lo?
To : Rio kunyuk
calon pacar lo kan? apa nggak jadi aja sandiwaranya?
kalo lo nggak bersikap baik ke gue, gue nggak bakal mau bantu lo. I seriously.
Rio tidak membalas pesan Ify, sepertinya ancaman gadis ini tadi cukup berefek.
*
seorang gadis sedang duduk termenung sendirian, terpaan angin kecil membuat rambutnya bergerak-gerak. sudah berkali-kali ia melihat jam merah muda yang melingkari pergelangan tangannya.
"Huuuh," gadis itu membuang napas, "Bosan," keluhnya.
"via, kok belum pulang?" sapa Gabriel pada gadis itu.
"eh gabriel, iya ni."
"pulang bareng aku aja yuk!" tawar gabriel.
sejenak via terdiam, belum sempat ia memjawab, sosok jangkung itu menghampirinya dan Gabriel. Ia Alvin.
"via sorry ya lama. eh gab, belum balik lo?" sapa Alvin.
"ini mau balik, ya udah gue duluan ya," Gabriel tersenyum tenang. biar, biar hatinya saja yang bergolak tapi tidak dengan bahasa tubuh atau air wajahnya. ia sudah terlatih, ia harus pandai bersandiwara, berlagak semua selalu baik-baik saja. itu sudah jadi keahliannya kan? Ya seperti yang tadi dikatakan, Gabriel sudah terlatih.
*
To : Ify bawel
gue udah depan rumah lo. buruan keluar kita udah telat.
Tak berapa lama ify keluar. gadis itu terlihat manis dalam balutan dress putihnya, rambut panjangnya dibiarkan terurai indah membingkai wajahnya.
Rio menaikkan sebelah alis matanya, "manis," komentarnya singkat.
Ify menunduk, mendadak jadi tersipu-sipu mendengar pujian dari Rio yang hanya satu kata itu.
Rio membukakan pintu mobilnya, mempersilahkan Ify masuk. tak berapa lama sedan kesayangan rio sudah menyusuri jalanan kota bandung yang mulai meremang. Rio berkonsentrasi pada kemudi mobilnya. Malam itu, tak kalah dengan ify, rio pun terlihat lebih lebih lebih tampan dari biasanya (dengan terpaksa Ify harus mengakui bahwa wajar saja banyak siswi-siswi Citra Bangsa yang tertarik pada pemuda di sebelahnya). Untuk menghadiri pesta ulang tahun shilla malam ini, Rio memilih berpenampilan semi formal, ia mengenakan kemeja putih yang lengannya digulung hingga ke siku, dipadu padankan dengan dasi dan celana berwarna hitam, serta sepatu cats warna putih. simple but cool.
Malam ini, ify dan rio terlihat sangat cocok. wajah dan postur tubuh mereka hampir mirip, keduanya juga memiliki senyum yang sama-sama manis,ah apa mungkin dua insan yang hobi beradu mulut ini berjodoh? entahlah.
Tak berapa lama mobil rio terhenti di depan halaman sebuah rumah megah, hingar bingar pesta terdengar dari luar.
"ayo fy," rio mengulurkam tangannya.
"lo yakin ni Yo, kita... pura-pura pacaran?" ekspresi wajah Ify nampak cemas, "Kalo abis ini gue dicakar-cakar sama fans lo gimana?"
"believe me, everything gonna be ok."
perlahan ify mengulurkan tangannya. saat rio menggenggamnya, pemuda itu bisa merasakan tangan ify sangat dingin. rio tersenyum menenangkan ke arah ify, gadis manis itu balas tersenyum meski terlihat dipaksakan.
kedatangan rio dan ify di pesta shilla malam ini menyita perhatian beberapa pasang mata. keduanya berjalan santai menuruni undakan-undakan batu berhias deretan lilin. Dengan nuansa pakaian yang senada dan senyum yang mengembang dari keduanya, sungguh merena nampak seperti king n' queen pestanya shilla. mata-mata usil itu masih saja menguntit setiap pergerakan Rio dan Ify yang sekarang tengah berjalan kearah teman-teman mereka yang berkumpul di tepi kolam renang. Ada Alvin, Gabriel, Via, beberapa teman sekelas mereka yang lain dan juga Shilla yang menatap tidak suka pada gadis yang berjalan bersisian dengan Rio.
"Astagaaa...tampar gue Vin, tampar gue," ujar Gabriel saking terpesonanya melihat dua makhluk itu (Rio dan Ify) akhirnya bisa akur.
PLAK
sebuah tamparan keras mendarat di pipi kanan Gabriel.
"AAAW," gabriel tersentak dihadiahi tamparan seperti itu oleh saudaranya, "apa sih lo Vin? main tampar-tampar aja. sakit ya lo?" gerutu Gabriel mencak-mencak.
"Kan tadi lo yang minta," jawab Alvin sok polos.
"Hai guys," sapa Ify ramah.
Rio dan Ify nampaknya memang terlambat, acara potong kue dan tiup lilin pun sepertinya telah usai.
"hai Rio, kok telat sih?" Shilla beramah-tamah pada Rio, mengabaikan sapaan Ify sebelumnya, "padahal tadinya potongan pertama kue ulangan tahun aku mau buat kamu lho," Shilla memamerkan senyum terbaiknya. gadis itu cantik, ify tentu saja bukan saingannya. apalagi, malam ini, shilla benar-benar seperti barbie dengan long dress dan tatanan rambut yang sempurna. tapi tetap saja, toh secantik apapun Shilla, gadis itu tidak pernah berhasil menawan hati Rio.
"Kenapa nggak lo kasih ke cowok lo aja," sahut Rio, dingin.
Shilla tersipu, "akan belum punya cowok yo."
"Iya doi nungguin lo, Yo. masak lo nggak faham sih?" imbuh Alvin.
"Gue udah punya Ify, cewek gue."
hanya enam kata tapi mampu membuat siapapun yang mendengar pernyataan Rio barusan terlongong-lomgomg sambil berseru "HAAAH???" secara bersamaan. oh my good ini benar-benar keajaiban. bukankah dua makhluk ini tidak pernah akur, setiap pertemuan mereka selalu saja diwarnai perdebatan, bagaimana bisa keduanya jadi sepasang kekasih? belum selesai keterkejutan yang lain setelah mendapat pengumuman kecil dari Rio tadi, tiba-tiba semuanya dikagetkan dengan bunyi...
BYUURR
"Lo nggak pantes buat Rio. nggak pantes," Shilla mendorong Ify ke dalam kolam renang. setiap pemilik mata yang menyaksikan peristiwa pendorongan itu membelalak tak percaya. Shilla yang mereka kenal anggun, ternyata bisa seanarkis itu hanya karena seorang pemuda.
Tanpa babibu rio langsung terjun ke kolam renang, beberapa saat tak ada yang muncul di permukaan air kolam, sejenak shilla ketakutan. setelah sekitar 5 menit berselang barulah rio muncul, dengan susah payah ia membawa ify yang terbatuk-batuk.
Sivia membantu, ia segera menyelimutkan jaket alvin ke tubuh ify dan memeluknya.
"apa-apaan sih lo shil? nggak punya otak lo?" bentak rio kasar.
"semua juga gara-gara lo tau, gara-gara lo!" shilla berteriak sambil menangis, berlari secepatnya ke dalam rumah.
dan pesta perayaan ulang tahun shilla malam itu, benar-benar hancur. hancur seperti hati shilla.
*
via masih tertegun, sepucuk surat dan setangkai mawar putih masih digenggamnya.
mentariku telah ada yang memiliki
tapi aku masih tetap memujanya
karena aku masih sangat membutuhkan sinarnya untuk bertahan
semoga kekagumanku terhadapnya, takkan mengusik kebahagiannya dengan orang pilihannya
begitu isi suratnya. sederhana tapi cukup membuat via bertanya-tanya. siapa pengirim dua benda yang ada di tangannya ini? mungkin kah Alvin?
setelah meletakkan tasnya, via memutuskan untuk berjalan-jalan keluar kelas karena kelasnya masih sangat sepi, saat melewati beberapa kelas, telinganya sudah sangat pengang menangkap sindiran-sindiran menyakitkan tentang sahabatnya dan kejadian semalam.
"si ify pakai dukun kali ya, jelas-jelas kalo si rio waras pasti pilih shilla lah," celetuk seorang siswa.
"atau nggak dia ngancem bunuh diri kali ke rio kalo nggak dipacarin," tambah yang lain.
"emang pangeran es kayak Rio mempan diancam?" balas siswi berbando putih.
"heh" sentak via, "sekali lagi lo ngomong kurang ajar tentang ify, gue kepang lidah lo pada," ancam via, galak.
Dari arah parkiran ify dan rio berjalan santai. Ify masih terlihat pucat dan lesu, jaket rio tersampar dipundaknya, rio terus menggenggam tangan ify yang terasa hangat.
"kenapa nggak istirahat aja dulu di rumah sih, fy?" saran rio.
"gue nggak apa-apa kok," jawab ify lemah, ia menyandarkan kepalanya ke pundak rio.
Mereka berjalan menyusuri koridor-koridor kelas diiringi tatapan jealous, tak menyangka, marah, mencibir, dari berpasang-pasang mata. tapi toh ify maupun rio bergeming. Keduanya sudah sepakat dan tau konsekuensi atas sandiwara ini. Saat di depan kelas, ify dan rio berpapasan dengan shilla, shilla menatap marah pada ify..
Dukk
shilla menghentakan kaki kanannya dengan keras, lalu sengaja menyenggol kasar pundak ify saat berjalan keluar. Rio menatapnya galak.
"udah baikan fy?" tanya via, ify hanya mengangguk samar.
*
"pagi anak-anak," sapa pak tono, guru sejarah yang mengisi jam pertama di kelas XII IPA 1.
"pagi pak," koor anak-anak.
"hari ini kita ulangan!"
"hah? Ulangan apa pak?" tanya danang.
"ya ulangan sejarahlah, masa ulangan tatabogaa. emang kamu fikir saya guru mata pelajaran apa?" jawab pak tono, ketus.
Dengan peraraan kesal setengah mati semua anak terpaksa pasrah, tawakal berserah diri pada tuhan yang maha esa perihal nilai ulangan mereka hari ini.
"kerjakan 30 menit dari sekarang!!!"
Semua murid langsung diam, kelas hening. Hanya terdengar goresan pena di atas kertas yang berlomba dengan waktu.
"waduh mampus gue, gimana ngerjainnya ni," keluh danang, "AHHHAA!" serunya beberapa detik kemudian, ia lalu mengangkat pulpennya dan menulis dengan cepat. belum genap sepuluh menit, danang sudah merapikan kertas ulangan dan alat tulisnya.
"lo udah kelar, Nang?" tanya rizky.
"udah dong!"
"liat dong!"
"ni!" danang mengangsurkan lembar jawabannya kepada Ozy.
nama : M. Danang Pratomo.
kelas: XII IPA 1
mata pelajaran : sejarah
jawaban.
1. ada dibuku hal 48
2. ada di LKS hal 21
3. ada di catetannya rio.
4. sama kaya rio
5. sama kayak rio
rizky melongo...
"lo apa-apaan Nang?" tanya rizky.
"udah jangan bawel, rio kan pinter ya udah gue tulis aja begitu," jawab danang enteng.
"sarap lo!" cela rizky, kemudian kembali menulis.
"nulis apaan lo Ky? tau jawabannya? perasaan otak lo sebelas duabelas deh sama gue," tanya danang.
"ya, gue ngikutin jawaban lo lah.
1. sama kayak Danang
2. sama kayak Danang
3. sama kayak Danang
4. sama kayak Danang
5. sama kayak Danang
ckckck parah.
gabriel juga tak jauh beda, ia masih berkutat di soal terakhir.
"apa perbedaan corak candi di jawa tengah dan candi di jawa timur?"
ia berkali-kali mengacak rambutnya, frustasi karena tidak mampu mengingat jawabannya sama sekali.
"time is over!" seru pak tono.
"waduh gawat, gue asal aja deh daripada nggak diisi," gabriel putus asa.
akhirnya ditulislah jawaban sebagai berikut,
candi jateng adanya di jateng dan candi jatim adanya di jatim.
*
"hai guys!" sapa gabriel yang baru bergabung dengan teman-temannya di kantin.
"hai Gab" balas via.
Beberapa saat pandangan mereka beradu, keduanya saling melempar senyum. riolah orang pertama yang menyadari adegan saling-pandang-dan-tebar-senyum tadi, pemuda itu menggeleng yang percaya.
"kemana aja lo, Gab? tadi dicariin tau," kata Ify.
"dicari siapa?" tanya Gabriel.
"malaikat pencabut nyawa, mau nanya lo udah siap belom katanya," seloroh Ify dengan niat bercanda.
DEGG
Gabriel merasakan hatinya seperti mencelos dari tempat semula setelah mendengar kata-kata Ify barusan, ia langsung pucat.
"hahaha becanda kali Gab. yaelah nggak usah pucet gitu!" Ify tertawa geli, sementara Gabriel hanya tersenyum masam.
"vin!" panggil rio pada pemuda sipit yang duduk di sebelah Via.
"hmm?"
Rio melirik Gabriel dan Via bergantian, "kalo seandainya ya Vin, sodara atau sobat lo deh yang udah deket banget sama lo, ternyata dia suka sama via. nah lo mau gimana tuh?" Rio tersenyum miring, merasakan perubahan ekspresi pada Gabriel dan Via.
Via mulai bergerak tak nyaman di tempatnya, sedangkan Gabriel memandang Rio dengan tatapan tidak suka.
"ya gue bakal pertahanin vialah, gimana pun caranya, kan via punya gue. cinta tu butuh pengorbanan bro," jawab alvin tagas.
Rio mengangkat bahu, "well done," timpalnya singkat.
tak berapa lama setelah percakapan Rio dan Alvin berakhir, bel tanda masuk pun berbunyi. mereka bergegas kembali ke kelas untuk melanjutkan pelajaran. setelah ini siswa siswa XI IPA 1 masih harus berkutat dengan matematika, bahasa inggris, lalu ditutup oleh pelajaran kimia.
*
"SENENG LO?" sentak shilla secara tiba-tiba, membuat seorang pemuda cantik yang berdiri asyik memainkan gadgetnya terperejat. belum sempat gadis itu menimpali bentakan pertama, shilla sudah meluncurkan bentakan-bentakan yang lainnya, "seneng lo fy udah hancurin semuanya, HAH?"
"Maksud lo apa sih?"
"jangan sok bloon gitu deh. lo seneng kan bikin gue patah hati, udah gitu lo juga hancurin pesta ulang tahun gue. lo ada masalah apa sih sama gue? IRI HAH?"
saat ini ruangan kelas XI IPA 1 sudah sepi. bel tanda pelajaran usai sudah berbunyi sejak sepuluh menit yang lalu. ify hanya sendiri di ruangan ini karena tadi rio bilang pamit sebentar untuk ke toilet. Rio dan Ify memang janjian untuk berangkat dan pulang bersama demi mendukung sandiwara mereka.
"lo pasti pake dukun kan buat dapetin rio," tuduh shilla.
Ify tersenyum meremehkan, "kampungan banget sih lo masih percaya sama begituan." ejeknya.
"whatever deh lo mau ngomong apa yang jelas, LO-HARUS-PUTUSIN-RIO-SEKARANG!" tegas shilla, dua bola mata hitamnya menatang manik coklat mata Ify.
"apa?"
"putusin rio atau lo bakal nyesel."
"lo kira gue takut sama ancaman lo?"
"gue nggak bercanda, PUTUSIN RIO!!!" raung shilla.
Ify masih bersikap santai, melipat kedua tangannya di dada, "trus kalopun Rio putus dari gue, apa lo pikir dia mau sama lo?"
"KIARA SAUFIKA,PUTUSIN RIO, dia itu punya gue!!!"
"NGGAK AKAN!!!"
"PUTUS!!!"
"NGGAK!!!"
Shilla sudah mengangkat telapak tangan kanannya tinggi-tinggi, siap mendaratkan satu tamparan di wajah mulus ify.
"CUKUP!" teriak rio yang berdiri di ambang pintu.
"rio," ify berlari menyongsong kedatangan rio, lantas memeluk mesra tubuh jangkung pemuda itu dengan sengaja di hadapan shilla, "Shilla maki-maki aku yo!" adunya, kemudian menjulurkan lidah ke arah shilla.
"BOHONG," bela shilla.
"DIAM!!! lo tu rese banget ya jadi cewek. gue peringatkan sekali lagi lo nyakitin ify, lo bakal terima akibatnya," ancam rio, ekspresinya terlihat begitu marah.
"tapi dia-"
"ayo fy kita pulang!" rio menggandeng ify, keluar.
sebelum melewati ambang pintu, ify memandang dengan tatapan yang berarti lo-udah-kalah, gadis berdagu tirus itu balik mengangdeng tangan rio dan berjalan dengan senyum kemenangan. senang sekali bisa membuat shilla semarah itu, anggap saja yang barusan adalah balasan untuk aksi pendorongan ke kolam renang tempo hari.***
*
"huuuh, selamat deh gue. coba tadi lo telat sebentar aja yo, abis deh pipi gue sama tu nenek lampir," keluh ify, ketika mobil rio berjalan lambat keluar dari lapangan parkir SMA CITRA BANGSA, "tanggung jawab lo tu yo. Si shilla jadi bringas begitukan gara-gara lo padahal dulunya dia anggun lho, walaupun dulu ataupun sekarang tetep aja gue nggak suka sama gayannya," cerocos ify panjang lebar.
Ify tidak menunggu rio membalas celotehannya, sekarang gadis ini sudah faham betul bahwa rio ini adalah tipe orang yang bicara kalau ada perlunya saja, jadi ia tidak begitu peduli apakah rio akan menanggapinya atau tidak.
tak berapa lama, sedan rio menepi tepat di depan rumah ify, "thanks ya yo," Ify tersenyum singkat.
"maaf ya fy, gara-gara bantuin gue, lo jadi berantem sama shilla," rio akhirnya buka suara.
"udahlah nggak usah difikirin yo, shilla emang gitu, apa yang dia mau harus selalu dia dapetin, nggak aneh. asal lo jangan ke-PD-an aja ya, berasa direbutin dua cewek gitu. inget! kalo gue sih cuma pura-pura."
"ye, siapa juga yang ke-PD-an?"
"elo tu yang kePD-an."
"elo kali."
"elo."
"elo."
"tau ah, capek."
"capek kenapa?"
"ngomong sama lo."
"ya udah diem."
"ini juga diem"
"itu masih ngomong?"
"iiiiiihhhh rio, gue tu gemes bangat tau nggak sama lo. rese banget siiiiiih?" ify mengulurkan kedua tangannya, mengacak-acak rambut rio dengan semangat.
"Ifyyyyy, rambut gue rusak!!!" keluh rio.
"nggak kok, tetep keren."
"tumben lo puji gue?
"biarinlah bikin lo seneng, sekali-kali. muka kayak lo pasti nggak pernah dipuji kan. udah ah, gue masuk dulu ya daaahhh," ify keluar dari mobil rio, lantas melambaikan tangan dan mengantarkan kepergian rio beserta sedan hitamnya dengan seulas senyum..
*
setelah dibuat frustasi dan depresi oleh pelajaran kimia yang disusul ulangan fisika, akhirnya siswa kelas XI ipa 1 bisa meloloskan diri. Ini waktunya merela melepas lelah, duka dan nestapa mereka di kantin.
Sebuah meja di sudut kanan kantin sudah diisi oleh tiga mahkluk terlanjur tampan lengkap dgn bidadari-bidadari cantik pendampingnya. keseluruhan dari mereka memasang wajah shock dan putus asa. Kecuali rio yang masih konsisten memajang wajah dinginnya.
"kalo gue jadi presiden, bakal gue hapusin tu pelajaran kimia dari bumi pertiwi tercinta ini," tegas Gabriel dengan nada bicara yang super duper merana.
"minggu lalu katanya MTK yang mau lo hapusin, gab?" kata ify.
"katanya fisika?" tambah via.
"tiga hari yang lalu lo bilang bahasa inggris yang mau lo musnahkan?" imbuh alvin.
"kemarin lo bilang sejarah Gab?" tambah rio.
"ckckck, sekalian aja lo gusurin semua sekolah Gab" decak Ify.
"ide bagus tu, Fy. Negara kan jadi nggak perlu gaji guru dan menteri pendidikan ya," jawab gabriel sekenanya.
"by the way kalo difikir-fikir, sekarang di antara kita bertiga, cuma lo doang deh Gab yang nggak punya cewek," alvin mengamati saudara angkatnya itu dari ujung rambut sampai ke pangkal kaki, seolah sedang mencari tahu apa yang salah dari gabriel, sampai-sampai pemuda tampan ini sampai sekarang belum punya gandengan, "kita cariin pacar yuk, Yo" usul alvin seraya melirik rio.
"jangan!" seru via tiba-tiba. semua kontan melirik ke arahnya.
"kenapa emangnya?" tanya alvin curiga.
"mmm...maksud aku, jangan. ya...itukan urusan pribadinya gabriel," jawab via gelagapan.
"iya, benar tu kata via, lagian emang gue se-nggak laku itu apa sampai harus dicariin pacar segala," tambah iel.
"iya jangan gabriel kan udah mengharapkan seseorang," celetuk rio usil.
"apaan sih lo? sotoy banget," gabriel sewot.
"eh, eh, gimana kalo gabriel sama shilla aja? cantik sama ganteng. Ketua osis sama kapten basket, cocok kan?" usul ify.
"idih jangan mau Gab," Rio bergidik.
"kenapa? shilla kan cantik, cocok kali," sela Alvin.
"cantik dari mana? Cantikan juga ify kali," sanggah rio.
"wohooo iya dong ify gitu kan," ify tersenyum sumringah.
"eh, nggak jadi deh, cantikan kamu aja via," ralat rio seraya tersenyum ke arah via.
"CANTIKAN GUE TAUUU," teriak ify tidak suka.
"aduh ify, lo tu bisa nggak sih yang kalem, yang mamis kayak via. jangan teriak-teriak kayak tarzan di siram air keras gitu. malu-maluin!" rio menutup kedua telinganya.
"duh makasih rio, di puji terus daritadi," balas via lembut.
"sama-sama," jawab rio tak kalah lembut.
"wadohh ify kemana ya? nggak lihat ni cowoknya muji-muji sobatnya sendiri,"ify menyindir, rio mendelik, "lho kenapa berhenti? Ayo terusin aja, ifynya nggak ada kok," lanjutnya sambil beranjak pergi. Setelah beberapa langkah menjauh, ify kembali, "rio!"
"apa?"
"kok nggak ngelarang gue pergi?" ify manyun.
"ya ngapain gue larang? siapa tau lo kebelet poop dari pada keluar di sini? gimana?" jawab rio polos.
"via lo kok mau sih tadi dipuji-puji sama cowok sarap macam si Rio?" tanya ify marah.
"siapa juga yang nggak mau dipuji cowok ganteng," ujar via santai, senang sekali mengusili sobat baiknya sampai manyun-manyum begitu.
"Via jangan kegenitan deh," alvin melirik sinis, yang dibalas cengiran lebar dari gadisnya.
*
siang itu sangat terik, mentari bersinar begitu hebat, seperti berniat memanggang bumi. terpaan angin kecil di sela dedauanan tak lagi terasa menyejukkan. Tapi kelima, pemuda ini masih bersemangat. berlarian di lapangan dengan bola yang dipantul-pantulkan lincah oleh tangan mereka. Gabriel, Rio, Alvin, Cakka, dan septian, mereka adalah pemain inti dari tim basket SMA CITRA BANGSA. Mereka memang lebih sering berlatih basket akhir-akhir ini, mengingat pertandingan basket tingkat nasional akan berlangsung beberapa minggu lagi.
"Break-break!" Gabriel sebagai kapten tim basket terpilih, memberikan instruksi agar timnya beristirahat. pemuda itu nampak pucat dengan keringat yang mengalir deras menuruni pelispisnya. gabriel memegangi dadanya yang tiba-tiba terasa nyeri, ia yakin tidak akan sanggup untuk melanjutkan latihan siang ini, "latihan siang ini udahan sampai sini dulu aja, guys," gabriel duduk berselonjor di tepi lapangan.
"lo kenapa? sakit?" Alvin menghampiri Gabriel, mengangsurkan sebotol air mineral untuk pemuda itu.
Gabriel hanya menggeleng. tidak ingin bicara apa-apa. ia sedang konsentrasi merasakan nyeri yang kini membuat matanya berkunang-kunang.
"Nggak usah bohong? lo kenapa sih, kok akhir-akhir ini kelihatan sering nggak sehat," kini ganti Rio yang mengintrogasi gabriel.
"Gue nggak apa-apa. udah ah jangan pada lebay," Gabriel berusaha tersenyum menenangkan.
Ya, gabriel tidak apa-apa. sungguh. semuanya baik-baik saja. akan selalu baik-baik saja. selamanya. semoga.
***
best regard
via
Tampilkan postingan dengan label Malaikat Hidup Gue. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Malaikat Hidup Gue. Tampilkan semua postingan
Minggu, 28 April 2013
Kamis, 18 April 2013
Malaikat Hidup Gue (part 2) repost
Well ini sebenarnya cerbung lama yang udah pernah gue post tahun 2010an kalo nggak salah. tapi waktu itu tulisannya masih berantakan banget, jadi iseng-iseng gue betulin tulisannya dan sedikit alurnya yang juga nggak keruan, habis itu gue repost. kalau yang ada waktu buat baca lagi, silakan dibaca lagi, kalaupun nggak ya ini kayak yang gue bilang tadi cuma sekedar iseng-isengan aja.
*
Malaikat Hidup Gue Part 2
*
Sore ini indah dengan cipratan keemasan di ufuk barat dan pulasan jingga yang menyeret setiap insan dalam ketenangan. Sore ini menakjubkan, seperti pemandangan di depan Via. Di hadapan gadis berlesung pipi itu berdiri sebatang pohon yang entah bagaimana disulap menjadi begitu menawan. Pohon itu dipasangi foto-foto Via, dalam berbagai gaya dan usia. Foto via kecil yang menggenggam arum manis raksasa, foto via dengan ekspresi kesal yang luar biasa saat ospek SMP, foto saat Via tersenyum, tertawa, membaca, makan, semua lengkap dan digantung dengan pita-pita ungu terang. Terpaan sisa-sisa cahaya mentari yang jatuh disela-sela dedaunan menambah syahdu suasana sore itu. Sedang asik-asiknya mengagumi pemandangan dihadapan Via, gadis itu dikagetkan dengan suara ledakan balon tepat di depan wajahnya. Segulung kertas jatuh dari dalam balon. Via memungut dan membuka lintingannya, gadis itu kian tersipu membaca tulisan yang menyemut rapi didalamnya.
bahkan senja paling sempurna pun tidak bisa menyaingi cantik dan menawannya kamu.
"Vin, semua ini, kamu yang buat?" Via bertanya pada pemuda jangkung di hadapannya yang tadi sempat terabai kehadirannya karena Via terlalu sibuk mengagumi pemandangan yang tertangkap kedua mata indahnya.
"hehehe," alvin hanya menyeringai, "semoga suka ya," lanjutnya.
Via mengangguk, "Banget, suka banget vin."
Alvin lantas berjalan mendekat, hingga jaraknya dengan Via hanya beberapa centimeter. Pemuda itu memagut pandangan gadisnya dengan tatapan yang sangat meneduhkan, "i love you," bisiknya lembut, "would you be mine, Via?" katanya dalam dan sungguh-sungguh.
"Vin... ini serius?"
Alvin menganggung singkat.
"Tapi aku fikir... kita kan sahabat dan... dan..."
"Apa udah ada orang lain di hati kamu?"
"Bukan gitu, tapi nggak nyangka aja kalo..."
"Aku sayang sama kamu Vi, udah lama. Aku tau kita sahabat, tapi aku rasa itu bukan masalah."
Via malah menunduk memainkan ujung-ujung kaos yang ia kenakan. Ada perasaan yang berkecamuk dalam hatinya, perasaan yang sulit dijelaskan. keraguan, ketakutan atau entah apa. Via menatap cemas pemuda di hadapannya. Alvin baik, ia sempurna, bodoh jika Via melepaskan pemuda sesempurna Alvin. Tapi benarkah Alvin adalah yang terbaik ataukah ada yang lain di tempat lain yang lebih bisa meyakinkan dan membuatnya bahagia?
Sivia terdiam sejenak, membuat alvin berdebar tak keruan.
"Gimana Vi, apa aku udah boleh dapet jawabannya?" tanya Alvin, "Tapi kalo kamu butuh waktu, aku bisa kasih kamu waktu sebanyak-banyaknya."
Via menarik napas, memantapkan hatinya. Hidup adalah pilihan dan pilihannya adalah...
"iya, vin." via mengangguk, lalu tersenyum manis.
Sedetik kemudian, Alvin memeluk via erat sekali, Via baru menyadari ternyata sejak tadi keringat dingin bercucuran membasahi tubuh pemuda itu, "makasih vi, makasih. Aku janji nggak akan kecewain kamu," lirih alvin.
Via membalas pelukan Alvin, berharap menemukan keteguhan dalam dekapan pemudanya.
Kegundahan tetap menyapa meski indah telah menjelma.
Meski tak terbaca, meski tak tersibak, tapi ada yang tak terpungkiri.
Ada cinta lain yg lebih diharapkan.
Ada ikatan lain yang telah lebih dulu menjerat hati.
Meski lagi-lagi semua hanya terungkap dalam diam.
Tak jauh dari tempat via dan alvin, sepasang mata memandang nanar pasangan baru itu, "gue nggak tau kalo rasanya bakal sesakit ini," lirih orang itu.
*
Hari ini pelajaran dikelas XI IPA 1 diawali oleh trigonometri dari bu Sasha, semua murid berusaha fokus pada rentetan akar dan rumus dihadapan mereka,tapi nihil. Trigonometri tetap tak mau singgah di otak mereka.
Semakin mereka memperhatikan, yang ada malah membuat mereka ingin buang air atau mual-mual. Setelah lolos dari trigonometri yang mematikan, pelajaran keduanya adalah fisika dengan materi cermin. Arrghh, ini tidak lebih baik. Kepala anak-anak XI IPA 1 sudah mulai berasap. Di saat-saat seperti ini bel tanda istirahat terdengar bagai nyanyian dari nirvana.
"Guys sebelum istirahat, gue minta waktunya sebentar ya," Shilla berdiri di depan kelas, memberikan pengumuman sebelum teman-temannya beranjak dari tempat duduk untuk beristirahat, "Tiga hari lagi kan ulang tahun gue. So, gue mau ngundang kalian semua datang ke party gue, dijamin seru deh, datang ya," ujar shilla diakhiri senyum manis dan lirikan penuh ari hanya ke arah rio meski yang dimaksud malah asyik dengan gadgetnya. jelas sekali bahwa gadis ini sangat mengharapkan kedatangan Rio.
*
Matahari tampaknya sedang on fire. Ia bersemangat sekali mencurahkan sinarnya pada bumi. membuat penghuninya dilanda panas dan gerah yang berlebihan, terutama yang baru selesai jam pelajaran olahraga seperti siswa-siswa kelas XI IPA 1.
Ify menggerak-gerakkan tangannya di depan wajah, "Gila panasnya nyiksa ni," keluhnya.
"Ni..."
Ify menoleh, di sampingnya Rio telah duduk berselonjor, entah sejak kapan pemuda itu berada di sana. Yang paling mengherankan adalah Rio mengangsurkan sebotol minuman dingin pada Ify.
"Buat gue?" tanya Ify tak yakin.
"Iya, ambil buruan sebelum gue berubah fikiran."
Ify mengangkat bahu, "Ok. Thanks. Dalam rangka apa ni?"
"Dalam rangka gue mau minta bantuan lo."
Ify mendelik, "tu kan pasti ada maunya," gerutu Ify, "bantuan apa?"
"Gimana kalo kita pura-pura pacaran?"
"hah?" Ify terlongong.
"iya, kita pura-pura pacaran. Lo pura-pura jadi cewek gue. Lo harus mau."
"Idih maksa banget, kenapa juga gue harus mau?"
"Ya lo kan udah terima minum dari gue."
"Minuman kayak beginian doang mah gue juga bisa beli sendiri kali Yo."
"Ayolah Fy please, gue bener-bener butuh bantuan lo. Ya gue tau mungkin lo bingung, untuk saat ini gue nggak bisa cerita banyak tapi nanti gue pasti jelasin semuanya. Intinya karena satu dan lain hal gue nggak nyaman sama cewek-cewek Citra Bangsa yang yaaa bisa dibilang terlalu welcome sama kedatangan gue, lo ngerti kan maksudnya? Gue minta tolong banget Fy," Rio menelungkupkan kedua tangannya di depan dada, memohon dengan sangat pada gadis manis yang kebingungan di hadapannya.
"Iya gue ngerti, lo minta gue pura-pura jadi pacar lo supaya cewek-cewek yang deketin lo mundur dan ngejauh karena lo risih sama mereka, gitu kan? Tapi kenapa harus gue sih Yo, kenapa nggak lo pilih satu cewek yang emang suka sama lo, Shilla misalnya. Gue yakin lo nggak buta, lo pasti tau kalo Shilla suka sama lo kan dan gue rasa dia juga nggak akan nolak bantuin lo," usul Ify.
"Justru gue nggak mau, karena kalo gue pura-pura pacaran sama Shilla atau cewek lain yang suka sama gue, gue cuma bakal nyakitin mereka. Gue butuh yang kayak elo, yang cuek, yang nggak suka sama gue."
"Terus untungnya buat gue apa?"
"Gue tau lo bukan tipe orang yang perhitungan, please Fy bantuin gue."
"Sampai kapan sandiwara pacaran itu bakal berlangsung?"
Sampai gue bisa lupain masa lalu gue dan kayaknya akan sangat lama, batin Rio sedih
"Nggak akan lama," itulah jawaban yang dipilih Rio, untuk sementara biarlah ia bohongi Ify yang terpenting saat ini adalah bagaimanapun caranya Ify harus mau membantu Rio, "Gimana lo mau kan?"
Ify lagi-lagi mengendikkan bahu, "Ya, Ok lah. Gue bantu. tapi janji ya nggak akan lama dan semua konsekuensinya lo yang tanggung."
"Deal?"
"Deal."
*
Rio terdiam di balkon kamarnya, menatap hamparan bintang yang berpedar mengelilingi sang bulan, semilir angin menyentuh lembut kulit dan ujung-ujung rambutnya. Menikmati malam dengan gelap dan kesunyiannya, membuat rasa rindu terhadap sosok lama itu muncul kembali.
"Udah lah, Ka. Kita punya cita-cita, aku nggak mau hubungan kita akan menghambat mimpi-mimpi kita. Berjuanglah di sana, Kak, karena aku juga akan berjuang dengan hidupku di sini. Aku akan baik-baik saja."
Kalimat Ara lengkap dengan suaranya yang lembut dan senyum penenangnya mengusik renungan Rio. Kenangan tentang Ana bagai kaset yang diputar secara otomatis di kepalanya, secara terus menerus dan berulang-ulang. Entah harus dengan cara apalagi Rio menghapus kengangan itu, melupakan gadisnya, merelakan cintanya pergi, tentu bukan hal yang mudah. Senyum Ana, tatapannya, perhatiannya, wajahnya semua seakan memaksa masuk berjejalan di fikiran rio.
"aarrghhh" erang rio sambil mengacak rambutnya, "sampai kapan Ra, sampai kapan gue kayak gini?"
*
Pagi ini Citra Bangsa SEnior High School sudah sangat ramai. Semua anak seperti digiring berkumpul di lapangan basket. Suara tepuk tangan dan teriakan riuh rendah berdengung di mana-mana. Ternyata senior tim basket sekolah sedang mengadakan seleksi untuk memilih kapten baru untuk tim basket putra Citra Bangsa.
Gabriel, alvin, dan rio mengikuti seleksi tersebut, mereka sangat antusias dan berusaha semaksimal mungkin mengeluarkan kemampuan terbaik dalam mengolah bola. Penonton yang kebanyakan terdiri dari para siswi rela berpanas-panas ria, dijemur di bawah guyuran cahaya matahari hanya untuk menyaksikan aksi para pebasket terbaik Citra Bangsa.
Setelah seleksi selesai, Gabriel, Alvin dan Rio memutuskan untuk pergi ke kantin, karena pengumuman siapa ketua tim basket yang baru akan diumumkan satu jam ke depan. Saat memasuki kantin, ketiganya mengedarkan pandangan ke segala penjuru mencari tempat yang layak dan masih kosong untuk ditempati. Kebetulan hanya ada tiga bangku tersisa di depan Ify dan Via, kedua sobat ini tampaknya sedang bersemangat menyantap makanan masing-masing.
"di sana aja yuk," ajak Alvin bersemangat.
Gabriel dan Rio hanya mengangguk patuh lantas mengikuti Alvin yang berjalan lebih dulu.
"Hai Via," sapa Alvin ramah, "kita gabung ya kosong kan?"
"Ciyee mentang-mentang ya pasangan baru, yang disapa Via aja ni? gue nggak?" seloroh Ify.
"Apa sih Fy, lebay deh," Via menyenggol pelan Ify dengan sikunya, wajah gadis itu semu memerah.
"PJ bisa kali Vin, Vi."
"Iya iya, tapi jangan bikin gue bangkrut Fy. Lo kan biasanya kalo makan nggak kira-kira," balas Alvin.
"Badan begang gitu emang iya makannya banyak?" cela Rio dengan ekspresi tak percaya.
"nggak usah sok-sok ngatain gue begang deh, lo nggak punya kaca apa?"
"Tapi lo lebih begang kali Fy dari gue, badan kok kayak sapu lidi."
"Lo tu ya, jarang ngomong sekalinya ngomong bikin emosi. lagian ya tolong dicatat, badan gue tu badan model kali, tinggi langsing" bela ify.
Rio tidak membalas hanya melempari Ify dengan kulit kacang.
"Udah jangan pada ribut deh lo berdua, saling suka tau rasa deh," komentar Gabriel.
Rio tersenyum tipis kemudian melirik singkat gadis yang sebentar lagi akan menjadi "pacarnya".
"eh vi, itu ada kotoran di pipi kamu," kata alvin sambil menghapus lelehan coklat di sudut bibir via.
"gue cabut duluan ya," tiba-tiba Gabriel bangkit dari kursinya dan bergegas untuk pergi, tapi belum sempat melangkah jauh ia merasakan pusing yang teramat. Kepalanya serasa dilempari puluhan batu. ia terduduk kembali, menunduk seraya meremas rambut.
"aarrghh," erangnya. Wajah Gabriel memerah yang tidak ada hubungannya dengan cuaca panas di sekitarnya, rahang pemuda itu mengeras menahan sakit.
"lo kenapa, Gab?" tanya alvin cemas.
"Gabriel hidung kamu berdarah," imbuh Via tak kalah kalut.
via dengan cepat menghampiri Gabriel, mengeluarkan sapu tangannya dan perlahan menghapus darah segar yang mengalir dari hidung Gabriel. Saat ini, dengan posisi sedekat ini, Gabriel bisa dengan jelas menatap dua bola mata indah itu, "jangan via, aku mohon jangan nangis," batin Gabriel khawatir melihat selaput bening yang terpeta pada sepang bola mata Via.
"tolong cariin es batu, Fy," perintah Via.
Ify pun dengan sigap langsung berlari, tak berapa lama gadis itu kembali dengan sebalok es batu ditangannya, "nih" katanya dengan napas terengah.
"Ya Tuhan, Ify, lo kira Gabriel mau jualan es campur, yang kecilan aja kali nggak usah sebalok gini," Rio sangat gemas melihat kelakuan ajaib Ify, gadis ini benar-benar langka.
"biar cepet mampet, Rioooo."
"udah-udah, fy. Gue nggak apa-apa, udah berenti kok mimisannya," kata iel sambil memegangi sapu tangan via di bawah hidungnya.
"lo sakit Gab?" tanya alvin.
"nggak kok, paling karena panas banget aja ni cuacanya," balas Gabriel santai.
"yaudah, balik aja yuk, lo naik mobil gue aja. motor lo, tinggal aja di sekolah," ajak alvin yang masih memasang wajah cemas.
"iya, pulang gih, ntar hasil seleksinya, gue smsin lo berdua," kata rio.
Gabriel menurut, alvin memapahnya perlahan. saat melewati sivia, gabriel menatapnya sekilas, gadis itu hanya menunduk.
"aku duluan ya vi" pamit alvin, tangan kirinya mengacak poni kekasihnya.
*
PANTI ASUHAN KASIH BUNDA
Kesinilah Gabriel mengajak via jalan-jalan sore ini, pemuda itu sudah nampak lebih sehat pasca insiden mimisan tadi siang. tadinya Alvin juga ingin ikut bersama Gabriel dan Via, hanya saja pemuda itu sudah ada janji dengan klub fotografernya. Sejenak via bingung, tumben sekali Gabriel mengajaknya ke tempat seperti ini. Biasanya taman ria, pasar malam atau yang paling mainstream adalah mall dan bioskop. Pemuda ini memang sangat payah kalo urusan mencari tempat jalan.
"ayo, vi" Gabriel membukakan pintu mobilnya untuk via.
"tempat apaan sih ini?"
"panti untuk anak-anak penderita kanker."
"kanker? trus kenapa kamu ajak aku kesini? " tanya via.
Gabriel tidak menjawab, ia hanya tersenyum dan membimbing via masuk dengan menggandeng jemari gadis itu. Gabriel tau ini salah, tapi ia nyaman menikmati jalaran rasa hangat yang memenuhi rongga dadanya saat jemarinya bertaut dengan milik Via, ya Via, gadis saudaranya. Entah pengkhiannatan macam apa ini.
Saat memasuki halaman bangunan bercat hijau muda itu, Gabriel dan via disambut senyum hangat anak-anak penghuni panti, mereka sangat ceria, tak akan ada yang menyangka bahwa sosok-sosok kecil ini mungkin esok atau lusa akan pergi meninggalkan dunia. Semangat dan kebersamaan menghiasi setiap sudut tempat ini.
"kak Gabriieeelll," sapa seorang gadis kecil berkuncir ekor kuda yang datang menyongsong kedatangan Gabriel dengan berlari.
"eh Aren" Gabriel berjongkok, mengecup penuh sayang puncak kepala Aren.
"kakak kemana aja? Kok nggak pernah kesini?" tanya aren.
"kakak sibuk sama sekolah, sayang. Eh iya kenalin, ini teman kakak," kata Gabriel.
"hai aren, aku via" ujar via sambil mengulurkan tangannya.
"Hallo kak, aku Aren. kak via cantik ya, kak?" puji Aren seraya menarik-narik ujung baju Gabriel.
Gabriel mengangguk setuju.
"aren juga cantik," balas via.
"kakak pasti putri cantiknya kak gabriel ya?" tanya aren.
"putri cantik?" tanya via bingung.
"ssttt, aren itu kan rahasia kita," sela gabriel.
"oh iya, hehe," Aren menyeringai, ekh kakak-kakak main yuk teman-teman pasti seneng kalo tau kakak datang, apalagi bawa teman baru, ayuk kak," aren menarik tangan via dan Gabriel, "teman-teman coba tebak, siapa yang datan?" seru aren.
"KAK GABRIEELLL!!!" koor anak-anak seraya berlarian kearah Gabriel.
"kakak, aku kangen."
"kak apa kabar?"
"kakak kemana aja?"
semua anak terlihat sangat dekat dan menyayangi Gabriel. Via yang pada dasarnya memang menyukai anak kecil, jadi cepat akrab dengan mereka. Kekagumannya terhadap sosok Gabriel tanpa ia sadari mulai tumbuh. Di balik sosoknya yang slengekan, jayus, nggak romantis dan kadang seenaknya, ternyata Gabriel bisa begitu diidolakan oleh anak-anak, bahkan anak-anak penderita kanker. Diajak kemari oleh Gabriel juga membuat Via begitu bersyukur atas hidupnya yang nyaris sempurna. Via tersenyum... "semangat via!" tekadnya dalam hati.
"hei,senyum-senyum sendiri." tegur iel.
"kamu udah sering kesini ya?"
Gabriel mengangguk, "tau nggak kenapa kamu aku ajak kesini?"
Via menggeleng pelan.
"Suatu saat kalo kamu sedih, kamu ngerasa hidup yang harus kamu lalui terlalu berat, kamu ingat lagi hari ini. kamu ingat gimana perjuangan anak-anak di sini melawan penyakit mereka. kamu ingat gimana semangat mereka buat sembuh. manusia nggak pernah benar-benar punya alasan buat sedih, Vi, kalau semua diahadapi dengan senyum dan semangat. itu yang aku pelajari dari anak-anak di sini." papar gabriel panjang lebar, "jadi kalo lagi berantem sama pacar baru kamu, jangan pake galau-galau segala ya," goda Gabriel ditambah senyum usil.
"Ih apa siiiihh jayus deh," Via menjulurkan lidah, "sayang ya Alvin nggak bisa ikut kita kesini. sok sibuk tu bocah," lanjutnya menggerutu.
Gabriel tersenyum masam, "kamu tau Vi? aku sakit."
"Hah? maksudnya?"
Gabriel lagi-lagi tidak menjawab, membiarkan pertanyaan Via menggantung begitu saja. ia malah berdiri dan menggendong aren di punggungnya, "kita nyanyi sama-sama yuk" ajak Gabriel yang meninggalkan Via berikut pertanyyannya seorang diri.
Via tergugu, menatap punggung Gabriel yang menjauh.
*
Seperti biasa, kelas XI ipa 1, sepagi ini sudah ramai, makhluk-makhluk penghuninya sudah berkicau ngalor ngidul nggak jelas arah dan tujuannya. Ify berjalan ringan menyusuri barisan meja dan kursi di kelas, menuju tempat duduknya. betapa jengkelnya gadis itu melihat Rio si cowok mulut cabe (julukan terkini Ify untuk Rio) sudah duduk manis di tempat Via.
"ngapain lo duduk disini? kemarin kan udah gue usir, ini kursi Via tau. ngerti bahasa indonesia nggak sih lo?"
"Yaelah, nyerocos aja, bawel!" sentak Rio, "Sobat lo, si via noh duduk sama pacarnya. kalo nggak disini, lo mau nyuruh gue duduk dimana? lo mau gue lesehan gitu?" rio sewot.
Ify merengut, "lo tu emang bener-benernya, ngeselin klimaks!!!" Ify membanting tasnya lalu duduk dengan kedua tangan terlipat di dada dan bibir mengerucut beberapa centi.
"lo tu yang ngeselin, mak lampir," balas rio tak mau kalah.
"lo kan yang ngajarin."
"lo kan guru gue."
"pokoknya lo lebih ngeselin."
"lo lebih lebih ngeselin."
"lo lebih amat sangat ngeselin."
"lo teramat sangat lebih ngeselin sekali."
"elo...."
"DIAAAMMM!!!"
karena teriakan Pak Arief guru bahasa Indonesia yang entah sejak kapan sudah hadir dalam kelas, adu mulut antara Ify dan Rio terpaksa harus dipending. keduanya kemudian duduk sambil saling menyikut dan injak-injakkan kaki.
"selamat pagi anak-anak," sapa pak arief berwibawa.
"selamat pagi, pak" koor anak-anak.
"ok, seperti telah bapak sampaikan sebelumnya, hari ini kita akan praktek membacakan puisi yang telah kalian buat masing-masing dengan tema bebas. Bapak akan memanggil secara acak, untuk yang pertama, Mario.. silakan!"
rio berjalan ke depan kelas, ia menatap ke arah teman-temannya, menarik nafas sejenak...
Hilang..
Terhenti..
Hanya ingin menepi sejenak, setelah lelah ku berlari.
Menjauh dari sebuah masa yang terus mengejarku.
Semua usai, terhenti tanpa pernah diingini.
Letih...
jalan yg kulalui terlalu panjang untuk ditempuh sendiri.
Arahnya, membendung langkahku.
Likunya mengubur tawaku, merenggut senyumku.
Habis sudah semua terkikis takdir-Mu.
Tapi perihnya tak akan hilang ditelan guliran waktu.
Prok-prok-prok
semua anak memberi applause untuk puisi rio.
"bagus rio, selanjutnya Danang, silakan maju!!!" lanjut pak arief.
CINTA..
Danang mulai membacakan judul puisinya.
Luka-luka-luka
yang kurasakan
bertubi-tubi-tubi
engkau berikan
Cintaku bertepuk sebelah tangan,
tapi aku balas senyum keindahan.
Bertahan satu cinta
bertahan satu
C.I.N.T.A
"kayaknya gue tau deh puisi ini," celetuk rizky yang duduk disebelah daud.
"WOII penyair gagal, itu mah lagunya d'bagindas dodol," seru daud.
"sstt, diem aja sih lo, berisik," Danang memelototi Daud.
"sudah sudah, danang duduk dan perbaiki puisi kamu."
Pembacaan puisi karya masing-masing siswa terus berlanjut, adanya puisinya begitu indah dan menyentuh, ada yang ambigu antara membuat puisi atau cerpen, ada yang tidak nyambung dan sebagainya, "dan untuk pembaca puisi terakhir, silakan saudara Gabriel."
mampus gue, kebagian pula. mana belum buat puisinya. alamat ngarang bebas ini sih, batin gabriel
"gabriel, mana kertas puisi kamu?"
"saya sudah hafal pak," jawab gabriel berbohong.
"baiklah, silakan kalau begitu."
aku...
sedikit lelah, karena bertahan sendiri
tapi tak berniat untuk menyerah
selama bunga masih merekah
mentari bersinar cerah
aku tak ingin pergi
aku tak ingin berhenti
mereka, orang-orang terkasihku
telah kah mereka sadari?
telahkah mereka pahami?
hilangnya tawaku
hilangnya semangatku
hilangnya peganganku
atau memang hanya aku yang menyadarinya???
tapi biarlah,
karena selayaknya mereka tak perlu
tentang aku,
tentang kerapuhanku,
tentang sebenarnya aku...
puisi itu mengalir begitu saja dari mulut iel, tapi rangkaian kata sederhana itu ternyata mampu membius semua orang dalam ruangan kelas. benar jika orang berkata, yang betul-betul dari hati akan lebih terasa maknanya. seperti puisi gabriel tadi, curahan isi hatinya. setelah dirasa usai dengan puisi dadakannya, gabriel membungkuk memberi salam tapi seisi kelas masih saja terdiam, hening.
waduh ,puisi gue kayaknya ancur banget deh, sampai pada shock gini, batin gabriel.
"SEKIAN DAN TRIMAKASIH" teriak Gabriel, mengagetkan semuanya.
"Oh ya ya, bagus gabriel, bagus." puji pak arief.
"Hah?" Gabriel tampak bingung, bagaimana mungkin puisi seabsurd itu bisa dibilang bagus, dimana letak kebagusannya, "Makasih pak," ujarnya seraya berjalan menuju kursinya.
***
best regard
via
*
Malaikat Hidup Gue Part 2
*
Sore ini indah dengan cipratan keemasan di ufuk barat dan pulasan jingga yang menyeret setiap insan dalam ketenangan. Sore ini menakjubkan, seperti pemandangan di depan Via. Di hadapan gadis berlesung pipi itu berdiri sebatang pohon yang entah bagaimana disulap menjadi begitu menawan. Pohon itu dipasangi foto-foto Via, dalam berbagai gaya dan usia. Foto via kecil yang menggenggam arum manis raksasa, foto via dengan ekspresi kesal yang luar biasa saat ospek SMP, foto saat Via tersenyum, tertawa, membaca, makan, semua lengkap dan digantung dengan pita-pita ungu terang. Terpaan sisa-sisa cahaya mentari yang jatuh disela-sela dedaunan menambah syahdu suasana sore itu. Sedang asik-asiknya mengagumi pemandangan dihadapan Via, gadis itu dikagetkan dengan suara ledakan balon tepat di depan wajahnya. Segulung kertas jatuh dari dalam balon. Via memungut dan membuka lintingannya, gadis itu kian tersipu membaca tulisan yang menyemut rapi didalamnya.
bahkan senja paling sempurna pun tidak bisa menyaingi cantik dan menawannya kamu.
"Vin, semua ini, kamu yang buat?" Via bertanya pada pemuda jangkung di hadapannya yang tadi sempat terabai kehadirannya karena Via terlalu sibuk mengagumi pemandangan yang tertangkap kedua mata indahnya.
"hehehe," alvin hanya menyeringai, "semoga suka ya," lanjutnya.
Via mengangguk, "Banget, suka banget vin."
Alvin lantas berjalan mendekat, hingga jaraknya dengan Via hanya beberapa centimeter. Pemuda itu memagut pandangan gadisnya dengan tatapan yang sangat meneduhkan, "i love you," bisiknya lembut, "would you be mine, Via?" katanya dalam dan sungguh-sungguh.
"Vin... ini serius?"
Alvin menganggung singkat.
"Tapi aku fikir... kita kan sahabat dan... dan..."
"Apa udah ada orang lain di hati kamu?"
"Bukan gitu, tapi nggak nyangka aja kalo..."
"Aku sayang sama kamu Vi, udah lama. Aku tau kita sahabat, tapi aku rasa itu bukan masalah."
Via malah menunduk memainkan ujung-ujung kaos yang ia kenakan. Ada perasaan yang berkecamuk dalam hatinya, perasaan yang sulit dijelaskan. keraguan, ketakutan atau entah apa. Via menatap cemas pemuda di hadapannya. Alvin baik, ia sempurna, bodoh jika Via melepaskan pemuda sesempurna Alvin. Tapi benarkah Alvin adalah yang terbaik ataukah ada yang lain di tempat lain yang lebih bisa meyakinkan dan membuatnya bahagia?
Sivia terdiam sejenak, membuat alvin berdebar tak keruan.
"Gimana Vi, apa aku udah boleh dapet jawabannya?" tanya Alvin, "Tapi kalo kamu butuh waktu, aku bisa kasih kamu waktu sebanyak-banyaknya."
Via menarik napas, memantapkan hatinya. Hidup adalah pilihan dan pilihannya adalah...
"iya, vin." via mengangguk, lalu tersenyum manis.
Sedetik kemudian, Alvin memeluk via erat sekali, Via baru menyadari ternyata sejak tadi keringat dingin bercucuran membasahi tubuh pemuda itu, "makasih vi, makasih. Aku janji nggak akan kecewain kamu," lirih alvin.
Via membalas pelukan Alvin, berharap menemukan keteguhan dalam dekapan pemudanya.
Kegundahan tetap menyapa meski indah telah menjelma.
Meski tak terbaca, meski tak tersibak, tapi ada yang tak terpungkiri.
Ada cinta lain yg lebih diharapkan.
Ada ikatan lain yang telah lebih dulu menjerat hati.
Meski lagi-lagi semua hanya terungkap dalam diam.
Tak jauh dari tempat via dan alvin, sepasang mata memandang nanar pasangan baru itu, "gue nggak tau kalo rasanya bakal sesakit ini," lirih orang itu.
*
Hari ini pelajaran dikelas XI IPA 1 diawali oleh trigonometri dari bu Sasha, semua murid berusaha fokus pada rentetan akar dan rumus dihadapan mereka,tapi nihil. Trigonometri tetap tak mau singgah di otak mereka.
Semakin mereka memperhatikan, yang ada malah membuat mereka ingin buang air atau mual-mual. Setelah lolos dari trigonometri yang mematikan, pelajaran keduanya adalah fisika dengan materi cermin. Arrghh, ini tidak lebih baik. Kepala anak-anak XI IPA 1 sudah mulai berasap. Di saat-saat seperti ini bel tanda istirahat terdengar bagai nyanyian dari nirvana.
"Guys sebelum istirahat, gue minta waktunya sebentar ya," Shilla berdiri di depan kelas, memberikan pengumuman sebelum teman-temannya beranjak dari tempat duduk untuk beristirahat, "Tiga hari lagi kan ulang tahun gue. So, gue mau ngundang kalian semua datang ke party gue, dijamin seru deh, datang ya," ujar shilla diakhiri senyum manis dan lirikan penuh ari hanya ke arah rio meski yang dimaksud malah asyik dengan gadgetnya. jelas sekali bahwa gadis ini sangat mengharapkan kedatangan Rio.
*
Matahari tampaknya sedang on fire. Ia bersemangat sekali mencurahkan sinarnya pada bumi. membuat penghuninya dilanda panas dan gerah yang berlebihan, terutama yang baru selesai jam pelajaran olahraga seperti siswa-siswa kelas XI IPA 1.
Ify menggerak-gerakkan tangannya di depan wajah, "Gila panasnya nyiksa ni," keluhnya.
"Ni..."
Ify menoleh, di sampingnya Rio telah duduk berselonjor, entah sejak kapan pemuda itu berada di sana. Yang paling mengherankan adalah Rio mengangsurkan sebotol minuman dingin pada Ify.
"Buat gue?" tanya Ify tak yakin.
"Iya, ambil buruan sebelum gue berubah fikiran."
Ify mengangkat bahu, "Ok. Thanks. Dalam rangka apa ni?"
"Dalam rangka gue mau minta bantuan lo."
Ify mendelik, "tu kan pasti ada maunya," gerutu Ify, "bantuan apa?"
"Gimana kalo kita pura-pura pacaran?"
"hah?" Ify terlongong.
"iya, kita pura-pura pacaran. Lo pura-pura jadi cewek gue. Lo harus mau."
"Idih maksa banget, kenapa juga gue harus mau?"
"Ya lo kan udah terima minum dari gue."
"Minuman kayak beginian doang mah gue juga bisa beli sendiri kali Yo."
"Ayolah Fy please, gue bener-bener butuh bantuan lo. Ya gue tau mungkin lo bingung, untuk saat ini gue nggak bisa cerita banyak tapi nanti gue pasti jelasin semuanya. Intinya karena satu dan lain hal gue nggak nyaman sama cewek-cewek Citra Bangsa yang yaaa bisa dibilang terlalu welcome sama kedatangan gue, lo ngerti kan maksudnya? Gue minta tolong banget Fy," Rio menelungkupkan kedua tangannya di depan dada, memohon dengan sangat pada gadis manis yang kebingungan di hadapannya.
"Iya gue ngerti, lo minta gue pura-pura jadi pacar lo supaya cewek-cewek yang deketin lo mundur dan ngejauh karena lo risih sama mereka, gitu kan? Tapi kenapa harus gue sih Yo, kenapa nggak lo pilih satu cewek yang emang suka sama lo, Shilla misalnya. Gue yakin lo nggak buta, lo pasti tau kalo Shilla suka sama lo kan dan gue rasa dia juga nggak akan nolak bantuin lo," usul Ify.
"Justru gue nggak mau, karena kalo gue pura-pura pacaran sama Shilla atau cewek lain yang suka sama gue, gue cuma bakal nyakitin mereka. Gue butuh yang kayak elo, yang cuek, yang nggak suka sama gue."
"Terus untungnya buat gue apa?"
"Gue tau lo bukan tipe orang yang perhitungan, please Fy bantuin gue."
"Sampai kapan sandiwara pacaran itu bakal berlangsung?"
Sampai gue bisa lupain masa lalu gue dan kayaknya akan sangat lama, batin Rio sedih
"Nggak akan lama," itulah jawaban yang dipilih Rio, untuk sementara biarlah ia bohongi Ify yang terpenting saat ini adalah bagaimanapun caranya Ify harus mau membantu Rio, "Gimana lo mau kan?"
Ify lagi-lagi mengendikkan bahu, "Ya, Ok lah. Gue bantu. tapi janji ya nggak akan lama dan semua konsekuensinya lo yang tanggung."
"Deal?"
"Deal."
*
Rio terdiam di balkon kamarnya, menatap hamparan bintang yang berpedar mengelilingi sang bulan, semilir angin menyentuh lembut kulit dan ujung-ujung rambutnya. Menikmati malam dengan gelap dan kesunyiannya, membuat rasa rindu terhadap sosok lama itu muncul kembali.
"Udah lah, Ka. Kita punya cita-cita, aku nggak mau hubungan kita akan menghambat mimpi-mimpi kita. Berjuanglah di sana, Kak, karena aku juga akan berjuang dengan hidupku di sini. Aku akan baik-baik saja."
Kalimat Ara lengkap dengan suaranya yang lembut dan senyum penenangnya mengusik renungan Rio. Kenangan tentang Ana bagai kaset yang diputar secara otomatis di kepalanya, secara terus menerus dan berulang-ulang. Entah harus dengan cara apalagi Rio menghapus kengangan itu, melupakan gadisnya, merelakan cintanya pergi, tentu bukan hal yang mudah. Senyum Ana, tatapannya, perhatiannya, wajahnya semua seakan memaksa masuk berjejalan di fikiran rio.
"aarrghhh" erang rio sambil mengacak rambutnya, "sampai kapan Ra, sampai kapan gue kayak gini?"
*
Pagi ini Citra Bangsa SEnior High School sudah sangat ramai. Semua anak seperti digiring berkumpul di lapangan basket. Suara tepuk tangan dan teriakan riuh rendah berdengung di mana-mana. Ternyata senior tim basket sekolah sedang mengadakan seleksi untuk memilih kapten baru untuk tim basket putra Citra Bangsa.
Gabriel, alvin, dan rio mengikuti seleksi tersebut, mereka sangat antusias dan berusaha semaksimal mungkin mengeluarkan kemampuan terbaik dalam mengolah bola. Penonton yang kebanyakan terdiri dari para siswi rela berpanas-panas ria, dijemur di bawah guyuran cahaya matahari hanya untuk menyaksikan aksi para pebasket terbaik Citra Bangsa.
Setelah seleksi selesai, Gabriel, Alvin dan Rio memutuskan untuk pergi ke kantin, karena pengumuman siapa ketua tim basket yang baru akan diumumkan satu jam ke depan. Saat memasuki kantin, ketiganya mengedarkan pandangan ke segala penjuru mencari tempat yang layak dan masih kosong untuk ditempati. Kebetulan hanya ada tiga bangku tersisa di depan Ify dan Via, kedua sobat ini tampaknya sedang bersemangat menyantap makanan masing-masing.
"di sana aja yuk," ajak Alvin bersemangat.
Gabriel dan Rio hanya mengangguk patuh lantas mengikuti Alvin yang berjalan lebih dulu.
"Hai Via," sapa Alvin ramah, "kita gabung ya kosong kan?"
"Ciyee mentang-mentang ya pasangan baru, yang disapa Via aja ni? gue nggak?" seloroh Ify.
"Apa sih Fy, lebay deh," Via menyenggol pelan Ify dengan sikunya, wajah gadis itu semu memerah.
"PJ bisa kali Vin, Vi."
"Iya iya, tapi jangan bikin gue bangkrut Fy. Lo kan biasanya kalo makan nggak kira-kira," balas Alvin.
"Badan begang gitu emang iya makannya banyak?" cela Rio dengan ekspresi tak percaya.
"nggak usah sok-sok ngatain gue begang deh, lo nggak punya kaca apa?"
"Tapi lo lebih begang kali Fy dari gue, badan kok kayak sapu lidi."
"Lo tu ya, jarang ngomong sekalinya ngomong bikin emosi. lagian ya tolong dicatat, badan gue tu badan model kali, tinggi langsing" bela ify.
Rio tidak membalas hanya melempari Ify dengan kulit kacang.
"Udah jangan pada ribut deh lo berdua, saling suka tau rasa deh," komentar Gabriel.
Rio tersenyum tipis kemudian melirik singkat gadis yang sebentar lagi akan menjadi "pacarnya".
"eh vi, itu ada kotoran di pipi kamu," kata alvin sambil menghapus lelehan coklat di sudut bibir via.
"gue cabut duluan ya," tiba-tiba Gabriel bangkit dari kursinya dan bergegas untuk pergi, tapi belum sempat melangkah jauh ia merasakan pusing yang teramat. Kepalanya serasa dilempari puluhan batu. ia terduduk kembali, menunduk seraya meremas rambut.
"aarrghh," erangnya. Wajah Gabriel memerah yang tidak ada hubungannya dengan cuaca panas di sekitarnya, rahang pemuda itu mengeras menahan sakit.
"lo kenapa, Gab?" tanya alvin cemas.
"Gabriel hidung kamu berdarah," imbuh Via tak kalah kalut.
via dengan cepat menghampiri Gabriel, mengeluarkan sapu tangannya dan perlahan menghapus darah segar yang mengalir dari hidung Gabriel. Saat ini, dengan posisi sedekat ini, Gabriel bisa dengan jelas menatap dua bola mata indah itu, "jangan via, aku mohon jangan nangis," batin Gabriel khawatir melihat selaput bening yang terpeta pada sepang bola mata Via.
"tolong cariin es batu, Fy," perintah Via.
Ify pun dengan sigap langsung berlari, tak berapa lama gadis itu kembali dengan sebalok es batu ditangannya, "nih" katanya dengan napas terengah.
"Ya Tuhan, Ify, lo kira Gabriel mau jualan es campur, yang kecilan aja kali nggak usah sebalok gini," Rio sangat gemas melihat kelakuan ajaib Ify, gadis ini benar-benar langka.
"biar cepet mampet, Rioooo."
"udah-udah, fy. Gue nggak apa-apa, udah berenti kok mimisannya," kata iel sambil memegangi sapu tangan via di bawah hidungnya.
"lo sakit Gab?" tanya alvin.
"nggak kok, paling karena panas banget aja ni cuacanya," balas Gabriel santai.
"yaudah, balik aja yuk, lo naik mobil gue aja. motor lo, tinggal aja di sekolah," ajak alvin yang masih memasang wajah cemas.
"iya, pulang gih, ntar hasil seleksinya, gue smsin lo berdua," kata rio.
Gabriel menurut, alvin memapahnya perlahan. saat melewati sivia, gabriel menatapnya sekilas, gadis itu hanya menunduk.
"aku duluan ya vi" pamit alvin, tangan kirinya mengacak poni kekasihnya.
*
PANTI ASUHAN KASIH BUNDA
Kesinilah Gabriel mengajak via jalan-jalan sore ini, pemuda itu sudah nampak lebih sehat pasca insiden mimisan tadi siang. tadinya Alvin juga ingin ikut bersama Gabriel dan Via, hanya saja pemuda itu sudah ada janji dengan klub fotografernya. Sejenak via bingung, tumben sekali Gabriel mengajaknya ke tempat seperti ini. Biasanya taman ria, pasar malam atau yang paling mainstream adalah mall dan bioskop. Pemuda ini memang sangat payah kalo urusan mencari tempat jalan.
"ayo, vi" Gabriel membukakan pintu mobilnya untuk via.
"tempat apaan sih ini?"
"panti untuk anak-anak penderita kanker."
"kanker? trus kenapa kamu ajak aku kesini? " tanya via.
Gabriel tidak menjawab, ia hanya tersenyum dan membimbing via masuk dengan menggandeng jemari gadis itu. Gabriel tau ini salah, tapi ia nyaman menikmati jalaran rasa hangat yang memenuhi rongga dadanya saat jemarinya bertaut dengan milik Via, ya Via, gadis saudaranya. Entah pengkhiannatan macam apa ini.
Saat memasuki halaman bangunan bercat hijau muda itu, Gabriel dan via disambut senyum hangat anak-anak penghuni panti, mereka sangat ceria, tak akan ada yang menyangka bahwa sosok-sosok kecil ini mungkin esok atau lusa akan pergi meninggalkan dunia. Semangat dan kebersamaan menghiasi setiap sudut tempat ini.
"kak Gabriieeelll," sapa seorang gadis kecil berkuncir ekor kuda yang datang menyongsong kedatangan Gabriel dengan berlari.
"eh Aren" Gabriel berjongkok, mengecup penuh sayang puncak kepala Aren.
"kakak kemana aja? Kok nggak pernah kesini?" tanya aren.
"kakak sibuk sama sekolah, sayang. Eh iya kenalin, ini teman kakak," kata Gabriel.
"hai aren, aku via" ujar via sambil mengulurkan tangannya.
"Hallo kak, aku Aren. kak via cantik ya, kak?" puji Aren seraya menarik-narik ujung baju Gabriel.
Gabriel mengangguk setuju.
"aren juga cantik," balas via.
"kakak pasti putri cantiknya kak gabriel ya?" tanya aren.
"putri cantik?" tanya via bingung.
"ssttt, aren itu kan rahasia kita," sela gabriel.
"oh iya, hehe," Aren menyeringai, ekh kakak-kakak main yuk teman-teman pasti seneng kalo tau kakak datang, apalagi bawa teman baru, ayuk kak," aren menarik tangan via dan Gabriel, "teman-teman coba tebak, siapa yang datan?" seru aren.
"KAK GABRIEELLL!!!" koor anak-anak seraya berlarian kearah Gabriel.
"kakak, aku kangen."
"kak apa kabar?"
"kakak kemana aja?"
semua anak terlihat sangat dekat dan menyayangi Gabriel. Via yang pada dasarnya memang menyukai anak kecil, jadi cepat akrab dengan mereka. Kekagumannya terhadap sosok Gabriel tanpa ia sadari mulai tumbuh. Di balik sosoknya yang slengekan, jayus, nggak romantis dan kadang seenaknya, ternyata Gabriel bisa begitu diidolakan oleh anak-anak, bahkan anak-anak penderita kanker. Diajak kemari oleh Gabriel juga membuat Via begitu bersyukur atas hidupnya yang nyaris sempurna. Via tersenyum... "semangat via!" tekadnya dalam hati.
"hei,senyum-senyum sendiri." tegur iel.
"kamu udah sering kesini ya?"
Gabriel mengangguk, "tau nggak kenapa kamu aku ajak kesini?"
Via menggeleng pelan.
"Suatu saat kalo kamu sedih, kamu ngerasa hidup yang harus kamu lalui terlalu berat, kamu ingat lagi hari ini. kamu ingat gimana perjuangan anak-anak di sini melawan penyakit mereka. kamu ingat gimana semangat mereka buat sembuh. manusia nggak pernah benar-benar punya alasan buat sedih, Vi, kalau semua diahadapi dengan senyum dan semangat. itu yang aku pelajari dari anak-anak di sini." papar gabriel panjang lebar, "jadi kalo lagi berantem sama pacar baru kamu, jangan pake galau-galau segala ya," goda Gabriel ditambah senyum usil.
"Ih apa siiiihh jayus deh," Via menjulurkan lidah, "sayang ya Alvin nggak bisa ikut kita kesini. sok sibuk tu bocah," lanjutnya menggerutu.
Gabriel tersenyum masam, "kamu tau Vi? aku sakit."
"Hah? maksudnya?"
Gabriel lagi-lagi tidak menjawab, membiarkan pertanyaan Via menggantung begitu saja. ia malah berdiri dan menggendong aren di punggungnya, "kita nyanyi sama-sama yuk" ajak Gabriel yang meninggalkan Via berikut pertanyyannya seorang diri.
Via tergugu, menatap punggung Gabriel yang menjauh.
*
Seperti biasa, kelas XI ipa 1, sepagi ini sudah ramai, makhluk-makhluk penghuninya sudah berkicau ngalor ngidul nggak jelas arah dan tujuannya. Ify berjalan ringan menyusuri barisan meja dan kursi di kelas, menuju tempat duduknya. betapa jengkelnya gadis itu melihat Rio si cowok mulut cabe (julukan terkini Ify untuk Rio) sudah duduk manis di tempat Via.
"ngapain lo duduk disini? kemarin kan udah gue usir, ini kursi Via tau. ngerti bahasa indonesia nggak sih lo?"
"Yaelah, nyerocos aja, bawel!" sentak Rio, "Sobat lo, si via noh duduk sama pacarnya. kalo nggak disini, lo mau nyuruh gue duduk dimana? lo mau gue lesehan gitu?" rio sewot.
Ify merengut, "lo tu emang bener-benernya, ngeselin klimaks!!!" Ify membanting tasnya lalu duduk dengan kedua tangan terlipat di dada dan bibir mengerucut beberapa centi.
"lo tu yang ngeselin, mak lampir," balas rio tak mau kalah.
"lo kan yang ngajarin."
"lo kan guru gue."
"pokoknya lo lebih ngeselin."
"lo lebih lebih ngeselin."
"lo lebih amat sangat ngeselin."
"lo teramat sangat lebih ngeselin sekali."
"elo...."
"DIAAAMMM!!!"
karena teriakan Pak Arief guru bahasa Indonesia yang entah sejak kapan sudah hadir dalam kelas, adu mulut antara Ify dan Rio terpaksa harus dipending. keduanya kemudian duduk sambil saling menyikut dan injak-injakkan kaki.
"selamat pagi anak-anak," sapa pak arief berwibawa.
"selamat pagi, pak" koor anak-anak.
"ok, seperti telah bapak sampaikan sebelumnya, hari ini kita akan praktek membacakan puisi yang telah kalian buat masing-masing dengan tema bebas. Bapak akan memanggil secara acak, untuk yang pertama, Mario.. silakan!"
rio berjalan ke depan kelas, ia menatap ke arah teman-temannya, menarik nafas sejenak...
Hilang..
Terhenti..
Hanya ingin menepi sejenak, setelah lelah ku berlari.
Menjauh dari sebuah masa yang terus mengejarku.
Semua usai, terhenti tanpa pernah diingini.
Letih...
jalan yg kulalui terlalu panjang untuk ditempuh sendiri.
Arahnya, membendung langkahku.
Likunya mengubur tawaku, merenggut senyumku.
Habis sudah semua terkikis takdir-Mu.
Tapi perihnya tak akan hilang ditelan guliran waktu.
Prok-prok-prok
semua anak memberi applause untuk puisi rio.
"bagus rio, selanjutnya Danang, silakan maju!!!" lanjut pak arief.
CINTA..
Danang mulai membacakan judul puisinya.
Luka-luka-luka
yang kurasakan
bertubi-tubi-tubi
engkau berikan
Cintaku bertepuk sebelah tangan,
tapi aku balas senyum keindahan.
Bertahan satu cinta
bertahan satu
C.I.N.T.A
"kayaknya gue tau deh puisi ini," celetuk rizky yang duduk disebelah daud.
"WOII penyair gagal, itu mah lagunya d'bagindas dodol," seru daud.
"sstt, diem aja sih lo, berisik," Danang memelototi Daud.
"sudah sudah, danang duduk dan perbaiki puisi kamu."
Pembacaan puisi karya masing-masing siswa terus berlanjut, adanya puisinya begitu indah dan menyentuh, ada yang ambigu antara membuat puisi atau cerpen, ada yang tidak nyambung dan sebagainya, "dan untuk pembaca puisi terakhir, silakan saudara Gabriel."
mampus gue, kebagian pula. mana belum buat puisinya. alamat ngarang bebas ini sih, batin gabriel
"gabriel, mana kertas puisi kamu?"
"saya sudah hafal pak," jawab gabriel berbohong.
"baiklah, silakan kalau begitu."
aku...
sedikit lelah, karena bertahan sendiri
tapi tak berniat untuk menyerah
selama bunga masih merekah
mentari bersinar cerah
aku tak ingin pergi
aku tak ingin berhenti
mereka, orang-orang terkasihku
telah kah mereka sadari?
telahkah mereka pahami?
hilangnya tawaku
hilangnya semangatku
hilangnya peganganku
atau memang hanya aku yang menyadarinya???
tapi biarlah,
karena selayaknya mereka tak perlu
tentang aku,
tentang kerapuhanku,
tentang sebenarnya aku...
puisi itu mengalir begitu saja dari mulut iel, tapi rangkaian kata sederhana itu ternyata mampu membius semua orang dalam ruangan kelas. benar jika orang berkata, yang betul-betul dari hati akan lebih terasa maknanya. seperti puisi gabriel tadi, curahan isi hatinya. setelah dirasa usai dengan puisi dadakannya, gabriel membungkuk memberi salam tapi seisi kelas masih saja terdiam, hening.
waduh ,puisi gue kayaknya ancur banget deh, sampai pada shock gini, batin gabriel.
"SEKIAN DAN TRIMAKASIH" teriak Gabriel, mengagetkan semuanya.
"Oh ya ya, bagus gabriel, bagus." puji pak arief.
"Hah?" Gabriel tampak bingung, bagaimana mungkin puisi seabsurd itu bisa dibilang bagus, dimana letak kebagusannya, "Makasih pak," ujarnya seraya berjalan menuju kursinya.
***
best regard
via
Label:
Malaikat Hidup Gue
Kamis, 28 Maret 2013
Malaikat Hidup Gue (Part 1) repost
Well ini sebenarnya cerbung lama yang udah pernah gue post tahun 2010an kalo nggak salah. tapi waktu itu tulisannya masih berantakan banget, jadi iseng-iseng gue betulin tulisannya dan sedikit alurnya yang juga nggak keruan, habis itu gue repost. kalau yang ada waktu buat baca lagi, silakan dibaca lagi, kalaupun nggak ya ini kayak yang gue bilang tadi cuma sekedar iseng-isengan aja.
***
Malaikat Hidup Gue Part 1
***
Plukk. Seorang gadis memukul jam weker berbentuk ayam yang bertengger nyaman dekat tempat tidurnya. Jarum pendek dan panjangnya berkombinasi menunjukkan pukul lima pagi.
"hahaha, hari ini lo kalah cepet bangunnya, sama gue," ujar pemilik tangan halus yang tadi dengan serampangan memukul bagian atas jam weker.
Ia keluar dari selimutnya, mengucek mata, merentangkan kedua tangan dan melakukan ritual bangun tidur yang lainnya sebelum akhirnya memutuskan beranjak kearah jendela. Disibaknya tirai biru muda yang menjuntai dihadapannya dengan satu tangan, mata bulatnya sontak melebar, mulutnya ternganga melihat pemandangan didepannya.
Barisan awan putih berarak teratur mengelilingi matahari yang muncul malu-malu di ufuk timur. Sinarnya yang kemilau, jatuh berlandas pada punggung burung-burung cantik yang riuh kicauannya beradu dengan suara ibu-ibu yang tengah sibuk tawar-menawar dengan pedagang sayuran. tertangkap pula pemandangan segerombol bocah SD yang akan berangkat ke sekolah. Ia lagi-lagi mengucek mata, memastikan tidak ada yang salah dengan penglihatannya.
"Sejak kapan jam lima pagi mataharinya udah tinggi? Jangan-jangan beneran udah mau kiamat," batinnya. Ia segera keluar dari kamarnya, saat melihat jam dinding cantik di ruang keluarga, ia menjerit heboh, "HUWAAAA, ify telaaat."
Kiara Saufika atau ify, begitu ia akrab disapa. Ify adalah gadis kelas 2 SMA berperawakan kurus yang biasa saja, tidak cantik ataupun populer. Hanya mungkin senyum khasnya yang membuat gadis ini selalu terlihat manis dan ceria. Ify adalah anak tunggal, orang tuanya adalah pebisnis yang sedang giat-giatnya merintis usaha mereka. Jadilah di rumahnya yang cukup besar itu, ify hanya tinggal bersama pembantu dan supirnya.
*
"hosh... hosh..., Pak bukain dong, pak!" pinta ify dengan napas yang masih tersengal-sengal, pada satpam sekolahnya.
Satpam dengan kumis tebal melintang diantara mulut dan hidungnya itu menggeleng, "Aduh ify lagi, ify lagi. Tidak tidak, kamu ini kebiasaan tau tidak, telat terus," tolak pak satpam.
"Yah, ayolah pak. Bapak ganteng deh, baik lagi bukain ya pak, sekali ini aja" rayu ify sambil memasang wajah termelas sedunia.
"Ya sudah, ya sudah, cepat masuk tapi ingat ya satu kali ini saja, tidak untuk lain kali," pak satpam membukaan gerbang untuk ify.
"wahh pak, makasih ya. Selamat deh saya dari si mulut petir." ucap ify, sambil menyeka keringat di dahinya.
"Mulut petir?"
“Iya itu lho, pak. Bu Nanik, dia itu kan ya pak, galak banget, suaranya cempreng, jutek pula. Pantes aja nggak laku-laku." cibir ify dengan nada jengkel yang tersirat jelas pada suaranya. Ify memang amat sangat membenci guru BKnya itu, karena sering dihukum lantaran telat.
"Siapa yang nggak laku-laku, Kiara?" tanya seorang wanita di belakang ify.
"Ya bu Nan-" ify mendadak merasa tidak enak hati untuk melanjutkan kata-katanya, dengan perlahan ia menoleh ke belakang, "Eh, Ibu Nanik, pagi bu..." sapanya, takut-takut.
"selamat siang, Kiara." balas bu Nanik dengan sinis.
"Tapi ini masih jam 9 lho bu."
"Saya tidak peduli, sekarang cepat kamu ikut saya ke kantor."
"Tapi bu-"
"Shut up and follow me Kiara Saufika. I have a lot of special punishment for you." ketus bu Nanik.
Ify pun berjalan mengikuti bu Nanik dengan langkah lemah, letih, lesu, lemas dan lunglai layaknya orang terserang anemia. Ia pasrah akan kelanjutan hidupnya setelah ini.
*
"Kiara-"
"Ify, bu," sela ify yang kurang nyaman dipanggil dengan nama depannya.
"Whatever, kamu tau? Ibu pastikan tahun ini kamu akan mendapat award sebagai murid yang paling sering terlambat. Kamu itu generasi muda dan........ " bu Nanik mulai berkicau dengan riang gembira, membuat telinga ify panas membara. entah apa yang disantap guru ini saat sarapan pagi, hingga mempunyai energi yang luar biasa untuk marah-parah di pagi hari yang cerah ceria (namun suram bermendung untuk Ify)ini. Pada intinya, akhirnya ify dihukum membersihkan seluruh piala yang dimiliki sekolahnya dengan catatan harus bersih bening seperti tanpa noda, clinggg.
Saat sedang sibuk menikmati hukumannya membersihkan piala, Ia mendengar percakapan bu Nanik dengan seseorang yang sepertinya murid baru.
"Oh jadi kamu mario stevano, murid pindahan dari manado itu ya? Baiklah, mari saya antar ke kelasmu" ucapnya dengan nada yang menurut ify dimanis-maniskan.
"mario? hm, pasti spesies cowok ganteng ni, keliatan banget bu Nanik jadi sok manis begitu." batin ify.
*
Setelah bel istirahat kedua berbunyi, ify baru selesai mengerjakan hukumannya. Ia benar-benar berjanji tidak akan terlambat lagi seumur hidupnya, hukuman kali ini benar-benar menyiksa, "Bu Nanik kayaknya dendam banget sama gue, sial!" gerutunya, kesal. Ify berniat ke kantin sebelum masuk kelas, saat melewati lapangan basket, ia melihat fenomena yang tidak biasa terjadi di sekolah tercintanya. Ify melihat siswi-siswi terpana, mata mereka seperti mau loncat dari tempatnya. Ada yang menjerit gemas, menunjuk-nunjuk ke arah lapangan dengan ekspresi yang sulit diartikan.
"Woy! Ngapain lo bengong disini?" tegur seorang gadis pada ify.
"Eh, elo vi, ngagetin aja. Itu ada apaan sih? rame banget" tanya ify.
"Nggak tau, ada aki-aki shuffle kali, apa gangnam style ya? " jawab gadis yg bernama via itu, sekenanya, "ekh iya, lo kemana aja jam segini baru nongol?" tanya via.
"Abis pemotretan dulu." jawab ify, enteng.
"Ngek, paling juga lo telat, lo kira gue nggak tau prinsip lo, 'nggak akan bangun sebelum matahari bersinar cerah' iyakan bu? huu sok pemotretan badan ceking begini aja," ledek via seraya menyenggol tubuh ify.
"Kalo lo tau, trus ngapain nanya. Ekh liat yuk, ada apaan," ajak ify, sambil menarik tangan via kearah lapang basket, "Ohh, pantes pada mupeng, ada cowok-cowok sok kegantengan lagi main basket." gumam ify.
"Siapa?" tanya via ingin tau, iya yang sedikit lebih pendek dari Ify berjinjit-jinjit untuk melihat apa yang terjadi di lapangan basket.
"Biasa Vi sobat lo tuh, Gabriel sama Alvin. Udah ah nggak penting, ke kelas aja yuk. Jam istirahat kedua kayaknya juga udah mau abis." ajak Ify.
Via menurut, dengan santai ia mengekor Ify menuju kelas mereka.
*
"Eh tau nggak kayaknya Gabriel sama Alvin bakal punya CS baru ni." ucap Seruni, siswi berkulit hitam manis pada Ify.
"Siapa?" tanya Ify ingin tau, sambil menoleh ke arah Seruni yang duduk tepat di belakangnya.
"Yang tadi main basket barengan Gabriel sama Alvin, sama lo nggak tau, anak-anak kan heboh banget," jelas Seruni, "Eh tu orangnya," ia mengangkat dagunya menunjuk ke arah pintu.
Terlihat Gariel, Alvin, dan seorang pemuda jangkung dengan kulit hitam manis yang asing bagi Ify, berjalan ke dalam kelas sambil bercanda. Semua mata langsung tertuju pada mereka, yang putri sih tentu saja dengan tatapan kagum plus senyum manis yang dibuat-buat sedangkan yang putra lebih ke arah iri dan jengkel karena pemuda-pemuda kelewat sempurna seperti Gabriel, Alvin dan anak baru itulah, kaum adam di sekolah ini banyak yang bergelar jomblo.
"Siapa dia?" lagi-lagi Ify bertanya pada Seruni.
"Mario, murid baru pindahan dari Manado."
Ify mengangguk paham, kemudian memutuskan menghampiri tempat duduk kosong didepannya yang sekarang dihuni sang murid baru, "Oh, ini toh murid barunya, manis sih pantes bu Nanik jadi sok manis tadi," Ify membatin. dirasa sepertinya hanya dirinya saja yang belum memperkenalkan diri karena menjalani hukuman tadi, maka Ify berniat untuk beramah-tamah pada penghuni baru kelasnya, "Hai, kenalin gue ify. Nama lo siapa?" sapa ify ramah seraya mengulurkan tangannya dan tersenyum manis.
"Tadi gue udah perkenalan." jawab pemuda di depan ify, dingin, "kalo lo mau tau banget nama gue tanya aja sama yang lain," tambahnya masih dengan suara datar.
Ify menarik kembali tangannya dan segera menuju ke tempat duduknya sambil memasang wajah super duper kesal.
"Hahaha, muke lo apa kabar, non?" goda via, teman sebangku ify.
"diem deh lo vi, tu cowok belagu banget sih. dih, sok cakep," gerutu ify.
Hari ini, guru yang seharus mengajar jam terakhir dikelas ify, kelas XI IPA 1, tidak dapat hadir. Alhasil, kelas menjadi sangat gaduh. Ada yang bermain bola dalam kelas, ada yang bergosip-gosip ria, ada yang nyanyi-nyanyi, dan masih banyak kelakuan-kelakuan ajaib lainnya yang dilakukan para penghuni kelas.
Semua siswa sibuk dengan kegiatan nggak penting mereka masing-masing, begitu pula dengan sang murid baru. Mario atau Rio, begitu ia akrab disapa. Ia juga tengah sibuk. Sibuk dengan dunianya sendiri, dunia yang mengurungnya dalam jurang penyesalan, yang mengubur semua tawa dan senyum manisnya. Dunia yang menjadikannya pendiam dan tertutup, yang ingin ia tinggalkan namun memeluknya begitu erat. Dunia yang tidak pernah ia bagi dengan orang lain. Ia memejamkan mata, membiarkan fikirnya melayang jauh menyapa sosok gelap dari masa lalunya.
"Hai, Rio"
"Shit!" umpar Rio tertahan. Ia paling benci diganggung apalagi oleh makhluk yang berjenis kelamin perempuan.
Rio membuka mata, seorang gadis berdiri dihadapannya. gadis cantik berkulit putih, tinggi semampai dengan rambut panjang yang terurai melewati bahunya. Gadis itu tersenyum. Kalau tidak salah gadis ini (seperti teman-teman yang lain) tadi memperkenalkan namanya, tapi apa peduli Rio? Sekarang saja ia sudah lupa siapa nama gadis berperawakan model dihadapannya.
"Kok diam aja, nggak gabung sama yang lain?" tanya gadis tadi, "Eh, aku boleh duduk disini ya," sambungnya.
Rio, bergeming.
"Kamu pindahan dari Manado ya?" kembali terlontar satu pertanyaan, padahal pertanyaan-pertanyaan sebelumnya bahkan belum menemui jawaban, "kenapa pindah kesini?" gadis tadi terus saja mengoceh, tidak menyadari ketidaksukaan si lawan bicara.
"DIAM!!!" sentak Rio, kesal, "Bisa diam nggak lo? Bawel banget jadi cewek." bentak rio, lalu pindah ke samping tempat duduk ify.
Semua anak menatap heran pada Rio. Aneh juga melihat Rio bisa semarah itu hanya karena disapa, padahal yang menyapanya juga gadis secantik Shilla Azahra, ketua OSIS perempuan pertama di Citra Bangsa High School. Dan yang paling parah, Rio berlalu begitu saja seperti tanpa dosa meninggalkan Shilla yang tertegun saking kagetnya untuk pertama kali disentak seperti itu di depan umum.
"Eh eh ngapain lo duduk disini? Sana hush hush." usir ify pada rio yang tiba-tiba duduk disebelahnya.
"Lo kira gue kucing? nggak, gue nggak mau pindah." balas rio, cuek.
"Tapi ini tempat duduk temen gue."
"Gue juga kan sekarang temen lo."
"Ih sudi amat," gumam Ify.
"Apa loe bilang?"
Ify tidak menjawab, malah melengos tak acuh.
"Gue Rio," ujar Rio, memperkenalkan diri.
"Oh."
"Oh doang?"
"Lha emang harusnya gimana? ntar kalo bawel-bawel gue disentak lagi kayak Shilla."
"Bagus deh kalo lo ngerti," komentar Rio, lalu kembali memejamkan mata dan tenggelam dalam pelukan masa lalunya.
*
Malam ini, Gabriel dan Alvin diundang untuk mengunjungi kediaman Rio. Rumah Rio berada di salah satu komplek perumahan mewah tak jauh dari sekolah mereka. Bangunan yang berdiri angkuh di hadapan Gabriel dan Alvin saat ini, cukup mewah dan besar. halamannya luas, pagarnya tinggi menjulang. Awalnya Rio tinggal di Manado bersama Ayah, Ibu dan Kakaknya, tapi karena satu dan lain hal sekarang Rio memutuskan untuk tinggal bersama Omanya di Bandung.
"Weis, rumahnya Rio gede ya," celetuk Gabriel.
"Norak lo!!" ejek Alvin.
"Pasti bokapnya pengusaha sukses," tebak Gabriel.
"Dokter kayaknya," tebak Alvin.
"koruptor barangkali," ceplos Gabriel.
"Heh koruptor, nenek lo ngedance, asal nyablak aja lo."
"Lhokok malah ngobrol depan pintu, ayo masuk," ujar Rio yang tiba-tiba muncul dari balik pintu.
Mereka bertiga, langsung menuju kamar Rio di lantai dua. Kamar rio termasuk rapi untuk ukuran seorang anak laki-laki. Setelah mengambil posisi yang nyaman, mereka lalu bercakap-cakap, berbagi cerita, tertawa, saling ejek, larut dalam obrolan dari yang penting sampai hal-hal konyol yang tidak perlu diperbincangkan. Walaupun baru saling mengenal tapi Gabriel dan Alvin tampaknya sudah tidak merasa canggung dengan keberadaan Rio. Gabriel dan Alvin sendiri adalah saudara, tapi bukan saudara sekandung. Ayah Alvin sudah meninggal sejak usia Alvin satu tahun, sedangkan ibunya adalah wanita karir yang sukses, karenanya ia kesulitan membagi waktu untuk sekedar menemani Alvin bermain. Ketika usia Alvin menginjak lima tahun, ibunya semakin sadar bahwa putra tunggalnya kesepian dan membutuhkan teman main. Diputuskanlah untuk mengadopsi seorang anak yang seusia dengan Alvin dari panti asuhan dan Gabriellah yang beruntung. Diangkat anak oleh keluarga yang cukup berada, mempunyai ibu dan saudara yang juga sangat menyayangingya. Gabriel dan Alvin sangat kompak, sama-sama tampan dan aktif, tidak heran jika keduanya jadi idola di sekolah.
*
Kantin sudah sangat ramai, padahal bel istirahat baru berbunyi lima menit yang lalu. Nampaknya seluruh siswa merasa perlu memberi asupan pada perut mereka sesegera mungkin sebelum cacing-cacing penghuninya berorasi atau bahkan bertindak anarkis. Ify dan Via menjadi bagian dari sekian banyak siswa yang tumpah ruah di dalam kantin. Sedang asik-asiknya menikmati makanan, tiba-tiba saja ada tiga orang kakak kelas menghampiri mereka dengan wajah pongah luar biasa.
"Heh, awas lo semua, ini tempat gue," ujar kakak kelas berbehel biru.
"Oh iya kah? kok nggak ada tulisannya ya?" sahut Via.
"Banyak omong banget sih lo. Adik kelas aja songong." bentak yang lain.
"Kakak ini nggak liat kalo kita duluan yang duduk di sini?" timpal Ify.
"Kalian nggak tau siapa kita? tinggal minggir aja susah banget." lanjut kakak kelas terakhir, yang berbadan paling tinggi diantara ketiganya.
"Tau kok, kalian ini kakak kelas nggak mutu yang doyannya ngebully adik kelas doang kan? gitu aja bangga. dikira gue takut sama lo semua?" Via menjawab dengan lantang, tak peduli mereka sudah jadi bahan tontonan orang sekantin, termasuk Gabriel, Alvin dan Rio yang juga sedang menghabiskan waktu istirahat mereka.
"Apa lo bilang?" salah seorang kakak kelas yang berdiri paling dekat dengan Via sudah mengangkat tangan sebagai ancaman, "Coba ngomong seklai lagi!"
"Ah males!!! udah yuk Fy kita cabut, ambil tu tempat duduk sama lo semua sekalian makan jajanan BEKAS kita juga boleh kok, kita SUMBANGIN!!!" Via lantas menarik tangan Ify menerobos berikade kecil kakak kelas mereka.
"Sialan lo, anak kecil belagu." umpat kakak kelas berbehel biru dengen wajah memerah.
"Cewek-cewek tempat duduk aja diributin," komentar Rio sinis.
"Gila berani banget tu si Via, kakak kelas bro," kagum Alvin.
"Sobat gue gitu," bangga Gabriel.
"Iya sobat lo dan gebetan gue hehehe," balas Alvin.
"Apa?" Gabriel terkeju, "Tapi kita kan sahabatan Vin, gue fikir kita nggak boleh-"
"Ah sekarang kan sahabat jadi cinta udah zamannya Gab, sampai dibikin lagu kan sama Zigaz." jawab alvin enteng.
Gabriel terdiam. Mendadak saja ada denyutan nyeri yang menyerangnya saat mendengar penuturan Alvin.
"Jangan-jangan lo juga suka ya GAb sama Via?" tebak Rio asal, "Udah nggak usah patah hati Gab, lo sama gue aja soalnya gue nggak suka cewek, lo kan ganteng ni." lanjut Rio semakin ngawur.
"Idih ngaco amat lo, gue normal kali."
"Tapi lo serius kan nggak suka sama Via? lo nggak keberatan kan kalo gue jadian sama Via? soalnya gue ada rencana mau nembak dia dalam waktu dekat." tutur Alvin, mengabaikan ekspresi wajah saudaranya yang kian masam.
"Nembak? tapi lo nggak mau pdkt atau apa gitu, masa langsung nembak?
"Kita kan kenal Via udah dari kecil kali Gab, dari SD masa masih harus pakai pdkt segala."
"Oh," Gabriel hanya bergumam singkat, "Kenapa harus Via, Vin?" batin Gabriel, perih.
*
Ify entah bagaimana lupa mengumpulkan buku tugas matematikanya padahal semalaman ia bergadang mengerjakan tugas yang diberikan. Karena tidak mau rugi, Ify bergegas mengumpulkannya ke ruangan guru, semoga saja ia beruntung dan tugasnya masih diterima. Dengan tergesa dibukanya pintu sekencang mungkin karena tadi pagi kenop pintu kelasnya sempat macet. Sementara itu Rio dari luar berniat masuk kelas, alhasil... DUUGGG
"AWW!!!" pekik rio yang terbentur pintu kelas hingga tersungkur ke lantai.
"Waduh, Yo. Ngapain lo tiduran di lantai?" tanya Ify polos.
"Tiduran pale lo kotak, buka pintu liat-liat dong!!!" Marah Rio.
"Oh salah gue? Ya, maaf gue kan nggak tau, lo sih pake berdiri di situ,"
Rio mengelus-elus kening malangnya, "Buku lo gue sita sebagai balasannya," Rio dengan cekatan merebut buku dalam dekapan Ify, tapi sesaat kemudian air wajah pemuda itu berubah dari galak menjadi suram dan menyedihkan setelah mebaca nama yang tercantum dalam sampul buku Ify, "Nama lo Kiara?" tanyanya tak percaya.
"Iya, udah ah Rio nggak lucu, gue lagi buru-buru, mana balikin buku gue!"
"Tapi lo bilang nama lo Ify?"
"Ya udah sih suka-suka gue. Kepo banget lo." sewot Ify lantas balas merebut bukunya dari tangan Rio, kemudian kabur ke arah ruang guru.
Sementara itu Rio tercenung, "Nggak mungkin," katanya seraya menggeleng. Ia sudah pergi sejauh ini, melarikan diri dari Manado ke Bandung, meninggalkan keluarga tercintanya, masih belum cukupkah? akan sia-siakah semuanya hanya karena nama yang sama?
Kiara Anastasya dan Kiara Saufika.
*
***
Malaikat Hidup Gue Part 1
***
Plukk. Seorang gadis memukul jam weker berbentuk ayam yang bertengger nyaman dekat tempat tidurnya. Jarum pendek dan panjangnya berkombinasi menunjukkan pukul lima pagi.
"hahaha, hari ini lo kalah cepet bangunnya, sama gue," ujar pemilik tangan halus yang tadi dengan serampangan memukul bagian atas jam weker.
Ia keluar dari selimutnya, mengucek mata, merentangkan kedua tangan dan melakukan ritual bangun tidur yang lainnya sebelum akhirnya memutuskan beranjak kearah jendela. Disibaknya tirai biru muda yang menjuntai dihadapannya dengan satu tangan, mata bulatnya sontak melebar, mulutnya ternganga melihat pemandangan didepannya.
Barisan awan putih berarak teratur mengelilingi matahari yang muncul malu-malu di ufuk timur. Sinarnya yang kemilau, jatuh berlandas pada punggung burung-burung cantik yang riuh kicauannya beradu dengan suara ibu-ibu yang tengah sibuk tawar-menawar dengan pedagang sayuran. tertangkap pula pemandangan segerombol bocah SD yang akan berangkat ke sekolah. Ia lagi-lagi mengucek mata, memastikan tidak ada yang salah dengan penglihatannya.
"Sejak kapan jam lima pagi mataharinya udah tinggi? Jangan-jangan beneran udah mau kiamat," batinnya. Ia segera keluar dari kamarnya, saat melihat jam dinding cantik di ruang keluarga, ia menjerit heboh, "HUWAAAA, ify telaaat."
Kiara Saufika atau ify, begitu ia akrab disapa. Ify adalah gadis kelas 2 SMA berperawakan kurus yang biasa saja, tidak cantik ataupun populer. Hanya mungkin senyum khasnya yang membuat gadis ini selalu terlihat manis dan ceria. Ify adalah anak tunggal, orang tuanya adalah pebisnis yang sedang giat-giatnya merintis usaha mereka. Jadilah di rumahnya yang cukup besar itu, ify hanya tinggal bersama pembantu dan supirnya.
*
"hosh... hosh..., Pak bukain dong, pak!" pinta ify dengan napas yang masih tersengal-sengal, pada satpam sekolahnya.
Satpam dengan kumis tebal melintang diantara mulut dan hidungnya itu menggeleng, "Aduh ify lagi, ify lagi. Tidak tidak, kamu ini kebiasaan tau tidak, telat terus," tolak pak satpam.
"Yah, ayolah pak. Bapak ganteng deh, baik lagi bukain ya pak, sekali ini aja" rayu ify sambil memasang wajah termelas sedunia.
"Ya sudah, ya sudah, cepat masuk tapi ingat ya satu kali ini saja, tidak untuk lain kali," pak satpam membukaan gerbang untuk ify.
"wahh pak, makasih ya. Selamat deh saya dari si mulut petir." ucap ify, sambil menyeka keringat di dahinya.
"Mulut petir?"
“Iya itu lho, pak. Bu Nanik, dia itu kan ya pak, galak banget, suaranya cempreng, jutek pula. Pantes aja nggak laku-laku." cibir ify dengan nada jengkel yang tersirat jelas pada suaranya. Ify memang amat sangat membenci guru BKnya itu, karena sering dihukum lantaran telat.
"Siapa yang nggak laku-laku, Kiara?" tanya seorang wanita di belakang ify.
"Ya bu Nan-" ify mendadak merasa tidak enak hati untuk melanjutkan kata-katanya, dengan perlahan ia menoleh ke belakang, "Eh, Ibu Nanik, pagi bu..." sapanya, takut-takut.
"selamat siang, Kiara." balas bu Nanik dengan sinis.
"Tapi ini masih jam 9 lho bu."
"Saya tidak peduli, sekarang cepat kamu ikut saya ke kantor."
"Tapi bu-"
"Shut up and follow me Kiara Saufika. I have a lot of special punishment for you." ketus bu Nanik.
Ify pun berjalan mengikuti bu Nanik dengan langkah lemah, letih, lesu, lemas dan lunglai layaknya orang terserang anemia. Ia pasrah akan kelanjutan hidupnya setelah ini.
*
"Kiara-"
"Ify, bu," sela ify yang kurang nyaman dipanggil dengan nama depannya.
"Whatever, kamu tau? Ibu pastikan tahun ini kamu akan mendapat award sebagai murid yang paling sering terlambat. Kamu itu generasi muda dan........ " bu Nanik mulai berkicau dengan riang gembira, membuat telinga ify panas membara. entah apa yang disantap guru ini saat sarapan pagi, hingga mempunyai energi yang luar biasa untuk marah-parah di pagi hari yang cerah ceria (namun suram bermendung untuk Ify)ini. Pada intinya, akhirnya ify dihukum membersihkan seluruh piala yang dimiliki sekolahnya dengan catatan harus bersih bening seperti tanpa noda, clinggg.
Saat sedang sibuk menikmati hukumannya membersihkan piala, Ia mendengar percakapan bu Nanik dengan seseorang yang sepertinya murid baru.
"Oh jadi kamu mario stevano, murid pindahan dari manado itu ya? Baiklah, mari saya antar ke kelasmu" ucapnya dengan nada yang menurut ify dimanis-maniskan.
"mario? hm, pasti spesies cowok ganteng ni, keliatan banget bu Nanik jadi sok manis begitu." batin ify.
*
Setelah bel istirahat kedua berbunyi, ify baru selesai mengerjakan hukumannya. Ia benar-benar berjanji tidak akan terlambat lagi seumur hidupnya, hukuman kali ini benar-benar menyiksa, "Bu Nanik kayaknya dendam banget sama gue, sial!" gerutunya, kesal. Ify berniat ke kantin sebelum masuk kelas, saat melewati lapangan basket, ia melihat fenomena yang tidak biasa terjadi di sekolah tercintanya. Ify melihat siswi-siswi terpana, mata mereka seperti mau loncat dari tempatnya. Ada yang menjerit gemas, menunjuk-nunjuk ke arah lapangan dengan ekspresi yang sulit diartikan.
"Woy! Ngapain lo bengong disini?" tegur seorang gadis pada ify.
"Eh, elo vi, ngagetin aja. Itu ada apaan sih? rame banget" tanya ify.
"Nggak tau, ada aki-aki shuffle kali, apa gangnam style ya? " jawab gadis yg bernama via itu, sekenanya, "ekh iya, lo kemana aja jam segini baru nongol?" tanya via.
"Abis pemotretan dulu." jawab ify, enteng.
"Ngek, paling juga lo telat, lo kira gue nggak tau prinsip lo, 'nggak akan bangun sebelum matahari bersinar cerah' iyakan bu? huu sok pemotretan badan ceking begini aja," ledek via seraya menyenggol tubuh ify.
"Kalo lo tau, trus ngapain nanya. Ekh liat yuk, ada apaan," ajak ify, sambil menarik tangan via kearah lapang basket, "Ohh, pantes pada mupeng, ada cowok-cowok sok kegantengan lagi main basket." gumam ify.
"Siapa?" tanya via ingin tau, iya yang sedikit lebih pendek dari Ify berjinjit-jinjit untuk melihat apa yang terjadi di lapangan basket.
"Biasa Vi sobat lo tuh, Gabriel sama Alvin. Udah ah nggak penting, ke kelas aja yuk. Jam istirahat kedua kayaknya juga udah mau abis." ajak Ify.
Via menurut, dengan santai ia mengekor Ify menuju kelas mereka.
*
"Eh tau nggak kayaknya Gabriel sama Alvin bakal punya CS baru ni." ucap Seruni, siswi berkulit hitam manis pada Ify.
"Siapa?" tanya Ify ingin tau, sambil menoleh ke arah Seruni yang duduk tepat di belakangnya.
"Yang tadi main basket barengan Gabriel sama Alvin, sama lo nggak tau, anak-anak kan heboh banget," jelas Seruni, "Eh tu orangnya," ia mengangkat dagunya menunjuk ke arah pintu.
Terlihat Gariel, Alvin, dan seorang pemuda jangkung dengan kulit hitam manis yang asing bagi Ify, berjalan ke dalam kelas sambil bercanda. Semua mata langsung tertuju pada mereka, yang putri sih tentu saja dengan tatapan kagum plus senyum manis yang dibuat-buat sedangkan yang putra lebih ke arah iri dan jengkel karena pemuda-pemuda kelewat sempurna seperti Gabriel, Alvin dan anak baru itulah, kaum adam di sekolah ini banyak yang bergelar jomblo.
"Siapa dia?" lagi-lagi Ify bertanya pada Seruni.
"Mario, murid baru pindahan dari Manado."
Ify mengangguk paham, kemudian memutuskan menghampiri tempat duduk kosong didepannya yang sekarang dihuni sang murid baru, "Oh, ini toh murid barunya, manis sih pantes bu Nanik jadi sok manis tadi," Ify membatin. dirasa sepertinya hanya dirinya saja yang belum memperkenalkan diri karena menjalani hukuman tadi, maka Ify berniat untuk beramah-tamah pada penghuni baru kelasnya, "Hai, kenalin gue ify. Nama lo siapa?" sapa ify ramah seraya mengulurkan tangannya dan tersenyum manis.
"Tadi gue udah perkenalan." jawab pemuda di depan ify, dingin, "kalo lo mau tau banget nama gue tanya aja sama yang lain," tambahnya masih dengan suara datar.
Ify menarik kembali tangannya dan segera menuju ke tempat duduknya sambil memasang wajah super duper kesal.
"Hahaha, muke lo apa kabar, non?" goda via, teman sebangku ify.
"diem deh lo vi, tu cowok belagu banget sih. dih, sok cakep," gerutu ify.
Hari ini, guru yang seharus mengajar jam terakhir dikelas ify, kelas XI IPA 1, tidak dapat hadir. Alhasil, kelas menjadi sangat gaduh. Ada yang bermain bola dalam kelas, ada yang bergosip-gosip ria, ada yang nyanyi-nyanyi, dan masih banyak kelakuan-kelakuan ajaib lainnya yang dilakukan para penghuni kelas.
Semua siswa sibuk dengan kegiatan nggak penting mereka masing-masing, begitu pula dengan sang murid baru. Mario atau Rio, begitu ia akrab disapa. Ia juga tengah sibuk. Sibuk dengan dunianya sendiri, dunia yang mengurungnya dalam jurang penyesalan, yang mengubur semua tawa dan senyum manisnya. Dunia yang menjadikannya pendiam dan tertutup, yang ingin ia tinggalkan namun memeluknya begitu erat. Dunia yang tidak pernah ia bagi dengan orang lain. Ia memejamkan mata, membiarkan fikirnya melayang jauh menyapa sosok gelap dari masa lalunya.
"Hai, Rio"
"Shit!" umpar Rio tertahan. Ia paling benci diganggung apalagi oleh makhluk yang berjenis kelamin perempuan.
Rio membuka mata, seorang gadis berdiri dihadapannya. gadis cantik berkulit putih, tinggi semampai dengan rambut panjang yang terurai melewati bahunya. Gadis itu tersenyum. Kalau tidak salah gadis ini (seperti teman-teman yang lain) tadi memperkenalkan namanya, tapi apa peduli Rio? Sekarang saja ia sudah lupa siapa nama gadis berperawakan model dihadapannya.
"Kok diam aja, nggak gabung sama yang lain?" tanya gadis tadi, "Eh, aku boleh duduk disini ya," sambungnya.
Rio, bergeming.
"Kamu pindahan dari Manado ya?" kembali terlontar satu pertanyaan, padahal pertanyaan-pertanyaan sebelumnya bahkan belum menemui jawaban, "kenapa pindah kesini?" gadis tadi terus saja mengoceh, tidak menyadari ketidaksukaan si lawan bicara.
"DIAM!!!" sentak Rio, kesal, "Bisa diam nggak lo? Bawel banget jadi cewek." bentak rio, lalu pindah ke samping tempat duduk ify.
Semua anak menatap heran pada Rio. Aneh juga melihat Rio bisa semarah itu hanya karena disapa, padahal yang menyapanya juga gadis secantik Shilla Azahra, ketua OSIS perempuan pertama di Citra Bangsa High School. Dan yang paling parah, Rio berlalu begitu saja seperti tanpa dosa meninggalkan Shilla yang tertegun saking kagetnya untuk pertama kali disentak seperti itu di depan umum.
"Eh eh ngapain lo duduk disini? Sana hush hush." usir ify pada rio yang tiba-tiba duduk disebelahnya.
"Lo kira gue kucing? nggak, gue nggak mau pindah." balas rio, cuek.
"Tapi ini tempat duduk temen gue."
"Gue juga kan sekarang temen lo."
"Ih sudi amat," gumam Ify.
"Apa loe bilang?"
Ify tidak menjawab, malah melengos tak acuh.
"Gue Rio," ujar Rio, memperkenalkan diri.
"Oh."
"Oh doang?"
"Lha emang harusnya gimana? ntar kalo bawel-bawel gue disentak lagi kayak Shilla."
"Bagus deh kalo lo ngerti," komentar Rio, lalu kembali memejamkan mata dan tenggelam dalam pelukan masa lalunya.
*
Malam ini, Gabriel dan Alvin diundang untuk mengunjungi kediaman Rio. Rumah Rio berada di salah satu komplek perumahan mewah tak jauh dari sekolah mereka. Bangunan yang berdiri angkuh di hadapan Gabriel dan Alvin saat ini, cukup mewah dan besar. halamannya luas, pagarnya tinggi menjulang. Awalnya Rio tinggal di Manado bersama Ayah, Ibu dan Kakaknya, tapi karena satu dan lain hal sekarang Rio memutuskan untuk tinggal bersama Omanya di Bandung.
"Weis, rumahnya Rio gede ya," celetuk Gabriel.
"Norak lo!!" ejek Alvin.
"Pasti bokapnya pengusaha sukses," tebak Gabriel.
"Dokter kayaknya," tebak Alvin.
"koruptor barangkali," ceplos Gabriel.
"Heh koruptor, nenek lo ngedance, asal nyablak aja lo."
"Lhokok malah ngobrol depan pintu, ayo masuk," ujar Rio yang tiba-tiba muncul dari balik pintu.
Mereka bertiga, langsung menuju kamar Rio di lantai dua. Kamar rio termasuk rapi untuk ukuran seorang anak laki-laki. Setelah mengambil posisi yang nyaman, mereka lalu bercakap-cakap, berbagi cerita, tertawa, saling ejek, larut dalam obrolan dari yang penting sampai hal-hal konyol yang tidak perlu diperbincangkan. Walaupun baru saling mengenal tapi Gabriel dan Alvin tampaknya sudah tidak merasa canggung dengan keberadaan Rio. Gabriel dan Alvin sendiri adalah saudara, tapi bukan saudara sekandung. Ayah Alvin sudah meninggal sejak usia Alvin satu tahun, sedangkan ibunya adalah wanita karir yang sukses, karenanya ia kesulitan membagi waktu untuk sekedar menemani Alvin bermain. Ketika usia Alvin menginjak lima tahun, ibunya semakin sadar bahwa putra tunggalnya kesepian dan membutuhkan teman main. Diputuskanlah untuk mengadopsi seorang anak yang seusia dengan Alvin dari panti asuhan dan Gabriellah yang beruntung. Diangkat anak oleh keluarga yang cukup berada, mempunyai ibu dan saudara yang juga sangat menyayangingya. Gabriel dan Alvin sangat kompak, sama-sama tampan dan aktif, tidak heran jika keduanya jadi idola di sekolah.
*
Kantin sudah sangat ramai, padahal bel istirahat baru berbunyi lima menit yang lalu. Nampaknya seluruh siswa merasa perlu memberi asupan pada perut mereka sesegera mungkin sebelum cacing-cacing penghuninya berorasi atau bahkan bertindak anarkis. Ify dan Via menjadi bagian dari sekian banyak siswa yang tumpah ruah di dalam kantin. Sedang asik-asiknya menikmati makanan, tiba-tiba saja ada tiga orang kakak kelas menghampiri mereka dengan wajah pongah luar biasa.
"Heh, awas lo semua, ini tempat gue," ujar kakak kelas berbehel biru.
"Oh iya kah? kok nggak ada tulisannya ya?" sahut Via.
"Banyak omong banget sih lo. Adik kelas aja songong." bentak yang lain.
"Kakak ini nggak liat kalo kita duluan yang duduk di sini?" timpal Ify.
"Kalian nggak tau siapa kita? tinggal minggir aja susah banget." lanjut kakak kelas terakhir, yang berbadan paling tinggi diantara ketiganya.
"Tau kok, kalian ini kakak kelas nggak mutu yang doyannya ngebully adik kelas doang kan? gitu aja bangga. dikira gue takut sama lo semua?" Via menjawab dengan lantang, tak peduli mereka sudah jadi bahan tontonan orang sekantin, termasuk Gabriel, Alvin dan Rio yang juga sedang menghabiskan waktu istirahat mereka.
"Apa lo bilang?" salah seorang kakak kelas yang berdiri paling dekat dengan Via sudah mengangkat tangan sebagai ancaman, "Coba ngomong seklai lagi!"
"Ah males!!! udah yuk Fy kita cabut, ambil tu tempat duduk sama lo semua sekalian makan jajanan BEKAS kita juga boleh kok, kita SUMBANGIN!!!" Via lantas menarik tangan Ify menerobos berikade kecil kakak kelas mereka.
"Sialan lo, anak kecil belagu." umpat kakak kelas berbehel biru dengen wajah memerah.
"Cewek-cewek tempat duduk aja diributin," komentar Rio sinis.
"Gila berani banget tu si Via, kakak kelas bro," kagum Alvin.
"Sobat gue gitu," bangga Gabriel.
"Iya sobat lo dan gebetan gue hehehe," balas Alvin.
"Apa?" Gabriel terkeju, "Tapi kita kan sahabatan Vin, gue fikir kita nggak boleh-"
"Ah sekarang kan sahabat jadi cinta udah zamannya Gab, sampai dibikin lagu kan sama Zigaz." jawab alvin enteng.
Gabriel terdiam. Mendadak saja ada denyutan nyeri yang menyerangnya saat mendengar penuturan Alvin.
"Jangan-jangan lo juga suka ya GAb sama Via?" tebak Rio asal, "Udah nggak usah patah hati Gab, lo sama gue aja soalnya gue nggak suka cewek, lo kan ganteng ni." lanjut Rio semakin ngawur.
"Idih ngaco amat lo, gue normal kali."
"Tapi lo serius kan nggak suka sama Via? lo nggak keberatan kan kalo gue jadian sama Via? soalnya gue ada rencana mau nembak dia dalam waktu dekat." tutur Alvin, mengabaikan ekspresi wajah saudaranya yang kian masam.
"Nembak? tapi lo nggak mau pdkt atau apa gitu, masa langsung nembak?
"Kita kan kenal Via udah dari kecil kali Gab, dari SD masa masih harus pakai pdkt segala."
"Oh," Gabriel hanya bergumam singkat, "Kenapa harus Via, Vin?" batin Gabriel, perih.
*
Ify entah bagaimana lupa mengumpulkan buku tugas matematikanya padahal semalaman ia bergadang mengerjakan tugas yang diberikan. Karena tidak mau rugi, Ify bergegas mengumpulkannya ke ruangan guru, semoga saja ia beruntung dan tugasnya masih diterima. Dengan tergesa dibukanya pintu sekencang mungkin karena tadi pagi kenop pintu kelasnya sempat macet. Sementara itu Rio dari luar berniat masuk kelas, alhasil... DUUGGG
"AWW!!!" pekik rio yang terbentur pintu kelas hingga tersungkur ke lantai.
"Waduh, Yo. Ngapain lo tiduran di lantai?" tanya Ify polos.
"Tiduran pale lo kotak, buka pintu liat-liat dong!!!" Marah Rio.
"Oh salah gue? Ya, maaf gue kan nggak tau, lo sih pake berdiri di situ,"
Rio mengelus-elus kening malangnya, "Buku lo gue sita sebagai balasannya," Rio dengan cekatan merebut buku dalam dekapan Ify, tapi sesaat kemudian air wajah pemuda itu berubah dari galak menjadi suram dan menyedihkan setelah mebaca nama yang tercantum dalam sampul buku Ify, "Nama lo Kiara?" tanyanya tak percaya.
"Iya, udah ah Rio nggak lucu, gue lagi buru-buru, mana balikin buku gue!"
"Tapi lo bilang nama lo Ify?"
"Ya udah sih suka-suka gue. Kepo banget lo." sewot Ify lantas balas merebut bukunya dari tangan Rio, kemudian kabur ke arah ruang guru.
Sementara itu Rio tercenung, "Nggak mungkin," katanya seraya menggeleng. Ia sudah pergi sejauh ini, melarikan diri dari Manado ke Bandung, meninggalkan keluarga tercintanya, masih belum cukupkah? akan sia-siakah semuanya hanya karena nama yang sama?
Kiara Anastasya dan Kiara Saufika.
*
Label:
Malaikat Hidup Gue
Kamis, 05 Mei 2011
Malaikat Hidup Gue ( Last Part )
***
"Jadi apa yang dibilang Debo itu benar ? Dia gak bohong, Yo ?" tanya Ify memastikan.
Lagi-lagi Rio mengangguk pasrah, membuat gadis manis didepannya menggigit bibir untuk menahan tangis.
"Trus kenapa lo malah ujan-ujanan sekarang ? Nanti lo sakit." Ify melepas jaket yang sebelumnya Rio sampirkan di pundaknya. Penyodorkan jaket itu, pada sang pemilik, "Ayo pakai !! Lo lebih butuh dari gue." suruh Ify.
Rio terdiam. Tidak bergerak, tidak juga bicara apa-apa. Hanya hembusan nafas panjang yang terdengar dari pemuda itu.
"Sebenarnya....." Rio menggantung kalimatnya, tanpa Ify sadari pemuda itu tengah menarik nafas dalam-dalam, mengambil ancang-ancang untuk segera kabur nantinya, "Makanyaya Fy, lo tu harus rajin belajar bahasa Indonesia dengan baik dan benar. Jangan bahasa sunda mulu, lo bangga-banggain. Debo kan bilang gue 'pernah' sakit kanker. PERNAH Fy, per-nah. Tapi sekarang gue udah sembuuuh kaleee. Gue masuk RS kemaren karena sakit maag doang. Dodol sih lo, mau aja di bego-begoin si Debo. Bhahaha." Rio tertawa puas, dan lagi-lagi menjulingkan matanya, lalu berlari sekuat tenaga menjauh dari Ify yang sepertinya sudah siap meledak.
"Dasoooorr, Rio kunyuk. Rese lo, jelek, item, pesek, tau gitu males banget gue bela-belain ke Manado. Gue kira hidup lo gak lama lagi, siniii Looo. Jangan kabur, awas kalau kena, abis lo, sama gue." ancam Ify, galak.
"Gak takuut, gak takuut.. Wlek !!"
keduanya terus berlari, saling mengejar. Tanpa sadar, mereka meninggalkan semua hal pahit dan bayang-bayang masa lalu, jauh dibelakang. Membiarkan semua jadi kenangan, menguncinya rapat-rapat, agar tidak lagi mengusik hari esok yang tengah mereka songsong. Rio dan Ify, keduanya siap melangkah bersama, menjalani hari-hari indah yang tengah menunggu mereka, didepan sana.
***
"Yang lalu biarlah berlalu."
terdengar sederhana dan mudah. Tapi ternyata tidak untukku. Butuh lebih dari sekedar tangan takdir untuk membuat yang lalu benar-benar berlalu dari kehidupanku. Butuh keberanian yang cukup untuk mengusir Si-Masa-Lalu itu, agar pergi. tapi ternyata aku tidak seberani itu, sampai-sampai Tuhan harus mengirimkan malaikatnya untuk membantuku. Mengentasku dari belenggu masa lalu. Alyssa Saufika Umari. Entah kekuatan magic apa yang tersimpan dibalik senyumnya, dibalik renyah tawanya, binar cerianya, hingga aku percayakan hari-hariku untuk ia warnai. Aku percayakan hatiku untuk ia genggam, aku percayakan fikiranku untuk ia rasuki dengan pesonanya. Aku percaya Ify, dia masa depanku. Malaikat dalam hidupku.
-Mario Stevano Aditya Haling-
***
seperti yang pernah ia bilang, aku malaikat penolongnya. Maka aku izinkan diri ini untuk jadi orang yang pertama mengulurkan tangan saat ia terjatuh.
Seperti yang ia katakan, aku mataharinya. Maka aku akan dengan senang hati memcurahkan seluruh sinarku, untuk menerangi harinya.
Biar. Biar hanya aku saja yang ada untuknya. Biar hanya aku yang ia butuhkan. Biar hanya aku saja yang memahaminya. Jangan ada orang lain. Karena dengan begitu, dia... Mario Stevano Aditya, tidak akan pernah lagi sanggup jauh dari aku, selayaknya aku yang tak akan mungkin bisa tanpa dia.
-Alyssa Saufika Umari-
***
Singapore, tanggal 30 Maret 2011. Pukul 16.00 waktu setempat.
Seorang pemuda, masih dengan sweater hijau tosca yang menempel erat ditubuhnya, menyeruak masuk dengan wajah bingung. Ia menilik setiap sudut kamar rawat saudara laki-lakinya itu dengan seksama. Tidak banyak yang berubah sejak ia tinggalkan untuk mencari makanan ringan 30 menit yang lalu. Gadis berlesung pipit itu, masih betah menggenggam tangan saudaranya yang kini duduk tegang diatas ranjangnya. Segala macam alat medis dikamar ini juga, tidak bergeser barang seinci pun dari tempatnya tadi. Tapi suasana kamar ini, kenapa berubah ? Ada apa ?
Pemuda tadi, menumpukan pandangannya pada lelaki dan wanita paruh baya yang kini duduk tidak nyaman di sofa biru laut yang ada dikamar V.V.I.P ini. Papa dan mamanya. Seolah, pemuda ini adalah alien yang baru ditemui, kedua orang itu menatap canggung kearahnya.
Masih belum bergerak dari ambang pintu, pemuda
itu melempar tanya, "Ada apa sih ? Kok kayaknya ada yang aneh ya ?"
sepertinya tak ada satu orang pun yang berniat menjawabnya. Pemuda tadi tidak mendengar suara sekecil apapun dari siapapun yang ada dalam kamar ini. Hening. Ia mendesah keras. Diletakkan kantong kresek hitam yang semula ia jinjing. Setelah melepas sweaternya, dan meneguk setengah botol air mineral, ia lantas memilih duduk berhadapan dengan kedua orang tuanya.
"Ada apa ?" ulangnya bertanya. Dua orang didepannya malah saling melempar pandangan, "Jadi gak ada yang mau cerita ? OK. Fine. Gak masalah." tandasnya, sedikit jengkel.
"Lo dapet donor, Yel." sambar Alvin masih dari atas ranjangnya.
"Donor ? Lo bercandanya gini banget sih Vin." Iel memutar kepalanya menghadap Alvin. Walau bagi saudara laki-lakinya itu, kemanapun Iel melihat saat bicara dengannya, sudah tak penting lagi.
"Alvin gak bercanda, Yel. Tadi dokter Fadli kemari. Beliau bilang telah menemukan donor yang cocok untukmu. Ya, walaupun pendonornya bukan dari keluarga kandungmu, yang penting cocok, dan bisa dilakukan pendonoran. Dokter Fadli bilang, meskipun operasi transplantasi ini sudah cukup terlambat, tapi tetap layak untuk dicoba. Tapi..." papa menggantung penjelasannya, membiarkan Iel menampakkan ekspresi bingung yang kian menjadi.
"Tapi.....ekhm." lagi-lagi lelaki itu menunda menuntaskan kalimatnya. Terlihat, ia benar-benar tidak nyaman, menyampaikan kabar itu, "emmh... Alvin dan Sivia tidak jadi mendapat donor. Keluarga korban kecelakaan yang semalam, tidak setuju, kalau mata dan ginjal putri mereka ditransplantasi. Kami sudah menawarkan sejumlah uang sebagai ucapan t'rimakasih, tapi mereka malah mengancam akan melaporkan kami dan pihak rumah sakit kalau sampai melakukan mengambilan organ-organ tubuh putrinya untuk didonorkan."
"Lho kok gitu sih ? Harusnya mereka senang dong, putrinya masih bisa memberikan manfaat untuk kehidupan orang lain, bahkan setelah ia tiada. Toh putrinya gak memerlukan semua itu lagi kan." protes Iel.
"Pemikiran orang berbeda-beda, Nak. Mama juga sangat menyayangkan keputusan keluarga gadis itu." tutur mama, sambil menyandarkan kepalanya pada bahu bidang papa dan menangis disana, "Kasihan Alvin." imbuhnya, kecewa.
"Mama udah dong, Alvin gak pa-pa kok. Alvin malah sedih kalau mama kecewa kayak gitu." ujar Alvin, menenangkan.
"Maafin mama ya Yel. Bu...bukan berarti mama gak senang dengar kamu akhirnya mendapatkan pendonor. Hanya saja.....mama benar-benar ingin kedua pangeran mama bisa sama-sama sembuh." tutur Mama masih dengan sisa-sisa tangisnya.
"Gak pa-pa kok Ma, Iel ngerti. Emm, kalau boleh tau, apa dokter Fadli bilang, siapa pendonor buat Iel ?"
"Dokter Fadli gak menyinggung soal pendonor. Beliau cuma bilang, mulai besok kamu harus rawat inap dirumah sakit Yel. Dokter Fadli akan terus memantau kondisimu sebelum operasi. Operasinya sendiri bisa dilangsungkan secepatnya. 5 atau 7 hari kedepan, tergantung kondisi kamu dan pendonor. Kamu bisa langsung menemui Dokter Fadli untuk lebih jelasnya." ujar Papa.
Iel hanya menanggapi dengan satu anggukan singkat lalu berdiri menghampiri Alvin dan Sivia.
Pemuda manis itu, menepuk pundak Alvin beberapa kali. Lantas berujar, "Lo pasti sembuh Vin. Pasti."
Alvin hanya tersenyum simpul. Tidak munafik, ia sedikit kecewa. Kenapa justru Iel lah yang lebih dulu mendapatkan pendonor ?? Bukankah mereka ke Singapore, justru untuk kesembuhan Alvin ?
"Kamu juga Vi, kita semua pasti sembuh." tambah Iel, setelah melayangkan pandangannya dan mendapati siluet cantik Sivia yang tertegun dengan tatapan menerawang.
"Eh, emm, iya Yel." balas Sivia sekenanya. Karena sejatinya, Sivia sama sekali tidak yakin.
Kini giliran Iel yang tercenung. Masih belum yakin dengan apa yang ia dengar. Ia akan sembuh ? Benarkah ?
Setelah belasan tahun, bertahan tanpa pengharapan untuk sembuh. Setelah belasan tahun berjuang dengan hanya berbekal senyum peri kecilnya. Setelah belasan tahun ia ditemani rasa sakit yang menderanya tanpa jeda. Akhirnya ia akan sembuh ?
Ah, rasanya seperti mimpi saja. Atau Tuhan memang sedang mengizinkannya bermimpi dalam dunia nyata. Menghembuskan angin surga, sebelum akhirnya semua harus berakhir.
Bertepi. Berujung.
***
"Apa kamu yakin Gabriel ?" tanya dokter Fadli, serius. Pria itu tampak sedikit geram menyaksikan pasiennya yang terus terbahak. Padahal yang dibicarakan bukan masalah sepele, seperti betapa datarnya hidung sule atau betapa mempesonanya lesung pipit briptu Norna. Perkara ini lebih dari hal-hal nyeleneh macam itu. Ini masalah penting.
Masih dengan sisa-sisa tawanya, Iel menjawab asal, "Dokter sudah bertanya seperti itu 6 kali semenjak saya duduk disini." Iel lagi-lagi menyeringai.
"Saya rasa surat pernyataan ini sangat tidak perlu. Toh kamu akan sembuh." tukas dokter Fadli.
"Surat ini hanya akan jadi hitam diatas putih kalau operasi itu berhasil. Sedangkan kalau Tuhan berkehendak lain....." Iel memaikan bolpoint hitam di tangannya sambil melempar pandangan nakal yang membuat dokter Fadli semakin jengkel, "Tidak ada hal yang lebih membahagiakan untuk setiap orang, selain saat telah matipun ia masih bisa memberikan manfaat untuk orang lain. Bukan begitu pak dokter ?"
"Fuihh," dokter Fadli membuang nafas dengan kasar, "Entahlah Gabriel, tapi surat ini terkesan seperti wasiat terakhir kamu."
"Ooootidakbisa...seperti yang saya bilang dok. Saya belum mau mati, selama saya masih bisa melihat senyum di wajah cantik Sivia Azizah. Hehe."
"Yayaya. Baiklah, kalau begitu."
"Jadi udah boleh ditanda tanganin nih, dok."
dokter Fadli hanya menimpali dengan anggukan kepala. Seumur hidup pria ini, ia tidak akan pernah melupakan hari ini, 1 April 2011. Ia disadarkan tentang ketulusan oleh seorang anak berusia 17 tahun dalam menjalani titian hidupnya. Tidak ada yang menjanjikan piala, medali atau sekedar satu lembar piagam untuknya, tapi anak muda ini mampu berkorban habis-habisan seolah-olah pengorbanannya kelak akan diganjar kebahagian yang tak ternilai.
Setelah selesai membubuhkan tanda tangannya pada secarik kertas dihadapannya, Iel menyodorkan kertas itu pada dokter Fadli. Dokter Fadli menerimanya, lantas segera
memasukkan surat itu dalam laci meja kerjanya.
"Saya harap, saya tidak perlu mengeluarkan kertas ini lagi. Apalagi harus menyodorkannya kehadapan orang tuamu. Saya yakin, tidak akan perna sanggup melakukannya." tutur dokter Fadli, benar-benar terlihat enggan.
Gabriel hanya menanggapinya dengan senyum simpul.
***
Awal april. Matahari seperti telah menemukan kembali kekuatannya untuk membakar bumi setelah beberapa bulan terakhir mengalah dari hujan. Udara menjadi sangat panas, bahkan setelah malam menjelang. Panasnya tak kunjung lekang.
Dan masih beruntung, orang-orang yang mampu menggerakan tangan mereka untuk sekedar mengibas-ngibaskannya disekitar wajah. Pun dengan mereka yang masih bisa mengayunkan kaki, masih sanggup berjalan mencari dimana kiranya angin berpusar. Lantas bagaimana dengan ia ? Pemuda itu ? Apa ia juga merakan panas dan gerah ?
Lalu bagaimana ia mengusir panas dan gerah itu, sedangkan seluruh tubuhnya kaku, tak bergerak.
Bukan. Bukan karena kabel warna-warni serta alat-alat medis yang menempel pada tubuhnya yang membuat pemuda itu seolah membatu.
Hanya saja, mungkin ia terlalu enggan. Sudah cukup lama ia bertahan. Ia sudah ingin mererah. Lantas lemahkan ia ?
Tentu tidak. Akan ada saatnya untuk berhenti bukan, mungkin saja ini waktunya ia berhenti.
Dengan nyeri yang kian hebat menyiksa tubuh ringkihnya, pemuda itu terlihat mencoba memisahkan anyaman bulu matanya yang terjalin rapat. Sorot nanar itu, lantas muncul.
"Sayaang ?" isak pilu seorang ibu, yang tanpa jeda melafadz doa, tanpa kantuk tetap terjaga demi putra kebanggaanya, yang sudah sekian hari tertidur panjang.
Mata anak laki-laki itu berbinar pedih. "Aku mohon jangan menangis. Aku sedang berjuang. Aku mau sembuh. Jangan menangis." pintanya dalam hati. Ya, hanya hatinya yang sibuk berkoar sejak tadi, karena saat ini, suara seakan jadi sesuatu yang tabu untuknya.
Hati ibu mana yang tidak mencelos, yang tidak terluka, mendapati putra yang bisa begitu semangat dan menyenangkan, kini terkolek tak berdaya dan terlihat begitu rapuh.
"Kamu gak akan ninggalin mama kan sayang ? Jangan ya Nak, mama gak mau kamu pergi. Kamu harus sembuh ya, demi mama, demi papa, demi Alvin, demi sahabat-sahabat kamu. Mereka pasti nungguin kamu pulang lagi ke Bandung. Papa sudah atur semuanya, besok kita berangkat ke London, kamu akan diobati disana." suara itu bergetar, terdengar begitu tulus dan menenangkan. Jemarinya, mengelus lembut, puncak kepala putranya.
Pemuda itu tidak merespon apa-apa, hanya satu bulir air mata yang luruh, kemudian menyusuri pelipis kirinya. Sang mama dengan sigap segera menyeka buliran bening itu. Ini pertama kali ia mendapati putranya itu menangis. Sebegitu sakit kah yang dirasakan ?
"Sakit Nak ? Apanya yang sakit ? Sabar ya, ada mama disini. Kita lawan sakitnya sama-sama ya." tutur lembut wanita tadi, tangannya kini mendekap erat jemari kokoh, milik putranya, Gabriel.
"Tuhan pindahkan sakit yang dirasakan putraku, kepadaku. Biar aku yang menanggungnya, izinkan ia sembuh. Biar aku yang menggantikannya." doa wanita tadi, ikhlas.
"Oya, biar gak terasa sakitnya. Mama cerita aja ya sayang.....ma...mama...hiks." seorang wanita tetaplah wanita, butuh benteng yang lebih kokoh dari sekedar lapisan baja atau besi untuk bisa membendung pasukan air matanya agar tidak tercurah saat ia sedih, "Kamu tau ? Dulu waktu kamu kecil, kamu seneng banget main bola sama Alvin. Kamu juga seneng main hujan. Trus waktu dulu kita sekeluarga liburan ke Paris, Iel kecil dulu pernah janji lho sama mama, suatu saat bakal bikinin mama menara yang gak kalah cantik dari eiffel. Iel harus sembuh ya... Mama mau liat kamu sama Alvin lulus-lulusan. Mau foto bareng, waktu nanti kalian di wisuda..."
Gabriel berulang kali terlihat ingin bersuara, "Ma..ma.. Maka..sih.. Bu..buat se..mua."
tut-tut-tut
layar monitor disamping tempat tidur Iel, yang memperlihatkan garis-garis serupa grafik terus mengalami penurunan.
Waktu terus menggulirkan detik yang tak akan pernah kembali. Masa terus terajut sempurna, bentangan jarak siap terurai. Adakah yang menyadarinya ?
Ada penghabisan pada setiap kata. Ada ujung untuk setiap jalan.
Mama masih terus bercerita dengan tawa-tawa kecil yang jelas di paksaan. Sedangkan pemuda dihadapannya justru semakin gelisah. Merasakan nafasnya yang makin tersengal, padahal alat bantu pernafasan telah dipasang. Jantungnya seperti semakin malas berdenyut. Disela perang melawan rasa sakit dan takut yang memeluknya, pemuda itu berusaha menyentuh wajah Mama tercintanya.
Wanita yang sudah ia anggap, Ibu kandungnya. Yang merawatnya, sekian belas tahun, dengan kasih sayang yang berlimpah meski Iel tidak lahir dari rahimnya.
Jemari pemuda itu, menelusuri paras ibunya yang dibanjiri air mata.
Perpisahan itu kian dekat, tidak mau diajak bernego. Hanya memberinya sedikit kesempatan untuk tersenyum. Hanya seulas senyum.
Senyum terakhir seorang Gabriel yang hanya akan terpatri dalam ingatan Mamanya. Karena, kenyataannya tidak ada orang lain, selain wanita itu, yang melepas kepergiannya. Tidak sahabat-sahabatnya, tidak Alvin, tidak Papanya, tidak juga Sivia, gadis yang telah membawanya bertahan sampai sejauh ini.
Tanggal 8 april. Tepat pukul 9 malam, waktu Singapore. Mulai hari ini dan seterusnya. Seorang Gabriel hanya akan hidup dalam kenangan dan ingatan, orang-orang yang menyayanginya.
***
malam dengan bulan yang membulat sempurna. Cerah. Angin daerah puncak yang biasanya membuat orang enggan beraktifitas malam hari, entah mengapa malam ini berhembus, sangat bersahabat. Pelan, semilir. Sinar putih dari kerlipan bintang, jatuh tepat, terpantul pada sepasang bola mata milik para penghuni taman belakang ini. Membuat benda-benda bening itu berkilat cemerlang.
Derik jangkrik dan kawanannya, berbaur dengan radio tape yang kini tengah melantunkan salah satu lagu hits dari band lokal.
Benar-benar malam yang sempurna.
"Ray !! Itu jagungnya dibakar dong, bukan dipukul-pukulin ke meja begitu. Lo obsesi jadi drummer atau emang gak ngotak sih ?" koar Oik yang ditimpali cengiran tanpa dosa oleh Ray.
"Ozyyy... Ampun deh lo. Kulitnya dikupas dulu dong. Dodol banget sih, kok langsung diolesin bumbu gitu sih ?" protes Gita.
"Biar cepet Git, ntar juga nyerep bumbunya."
"Lo juga ngipasinnya jangan pake tenaga kuli gitu dong, udah sono-sono deh lo, pergi yang jauh, biar gue aja yang kerjain." usir Gita. Yang diusir malah cengengesan gak jelas.
"Dedeepp, aduh lo kalo mau spam iler jangan di pundak gue juga kali yaaa... Ah, jijay banget." keluh Debo pada Deva yang bersandar dibahunya.
"Sewot banget sih, PMS ya lo ?" gerutu Deva.
"Lo tu PMS, Pemuda Mata Super." timpal Debo.
"Achaaaa, lo ngambil kecap apa nge-blow rambuut lama banget... ??" teriak Oik.
"Devaaa, hp Keke lowbat, chargernya manaaaa ?"
"Ozyyy, sticker hadiah dari chiki gue tadi mana, lo colong yaaa ?" koar Ray, menuduh.
Malam ini hangat. Teriakan-teriakan tanpa beban itu pun membahana, menyatu dengan desau angin, menyentuh lereng-lereng bukit, mengusik dedaunan, merambati semak, lantas terarsip rapi dalam memori masing-masing. Yang akan jadi kenangan paling berharga saat mereka harus bertemu dengan perpisahan, kelak. Yang akan jadi pemanggil tangis saat bentangan ruang dan waktu melahirkan serpihan rindu. Yang akan jadi pengundang tawa, saat kotak-kotak cerita kembali dikuar ketika nanti bersua lagi.
"Aduh, please deh. Virus tarzannya si Ipot udah nyebar ya ke elo semua ? Ngapain sih, rusuh banget teriak-teriak ?" gerutu Agni, yang baru keluar membawa sebuah botol, "Berhubung yang punya hajat ngilang gitu aja, mendingan kita..."
"Bakar-bakarannya gak jadi sekarang ? Nunggu Rio dulu, gitu ? Ah, awas aja tu anak. Nyampe kemari, yang ada dia yang gue bakar." sela Deva, kesal.
Agni yang merasa tidak enak hati dan fikiran karena perkataannya dipotong Deva, ia memutar bola matanya, "Mending kita ma..."
"Gak tau apa gue udah laper. Tu anak dua, emang bener-benar ngesel..."
"Gak usah motong omongan gue bisa kali ya, Dev..." sambar Agni jengkel, "Mending kita main ini aja dulu." Agni memamerkan botol yang sejak tadi menghuni genggamannya, "Jadi mainnya gini. Ntar botolnya diputer, kita duduk melingkar. Nah, nanti mulut botolnya berhenti disiapa ? Berarti orang itu harus mau nurutin perintah salah satu dari kita. OK ?!!" Agni menjelaskan, dengan riang gembira.
Teman-teman yang lain, segera duduk melingkar dengan antusiasme tingkat tinggi. Beharap ini adalah waktu yang tepat dari Tuhan Yang Maha Esa untuk membalaskan dendam kesumat yang terpendam demikian lama.
"Mulai ya... Gue yang puter." Ujar Agni. Lalu memutar botol bekas sirup yang diletakkan di tengah-tengah lingkaran. Botol pun berputar teratur.
"Ozy kenaaa..." Seru semuanya kompak, saat mulut botol berhenti tepat menghadap Ozy.
"Pilih jujur atau nekat ?" tawar Agni.
"Jujur aja deh." jawab Ozy pasrah.
"Pilih mana charlie ST12 apa Briptu Norman, hayoo ?!" Debo yang mengajukan pertanyaan.
"Pilihan yang sulit." Ozy sok berpikir serius, seolah-olah tengah memikirkan bagaimana caranya memusnahkan NII dari muka bumi ibu pertiwi.
"Yang sesuih hati aja Zy..." usul Oik.
"Masalahnya gue udah gak punya hati, Ik. Kan udah gue kasih semuanya ke Acha..." tutur Ozy, tersipu-sipu.
"Hoeeks" koor yang lain.
"Udah cepet jawab aja sih, lama deh lo. Daripada lo, gue suruh ngaku waktu kecil pernah didandanin kayak cewek sama nyokap lo, kan bakal lebih malu." cerocos Ray, polos.
"Muhammad Raynald Prasetya, trimakasih telah membongkar aib gue didepan umum," Ozy tersenyum dongkol, "Ya udah deh gue pilih Briptu Norman aja. Callae chaiya chaiya chaiya, callae chaiya chaiya chaiya..." Ozy menyenggol-nyenggol lengan Acha, mirip gerakan yang ia tonton dari salah satu station TV swasta beberapa hari lalu, yang diperagakan oleh idola barunya, Briptu Norman.
"OK. Lanjut ya. Sekarang keke yang puter." ujar Keke.
Untuk kedua kalinya botol berputar ditengah lingkaran anak-anak.
"Gitaaa kenaaa." koor mereka kompak.
"Cium Ray." perintah Agni, spontan.
"Weist. Agni frontal." gerutu Oik.
"Daripada gue cium tu bocah gondrong, mending cium kambing." tolak Gita, sambil terkekeh.
"Lha emang apa bedanya, Ray sama kambing ?" celetuk Deva.
"Udah, udah gak usah ribut. Mending gue aja yang wakilin cium si Ray. cini Ray cuyuuung." Kelakar Debo, dengan wajah sok imut menggelikan.
"Idih apaan sih lo De, ogah. Sono jauh-jauh lo. Hush. Hush. Hush." usir Ray, yang menatap Debo dengan hasrat mual yang membuncah.
"Kalau Ray gak mau, gue juga gak pa-pa De. Gue udah gelap mata nih, gara-gara kelaperan." ujar Deva, asal.
"No. Thanks." balas Debo, cool.
"Dasar, manusia-manusia labil." cibir Agni.
"Eh, ngomong-ngomong, Rio-Ify sama Riko-Shilla mana ya ? Kok gak muncul-muncul ?" tanya Acha heran.
"Palingan lagi pada mojok dibawah pohon Asem. Gak tau aja mereka, sekarang lagi ada wabah ulet bulu. Gatel-gatel nyaho deh tu." timpal Ozy.
"Wooo, lo mah doanya jelek mulu sih Zy. Gak ada amalnya banget jadi orang." Dumel Shilla yang baru muncul, diiringi Riko. Gadis cantik itu melempar senyum pada semua temannya, lalu duduk bergabung bersama mereka.
"Tinggal the best couplenya CB ya yang belum kumpul." tanya Riko.
"Tuuh. Mereka." Agni mengarahkan dagunya ke depan. Dalam remang malam, siluet milik Rio dan Ify mulai terlihat, berjalan kearah mereka.
"Sekarang kayaknya cowok-cowok hitam manis-manis gimana gitu, lagi booming ya. Riko dapet Shilla, most wanted girlnya CB gitu lho. Si Rio dikejar-kejar cewek, sampe disusulin ke Manado pula." bisik Deva pada Ozy yang duduk tepat disampingnya.
"Iye, cowok-cowok yang matanya belo kayak lo mah udah gak diminati." celetuk Ozy yang membuatnya dihadiahi jitakan oleh Deva.
"Apalagi model si Ray. Udah jadoel sekali. Gondrong. Kayak jamannya Ahmad Dani-Maya Estianti aja." ledek Deva pada Ray yang duduk besila disisi Oik, tak jauh dari Deva.
"Wooo, ngatain gue lagi lo. Biarpun gue jadoel, liat dong, disamping gue, gue berhasil menaklukan hati seorang gadis cantik." kata Ray, mulai genit.
"Tu kan betulan jadoel. Gombalannya aja ala-ala Soekarno-Fatmawati." tambah Deva.
"Pokoknya ya Yo, gue maunya anak pertama cewek dulu. Biar bisa bantuin mamanya ngurus rumah." lamat-lamat suara cempreng Ify terdengar tengah mengobrol dengan Rio yang digandengnya.
"Mendingan cowok dulu dong Fy, biar bisa jagain adik-adiknya." balas Rio.
"Idih, ogah Ah, anak cowok kan seringnya bandel. Sukanya main mulu, ntar item lagi kayak lo."
"Tadi idung, sekarang kulit. Mau lo apa sih Fy ?" sewot Rio.
"Hehe peace !! Rio kalau ngambek makin cakep deh." goda Ify cengengesan, "Ya udah biar adil anak pertama kita kembar cewek-cowok aja ya. Gimana ?"
"Kita ? Ish, yakin bener, gue mau married sama lo ?"
"Ya yakinlah. Emang siapa lagi yang mau sama cowok cengeng kayak lo. Kabur-kaburan pula. Gak bertanggung jawab."
"Eh, ralat ya. Gue tu gak cengeng. Gue dulu tu terlalu sedih karena rasa sayang dan kesetian seorang Mario itu benar-benar besar, plus karena gue ganteng dan romantis."
"gak nyambung lo."
"Woy !! Ini pengantin baru, udah ribut aja ngomongin anak. Kita tuh nungguin kalian tau gak ? Malah asik ngobrol ngaler-ngidul tanpa dosa." omel Deva yang memang terlihat paling menyedihkan karena belum makan sejak siang tadi.
"Iya, gimana sih, yang punya acara kok malah ngilang-ngilang." timpal Keke.
"Hehe. Iya, sorry ya. Padahal sih, kalian makan-makan aja duluan." tutur Rio yang kemudian ikut duduk melingkar bersama yang lain.
Malam ini mereka semua berkumpul disini, memang atas undangan Rio. Rio mengajak mereka berlibur di Villa Omnya dikawasan puncak. Sekaligus mengadakan party kecil-kecilan untuk merayakan resminya hubungan Rio dengan Ify. Yang diundang memang hanya kawan-kawan dekat saja, karena kamar Villa pun terbatas jumlahnya.
"Ya udah kalau gitu, mulai aja yuk. Mau bakar-bakar apa dulu nih ?" tanya Ray, antusias.
"Eh, eh, tunggu dong." larang Ify, "Mmh, sebelumnya, mumpung kita ngumpul gini, gue man nanya dong. Selama kita sekelas hampir 2 tahun ini, siapa temen yang paling kalian kagumi. Jawab yang jujur ya." tanya Ify, entah dengan tujuan apa.
"Mulai dari Lo, Ray." Intruksi Ify.
"Alvin Jonathan Sindhunata." jawab Ray, mantap.
"Ashilla Zahrantiara." timpal Oik.
"Cakka Kawekas Nuraga." tambah Keke.
"Mario Stevano Aditya." ujar Deva.
"Raissa Arif." aku Ozy.
"Ahmad Fauzi Adriansyah." tutur Acha, manis.
"Ify." ujar Debo, singkat.
"Mmh, Mario Stevano Aditya." Imbuh Gita.
"Cakka Kawekas Nuraga." lirih Agni, dengan sedikit buncahan rindu dihatinya.
"Mmh, kalau gue sih ya, kagum sama Ashilla Zahrantiara." papar Riko.
"Alyssa Saufika Umari." ujar Shilla, yakin.
"Sivia Azizah sama Agni Tri Nubuwati. Gue gak akan pernah bisa milih salah satunya."
"Gabriel Stev-"
Klik
jatuh air mataku
iringi remuk redam hatiku
saat, ku kehilanganmu
dan hanya, rintik hujan yang menemani aku
tiba-tiba, sebelum Rio menyelesaikan kalimatnya, radio tape berukuran sedang disebelah Ozy menyala. Tanpa disetel, dan tanpa harus memutar tuning untuk mencari gelombang, frekuensi yang tertangkap sudah sangat jelas. Sekarang entah station radio mana itu, tengah memperdengarkan salah satu single teranyar milih grup band, Hijau Daun.
Semua mendelik kearah Ozy yang kini mengangkat kedua tangan dengan kata-kata Sumpah-Gak-Gue-Apa-Apain, tercetak besar-besar diwajahnya.
"Hai, hai, GSD Fm semuanya. Udah 10 menit lewat nih dari jam 8 malam, saatnya gue, Irva Lestari nemenin kalian semua di acara kesayangan kita, 'Kisah Putih Abu-Abu" edisi 8 April 2011. OK. OK. Distudio kami, udah hadir satu cowok ganteng yang nantinya akan berbagi cerita sama kita-kita. OK, masnya yang ganjeng, boleh say hi dulu dong sama sobat GSD Fm..."
"Ah, Zy matiin aja napa. Lo kan yang deketan, acara gituan aja lo setel." suruh Deva.
"Gak gue setel kok Dev, sumpah. Nyala sendiri." bela Ozy.
"Hai. Malam, sobat GSD Fm, semuanya." suara berat itu membuat setiap anak, anggota lingkaran kecil dihalaman belakang Villa itu, sama-sama menegang.
Mereka semua tentu kenal, suara siapa yang menyapa tadi.
Disaat aku bertahan
selama ini aku bertahan
lewati semua malam, dingin
yang ku pandangi, hanyalah langkahmu
"OK deh. Mas disamping saya ini katanya mau sharing bareng kita tentang kisah putih abu-abunya. Ya udah, langsung aja ya, check it out."
"Mmh, bingung juga ya mau mulai cerita darimana. Sebenarnya sih, kisah putih abu-abu gue saja aja, gak beda jauh sama masa-masa SMA kalian semua. Sekolah, persahabatan, keluarga sampai hal terklasik seperti percintaan, semua itu juga ada di kisah putih abu-abu gue. Emm, mungkin yang pertama gue ceritain, tentang sekolah gue aja kali ya. Tepatnya kelas kebanggaan gue, XI IPA 1. Di kelas gue, semua udah kayak keluarga. Kita malah punya panggilan-panggilan khusus, kayak Angel yang di panggil bunda, Acha yang di panggil adek, Zeze yang di panggil mbak, ada yang di panggil princess, nenek bawel, gue juga sering di panggil abang. Gue bener-bener ngerasa punya keluarga kedua disekolah.
Kita semua kompak. Kita selalu saling bantu, terutama waktu ulangan. Hehe. Gue gak akan pernah lupa XI IPA 1, yang tiap pagi rusuh ngerjain PR, gitar-gitaran pas jam kosong, tidur massal pas pelajaran sejarah. Hehe. Gue selalu berharap sempet ngerayain lulus-lulusan sama semua anak-anak IPA 1." suara dari radio tape itu terdengar parau.
"Itu Gabriel ya ?" tanya Acha, ragu.
Yang lain pun tampak masih sangat bingung, sehingga hanya merespon dengan gelengan kepala atau sekedar mengangkat bahu.
"Gue juga punya sahabat. Dua orang." lanjut pemuda diseberang sana, "Ada yang sok kecakepan dengan menobatkan diri sebagai playboy. Ada juga yang terlalu pengecut sampai-sampai jadiin cewek tameng buat ngehindarin masa lalunya. Tapi gimana pun, mereka tetep sobat terbaik gue. Mereka jadi satu dari sekian banyak alasan yang bikin gue masih betah tinggal di dunia. Hehe. Ya, kalau diibaratkan anggota tubuh. Mereka tangan gue, satu yang kanan dan yang lain kirinya. Gue bakal cacat tanpa mereka. Gue selalu berdoa semoga keduanya selalu bahagia dan gak akan pernah lupa sama gue, walaupun sekarang gue jauh."
wahai kau air mataku
hanya engkaulah saksi hidupku
saat aku kehilangannya
saat aku kehilangannya
Ify melirik Rio sekilas. Tampak pemuda itu menunduk dengan ekspresi yang sulit diartikan. Teman-teman yang lain pun begitu, larut dalam teka-teka tentang siapa sebenarnya yang tengah berbicara di seberang sana ?
Bahkan Deva yang sedaritadi sibuk mengusulkan agar makan-makannya dipercepat, kini bungkam, bagai dijejali 5 pasang kaos kaki.
"Selanjutnya keluarga gue. Mama sama Papa gue tercinta. Gue ini cuma anak pungut dikeluarga gue, tapi gue gak pernah ngerasa kekurangan kasih sayang. Dari kecil gue gak pernah tau siapa orang tua kandung gue, tapi gue gak sedih, karena gue udah punya Mama sama Papa angkat yang kasih sayangnya lebih besar dari kedua orang tua kandung gue yang tega ninggalin anak usia 2 tahun dipanti asuhan. Sendirian. Seumur hidup gue, hal yang paling pengen gue lakuin adalah selalu bikin Mama sama Papa bangga. Semua yang pernah gue raih selama ini buat mereka, malaikat hidup gue. Mama sama Papa."
Angin berdesau lirih. Dingin. Tak ada yang tau, sejak kapan tepatnya atmosfer hangat tadi menguar, berganti haru biru yang entah karena apa. Bahkan tanpa alasan yang jelas, Shilla mulai berkaca-kaca, "Gue kok nangis ya ?" gumamnya, pada diri sendiri.
Mereka bilang, saat angin menggugurkan dedaunan dari pohonnya, saat itu, entah dibelahan bumi yang mana, seseorang harus terbang jauh meninggalkan orang-orang terkasihnya.
Dan lihat !! Daun-daun trembesi didekat belukar sama, gugur diterpa hembusan angin.
Tak ada yang mengerti...
Meski alam berisyarat.
Harusnya terbaca. Jelas.
Perpisahan itu, telah mengguguskan wujudnya.
"Dan terakhir, tentang cinta gue..." suara berat itu semakin terdengar lirih, seolah sejak tadi ada yang terus-menerus menyedot volumenya.
Tak pernah aku bertahan
selama ini aku bertahan
lewati semua malam
dingin
yang aku pandangi
hanyalah langkahmu
"Gak banyak yang bisa gue ceritain kalau soal yang satu ini. Ya, gue pernah jatuh cinta dan sama seorang cewek pastinya, karena gue masih normal. Tapi sekarang cewek itu udah bahagia sama orang lain. Orang yang bener-bener tepat, orang yang gak pengecut kayak gue, orang yang rela ngelakuin apapun buat cewek itu.
Oh iya, dan ada satu lagi, orang yang juga gak kalah penting dalam hidup gue. Saudara laki-laki gue. Best brother, gue. Gue cuma mau bilang makasih sama dia. Belasan tahun dia mau berbagi orang tua sama gue. Dia orang pertama yang gue cari waktu gue sedih, dia selalu jadi yang paling depan buat ngelindungin gue. Koko, kalau lo denger siaran ini, gue cuma mau bilang, makasih dan maaf karena waktu kecil, gue sering banget ngerebut mainan lo."
wahai kau air mataku
hanya engkaulah saksi hidupku
saat aku kehilangannya
saat aku kehilangannya.
Sudah hampir 30 menit, radio itu terus menghantarkan suara baritone mirip milik Gabriel. Andai tak terlalu sibuk menerka, andai tidak larut dalam tanda tanya, tentu setiap anggota lingkaran kecil ini, bisa menangkap, betapa ada hal yang begitu janggal dari siaran radio itu.
Pertama, kenapa sejak awal acara, sama sekali tidak ada jeda iklan.
Kedua, si pencerita diseberang sana, kenapa sama sekali tidak menyebutkan nama.
Ketiga, GSD Fm, nama yang cukup aneh untuk dijadikan nama sebuah radio, lebih terkesan seperti inisial nama.
"OK. OK. Sobat GSD Fm, bingung gak sih ? Kalau aku rada-rada bingung sih. Mas ganteng ini kok kayaknya sedang mengungkap riwayat hidup seseorang secara keseluruhan, gitu ya ? Karena kan biasanya, kalau kisah putih abu-abu itu, identik cuma tentang sahabat atau pacar gitu." cerocos penyiar yang mengaku bernama Irva itu.
"Hehe. Gitu ya ? Ya, gue emang gak bakat cerita sih. Sorry ya."
"Yowisslah, ora opo-opa, teu kunanaon. Mungkin lain waktu, bisa mampir lagi ya ke studio kami, kalau udah pinter bercerita, hehe. By the way, berhubung durasi tinggal 5 menit lagi, ada pesan-pesan, atau salam-salam yang ingin disampaikan mungkin, sok mangga.." tawar Irva.
"Mmh, apa ya ? Intinya sih, gue mau pamitan aja kali ya, sama semua yang pernah kenal sama gue, temen-temen dibandung, sobat-sobat gue, rukun-rukun terus ya. 11 IPA 1, selalu kompak ya. Terus anak-anak basketnya, terus berprestasi. Gue minta maaf kalau banyak kesalahan. Take care. Udah deh itu aja."
"Wah, masnya mau pindahan ya ? Hehe. Semoga betah ya, dirumah barunya. OK. Guys, itu tadi cerita dari mas ganteng yang namanya gak mau di publish. Semoga bisa diambil hikmah dan positifnya ya. Hari ini cukup sekian, see you next time. Good night and god bless you, all. Bye, bye."
Jatuhnya pun masih di pangkuanku
tak perlu kau sesali
wahai kau air mataku
wahai kau air mataku
di setiap detak jantungku
hanyalah engkau yang menemaniku
saat aku kehilanganmu
saat aku kehilanganmu.
***
***
Ia bahkan tidak sadar, telah menjadi saksi pergantian siang dan malam. Lazuardinya langit yang kemudian menjingga. Lantas, berubah jadi gelap, sama sekali tak tergubris olehnya.
Gadis itu, masih terus saja mengawang dalam lamunan. Ia memeluk kedua lututnya, menumpukan dagu pada kedua lutut yang mencuat keatas. Rambut panjangnya sedari tadi sudah bergerak lincah, diulik angin. Tidak ada bulan, pun dengan bintang. Entahlah, mungkin dua ikon malam yang fenomenal itu, juga tengah tenggelam dalam euforio konser Justin Bieber beberapa pekan lalu. Hingga keduanya lupa untuk menunaikan kewajiban mereka malam ini.
"Fuihh," gadis berpipi chubby itu mendesah keras-keras. Ada sesuatu yang mengganjal hati, yang membuatnya serba salah. Sama sekali tak berniat melakukan kegiatan apapun. Dengan jengah, ia kembali termenung. Jam setengah 11 malam, waktu Singapore. Haah, astaga, jadi telah berapa jam, ia berdiam di selasar rumah ini ? Kenapa waktu begitu cepat bergulir ?
Pantas saja, rumah-rumah disekitarnya sudah mulai menutup pintu dan jendela rapat-rapat. Menghentikan obrolan dan berbagai kegiatan lainnya, mematikan lampu-lampu, lantas beranjak untuk tidur. Ya, tidak aneh, karena hari memang sudah larut malam.
Malam agaknya mulai menunjukkan wujud aslinya, gelap, sepi dan dingin. Itu pulalah yang membuat keresahan gadis tadi kian menjadi.
"Auww." rintihnya. Kedua lengannya, spontan memegangi sekitar perutnya yang terasa sakit. Akhir-akhir ini kondisinya memang terus memburuk, ditambah tak ada ibu disampingnya.
Ia berniat meninggalkan teras rumah milik keluarga Alvin ini. Ia ingin segera berbaring di tempat tidurnya. Tapi, apa daya ? Seluruh tubuhnya serasa berat sekali untuk bergerak seinci pun dari tempatnya.
Bosan. Memandangi ujung-ujung kakinya, gadis berlesung pipit itu pun mengedarkan pandangannya. Pagar-pagar kayu, rimbunan pepohonan, kursi-kursi dari anyaman rotan. Ya, berbanding terbalik dengan rumah keluarga Alvin di Bandung, rumah yang di Singapore ini sangat sederhana. Hanya memiliki 3 kamar tidur, ruang tamu, ruang keluarga, dapur, 2 kamar mandi dan perpustakaan kecil.
"Ini kan hanya rumah singgah untuk kami kalau sedang ada project di Singapore, jadi ya tidak perlu besar-besar." begitulah alasan yang dituturkan sang kepala keluarga saat gadis tadi iseng-iseng mempertanyakan kesederhanaan rumah ini.
Setelah puas menjelajahkan pandangannya, mata gadis tadi terakhir bertumpu pada satu pot bunga euforbhia...
"Ibu..." lirihnya sedih.
Tanpa mampu di bendung, luapan rasa rindu pun akhirnya mengundang satu titik air mata untuk mulai meluruh, menyusuri pipi putihnya yang natural tanpa polesan bedak. Satu scene paling menyakitkan dalam hidupnya pun seakan di putar kembali, saat mengingat sosok Ibunya. Potongan-potongan dialog hari itu lagi-lagi berpusar dalam benak gadis tadi, Sivia.
*Flashback : On*
seorang wanita hampir paruh baya, dengan baju merah marun dan rok bunga-bunga, masuk ke dalam sebuah kamar rawat kelas menengah yang dihuni oleh 3 sampai 4 pasien. Ditangannya terdapat sebuah amplop berwarna coklat. Wajah yang biasanya ayu dan lembut itu, kini terlihat kuyu, membuat anak gadisnya yang terkolek disalah satu ranjang dalam kamar ini, menyadari ada sesuatu yang tidak beres. Ditambah lagi, dengan senyum yang di paksakan serta pelukan wanita tadi yang tiba-tiba, jelas sekali bahwa sesuatu yang buruk tengah terjadi.
"Ibu kenapa ? Ada apa ?"
wanita tadi tidak menjawab pertanyaan putrinya, malah terus asik membelai rambut indah putri tunggalnya itu.
"Ada apa sih Bu ? Jangan nangis dong, ntar Via ikutan nangis lho."
Sang Ibu tampaknya berusaha keras untuk mengerem lagu air matanya, setelah berhasil, dicobanya untuk menyusun kata demi kata yang cocok, agar putrinya tidak terlalu terkejut mendengar kabar yang akan disampaikannya
Perlahan, disodorkan amplop coklat yang sejak tadi dibawanya. Sivia menerima dengam ekspresi bingung, apalagi setelah menilik isi amplop itu. Walaupun Sivia adalah juara umum di sekolahnya, sekaligus juara 1 murid teladan se-Jawa Barat, ia masih sedikit awam dengan apa yang dimaksud secarik kertas yang sedang dibacanya.
"Ini maksudnya apa ya Bu ? Via gak ngerti."
Sang Ibu menarik nafas panjang sebelum berkata, "Ginjal kamu rusak Via. Tapi menurut dokter, belum terlalu parah, masih bisa disembuhkan tanpa perlu cangkok ginjal." papar Ibu dengan suara bergetar.
Sivia terdiam. Tidak terlalu mengerti, bagaimana perasaannya sekarang. Semuanya campur aduk, rancuh, dan tidak menentu. Mulai hari itu, segalanya berubah. Ia akan sering merepotkan Ibunya, belum lagi biaya yang perlu dikeluarkan untuk pengobatannya.
"Kenapa harus Via, Bu ?" lirih Sivia tak jelas antara protes atau bertanya.
"Sabar ya sayang, Ibu akan melakukan apapun supaya Via sembuh." tutur Ibu, menenangkan. Wanita itu kembali memeluk putri tercintanya, harta paling berharga dalam hidupnya.
Flashback : Off
kalau dulu, dokter bilang masih bisa sembuh tanpa operasi. Bagaimana dengan sekarang ? Bagaimana sebenarnya kondisinya sekarang ?
"Ibu... Via kangeen, Via takuut, Via mau pulang." lirih Sivia.
"Apa yang kamu takutin Vi ?"
"Astaga !!" pekik Sivia kaget. Mendapati seorang pemuda tengah duduk disisinya. Sejak kapan pemuda itu ada disini ? Kenapa Sivia sama sekali tidak menyadari kedatangannya ? Apa karena ia terlalu sibuk, memikirkan perkembangan kerusakan pada ginjalnya ?
"Iel ? Kamu bikin aku kaget tau gak."
"Apa yang kamu takutin, Vi ?" Pemuda tadi, Gabriel, mengulangi pertanyaannya.
Sivia tidak menjawab. Memilih bungkam. Memainkan jari-jari tangannya.
"Kamu takut mati ya Vi ?" tebak Iel.
Lagi-lagi, pemuda itu tidak mendapat jawaban atas pertanyaan.
"Mati itu kan hal yang paling pasti Vi, kenapa harus takut ? Seorang raja yang paling berkuasa sekalipun, gak akan bisa menghalau kematian. Iya kan ?"
"Bukan Yel. Bukan soal kematian, tapi... Ibu. Siapa yang bakal jagain ibu, kalau aku mati." balas Sivia.
"Tuhan itu maha perkasa, Ia akan selalu menjaga dan melindungi Ibu kamu, Vi. Udah ah, kok jadi mellow gini sih ? Gak perlu ngomongin kematian Vi, karena aku yakin kamu pasti sembuh."
"Amin..." timpal Sivia, mengamini.
"Kalau gitu..." Iel menaruh kedua tangannya pada pipi Sivia. Dibersihkan sisa-sisa air mata gadis cantik itu dengan ibu jarinya, "Jangan nangis lagi ya, aku gak suka liat kamu nangis, dan lagi gak selamanya kan aku bisa ngehapus air mata kamu kayak sekarang. Kamu masih ingat kan pesan aku dulu-"
"Kita punya lebih banyak alasan untuk tersenyum dibanding menangis." ujar Gabriel dan Sivia berbarengan.
Gabriel lantas mengacak poni peri kecilnya itu dengan gemas.
"Makasih ya Yel, kamu selalu bikin aku tenang. Kamu selalu ada buat aku, kamu tu a shoulder to cry on buat aku tau gak ? Hehe."
"Itu semua aku lakuin, karena aku, sayang banget sama kamu Vi."
Sivia tersenyum tipis, "Kalau gitu akasih atas rasa sayang kamu buat aku itu."
Gabriel mengangguk.
"Eh, by the way, kamu udah sadar Yel. Sejak kapan ?" tanya Sivia, cukup heran. Pasalnya sudah 5 hari terakhir ia tidak berkunjung ke rumah sakit. Mama dan Papa Alvin tidak ingin terjadi sesuatu yang buruk. Jadi setelah Sivia mengeluhkan sering merasa nyeri disekitar perutnya, mereka langsung menyuruh Sivia Istirahat total di rumah. Alhasil, Sivia juga kurang begitu tau kondisi terkini Alvin dan Gabriel pasca operasi transplantasi sumsum tulang.
"Iya, Vi. Mulai sekarang aku gak akan ngerasa sakit kayak dulu lagi. Aku udah sembuh. Dan, aku kesini juga mau sekalian pamit sama kamu. Aku mau pulang."
"Pulang ? Lho, emang kamu gak nunggu Alvin disini ? Kamu gak pulang bareng-bareng sama kita ?"
"Gak bisa Vi, aku harus duluan. Take care ya, inget apapun yang terjadi, kamu gak boleh nangis lagi, nanti cantiknya ilang. Jagain Alvin baik-baik ya, aku titip dia."
Kriing...Kriing...Kriing
Sivia baru saja akan membuka mulut untuk menimpali perkataan Iel, saat telfon berdering dari dalam rumah.
"Telfon bunyi tu, angkat dulu sana." titah Gabriel.
Sivia tidak membantah. Gadis itu segera beringsut dari tempat duduknya, lalu berjalan kd dalam rumah. Sejuruh kemudia, ia sudah mengangkat gagang telepon berwarna merah gelap, di hadapannya.
"Hallo ?" sapanya.
Tidak ada jawaban, yang terdengar hanya isakan entah milik siapa diujung sana.
"Hallo ?" ulang Sivia.
Baru setelah genap 5 kali, Sivia mengulang sapaannxa, orang di sebrang sana mulai berbicara.
"Tante ? Iya, ini Via.....tante kenapa nangis ?.....gak, gak mungkin. Gak mungkin tan, tante pasti bohong. Tante bercanda kan ?" Sivia mulai berkaca-kaca, sekuat tenaga gadis berkulit putih itu menggelengkan kepalanya, "Tapi...tapi...ini gak mungkin tan, ini pasti salah. Ini salah. Via gak percaya."
klik
Sivia segera memutus sambungan telepon. Pasti akan terkesan sangat tidak sopan, tapi ada yang lebih penting dari sekedar telepon. Sivia harus memastikan, ya, ia harus memastikan bahwa berita yang datang padanya barusan itu salah besar. Gadis bermata sipit itu segera berlari keluar rumah.
"Yel, kamu-" ucapannya terpotong saat orang yang dimaksud tidak ada lagi ditempatnya.
"Yel !!" panggil Sivia, "Iel !?" Sivia memutuskan untuk berlari ke jalan raya, mungkin Iel buru-buru pergi untuk mengejar jadwal penerbangan ke Indonesia, "IEL !! GABRIEL !!" teriak Sivia, lagi-lagi memanggil nama pemuda yang di sebut-sebut dalam komunikasi singkat lewat telepon tadi.
Sepi. Jalan raya yang luas itu lengang. Sivia baru menyadari satu hal, dengan apa Gabriel kemari ? Ia tidak membawa mobil. Lalu bagaimana ia bisa masuk, bukankah pintu pagarnya terkunci ? Bulu tengkuk Sivia meremang.
Gadis itu, menjatuhkan diri, lututnya yang beradu dengan aspal, sontak mengeluarkan darah. Tapi tak dirasa, "Kamu bukan pulang ke Indonesia, Yel ? Kenapa Yel, kenapa kamu tinggalin aku ?" ujar Sivia. Ia terceguk berkali-kali, menggigit bibir, mengepalkan tangan kuat-kuat, hingga terasa kuku-kuku yang menancap pada telapak tangannya.
Rasa kehilangan yang maha dahsyat, bahkan membuat gadis ini tak kuasa lagi meneteskan air mata.
Cettarrr
suara petir bergaung, menakutkan.
Bukan sahutan dari Gabriel yang Sivia peroleh. Tapi isyarat tegas dari sang alam bahwa massanya telah tiba, jarak akan segera dibentangkan. Genderang tangis akan segera ditabuh, kesedihan akan segera bernyanyi dan kehilangan akan segera keluar sebagai pemenang.
***
Waktu baru beranjak 15 menit dari tengah malam. Semua anak panti sedang asik tenggelam dalam selimut tebal mereka masing-masing. Tidak hujan saja, Bandung sudah sangat dingin, apalagi di tambah gerimis yang begitu setia sejak sore tadi menemani senandung sang kodok. Tentu hanya orang abnormal saja yang tidak memilìh meringkuk diatas tempat tidur.
"Sil... Silvia !! Anterin Aren pipis yuk, kebelet nih." pinta seorang gadis cilik pada teman satu ranjangnya.
"Ah, gak mau ah, Ren. Kamar mandi kan jauh, serem ah. Udah tahan aja ya." tolak gadis bernama Silvia tadi.
"Yah, gak bisa Sil, ayo dong, udah di ujung nih." desak Aren.
Tidak menggubris, Silvia malah menarik selimutnya hingga menutupi seluruh tubuhnya. Aren merengut. Terpaksa ia bangun dari tempat tidurnya dan beranjak ke kamar mandi.
Saat setelah menutup pimtu kamarnya, Aren hampir saja menjerit histeris saat dilihatnya ada sereorang dengan baju putih terduduk di salah satu kursi yang berjejer di depan ruang perpustakaan panti, tak jauh dari kamar Aren. Tapi kemudian, teriakkan itu ditahannya setelah menyadari siapa seseorang itu. Pelan, aren mencoba mendekat. Wajah pucat orang itu terlihat sedih sekali.
"Kak Iel ?" tegur Aren.
Yang disapa tadi, lantas menoleh. Aren melempar senyum lega, pada Iel. Karena ternyata orang ini betul-betul kak Iel, bukan hantu seperti perkiraannya tadi.
"Kakak kok malem-malem ada disini ? Bukannya kakak di Singapore." tanya Aren.
"Hei, Ren. Sini cantik !!" Iel melambaikan tangannya, mengisyaratkan agar Aren menghampirinya, setelah cukup dekat, Iel meraih tangan Aren, dan mendudukkan gadis kecil itu dipangkuannya, "Iya, ini kakak juga baru sampai Ren. Tadinya pengen langsung nemuin bunda panti, Aren sama yang lain. Tapi kayaknya udah kemaleman ya ? Kakak gak enak kalau mau bangunin kalian. jadi tadi duduk dulu, rehat disini. capek. Aren apa kabar ?"
"Aren baik kok. Eh, tapi bukannya pintu gerbang ditutup ya kak ? Kalau gak bangunin bunda, trus gimana kakak bisa masuk ?"
"Mmh, itu Ren, mmh, kayaknya bunda lupa kunci pintu gerbangnya. Soalnya tadi pas kakak datang, gerbangnya masih ke buka."
"Oh. Gitu ya... Eh, kak. Aren sama temen-temen kanget banget tau sama kakak. Kak Iel kemana aja sih ? Kok udah jarang nemenin kita-kita main, trus kakak cantik yang waktu itu juga gak pernah diajak kesini lagi ?"
"Iya Ren, kakak lagi sibuk banget belakangan ini. Oh iya, kakak kemari juga mau sekalian pamitan. Mungkin kakak gak akan pernah kemari lagi, setelah ini. Tapi nanti kakak suruh temen-temen kakak yang lain buat sering jengukin kalian ya, disini."
"Pamit ? Emang kak Iel mau pergi kemana ? Mau pindah ke Singapore ya ? Yaaah, gak asik dong kalau gak ada kakak. Kak Iel itu udah kayak malaikat buat kami. Jarang-jarang ada orang yang perhatian dan sayang banget sama kita-kita kayak kak Iel."
"Kakak juga sebenarnya gak mau, kakak juga masih pengen main-main sama kalian, tapi..... Kakak tetep harus pergi, Ren. Pokoknya pesen kakak, Aren jangan nakal ya, harus nurut sama bunda, Aren harus selalu yakin dan semangatin temen-temen semua, kalian pasti sembuh. Terus kalau suatu hari ada kakak-kakak yang datang kemari, bilang ya... Kak Iel pengen buat sanggar seni gratis buat anak-anak yang pengen belajar berbagai kesenian."
"Kakak mau kemana sih ? Kakak jangan pergi dong..." Rengek Aren manja. Gadis kecil berponi itu, lalu mengalungkan kedua lengannya pada leher Gabriel.
"Nanti Aren juga tau. Kakak harus tetep pergi sayang. Jangan pernah lupain kakak ya, kakak pengen selalu hidup dihati orang-orang yang pernah kenal sama kakak."
"Mmh, walaupun Aren gak di kasih tau Kak Iel mau kemana, tapi dimanapun kakak nantinya, Aren akan selalu berdoa supaya kakak selaku bahagia dan di lindungi Tuhan. Kakak juga jangan lupain Aren lho."
Iel mengangguk mantap. Lalu dikecupnya kedua pipi gembil Aren dan memeluk tubuh mungil itu erat.
"Ya udah, kakak pamit ya, adik cantik. Take care."
"Tunggu kak !! Sebelum pergi, kak Iel mau gak, anterin Aren pipis dulu. Aren takut nih kak, ke kamar mandi sendirian."
Gabriel terkekeh, sekilas lagi-lagi diacaknya poni tebal Aren yang membingkai bagian atas wajahnya. Gabriel lalu menggandeng Aren, mengantarkannya, hingga ke kamar mandi yang ada di dekat musholla.
"Mau kakak temenin ke dalem ?" tanya Iel dengan tatapan genit.
"Huuuw, ya gak lah. Kak Iel tunggu sini aja." tolak gadis cerita yang kerap dijuluki Si Cabe Rawit itu. Ia segera memasuki kamar mandi. Setelah terdengan bunyi putaran kran air, bunyi gayung yang beradu dengan dinding bak kamar mandi, laku keracak air, tak Lama Aren keluar, "Haah, Lega banget. Makasih ya kak."
Aren celingukan, saat di depan kamar mandi, sudah tidak ada siapa-siapa lagi, "Lho kak Iel mana ya. Kok cepet ilangnya." gumam Aren, heran.
"Kak Iel !! Kak Iel... Kak !!" panggilnya, berulang-ulang kali.
Tapi nihil. Tidak ada sahutan apapun. Hanya kukukan burung hantu yang entah datang dari mana. Terdengar begitu mengerikan.
Ditambah malamnya yang begitu pekat. Karena langit, tak pernah bisa meloloskan diri dari kepungan mendung. Lengkalpah sudah, suasana yang membuat bulu kuduk siapapun meremang.
***
Sakit. Bukan saat jarum-jarum suntik itu menembus kulitku.
Bukan saat selang-selang dijejalkan melalui hidungku.
Bukan saat kemoterapi yang membuat tubuhku semakin kurus.
Bagiku, Sakit adalah saat melihat orang-orang yang aku sayangi menangis, sedangkan aku tidak pernah lagi bisa untuk menyeka air mata mereka.
Sakit adalah saat orang-orang tercintaku jatuh, sedangkan aku tidak lagi cukup kuat untuk mengulurkan lengan, membantu mereka bangkit.
Sakit adalah saat orang-orang yang aku kasihi bersedih sedangkan aku tidak pernah lagi mampu untuk sekedar membisikkan kalimat-kalimat penghibur.
Mama, Papa, Alvin, Via, semuanya. Kalian malaikat buat aku.
Aku cuma berharap, semua akan tetap baik setelah aku pergi.
Aku dapat banyak hal dari kalian yang selamanya gak akan pernah aku lupa. Semoga perpisahan ini cuma sementara ya, karena aku yakin, suatu hari Tuhan akan mempertemukan kita lagi ditempat yang sangaaat indah.
-Gabriel Stevent-
***
Ify, Agni dan Rio masih mengedarkan pandangan. Pesawat dengan rute penerbangan Singapore-Bandung, baru saja landing. Mereka bertiga masih mencari-cari orang-orang yang mereka tunggu sejak setengah jam lalu. Hari ke-10 dibulan ini. Karena hari libur, jadilah Bandara tak ubahnya pasar tradisional, ramai sekali. Hiruk pikuk dan seliweran ratusan atau bahkan ribuan umat, membuat 3 orang remaja itu, sedikit kesulitan menemukan objek yang dicari.
"Itu mereka !!" Agni menunjukkan ke satu titik. Tampak 5 orang dengan wajah loyo dan kacamata hitam, berjalan menghampiri mereka.
"Kok kayak community tukang pijet gitu ya ? Pake kacamata item segala." Ceplos Rio, yang membuat Ify dan Agni tertawa kecil.
Setelah gerombolan kecil itu mendekat. Barulah terlihat sesuatu yang janggal.
"Lho, bukannya katanya Alvin udah dapet donor mata ya ? Kok masih..." Agni terlihat enggan untuk meneruskan kalimatnya.
"Alvin sama aku emang udah dapet donor, Ag. Tapi kita milih operasi di Indonesia aja." jawab Sivia dengan suara bergetar.
"Trus lo kenapa udah balik Kka ? Bokap lo udah sembuh, gitu ? Dan... Iel. Ielnya mana ?" ganti Rio yang melontarkan pertanyaan.
Semua diam. Tidak ada satupun dari kelima orang itu yang berniat untuk menjawab.
Tiba-tiba saja Sivia berlari memeluk Ify, Ify yang tidak ada persiapan apapun sebelumnya, hampir saja terjengkang menerima pelukan Sivia yang lebih tepat disebut tubrukan.
"Harusnya Iel yang sembuh Fy, harusnya hari ini dia nemuin kalian disini, harusnya Iel yang sembuh, hiks. Aku...aku sama Alvin gak dapet donor, Iel yang lebih dulu dapet pendonor, harusnya...harusnya... Iel yang sembuh." Siva terus meraung dalam pelukan Ify, hingga gadis itu sempat menjadi perhatian beberapa orang di Bandara ini, "Iel... Kenapa harus Iel. Kenapa Tuhan gak pernah ngizinin orang sebaik dia, buat bahagia."
"Iel kenapa Vi ? Emang ada apa ? Kenapa dia gak pulang bareng kalian ?" tanya Ify, tanpa sadar sudah ikut berkaca-kaca.
Melihat mama Alvin juga tersedu dibahu suaminya, Ify, Rio dan Agni, yang memang belum tau apa-apa, menjadi semakin yakin bahwa sesuatu yang buruk telah terjadi.
Masih dalam rengkuhan sahabatnya, Sivia kembali bicara, "Iel yang lebih dulu dapet donor, Fy. Dia juga yang lebih dulu operasi. Harusnya, Iel sembuh. Iya kan Fy ? Iel keliatan seneng banget, dia selalu bilang sama aku bahwa sebentar lagi dia gak perlu ngerasain sakit kayak dulu-dulu. Tapi...tap...tapi... Operasinya hiks, operasinya gagal. Gak ada yang nyangka bakal gagal, karena Iel yakin kalau dia akan sembuh, begitu juga tim dokter, semua gak ada yang ngira bakal kayak gini. Dokter Fadli sampai mundur dari profesinya dan sekarang menetap di Kanada bersama istri dan anaknya karena beliau merasa sangat gagal, sedih, gak bisa nyelametin...nyelametin...nyawa... Iel." tangis Sivia kian memarah. Terdengar begitu memilukan.
Sedangkan Rio, Ify bn Agni hanya bisa mematung. Masih sulit mengangkap apa yang baru saja Sivia utarakan. Jadi, yang diradio tempo hari itu... Apa benar-benar Gabriel ? Yang berpamitan pada mereka semua ?
"Ginjal Iel cocok sama ginjalku, dia yang jadi pendonor buat aku sama Alvin. Sebelum operasi berlangsung, Iel udah menanda tangani surat penjanjian donor organ tubuhnya kalau operasi itu gagal dan terjadi sesuatu sama dia. Dokter Fadli sendiri yang bilang. Liat Fy !! Bahkan Iel selalu peduli sama orang-orang disekitarnya. Aku belum sempat bilang makasih, kenapa dia udah pergi ?? Hiks hiks. Kenapa harus Iel ? Kenapa Tuhan jahat sama Iel ? Harusnya dia sembuh, harusnya hari ini kalian bisa ketemu lagi sama kalian. Kenapa Iel ? Kenapa Fy ? Kasian Iel."
"Iel orang baik Via. Jadi Tuhan mau lebih cepet ketemu sama dia. Kita... Kita ikhlasin ya Vi, kamunya jangan nangis terus kayak gini, nanti Iel juga ikut sedih. " tutur Ify, lembut.
"Bawa gue pergi dari sini Kka !!" pinta Alvin, tiba-tiba.
Semua mata lantas tertuju padanya. Baru menyadari, bahwa orang yang paling kehilangan tentulah Alvin. Orang yang satu rumah dengan Iel, orang yang mengenal Iel sejak kecil, orang yang begitu menyayangi saudara laki-lakinya itu. Alvin, pasti menyimpan banyak sekali memori tentang senyum seorang Gabriel, keusilannya, semangatnya untuk meraih sesuatu. Alvin pasti mempunyai kenangan yang lebih besar, dari siapapun. Kenangan yang entah bagaimana, kelak, akan dikuburnya.
"Tapi Vin..."
"BAWA GUE PERGI DARI SINI KKA !! SEKARANG !!" raung Alvin.
Cakka akhirnya menurut. Didorongnya kursi roda Alvin menjauh.
Semua mengantarnya, dengan tatapan iba.
***
sebuah gedung berdiri kokoh diatas sebuah lahan cukup luas, di pusat kota Bandung. Dindingnya yang putih, ditambah lampu-lampu ber-watt cukup besar, mampu mengalahkan cahaya bulat sabit yang memang belum seberapa di cakrawala sana. Bila ditilik lebih ke dalam, akan terdapati kursi-kursi yang disusun rapi, semuanya menghadap panggung berukuran sedang yang ada dalam gedung ini. Sebagian kursi telah diisi, sedangkan beberapa, masih menunggu penghuninya yang mungkin tengah dalam perjalanan.
Terlihat beberapa operator, sedang sibuk melakukan check sound, ada juga yang memperbaiki lagi beberapa ornamen diatas panggung, juga letak kursi-kursi dan menyortir tempat ini dari sampah sekecil apapun.
Tak berapa lama, kursi-kursi yang semula kosong, mulai terisi oleh pemuda-pemudi ber-dress code hijam, yang baru saja berdatangan, memasuki gedung dengan plang besar bertulis Sanggar Seni Aluna, dimuka.
Tak ingin membuang waktu, karena dirasa sudah lebih dari 3/4 undangan yang telah hadir, maka, seperti yang telah dijadwalkan sebelumnya, pukul 19.30, Acha yang didakwa sebagai master of cheremony malam ini, segera memulai tugasnya.
"Selamat malam semuaa..." sapa gadis itu, lantang.
"Selamat malaaam..." koor para undangan yang hadir.
"Apa kabar nih kalian semua ??" tanya Acha, ramah.
"Baiiik.," lagi-lagi dijawab dengan kompak oleh seluruh tamu undangan.
"Sebelumnya, Acha atas nama Alvin dan keluarga mau ngucapin terima makasih yang sebesar-besarnya buat temen-temen yang udah nyempetin hadir malam ini. Seperti yang telah dituliskan dalam surat undangan yang sebelumnya sudah disebar, malam ini, selain acara, emm.. ya bisa dibilang syukuran keluarga Alvinlah ya, atas kelulusan Alvin, malam ini juga sebagai Acara peresmian sekaligus pembukaan Sanggar Aluna... Yang menurut informasi, dibangun atas permintaan teman dan sahabat tercinta kita, Gabriel.
Semua pasti masih ingat kan sama Iel ? Ingat sama senyum ramahnya, sama banyolan-banyolannya selama dikelas 11 IPA 1, inget sama gayanya yang bikin melting waktu main basket, semua pasti gak akan ada yang bisa lupa sama sosok abang yang menyenangkan, dan wakil ketua OSIS terbaik yang pernah CB punya, itu..." Acha mengambil nafas sejenak, sebelum melanjutkan ucapannya. Walau bagaimanapun, Acha juga sempat mengenal Gabriel, dan sama seperti Citra Bangsa yang langsung berduka ketika menerima berita kepergian Iel, ia juga masih sulit percaya sampai detik ini, bahwa kapten basket itu telah tiada. Begitupun dengan semua orang yang sempat mengenal Iel, pasti akan sangat merasa kehilangan, sosok hangat itu.
"Gak kerasa ya, Gabriel udah setahun pergi ninggalin kita semua." lanjut Acha.
"Gue malah masing sering berharap liat Iel lagi main basket dilapangan sekolah," gumam Cakka.
"Gue malah masih sering denger Iel gitaran, di kamarnya. Tiap pagi gue gedor-gedor pintu kamarnya, berasa dia masih ada, dan masih betah molor dikamarnya. Padahal udah jelas-jelas kamar Iel udah kosong." timpal Alvin.
"Malam ini ada banyak susunan acara yang bakal kita lalu. Tapi sebelumnya... Ada persembahan kecil dari alumni kelas IPA 1 plus temen-temen excul basket, untuk teman terbaik kami, Gabriel."
Diatas panggung terlihat anak-anak kecil berusia sekitar 8 sampai 10 tahun, mulai berbaris rapi. Ada sekitar 12 anak. Mereka adalah Aren dan kawan-kawannya dari panti asuhan kasih bunda.
"Ini ya adik-adik kesayangannya Iel." tanya Rio.
"Bukan cuma adik, mereka juga semangat hidup seorang Gabriel Stevent." jawab Sivia.
Sedangkan disatu titik diatas panggung, Ify juga telah siap dengan grand piano hitam didepannya. Sekilas gadis berdagu lancit itu melempar senyum kearah sahabat-sahabatnya yang duduk dikursi barisan depan. Perlahan, jemari lentiknya mulai menari, memainkan tuts-tuts piano.
Kau jauh melangkah
melewati batas waktu
menjauh dariku
akankah kita berjumpa kembali ?
Sahabat kecilku...
Masihkah kau ingat aku ?
Saat kau lantunkan segala cita dan tujuan mulia
tak ada satupun masa seindah saat kita bersama
bermain-main
hingga lupa waktu
mungkinkah kita kan mengulangnya ??
Suara anak-anak kecil tadi terdengan kompak melantunkan sebuah lagi, diiringi denting piano ify.
Sedangkan dibelakang mereka, terdapat sebuah layar besar yang menampilkan video dan gambar-gambar kebersamaan Iel dengan teman-teman sekelasnya serta anak-anak dari ekstrakulikuler basket.
"Kasih gue, Kka.. Kasih gue..." suara baritone milik pemuda manis itu terdengar menyayat hati, setiap orang yang memang sangat merindukannya.
Seakan menghidupkan kembali sosok Gabriel yang memang tidak pernah mati dalam hati dan fikiran masing-masing orang.
Potongan video tadi diambil saat Iel bermain basket terakhir kali pada pelajaran olah raga pak Marto yang kosong waktu itu.
"Gue jadi kangen gombalannya Iel diruang OSIS, waktu dulu." Shilla terkekeh, tapi disaat yang bersamaan, air matanya juga meleleh.
"Weist, gue dapet 80 mameen. Keren kan." kali ini video Iel yang waktu itu tertangkap handycamp baru Ozy, saat tengah memamerkan nilai ulangan fisikanya.
Tiada...tiada lagi tawamu
yang selalu menemani segala sedihku
tiada...tiada lagi
candamu yang selalu menghibur disaat ku lara
bila malam tiba
ku selalu memohonkan doa
menjaga jiwamu
hingga suatu masa
bertemu lagi
Anak-anak panti itu terus bernyanyi dengan tulus. Berharap suara mereka terdengar sampai ke surga, agar kakak kebanggaan mereka juga bisa mendengar nyanyian mereka.
Kini giliran beberapa foto yang tayang secara slide. Ada saat Iel begitu tampan berbalut jas putih waktu akan mementaskan drama musikal diacara pesta ulang tahun sekolah, beberapa hari sebelum ia berangkat ke Singapore dan tak kembali lagi untuk selamanya. Lalu foto kelas XI IPA 1 yang begitu mengagumkan (re : sangat berantakan) termasuk Iel didalamnya. Lalu gambar Iel, Alvin, Cakka dan Rio yang kompak memeletkan lidah kearah kamera Shilla ketika sedang menjalani hukuman berdiri hormat ke tiang bendera.
Foto-foto terus berganti. Menegas kan bahwa, telah begitu banyak kenangan yang terlewati selama ini.
Ada juga beberapa kutipan, tulisan tangan Iel,
"mentariku telah ada yang memiliki, tapi aku masih tetap memujanya. Karena aku masih sangat membutuhkan sinarnya.
Semoga kekagumanku terhadapnya, tak akan mengusik kebahagiannya dengan orang yang ia pilih." (re : part 6 )
"Aku takut mati. Takut kehilangan tawa mereka."
"waktu pelajaran sejarah kayak gini, gue yakin kiamat masih lama. karen awaktu berjalan lambat banget. hehe."
"Jika orang sepertiku diciptakan hanya untuk merepotkan orang lain, untuk apa Kau berikan aku umur panjang Tuhan ?"
"Aku ingin sembuh. Aku juga layak bahagia bukan. Aku mau sembuh. Aku mau mengejar matahari, meraih bulan dan menggapai bintang."
kau jauh melangkah melewati batas waktu
menjauh dariku
akankah kita berjumpa kembali ?
Sekarang yang muncul tinggal potret-potret sekolah secara keseluruhan. Tanpa Gabriel tentunya. Karena ia telah menjemput keabadian. Meninggalkan dunia yang fana, yang masih menjadi tempat berpijak orang-orang yang menyayangi dan disayanginya.
Ruang kesenian, lapangan upacara, kantin sekolah, ruang osis, perpustakaan, LAB, aula...
3 tahun sudah bangunan itu menemani hari-hari siswa-siswi kelas XII yang beberapa hari kemarin baru saja menerima surat kelulusan. SMA Citra Bangsa, adalah rumah kedua bagi mereka. Tidak terasa gedung SMA itu sebentar lagi akan ditinggalkan. Ratusan, bahkan mungkin ribuan kisah telah terekam. Tergurat tak kasat mata pada dinding-dinding yang mengukung selama 7 jam setiap harinya. Contek-menyontek, gerutuan terhadap guru fisika, saling mengejek, jatuh cinta, bahkan cerita tentang sosok Gabriel pun sebentar lagi hanya akan jadi kenangan.
Foto terakhir adalah foto seluruh siswa kelas XII IPA 1 yang kali ini minus Gabriel, berdiri berjajar didepan kelas kesayangan mereka.
Selamat jalan Gabriel dan Selamat meniti kehidupan baru teman-temanku.
Itulah kalimat penutup sebelum video dan gambar-gambar di layar besar itu benar-benar hilang.
Semua undangan yang hadir, tampak tidak ingin menahan lelehan air mata. Beberapa ada yang mulai berpelukan, membisikkan kata-kata pengantar dan doa agar masing-masing sukses pada jalan yang akan di pilih. Yang lain, ada yang bergandengan tangan, merangkul pundak temannya, saling meyakinkan bahwa hari esok yang indah telah menunggu mereka.
"Teman-teman gak kerasa, kita udah harus ngelepas seragam putih-abu kita. Udah harus nutup buku-buku SMA. Udah harus ngucapin salam perpisahan untuk sahabat-sahabat terbaik kita, tapi kita semua harus selalu ingat. Ini bukanlah akhir, justru ini adalah awal yang baru untuk kehidupan kita. Acha pribadi mau minta maaf yang sebesar-besarnya kalau selama ini punya banyak kesalahan, makasih kalian udah mau kenal dan temenan sama Acha. Bercermin dari kisah seorang Gabriel, udah sepantasnya kita yang masih diberi nikmat panjang umur ini menghargai waktu dan kesempatan. Selalu berusaha jadi yang terbaik untuk orang-orang yang menyayangi kita. Selamat memulai dunia baru teman-teman, God bless..."
"Lo jadi teladan Yel, gak akan ada satu orang pun yang bakal lupain Lo. Lo tetep hidup di hati kami, sampai kapanpun." ujar Agni, yang diamini dengan anggukan, oleh orang-orang yang mendengarnya.
Tiada...tiada lagi tawamu yang selalu menemani segala sedihku.
Tiada...tiada lagi candamu yang selalu menghibur disaat ku lara
bila malam tiba
ku selalu memohonkan doa
menjaga jiwamu
hingga suatu masa
bertemu kembali.
***
aku tidak pernah menyangka, bahwa kehilangan dia rasanya sama seperti kehilangan separuh dari jiwaku. Dia menitipkan gadisnya padaku. Agar aku jaga ??
Tapi bagaimana mungkin ?
Bahkan ketika memandang dua bola mata bening gadis itu, penyesalan kian bergumul dalam benakku.
Aku merebut satu-satunya, sumber kebahagiannya.
Gabriel. Ya, mungkin ia tidak ditakdir untuk lebih lama tinggal, karena ia punya tugas yang lebih penting. Menjadi malaikat penuntut ku, agar tidak lagi terseret oleh arus ego dan prasangka buruk terhadap orang lain.
Aku akan menjalani hidup baruku, aku harus siap. Untuk Iel, untuk Via dan untuk diriku sendiri.
-Alvin Jonathan Sindhunata-
***
Andai aku tau lebih dulu, senyumku mampu menguatkannya.
Aku tidak pernah merasa keberatan untuk tersenyum setiap detiknya.
Agar ia bisa bertahan lebih lama bersama kami disini.
Andai aku tau lebih dulu, tawaku bisa menepis sakitnya.
Aku ingin menyuguhkan tawaku, setiap berada di dekatnya.
Tapi terlambat. Ia telah pergi. Tak akan pernah kembali sekuat apapun aku memintanya. Tidak akan pernah lagi ku temukan, sekeras apapun aku mencari.
Kalau tawa dan senyum ini tak lagi bisa mengembalikannya, tak bisa di lihatnya, dengan senang hati aku akan terus tersenyum untuk orang-orang yang dicintainya.
Ini hidup baruku, awal yang harus mulai aku jalani. Aku yakin aku bisa. Aku harap dari tempatmu, kamu masih mau menjagaku, Gabriel. Because you're guardian angel in my life.
-Sivia Azizah-
***
"Jadi apa yang dibilang Debo itu benar ? Dia gak bohong, Yo ?" tanya Ify memastikan.
Lagi-lagi Rio mengangguk pasrah, membuat gadis manis didepannya menggigit bibir untuk menahan tangis.
"Trus kenapa lo malah ujan-ujanan sekarang ? Nanti lo sakit." Ify melepas jaket yang sebelumnya Rio sampirkan di pundaknya. Penyodorkan jaket itu, pada sang pemilik, "Ayo pakai !! Lo lebih butuh dari gue." suruh Ify.
Rio terdiam. Tidak bergerak, tidak juga bicara apa-apa. Hanya hembusan nafas panjang yang terdengar dari pemuda itu.
"Sebenarnya....." Rio menggantung kalimatnya, tanpa Ify sadari pemuda itu tengah menarik nafas dalam-dalam, mengambil ancang-ancang untuk segera kabur nantinya, "Makanyaya Fy, lo tu harus rajin belajar bahasa Indonesia dengan baik dan benar. Jangan bahasa sunda mulu, lo bangga-banggain. Debo kan bilang gue 'pernah' sakit kanker. PERNAH Fy, per-nah. Tapi sekarang gue udah sembuuuh kaleee. Gue masuk RS kemaren karena sakit maag doang. Dodol sih lo, mau aja di bego-begoin si Debo. Bhahaha." Rio tertawa puas, dan lagi-lagi menjulingkan matanya, lalu berlari sekuat tenaga menjauh dari Ify yang sepertinya sudah siap meledak.
"Dasoooorr, Rio kunyuk. Rese lo, jelek, item, pesek, tau gitu males banget gue bela-belain ke Manado. Gue kira hidup lo gak lama lagi, siniii Looo. Jangan kabur, awas kalau kena, abis lo, sama gue." ancam Ify, galak.
"Gak takuut, gak takuut.. Wlek !!"
keduanya terus berlari, saling mengejar. Tanpa sadar, mereka meninggalkan semua hal pahit dan bayang-bayang masa lalu, jauh dibelakang. Membiarkan semua jadi kenangan, menguncinya rapat-rapat, agar tidak lagi mengusik hari esok yang tengah mereka songsong. Rio dan Ify, keduanya siap melangkah bersama, menjalani hari-hari indah yang tengah menunggu mereka, didepan sana.
***
"Yang lalu biarlah berlalu."
terdengar sederhana dan mudah. Tapi ternyata tidak untukku. Butuh lebih dari sekedar tangan takdir untuk membuat yang lalu benar-benar berlalu dari kehidupanku. Butuh keberanian yang cukup untuk mengusir Si-Masa-Lalu itu, agar pergi. tapi ternyata aku tidak seberani itu, sampai-sampai Tuhan harus mengirimkan malaikatnya untuk membantuku. Mengentasku dari belenggu masa lalu. Alyssa Saufika Umari. Entah kekuatan magic apa yang tersimpan dibalik senyumnya, dibalik renyah tawanya, binar cerianya, hingga aku percayakan hari-hariku untuk ia warnai. Aku percayakan hatiku untuk ia genggam, aku percayakan fikiranku untuk ia rasuki dengan pesonanya. Aku percaya Ify, dia masa depanku. Malaikat dalam hidupku.
-Mario Stevano Aditya Haling-
***
seperti yang pernah ia bilang, aku malaikat penolongnya. Maka aku izinkan diri ini untuk jadi orang yang pertama mengulurkan tangan saat ia terjatuh.
Seperti yang ia katakan, aku mataharinya. Maka aku akan dengan senang hati memcurahkan seluruh sinarku, untuk menerangi harinya.
Biar. Biar hanya aku saja yang ada untuknya. Biar hanya aku yang ia butuhkan. Biar hanya aku saja yang memahaminya. Jangan ada orang lain. Karena dengan begitu, dia... Mario Stevano Aditya, tidak akan pernah lagi sanggup jauh dari aku, selayaknya aku yang tak akan mungkin bisa tanpa dia.
-Alyssa Saufika Umari-
***
Singapore, tanggal 30 Maret 2011. Pukul 16.00 waktu setempat.
Seorang pemuda, masih dengan sweater hijau tosca yang menempel erat ditubuhnya, menyeruak masuk dengan wajah bingung. Ia menilik setiap sudut kamar rawat saudara laki-lakinya itu dengan seksama. Tidak banyak yang berubah sejak ia tinggalkan untuk mencari makanan ringan 30 menit yang lalu. Gadis berlesung pipit itu, masih betah menggenggam tangan saudaranya yang kini duduk tegang diatas ranjangnya. Segala macam alat medis dikamar ini juga, tidak bergeser barang seinci pun dari tempatnya tadi. Tapi suasana kamar ini, kenapa berubah ? Ada apa ?
Pemuda tadi, menumpukan pandangannya pada lelaki dan wanita paruh baya yang kini duduk tidak nyaman di sofa biru laut yang ada dikamar V.V.I.P ini. Papa dan mamanya. Seolah, pemuda ini adalah alien yang baru ditemui, kedua orang itu menatap canggung kearahnya.
Masih belum bergerak dari ambang pintu, pemuda
itu melempar tanya, "Ada apa sih ? Kok kayaknya ada yang aneh ya ?"
sepertinya tak ada satu orang pun yang berniat menjawabnya. Pemuda tadi tidak mendengar suara sekecil apapun dari siapapun yang ada dalam kamar ini. Hening. Ia mendesah keras. Diletakkan kantong kresek hitam yang semula ia jinjing. Setelah melepas sweaternya, dan meneguk setengah botol air mineral, ia lantas memilih duduk berhadapan dengan kedua orang tuanya.
"Ada apa ?" ulangnya bertanya. Dua orang didepannya malah saling melempar pandangan, "Jadi gak ada yang mau cerita ? OK. Fine. Gak masalah." tandasnya, sedikit jengkel.
"Lo dapet donor, Yel." sambar Alvin masih dari atas ranjangnya.
"Donor ? Lo bercandanya gini banget sih Vin." Iel memutar kepalanya menghadap Alvin. Walau bagi saudara laki-lakinya itu, kemanapun Iel melihat saat bicara dengannya, sudah tak penting lagi.
"Alvin gak bercanda, Yel. Tadi dokter Fadli kemari. Beliau bilang telah menemukan donor yang cocok untukmu. Ya, walaupun pendonornya bukan dari keluarga kandungmu, yang penting cocok, dan bisa dilakukan pendonoran. Dokter Fadli bilang, meskipun operasi transplantasi ini sudah cukup terlambat, tapi tetap layak untuk dicoba. Tapi..." papa menggantung penjelasannya, membiarkan Iel menampakkan ekspresi bingung yang kian menjadi.
"Tapi.....ekhm." lagi-lagi lelaki itu menunda menuntaskan kalimatnya. Terlihat, ia benar-benar tidak nyaman, menyampaikan kabar itu, "emmh... Alvin dan Sivia tidak jadi mendapat donor. Keluarga korban kecelakaan yang semalam, tidak setuju, kalau mata dan ginjal putri mereka ditransplantasi. Kami sudah menawarkan sejumlah uang sebagai ucapan t'rimakasih, tapi mereka malah mengancam akan melaporkan kami dan pihak rumah sakit kalau sampai melakukan mengambilan organ-organ tubuh putrinya untuk didonorkan."
"Lho kok gitu sih ? Harusnya mereka senang dong, putrinya masih bisa memberikan manfaat untuk kehidupan orang lain, bahkan setelah ia tiada. Toh putrinya gak memerlukan semua itu lagi kan." protes Iel.
"Pemikiran orang berbeda-beda, Nak. Mama juga sangat menyayangkan keputusan keluarga gadis itu." tutur mama, sambil menyandarkan kepalanya pada bahu bidang papa dan menangis disana, "Kasihan Alvin." imbuhnya, kecewa.
"Mama udah dong, Alvin gak pa-pa kok. Alvin malah sedih kalau mama kecewa kayak gitu." ujar Alvin, menenangkan.
"Maafin mama ya Yel. Bu...bukan berarti mama gak senang dengar kamu akhirnya mendapatkan pendonor. Hanya saja.....mama benar-benar ingin kedua pangeran mama bisa sama-sama sembuh." tutur Mama masih dengan sisa-sisa tangisnya.
"Gak pa-pa kok Ma, Iel ngerti. Emm, kalau boleh tau, apa dokter Fadli bilang, siapa pendonor buat Iel ?"
"Dokter Fadli gak menyinggung soal pendonor. Beliau cuma bilang, mulai besok kamu harus rawat inap dirumah sakit Yel. Dokter Fadli akan terus memantau kondisimu sebelum operasi. Operasinya sendiri bisa dilangsungkan secepatnya. 5 atau 7 hari kedepan, tergantung kondisi kamu dan pendonor. Kamu bisa langsung menemui Dokter Fadli untuk lebih jelasnya." ujar Papa.
Iel hanya menanggapi dengan satu anggukan singkat lalu berdiri menghampiri Alvin dan Sivia.
Pemuda manis itu, menepuk pundak Alvin beberapa kali. Lantas berujar, "Lo pasti sembuh Vin. Pasti."
Alvin hanya tersenyum simpul. Tidak munafik, ia sedikit kecewa. Kenapa justru Iel lah yang lebih dulu mendapatkan pendonor ?? Bukankah mereka ke Singapore, justru untuk kesembuhan Alvin ?
"Kamu juga Vi, kita semua pasti sembuh." tambah Iel, setelah melayangkan pandangannya dan mendapati siluet cantik Sivia yang tertegun dengan tatapan menerawang.
"Eh, emm, iya Yel." balas Sivia sekenanya. Karena sejatinya, Sivia sama sekali tidak yakin.
Kini giliran Iel yang tercenung. Masih belum yakin dengan apa yang ia dengar. Ia akan sembuh ? Benarkah ?
Setelah belasan tahun, bertahan tanpa pengharapan untuk sembuh. Setelah belasan tahun berjuang dengan hanya berbekal senyum peri kecilnya. Setelah belasan tahun ia ditemani rasa sakit yang menderanya tanpa jeda. Akhirnya ia akan sembuh ?
Ah, rasanya seperti mimpi saja. Atau Tuhan memang sedang mengizinkannya bermimpi dalam dunia nyata. Menghembuskan angin surga, sebelum akhirnya semua harus berakhir.
Bertepi. Berujung.
***
"Apa kamu yakin Gabriel ?" tanya dokter Fadli, serius. Pria itu tampak sedikit geram menyaksikan pasiennya yang terus terbahak. Padahal yang dibicarakan bukan masalah sepele, seperti betapa datarnya hidung sule atau betapa mempesonanya lesung pipit briptu Norna. Perkara ini lebih dari hal-hal nyeleneh macam itu. Ini masalah penting.
Masih dengan sisa-sisa tawanya, Iel menjawab asal, "Dokter sudah bertanya seperti itu 6 kali semenjak saya duduk disini." Iel lagi-lagi menyeringai.
"Saya rasa surat pernyataan ini sangat tidak perlu. Toh kamu akan sembuh." tukas dokter Fadli.
"Surat ini hanya akan jadi hitam diatas putih kalau operasi itu berhasil. Sedangkan kalau Tuhan berkehendak lain....." Iel memaikan bolpoint hitam di tangannya sambil melempar pandangan nakal yang membuat dokter Fadli semakin jengkel, "Tidak ada hal yang lebih membahagiakan untuk setiap orang, selain saat telah matipun ia masih bisa memberikan manfaat untuk orang lain. Bukan begitu pak dokter ?"
"Fuihh," dokter Fadli membuang nafas dengan kasar, "Entahlah Gabriel, tapi surat ini terkesan seperti wasiat terakhir kamu."
"Ooootidakbisa...seperti yang saya bilang dok. Saya belum mau mati, selama saya masih bisa melihat senyum di wajah cantik Sivia Azizah. Hehe."
"Yayaya. Baiklah, kalau begitu."
"Jadi udah boleh ditanda tanganin nih, dok."
dokter Fadli hanya menimpali dengan anggukan kepala. Seumur hidup pria ini, ia tidak akan pernah melupakan hari ini, 1 April 2011. Ia disadarkan tentang ketulusan oleh seorang anak berusia 17 tahun dalam menjalani titian hidupnya. Tidak ada yang menjanjikan piala, medali atau sekedar satu lembar piagam untuknya, tapi anak muda ini mampu berkorban habis-habisan seolah-olah pengorbanannya kelak akan diganjar kebahagian yang tak ternilai.
Setelah selesai membubuhkan tanda tangannya pada secarik kertas dihadapannya, Iel menyodorkan kertas itu pada dokter Fadli. Dokter Fadli menerimanya, lantas segera
memasukkan surat itu dalam laci meja kerjanya.
"Saya harap, saya tidak perlu mengeluarkan kertas ini lagi. Apalagi harus menyodorkannya kehadapan orang tuamu. Saya yakin, tidak akan perna sanggup melakukannya." tutur dokter Fadli, benar-benar terlihat enggan.
Gabriel hanya menanggapinya dengan senyum simpul.
***
Awal april. Matahari seperti telah menemukan kembali kekuatannya untuk membakar bumi setelah beberapa bulan terakhir mengalah dari hujan. Udara menjadi sangat panas, bahkan setelah malam menjelang. Panasnya tak kunjung lekang.
Dan masih beruntung, orang-orang yang mampu menggerakan tangan mereka untuk sekedar mengibas-ngibaskannya disekitar wajah. Pun dengan mereka yang masih bisa mengayunkan kaki, masih sanggup berjalan mencari dimana kiranya angin berpusar. Lantas bagaimana dengan ia ? Pemuda itu ? Apa ia juga merakan panas dan gerah ?
Lalu bagaimana ia mengusir panas dan gerah itu, sedangkan seluruh tubuhnya kaku, tak bergerak.
Bukan. Bukan karena kabel warna-warni serta alat-alat medis yang menempel pada tubuhnya yang membuat pemuda itu seolah membatu.
Hanya saja, mungkin ia terlalu enggan. Sudah cukup lama ia bertahan. Ia sudah ingin mererah. Lantas lemahkan ia ?
Tentu tidak. Akan ada saatnya untuk berhenti bukan, mungkin saja ini waktunya ia berhenti.
Dengan nyeri yang kian hebat menyiksa tubuh ringkihnya, pemuda itu terlihat mencoba memisahkan anyaman bulu matanya yang terjalin rapat. Sorot nanar itu, lantas muncul.
"Sayaang ?" isak pilu seorang ibu, yang tanpa jeda melafadz doa, tanpa kantuk tetap terjaga demi putra kebanggaanya, yang sudah sekian hari tertidur panjang.
Mata anak laki-laki itu berbinar pedih. "Aku mohon jangan menangis. Aku sedang berjuang. Aku mau sembuh. Jangan menangis." pintanya dalam hati. Ya, hanya hatinya yang sibuk berkoar sejak tadi, karena saat ini, suara seakan jadi sesuatu yang tabu untuknya.
Hati ibu mana yang tidak mencelos, yang tidak terluka, mendapati putra yang bisa begitu semangat dan menyenangkan, kini terkolek tak berdaya dan terlihat begitu rapuh.
"Kamu gak akan ninggalin mama kan sayang ? Jangan ya Nak, mama gak mau kamu pergi. Kamu harus sembuh ya, demi mama, demi papa, demi Alvin, demi sahabat-sahabat kamu. Mereka pasti nungguin kamu pulang lagi ke Bandung. Papa sudah atur semuanya, besok kita berangkat ke London, kamu akan diobati disana." suara itu bergetar, terdengar begitu tulus dan menenangkan. Jemarinya, mengelus lembut, puncak kepala putranya.
Pemuda itu tidak merespon apa-apa, hanya satu bulir air mata yang luruh, kemudian menyusuri pelipis kirinya. Sang mama dengan sigap segera menyeka buliran bening itu. Ini pertama kali ia mendapati putranya itu menangis. Sebegitu sakit kah yang dirasakan ?
"Sakit Nak ? Apanya yang sakit ? Sabar ya, ada mama disini. Kita lawan sakitnya sama-sama ya." tutur lembut wanita tadi, tangannya kini mendekap erat jemari kokoh, milik putranya, Gabriel.
"Tuhan pindahkan sakit yang dirasakan putraku, kepadaku. Biar aku yang menanggungnya, izinkan ia sembuh. Biar aku yang menggantikannya." doa wanita tadi, ikhlas.
"Oya, biar gak terasa sakitnya. Mama cerita aja ya sayang.....ma...mama...hiks." seorang wanita tetaplah wanita, butuh benteng yang lebih kokoh dari sekedar lapisan baja atau besi untuk bisa membendung pasukan air matanya agar tidak tercurah saat ia sedih, "Kamu tau ? Dulu waktu kamu kecil, kamu seneng banget main bola sama Alvin. Kamu juga seneng main hujan. Trus waktu dulu kita sekeluarga liburan ke Paris, Iel kecil dulu pernah janji lho sama mama, suatu saat bakal bikinin mama menara yang gak kalah cantik dari eiffel. Iel harus sembuh ya... Mama mau liat kamu sama Alvin lulus-lulusan. Mau foto bareng, waktu nanti kalian di wisuda..."
Gabriel berulang kali terlihat ingin bersuara, "Ma..ma.. Maka..sih.. Bu..buat se..mua."
tut-tut-tut
layar monitor disamping tempat tidur Iel, yang memperlihatkan garis-garis serupa grafik terus mengalami penurunan.
Waktu terus menggulirkan detik yang tak akan pernah kembali. Masa terus terajut sempurna, bentangan jarak siap terurai. Adakah yang menyadarinya ?
Ada penghabisan pada setiap kata. Ada ujung untuk setiap jalan.
Mama masih terus bercerita dengan tawa-tawa kecil yang jelas di paksaan. Sedangkan pemuda dihadapannya justru semakin gelisah. Merasakan nafasnya yang makin tersengal, padahal alat bantu pernafasan telah dipasang. Jantungnya seperti semakin malas berdenyut. Disela perang melawan rasa sakit dan takut yang memeluknya, pemuda itu berusaha menyentuh wajah Mama tercintanya.
Wanita yang sudah ia anggap, Ibu kandungnya. Yang merawatnya, sekian belas tahun, dengan kasih sayang yang berlimpah meski Iel tidak lahir dari rahimnya.
Jemari pemuda itu, menelusuri paras ibunya yang dibanjiri air mata.
Perpisahan itu kian dekat, tidak mau diajak bernego. Hanya memberinya sedikit kesempatan untuk tersenyum. Hanya seulas senyum.
Senyum terakhir seorang Gabriel yang hanya akan terpatri dalam ingatan Mamanya. Karena, kenyataannya tidak ada orang lain, selain wanita itu, yang melepas kepergiannya. Tidak sahabat-sahabatnya, tidak Alvin, tidak Papanya, tidak juga Sivia, gadis yang telah membawanya bertahan sampai sejauh ini.
Tanggal 8 april. Tepat pukul 9 malam, waktu Singapore. Mulai hari ini dan seterusnya. Seorang Gabriel hanya akan hidup dalam kenangan dan ingatan, orang-orang yang menyayanginya.
***
malam dengan bulan yang membulat sempurna. Cerah. Angin daerah puncak yang biasanya membuat orang enggan beraktifitas malam hari, entah mengapa malam ini berhembus, sangat bersahabat. Pelan, semilir. Sinar putih dari kerlipan bintang, jatuh tepat, terpantul pada sepasang bola mata milik para penghuni taman belakang ini. Membuat benda-benda bening itu berkilat cemerlang.
Derik jangkrik dan kawanannya, berbaur dengan radio tape yang kini tengah melantunkan salah satu lagu hits dari band lokal.
Benar-benar malam yang sempurna.
"Ray !! Itu jagungnya dibakar dong, bukan dipukul-pukulin ke meja begitu. Lo obsesi jadi drummer atau emang gak ngotak sih ?" koar Oik yang ditimpali cengiran tanpa dosa oleh Ray.
"Ozyyy... Ampun deh lo. Kulitnya dikupas dulu dong. Dodol banget sih, kok langsung diolesin bumbu gitu sih ?" protes Gita.
"Biar cepet Git, ntar juga nyerep bumbunya."
"Lo juga ngipasinnya jangan pake tenaga kuli gitu dong, udah sono-sono deh lo, pergi yang jauh, biar gue aja yang kerjain." usir Gita. Yang diusir malah cengengesan gak jelas.
"Dedeepp, aduh lo kalo mau spam iler jangan di pundak gue juga kali yaaa... Ah, jijay banget." keluh Debo pada Deva yang bersandar dibahunya.
"Sewot banget sih, PMS ya lo ?" gerutu Deva.
"Lo tu PMS, Pemuda Mata Super." timpal Debo.
"Achaaaa, lo ngambil kecap apa nge-blow rambuut lama banget... ??" teriak Oik.
"Devaaa, hp Keke lowbat, chargernya manaaaa ?"
"Ozyyy, sticker hadiah dari chiki gue tadi mana, lo colong yaaa ?" koar Ray, menuduh.
Malam ini hangat. Teriakan-teriakan tanpa beban itu pun membahana, menyatu dengan desau angin, menyentuh lereng-lereng bukit, mengusik dedaunan, merambati semak, lantas terarsip rapi dalam memori masing-masing. Yang akan jadi kenangan paling berharga saat mereka harus bertemu dengan perpisahan, kelak. Yang akan jadi pemanggil tangis saat bentangan ruang dan waktu melahirkan serpihan rindu. Yang akan jadi pengundang tawa, saat kotak-kotak cerita kembali dikuar ketika nanti bersua lagi.
"Aduh, please deh. Virus tarzannya si Ipot udah nyebar ya ke elo semua ? Ngapain sih, rusuh banget teriak-teriak ?" gerutu Agni, yang baru keluar membawa sebuah botol, "Berhubung yang punya hajat ngilang gitu aja, mendingan kita..."
"Bakar-bakarannya gak jadi sekarang ? Nunggu Rio dulu, gitu ? Ah, awas aja tu anak. Nyampe kemari, yang ada dia yang gue bakar." sela Deva, kesal.
Agni yang merasa tidak enak hati dan fikiran karena perkataannya dipotong Deva, ia memutar bola matanya, "Mending kita ma..."
"Gak tau apa gue udah laper. Tu anak dua, emang bener-benar ngesel..."
"Gak usah motong omongan gue bisa kali ya, Dev..." sambar Agni jengkel, "Mending kita main ini aja dulu." Agni memamerkan botol yang sejak tadi menghuni genggamannya, "Jadi mainnya gini. Ntar botolnya diputer, kita duduk melingkar. Nah, nanti mulut botolnya berhenti disiapa ? Berarti orang itu harus mau nurutin perintah salah satu dari kita. OK ?!!" Agni menjelaskan, dengan riang gembira.
Teman-teman yang lain, segera duduk melingkar dengan antusiasme tingkat tinggi. Beharap ini adalah waktu yang tepat dari Tuhan Yang Maha Esa untuk membalaskan dendam kesumat yang terpendam demikian lama.
"Mulai ya... Gue yang puter." Ujar Agni. Lalu memutar botol bekas sirup yang diletakkan di tengah-tengah lingkaran. Botol pun berputar teratur.
"Ozy kenaaa..." Seru semuanya kompak, saat mulut botol berhenti tepat menghadap Ozy.
"Pilih jujur atau nekat ?" tawar Agni.
"Jujur aja deh." jawab Ozy pasrah.
"Pilih mana charlie ST12 apa Briptu Norman, hayoo ?!" Debo yang mengajukan pertanyaan.
"Pilihan yang sulit." Ozy sok berpikir serius, seolah-olah tengah memikirkan bagaimana caranya memusnahkan NII dari muka bumi ibu pertiwi.
"Yang sesuih hati aja Zy..." usul Oik.
"Masalahnya gue udah gak punya hati, Ik. Kan udah gue kasih semuanya ke Acha..." tutur Ozy, tersipu-sipu.
"Hoeeks" koor yang lain.
"Udah cepet jawab aja sih, lama deh lo. Daripada lo, gue suruh ngaku waktu kecil pernah didandanin kayak cewek sama nyokap lo, kan bakal lebih malu." cerocos Ray, polos.
"Muhammad Raynald Prasetya, trimakasih telah membongkar aib gue didepan umum," Ozy tersenyum dongkol, "Ya udah deh gue pilih Briptu Norman aja. Callae chaiya chaiya chaiya, callae chaiya chaiya chaiya..." Ozy menyenggol-nyenggol lengan Acha, mirip gerakan yang ia tonton dari salah satu station TV swasta beberapa hari lalu, yang diperagakan oleh idola barunya, Briptu Norman.
"OK. Lanjut ya. Sekarang keke yang puter." ujar Keke.
Untuk kedua kalinya botol berputar ditengah lingkaran anak-anak.
"Gitaaa kenaaa." koor mereka kompak.
"Cium Ray." perintah Agni, spontan.
"Weist. Agni frontal." gerutu Oik.
"Daripada gue cium tu bocah gondrong, mending cium kambing." tolak Gita, sambil terkekeh.
"Lha emang apa bedanya, Ray sama kambing ?" celetuk Deva.
"Udah, udah gak usah ribut. Mending gue aja yang wakilin cium si Ray. cini Ray cuyuuung." Kelakar Debo, dengan wajah sok imut menggelikan.
"Idih apaan sih lo De, ogah. Sono jauh-jauh lo. Hush. Hush. Hush." usir Ray, yang menatap Debo dengan hasrat mual yang membuncah.
"Kalau Ray gak mau, gue juga gak pa-pa De. Gue udah gelap mata nih, gara-gara kelaperan." ujar Deva, asal.
"No. Thanks." balas Debo, cool.
"Dasar, manusia-manusia labil." cibir Agni.
"Eh, ngomong-ngomong, Rio-Ify sama Riko-Shilla mana ya ? Kok gak muncul-muncul ?" tanya Acha heran.
"Palingan lagi pada mojok dibawah pohon Asem. Gak tau aja mereka, sekarang lagi ada wabah ulet bulu. Gatel-gatel nyaho deh tu." timpal Ozy.
"Wooo, lo mah doanya jelek mulu sih Zy. Gak ada amalnya banget jadi orang." Dumel Shilla yang baru muncul, diiringi Riko. Gadis cantik itu melempar senyum pada semua temannya, lalu duduk bergabung bersama mereka.
"Tinggal the best couplenya CB ya yang belum kumpul." tanya Riko.
"Tuuh. Mereka." Agni mengarahkan dagunya ke depan. Dalam remang malam, siluet milik Rio dan Ify mulai terlihat, berjalan kearah mereka.
"Sekarang kayaknya cowok-cowok hitam manis-manis gimana gitu, lagi booming ya. Riko dapet Shilla, most wanted girlnya CB gitu lho. Si Rio dikejar-kejar cewek, sampe disusulin ke Manado pula." bisik Deva pada Ozy yang duduk tepat disampingnya.
"Iye, cowok-cowok yang matanya belo kayak lo mah udah gak diminati." celetuk Ozy yang membuatnya dihadiahi jitakan oleh Deva.
"Apalagi model si Ray. Udah jadoel sekali. Gondrong. Kayak jamannya Ahmad Dani-Maya Estianti aja." ledek Deva pada Ray yang duduk besila disisi Oik, tak jauh dari Deva.
"Wooo, ngatain gue lagi lo. Biarpun gue jadoel, liat dong, disamping gue, gue berhasil menaklukan hati seorang gadis cantik." kata Ray, mulai genit.
"Tu kan betulan jadoel. Gombalannya aja ala-ala Soekarno-Fatmawati." tambah Deva.
"Pokoknya ya Yo, gue maunya anak pertama cewek dulu. Biar bisa bantuin mamanya ngurus rumah." lamat-lamat suara cempreng Ify terdengar tengah mengobrol dengan Rio yang digandengnya.
"Mendingan cowok dulu dong Fy, biar bisa jagain adik-adiknya." balas Rio.
"Idih, ogah Ah, anak cowok kan seringnya bandel. Sukanya main mulu, ntar item lagi kayak lo."
"Tadi idung, sekarang kulit. Mau lo apa sih Fy ?" sewot Rio.
"Hehe peace !! Rio kalau ngambek makin cakep deh." goda Ify cengengesan, "Ya udah biar adil anak pertama kita kembar cewek-cowok aja ya. Gimana ?"
"Kita ? Ish, yakin bener, gue mau married sama lo ?"
"Ya yakinlah. Emang siapa lagi yang mau sama cowok cengeng kayak lo. Kabur-kaburan pula. Gak bertanggung jawab."
"Eh, ralat ya. Gue tu gak cengeng. Gue dulu tu terlalu sedih karena rasa sayang dan kesetian seorang Mario itu benar-benar besar, plus karena gue ganteng dan romantis."
"gak nyambung lo."
"Woy !! Ini pengantin baru, udah ribut aja ngomongin anak. Kita tuh nungguin kalian tau gak ? Malah asik ngobrol ngaler-ngidul tanpa dosa." omel Deva yang memang terlihat paling menyedihkan karena belum makan sejak siang tadi.
"Iya, gimana sih, yang punya acara kok malah ngilang-ngilang." timpal Keke.
"Hehe. Iya, sorry ya. Padahal sih, kalian makan-makan aja duluan." tutur Rio yang kemudian ikut duduk melingkar bersama yang lain.
Malam ini mereka semua berkumpul disini, memang atas undangan Rio. Rio mengajak mereka berlibur di Villa Omnya dikawasan puncak. Sekaligus mengadakan party kecil-kecilan untuk merayakan resminya hubungan Rio dengan Ify. Yang diundang memang hanya kawan-kawan dekat saja, karena kamar Villa pun terbatas jumlahnya.
"Ya udah kalau gitu, mulai aja yuk. Mau bakar-bakar apa dulu nih ?" tanya Ray, antusias.
"Eh, eh, tunggu dong." larang Ify, "Mmh, sebelumnya, mumpung kita ngumpul gini, gue man nanya dong. Selama kita sekelas hampir 2 tahun ini, siapa temen yang paling kalian kagumi. Jawab yang jujur ya." tanya Ify, entah dengan tujuan apa.
"Mulai dari Lo, Ray." Intruksi Ify.
"Alvin Jonathan Sindhunata." jawab Ray, mantap.
"Ashilla Zahrantiara." timpal Oik.
"Cakka Kawekas Nuraga." tambah Keke.
"Mario Stevano Aditya." ujar Deva.
"Raissa Arif." aku Ozy.
"Ahmad Fauzi Adriansyah." tutur Acha, manis.
"Ify." ujar Debo, singkat.
"Mmh, Mario Stevano Aditya." Imbuh Gita.
"Cakka Kawekas Nuraga." lirih Agni, dengan sedikit buncahan rindu dihatinya.
"Mmh, kalau gue sih ya, kagum sama Ashilla Zahrantiara." papar Riko.
"Alyssa Saufika Umari." ujar Shilla, yakin.
"Sivia Azizah sama Agni Tri Nubuwati. Gue gak akan pernah bisa milih salah satunya."
"Gabriel Stev-"
Klik
jatuh air mataku
iringi remuk redam hatiku
saat, ku kehilanganmu
dan hanya, rintik hujan yang menemani aku
tiba-tiba, sebelum Rio menyelesaikan kalimatnya, radio tape berukuran sedang disebelah Ozy menyala. Tanpa disetel, dan tanpa harus memutar tuning untuk mencari gelombang, frekuensi yang tertangkap sudah sangat jelas. Sekarang entah station radio mana itu, tengah memperdengarkan salah satu single teranyar milih grup band, Hijau Daun.
Semua mendelik kearah Ozy yang kini mengangkat kedua tangan dengan kata-kata Sumpah-Gak-Gue-Apa-Apain, tercetak besar-besar diwajahnya.
"Hai, hai, GSD Fm semuanya. Udah 10 menit lewat nih dari jam 8 malam, saatnya gue, Irva Lestari nemenin kalian semua di acara kesayangan kita, 'Kisah Putih Abu-Abu" edisi 8 April 2011. OK. OK. Distudio kami, udah hadir satu cowok ganteng yang nantinya akan berbagi cerita sama kita-kita. OK, masnya yang ganjeng, boleh say hi dulu dong sama sobat GSD Fm..."
"Ah, Zy matiin aja napa. Lo kan yang deketan, acara gituan aja lo setel." suruh Deva.
"Gak gue setel kok Dev, sumpah. Nyala sendiri." bela Ozy.
"Hai. Malam, sobat GSD Fm, semuanya." suara berat itu membuat setiap anak, anggota lingkaran kecil dihalaman belakang Villa itu, sama-sama menegang.
Mereka semua tentu kenal, suara siapa yang menyapa tadi.
Disaat aku bertahan
selama ini aku bertahan
lewati semua malam, dingin
yang ku pandangi, hanyalah langkahmu
"OK deh. Mas disamping saya ini katanya mau sharing bareng kita tentang kisah putih abu-abunya. Ya udah, langsung aja ya, check it out."
"Mmh, bingung juga ya mau mulai cerita darimana. Sebenarnya sih, kisah putih abu-abu gue saja aja, gak beda jauh sama masa-masa SMA kalian semua. Sekolah, persahabatan, keluarga sampai hal terklasik seperti percintaan, semua itu juga ada di kisah putih abu-abu gue. Emm, mungkin yang pertama gue ceritain, tentang sekolah gue aja kali ya. Tepatnya kelas kebanggaan gue, XI IPA 1. Di kelas gue, semua udah kayak keluarga. Kita malah punya panggilan-panggilan khusus, kayak Angel yang di panggil bunda, Acha yang di panggil adek, Zeze yang di panggil mbak, ada yang di panggil princess, nenek bawel, gue juga sering di panggil abang. Gue bener-bener ngerasa punya keluarga kedua disekolah.
Kita semua kompak. Kita selalu saling bantu, terutama waktu ulangan. Hehe. Gue gak akan pernah lupa XI IPA 1, yang tiap pagi rusuh ngerjain PR, gitar-gitaran pas jam kosong, tidur massal pas pelajaran sejarah. Hehe. Gue selalu berharap sempet ngerayain lulus-lulusan sama semua anak-anak IPA 1." suara dari radio tape itu terdengar parau.
"Itu Gabriel ya ?" tanya Acha, ragu.
Yang lain pun tampak masih sangat bingung, sehingga hanya merespon dengan gelengan kepala atau sekedar mengangkat bahu.
"Gue juga punya sahabat. Dua orang." lanjut pemuda diseberang sana, "Ada yang sok kecakepan dengan menobatkan diri sebagai playboy. Ada juga yang terlalu pengecut sampai-sampai jadiin cewek tameng buat ngehindarin masa lalunya. Tapi gimana pun, mereka tetep sobat terbaik gue. Mereka jadi satu dari sekian banyak alasan yang bikin gue masih betah tinggal di dunia. Hehe. Ya, kalau diibaratkan anggota tubuh. Mereka tangan gue, satu yang kanan dan yang lain kirinya. Gue bakal cacat tanpa mereka. Gue selalu berdoa semoga keduanya selalu bahagia dan gak akan pernah lupa sama gue, walaupun sekarang gue jauh."
wahai kau air mataku
hanya engkaulah saksi hidupku
saat aku kehilangannya
saat aku kehilangannya
Ify melirik Rio sekilas. Tampak pemuda itu menunduk dengan ekspresi yang sulit diartikan. Teman-teman yang lain pun begitu, larut dalam teka-teka tentang siapa sebenarnya yang tengah berbicara di seberang sana ?
Bahkan Deva yang sedaritadi sibuk mengusulkan agar makan-makannya dipercepat, kini bungkam, bagai dijejali 5 pasang kaos kaki.
"Selanjutnya keluarga gue. Mama sama Papa gue tercinta. Gue ini cuma anak pungut dikeluarga gue, tapi gue gak pernah ngerasa kekurangan kasih sayang. Dari kecil gue gak pernah tau siapa orang tua kandung gue, tapi gue gak sedih, karena gue udah punya Mama sama Papa angkat yang kasih sayangnya lebih besar dari kedua orang tua kandung gue yang tega ninggalin anak usia 2 tahun dipanti asuhan. Sendirian. Seumur hidup gue, hal yang paling pengen gue lakuin adalah selalu bikin Mama sama Papa bangga. Semua yang pernah gue raih selama ini buat mereka, malaikat hidup gue. Mama sama Papa."
Angin berdesau lirih. Dingin. Tak ada yang tau, sejak kapan tepatnya atmosfer hangat tadi menguar, berganti haru biru yang entah karena apa. Bahkan tanpa alasan yang jelas, Shilla mulai berkaca-kaca, "Gue kok nangis ya ?" gumamnya, pada diri sendiri.
Mereka bilang, saat angin menggugurkan dedaunan dari pohonnya, saat itu, entah dibelahan bumi yang mana, seseorang harus terbang jauh meninggalkan orang-orang terkasihnya.
Dan lihat !! Daun-daun trembesi didekat belukar sama, gugur diterpa hembusan angin.
Tak ada yang mengerti...
Meski alam berisyarat.
Harusnya terbaca. Jelas.
Perpisahan itu, telah mengguguskan wujudnya.
"Dan terakhir, tentang cinta gue..." suara berat itu semakin terdengar lirih, seolah sejak tadi ada yang terus-menerus menyedot volumenya.
Tak pernah aku bertahan
selama ini aku bertahan
lewati semua malam
dingin
yang aku pandangi
hanyalah langkahmu
"Gak banyak yang bisa gue ceritain kalau soal yang satu ini. Ya, gue pernah jatuh cinta dan sama seorang cewek pastinya, karena gue masih normal. Tapi sekarang cewek itu udah bahagia sama orang lain. Orang yang bener-bener tepat, orang yang gak pengecut kayak gue, orang yang rela ngelakuin apapun buat cewek itu.
Oh iya, dan ada satu lagi, orang yang juga gak kalah penting dalam hidup gue. Saudara laki-laki gue. Best brother, gue. Gue cuma mau bilang makasih sama dia. Belasan tahun dia mau berbagi orang tua sama gue. Dia orang pertama yang gue cari waktu gue sedih, dia selalu jadi yang paling depan buat ngelindungin gue. Koko, kalau lo denger siaran ini, gue cuma mau bilang, makasih dan maaf karena waktu kecil, gue sering banget ngerebut mainan lo."
wahai kau air mataku
hanya engkaulah saksi hidupku
saat aku kehilangannya
saat aku kehilangannya.
Sudah hampir 30 menit, radio itu terus menghantarkan suara baritone mirip milik Gabriel. Andai tak terlalu sibuk menerka, andai tidak larut dalam tanda tanya, tentu setiap anggota lingkaran kecil ini, bisa menangkap, betapa ada hal yang begitu janggal dari siaran radio itu.
Pertama, kenapa sejak awal acara, sama sekali tidak ada jeda iklan.
Kedua, si pencerita diseberang sana, kenapa sama sekali tidak menyebutkan nama.
Ketiga, GSD Fm, nama yang cukup aneh untuk dijadikan nama sebuah radio, lebih terkesan seperti inisial nama.
"OK. OK. Sobat GSD Fm, bingung gak sih ? Kalau aku rada-rada bingung sih. Mas ganteng ini kok kayaknya sedang mengungkap riwayat hidup seseorang secara keseluruhan, gitu ya ? Karena kan biasanya, kalau kisah putih abu-abu itu, identik cuma tentang sahabat atau pacar gitu." cerocos penyiar yang mengaku bernama Irva itu.
"Hehe. Gitu ya ? Ya, gue emang gak bakat cerita sih. Sorry ya."
"Yowisslah, ora opo-opa, teu kunanaon. Mungkin lain waktu, bisa mampir lagi ya ke studio kami, kalau udah pinter bercerita, hehe. By the way, berhubung durasi tinggal 5 menit lagi, ada pesan-pesan, atau salam-salam yang ingin disampaikan mungkin, sok mangga.." tawar Irva.
"Mmh, apa ya ? Intinya sih, gue mau pamitan aja kali ya, sama semua yang pernah kenal sama gue, temen-temen dibandung, sobat-sobat gue, rukun-rukun terus ya. 11 IPA 1, selalu kompak ya. Terus anak-anak basketnya, terus berprestasi. Gue minta maaf kalau banyak kesalahan. Take care. Udah deh itu aja."
"Wah, masnya mau pindahan ya ? Hehe. Semoga betah ya, dirumah barunya. OK. Guys, itu tadi cerita dari mas ganteng yang namanya gak mau di publish. Semoga bisa diambil hikmah dan positifnya ya. Hari ini cukup sekian, see you next time. Good night and god bless you, all. Bye, bye."
Jatuhnya pun masih di pangkuanku
tak perlu kau sesali
wahai kau air mataku
wahai kau air mataku
di setiap detak jantungku
hanyalah engkau yang menemaniku
saat aku kehilanganmu
saat aku kehilanganmu.
***
***
Ia bahkan tidak sadar, telah menjadi saksi pergantian siang dan malam. Lazuardinya langit yang kemudian menjingga. Lantas, berubah jadi gelap, sama sekali tak tergubris olehnya.
Gadis itu, masih terus saja mengawang dalam lamunan. Ia memeluk kedua lututnya, menumpukan dagu pada kedua lutut yang mencuat keatas. Rambut panjangnya sedari tadi sudah bergerak lincah, diulik angin. Tidak ada bulan, pun dengan bintang. Entahlah, mungkin dua ikon malam yang fenomenal itu, juga tengah tenggelam dalam euforio konser Justin Bieber beberapa pekan lalu. Hingga keduanya lupa untuk menunaikan kewajiban mereka malam ini.
"Fuihh," gadis berpipi chubby itu mendesah keras-keras. Ada sesuatu yang mengganjal hati, yang membuatnya serba salah. Sama sekali tak berniat melakukan kegiatan apapun. Dengan jengah, ia kembali termenung. Jam setengah 11 malam, waktu Singapore. Haah, astaga, jadi telah berapa jam, ia berdiam di selasar rumah ini ? Kenapa waktu begitu cepat bergulir ?
Pantas saja, rumah-rumah disekitarnya sudah mulai menutup pintu dan jendela rapat-rapat. Menghentikan obrolan dan berbagai kegiatan lainnya, mematikan lampu-lampu, lantas beranjak untuk tidur. Ya, tidak aneh, karena hari memang sudah larut malam.
Malam agaknya mulai menunjukkan wujud aslinya, gelap, sepi dan dingin. Itu pulalah yang membuat keresahan gadis tadi kian menjadi.
"Auww." rintihnya. Kedua lengannya, spontan memegangi sekitar perutnya yang terasa sakit. Akhir-akhir ini kondisinya memang terus memburuk, ditambah tak ada ibu disampingnya.
Ia berniat meninggalkan teras rumah milik keluarga Alvin ini. Ia ingin segera berbaring di tempat tidurnya. Tapi, apa daya ? Seluruh tubuhnya serasa berat sekali untuk bergerak seinci pun dari tempatnya.
Bosan. Memandangi ujung-ujung kakinya, gadis berlesung pipit itu pun mengedarkan pandangannya. Pagar-pagar kayu, rimbunan pepohonan, kursi-kursi dari anyaman rotan. Ya, berbanding terbalik dengan rumah keluarga Alvin di Bandung, rumah yang di Singapore ini sangat sederhana. Hanya memiliki 3 kamar tidur, ruang tamu, ruang keluarga, dapur, 2 kamar mandi dan perpustakaan kecil.
"Ini kan hanya rumah singgah untuk kami kalau sedang ada project di Singapore, jadi ya tidak perlu besar-besar." begitulah alasan yang dituturkan sang kepala keluarga saat gadis tadi iseng-iseng mempertanyakan kesederhanaan rumah ini.
Setelah puas menjelajahkan pandangannya, mata gadis tadi terakhir bertumpu pada satu pot bunga euforbhia...
"Ibu..." lirihnya sedih.
Tanpa mampu di bendung, luapan rasa rindu pun akhirnya mengundang satu titik air mata untuk mulai meluruh, menyusuri pipi putihnya yang natural tanpa polesan bedak. Satu scene paling menyakitkan dalam hidupnya pun seakan di putar kembali, saat mengingat sosok Ibunya. Potongan-potongan dialog hari itu lagi-lagi berpusar dalam benak gadis tadi, Sivia.
*Flashback : On*
seorang wanita hampir paruh baya, dengan baju merah marun dan rok bunga-bunga, masuk ke dalam sebuah kamar rawat kelas menengah yang dihuni oleh 3 sampai 4 pasien. Ditangannya terdapat sebuah amplop berwarna coklat. Wajah yang biasanya ayu dan lembut itu, kini terlihat kuyu, membuat anak gadisnya yang terkolek disalah satu ranjang dalam kamar ini, menyadari ada sesuatu yang tidak beres. Ditambah lagi, dengan senyum yang di paksakan serta pelukan wanita tadi yang tiba-tiba, jelas sekali bahwa sesuatu yang buruk tengah terjadi.
"Ibu kenapa ? Ada apa ?"
wanita tadi tidak menjawab pertanyaan putrinya, malah terus asik membelai rambut indah putri tunggalnya itu.
"Ada apa sih Bu ? Jangan nangis dong, ntar Via ikutan nangis lho."
Sang Ibu tampaknya berusaha keras untuk mengerem lagu air matanya, setelah berhasil, dicobanya untuk menyusun kata demi kata yang cocok, agar putrinya tidak terlalu terkejut mendengar kabar yang akan disampaikannya
Perlahan, disodorkan amplop coklat yang sejak tadi dibawanya. Sivia menerima dengam ekspresi bingung, apalagi setelah menilik isi amplop itu. Walaupun Sivia adalah juara umum di sekolahnya, sekaligus juara 1 murid teladan se-Jawa Barat, ia masih sedikit awam dengan apa yang dimaksud secarik kertas yang sedang dibacanya.
"Ini maksudnya apa ya Bu ? Via gak ngerti."
Sang Ibu menarik nafas panjang sebelum berkata, "Ginjal kamu rusak Via. Tapi menurut dokter, belum terlalu parah, masih bisa disembuhkan tanpa perlu cangkok ginjal." papar Ibu dengan suara bergetar.
Sivia terdiam. Tidak terlalu mengerti, bagaimana perasaannya sekarang. Semuanya campur aduk, rancuh, dan tidak menentu. Mulai hari itu, segalanya berubah. Ia akan sering merepotkan Ibunya, belum lagi biaya yang perlu dikeluarkan untuk pengobatannya.
"Kenapa harus Via, Bu ?" lirih Sivia tak jelas antara protes atau bertanya.
"Sabar ya sayang, Ibu akan melakukan apapun supaya Via sembuh." tutur Ibu, menenangkan. Wanita itu kembali memeluk putri tercintanya, harta paling berharga dalam hidupnya.
Flashback : Off
kalau dulu, dokter bilang masih bisa sembuh tanpa operasi. Bagaimana dengan sekarang ? Bagaimana sebenarnya kondisinya sekarang ?
"Ibu... Via kangeen, Via takuut, Via mau pulang." lirih Sivia.
"Apa yang kamu takutin Vi ?"
"Astaga !!" pekik Sivia kaget. Mendapati seorang pemuda tengah duduk disisinya. Sejak kapan pemuda itu ada disini ? Kenapa Sivia sama sekali tidak menyadari kedatangannya ? Apa karena ia terlalu sibuk, memikirkan perkembangan kerusakan pada ginjalnya ?
"Iel ? Kamu bikin aku kaget tau gak."
"Apa yang kamu takutin, Vi ?" Pemuda tadi, Gabriel, mengulangi pertanyaannya.
Sivia tidak menjawab. Memilih bungkam. Memainkan jari-jari tangannya.
"Kamu takut mati ya Vi ?" tebak Iel.
Lagi-lagi, pemuda itu tidak mendapat jawaban atas pertanyaan.
"Mati itu kan hal yang paling pasti Vi, kenapa harus takut ? Seorang raja yang paling berkuasa sekalipun, gak akan bisa menghalau kematian. Iya kan ?"
"Bukan Yel. Bukan soal kematian, tapi... Ibu. Siapa yang bakal jagain ibu, kalau aku mati." balas Sivia.
"Tuhan itu maha perkasa, Ia akan selalu menjaga dan melindungi Ibu kamu, Vi. Udah ah, kok jadi mellow gini sih ? Gak perlu ngomongin kematian Vi, karena aku yakin kamu pasti sembuh."
"Amin..." timpal Sivia, mengamini.
"Kalau gitu..." Iel menaruh kedua tangannya pada pipi Sivia. Dibersihkan sisa-sisa air mata gadis cantik itu dengan ibu jarinya, "Jangan nangis lagi ya, aku gak suka liat kamu nangis, dan lagi gak selamanya kan aku bisa ngehapus air mata kamu kayak sekarang. Kamu masih ingat kan pesan aku dulu-"
"Kita punya lebih banyak alasan untuk tersenyum dibanding menangis." ujar Gabriel dan Sivia berbarengan.
Gabriel lantas mengacak poni peri kecilnya itu dengan gemas.
"Makasih ya Yel, kamu selalu bikin aku tenang. Kamu selalu ada buat aku, kamu tu a shoulder to cry on buat aku tau gak ? Hehe."
"Itu semua aku lakuin, karena aku, sayang banget sama kamu Vi."
Sivia tersenyum tipis, "Kalau gitu akasih atas rasa sayang kamu buat aku itu."
Gabriel mengangguk.
"Eh, by the way, kamu udah sadar Yel. Sejak kapan ?" tanya Sivia, cukup heran. Pasalnya sudah 5 hari terakhir ia tidak berkunjung ke rumah sakit. Mama dan Papa Alvin tidak ingin terjadi sesuatu yang buruk. Jadi setelah Sivia mengeluhkan sering merasa nyeri disekitar perutnya, mereka langsung menyuruh Sivia Istirahat total di rumah. Alhasil, Sivia juga kurang begitu tau kondisi terkini Alvin dan Gabriel pasca operasi transplantasi sumsum tulang.
"Iya, Vi. Mulai sekarang aku gak akan ngerasa sakit kayak dulu lagi. Aku udah sembuh. Dan, aku kesini juga mau sekalian pamit sama kamu. Aku mau pulang."
"Pulang ? Lho, emang kamu gak nunggu Alvin disini ? Kamu gak pulang bareng-bareng sama kita ?"
"Gak bisa Vi, aku harus duluan. Take care ya, inget apapun yang terjadi, kamu gak boleh nangis lagi, nanti cantiknya ilang. Jagain Alvin baik-baik ya, aku titip dia."
Kriing...Kriing...Kriing
Sivia baru saja akan membuka mulut untuk menimpali perkataan Iel, saat telfon berdering dari dalam rumah.
"Telfon bunyi tu, angkat dulu sana." titah Gabriel.
Sivia tidak membantah. Gadis itu segera beringsut dari tempat duduknya, lalu berjalan kd dalam rumah. Sejuruh kemudia, ia sudah mengangkat gagang telepon berwarna merah gelap, di hadapannya.
"Hallo ?" sapanya.
Tidak ada jawaban, yang terdengar hanya isakan entah milik siapa diujung sana.
"Hallo ?" ulang Sivia.
Baru setelah genap 5 kali, Sivia mengulang sapaannxa, orang di sebrang sana mulai berbicara.
"Tante ? Iya, ini Via.....tante kenapa nangis ?.....gak, gak mungkin. Gak mungkin tan, tante pasti bohong. Tante bercanda kan ?" Sivia mulai berkaca-kaca, sekuat tenaga gadis berkulit putih itu menggelengkan kepalanya, "Tapi...tapi...ini gak mungkin tan, ini pasti salah. Ini salah. Via gak percaya."
klik
Sivia segera memutus sambungan telepon. Pasti akan terkesan sangat tidak sopan, tapi ada yang lebih penting dari sekedar telepon. Sivia harus memastikan, ya, ia harus memastikan bahwa berita yang datang padanya barusan itu salah besar. Gadis bermata sipit itu segera berlari keluar rumah.
"Yel, kamu-" ucapannya terpotong saat orang yang dimaksud tidak ada lagi ditempatnya.
"Yel !!" panggil Sivia, "Iel !?" Sivia memutuskan untuk berlari ke jalan raya, mungkin Iel buru-buru pergi untuk mengejar jadwal penerbangan ke Indonesia, "IEL !! GABRIEL !!" teriak Sivia, lagi-lagi memanggil nama pemuda yang di sebut-sebut dalam komunikasi singkat lewat telepon tadi.
Sepi. Jalan raya yang luas itu lengang. Sivia baru menyadari satu hal, dengan apa Gabriel kemari ? Ia tidak membawa mobil. Lalu bagaimana ia bisa masuk, bukankah pintu pagarnya terkunci ? Bulu tengkuk Sivia meremang.
Gadis itu, menjatuhkan diri, lututnya yang beradu dengan aspal, sontak mengeluarkan darah. Tapi tak dirasa, "Kamu bukan pulang ke Indonesia, Yel ? Kenapa Yel, kenapa kamu tinggalin aku ?" ujar Sivia. Ia terceguk berkali-kali, menggigit bibir, mengepalkan tangan kuat-kuat, hingga terasa kuku-kuku yang menancap pada telapak tangannya.
Rasa kehilangan yang maha dahsyat, bahkan membuat gadis ini tak kuasa lagi meneteskan air mata.
Cettarrr
suara petir bergaung, menakutkan.
Bukan sahutan dari Gabriel yang Sivia peroleh. Tapi isyarat tegas dari sang alam bahwa massanya telah tiba, jarak akan segera dibentangkan. Genderang tangis akan segera ditabuh, kesedihan akan segera bernyanyi dan kehilangan akan segera keluar sebagai pemenang.
***
Waktu baru beranjak 15 menit dari tengah malam. Semua anak panti sedang asik tenggelam dalam selimut tebal mereka masing-masing. Tidak hujan saja, Bandung sudah sangat dingin, apalagi di tambah gerimis yang begitu setia sejak sore tadi menemani senandung sang kodok. Tentu hanya orang abnormal saja yang tidak memilìh meringkuk diatas tempat tidur.
"Sil... Silvia !! Anterin Aren pipis yuk, kebelet nih." pinta seorang gadis cilik pada teman satu ranjangnya.
"Ah, gak mau ah, Ren. Kamar mandi kan jauh, serem ah. Udah tahan aja ya." tolak gadis bernama Silvia tadi.
"Yah, gak bisa Sil, ayo dong, udah di ujung nih." desak Aren.
Tidak menggubris, Silvia malah menarik selimutnya hingga menutupi seluruh tubuhnya. Aren merengut. Terpaksa ia bangun dari tempat tidurnya dan beranjak ke kamar mandi.
Saat setelah menutup pimtu kamarnya, Aren hampir saja menjerit histeris saat dilihatnya ada sereorang dengan baju putih terduduk di salah satu kursi yang berjejer di depan ruang perpustakaan panti, tak jauh dari kamar Aren. Tapi kemudian, teriakkan itu ditahannya setelah menyadari siapa seseorang itu. Pelan, aren mencoba mendekat. Wajah pucat orang itu terlihat sedih sekali.
"Kak Iel ?" tegur Aren.
Yang disapa tadi, lantas menoleh. Aren melempar senyum lega, pada Iel. Karena ternyata orang ini betul-betul kak Iel, bukan hantu seperti perkiraannya tadi.
"Kakak kok malem-malem ada disini ? Bukannya kakak di Singapore." tanya Aren.
"Hei, Ren. Sini cantik !!" Iel melambaikan tangannya, mengisyaratkan agar Aren menghampirinya, setelah cukup dekat, Iel meraih tangan Aren, dan mendudukkan gadis kecil itu dipangkuannya, "Iya, ini kakak juga baru sampai Ren. Tadinya pengen langsung nemuin bunda panti, Aren sama yang lain. Tapi kayaknya udah kemaleman ya ? Kakak gak enak kalau mau bangunin kalian. jadi tadi duduk dulu, rehat disini. capek. Aren apa kabar ?"
"Aren baik kok. Eh, tapi bukannya pintu gerbang ditutup ya kak ? Kalau gak bangunin bunda, trus gimana kakak bisa masuk ?"
"Mmh, itu Ren, mmh, kayaknya bunda lupa kunci pintu gerbangnya. Soalnya tadi pas kakak datang, gerbangnya masih ke buka."
"Oh. Gitu ya... Eh, kak. Aren sama temen-temen kanget banget tau sama kakak. Kak Iel kemana aja sih ? Kok udah jarang nemenin kita-kita main, trus kakak cantik yang waktu itu juga gak pernah diajak kesini lagi ?"
"Iya Ren, kakak lagi sibuk banget belakangan ini. Oh iya, kakak kemari juga mau sekalian pamitan. Mungkin kakak gak akan pernah kemari lagi, setelah ini. Tapi nanti kakak suruh temen-temen kakak yang lain buat sering jengukin kalian ya, disini."
"Pamit ? Emang kak Iel mau pergi kemana ? Mau pindah ke Singapore ya ? Yaaah, gak asik dong kalau gak ada kakak. Kak Iel itu udah kayak malaikat buat kami. Jarang-jarang ada orang yang perhatian dan sayang banget sama kita-kita kayak kak Iel."
"Kakak juga sebenarnya gak mau, kakak juga masih pengen main-main sama kalian, tapi..... Kakak tetep harus pergi, Ren. Pokoknya pesen kakak, Aren jangan nakal ya, harus nurut sama bunda, Aren harus selalu yakin dan semangatin temen-temen semua, kalian pasti sembuh. Terus kalau suatu hari ada kakak-kakak yang datang kemari, bilang ya... Kak Iel pengen buat sanggar seni gratis buat anak-anak yang pengen belajar berbagai kesenian."
"Kakak mau kemana sih ? Kakak jangan pergi dong..." Rengek Aren manja. Gadis kecil berponi itu, lalu mengalungkan kedua lengannya pada leher Gabriel.
"Nanti Aren juga tau. Kakak harus tetep pergi sayang. Jangan pernah lupain kakak ya, kakak pengen selalu hidup dihati orang-orang yang pernah kenal sama kakak."
"Mmh, walaupun Aren gak di kasih tau Kak Iel mau kemana, tapi dimanapun kakak nantinya, Aren akan selalu berdoa supaya kakak selaku bahagia dan di lindungi Tuhan. Kakak juga jangan lupain Aren lho."
Iel mengangguk mantap. Lalu dikecupnya kedua pipi gembil Aren dan memeluk tubuh mungil itu erat.
"Ya udah, kakak pamit ya, adik cantik. Take care."
"Tunggu kak !! Sebelum pergi, kak Iel mau gak, anterin Aren pipis dulu. Aren takut nih kak, ke kamar mandi sendirian."
Gabriel terkekeh, sekilas lagi-lagi diacaknya poni tebal Aren yang membingkai bagian atas wajahnya. Gabriel lalu menggandeng Aren, mengantarkannya, hingga ke kamar mandi yang ada di dekat musholla.
"Mau kakak temenin ke dalem ?" tanya Iel dengan tatapan genit.
"Huuuw, ya gak lah. Kak Iel tunggu sini aja." tolak gadis cerita yang kerap dijuluki Si Cabe Rawit itu. Ia segera memasuki kamar mandi. Setelah terdengan bunyi putaran kran air, bunyi gayung yang beradu dengan dinding bak kamar mandi, laku keracak air, tak Lama Aren keluar, "Haah, Lega banget. Makasih ya kak."
Aren celingukan, saat di depan kamar mandi, sudah tidak ada siapa-siapa lagi, "Lho kak Iel mana ya. Kok cepet ilangnya." gumam Aren, heran.
"Kak Iel !! Kak Iel... Kak !!" panggilnya, berulang-ulang kali.
Tapi nihil. Tidak ada sahutan apapun. Hanya kukukan burung hantu yang entah datang dari mana. Terdengar begitu mengerikan.
Ditambah malamnya yang begitu pekat. Karena langit, tak pernah bisa meloloskan diri dari kepungan mendung. Lengkalpah sudah, suasana yang membuat bulu kuduk siapapun meremang.
***
Sakit. Bukan saat jarum-jarum suntik itu menembus kulitku.
Bukan saat selang-selang dijejalkan melalui hidungku.
Bukan saat kemoterapi yang membuat tubuhku semakin kurus.
Bagiku, Sakit adalah saat melihat orang-orang yang aku sayangi menangis, sedangkan aku tidak pernah lagi bisa untuk menyeka air mata mereka.
Sakit adalah saat orang-orang tercintaku jatuh, sedangkan aku tidak lagi cukup kuat untuk mengulurkan lengan, membantu mereka bangkit.
Sakit adalah saat orang-orang yang aku kasihi bersedih sedangkan aku tidak pernah lagi mampu untuk sekedar membisikkan kalimat-kalimat penghibur.
Mama, Papa, Alvin, Via, semuanya. Kalian malaikat buat aku.
Aku cuma berharap, semua akan tetap baik setelah aku pergi.
Aku dapat banyak hal dari kalian yang selamanya gak akan pernah aku lupa. Semoga perpisahan ini cuma sementara ya, karena aku yakin, suatu hari Tuhan akan mempertemukan kita lagi ditempat yang sangaaat indah.
-Gabriel Stevent-
***
Ify, Agni dan Rio masih mengedarkan pandangan. Pesawat dengan rute penerbangan Singapore-Bandung, baru saja landing. Mereka bertiga masih mencari-cari orang-orang yang mereka tunggu sejak setengah jam lalu. Hari ke-10 dibulan ini. Karena hari libur, jadilah Bandara tak ubahnya pasar tradisional, ramai sekali. Hiruk pikuk dan seliweran ratusan atau bahkan ribuan umat, membuat 3 orang remaja itu, sedikit kesulitan menemukan objek yang dicari.
"Itu mereka !!" Agni menunjukkan ke satu titik. Tampak 5 orang dengan wajah loyo dan kacamata hitam, berjalan menghampiri mereka.
"Kok kayak community tukang pijet gitu ya ? Pake kacamata item segala." Ceplos Rio, yang membuat Ify dan Agni tertawa kecil.
Setelah gerombolan kecil itu mendekat. Barulah terlihat sesuatu yang janggal.
"Lho, bukannya katanya Alvin udah dapet donor mata ya ? Kok masih..." Agni terlihat enggan untuk meneruskan kalimatnya.
"Alvin sama aku emang udah dapet donor, Ag. Tapi kita milih operasi di Indonesia aja." jawab Sivia dengan suara bergetar.
"Trus lo kenapa udah balik Kka ? Bokap lo udah sembuh, gitu ? Dan... Iel. Ielnya mana ?" ganti Rio yang melontarkan pertanyaan.
Semua diam. Tidak ada satupun dari kelima orang itu yang berniat untuk menjawab.
Tiba-tiba saja Sivia berlari memeluk Ify, Ify yang tidak ada persiapan apapun sebelumnya, hampir saja terjengkang menerima pelukan Sivia yang lebih tepat disebut tubrukan.
"Harusnya Iel yang sembuh Fy, harusnya hari ini dia nemuin kalian disini, harusnya Iel yang sembuh, hiks. Aku...aku sama Alvin gak dapet donor, Iel yang lebih dulu dapet pendonor, harusnya...harusnya... Iel yang sembuh." Siva terus meraung dalam pelukan Ify, hingga gadis itu sempat menjadi perhatian beberapa orang di Bandara ini, "Iel... Kenapa harus Iel. Kenapa Tuhan gak pernah ngizinin orang sebaik dia, buat bahagia."
"Iel kenapa Vi ? Emang ada apa ? Kenapa dia gak pulang bareng kalian ?" tanya Ify, tanpa sadar sudah ikut berkaca-kaca.
Melihat mama Alvin juga tersedu dibahu suaminya, Ify, Rio dan Agni, yang memang belum tau apa-apa, menjadi semakin yakin bahwa sesuatu yang buruk telah terjadi.
Masih dalam rengkuhan sahabatnya, Sivia kembali bicara, "Iel yang lebih dulu dapet donor, Fy. Dia juga yang lebih dulu operasi. Harusnya, Iel sembuh. Iya kan Fy ? Iel keliatan seneng banget, dia selalu bilang sama aku bahwa sebentar lagi dia gak perlu ngerasain sakit kayak dulu-dulu. Tapi...tap...tapi... Operasinya hiks, operasinya gagal. Gak ada yang nyangka bakal gagal, karena Iel yakin kalau dia akan sembuh, begitu juga tim dokter, semua gak ada yang ngira bakal kayak gini. Dokter Fadli sampai mundur dari profesinya dan sekarang menetap di Kanada bersama istri dan anaknya karena beliau merasa sangat gagal, sedih, gak bisa nyelametin...nyelametin...nyawa... Iel." tangis Sivia kian memarah. Terdengar begitu memilukan.
Sedangkan Rio, Ify bn Agni hanya bisa mematung. Masih sulit mengangkap apa yang baru saja Sivia utarakan. Jadi, yang diradio tempo hari itu... Apa benar-benar Gabriel ? Yang berpamitan pada mereka semua ?
"Ginjal Iel cocok sama ginjalku, dia yang jadi pendonor buat aku sama Alvin. Sebelum operasi berlangsung, Iel udah menanda tangani surat penjanjian donor organ tubuhnya kalau operasi itu gagal dan terjadi sesuatu sama dia. Dokter Fadli sendiri yang bilang. Liat Fy !! Bahkan Iel selalu peduli sama orang-orang disekitarnya. Aku belum sempat bilang makasih, kenapa dia udah pergi ?? Hiks hiks. Kenapa harus Iel ? Kenapa Tuhan jahat sama Iel ? Harusnya dia sembuh, harusnya hari ini kalian bisa ketemu lagi sama kalian. Kenapa Iel ? Kenapa Fy ? Kasian Iel."
"Iel orang baik Via. Jadi Tuhan mau lebih cepet ketemu sama dia. Kita... Kita ikhlasin ya Vi, kamunya jangan nangis terus kayak gini, nanti Iel juga ikut sedih. " tutur Ify, lembut.
"Bawa gue pergi dari sini Kka !!" pinta Alvin, tiba-tiba.
Semua mata lantas tertuju padanya. Baru menyadari, bahwa orang yang paling kehilangan tentulah Alvin. Orang yang satu rumah dengan Iel, orang yang mengenal Iel sejak kecil, orang yang begitu menyayangi saudara laki-lakinya itu. Alvin, pasti menyimpan banyak sekali memori tentang senyum seorang Gabriel, keusilannya, semangatnya untuk meraih sesuatu. Alvin pasti mempunyai kenangan yang lebih besar, dari siapapun. Kenangan yang entah bagaimana, kelak, akan dikuburnya.
"Tapi Vin..."
"BAWA GUE PERGI DARI SINI KKA !! SEKARANG !!" raung Alvin.
Cakka akhirnya menurut. Didorongnya kursi roda Alvin menjauh.
Semua mengantarnya, dengan tatapan iba.
***
sebuah gedung berdiri kokoh diatas sebuah lahan cukup luas, di pusat kota Bandung. Dindingnya yang putih, ditambah lampu-lampu ber-watt cukup besar, mampu mengalahkan cahaya bulat sabit yang memang belum seberapa di cakrawala sana. Bila ditilik lebih ke dalam, akan terdapati kursi-kursi yang disusun rapi, semuanya menghadap panggung berukuran sedang yang ada dalam gedung ini. Sebagian kursi telah diisi, sedangkan beberapa, masih menunggu penghuninya yang mungkin tengah dalam perjalanan.
Terlihat beberapa operator, sedang sibuk melakukan check sound, ada juga yang memperbaiki lagi beberapa ornamen diatas panggung, juga letak kursi-kursi dan menyortir tempat ini dari sampah sekecil apapun.
Tak berapa lama, kursi-kursi yang semula kosong, mulai terisi oleh pemuda-pemudi ber-dress code hijam, yang baru saja berdatangan, memasuki gedung dengan plang besar bertulis Sanggar Seni Aluna, dimuka.
Tak ingin membuang waktu, karena dirasa sudah lebih dari 3/4 undangan yang telah hadir, maka, seperti yang telah dijadwalkan sebelumnya, pukul 19.30, Acha yang didakwa sebagai master of cheremony malam ini, segera memulai tugasnya.
"Selamat malam semuaa..." sapa gadis itu, lantang.
"Selamat malaaam..." koor para undangan yang hadir.
"Apa kabar nih kalian semua ??" tanya Acha, ramah.
"Baiiik.," lagi-lagi dijawab dengan kompak oleh seluruh tamu undangan.
"Sebelumnya, Acha atas nama Alvin dan keluarga mau ngucapin terima makasih yang sebesar-besarnya buat temen-temen yang udah nyempetin hadir malam ini. Seperti yang telah dituliskan dalam surat undangan yang sebelumnya sudah disebar, malam ini, selain acara, emm.. ya bisa dibilang syukuran keluarga Alvinlah ya, atas kelulusan Alvin, malam ini juga sebagai Acara peresmian sekaligus pembukaan Sanggar Aluna... Yang menurut informasi, dibangun atas permintaan teman dan sahabat tercinta kita, Gabriel.
Semua pasti masih ingat kan sama Iel ? Ingat sama senyum ramahnya, sama banyolan-banyolannya selama dikelas 11 IPA 1, inget sama gayanya yang bikin melting waktu main basket, semua pasti gak akan ada yang bisa lupa sama sosok abang yang menyenangkan, dan wakil ketua OSIS terbaik yang pernah CB punya, itu..." Acha mengambil nafas sejenak, sebelum melanjutkan ucapannya. Walau bagaimanapun, Acha juga sempat mengenal Gabriel, dan sama seperti Citra Bangsa yang langsung berduka ketika menerima berita kepergian Iel, ia juga masih sulit percaya sampai detik ini, bahwa kapten basket itu telah tiada. Begitupun dengan semua orang yang sempat mengenal Iel, pasti akan sangat merasa kehilangan, sosok hangat itu.
"Gak kerasa ya, Gabriel udah setahun pergi ninggalin kita semua." lanjut Acha.
"Gue malah masing sering berharap liat Iel lagi main basket dilapangan sekolah," gumam Cakka.
"Gue malah masih sering denger Iel gitaran, di kamarnya. Tiap pagi gue gedor-gedor pintu kamarnya, berasa dia masih ada, dan masih betah molor dikamarnya. Padahal udah jelas-jelas kamar Iel udah kosong." timpal Alvin.
"Malam ini ada banyak susunan acara yang bakal kita lalu. Tapi sebelumnya... Ada persembahan kecil dari alumni kelas IPA 1 plus temen-temen excul basket, untuk teman terbaik kami, Gabriel."
Diatas panggung terlihat anak-anak kecil berusia sekitar 8 sampai 10 tahun, mulai berbaris rapi. Ada sekitar 12 anak. Mereka adalah Aren dan kawan-kawannya dari panti asuhan kasih bunda.
"Ini ya adik-adik kesayangannya Iel." tanya Rio.
"Bukan cuma adik, mereka juga semangat hidup seorang Gabriel Stevent." jawab Sivia.
Sedangkan disatu titik diatas panggung, Ify juga telah siap dengan grand piano hitam didepannya. Sekilas gadis berdagu lancit itu melempar senyum kearah sahabat-sahabatnya yang duduk dikursi barisan depan. Perlahan, jemari lentiknya mulai menari, memainkan tuts-tuts piano.
Kau jauh melangkah
melewati batas waktu
menjauh dariku
akankah kita berjumpa kembali ?
Sahabat kecilku...
Masihkah kau ingat aku ?
Saat kau lantunkan segala cita dan tujuan mulia
tak ada satupun masa seindah saat kita bersama
bermain-main
hingga lupa waktu
mungkinkah kita kan mengulangnya ??
Suara anak-anak kecil tadi terdengan kompak melantunkan sebuah lagi, diiringi denting piano ify.
Sedangkan dibelakang mereka, terdapat sebuah layar besar yang menampilkan video dan gambar-gambar kebersamaan Iel dengan teman-teman sekelasnya serta anak-anak dari ekstrakulikuler basket.
"Kasih gue, Kka.. Kasih gue..." suara baritone milik pemuda manis itu terdengar menyayat hati, setiap orang yang memang sangat merindukannya.
Seakan menghidupkan kembali sosok Gabriel yang memang tidak pernah mati dalam hati dan fikiran masing-masing orang.
Potongan video tadi diambil saat Iel bermain basket terakhir kali pada pelajaran olah raga pak Marto yang kosong waktu itu.
"Gue jadi kangen gombalannya Iel diruang OSIS, waktu dulu." Shilla terkekeh, tapi disaat yang bersamaan, air matanya juga meleleh.
"Weist, gue dapet 80 mameen. Keren kan." kali ini video Iel yang waktu itu tertangkap handycamp baru Ozy, saat tengah memamerkan nilai ulangan fisikanya.
Tiada...tiada lagi tawamu
yang selalu menemani segala sedihku
tiada...tiada lagi
candamu yang selalu menghibur disaat ku lara
bila malam tiba
ku selalu memohonkan doa
menjaga jiwamu
hingga suatu masa
bertemu lagi
Anak-anak panti itu terus bernyanyi dengan tulus. Berharap suara mereka terdengar sampai ke surga, agar kakak kebanggaan mereka juga bisa mendengar nyanyian mereka.
Kini giliran beberapa foto yang tayang secara slide. Ada saat Iel begitu tampan berbalut jas putih waktu akan mementaskan drama musikal diacara pesta ulang tahun sekolah, beberapa hari sebelum ia berangkat ke Singapore dan tak kembali lagi untuk selamanya. Lalu foto kelas XI IPA 1 yang begitu mengagumkan (re : sangat berantakan) termasuk Iel didalamnya. Lalu gambar Iel, Alvin, Cakka dan Rio yang kompak memeletkan lidah kearah kamera Shilla ketika sedang menjalani hukuman berdiri hormat ke tiang bendera.
Foto-foto terus berganti. Menegas kan bahwa, telah begitu banyak kenangan yang terlewati selama ini.
Ada juga beberapa kutipan, tulisan tangan Iel,
"mentariku telah ada yang memiliki, tapi aku masih tetap memujanya. Karena aku masih sangat membutuhkan sinarnya.
Semoga kekagumanku terhadapnya, tak akan mengusik kebahagiannya dengan orang yang ia pilih." (re : part 6 )
"Aku takut mati. Takut kehilangan tawa mereka."
"waktu pelajaran sejarah kayak gini, gue yakin kiamat masih lama. karen awaktu berjalan lambat banget. hehe."
"Jika orang sepertiku diciptakan hanya untuk merepotkan orang lain, untuk apa Kau berikan aku umur panjang Tuhan ?"
"Aku ingin sembuh. Aku juga layak bahagia bukan. Aku mau sembuh. Aku mau mengejar matahari, meraih bulan dan menggapai bintang."
kau jauh melangkah melewati batas waktu
menjauh dariku
akankah kita berjumpa kembali ?
Sekarang yang muncul tinggal potret-potret sekolah secara keseluruhan. Tanpa Gabriel tentunya. Karena ia telah menjemput keabadian. Meninggalkan dunia yang fana, yang masih menjadi tempat berpijak orang-orang yang menyayangi dan disayanginya.
Ruang kesenian, lapangan upacara, kantin sekolah, ruang osis, perpustakaan, LAB, aula...
3 tahun sudah bangunan itu menemani hari-hari siswa-siswi kelas XII yang beberapa hari kemarin baru saja menerima surat kelulusan. SMA Citra Bangsa, adalah rumah kedua bagi mereka. Tidak terasa gedung SMA itu sebentar lagi akan ditinggalkan. Ratusan, bahkan mungkin ribuan kisah telah terekam. Tergurat tak kasat mata pada dinding-dinding yang mengukung selama 7 jam setiap harinya. Contek-menyontek, gerutuan terhadap guru fisika, saling mengejek, jatuh cinta, bahkan cerita tentang sosok Gabriel pun sebentar lagi hanya akan jadi kenangan.
Foto terakhir adalah foto seluruh siswa kelas XII IPA 1 yang kali ini minus Gabriel, berdiri berjajar didepan kelas kesayangan mereka.
Selamat jalan Gabriel dan Selamat meniti kehidupan baru teman-temanku.
Itulah kalimat penutup sebelum video dan gambar-gambar di layar besar itu benar-benar hilang.
Semua undangan yang hadir, tampak tidak ingin menahan lelehan air mata. Beberapa ada yang mulai berpelukan, membisikkan kata-kata pengantar dan doa agar masing-masing sukses pada jalan yang akan di pilih. Yang lain, ada yang bergandengan tangan, merangkul pundak temannya, saling meyakinkan bahwa hari esok yang indah telah menunggu mereka.
"Teman-teman gak kerasa, kita udah harus ngelepas seragam putih-abu kita. Udah harus nutup buku-buku SMA. Udah harus ngucapin salam perpisahan untuk sahabat-sahabat terbaik kita, tapi kita semua harus selalu ingat. Ini bukanlah akhir, justru ini adalah awal yang baru untuk kehidupan kita. Acha pribadi mau minta maaf yang sebesar-besarnya kalau selama ini punya banyak kesalahan, makasih kalian udah mau kenal dan temenan sama Acha. Bercermin dari kisah seorang Gabriel, udah sepantasnya kita yang masih diberi nikmat panjang umur ini menghargai waktu dan kesempatan. Selalu berusaha jadi yang terbaik untuk orang-orang yang menyayangi kita. Selamat memulai dunia baru teman-teman, God bless..."
"Lo jadi teladan Yel, gak akan ada satu orang pun yang bakal lupain Lo. Lo tetep hidup di hati kami, sampai kapanpun." ujar Agni, yang diamini dengan anggukan, oleh orang-orang yang mendengarnya.
Tiada...tiada lagi tawamu yang selalu menemani segala sedihku.
Tiada...tiada lagi candamu yang selalu menghibur disaat ku lara
bila malam tiba
ku selalu memohonkan doa
menjaga jiwamu
hingga suatu masa
bertemu kembali.
***
aku tidak pernah menyangka, bahwa kehilangan dia rasanya sama seperti kehilangan separuh dari jiwaku. Dia menitipkan gadisnya padaku. Agar aku jaga ??
Tapi bagaimana mungkin ?
Bahkan ketika memandang dua bola mata bening gadis itu, penyesalan kian bergumul dalam benakku.
Aku merebut satu-satunya, sumber kebahagiannya.
Gabriel. Ya, mungkin ia tidak ditakdir untuk lebih lama tinggal, karena ia punya tugas yang lebih penting. Menjadi malaikat penuntut ku, agar tidak lagi terseret oleh arus ego dan prasangka buruk terhadap orang lain.
Aku akan menjalani hidup baruku, aku harus siap. Untuk Iel, untuk Via dan untuk diriku sendiri.
-Alvin Jonathan Sindhunata-
***
Andai aku tau lebih dulu, senyumku mampu menguatkannya.
Aku tidak pernah merasa keberatan untuk tersenyum setiap detiknya.
Agar ia bisa bertahan lebih lama bersama kami disini.
Andai aku tau lebih dulu, tawaku bisa menepis sakitnya.
Aku ingin menyuguhkan tawaku, setiap berada di dekatnya.
Tapi terlambat. Ia telah pergi. Tak akan pernah kembali sekuat apapun aku memintanya. Tidak akan pernah lagi ku temukan, sekeras apapun aku mencari.
Kalau tawa dan senyum ini tak lagi bisa mengembalikannya, tak bisa di lihatnya, dengan senang hati aku akan terus tersenyum untuk orang-orang yang dicintainya.
Ini hidup baruku, awal yang harus mulai aku jalani. Aku yakin aku bisa. Aku harap dari tempatmu, kamu masih mau menjagaku, Gabriel. Because you're guardian angel in my life.
-Sivia Azizah-
***
Label:
Malaikat Hidup Gue
