Lihatlah mendung, fahami bagaimana caranya merindu hujan
Begitu indah dalam panggilan-panggilan yang manis
Untuk yang dirindu, dibiarkan diri tergelapi
Dibiarkan diri dirutuki penduduk bumi
Ah, mendung lagi mendung lagi
Pernahkah ia tahu bahwa hujan yang dirindukan justru akan membinasakan?
Pernahkah ia mengerti bahwa hujan yang akan membawanya pada ketiadaan lantas menari dengan pelangi pada akhirnya?
Tak tahukah mendung akan hal itu?
Tentu!
Tentu saja mendung tahu, lantas mengapa ia masih bertahan dalam kerinduan pada hujan yang menyakitkan?
Lihatlah lebah dan fahami usahanya mencapai bunga
Begitu gigih dalam pengharapan yang tulus
Direlakan diri terbang jauh
Bahkan ke tempat-tempat tak terduga
Asing
Hingga sayapnya melemah didera angin
Akankah ia kecewa jika bunga yang dituju mungkin tak bermadu
Akankah ia berhenti saat tahu bunganya dikelilingi belukar berduri
Tidakkah ada yang memberitahu lebah tentang hal ini?
Ada!
Tentu saja ada, lantas mengapa lebah masih dalam usahanya untuk bunga yang tak pasti?
Dan terakhir
Lihatlah bintang, fahami penantiannya pada pagi
Begitu manis dalam setia yang indah
Biar sekitarnya gelap
Biar ia sendiri diejek malam
Biar yang lain meragu pada sinarnya
Tetap dinanti pagi hingga redup terangnya diri
Pernahkah bintang tahu bahwa pagi akan datang hanya jika ia pergi
Pernahkah bintang tahu penghuni langit mengingini pagi dengan mentari
Tak mengertikah bintang tentang hal ini?
Mengerti!
Tentu saja mengerti, lantas mengapa bintang masih setia pada pagi yang melukai?
Mendung, lebah, bintang…
Ada apa dengan mereka?
Tidakkah merasa perbuatannya sia-sia?
Buang-buang waktu saja
Ada apa dengan mereka?
Tidak pernah ada yang tahu jawabannya
Tapi…
Coba lihat apa yang ingin mereka ajarkan
Merindu dengan rindu terdalam
Berusaha dengan usaha terhebat
Setia dalam kesetiaan terbaik
Bisakah kita seperti mereka?
Bisakah kita?
best regard
via
Tampilkan postingan dengan label Random. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Random. Tampilkan semua postingan
Senin, 30 Desember 2013
Sabtu, 02 November 2013
Bulan Bintang
Aku adalah yang sedang dalam perjalanan pulang
Dari petang menuju pagi yang terang
Matahari mulai berujar selamat tinggal
Semua jadi senyap, tersaru pekatnya gelap
Sambil terus merapal doa
Kuambil langkah yang pertama
Sepanjang perjalanan
Aku bertemu kerikil dan duri-duri
Bersua kubangan, tanjakan dan tajamnya tikungan
Ah Pagi, untuk bersamamu ternyata tidak mudah
Seringkali aku merasa lelah
Bahkan untuk sekedar maju satu langkah
Saat benar-benar takut dan putus asa
Di langit sana bermunculan titik-titik pembawa cahaya
Aku mengenalinya, orang-orang menyebutnya bintang
mereka berkedip nakal, manis sekali benda langit itu
Bintang mengenalkanku pada kawan karibnya
Namanya bulan
Pemilik sinar mengagumkan
Tidak ada penghuni malam yang lebih cantik dari bulan
Aku menyukai keduanya, bulan serta bintang
Mereka akan jadi kawan perjalananku menjemput Pagi
Aku terus berjalan
Menyusuri malam yang lebih suka terdiam
Tidak pernah ramah
Malam yang selalu dingin dan basah
Aku tidak akan kalah oleh keadaan ataupun gelapnya malam
Bulan dan Bintang telah memberikan cahaya terbaiknya
Mengiringiku, menemani menjadi pelipur sedih dan gusarku
Aku tidak ingin berhenti
Dan lihat! sekarang aku disini
Aku sampai pada tujuanku
Menemui pagi yang selalu kusukai
Pagi yang tak pernah alpa kukagumi
Dan untuk Pagi, aku membawakanmu bingkisan
Buah tangan dari perjalananku tadi malam
Sebuah pesan yang tak boleh terlupakan
Berterimakasihlah pada mereka
Bulan dan bintang...
Tanpa mereka, aku tidak akan sampai disini
tidak akan pernah sampai padamu, Pagi
Berterimakasihlah pada mereka
Bulan dan Bintang
Mereka…
Aku memanggilnya orang tua
Aku mencintai keduanya
Mereka teman dan pelindung paling setia
Tanpa mereka, kita tidak akan pernah berjumpa
Dari petang menuju pagi yang terang
Matahari mulai berujar selamat tinggal
Semua jadi senyap, tersaru pekatnya gelap
Sambil terus merapal doa
Kuambil langkah yang pertama
Sepanjang perjalanan
Aku bertemu kerikil dan duri-duri
Bersua kubangan, tanjakan dan tajamnya tikungan
Ah Pagi, untuk bersamamu ternyata tidak mudah
Seringkali aku merasa lelah
Bahkan untuk sekedar maju satu langkah
Saat benar-benar takut dan putus asa
Di langit sana bermunculan titik-titik pembawa cahaya
Aku mengenalinya, orang-orang menyebutnya bintang
mereka berkedip nakal, manis sekali benda langit itu
Bintang mengenalkanku pada kawan karibnya
Namanya bulan
Pemilik sinar mengagumkan
Tidak ada penghuni malam yang lebih cantik dari bulan
Aku menyukai keduanya, bulan serta bintang
Mereka akan jadi kawan perjalananku menjemput Pagi
Aku terus berjalan
Menyusuri malam yang lebih suka terdiam
Tidak pernah ramah
Malam yang selalu dingin dan basah
Aku tidak akan kalah oleh keadaan ataupun gelapnya malam
Bulan dan Bintang telah memberikan cahaya terbaiknya
Mengiringiku, menemani menjadi pelipur sedih dan gusarku
Aku tidak ingin berhenti
Dan lihat! sekarang aku disini
Aku sampai pada tujuanku
Menemui pagi yang selalu kusukai
Pagi yang tak pernah alpa kukagumi
Dan untuk Pagi, aku membawakanmu bingkisan
Buah tangan dari perjalananku tadi malam
Sebuah pesan yang tak boleh terlupakan
Berterimakasihlah pada mereka
Bulan dan bintang...
Tanpa mereka, aku tidak akan sampai disini
tidak akan pernah sampai padamu, Pagi
Berterimakasihlah pada mereka
Bulan dan Bintang
Mereka…
Aku memanggilnya orang tua
Aku mencintai keduanya
Mereka teman dan pelindung paling setia
Tanpa mereka, kita tidak akan pernah berjumpa
Label:
Random
Sabtu, 22 Juni 2013
Bianglala
Kalian tahu bianglala?
Beberapa tahun lalu aku menangis melihat benda bundar besar itu. Berputar-putar mengerikan di atas ketinggian. Aku takut, takut sekali.
Tapi Ibu menggenggam tanganku, Ibu bilang bianglala itu baik. Dia tidak akan menyakitiku, apalagi menghempaskanku hingga jatuh.
Dari atas bianglala, aku akan melihat hal-hal baru yang belum pernah terjamah sepasang bola mata kecilku kala itu.
Ibu yakinkan, bahwa aku bukan penakut. Bianglala saja sih bukan apa-apa untukku.
Karena Ibu, untuk Ibu, aku ambil langkah pertama menuju bianglala. Baru saja satu langkah, ah sialnya ketakutan itu kembali menyergapku. Rasanya sakit sekali.
Dalam hati terapal pinta, Ibu, tolong usir rasa takut itu, untukku.
Tanpa perlu berkata-kata, Ibu mengerti ketakutanku. Ibu berjanji akan menemaniku menikmati putaran bianglala pertamaku.
Ah akhirnya, itulah kali pertama aku mengenal bianglala. Ibu, terima kasih atas pengertian untuk segala cemas dan takut yang tak terkatakan.
Kali ini…
Aku dipertemukan kembali dengan bianglala.
Hanya saja, jika dulu orang yang memegang tanganku adalah Ibu, sekarang yang berdiri di sampingku adalah kamu.
Ini memang bukan bianglala pertamaku, entah yang kedua, ketiga atau…ah entahlah itu tidak penting menurutku karena sekarang tetap saja bianglala membuatku takut seperti dulu. Mengapa?
Karena bianglala yang kutemui sebelum ini ternyata membuatku jatuh dan lukanya belum hilang hingga kamu datang, sekarang.
Awalnya, kamu juga meyakinkan aku bahwa bianglala yang kamu perkenalkan kali ini, tidak akan menambah daftar luka yang harus aku obati.
Bianglala yang ada dihadapan kita kan membuat siapapun yang berputar bersamanya, merasa seperti layang-layang. Terbang, ringan.
Karena kamu, untuk kamu, aku belajar berani.
Ini tidak akan sulit. Ya seharusnya tidak akan sulit sebelum tiba-tiba ada yang berteriak di hadapanku. Di depan wajahku. Tepat.
Katanya, kamu tidak akan cocok dengan bianglala itu, kamu tidak cukup kuat untuk menghalau angin yang akan menderamu, lihat saja, kamu hanya akan disakitinya.
Ah, benarkah begitu?
Kamu…
Mengapa malah diam saja?
Tidak bisakah mengatakan sesuatu yang membuatku berani.
Mengapa malah diam saja?
Tidak bisakah merasakan ketakutanku.
Oh ya, mungkin aku berkhayal terlalu tinggi saat berharap kamu mampu mengerti cemasku, mampu merasakan ketakutanku, tanpa aku harus berkata apa-apa, tanpa aku harus bercerita. Ya aku yang berharap terlalu tinggi. Aku yang salah.
Kamu tidak akan mau menemaniku seperti Ibu hahaha tentu saja tidak.
Kamu pasti takut aku akan merepotkan selama perjalanan. Kamu pasti mulai bertanya-tanya, jangan-jangan bianglala yang kamu perkenalkan memang tidak cocok denganku. Kamu mulai ragu. Tapi mungkin, kamu terlalu baik untuk berkata jujur. Mungkin, kamu takut menyakitiku, karenanya kamu memilih diam. Ah ya sudahlah.
Hei kamu, terakhir, aku hanya ingin memberi tahu.
bianglala itu, yang kamu perkenalkan padaku...
Tahukah?
Orang-orang lebih mengenalnya dengan nama sayang.
Bianglala itu, yang kamu perkenalkan padaku...
Sekarang, aku memilih menikmati putaran demi putarannya sendirian.
Ya, aku saja. Sendiri.
Beberapa tahun lalu aku menangis melihat benda bundar besar itu. Berputar-putar mengerikan di atas ketinggian. Aku takut, takut sekali.
Tapi Ibu menggenggam tanganku, Ibu bilang bianglala itu baik. Dia tidak akan menyakitiku, apalagi menghempaskanku hingga jatuh.
Dari atas bianglala, aku akan melihat hal-hal baru yang belum pernah terjamah sepasang bola mata kecilku kala itu.
Ibu yakinkan, bahwa aku bukan penakut. Bianglala saja sih bukan apa-apa untukku.
Karena Ibu, untuk Ibu, aku ambil langkah pertama menuju bianglala. Baru saja satu langkah, ah sialnya ketakutan itu kembali menyergapku. Rasanya sakit sekali.
Dalam hati terapal pinta, Ibu, tolong usir rasa takut itu, untukku.
Tanpa perlu berkata-kata, Ibu mengerti ketakutanku. Ibu berjanji akan menemaniku menikmati putaran bianglala pertamaku.
Ah akhirnya, itulah kali pertama aku mengenal bianglala. Ibu, terima kasih atas pengertian untuk segala cemas dan takut yang tak terkatakan.
Kali ini…
Aku dipertemukan kembali dengan bianglala.
Hanya saja, jika dulu orang yang memegang tanganku adalah Ibu, sekarang yang berdiri di sampingku adalah kamu.
Ini memang bukan bianglala pertamaku, entah yang kedua, ketiga atau…ah entahlah itu tidak penting menurutku karena sekarang tetap saja bianglala membuatku takut seperti dulu. Mengapa?
Karena bianglala yang kutemui sebelum ini ternyata membuatku jatuh dan lukanya belum hilang hingga kamu datang, sekarang.
Awalnya, kamu juga meyakinkan aku bahwa bianglala yang kamu perkenalkan kali ini, tidak akan menambah daftar luka yang harus aku obati.
Bianglala yang ada dihadapan kita kan membuat siapapun yang berputar bersamanya, merasa seperti layang-layang. Terbang, ringan.
Karena kamu, untuk kamu, aku belajar berani.
Ini tidak akan sulit. Ya seharusnya tidak akan sulit sebelum tiba-tiba ada yang berteriak di hadapanku. Di depan wajahku. Tepat.
Katanya, kamu tidak akan cocok dengan bianglala itu, kamu tidak cukup kuat untuk menghalau angin yang akan menderamu, lihat saja, kamu hanya akan disakitinya.
Ah, benarkah begitu?
Kamu…
Mengapa malah diam saja?
Tidak bisakah mengatakan sesuatu yang membuatku berani.
Mengapa malah diam saja?
Tidak bisakah merasakan ketakutanku.
Oh ya, mungkin aku berkhayal terlalu tinggi saat berharap kamu mampu mengerti cemasku, mampu merasakan ketakutanku, tanpa aku harus berkata apa-apa, tanpa aku harus bercerita. Ya aku yang berharap terlalu tinggi. Aku yang salah.
Kamu tidak akan mau menemaniku seperti Ibu hahaha tentu saja tidak.
Kamu pasti takut aku akan merepotkan selama perjalanan. Kamu pasti mulai bertanya-tanya, jangan-jangan bianglala yang kamu perkenalkan memang tidak cocok denganku. Kamu mulai ragu. Tapi mungkin, kamu terlalu baik untuk berkata jujur. Mungkin, kamu takut menyakitiku, karenanya kamu memilih diam. Ah ya sudahlah.
Hei kamu, terakhir, aku hanya ingin memberi tahu.
bianglala itu, yang kamu perkenalkan padaku...
Tahukah?
Orang-orang lebih mengenalnya dengan nama sayang.
Bianglala itu, yang kamu perkenalkan padaku...
Sekarang, aku memilih menikmati putaran demi putarannya sendirian.
Ya, aku saja. Sendiri.
Label:
Random
Senin, 15 April 2013
My 2012
Haha well, judulnya agak drama ya… tapi biarlah, semua orang TAU gue paling parah kalo urusan ngasih judul. Yang nggak tau akan hal itu berarti belum mengenal gue. Hmm…
Di postingan ini gue nggak mau sok-sok bikin puisi romantis yang jatohnya malah lebay. Gue cuma mau cerita sedikit tentang suka duka gue di tahun 2012. Kenapa sedikit?? Ya sesuai sama kapasitas otak gue yang emang nggak bisa menyimpan banyak hal.
Flashback kayak gini mungkin akan jauh lebih afdol kalo dilakuin pas last day of the year ya, tapi berhubung 31 desember 2012 kemarin gue sakit dan seharian tergelepak di kasur dengan kepala serasa abis dilemparin puluhan barbelnya Agung Hercules, jadilah baru sempet ngeflashback tadi subuh ditemani Januarinya Glenn Fredly.
2012 itu…. emm dengan elegan gue bakal mengutip jargonnya Syahrini, 2012 itu sesuatu guys, amat sangat cetar membahana. Salah satu tahun terbaik yang gue lalui selama belasan tahun hidup di dunia yang penuh sandiwara ini. Ada manis, asem, asin, pahit sampe hot… lengkap banget pokoknya.
Gue masih sangat ingat, awal tahun lalu ditanya sama temen, “Apa resolusi tahun 2012 kamu?”
Dan dengan memasang raut wajah yang sangat bijak, gue menjawab, “Cuma berharap semua bisa lebih baik dari tahun lalu aja, sisanya biar tangan Allah yang mengaturnya buat gue.”
H4h4h4… jawaban klise. Bilang aja nggak punya proposal hidup, bilang aja nggak tau harus apa dan gimana ke depannya, makanya nggak punya resolusi tahun baru.
Lepas dari punya resolusi ataupun nggak, toh gue tetep harus jalanin hari demi hari yang baru di tahun 2012. Awal-awal tahun, gue disibukkan (yang ini beneran sibuk bukan sok sibuk kayak biasanya) dengan prepare Ujian Nasional. Saat itu yang ada di otak gue cuma belajar-belajar-belajar-belajar dan Rio *tetep*. Haaah you know? rasanya setelah Ujian Nasional gue berencana nggak bakal baca buku lagi selama beberapa tahun ke depan. Asli, udah muak banget. Persiapan Ujian Nasional bagi gue itu ibarat lo terus-terusan disuapin padahal udah kekenyangan dan biar nggak dimuntahin bibir lo dilem pake powerglue. Sakit bro, sist, sakiiiit banget, dan yang lebih menyakitkan segenap perasaan adalah saat itu gue yang emang lagi seneng-senengnya nulis terpaksa harus vakum demi focus UN dan SNMPTN. Alhasil, sekarang walaupun kecintaan gue pada dunia tulis-menulis lebih besar dari pada rasa suka gue sama buah apel *apainiiiiiiiii* tetep aja gue kehilangan feelnya. Kemampuan menulis gue entah nyelip di bagian otak yang mana. Dan gue sedih. Sedih benget. Jadi gue mohon, untuk beberapa oknum yang sering nodong Rahasia Orion atau cerpen-cerpen baru, pahamilah gue *assiikk*. Kalian semua nggak tau kan itu bikin sedih, kadang bikin pengen nangis dan lari dari kenyataan hidup --".
Ok back to the story, setelah persiapan yang menguras semua yang gue punya, Ujian Nasional pun datang *jengjengjeeeng*. Gue nggak takut, gue nggak gugup, gue udah merasa siap, walaupun UN pertama bahasa Indonesia dan gue nggak belajar *janganditiruAdik-adik*, overall gue udah yakin banget, tapi anehnya gue nangis di hari pertama Ujian Nasional. Gue nangis, memalukan, sebagai anak gaul yang strong gue merasa gagal. Kenapa nangis? Ya….. pengen aja sih. Masalah?
Habis UN, nggak inget hari apa tepatnya (kayak yang gue bilang tadi kapasitas otak gue buat mengingat sangat minim), tiba waktunya pengumuman kelulusan dan…… gue lulus. Lulus.
Nilai-nilai hasil UN juga memuaskan. Mata pelajaran bahasa Indonesia dan biologi sesuai target diatas 9 (Alhamdulillah akhirnya gue bisa meyakinkan diri gue sendiri kalo otak gue masih berjalan dengan baik), dan nilai MTK…. aaaaa….. tolong tampar gue! Tampar! Nilai MTK bener-bener diluar ekspektasi, 9,25, aaaaa inilah saat yang paling tepat buat gue bilang WOW, senengnya kayak abis ketemu Daniel Radcliffe. Yang baca postingan ini boleh tepuk tangan. Ayo cepet tepuk tangan!! *nodonginpiso*. Walaupun gue sampai detik ini masih penasaran, nilai segitu gue dapet entah karena hasil belajar atau jawaban yang gue buletin sambil merem itu bener semua. Hanya Allah SWT yang tau.
Dan kasih sayang Allah buat gue nggak cuma sampe situ, Dia kasih gue kejutan lain, lulus SNMPTN Undangan. Asik kan, asik banget lah bro, sist, masuk PTN tanpa test pula. Waktu itu dengan caps menyala-nyala temen yang gue mintain tolong buat check hasil SNMPTN Undangan gue, nge-sms
NOVIAAAA… LOLOOOOOS. DUH ENVY, ENVY…. CIYEE ANAK UPI DONG SEKARANG.
Kurang lebih gitu smsnya, kalo kurang ya gue lebih-lebihin sendiri.
Sebenernya sih, gue agak kecewa sama jurusannya, pengennya sih pendidikan Biologi UPI atau Teknik Pangan UNS, tapi ya gue sadar kok hidup itu nggak seindah mata gue *plototinyangprotes* dan nggak semua bisa sesuai sama harapan. Next, karena udah masuk PTN nih ya, jadilah kerjaan gue dirumah cuma 3, pertama nonton dvd korea,kedua nonton TV, ketiga nontonin layar HP. Kurang sibuk apa gue?
Tapi karena bosen, entah dengan tekat apa nekat, gue bilang sama Mamah, gue pengen kerja sambil nunggu masuk kuliah yang masih sekitar 2 bulanan lagi. Setelah interview, besoknya gue langsung bisa masuk. Jadi di tahun 2012, gue sempet juga tu ngerasain capeknya kerja. Nah yang suka ngatain gue kayak anak kecil, manja, gue tanya lo udah pernah cari duit sendiri belum?
Gue bangga pernah ngasih sesuatu buat keluarga dari uang yang bener-bener hasil jerih payah gue sendiri *lapkeringet*. Gue bangga pernah kerja, dibanding anak-anak lain yang habis lulus malah gentayangan nggak jelas sama temen-temen, ngabisin duit apalagi sama anak-anak lulusan SMA yang kerjaannya ngebangke di rumah, paling nggak waktu gue lebih bermanfaat. Selain materi, gue juga dapet temen, pengalaman dan ilmu baru. Dan ketika ada yang bilang kerja itu nggak gampang, cari uang tu susah, yap gue udah pernah rasain itu.
Di tahun 2012 ini juga pertama kali gue ngalamin di OSPEK, salah satu pengalaman yang nggak akan pernah gue lupain. OSPEK itu seru, seru bangeettt, kakak-kakak panitianya juga baik dan manis-manis (maafin aku ya Allah, aku bohong :( ), yang paling sweet ngalahin film Titanic adalah pas OSPEK karena rumah gue jauh dari kampus tercinta, gue mesti nyubuh dan temen-temen mau nunggu gue yang super lelet ini padahal kalo telat hukumannya ceribel (baca:istimewa) banget lah. Saat gue mulai pakai jas almamater UPI, saat itu juga gue kayak ditampar sama Pretty Asmara, gue baru sadar kalo IYA-SEKARANG-GUE-MAHASISWA. Putih Abu-abu gue udah selesai. Masa-masa sama IPA 6 udah abis. Sekarang kita harus berjuang sendiri-sendiri. Pilih setapak masing-masing *tissumanatissuu*. Nggak ada lagi teriak-teriak nagihin uang kas, nggak ada lagi smsan pas UAS, nggak ada lagi ngeceng-cengin adik kelas ganteng. Pisah sama temen-temen lama dan ketemu sama orang-orang baru. Lama ataupun baru, sama aja, mereka semua baik dan gue sayang mereka.
Kalo tahun sebelumnya pas ulang tahun gue masih sama-sama anak-anak IPA 6 dan sepatu gue diumpetin, tahun ini gue rayain bareng kelas baru gue, kelas kesayangan gue, satu B. makasih banyak kuenya, makasih tepungnya, dan buat kakak makasih banyak ucapannya (walaupun nggak tau ya itu ngucapin karena emang ikhlas apa karena disuruh aja) hahaha. Unforgettable pokoknya.
Menurut gue secara keseluruhan 2012 gue banyak banget manisnya. Gue bersyukur, sekaligus takut. Takut kalo yang manis-manis itu bikin gue makin manja dan nggak dewasa. Gue takut nggak siap menghadapi 2013 yang entah kayak apa nantinya. Tapi gue harus berani. Gue punya Ayah sama Mamah terbaik sedunia, gue punya Adik-adik yang lucu, gue punya temen-temen yang luar biasa dan gue punya Allah yang nggak akan pernah biarin gue melangkah sendirian.
Thankfulll to God, untuk 2012 yang sangat mengagumkan. Terimakasih untuk setiap kemudahan yang diberikan. Terimakasih untuk setiap doa yang terkabul di tahun ini. Akhirnya, tahun 2012 kemarin gue tutup dengan…..bobo cantik nan elegan seharian. Anti klimaks abis.
Untuk 2013, semoga segalanya akan jadi lebih baik, semoga mimpi yang belum jadi nyata di tahun lalu, bisa gue capai di tahun ini. Semoga selalu diberi kesehatan dan keberkahan. Semoga masih diberi kesempatan bertemu dengan 1 januari 2014 bersama anggota keluarga yang lengkap, teman-teman yang semakin banyak dan seseorang yang gue sayang karena Allah.
So many people said this 2013, wouldn’t be nice ‘cause that’s a bad number. HA-HA. c’mon don’t be stupid people guys. Let’s create the best destination for us to guess the best destination from God. Bad or Nice? Isn’t about a number.
best regard
via
Di postingan ini gue nggak mau sok-sok bikin puisi romantis yang jatohnya malah lebay. Gue cuma mau cerita sedikit tentang suka duka gue di tahun 2012. Kenapa sedikit?? Ya sesuai sama kapasitas otak gue yang emang nggak bisa menyimpan banyak hal.
Flashback kayak gini mungkin akan jauh lebih afdol kalo dilakuin pas last day of the year ya, tapi berhubung 31 desember 2012 kemarin gue sakit dan seharian tergelepak di kasur dengan kepala serasa abis dilemparin puluhan barbelnya Agung Hercules, jadilah baru sempet ngeflashback tadi subuh ditemani Januarinya Glenn Fredly.
2012 itu…. emm dengan elegan gue bakal mengutip jargonnya Syahrini, 2012 itu sesuatu guys, amat sangat cetar membahana. Salah satu tahun terbaik yang gue lalui selama belasan tahun hidup di dunia yang penuh sandiwara ini. Ada manis, asem, asin, pahit sampe hot… lengkap banget pokoknya.
Gue masih sangat ingat, awal tahun lalu ditanya sama temen, “Apa resolusi tahun 2012 kamu?”
Dan dengan memasang raut wajah yang sangat bijak, gue menjawab, “Cuma berharap semua bisa lebih baik dari tahun lalu aja, sisanya biar tangan Allah yang mengaturnya buat gue.”
H4h4h4… jawaban klise. Bilang aja nggak punya proposal hidup, bilang aja nggak tau harus apa dan gimana ke depannya, makanya nggak punya resolusi tahun baru.
Lepas dari punya resolusi ataupun nggak, toh gue tetep harus jalanin hari demi hari yang baru di tahun 2012. Awal-awal tahun, gue disibukkan (yang ini beneran sibuk bukan sok sibuk kayak biasanya) dengan prepare Ujian Nasional. Saat itu yang ada di otak gue cuma belajar-belajar-belajar-belajar dan Rio *tetep*. Haaah you know? rasanya setelah Ujian Nasional gue berencana nggak bakal baca buku lagi selama beberapa tahun ke depan. Asli, udah muak banget. Persiapan Ujian Nasional bagi gue itu ibarat lo terus-terusan disuapin padahal udah kekenyangan dan biar nggak dimuntahin bibir lo dilem pake powerglue. Sakit bro, sist, sakiiiit banget, dan yang lebih menyakitkan segenap perasaan adalah saat itu gue yang emang lagi seneng-senengnya nulis terpaksa harus vakum demi focus UN dan SNMPTN. Alhasil, sekarang walaupun kecintaan gue pada dunia tulis-menulis lebih besar dari pada rasa suka gue sama buah apel *apainiiiiiiiii* tetep aja gue kehilangan feelnya. Kemampuan menulis gue entah nyelip di bagian otak yang mana. Dan gue sedih. Sedih benget. Jadi gue mohon, untuk beberapa oknum yang sering nodong Rahasia Orion atau cerpen-cerpen baru, pahamilah gue *assiikk*. Kalian semua nggak tau kan itu bikin sedih, kadang bikin pengen nangis dan lari dari kenyataan hidup --".
Ok back to the story, setelah persiapan yang menguras semua yang gue punya, Ujian Nasional pun datang *jengjengjeeeng*. Gue nggak takut, gue nggak gugup, gue udah merasa siap, walaupun UN pertama bahasa Indonesia dan gue nggak belajar *janganditiruAdik-adik*, overall gue udah yakin banget, tapi anehnya gue nangis di hari pertama Ujian Nasional. Gue nangis, memalukan, sebagai anak gaul yang strong gue merasa gagal. Kenapa nangis? Ya….. pengen aja sih. Masalah?
Habis UN, nggak inget hari apa tepatnya (kayak yang gue bilang tadi kapasitas otak gue buat mengingat sangat minim), tiba waktunya pengumuman kelulusan dan…… gue lulus. Lulus.
Nilai-nilai hasil UN juga memuaskan. Mata pelajaran bahasa Indonesia dan biologi sesuai target diatas 9 (Alhamdulillah akhirnya gue bisa meyakinkan diri gue sendiri kalo otak gue masih berjalan dengan baik), dan nilai MTK…. aaaaa….. tolong tampar gue! Tampar! Nilai MTK bener-bener diluar ekspektasi, 9,25, aaaaa inilah saat yang paling tepat buat gue bilang WOW, senengnya kayak abis ketemu Daniel Radcliffe. Yang baca postingan ini boleh tepuk tangan. Ayo cepet tepuk tangan!! *nodonginpiso*. Walaupun gue sampai detik ini masih penasaran, nilai segitu gue dapet entah karena hasil belajar atau jawaban yang gue buletin sambil merem itu bener semua. Hanya Allah SWT yang tau.
Dan kasih sayang Allah buat gue nggak cuma sampe situ, Dia kasih gue kejutan lain, lulus SNMPTN Undangan. Asik kan, asik banget lah bro, sist, masuk PTN tanpa test pula. Waktu itu dengan caps menyala-nyala temen yang gue mintain tolong buat check hasil SNMPTN Undangan gue, nge-sms
NOVIAAAA… LOLOOOOOS. DUH ENVY, ENVY…. CIYEE ANAK UPI DONG SEKARANG.
Kurang lebih gitu smsnya, kalo kurang ya gue lebih-lebihin sendiri.
Sebenernya sih, gue agak kecewa sama jurusannya, pengennya sih pendidikan Biologi UPI atau Teknik Pangan UNS, tapi ya gue sadar kok hidup itu nggak seindah mata gue *plototinyangprotes* dan nggak semua bisa sesuai sama harapan. Next, karena udah masuk PTN nih ya, jadilah kerjaan gue dirumah cuma 3, pertama nonton dvd korea,kedua nonton TV, ketiga nontonin layar HP. Kurang sibuk apa gue?
Tapi karena bosen, entah dengan tekat apa nekat, gue bilang sama Mamah, gue pengen kerja sambil nunggu masuk kuliah yang masih sekitar 2 bulanan lagi. Setelah interview, besoknya gue langsung bisa masuk. Jadi di tahun 2012, gue sempet juga tu ngerasain capeknya kerja. Nah yang suka ngatain gue kayak anak kecil, manja, gue tanya lo udah pernah cari duit sendiri belum?
Gue bangga pernah ngasih sesuatu buat keluarga dari uang yang bener-bener hasil jerih payah gue sendiri *lapkeringet*. Gue bangga pernah kerja, dibanding anak-anak lain yang habis lulus malah gentayangan nggak jelas sama temen-temen, ngabisin duit apalagi sama anak-anak lulusan SMA yang kerjaannya ngebangke di rumah, paling nggak waktu gue lebih bermanfaat. Selain materi, gue juga dapet temen, pengalaman dan ilmu baru. Dan ketika ada yang bilang kerja itu nggak gampang, cari uang tu susah, yap gue udah pernah rasain itu.
Di tahun 2012 ini juga pertama kali gue ngalamin di OSPEK, salah satu pengalaman yang nggak akan pernah gue lupain. OSPEK itu seru, seru bangeettt, kakak-kakak panitianya juga baik dan manis-manis (maafin aku ya Allah, aku bohong :( ), yang paling sweet ngalahin film Titanic adalah pas OSPEK karena rumah gue jauh dari kampus tercinta, gue mesti nyubuh dan temen-temen mau nunggu gue yang super lelet ini padahal kalo telat hukumannya ceribel (baca:istimewa) banget lah. Saat gue mulai pakai jas almamater UPI, saat itu juga gue kayak ditampar sama Pretty Asmara, gue baru sadar kalo IYA-SEKARANG-GUE-MAHASISWA. Putih Abu-abu gue udah selesai. Masa-masa sama IPA 6 udah abis. Sekarang kita harus berjuang sendiri-sendiri. Pilih setapak masing-masing *tissumanatissuu*. Nggak ada lagi teriak-teriak nagihin uang kas, nggak ada lagi smsan pas UAS, nggak ada lagi ngeceng-cengin adik kelas ganteng. Pisah sama temen-temen lama dan ketemu sama orang-orang baru. Lama ataupun baru, sama aja, mereka semua baik dan gue sayang mereka.
Kalo tahun sebelumnya pas ulang tahun gue masih sama-sama anak-anak IPA 6 dan sepatu gue diumpetin, tahun ini gue rayain bareng kelas baru gue, kelas kesayangan gue, satu B. makasih banyak kuenya, makasih tepungnya, dan buat kakak makasih banyak ucapannya (walaupun nggak tau ya itu ngucapin karena emang ikhlas apa karena disuruh aja) hahaha. Unforgettable pokoknya.
Menurut gue secara keseluruhan 2012 gue banyak banget manisnya. Gue bersyukur, sekaligus takut. Takut kalo yang manis-manis itu bikin gue makin manja dan nggak dewasa. Gue takut nggak siap menghadapi 2013 yang entah kayak apa nantinya. Tapi gue harus berani. Gue punya Ayah sama Mamah terbaik sedunia, gue punya Adik-adik yang lucu, gue punya temen-temen yang luar biasa dan gue punya Allah yang nggak akan pernah biarin gue melangkah sendirian.
Thankfulll to God, untuk 2012 yang sangat mengagumkan. Terimakasih untuk setiap kemudahan yang diberikan. Terimakasih untuk setiap doa yang terkabul di tahun ini. Akhirnya, tahun 2012 kemarin gue tutup dengan…..bobo cantik nan elegan seharian. Anti klimaks abis.
Untuk 2013, semoga segalanya akan jadi lebih baik, semoga mimpi yang belum jadi nyata di tahun lalu, bisa gue capai di tahun ini. Semoga selalu diberi kesehatan dan keberkahan. Semoga masih diberi kesempatan bertemu dengan 1 januari 2014 bersama anggota keluarga yang lengkap, teman-teman yang semakin banyak dan seseorang yang gue sayang karena Allah.
So many people said this 2013, wouldn’t be nice ‘cause that’s a bad number. HA-HA. c’mon don’t be stupid people guys. Let’s create the best destination for us to guess the best destination from God. Bad or Nice? Isn’t about a number.
best regard
via
Label:
Random
Sabtu, 02 Maret 2013
Ketika Aku Seusiamu
Tulisan ini, untuk adik kesayanganku. Kuncup-kuncup mungil yang sedang menunggu masanya untuk bermekar. Nada-nada ceria yang sedang menanti waktunya untuk berlagu.
Dik, dulu… ketika aku seusiamu,
aku berfikir akan menyenangkan sekali jika cepat tumbuh jadi orang dewasa. Akan menyenangkan sekali jika boleh melakukan apa saja, pergi kemana saja dan bermain sepuasnya. Jangan ada lagi teriakan Ibu menyuruh mandi atau omelan Ayah saat aku nakal pada anak tetangga. Jangan… mereka itu pengganggu. Sungguh, perusak waktu bersua dengan kawan-kawanku.
Aku ingin segera bebas. Lepas.
Terbang seperti kupu-kupu, bergerak tanpa belenggu.
Ketika aku seusiamu,
terapal bermacam cita-cita, jumlahnya sebanyak pasir di gurun sahara. Tanpa sekerat takut, tanpa secuil ragu, impianku, kuabsen satu-persatu.
Nanti, saat aku dewasa,
aku ingin jadi penguasa kata, ingin jadi pemahat warna, ingin jadi pahlawan tanpa tanda jasa, ah jadi semakin tidak sabar menunggu masanya tiba.
Ketika aku seusiamu,
aku benci, benci sekali jadi aku yang seusiamu.
Ketika aku seusiamu,
Aku tidak mau, tidak mau terus-menerus jadi aku yang seusiamu.
Aku ingin berkuasa atas hidupku, tidak selalu diatur-atur seperti bocah.
Tapi itu dulu… dulu sekali…
Sekarang,
Saat aku tidak lagi seusiamu,
semuanya berubah, jadi serba susah, resah… dan masalah layaknya tumpukan sampah yang tumpah ruah.
Kegagalan demi kegagalan mulai teralami. Impian dan cita-cita mulai terhapusi. Waktu dan hari-hari terasa memusuhi.
Dik, aku jadi takut bemimpi, aku tidak lagi yakin pada kemampuan diri. Jadi sering menyalahkan keadaan. Mengeluhkan takdir Tuhan yang bersimpang dengan keinginan.
Ternyata dik, sekarang itu sulit. Banyak perkara rumit seumpama sulur yang melilit-lilit.
Ternyata dik, jadi dewasa itu tidak enak. Mahal untuk bisa tidur nyenyak. Hati dipaksa bekerja lebih keras mencerna kecewa. Keringat mengalir lebih deras diperas usaha.
Saat aku tidak lagi seusiamu,
Aku belum siap, belum siap jadi dewasa. Aku ingin tetap jadi putri kecilnya Ibu. Tetap jadi bocah manjanya Ayah.
Saat aku tidak lagi seusiamu,
aku bertanya, bisakah aku kembali pada masa ketika aku seusiamu?
Tapi…tenanglah, tegarlah.
Kuncup-kuncup mungilku tidak perlu takut pada masa yang akan datang.
Ketika adik seusiaku, adik pasti akan lebih siap, adik pasti akan lebih tangguh. Kesalahan hanya milik aku yang bodoh. Gelap hanya milik aku yang penakut. Penyesalan… itu juga milikku, kakakmu yang pemalas. Sedang kamu, tidak akan sepertiku, tidak boleh seperti aku.
Nada-nada ceriaku tidak perlu sendu, hadapi masa depanmu.
Ketika adik seusiaku, adik akan buat bangga Ayah serta Ibu. Jangan ragu, tuntaskan perjuanganmu, obati kegagalanku.
Ketika adik seusiaku, dunia akan tunduk kepadamu,
Tunduk kepada adik kesayanganku.
Best regard
via
Dik, dulu… ketika aku seusiamu,
aku berfikir akan menyenangkan sekali jika cepat tumbuh jadi orang dewasa. Akan menyenangkan sekali jika boleh melakukan apa saja, pergi kemana saja dan bermain sepuasnya. Jangan ada lagi teriakan Ibu menyuruh mandi atau omelan Ayah saat aku nakal pada anak tetangga. Jangan… mereka itu pengganggu. Sungguh, perusak waktu bersua dengan kawan-kawanku.
Aku ingin segera bebas. Lepas.
Terbang seperti kupu-kupu, bergerak tanpa belenggu.
Ketika aku seusiamu,
terapal bermacam cita-cita, jumlahnya sebanyak pasir di gurun sahara. Tanpa sekerat takut, tanpa secuil ragu, impianku, kuabsen satu-persatu.
Nanti, saat aku dewasa,
aku ingin jadi penguasa kata, ingin jadi pemahat warna, ingin jadi pahlawan tanpa tanda jasa, ah jadi semakin tidak sabar menunggu masanya tiba.
Ketika aku seusiamu,
aku benci, benci sekali jadi aku yang seusiamu.
Ketika aku seusiamu,
Aku tidak mau, tidak mau terus-menerus jadi aku yang seusiamu.
Aku ingin berkuasa atas hidupku, tidak selalu diatur-atur seperti bocah.
Tapi itu dulu… dulu sekali…
Sekarang,
Saat aku tidak lagi seusiamu,
semuanya berubah, jadi serba susah, resah… dan masalah layaknya tumpukan sampah yang tumpah ruah.
Kegagalan demi kegagalan mulai teralami. Impian dan cita-cita mulai terhapusi. Waktu dan hari-hari terasa memusuhi.
Dik, aku jadi takut bemimpi, aku tidak lagi yakin pada kemampuan diri. Jadi sering menyalahkan keadaan. Mengeluhkan takdir Tuhan yang bersimpang dengan keinginan.
Ternyata dik, sekarang itu sulit. Banyak perkara rumit seumpama sulur yang melilit-lilit.
Ternyata dik, jadi dewasa itu tidak enak. Mahal untuk bisa tidur nyenyak. Hati dipaksa bekerja lebih keras mencerna kecewa. Keringat mengalir lebih deras diperas usaha.
Saat aku tidak lagi seusiamu,
Aku belum siap, belum siap jadi dewasa. Aku ingin tetap jadi putri kecilnya Ibu. Tetap jadi bocah manjanya Ayah.
Saat aku tidak lagi seusiamu,
aku bertanya, bisakah aku kembali pada masa ketika aku seusiamu?
Tapi…tenanglah, tegarlah.
Kuncup-kuncup mungilku tidak perlu takut pada masa yang akan datang.
Ketika adik seusiaku, adik pasti akan lebih siap, adik pasti akan lebih tangguh. Kesalahan hanya milik aku yang bodoh. Gelap hanya milik aku yang penakut. Penyesalan… itu juga milikku, kakakmu yang pemalas. Sedang kamu, tidak akan sepertiku, tidak boleh seperti aku.
Nada-nada ceriaku tidak perlu sendu, hadapi masa depanmu.
Ketika adik seusiaku, adik akan buat bangga Ayah serta Ibu. Jangan ragu, tuntaskan perjuanganmu, obati kegagalanku.
Ketika adik seusiaku, dunia akan tunduk kepadamu,
Tunduk kepada adik kesayanganku.
Best regard
via
Label:
Random
Kamis, 14 Februari 2013
Doa (kecil) ku...
Doa (kecil) ku…
Tuhan…
Ini doa kecilku. Harapan dari hambaMu yang juga tak terbilang kecilnya. Semoga timbunan dosaku tidak membuatnya tertahan di angkasa, semoga kasihMu berkenan menjemputnya hingga ke ‘Arsy yang Maha Agung.
Tuhanku…
Engkau sebaik-baiknya Dzat, mampu mendengar yang tak terucap, mampu melihat yang tersembunyi, Maha Pemberi meski tanpa diminta. Engkau sebaik-baiknya pengasih, pemilik cinta hakiki, penggenggam kunci setiap hati.
Ini pengharapanku…
Jadikan aku hambaMu yang pandai bersyukur.
Bukan agar bertambah nikmat yang Kau limpahkan, melainkan agar aku tidak iri dan membanding-bandingkan hidupku dengan orang lain.
Jadikan aku hambaMu yang pandai bersyukur.
Bukan agar aku jadi ahli qanaah, melainkan agar aku pantang berkeluh kesah dan buruk sangka padaMu.
Jadikan aku hambaMu yang pandai bersyukur.
Bukan agar aku jadi bagian dari orang-orang yang sholehah, melaikan agar aku menyentuh ikhlas dalam setiap ibadahku, tanpa riya’, tanpa pamrih.
Jadikan aku hambaMu yang pandai bersyukur.
Bukan agar aku dengan mudah masuk ke dalan surgaMu, melainkan agar kugenggam ridhoMu ya Allah, ridhoMu penguasa semesta, ridhoMu pemilik surga dan neraka.
Ya Rabb…
Dalam setiap doa terbaikku, tak lupa kusisip nama ‘malaikat-malaikatMu’, kedua orangtuaku, Mamah dan Ayah terbaik dalam kehidupanku.
Panjangkanlah umur mereka.
Biarkan mereka jadi pelita dalam jahiliyyah duniaku, biarkan mereka jadi penegur untuk setumpuk kesalahanku, biarkan mereka jadi alasan untuk setiap perjuanganku, biarkan mereka jadi pelipur untuk gundah laraku.
Ya Rabb…
Berikanlah keduanya kesehatan, sertakan kemudahan untuk setiap urusan mereka, naungi mereka dengan lindunganmu yang Maha Teguh.
Ya Rabb…
Izinkan tanganku jadi penghapus cucuran peluh mereka, izinkan pelukku jadi ‘rumah’ yang selalu mereka rindukan, izinkan doaku jadi peneduh susah mereka.
Ya Rabb…
Hambamu yang kecil ini meminta terlalu banyak, sementara ibadah dan penghambaanku amatlah kecil. Hati dan fikiranku masih dibelenggu urusan duniawi. Tapi aku yakin tiada doa yang akan terabai, tiada pengharapan yang akan tertolak.
Semoga yang aku tulis hari ini menemui pengkabulan.
Semoga yang aku tulis hari ini jadi manfaat dan amal kebaikan.
Aamiin aamiin ya Rabbal ‘alamin.
best regard
novia
Tuhan…
Ini doa kecilku. Harapan dari hambaMu yang juga tak terbilang kecilnya. Semoga timbunan dosaku tidak membuatnya tertahan di angkasa, semoga kasihMu berkenan menjemputnya hingga ke ‘Arsy yang Maha Agung.
Tuhanku…
Engkau sebaik-baiknya Dzat, mampu mendengar yang tak terucap, mampu melihat yang tersembunyi, Maha Pemberi meski tanpa diminta. Engkau sebaik-baiknya pengasih, pemilik cinta hakiki, penggenggam kunci setiap hati.
Ini pengharapanku…
Jadikan aku hambaMu yang pandai bersyukur.
Bukan agar bertambah nikmat yang Kau limpahkan, melainkan agar aku tidak iri dan membanding-bandingkan hidupku dengan orang lain.
Jadikan aku hambaMu yang pandai bersyukur.
Bukan agar aku jadi ahli qanaah, melainkan agar aku pantang berkeluh kesah dan buruk sangka padaMu.
Jadikan aku hambaMu yang pandai bersyukur.
Bukan agar aku jadi bagian dari orang-orang yang sholehah, melaikan agar aku menyentuh ikhlas dalam setiap ibadahku, tanpa riya’, tanpa pamrih.
Jadikan aku hambaMu yang pandai bersyukur.
Bukan agar aku dengan mudah masuk ke dalan surgaMu, melainkan agar kugenggam ridhoMu ya Allah, ridhoMu penguasa semesta, ridhoMu pemilik surga dan neraka.
Ya Rabb…
Dalam setiap doa terbaikku, tak lupa kusisip nama ‘malaikat-malaikatMu’, kedua orangtuaku, Mamah dan Ayah terbaik dalam kehidupanku.
Panjangkanlah umur mereka.
Biarkan mereka jadi pelita dalam jahiliyyah duniaku, biarkan mereka jadi penegur untuk setumpuk kesalahanku, biarkan mereka jadi alasan untuk setiap perjuanganku, biarkan mereka jadi pelipur untuk gundah laraku.
Ya Rabb…
Berikanlah keduanya kesehatan, sertakan kemudahan untuk setiap urusan mereka, naungi mereka dengan lindunganmu yang Maha Teguh.
Ya Rabb…
Izinkan tanganku jadi penghapus cucuran peluh mereka, izinkan pelukku jadi ‘rumah’ yang selalu mereka rindukan, izinkan doaku jadi peneduh susah mereka.
Ya Rabb…
Hambamu yang kecil ini meminta terlalu banyak, sementara ibadah dan penghambaanku amatlah kecil. Hati dan fikiranku masih dibelenggu urusan duniawi. Tapi aku yakin tiada doa yang akan terabai, tiada pengharapan yang akan tertolak.
Semoga yang aku tulis hari ini menemui pengkabulan.
Semoga yang aku tulis hari ini jadi manfaat dan amal kebaikan.
Aamiin aamiin ya Rabbal ‘alamin.
best regard
novia
Label:
Random
