Kamu memanggilnya. Berulang kali.
Berharap iya akan kembali atau perpisahan hanya bagian dari mimpi?
Kamu serukan namanya.
Berharap ia bertahan di tempatnya.
Berbaik hati, membelitkan perban, menuang obat merah, pada hatimu yang berdarah-darah.
Tapi sia-sia. Sungguh tanpa guna.
Ia tetap pergi.
Membiarkanmu mengobati lukamu sendiri.
Tapi lihat dirimu?
Bukan menarik iba tapi mendulang murka?
Lihat sikapmu?
Bukan tercermin sabar malah memancing gusar.
Bagaimana kamu bisa begitu egois?
Tidak ingin disakiti.
Katamu, sudah bertubi-tubi.
Tapi kamu sendiri menebar duri.
Tidak ingin diganggu.
Tapi kamu sendiri melempar kerikil dan batu-batu.
Hei!
Kamu!
Tidakkah terbaca?
luka-luka yang tertera.
setiap kali ceritamu masih tentang dia.
Aku terluka.
Lalu luka itu kamu namai penindasan
Atas dasar ketakutan.
Bagaimana kamu bisa menyebutnya suara ketakutan?
Tidakkah terdengar seperti seruan kekecewaan?
Terhadapmu yang ingkar pada sebuah pernyataan.
Kemana ikhlas yang dulu kamu ucapkan?
Berhentilah bermain dengan kata-kata.
Karena tidak semua orang buta berbahasa.
Biarkan. Boleh abaikan yang tidak mengerti.
Tapi aku bukan bagian dari mereka yang sulit memahami.
bagaimana setiap huruf itu
setiap kata itu
setiap kalimat itu
Masih bercerita tentang orang yang sama.
tentang dia...
Dia
Dia
Dia
Orang yang seharusnya sudah kamu lupa.
best regard
via
Tampilkan postingan dengan label Puisi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Puisi. Tampilkan semua postingan
Kamis, 22 Mei 2014
Jumat, 01 November 2013
Namaku Indonesia
Namaku Indonesia
Dulu namaku Indonesia…
Ribuan pasang mata dari berbagai penjuru dunia dibalut iri menatapku
Putra-putri kebanggaanku
tumbuh riang gembira, dengan arum manis di kedua tangan mereka
Mata mereka berkilau, lengannya kokoh
Siap menerima tongkat estafet pemerintahan dari para pendahulu
Dulu namaku Indonesia…
Siapa yang tidak ingin menjejakkan kaki di tanahku?
Mencicipi jernih mata airku?
Membungkus pesonaku dalam ingatan?
Lihat alamku… pucuk – pucuk cemara yang bergoyang di lereng bukit
Juga awan putih bersih yang berenang manja di riakan langit
Ah cantik bukan?
Dulu namaku Indonesia… ya… Indonesia
Dengan semboyan ajaib perekat bangsa
Bhineka Tunggal Ika
Dengan nasionalisme yang memerah dalam darah
putih menyumsum dalam belulang
Tapi itu dulu…
sekarang lain cerita
Kini wajahku memar berdarah-darah
Mataku tak pernah kering dari air mata
Putra-putriku, sungguh malang nasib mereka
Putus sekolah hanya karena kurang biaya
Bukan bermain gembira malah harus bekerja
Beban keluarga ditaruh pada pundak-pundak ringkih mereka
Alamku?
Ah entah apa kabarnya
Hutannya gundul dijarah
Ikannya habis diterkam pukat harimau
Bunga-bunganya layu diracuni polusi
Nasionalisme yang dulu galak
Menyentak setiap pemberontak
Bagai hilang digulung gerakan ombak
Habis. Tak ada sisa
Kini, setetes bensin bahkan mampu menyulut petaka
Padahal kalian saudara sebangsa
Aku dibuat merana oleh penguasa dan rakyat yang saling tuduh dan buruk sangka
Aku disakiti, bahkan oleh mereka yang kuberi tanah untuk berdiri
Yang kudekap dalam bumiku ketika mereka mati
Dulu namaku Indonesia
Sekarang aku penuh luka
Tapi….. namaku tetap Indonesia.
best regard
via
Dulu namaku Indonesia…
Ribuan pasang mata dari berbagai penjuru dunia dibalut iri menatapku
Putra-putri kebanggaanku
tumbuh riang gembira, dengan arum manis di kedua tangan mereka
Mata mereka berkilau, lengannya kokoh
Siap menerima tongkat estafet pemerintahan dari para pendahulu
Dulu namaku Indonesia…
Siapa yang tidak ingin menjejakkan kaki di tanahku?
Mencicipi jernih mata airku?
Membungkus pesonaku dalam ingatan?
Lihat alamku… pucuk – pucuk cemara yang bergoyang di lereng bukit
Juga awan putih bersih yang berenang manja di riakan langit
Ah cantik bukan?
Dulu namaku Indonesia… ya… Indonesia
Dengan semboyan ajaib perekat bangsa
Bhineka Tunggal Ika
Dengan nasionalisme yang memerah dalam darah
putih menyumsum dalam belulang
Tapi itu dulu…
sekarang lain cerita
Kini wajahku memar berdarah-darah
Mataku tak pernah kering dari air mata
Putra-putriku, sungguh malang nasib mereka
Putus sekolah hanya karena kurang biaya
Bukan bermain gembira malah harus bekerja
Beban keluarga ditaruh pada pundak-pundak ringkih mereka
Alamku?
Ah entah apa kabarnya
Hutannya gundul dijarah
Ikannya habis diterkam pukat harimau
Bunga-bunganya layu diracuni polusi
Nasionalisme yang dulu galak
Menyentak setiap pemberontak
Bagai hilang digulung gerakan ombak
Habis. Tak ada sisa
Kini, setetes bensin bahkan mampu menyulut petaka
Padahal kalian saudara sebangsa
Aku dibuat merana oleh penguasa dan rakyat yang saling tuduh dan buruk sangka
Aku disakiti, bahkan oleh mereka yang kuberi tanah untuk berdiri
Yang kudekap dalam bumiku ketika mereka mati
Dulu namaku Indonesia
Sekarang aku penuh luka
Tapi….. namaku tetap Indonesia.
best regard
via
Label:
Puisi
Selasa, 25 Juni 2013
Jangan Sedih, Pagi...
Hai pagi!
Kita bertemu lagi.
Masih bersedia membuka hari?
Ah, kamu baik sekali.
Beruntung yang mengenalmu, pagi.
Hai pagi!
Kita bersua lagi.
Bagaimana kabarmu hari ini?
Tampaknya kamu muram sekali.
Jangan sedih, pagi.
Pagi kemana dia?
Iya, dia sang surya?
Bukankah kalian biasa bersama?
Mengapa sekarang dia tidak ada?
Kemana surya?
Mengapa belum datang juga.
Lihat, pagi jadi tak berwarna tanpa kehadirannya.
Pagi, bolehkah aku bertanya?
Kemarin angin mengabariku.
Katanya, kalian sedang berseteru.
Pagi dengan surya, benarkah kalian sedang bersimpang rasa?
Angin bilang, akhirnya surya memilih pergi.
Setelah membuat pagi jatuh hati.
Ah, padahal kalian sangat serasi.
Mengapa surya tega sekali?
Oh ya, aku tahu jawabannya.
Pagi, kemari!
Akan kuceritakan apa yang aku ketahui.
Sebelum petang, aku bertemu surya.
Dia pulang keperaduannya digandengi duka.
Kasihan dia, tampak begitu merana.
Aku menyapanya, lalu kami bertukar kata.
Pagi, surya bilang dia kecewa.
Bukankah kalian sudah berkawan lama?
Mengapa harus ada yang jatuh cinta?
Surya tidak suka.
Surya kesal sekali.
Mengapa pagi pura-pura tuli.
Bukankah sudah berulang kali surya bisiki.
Tentang siapa yang dia ingini.
Tentang siapa yang dia cintai.
Pagi sudah tahu kan?
Bulan, hanya bulan.
Surya memilih bulan, meski mereka sulit dipersatukan.
Surya mau bulan, hanya bulan.
Itulah alasan surya akhirnya pergi.
Dia tak ingin pagi yang baik hati, semakin tersakiti.
Semoga pagi mengerti.
Nah, sekarang pagi telah kuberi tahu.
Sudahlah, jangan lagi sendu.
Penduduk bumi tidak suka pagi yang cengeng.
Berhentilah menangis dan jadilah cerah.
Pagi, ayo berseri-seri lagi.
Bermainlah dengan fajar atau embun yang luruh ke bumi.
Lupakan surya!
Banyak yang membenci keegoisannya.
Percayalah!
Surya akan menuai sesal.
Persis seperti yang pernah aku rasakan.
Sangat menyesal.
Karena salah menetukan pilihan.
best regard
via
Kita bertemu lagi.
Masih bersedia membuka hari?
Ah, kamu baik sekali.
Beruntung yang mengenalmu, pagi.
Hai pagi!
Kita bersua lagi.
Bagaimana kabarmu hari ini?
Tampaknya kamu muram sekali.
Jangan sedih, pagi.
Pagi kemana dia?
Iya, dia sang surya?
Bukankah kalian biasa bersama?
Mengapa sekarang dia tidak ada?
Kemana surya?
Mengapa belum datang juga.
Lihat, pagi jadi tak berwarna tanpa kehadirannya.
Pagi, bolehkah aku bertanya?
Kemarin angin mengabariku.
Katanya, kalian sedang berseteru.
Pagi dengan surya, benarkah kalian sedang bersimpang rasa?
Angin bilang, akhirnya surya memilih pergi.
Setelah membuat pagi jatuh hati.
Ah, padahal kalian sangat serasi.
Mengapa surya tega sekali?
Oh ya, aku tahu jawabannya.
Pagi, kemari!
Akan kuceritakan apa yang aku ketahui.
Sebelum petang, aku bertemu surya.
Dia pulang keperaduannya digandengi duka.
Kasihan dia, tampak begitu merana.
Aku menyapanya, lalu kami bertukar kata.
Pagi, surya bilang dia kecewa.
Bukankah kalian sudah berkawan lama?
Mengapa harus ada yang jatuh cinta?
Surya tidak suka.
Surya kesal sekali.
Mengapa pagi pura-pura tuli.
Bukankah sudah berulang kali surya bisiki.
Tentang siapa yang dia ingini.
Tentang siapa yang dia cintai.
Pagi sudah tahu kan?
Bulan, hanya bulan.
Surya memilih bulan, meski mereka sulit dipersatukan.
Surya mau bulan, hanya bulan.
Itulah alasan surya akhirnya pergi.
Dia tak ingin pagi yang baik hati, semakin tersakiti.
Semoga pagi mengerti.
Nah, sekarang pagi telah kuberi tahu.
Sudahlah, jangan lagi sendu.
Penduduk bumi tidak suka pagi yang cengeng.
Berhentilah menangis dan jadilah cerah.
Pagi, ayo berseri-seri lagi.
Bermainlah dengan fajar atau embun yang luruh ke bumi.
Lupakan surya!
Banyak yang membenci keegoisannya.
Percayalah!
Surya akan menuai sesal.
Persis seperti yang pernah aku rasakan.
Sangat menyesal.
Karena salah menetukan pilihan.
best regard
via
Label:
Puisi
Jumat, 07 Juni 2013
Mengapa Abu-abu?
Mengapa abu-abu?
Mengapa bukan hitam saja?
Hitam saja sekalian.
Agar kujelajahi hari dengan emosi, iri, serta dengki.
Agar jelas keburukanlah satu-satunya pilihan untukku.
Agar pasti tiada kawan bagiku, selain kejahatan.
Mengapa tidak hitam saja?
Agar gelap semua.
Agar pahit semua.
Mengapa abu-abu?
Mengapa bukan putih saja.
Putih saja sekalian.
Agar aku jadi cahaya untuk orang-orang yang begitu menyayangiku.
Agar aku melangkah beriringan dengan kebaikan.
Agar hatiku mulia, pribadiku memesona tanpa cela.
Mengapa tidak putih saja.
Agar terasa menyala.
Agar terang semua.
Mengapa harus abu-abu?
Mengapa tidak warna-warni.
Seperti pelangi.
Maka aku akan jadi seberani merah.
Maka aku akan jadi seceria kuning.
Dan selalu menyejukkan seperti hijau.
Ya, pelangi saja.
Biar kedatanganku diharapkan.
Biar kehadiranku dikagumi.
Dan pergiku disesali.
Mengapa bukan pelangi saja.
Agar cerah semua.
Agar indah semua.
Mengapa harus abu-abu?
Abu yang tidak jelas. Abu yang entah bersih atau kotor.
Aku benci abu-abu, yang selalu bertengkar dalam tempurung kepalaku.
Aku benci abu-abu, yang membuat langkahku tersendat-sendat. Yang membuat aku terlalu banyak menimbang. Yang membuat aku perlu jutaan kali memikirkan perasaan orang lain, yang bahkan tidak pernah mau repot-repot melindungi kesakitanku.
Aku benci sisi abu-abu yang ada dalam diriku. Yang perlahan meramurkan siapa aku yang sebenarnya?
Jadi siapa aku?
Putihkah? Pelangikah?
Atau jangan-jangan hitam yang dibenci banyak orang?
Ah, aku takut. Takut sekali.
best regard
via
Mengapa bukan hitam saja?
Hitam saja sekalian.
Agar kujelajahi hari dengan emosi, iri, serta dengki.
Agar jelas keburukanlah satu-satunya pilihan untukku.
Agar pasti tiada kawan bagiku, selain kejahatan.
Mengapa tidak hitam saja?
Agar gelap semua.
Agar pahit semua.
Mengapa abu-abu?
Mengapa bukan putih saja.
Putih saja sekalian.
Agar aku jadi cahaya untuk orang-orang yang begitu menyayangiku.
Agar aku melangkah beriringan dengan kebaikan.
Agar hatiku mulia, pribadiku memesona tanpa cela.
Mengapa tidak putih saja.
Agar terasa menyala.
Agar terang semua.
Mengapa harus abu-abu?
Mengapa tidak warna-warni.
Seperti pelangi.
Maka aku akan jadi seberani merah.
Maka aku akan jadi seceria kuning.
Dan selalu menyejukkan seperti hijau.
Ya, pelangi saja.
Biar kedatanganku diharapkan.
Biar kehadiranku dikagumi.
Dan pergiku disesali.
Mengapa bukan pelangi saja.
Agar cerah semua.
Agar indah semua.
Mengapa harus abu-abu?
Abu yang tidak jelas. Abu yang entah bersih atau kotor.
Aku benci abu-abu, yang selalu bertengkar dalam tempurung kepalaku.
Aku benci abu-abu, yang membuat langkahku tersendat-sendat. Yang membuat aku terlalu banyak menimbang. Yang membuat aku perlu jutaan kali memikirkan perasaan orang lain, yang bahkan tidak pernah mau repot-repot melindungi kesakitanku.
Aku benci sisi abu-abu yang ada dalam diriku. Yang perlahan meramurkan siapa aku yang sebenarnya?
Jadi siapa aku?
Putihkah? Pelangikah?
Atau jangan-jangan hitam yang dibenci banyak orang?
Ah, aku takut. Takut sekali.
best regard
via
Label:
Puisi
Minggu, 05 Mei 2013
Kak, hidup itu pilihan?
kak, hari ini hujan
selaksa langit jadi abu-abu
tidak ada yang menarik memang
hanya gumulan awan gelap yang berenang lambat di riakan langit
lantas berubah jadi partikel-partikel air
ya... tapi aku selalu menyukainya
sayangnya, hujan kali ini berbeda
ada yang berubah di sini
di dalam pikiranku
hujan kali ini hilang maknanya
berganti sebuah tanya yang entah di mana akan kutemukan jawabnya
kak, hidup itu pilihan. benarkah?
lantas bagaimana dengan aku?
suara dan tawamu
aku belum (atau bahkan mungkin tidak akan pernah) bisa memilih yang mana di antara keduanya
yang paling ingin aku dengar
kak, hidup itu pilihan. benarkah?
lalu bagaimana dengan aku?
senyum dan caramu tertawa
sampai detik ini bergulir, aku juga tidak bisa memilih mana di antara keduanya
yang lebih aku sukai
kak, hidup itu pilihan. benarkah?
lantas bagaimana dengan aku, kak?
boleh aku memilih tidah usah mengenalmu?
hidup itu pilihan?
jika benar, SUNG-GUH...
aku tidak akan memilihmu
SUNG-GUH
aku tidak akan memilih menaruh hati pada orang yang bahkan tidak mengulurkan satu tanganpun untuk menyambutnya
kak, hujannya berakhir
dan pertanyaan-pertanyaanku?
AH, biar anak-anak angin yang membawanya serta
mungkin hanya akan sia-sia
terselip di antara pucuk-pucuk angsana
atau menguap bersama udara
kecuali...
jika kakak mau menuliskan jawabannya.
06-10-12 20:40
selaksa langit jadi abu-abu
tidak ada yang menarik memang
hanya gumulan awan gelap yang berenang lambat di riakan langit
lantas berubah jadi partikel-partikel air
ya... tapi aku selalu menyukainya
sayangnya, hujan kali ini berbeda
ada yang berubah di sini
di dalam pikiranku
hujan kali ini hilang maknanya
berganti sebuah tanya yang entah di mana akan kutemukan jawabnya
kak, hidup itu pilihan. benarkah?
lantas bagaimana dengan aku?
suara dan tawamu
aku belum (atau bahkan mungkin tidak akan pernah) bisa memilih yang mana di antara keduanya
yang paling ingin aku dengar
kak, hidup itu pilihan. benarkah?
lalu bagaimana dengan aku?
senyum dan caramu tertawa
sampai detik ini bergulir, aku juga tidak bisa memilih mana di antara keduanya
yang lebih aku sukai
kak, hidup itu pilihan. benarkah?
lantas bagaimana dengan aku, kak?
boleh aku memilih tidah usah mengenalmu?
hidup itu pilihan?
jika benar, SUNG-GUH...
aku tidak akan memilihmu
SUNG-GUH
aku tidak akan memilih menaruh hati pada orang yang bahkan tidak mengulurkan satu tanganpun untuk menyambutnya
kak, hujannya berakhir
dan pertanyaan-pertanyaanku?
AH, biar anak-anak angin yang membawanya serta
mungkin hanya akan sia-sia
terselip di antara pucuk-pucuk angsana
atau menguap bersama udara
kecuali...
jika kakak mau menuliskan jawabannya.
06-10-12 20:40
Label:
Puisi
Jumat, 11 Januari 2013
Tentang Sebuah Buku
“Ternyata aku dan menulis tidak pernah bisa dipisahkan oleh satu atau hal lain apapun.” – 11 Januari 2013.
Hari ini aku ingin bercerita, lewat tulisan tentunya. Karena aku merasa lebih didengar ketika menulis dan sering kali gagal setiap bercerita dengan lisan. Aku ingin bicara tentang sebuah buku. Ya, buku milik kamu.
Satu waktu, kamu (yang aku kira bahkan tidak pernah mengenalku) datang, entah karena apa, tiba-tiba saja muncul. Aku takut, ketakutan yang beralasan, kurasa. Takut kalau kedatanganmu akan jadi seperti api, menghampiri hanya untuk pergi, kemudian menyisakan jelaga.
Kamu hadir bersama sebuah buku, lantas mengizinkan aku untuk membaca sedikit dari sekian banyak tulisan yang menyemut rapi dalam lembaran-lembarannya. Meski sangat berharap, tapi aku juga sangat tahu, sekeras apapun mencari tidak akan pernah kutemukan namaku tertulis dalam bukumu. Dan kalau kamu ingin tahu, aku tidak keberatan, tidak sama sekali. Aku juga tidak akan pernah meminta kamu menghapus satu katapun dalam buku itu, agar namaku bisa tertera disana, lagi pula sekalipun aku meminta kamu pasti akan menolaknya. Aku tidak pernah berusaha merusak apapun yang kamu tulis. Aku merasa baik-baik saja, membaca lembar demi lembar bukumu, menyelami setiap kata-katamu yang mengagumkan, meskipun lagi-lagi itu bukan tentang aku, aku tidak apa-apa. Sampai kamu tiba-tiba menarik buku yang sedang aku baca, lalu pergi begitu saja.
Sadarkah kamu? Yang kamu bawa pergi, bukan hanya buku milikmu. Tapi bukuku ikut terbawa. Walaupun ini juga salahku, tidak menjaga bukuku dengan baik dan telah meletakkannya ditempat yang salah. Dan hari ini ketika kamu mengembalikannya, ada tumpahan tinta hitam di dalamnya. Mungkin kamu berniat menuliskan pesan yang baik untukku, tapi harus aku katakan kamu kurang hati-hati. Pasti ada yang salah, entah pena yang kamu gunakan atau tinta yang kamu tuangkan, atau… memang bukuku terlihat lebih pantas ditulisi dengan sembarangan. Apapun itu, yang pasti aku sedih karena sekarang, ada yang berubah, dan bukuku tidak lagi sama. Aku tau, kamu tidak akan mau repot-repot membersihkannya, jadi tentu saja harus kubersihkan sendiri dan itu sulit. Tintanya sulit sekali hilang, tapi aku terus mencoba, sampai ada seseorang yang mengatakan, "Sekuat apapun usahamu untuk menghilangkan tintanya, ia tidak akan pernah benar-benar hilang. Pasti akan ada bagian yang tersisa. Salah-salah kamu malah akan merusak bukumu sendiri jika terlalu memaksa menghapusnya. Satu lembar memang telah terhitamkan, tapi bukankah kamu masih mempunyai halaman-halaman yang lain? Mulailah menulis dalam lembaran yang baru. Tulis hal-hal yang indah dan itu akan menutupi tinta hitamnya.”
Ya mungkin memang benar, tapi tetap saja, andai kamu tidak berusaha menuliskan apapun dalam bukuku, jadinya tidak akan seperti ini. Aku tahu niatmu baik, tapi seharusnya kamu mengerti, tidak semua yang kamu pikir baik akan jadi baik pula untuk orang lain. Aku betul-betul tidak faham bagaimana kamu bisa berfikir pesan itu akan baik untukku sedangkan kamu sama sekali tidak pernah mengenalku dengan baik. Aku tidak mengerti apa yang kamu pikirkan dan apa tujuannya, itu terlalu rumit untuk aku yang menyukai kesederhanaan.
Dan buku itu adalah analogi, tentang emm… perasaan mungkin.
Apa yang aku rasakan sebenarnya sederhana saja, sesederhana menulis dan bercerita, perasaan yang mungkin akan hilang jika sudah saatnya. Lantas mengapa tidak dibiarkan saja dulu. Apa sulitnya berpura-pura tidak tahu kalau ada seseorang yang mengagumimu? Tak acuh saja, tidak sulit kan?
Toh aku tidak mengganggu, aku tidak pernah berusaha merusak apapun. Aku hanya ingin dibiarkan, dibiarkan merasa senang saat melihatmu berjalan diantara lorong-lorong kelas, sementara kamu tidak perlu mengenalku. Dibiarkan menulis apa saja tentangmu, sementara kamu tidak perlu membacanya. Dibiarkan menyapamu sesering mungkin hanya dihadapan sahabat-sahabatku sementara kamu tidak perlu menjawabnya. Seperti itu saja, seperti dulu, sebelum aku tahu ternyata kamu mengenalku. Seperti dulu, saat kamu berlalu begitu saja tanpa kamu tau bahwa orang yang baru saja kamu lewati, mengagumimu.
Ini sebenarnya mudah. Biar aku disini dengan semua yang aku rasakan dan kamu tetap disana, agar tercipta jarak sejauh mungkin, jika kamu menganggap aku mengganggu. Biar aku yang melihat dan kamu tidak perlu menoleh. Biar aku yang memuji dan kamu tidah usah peduli.
Sudah aku katakan bahwa aku tidak pernah berharap ‘pohon’ yang aku tanam akan tumbuh, karena dari awal aku tau, sudah salah menabur benih di ‘tanah’ milik orang lain. Aku yakin kamu bisa mengartikannya, aku tidak berharap apapun. Apapun.
Dan seringkali aku katakan bahwa aku tau, sangaaattt tau, rumah yang aku tuju, rumah yang aku tunggu, sudah berpenghuni dan aku tidak pernah berniat mengusik penghuninya, jika itu yang kamu khawatirkan.
Lalu apa lagi?
Jika kamu ingin aku berada sejauh mungkin dari rumah itu, aku sedang melakukannya, tapi kamu tau? Secara tidak langsung kamu telah membawaku kembali kehadapan rumah itu beberapa hari ini. tapi tenang saja, kali ini ‘I just come and go.’
Maaf jika sudah membuatmu terganggu dengan apapun yang aku kira melakukannya adalah bagian dari HAKku.
Hari ini aku ingin bercerita, lewat tulisan tentunya. Karena aku merasa lebih didengar ketika menulis dan sering kali gagal setiap bercerita dengan lisan. Aku ingin bicara tentang sebuah buku. Ya, buku milik kamu.
Satu waktu, kamu (yang aku kira bahkan tidak pernah mengenalku) datang, entah karena apa, tiba-tiba saja muncul. Aku takut, ketakutan yang beralasan, kurasa. Takut kalau kedatanganmu akan jadi seperti api, menghampiri hanya untuk pergi, kemudian menyisakan jelaga.
Kamu hadir bersama sebuah buku, lantas mengizinkan aku untuk membaca sedikit dari sekian banyak tulisan yang menyemut rapi dalam lembaran-lembarannya. Meski sangat berharap, tapi aku juga sangat tahu, sekeras apapun mencari tidak akan pernah kutemukan namaku tertulis dalam bukumu. Dan kalau kamu ingin tahu, aku tidak keberatan, tidak sama sekali. Aku juga tidak akan pernah meminta kamu menghapus satu katapun dalam buku itu, agar namaku bisa tertera disana, lagi pula sekalipun aku meminta kamu pasti akan menolaknya. Aku tidak pernah berusaha merusak apapun yang kamu tulis. Aku merasa baik-baik saja, membaca lembar demi lembar bukumu, menyelami setiap kata-katamu yang mengagumkan, meskipun lagi-lagi itu bukan tentang aku, aku tidak apa-apa. Sampai kamu tiba-tiba menarik buku yang sedang aku baca, lalu pergi begitu saja.
Sadarkah kamu? Yang kamu bawa pergi, bukan hanya buku milikmu. Tapi bukuku ikut terbawa. Walaupun ini juga salahku, tidak menjaga bukuku dengan baik dan telah meletakkannya ditempat yang salah. Dan hari ini ketika kamu mengembalikannya, ada tumpahan tinta hitam di dalamnya. Mungkin kamu berniat menuliskan pesan yang baik untukku, tapi harus aku katakan kamu kurang hati-hati. Pasti ada yang salah, entah pena yang kamu gunakan atau tinta yang kamu tuangkan, atau… memang bukuku terlihat lebih pantas ditulisi dengan sembarangan. Apapun itu, yang pasti aku sedih karena sekarang, ada yang berubah, dan bukuku tidak lagi sama. Aku tau, kamu tidak akan mau repot-repot membersihkannya, jadi tentu saja harus kubersihkan sendiri dan itu sulit. Tintanya sulit sekali hilang, tapi aku terus mencoba, sampai ada seseorang yang mengatakan, "Sekuat apapun usahamu untuk menghilangkan tintanya, ia tidak akan pernah benar-benar hilang. Pasti akan ada bagian yang tersisa. Salah-salah kamu malah akan merusak bukumu sendiri jika terlalu memaksa menghapusnya. Satu lembar memang telah terhitamkan, tapi bukankah kamu masih mempunyai halaman-halaman yang lain? Mulailah menulis dalam lembaran yang baru. Tulis hal-hal yang indah dan itu akan menutupi tinta hitamnya.”
Ya mungkin memang benar, tapi tetap saja, andai kamu tidak berusaha menuliskan apapun dalam bukuku, jadinya tidak akan seperti ini. Aku tahu niatmu baik, tapi seharusnya kamu mengerti, tidak semua yang kamu pikir baik akan jadi baik pula untuk orang lain. Aku betul-betul tidak faham bagaimana kamu bisa berfikir pesan itu akan baik untukku sedangkan kamu sama sekali tidak pernah mengenalku dengan baik. Aku tidak mengerti apa yang kamu pikirkan dan apa tujuannya, itu terlalu rumit untuk aku yang menyukai kesederhanaan.
Dan buku itu adalah analogi, tentang emm… perasaan mungkin.
Apa yang aku rasakan sebenarnya sederhana saja, sesederhana menulis dan bercerita, perasaan yang mungkin akan hilang jika sudah saatnya. Lantas mengapa tidak dibiarkan saja dulu. Apa sulitnya berpura-pura tidak tahu kalau ada seseorang yang mengagumimu? Tak acuh saja, tidak sulit kan?
Toh aku tidak mengganggu, aku tidak pernah berusaha merusak apapun. Aku hanya ingin dibiarkan, dibiarkan merasa senang saat melihatmu berjalan diantara lorong-lorong kelas, sementara kamu tidak perlu mengenalku. Dibiarkan menulis apa saja tentangmu, sementara kamu tidak perlu membacanya. Dibiarkan menyapamu sesering mungkin hanya dihadapan sahabat-sahabatku sementara kamu tidak perlu menjawabnya. Seperti itu saja, seperti dulu, sebelum aku tahu ternyata kamu mengenalku. Seperti dulu, saat kamu berlalu begitu saja tanpa kamu tau bahwa orang yang baru saja kamu lewati, mengagumimu.
Ini sebenarnya mudah. Biar aku disini dengan semua yang aku rasakan dan kamu tetap disana, agar tercipta jarak sejauh mungkin, jika kamu menganggap aku mengganggu. Biar aku yang melihat dan kamu tidak perlu menoleh. Biar aku yang memuji dan kamu tidah usah peduli.
Sudah aku katakan bahwa aku tidak pernah berharap ‘pohon’ yang aku tanam akan tumbuh, karena dari awal aku tau, sudah salah menabur benih di ‘tanah’ milik orang lain. Aku yakin kamu bisa mengartikannya, aku tidak berharap apapun. Apapun.
Dan seringkali aku katakan bahwa aku tau, sangaaattt tau, rumah yang aku tuju, rumah yang aku tunggu, sudah berpenghuni dan aku tidak pernah berniat mengusik penghuninya, jika itu yang kamu khawatirkan.
Lalu apa lagi?
Jika kamu ingin aku berada sejauh mungkin dari rumah itu, aku sedang melakukannya, tapi kamu tau? Secara tidak langsung kamu telah membawaku kembali kehadapan rumah itu beberapa hari ini. tapi tenang saja, kali ini ‘I just come and go.’
Maaf jika sudah membuatmu terganggu dengan apapun yang aku kira melakukannya adalah bagian dari HAKku.
Label:
Puisi
Rabu, 07 November 2012
Untuk Pecinta Gunung, Ayah.
Senja sore ini... pertanda satu hari lagi yang mulai merenta, tua...
ah ya... jadi teringat batang usiaku yang juga kian menjulang.
Ayah, rasanya baru kemarin ya,
suara beratmu melantunkan adzan di telingaku.
rasanya baru kemarin, kau menaruhku di punggungmu, lalu berdua mengejar kupu-kupu.
Sekarang aku sudah besar, Ayah. Aku sudah besar!!
dan putrimu ini...
sudah sangat pandai!!
pandai menghancurkan hidupnya sendiri.
pandai menciptakan kegagalan, lalu menangis.
pandai mengeluh saat bersua elegi.
Ayah... maaf.
dan mengapa?
mengapa aku tidak tumbuh seperti yang Ayah inginkan?
harapan-harapan terhadap putri kecilmu dulu
dengan riang, kini aku patahkan.
tapi marahmu bergeming, kecewamu terlelap
tetap kau legamkan kulitmu, kau lucuti belulangmu
kau bilang itu, buatku.
buatku, putri yang selalu kau banggakan.
Andai diizinkan berego,
Ayah, aku ingin kau tetap disini, disampingku...
tidak boleh pergi, jangan pergi...
sampai aku bisa membalas sedikit, dari sekian banyak kebaikan yang tanpa cela kau beri.
31 Oktober 2012
untuk yang begitu mencintai pegunungan, Ayah.
ah ya... jadi teringat batang usiaku yang juga kian menjulang.
Ayah, rasanya baru kemarin ya,
suara beratmu melantunkan adzan di telingaku.
rasanya baru kemarin, kau menaruhku di punggungmu, lalu berdua mengejar kupu-kupu.
Sekarang aku sudah besar, Ayah. Aku sudah besar!!
dan putrimu ini...
sudah sangat pandai!!
pandai menghancurkan hidupnya sendiri.
pandai menciptakan kegagalan, lalu menangis.
pandai mengeluh saat bersua elegi.
Ayah... maaf.
dan mengapa?
mengapa aku tidak tumbuh seperti yang Ayah inginkan?
harapan-harapan terhadap putri kecilmu dulu
dengan riang, kini aku patahkan.
tapi marahmu bergeming, kecewamu terlelap
tetap kau legamkan kulitmu, kau lucuti belulangmu
kau bilang itu, buatku.
buatku, putri yang selalu kau banggakan.
Andai diizinkan berego,
Ayah, aku ingin kau tetap disini, disampingku...
tidak boleh pergi, jangan pergi...
sampai aku bisa membalas sedikit, dari sekian banyak kebaikan yang tanpa cela kau beri.
31 Oktober 2012
untuk yang begitu mencintai pegunungan, Ayah.
Label:
Puisi
Senin, 18 April 2011
Dia Bintang dan Aku Pengagumnya
Dia...
Aku hafal betul, betapa dia sempurna dalam detailnya
Aku faham betul, sugesti macam apa yang akan muncul terhadap tubuhku saat dengan fasih kurapal namanya
Aku bahkan terlalu kenal nama miliknya, huruf konsonan dan vokal yang menyusunnya, bisa kusebut hanya dalam satuan angin
Dia.....
Tanpa pernah alpa, aku berdoa bisa berada didekatnya untuk selalu mengingatkan bahwa, "Kamu sempurna, Tuhan begitu baik padamu."
Seperti bintang
Ia indah
Selalu memesona
Bercahaya
Tapi tak terjamah
Sungguh, tidak mungkin tergapai tangan
Lalu apa peduliku?
Selama ia masih mau menerangi malam-malamku
Menemaniku mengayam mimpi di gelap hari
Aku akan tetap mengaguminya
Ia seperti buliran debu
Berdesir, terbang berputar dalam angin, menempel pada kaca yang basah
Lantas sulit sekali lekang
Sungguh, ia begitu mudah diingat tapi setelahnya sulit sekali untuk terabai
Bagai candu, saat mengingat apapun tentangnya
Anganku seperti diajak melayang
Bagai ranjau, ia memisahkan aku dengan dunia luar
Asik dengan dimensiku
Asik dengan duniaku
Dunia, dimana hanya ada aku, dia dan rasa kagumku yang berlebih
Dunia, dimana kuizinkan diri memujinya tanpa jeda dan reda
Melihatnya, seperti melahap hijau yang sejukkan mata
Mendengar senandungnya, seperti nikmati bisikkan suara dari nirvana
Membingkai figurnya dalam satu pandangan, layaknya disodori lukisan terbaik Sang Maestro yang digurat dengan kuas emas dalam kanvas sutra
Dia selalu istimewa
Karena dia bintang dan aku pemujanya...
karena dia bintang dan aku penikmat cahayanya...
Ini bukan puisi
Bukan sajak
Terikat oleh bait-bait berima
Hanya sulaman kata yang jadi lembaran kalimat sederhana
Yang bercerita tentang...
DIA, SANG BINTANG DAN AKU PENGAGUMNYA...
*untuk Mario Stevano Aditya, bintang yang paling terang
Aku hafal betul, betapa dia sempurna dalam detailnya
Aku faham betul, sugesti macam apa yang akan muncul terhadap tubuhku saat dengan fasih kurapal namanya
Aku bahkan terlalu kenal nama miliknya, huruf konsonan dan vokal yang menyusunnya, bisa kusebut hanya dalam satuan angin
Dia.....
Tanpa pernah alpa, aku berdoa bisa berada didekatnya untuk selalu mengingatkan bahwa, "Kamu sempurna, Tuhan begitu baik padamu."
Seperti bintang
Ia indah
Selalu memesona
Bercahaya
Tapi tak terjamah
Sungguh, tidak mungkin tergapai tangan
Lalu apa peduliku?
Selama ia masih mau menerangi malam-malamku
Menemaniku mengayam mimpi di gelap hari
Aku akan tetap mengaguminya
Ia seperti buliran debu
Berdesir, terbang berputar dalam angin, menempel pada kaca yang basah
Lantas sulit sekali lekang
Sungguh, ia begitu mudah diingat tapi setelahnya sulit sekali untuk terabai
Bagai candu, saat mengingat apapun tentangnya
Anganku seperti diajak melayang
Bagai ranjau, ia memisahkan aku dengan dunia luar
Asik dengan dimensiku
Asik dengan duniaku
Dunia, dimana hanya ada aku, dia dan rasa kagumku yang berlebih
Dunia, dimana kuizinkan diri memujinya tanpa jeda dan reda
Melihatnya, seperti melahap hijau yang sejukkan mata
Mendengar senandungnya, seperti nikmati bisikkan suara dari nirvana
Membingkai figurnya dalam satu pandangan, layaknya disodori lukisan terbaik Sang Maestro yang digurat dengan kuas emas dalam kanvas sutra
Dia selalu istimewa
Karena dia bintang dan aku pemujanya...
karena dia bintang dan aku penikmat cahayanya...
Ini bukan puisi
Bukan sajak
Terikat oleh bait-bait berima
Hanya sulaman kata yang jadi lembaran kalimat sederhana
Yang bercerita tentang...
DIA, SANG BINTANG DAN AKU PENGAGUMNYA...
*untuk Mario Stevano Aditya, bintang yang paling terang
Label:
Puisi
Sabtu, 12 Maret 2011
Winner Never Quit
Sang juara memang tidak harus selalu bermahkota
tidak harus selalu jadi yang pertama
Ya, memang tidak 'HARUS'
tapi bukankah sebuah kompetisi akan lebih indah bila ditutup dengan kemenangan?
Kemenangan.
memang selalu diharapkan bukan?
kemenanganlah yang jadi tujuan bukan?
Tapi sejatinya, kemenangan bukanlah ukuran
kemenangan tidak bisa jadi hakim atas sebuah perjuangan
Seuntai medali atau selembar kertas piagam berbingkai, tidak dapat mengganti setiap cucur peluh yang diperas dalam sebuah perjuangan
Kerja keras tidak akan terbayar hanya dengan gelar champion
semangat yang berkobar tidak cukup bila hanya dihargai kepingan emas, sebuah tropi, gegap-gempita atau kembang api
semua tidak bisa dijadikan bukti ataupun saksi atas sebuah pencapaian
Dimanapun kejujuran dan kegigihan akan selalu diapresiasi lebih tinggi
Usahamu, letih dan payahnmu akan selalu mendapat tempat di setiap hati
akan selalu menuai kagum
Biar mereka yang menilai, biar dunia yang menimbang, pada siapa applause itu layak diberikan
Karena mereka juga melihat, mereka juga merasa, mereka berhak menilai dan berhak menasbihkan ucapan selamat pada juara yang sejati.
"... juara yang sejati,
akan selalu tegak berdiri,
walau ternyata kalah,
semangat tak boleh patah.
Juara yang sejati,
selalu lakukan yang terbaik,
apapun yang terjadi,
tetaplah tegak,
tegak berdiri..."
kemenangan, bukan saat di kalungi medali
bukan pula saat namamu dipekik lantang mikrofon sebagai yang pertama
tapi saat begitu banyak senyum bangga yang terpeta untukmu, itulah kemenangan
Saat begitu banyak rajutan doa yang menyertai derap juangmu, itulah kemenangan
Saat semua orang mengangkat tangannya, mengepal dan berseru 'tetap semangat' untukmu, itulah kemenangan
Tak dapat di elakkan, buliran kecewa itu pasti ada
menyeruak di antara kepingan harap yang hancur di dera kekalahan
banyak yang ikut menangis
ya, orang-orang yang kagum dan menyayangimu tentu ikut menangis meratapi kegagalan yang kamu terima
banyak yang ikut jatuh
terhempas bersama lambungan angan dan asamu yang juga berai
Tapi hanya sampai sinikah?
Berhentikah?
Berakhirkah?
Belum, dear.
Kegagalan adalah keberhasilan yang tertunda
Ya, kalimat klise, tapi sarat akan makna
Kemenangan akan terasa lebih manis setelah kamu merasakan pahitnya kekalahan
Keluar sebagai juara akan sangat membanggakan bila kamu pernah merasakan sakitnya dipencundangi lawan
Bumi ini bulat dan segalanya bisa terjadi
Jika bukan hari ini mungkin esok
dan jika bukan esok mungkin lusa
Tapi bila bukan lusa kamu hanya butuh kesabaran
karena kemenangan itu akan datang disaat yang benar, benar, benar, benar tepat.
"WINNERS NEVER QUIT, DEAR."
jangan pernah putus asa, lupakan apa yang telah terjadi kemarin, yang kedua, ketiga atau bahkan keempat tidak terlalu buruk.
Tetap bangkit dan tunjukkan pada dunia bahwa sang juara tidak akan pernah 'KALAH'.
Tidak oleh lawan, tidak oleh waktu atau takdir sekalipun.
Special for ::
-Mario Stevano Aditya Haling (runner-up Idola Cilik 3)
tidak harus selalu jadi yang pertama
Ya, memang tidak 'HARUS'
tapi bukankah sebuah kompetisi akan lebih indah bila ditutup dengan kemenangan?
Kemenangan.
memang selalu diharapkan bukan?
kemenanganlah yang jadi tujuan bukan?
Tapi sejatinya, kemenangan bukanlah ukuran
kemenangan tidak bisa jadi hakim atas sebuah perjuangan
Seuntai medali atau selembar kertas piagam berbingkai, tidak dapat mengganti setiap cucur peluh yang diperas dalam sebuah perjuangan
Kerja keras tidak akan terbayar hanya dengan gelar champion
semangat yang berkobar tidak cukup bila hanya dihargai kepingan emas, sebuah tropi, gegap-gempita atau kembang api
semua tidak bisa dijadikan bukti ataupun saksi atas sebuah pencapaian
Dimanapun kejujuran dan kegigihan akan selalu diapresiasi lebih tinggi
Usahamu, letih dan payahnmu akan selalu mendapat tempat di setiap hati
akan selalu menuai kagum
Biar mereka yang menilai, biar dunia yang menimbang, pada siapa applause itu layak diberikan
Karena mereka juga melihat, mereka juga merasa, mereka berhak menilai dan berhak menasbihkan ucapan selamat pada juara yang sejati.
"... juara yang sejati,
akan selalu tegak berdiri,
walau ternyata kalah,
semangat tak boleh patah.
Juara yang sejati,
selalu lakukan yang terbaik,
apapun yang terjadi,
tetaplah tegak,
tegak berdiri..."
kemenangan, bukan saat di kalungi medali
bukan pula saat namamu dipekik lantang mikrofon sebagai yang pertama
tapi saat begitu banyak senyum bangga yang terpeta untukmu, itulah kemenangan
Saat begitu banyak rajutan doa yang menyertai derap juangmu, itulah kemenangan
Saat semua orang mengangkat tangannya, mengepal dan berseru 'tetap semangat' untukmu, itulah kemenangan
Tak dapat di elakkan, buliran kecewa itu pasti ada
menyeruak di antara kepingan harap yang hancur di dera kekalahan
banyak yang ikut menangis
ya, orang-orang yang kagum dan menyayangimu tentu ikut menangis meratapi kegagalan yang kamu terima
banyak yang ikut jatuh
terhempas bersama lambungan angan dan asamu yang juga berai
Tapi hanya sampai sinikah?
Berhentikah?
Berakhirkah?
Belum, dear.
Kegagalan adalah keberhasilan yang tertunda
Ya, kalimat klise, tapi sarat akan makna
Kemenangan akan terasa lebih manis setelah kamu merasakan pahitnya kekalahan
Keluar sebagai juara akan sangat membanggakan bila kamu pernah merasakan sakitnya dipencundangi lawan
Bumi ini bulat dan segalanya bisa terjadi
Jika bukan hari ini mungkin esok
dan jika bukan esok mungkin lusa
Tapi bila bukan lusa kamu hanya butuh kesabaran
karena kemenangan itu akan datang disaat yang benar, benar, benar, benar tepat.
"WINNERS NEVER QUIT, DEAR."
jangan pernah putus asa, lupakan apa yang telah terjadi kemarin, yang kedua, ketiga atau bahkan keempat tidak terlalu buruk.
Tetap bangkit dan tunjukkan pada dunia bahwa sang juara tidak akan pernah 'KALAH'.
Tidak oleh lawan, tidak oleh waktu atau takdir sekalipun.
Special for ::
-Mario Stevano Aditya Haling (runner-up Idola Cilik 3)
Label:
Puisi
Kamis, 11 November 2010
Puisi : Waktu Tak Lagi Jadi Sekutu
aku tau, dalam hatiku tersimpan ratusan luka
tapi aku lebih tau
dalam hatimu bertumpuk ribuan duka, jutaan nyeri dan rintihan
karena bodohku
dan egoisku...
yang merasa benar, selalu benar
kamu coba untuk bertahan dan lupakan salah
tapi ku tau itu tidak mudah
malah aku yang kalah
menyerah
sudah, aku tak bisa biarkan kamu kian pilu
karena aku cintaimu
karena aku sayangimu
maka, aku melepasmu
kini, mungkin kamu tak mau tau atau memang tak pernah tau, betapaku cintaimu
karena aku sendiri tak tau betapaku cintaimu
tapi yakinlah dengan hati dan akalmu, kucintaimu selalu
meski waktu tak lagi jadi sekutu
meski hari tak lagi jadi temanku
meski kita telah terpecah jadi aku dan kamu
ku selalu cintaimu
hari ini, esok dan tak tentu waktu
best regard
via
tapi aku lebih tau
dalam hatimu bertumpuk ribuan duka, jutaan nyeri dan rintihan
karena bodohku
dan egoisku...
yang merasa benar, selalu benar
kamu coba untuk bertahan dan lupakan salah
tapi ku tau itu tidak mudah
malah aku yang kalah
menyerah
sudah, aku tak bisa biarkan kamu kian pilu
karena aku cintaimu
karena aku sayangimu
maka, aku melepasmu
kini, mungkin kamu tak mau tau atau memang tak pernah tau, betapaku cintaimu
karena aku sendiri tak tau betapaku cintaimu
tapi yakinlah dengan hati dan akalmu, kucintaimu selalu
meski waktu tak lagi jadi sekutu
meski hari tak lagi jadi temanku
meski kita telah terpecah jadi aku dan kamu
ku selalu cintaimu
hari ini, esok dan tak tentu waktu
best regard
via
Label:
Puisi
Puisi : Karena Kamu
Kamu...
Karena kamu
Karena senyummu
dan karena kebaikanmu
aku ingin berubah
aku ingin berhijrah
Aku...
Hanya makhluk kecil yang kerap kali bangga dengan dunia jahilliyahku
kerap kali tersesat dalam jalan yang keliru
kerap kali hilang dalam gelap yang tergugu
lantas jatuh, karena bodohku
Aku...
yang masih dihargai bukan karena kebaikanku, tapi karena kamu masih mau menutupi semua keburukanku
yang masih dipercaya bukan karena kejujuranku, tapi karena kamu masih setia menutupi semua kebohonganku
yang masih dipuji bukan karena sempurnaku, tapi karena kamu masih rela menutupi semua kekuranganku
Maafkan, maaf...
betapa aku pernah memandang angkuh padamu
betapa ucapku sering menyakitimu
betapa aku begitu senang merendahkanmu
padahal sebagian hidupku adalah dengan kebaikanmu
padahal sebagian bahagiaku adalah bersamamu
padahal kamu adalah yang kerap kali berusaha jadi obat untuk sakit yang ku derita
Maaf...
andai diizinkan untuk ber-ego
andai diizinkan sedikit memaksa
bahagia ataupun tidak
suka ataupun tidak
aku ingin kamu tetap di sini
di sampingku
Entahlah...
Entah untuk selalu menutupi dosa dan salahku
atau aku berharap kamu dapat membimbingku
entah aku hanya ingin dilindungi atau diajari...
yang paling pasti, aku dengan salahku, dengan bodohku
aku dengan khilafku, dengan kurangku
berharap...
memohon agar kamu mau selalu menyayangiku
seperti aku yang menyerahkan secuil dari hatiku yang masih bersih untuk menyayangimu
Senyummu kuharap mengantarku pada yang baik
tanganmu kuharap menjemputku dari yang buruk
bersama...
kita tinggalkan yang salah
menggapai rahmat dan ridho-Nya.
*untuk kalian yang sudah mencoba jadi sahabat terbaik.
best regard
via
Karena kamu
Karena senyummu
dan karena kebaikanmu
aku ingin berubah
aku ingin berhijrah
Aku...
Hanya makhluk kecil yang kerap kali bangga dengan dunia jahilliyahku
kerap kali tersesat dalam jalan yang keliru
kerap kali hilang dalam gelap yang tergugu
lantas jatuh, karena bodohku
Aku...
yang masih dihargai bukan karena kebaikanku, tapi karena kamu masih mau menutupi semua keburukanku
yang masih dipercaya bukan karena kejujuranku, tapi karena kamu masih setia menutupi semua kebohonganku
yang masih dipuji bukan karena sempurnaku, tapi karena kamu masih rela menutupi semua kekuranganku
Maafkan, maaf...
betapa aku pernah memandang angkuh padamu
betapa ucapku sering menyakitimu
betapa aku begitu senang merendahkanmu
padahal sebagian hidupku adalah dengan kebaikanmu
padahal sebagian bahagiaku adalah bersamamu
padahal kamu adalah yang kerap kali berusaha jadi obat untuk sakit yang ku derita
Maaf...
andai diizinkan untuk ber-ego
andai diizinkan sedikit memaksa
bahagia ataupun tidak
suka ataupun tidak
aku ingin kamu tetap di sini
di sampingku
Entahlah...
Entah untuk selalu menutupi dosa dan salahku
atau aku berharap kamu dapat membimbingku
entah aku hanya ingin dilindungi atau diajari...
yang paling pasti, aku dengan salahku, dengan bodohku
aku dengan khilafku, dengan kurangku
berharap...
memohon agar kamu mau selalu menyayangiku
seperti aku yang menyerahkan secuil dari hatiku yang masih bersih untuk menyayangimu
Senyummu kuharap mengantarku pada yang baik
tanganmu kuharap menjemputku dari yang buruk
bersama...
kita tinggalkan yang salah
menggapai rahmat dan ridho-Nya.
*untuk kalian yang sudah mencoba jadi sahabat terbaik.
best regard
via
Label:
Puisi
Puisi : Garis Senja
sahabat, sore ini kuamati dari kejauhan, awan putih di udara yang terus berarak
teriring angin yang membawa mereka semakin jauh
pun dengan ombak laut yang berlarian, menerjang karang, berlomba mencapai pantai
awan dan ombak terus bergerak, tak peduli mentari yang berpendar hebat
tahukah kamu, apa yang sebenarnya mereka tuju?
tahukah kamu, apa yang sebenarnya mereka cari?
kesatuanlah yang mereka cari dan senjalah yg mereka tuju
ombak dan awan bersatu saat senja tiba
membentuk garis jingga yang mengisyaratkan ketenangan
dan begitulah kita...
aku yang seperti ombak dengan ego keras memecah karang, juga kamu, yang bagai awan limbung, terbawa arah angin
akhirnya kita dipersatukan di sini, di batas senja persahabatan
meski setelah senja, malam akan segera tiba
meski setelah senja, gelap akan segera datang
jangan pernah takut,tak boleh merapuh... karena kita sahabatku, 'kan selalu satu
selamanya kan tetap satu
berdiri pada satu garis lurus yang akan menuntun kita untuk saling menjaga, saling melindungi dan saling melengkapi
karenanya sahabatku... sejauh apapun aku akan pergi mengarungi lautan lepas
sejauh apapun kamu akan terbang menyusuri udara bebas
percayalah kita akan dipertemukan kembali
layaknya awan dan ombak yang selalu bersatu lagi saat senja tiba
karena... aku dan kamu, sahabatku, kita adalah satu, selamanya kan tetap satu.
best regard
via
teriring angin yang membawa mereka semakin jauh
pun dengan ombak laut yang berlarian, menerjang karang, berlomba mencapai pantai
awan dan ombak terus bergerak, tak peduli mentari yang berpendar hebat
tahukah kamu, apa yang sebenarnya mereka tuju?
tahukah kamu, apa yang sebenarnya mereka cari?
kesatuanlah yang mereka cari dan senjalah yg mereka tuju
ombak dan awan bersatu saat senja tiba
membentuk garis jingga yang mengisyaratkan ketenangan
dan begitulah kita...
aku yang seperti ombak dengan ego keras memecah karang, juga kamu, yang bagai awan limbung, terbawa arah angin
akhirnya kita dipersatukan di sini, di batas senja persahabatan
meski setelah senja, malam akan segera tiba
meski setelah senja, gelap akan segera datang
jangan pernah takut,tak boleh merapuh... karena kita sahabatku, 'kan selalu satu
selamanya kan tetap satu
berdiri pada satu garis lurus yang akan menuntun kita untuk saling menjaga, saling melindungi dan saling melengkapi
karenanya sahabatku... sejauh apapun aku akan pergi mengarungi lautan lepas
sejauh apapun kamu akan terbang menyusuri udara bebas
percayalah kita akan dipertemukan kembali
layaknya awan dan ombak yang selalu bersatu lagi saat senja tiba
karena... aku dan kamu, sahabatku, kita adalah satu, selamanya kan tetap satu.
best regard
via
Label:
Puisi
