***
Bila ada tawa didunia ini
maka ada tangis disampingnya.
Bila ada keberhasilan didunia ini
maka ada kegagalan disampingnya.
Bila aku bisa memilih, antara sekarang dan masa lalu.
Aku ingin kembali ke masa lalu.
Masa dimana aku masih hidup tanpa rasa sakit.
Masa dimana aku masih bisa menangis karena haru.
Bukan karena kesedihan, melihat tangis orang tuaku.
Tuhan. . .
Hidupku mungkin hanya sesaat.
namun biarkanlah hidupku menjadi cahaya bagi mereka.
Bagi siapapun yang ku cintai.
Bawa aku kembali, Tuhan. . .
Dalam masa indah itu, walau hanya sesaat.
( Agnes Davonar )
***
Mataku mengerjap beberapa kali. Belum terbiasa dengan cahaya putih menyilaukan dari benda bulat yang terpasang dilangit-langit ruangan ini, kamar Anggrek no. 24. Ah, kenapa sih, aku mesti kembali lagi ketempat laknat ini?
Belum sempat pertanyaan itu terlontar, tubuhku sudah menjawabnya. Karena aku sakit lagi, ya mungkin kurang lebih begitu jawabannya.
Seperti ikan yang dipaksa mengunjungi daratan, aku merasa sulit bernafas. Satu-persatu udara yang masuk ke paru-paru serasa seperti batu-batu besar yang semakin ku hirup, semakin terasa menyesakkan. Aku membuka mulutku, berharap dengan begini akan lain ceritanya. Bernafas dengan hidung dan bantuan mulut, haah... Adakah yang hidupnya lebih sesangsara dari ku. Perlahan, aku mengurut dada, deru nafasku mulai teratur. Lantas, ku alihkan fokusku qada 4 siluet yang tengah terduduk di sofa pandang dalam kamar ini. Tidak perlu di beritahupun aku sudah bisa menebaknya. Ekspresi cemas itu, pasti karena aku, lagi-lagi-lagi dan selalu karena aku. Ck.
4 tahun aku tidak lagi melihat sorat kekhawatiran semacam itu, dan ketikan sorot itu kembali berbinar dari mata-mata indah mereka, aku benar-benar merasa menjadi gadis paling tidak berguna di dunia.
Ya allah, sampai kapan aku akan merepotkan mereka seperti ini ?
4 siluet itu terdiam khidmat. Kak Riko bersama Kak Shilla, dan Acha yang terlihat bersandar sedih di pundak Ozy. Entahlah, apa yang ada dalam benak mereka, sampai-sampai mereka terlihat seperti orang-orang terpilih yang kebagian menanggung beban dan keluh kesah dunia, diatas pundak mereka.
Sedangkan satu makhluk disisi kiriku ini, pun tak luput dari perhatianku. Rio. Pemuda jangkung itu, tengah menyangga kepala yang tertunduk dengan kedua tangannya. Tidak jauh berbeda dengan empat orang tadi, wajah Rio kali ini juga sama sekali tidak enak dilihat.
"Yo.." lirihku, berusaha mengalihkan pemuda itu dari lamunannya.
"Eh ? Ify. Kamu sudah sadar ? Tunggu ya, biar ku panggilkan dokter." katanya, seraya bergegas bangkit dari kursi besi tempatnya duduk.
"Tidak perlu. Kamu disini saja." cegahku, menarik satu lengan kokohnya.
"Ify ?" sapa Kak Riko yang mendekat bersama 'pasukannya'. Setelah kelima orang tadi masing-masing berdiri mengelilingi ranjangku, datang lagi 2 orang baru yang aku yakin pasti juga akan turut mengerumuniku. Aku jadi merasa seperti hewan-hewan dalam kerangkeng yang sering dikerumuni para pengunjung kebun binatang.
Bunda dan dokter Aiman menyeruak masuk. Tampak bunda tengan berusaha menyeka sisa air mata dengan selembar tissue ditangannya. Dari gestur tubuh 2 orang ini, aku bisa menyimpulkan bahwa ada sesuatu yang tidak beres.
"Kamu sudah sadar, sayang ?" tanya bunda lembut.
Aku mengangguk lemah.
"Bagaimana keadaanmu Ify ? Apa yang kamu rasakan, sekarang ?" giliran Dokter Aiman yang bersuara.
"Nafas saya sedikit sesak, dok. Tapi saya merasa baik-baik saja."
"Kamu yakin, baik-baik saja ?"
Aku mengangguk mantap. Tentu tidak ingin wajah-wajah cemas itu kian menjadi, kalau aku mengeluh yang macam-macam.
"Saya sudah membicarakan hasil pemeriksaanmu dengan bundamu, Ify. Dan hasilnya sama sekali tidak menunjukkan kondisi kamu baik-baik saja. Kenapa kamu tidak pernah berkonsultasi dengan saya perihal sesak nafas yang belakangan sering kamu alami ?"
"Karena saya rasa, sesak nafas itu hanya efek dari aktifitas saya yang terlalu banyak akhir-akhir ini. Bukan sesuatu yang membahayakan bukan ?" balasku santai.
"Apa kamu lupa ? Kamu berbeda dengan yang lain !!" ujar dokter Aiman sedikit geram, "Maaf, saya tidak bermaksud menyinggungmu, tapi sudah selayaknya kamu itu mengerti bahwa fisikmu tidak sekuat orang-orang pada umumnya. Ada pengkhianat di dalamnya, Lupus. Yang sepele itu bisa jadi berbahaya buatmu. Apa kamu lupa ?"
"Bagaimana mungkin aku lupa dengan penyakit sialan ini." desisku pelan, nyaris tak terdengar.
Dokter Aiman menghela nafas panjang. Dokter tampan itu terlihat begitu lelah, mungkin menghadapi pasien menyebalkan sepertiku, benar-benar menyedot tenaga ekstra.
Ia melepas kaca mata bulan separonya, lalu dengan tatapan penuh kasih sayang, ia berujar, "Ify kamu sudah saya anggap seperti putri saya sendiri. Bahkan, saya begitu kagum dengan usahamu berdamai dengan Lupus. Sungguh saya tidak rela kalau pada akhirnya apa yang kamu perjuangkan hanya akan jadi sesuatu yang sia-sia. Dari awal sudah saya katakan, jaga pola hidup sehatmu, agar Lupus tidak menemukan titik celah untuk menyerang paru-parumu.
Tapi sepertinya pesan itu hanya akan jadi sebuah pesan. Dengan berat hati saya harus memberitahumu, bahwa Lupus telah menemukan celah itu. Paru-parumu mulai terganggu. Di beberapa titik, saluran pernafasanmu mengalami peradangan. itulah penyebab sesak nafas yang belakang sering kamu alami."
Aku melirik bunda sekilas, menelusui lekuk sempurna wajahnya dengan pandanganku. Ada kecemasan disana, juga sisa-sisa air mata. Dan aku tau betul, apa alasan buliran bening itu, meleleh ?
"Oh. Baguslah." tanggapku dingin, "Aku akan cepat mati kan ? Aku juga sudah capek. Aku bosan melihat kalian menangis. Bosan terus-menerus merepotkan kalian." lanjutku sarkatis.
"IFY !!" sentak kak Riko. Aku menoleh, sedikit kaget, karena sebelumnya kak Riko tidak pernah membentakku seperti tadi.
"Kamu bicara apa ? Tega sekali kamu bicara seperti itu didepan kami, orang-orang yang sangat menyayangimu." lanjutnya, kecewa.
"Kalian menyayangiku ? OK. Lalu ? Apa kalian bisa menahan kematian saat ia datang padaku, eh?"
"Ify..." panggil bunda lemah, "Apa kamu mau menyerah Nak ? Tidak kasian pada bunda, Fy ? Bunda tidak ingin kehilangan lagi."
Aku membisu.
Sepasang mata sendu itu, menghayutkanku.
membawaku, mengarungi samudera kasih seorang ibu...
"Dokter pasti salah memeriksa. Kak Ify kan sudah sembuh." tukas Acha, tak terima dengan vonis dokter.
"Acha, dokter akan jadi orang pertama yang mengucap syukur kalau diagnosa ini salah. Tapi itu sangat tidak mungkin, 98 % hasil pemeriksaannya akurat.
Tapi kamu harus selalu ingat kata-kata saya Ify. Seganas apapun, Lupus tidak akan bisa membunuh semangatmu untuk sembuh." tutur dokter Aiman, membesarkan hatiku.
"Tanpa kalian mintapun aku selalu berjuang untuk sembuh. Dan aku ingin disemangati, bukan di tangisi. Melihat kalian sedih karena aku, itu membuatku ingin segera mati saja." imbuhku.
Tok-tok-tok
suara pintu putih disisi kanan kamar ini terdengar diketuk. Seorang suster dengan baju kebangsaannnya -putih-putih-, menyembulkan kepala dari pintu yang sedikit terbuka.
"Dokter Aiman, dokter ditunggu keluarga pasien kamar anggrek no 11 di ruangan dokter." tutur suster tadi dengan suara lembut.
Dokter aiman mengangguk singkat, "Baiklah Ify, istirahatlah. Semoga lekas sembuh. Ingat, Allah bersama orang-orang yang sabar." ujarnya seraya melempar seular senyum.
Aku mengangguk kecil.
"Aku permisi dulu. Segera hubungi aku kalau terjadi sesuatu." Dokter Aiman menepuk pundak bunda, aku tersenyum kecil melihatnya.
Setelah sosok dokter Aiman hilang dibalik daun pintu bercat putih di depan sana, bunda pun pamit sebentar untuk shalat isya' di masjid rumah sakit ini.
"Berhentilah memandangiku seperti itu, Rio." tegurku setelah sekian menit dua manik kecoklatan itu memandangiku tanpa berkedip.
"Apa jadinya aku, kalau tanpa kamu." lirihnya datar.
"Ya, kamu akan tetap jadi kamu. Jadi Rio, manusia normal yang akan tetap melanjutkan kehidupannya."
"Aku tidak yakin, bisa."
"CK. Rio coba kamu lihat sekitarmu, banyak hal-hal indah yang Tuhan ciptakan untuk kau nikmati. Lantas, jangan hanya karena seorang gadis, kamu mengabaikan semua itu."
"Gadis itu nyatanya lebih indah dari dunia dan isinya, apa aku salah kalau begitu enggan merelakan dia pergi ?"
"Tidak ada yang salah. Yang salah, kalau kamu tidak segera pulang ke rumahmu. Besok kembali ke Jakarta kan ?" aku tersenyum manis. Ku tutup pembicaraan sebelumnya, topik semacam tadi tidak akan ada habisnya kalau dibahas dengan Rio. Aku hanya berharap, apapun yang terjadi kelak, Rio akan selalu bahagia dengan atau tanpa aku.
"Apa kamu fikir, aku tega meninggalkanmu dengan kondisi seperti ini ?"
"Kamu tidak perlu khawatir. Aku akan baik-baik saja. Lagi pula disini sudah banyak yang akan merawatku."
"Aku mau disini menjagamu."
"Tidak ada yang tau pasti kapan kondisiku membaik, kalau kamu terlalu lama di Jogja, kuliahmu akan bermasalah. Kamu bisa ketinggalan banyak materi pelajaran dan kuis dari dosen-dosenmu. Akan lebih baik kalau kamu kembali ke Jakarta."
"Kamu tidak mau aku temani ?"
"Bukan tidak mau, Rio. Tapi manusia itu harus pandai-pandai mengatur apa yang harus dijadikan prioritas, atau waktumu akan terbuang sia-sia, hanya karena menuruti perasaan."
"Ya baiklah, baiklah. Aku memang tidak ditakdirkan menang, kalau berdebat denganmu. Aku akan kembali ke Jakarta besok. Senang ?"
Aku terkekeh kecil.
"Kalau begitu, cepat sana pulang. Kamu harus istirahat dan packing kan ?"
"Tidak. Malam ini, aku mau disini."
"Kamu itu kenapa sih ? Senang sekali membantah." gerutuku, kesal.
"Dan kamu Alyssa, kenapa sih senang sekali memaksa, eh ?" balasnya, tak mau kalah.
"Sudahlah Yo. Memang sebaiknya kamu pulang. Besok sebelum berangkat kan bisa kemari lagi." Imbuh kak Riko.
Yeah. Syukurlah, aku punya sekutu. Aku benar-benar tidak enak kalau Rio tetap disini. Selama 5 hari dia di Jogja, selalu menemaniku. Malam ini, sebelum Rio kembali ke Jakarta, biarlah, orang tuanya melepas rindu pada putra tunggal mereka.
Tapi bukannya segera beranjak pergi, Rio malah duduk di sisi ranjangku. Perlahan, pemuda tampan itu mengulurkan tangannya, merengkuh tubuhku dalam pelukan.
"Berjanjilah untuk lekas sembuh. Aku menyayangimu Fy, lebih dari yang kamu tau." bisiknya lembut.
Aku tidak menjawab. Terbius aroma tubuhnya, sentuhan lembutnya, desah suaranya. Darahku berdesir, jantungku bertalu riuh, benar-benar sensasi yang menyenangkan.
Ya Allah betapa Engkau dzat yang maha adil. Masih mengizinkan manusia sepertiku menikmati ketulusan dari sosok sempurna seperti Rio.
Sobat, kalian boleh mengasihani aku, tapi aku tidak pernah merasa layak untuk itu. Lihat !! Aku punya sesuatu yang mungkin begitu kalian idamkan. Kekasih yang bukan hanya tampan, pintar dan baik, tapi juga cukup tangguh untuk kau mintai perlindungan, cukup dewasa untuk menerima segudang kekuranganmu, cukup kuat untuk kau ajak bertahan dalam susah.
Pemuda seperti itu kan yang kalian cari ?
"Aku akan baik-baik saja. Believe me, dear." tuturku menenangkan.
Perlahan, pemuda berkulit sawo matang itu melepas pelukannya. Tubuhnya yang menjulang, lantas berdiri lalu berjalan keluar kamar ini, setelah sebelumnya berpamitan pada aku dan yang lain. Sebelum menghilang, ia sempat melempar senyum manisnya. Senyum yang tak pernah kusangka, akan jadi senyum terakhir yang bisa ku rekam dalam otakku.
"Kakak juga pamit sebentar ya, mau mengantar Shilla pulang. Sudah malam." izin kak Riko, "Yuk, Shil !!" ajaknya, meraih tangan kak Shilla.
"Kakak pulang ya adik-adik, semoga lekas sembuh ya Fy. Assalamualaikum."
"Waalaikumsalam." balasku, Acha dan Ozy hampir bersamaan.
"Kalian tidak ikut pulang ? Sudah malam lho. Kamu juga pasti belum istirahat kan Cha, sejak dari Bandara ?" kataku, melirik kearah Acha dan Ozy yang masih berdiri disamping ranjangku.
"Acha tunggu ibu kembali dulu saja kak. Tidak mungkin kan kalau kak Ify, Acha tinggal sendirian."
"Maafkan kakak ya Cha, seharusnya hari ini kita bisa makan-makan atau jalan-jalan bersama untuk menyambut kedatanganmu, tapi penyakit sial ini benar-benar tidak bisa diajak kompromi."
"Sudahlah kak, tidak apa-apa. Yang penting kak Ify sehat dulu, jalan-jalannya kan bisa kapan-kapan."
aku hanya mengangguk kecil menanggapi kata-kata Acha barusan.
"Maaf ya kak, Ozy akhir-akhir ini tidak pernah membantu kakak lagi di Panti. Kakak jadi sakit begini, pasti karena terlalu sibuk ya ?" tutur Ozy yang sedari tadi hanya jadi lakon pasif dalam ruangan ini.
"Tidak apa-apa Zy. Akhir-akhir ini, kak Shilla juga membantu kok di Panti."
Detik berikutnya terisi oleh keheningan. Bunyi srek-srek-srek dari daun-daun palem yang bergesekan diluar sana, menandakan angin malam ini bertiup cukup kencang. Dinginnya terasa begitu tajam, menembus dinding-dinding tebal ruangan ini, merayapi setiap jengkal tubuhku, dan menusuk-nusuk tulang-belulang dalam balutan kulit.
"Oh ya, Cha. Boleh, kakak meminta satu hal ?" tanyaku, mencoba mencairkan suasana yang beku tadi.
"Tentu saja. Selagi permintaan itu bisa Acha penuhi, kak Ify boleh minta apa saja."
"Mmh.. Tinggallah disini Cha. Jangan kembali ke Perancis. Teruskan kuliahmu disini saja, kamu mau kan ?" pintaku, memohon. Ku pandangi bola mata indah milik Acha, lekat-lekat. Berharap, adik semata wayangku itu, memberikan jawaban 'Ya', karena hanya jawaban itulah yang mau aku dengar.
"Bukan apa-apa Cha, hanya saja kamu kan putrinya bunda. Walau bagaimanapun, anak perempuan kan akan lebih telaten mengurusi orang tuanya dibanding anak laki-laki." lanjutku, memaparkan alasanku.
"Lha, kak Ify kan juga perempuan tah ?" tukas Acha.
"Acha, kamu kan tau sendiri bagaimana kondisiku. Aku malah akan lebih sering merepotkan bunda dibanding merawatnya.
"Akan Acha pertimbang kan kak. Tapi Acha tidak janji, karena walau bagaimanapun kuliah di Perancis itu kan beasiswa. Sayang kalau di lepas begitu saja."
"Lalu ? Lalu apa, kak ?" tanya Acha tak mengerti.
"Lalu bagaimana dengan hubungan kalian berdua ? Sudah sejauh apa kalian memikirkan kelanjutannya ? Apa kamu tidak berniat melamar adikku Zy ?"
Ozy mendelik, "Mmh, niat baik seperti itu tentu saja ada kak." sahutnya, "Tapi kan tidak mungkin dalam waktu dekat ini. Kita kan masih sama-sama sibuk mengejar impian masing-masing. Toh, kalau jodoh tak akan kemana kan ?" tambahya diplomatis.
"Ya, yang penting kalian sudah memikirkannya. Aku akan lebih tenang, kalau adikku tersayang ini sudah memiliki pendamping yang benar-benar cocok untuknya."
"Kakak ini apa sih, dari pada mengurusi hubunganku dengan Ozy, lebih baik kakak fikirkan saja hubungan kakak dengan kak Rio, kapan kalian akan menikah ?" goda Acha.
"Cie, Acha balas dendam nih, ceritanya ?" ledekku.
"Eh, tapi kita juga mau bilang terimakasih yang sebesar-besarnya pada kak Ify, iya kan Cha ?" Ozy melirik Acha, yang tersenyum tipis kearahnya.
Acha mengangguk.
"Terimakasih untuk apa memangnya ?"
"Karena, kalau dulu kak Ify tidak membesarkan hatiku, mungkin sampai detik ini pun aku masih menganggap aku tidak cukup pantas untuk seorang Acha." jawab Ozy, jujur.
Tok-tok-tok
Lagi-lagi, terdengar suara ketukan pintu. Sejurus kemudian, seorang wanita cantik berkulit hitam manis dengan pakaian semi formal, menyeruak masuk.
"Haii !! Mbak sekretaris." selorohku padanya.
Wanita itu lantas berjalan kearahku sambil tersenyum.
"Bonjour kak Dea ? Comment allez-vous ?" sapa Acha, pada wanita tadi, Dea.
"Je vais bien. Mercy." balas Dea, sambil tersenyum.
"Nah Cha, sudah ada kak Dea. Kamu pulanglah, istirahat. Pasti kamu sangat lelah. Zy, antarkan Acha pulang ya." suruhku.
"Baiklah. Acha pulang ya kak, Assalamualaikum." pamit Acha, yang kemudian melangkah keluar disusul Ozy yang mengekor dibelakangnya.
"Waalaikumsalam. Hati-hati ya dijalan."
tak lama, dua sejoli itu pun menghilang dibalik daun pintu yang kembali menutup rapat.
"Hai, ibu sekretaris. Sibuk ya ? Sampai-sampai tidak pernah sempat membesuk Jogja barang sebentar." cerocosku pada Dea, yang sekarang memang telah menjadi seorang sekretaris di salah satu perusahan di Jakarta.
"Kamu kenapa ?" ia malah balik melontarkan pertanyaan padaku, dengan ekspresi sedih.
"Kamu seperti baru mengenalku saja De. Seorang Ify masuk rumah sakit, apa masih perlu ditanya kenapa ? Sudah ah, tidak usah bersedih seperti itu. Aku tidak suka. Kamu tumben pulang ke Jogja, ada apa ?"
"Aku juga baru sampai tadi pagi, kakak menyuruhku pulang. Katanya mamaku kangen sampai sakit."
"Oh begitu, semoga mamamu cepat sembuh ya, salam untuk beliau. Lalu, kamu tau dari siapa aku disini ?"
"Rio mengirimiku SMS, katanya kamu masuk rumah sakit biasa, aku langsung kemari saja. Aku benar-benar merindukanmu Fy, sudah hampir 2 tahun ya kita tidak bertemu. Kamu cepat sembuh, supaya kita bisa jalan-jalan dan mengunjungi SMA Budi dharma."
"Aku juga sangat merindukanmu. Amin, doanya saja ya De, aku juga tidak betah kalau harus berlama-lama ditempat ini. Eh, kata Rio tempat kostnya dekat ya dengan rumah pamanmu ? Kalian juga sering hang-out bareng ya ? Pasti seru."
"Iya Fy, tapi kami tidak ada apa-apa kok, sungguh. Rio cukup setia untuk menjaga perasaanmu. Kamu jangan berfikir macam-macam ya." tegas Dea.
"Hahaha," aku tertawa kecil, "Santai saja De. Ada apa-apapun tidak apa-apa kok, aku tidak akan marah."
"Maksud mu ?"
"Rio berhak mendapatkan wanita yang lebih baik dari aku. Kalau memang dia menyukaimu, aku tidak masalah. Kamu memang jauh lebih baik, segala-galanya dariku. Apalagi.....aku juga tau, kalau kamu.....menyukainya." tuturku hati-hati.
Dea menggeleng, "Kamu tega sekali Fy. Apa kamu kira aku sejahat itu, menyukai orang yang sudah jelas-jelas milik sahabatku. Aku tidak sepicik itu."
Aku bisa melihat kilatan kecewa dimata Dea. Ah, apa aku salah bicara ? Aku tidak bermaksud menyinggung perasaan Dea, aku hanya membukakan jalan untuk menyatukan apa yang sebenarnya memang lebih pantas bersatu.
"Dea, kalaupun kamu menyukainya aku tidak akan marah. Jujur saja, kamu tidak perlu merasa tidak enak."
"Dia punyamu Fy." tegas Dea, sekali lagi. Terlihat ekspresi tidak sukanya dengan topik yang sedang kami bicarakan.
"Entahlah. Aku rasa, akan lebih baik, kalau sekarang Rio menjauh atau membenciku. Aku hanya bisa merepotkannya."
Dea tersenyum sinis, sebelum berkata, "Kamu tidak pernah tau kan Fy, bagaimana Rio membanggakanmu di depan teman-temannya di Jakarta, bagaimana matanya selalu berbinar setiap kali dia membicarakanmu, bagaimana Rio selalu tersenyum setiap menerima telfon darimu. Bagaimana mungkin kamu bisa bilang, Kamu merepotkannya ? Kamu itu sumber kebahagiaan Rio, Fy."
"Tapi De, aku tidak ingin melihatnya hancur saat penyakitku akhirnya membawaku pergi jauh darinya. Aku tidak ingin Rio jatuh, dan itu tidak akan terjadi kalau Rio sudah menemukan penggantiku dari sekarang. Dan kalaupun aku sembuh, aku tidak mungkin bersama Rio. Keyakinan kami berbeda, dia tidak akan bisa jadi imam yang baik unukku." aku mulai terisak, membicarakan hal ini memang tak pernah bisa luput dari iringan air mata, walaupun seluruh tenagaku telah ku kerahkan untuk membendungnya.
"Cukup Ify !! Beberapa minggu lagi kalian akan bertunangan kan, aku yakin kalian sudah membahas soal keyakinan ini berulang kali, sebelumnya. Saat kamu memilih seorang muslim sekalipun belum tentu ia lebih baik dari Rio, Fy. Dan kalau kamu tidak ingin melihat Rio hancur, berjuanglah untuk sembuh, bukan menyodorkannya pada sahabatmu."
"Tapi kamu menyayanginya kan De ? Aku mau kamu bahagia, kamu sahabat terbaikku De."
"Fy..." Dea mengangkat daguku dengan ibu jari dan telunjuknya, mata indahnya menatapku dengan penuh kasih sayang, "Sekalipun benar, aku menyayangi Rio, aku tidak akan pernah mengganggu hubungan kalian. Rio terlihat begitu bahagia disampingmu, Rio bahkan bisa terus tersenyum hanya dengan memandangimu kala terlelap. Jangan melepasnya Fy, aku tidak ingin melihatnya sedih. Kamu beruntung memilikinya. Percayalah."
Aku menangis dalam hati. Dea, bahkan tanpa ia sadari, kata-katanya barusan betapa jelas menggambarkan kecintaannya pada Rio. Aku jadi berfikir. Selama ini, bagaimana perasaan Dea, setiap kali melihat aku dan Rio bersama ? Pasti sakit.
Aku menarik kedua ujung bibirku, berusaha tersenyum semanis mungkin untuk sahabat terbaikku, "Eh, kamu bawa apa ?" Aku menunjuk kantong kresek putih yang Dea letakkan diatas meja. Sepertinya, objek itu bisa mengalihkan kami dari pembicaraan tidak penting, tadi.
"Bubur ayam. Aku selalu ingat, kamu tidak suka masakan rumah sakit, jadi aku sempatkan membeli bubur ayam sebelum kemari tadi. Kamu mau makan ?" tawar Dea.
"Mmh, boleh deh. Sepertinya enak."
"OK. Aku suapi ya ?"
"Tidak ah, aku mau sendiri saja."
"Tidak apa-apa. Sekali-kali. Ayo buka mulutmu !! Aaa..."
Dea menyodorkan satu sendok bubur ke arah mulutku. Ia tersenyum manis, begitu pun aku."
"Kamu tau Dea ? Aku tidak pernah menganggapmu sahabat. Aku rasa kamu adalah saudara yang lupa Tuhan titipkan dalam rahim bundaku." ujarku, tulus.
Sahabat. Bukan mereka yang selalu mengamini perkataanmu. Yang selalu membenarkan semua polahmu, memberikan jutaan pujian atau rangkaian sanjungan.
Sahabat, ada mereka yang selalu bersedia menemanimu meski ke tepian jurang sekalipun. Mereka adalah yang tidak pernah bosan mendengarkanmu, meski yang terucap haya keluh serta kesah. Mereka, yang tidak akan pergi, meski kau berteriak tidak lagi membutuhkannya.
Sahabat, adalah yang selalu ada untukmu, bagaimanapun keadaanmu.
Sudahkah kamu mendapatkan sahabat yang sepertimu ?
Jika belum. Berkacalah !!
***
Tiga minggu berselang. Meski kondisiku tidak juga membaik, aku memilih untuk di rawat di rumah saja. Karena, seperti yang sering aku bilang, sakitku hanya akan bertambah parah selama berada di rumah sakit.
Jarum pendek dan panjang, jam antik besar yang dipasang diruang keluarga, berkombinasi menunjukkan waktu yang baru 10 menit beranjak dari pukul 9 pagi. Seperti hari-hari sebelumnya, aku masih dilarang beraktifitas diluar rumah. Merasa bosan, terus-menerus berbaring dikamar akhirnya aku memutuskan untuk keluar. Ku langkah kaki menuju dapur. Haah, sejak kapan rumah menjadi begitu luas. Sampai-sampai untuk menuju dapur saja kok rasanya jauh sekali ya ? Kakiku lemas sekali, tapi ku paksakan tetap melangkah. Bunda sepertinya sedang sibuk memasak, dan aku akan merasa sangat-tidak-berguna, kalau tidak bisa sekedar membantu merajang bawang atau mencuci sesuatu.
"Sedang sibuk ya bun ?" tanyaku basa-basi. Aku mencoba tersenyum, tapi bibirku yang dipenuhi sariawan, tampaknya enggan diajak bekerja sama. Berbeda dengan Lupus yang dulu menyerang fisikku habis-habisan, kali ini justru fisikku tidak mengalami banyak perubahan. Hanya ruam-ruam pada wajah, yang terlihat bertambah banyak.
Tapi rasanya malah jauh lebih sakit. Aku bahkan pernah memohon agar Tuhan segera mencabut nyawaku setiap sakitnya mendera tanpa ampun. Tapi melihat semangat orang-orang terkasihku, yang selalu mengharapkan kesembuhanku, aku tidak ingin menyerah. Puluhan tablet obat ku telan tiap harinya, berbagai prosedur pengobatan kujalani, akan ku lakukan semua hal agar aku bisa lebih lama hidup bersama orang-orang yang aku sayangi.
"Boleh Ify bantu, bun ?" tawarku seraya mulai mengirisi buncis dan wortel dalam wadah disamping bunda.
"Tidak usah, Fy. Kamu istirahat saja."
"Tidak apa-apa bun, Ify mau membantu. Sudah lama Ify tidak membantu bunda memasak. Bunda mau masak apa ?"
"Ify mau bunda masakan apa ?"
"Mmh, apa ya ? Ify sih, kangen bakwan jagungnya bunda."
"Ya sudah nanti bunda buatkan ya."
Aku mengangguk senang, "Bun, dokter Aiman itu, istri dan anaknya sudah meninggal ya ?"
"Iya. 10 tahun yang lalu, karena kecelakaan mobil."
"Dulu kata ayah, dokter Aiman itu mantan pacarnya bunda ya ?"
Bunda menghentikan aktifitasnya sebentar. Lantas menoleh kearahku yang berdiri disampingnya. Aku hanya melempar cengiran pada bunda, yang sepertinya tidak suka masa lalunya diungkit-ungkit.
"Ya. Bunda, Ayah dan dokter Aiman dulunya bersahabat. Bunda memang lebih dulu berpacaran dengan dokter Aiman, tapi tidak berjodoh. Lalu kami berpisah saat kuliah, bunda kemudian dijodohkan dengan Ayah, karena orang tua kami saling mengenal."
"Oh begitu. Bun, boleh Ify tanya sesuatu ? Tapi bunda jangan marah ya ?"
bunda hanya mengangguk, tanpa melepas tangan dan pandangannya dari sebaskom adonan dihadapannya.
"Apa bunda tidak berniat.....menikah lagi ?" tanyaku takut-takut, "Maksudku, walau bagaimanapun bunda kan butuh seseorang yang akan mendampingi bunda diusi senja nantinya. Kami tidak apa-apa kok kalau bunda menikah lagi." aku buru-buru menambahh perkataanku.
"Kalian bertiga sudah lebih dari cukup untuk menemani bunda diusia senja nanti."
"Tapi kita kan akan punya kehidupan sendiri nantinya, Bun. Apalagi Ify dan Acha, wanita. Harus ikut sama suami kan. Dan kak Riko juga pastinya akan menetap di Solo, sedang bunda juga kukuh mau tinggal di rumah ini."
"Apa kalian sudah tidak ada yang mau merawat bunda ?"
"Bukan begitu Bun, menurut Ify akan lebih baik kalau bunda menikah lagi. Nantinya akan ada yang selalu menemani bunda, tempat berbagi cerita, mencurahkan kasih sayang." kataku, sambil berjalan untuk mencuci beberapa buah apel.
"Iya, iya. Tapi Fy, apa masih ada yang mau dengan bunda ? Bunda ini sudah tua Fy, sudah kepala empat."
"Bunda masih cantik kok, masih menarik. Masih pantas untuk menikah lagi, lagi pula Ayah sudah 4 tahun yang lalu meninggalkan kita. Dan.....sepertinya dokter Aiman itu, calon suami yang baik. Beliau belum beristri lagi kan Bun ?"
"Kamu ini apa sih, Fy. Kok malah jodoh-jodohin bunda."
"Ih, pipinya bunda merah lhoo" godaku, "Bun, dokter Aiman itu sering menanyakan banyak hal tentang bunda lho pada Ify."
bila ada bohong yang diperbolehkan, aku harap kebohonganku pada bunda kali ini termasuk ke dalam salah satu diantaranya. Juga kebohonganku pada dokter Aiman tempo hari. Hehehe. Aku juga bilang bunda sering memuji dokter Aiman. Bukan apa-apa, aku hanya ini 2 mantan kekasih ini bisa bersatu. Doter Aiman sosok yang baik hati dan lembut. Bunda pasti akan bahagia bersamanya. Dan bukankah tidak ada yang lebih menggembirakan untuk seorang anak, selain melihat orang tuanya bahagia.
"Sudah ah jangan menggoda bunda, kamu ini ada-ada saja. Ngawur." bunda menggeleng-gelengkan kepalanya.
"Ify tu serius lho bun, bunda maukan menikah dengan dokter Aiman ?"
"Kamu meminta bunda menikah lagi kok ya kayak nyuruh orang beli gula kewarung saja. Semuanya tentu harus dipertimbangkan dulu, Fy. Sudah sana, lebih baik kamu temani mas mu dan mbak Shilla di ruang tamu. Mereka sedang memilih-milih nama untuk calon cucu bunda sepertinya."
"Woo, bunda tu yang ngawur. Wong nikah saja belum, masa sudah memilih nama untuk anak." seruku, sembari melengos meninggalkan dapur, setelah menerima isyarat hush-hush dari lambaian tangan bunda.
Aku berjalan keruang tamu. Benar saja, disana ada kak Riko dan kak Shilla yang duduk berhadap-hadapan dan berbincang cukup seru.
"Lho Fy, kok sudah jalan-jalan, kamu kan harus banyak istirahat." nasehat kak Riko.
"Bicaramu seperti aku baru pulang tamasya dari Parang Tritis saja, kak. Aku juga daritadi istirahat. Ini baru saja keluar kamar."
"Kamu pucat sekali Fy, sudah makan ?" tanya kak Shilla.
"Tiap hari juga pucat seperti ini mbaknyaaa."
Detik berikutnya, jadilah aku obat nyamuk bakar. Kak Riko dan kak Shilla, mulai asik berbincang-bincang, mengamalkan asas "dunia milik berdua". Aku dijadikan patung hias, asbak rokok, taplak meja. Errr... Aku dikacangin.
"Kak Shilla tinggal disini saja ya, setelah menikah. Supaya bunda ada yang menemani." pintaku, berusaha menarik perhatian dua anak manusia ini. Kak Riko dan kak Shilla, 2 minggu lagi akan menikah. 3 hari setelahnya, aku dan Rio, akan bertunangan. Itulah rencana yang telah disusun manusia. Perlu di garis bawahi, MANUSIA bukan Tuhan. Karena nyatanya Tuhan punya rencanya sendiri.
"Ya tidak mungkin dong, Fy. Kamu kan tau, kampus tempat Shilla mengajar itu ya di Solo. Lagi pula, aku kan sudah membeli rumah disana." jawab kak Riko.
"Kan bisa dikontrakkan." sergahku.
"Kita pasti tetap akan sering mengunjungi bunda kok Fy, walaupun menetap di Solo." imbuh kak Shilla.
"Ya sudahlah. Tapi kalau begitu, kakak berdua harus membantu membujuk bunda ya untuk menikah dengan dokter Aiman."
"Kamu serius Fy, akan menjodohkan mereka ?" tanya kak Riko.
"Tentu saja serius. Jangan bilang kalau kakak tidak setuju."
"Selama itu memang akan membuat bunda bahagia, aku sih setuju saja."
"Kami pasti membantu, Fy." sanggup kak Shilla.
Lantas kami terdiam. Aku mamainkan ujung cardigan ungu yang ku kenakan. Kak Shilla sibuk membolak-balikkan sebuah majalah, sedangkan kak Riko tampak sibuk dengan ponselnya.
Diluar sana, pagi sedang mengumbar pesonanya. Dimana ada sisa-sisa embun yang berkilauan diterpa sinar mentari. Bunga-bunga segar dengan kupu-kupu yang menari disekelilingnya. Diufuk timur, bola bumi mulai merambat naik diiringi arak-arakan awan putih. Lalu yang tak kalah istimewa adalah teriakan tukang sayur keliling yang bersahutan dengan cicit-cuit burung gereja.
Ah, pagi memang selalu jadi sesuatu yang sangat ditunggu setelah semalaman berkutat dalam gelap.
"Kak !!" seruku.
"Ya..." sahut kak Riko dan kak Shilla, bersamaan.
"Aku memanggil kak Shilla, bukan kamu, wlek." aku menjulurkan lidah kearah kak Riko.
"Masih untung aku menyahut. Itu berarti aku masih menganggapmu sebagai adik." rutuk kak Riko.
Aku terkekeh sebentar, "Selamat menempuh hidup baru ya kak Shilla. Semoga kerasan jadi nyonya Riko." ujarku.
"Hahaha. Sepertinya kamu jadi orang pertama yang mengucapkan selamat pada kami ya, Fy. Padahal masih 2 minggu lagi lho."
"Ya, lebih cepat kan lebih baik Kak. Hehe." aku melempar cengiran.
"Aku juga mau bilang trimakasih Fy. Karena kalau dulu, kamu tidak meyakinkan aku untuk menyatakan perasaanku pada Shilla, mungkin sampai detik ini, kami masih bertahan dengan status sahabat." seloroh kak Riko, ia tersenyum manis kearahku.
"Sama-sama kak, aku juga turut bahagia. Lagi pula, bukankah hidup yang sebenar-benarnya adalah hidup yang memberikan manfaat untuk orang lain ?" balasku.
"Woalah, sudah dewasa tah, rupanya adikku ini ?" kak Riko mengacak poniku yang duduk disisinya.
"Pasti dong. Memang kamu kak, dari dulu tidak ada dewasa-dewasanya."
"Enak saja. Sudah tentu aku lebih dewasa darimu. Aku kan lebih tua darimu."
"Usia itu tidak menentukan seseorang sudah bisa bersikap dewasa atau belum. Kau tau ?" balasku tak mau kalah, "Kak kalau nanti sudah jadi istrinya kak Riko, aku sarankan bakar saja semua buku-buku tebalnya. Karena buku-buku itu bisa jadi sainganmu dalam hal merebut perhatian kak Riko, kak." aku beralih pada kak Shilla, malas berdebat dengan kak Riko. Buang-buang energi, apalagi saat ini kondisiku tidak benar-benar prima untuk adu mulut.
"Kalau Shilla sampai melakukan itu, lihat saja kamu Fy." ancam kak Riko.
"Eh, eh, kakak-kakak, aku boleh request ya, kalau nanti kakak-kakak ini punya putri, sertakan namaku ya, Alyssa..."
"Kenapa memangnya ?" tanya kak Shilla.
"Tidak apa-apa, hanya supaya kalian tetap mengingatku." jawabkku santai.
Aku tersenyum tenang. Paling tidak, kalau 'sesuatu' itu memang benar-benar kian dekat, aku sudah lega karena orang-orang yang aku sayangi sudah mendapatkan pasangan yang akan terus mendampingi mereka, dan selalu siap membahagiakan mereka.
Semoga kalian semua selalu ada dalam naungan dan cinta kasih-Mu, Ya Allah.
***
satuan waktu, yang begitu singkat, bagaimana jadinya hidup seorang Ify.
Dihinakan, dikecilkan, dianggap tak kasat mata.
Yang sempurna ?
Adakah ?
Bisakah diraih ?
Nyatanya, sempurna dan cacat bukan lagi pilihan, bukan ?
Tuhan telah mendesain keduanya buat hidupmu, jauh sebelum engkau di lahirkan.
Sempurna dan Cacat.
Tidak perlu dikejar atau dijauhi. Keduanya akan menghampirimu dengan sendirinya sesuai dengan jatah yang telah diatur Tuhan.
Yang sempurna ?
Sahabatku,
jadikan Tuhan tujuanmu. Jangan lagi memacu langkah, menuju sempurna.
Berlarilah kearah ridho Rabb-mu, karena setelah kamu meraihnya, segalanya akan mudah kau dapatkan.
Pasti akan ada batas saat kita mengurai tentang ruang, juga akan ada ujung saat bicara tentang sang waktu dan pasti akan ada akhir saat bercerita tentang sebuah kisah.
Kurasa kalam-Nya telah bergaung, menyeruku agar menjangkau rengkuhannya. Maka ku tulis satu pandanganku tentang hidup. Semoga kelak yang membacanya, memperoleh hikmah tak terbilang, bak selaksa langit.
THE END
***
Tampilkan postingan dengan label Adakah Yang Sempurna ?. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Adakah Yang Sempurna ?. Tampilkan semua postingan
Kamis, 05 Mei 2011
Sabtu, 12 Maret 2011
Adakah Yang Sempurna ?? (part 5)
Entah kenapa..
aku rasa gamang itu tak kian usai.
Samarnya semakin mengaburkan.
Padahal yang membasuhnya sudah sejernih shubuh.
Tapi tak putus asa.
Bodoh !! Kalau pernah berfikir untuk berhenti dititik ini.
***
Tuhan...
Jika seorang hamba diperkenankan menghujat Engkau, sudah pantaskah aku menghujat-Mu ??
Ya, Allah..
Sudah sampaikah aku pada titik yang layak untuk menghardikmu-Mu ??
Aku lelah.
Percayalah.
Semua begitu sulit untukku.
***
Sadar ataupun tidak, entah logika atau emosi, yang pasti kedua kakiku telah membawa raguku menyusuri jalan-jalan ini. Lantas berpijak pada satu-persatu undakan dari kayu itu, lalu berlabuh pada anak tangga terakhir, berhenti tepat di depan sebuah pintu yang sedikit usang. Nafasku memburu, seperti ada aksi penolakan dari tubuhku, untuk melaksanakan apa yang berkelebatan dalam benakku. Ujung tangga, ujung hidupku ?? Adakah kaitannya ? Atau aku saja yang terlalu mendramatisir keadaan ?
Aku menyeka air mataku, rasanya perih sekali saat kulit wajahku yang pecah-pecah dibasahi air mata.
Pintu itu mengejekku. Anak-anak tangga itu menggunjingkanku. Angin berdesing mencibirku.
Haah. Benar kan ? aku berlebihan, aku memang sudah mulai gila akhir-akhir ini. Mungkin.
Aku melangkah pasti. Tak ku izinkan gentar mengusikku. Toh setiap hal pasti berujung, pasti berakhir, dan aku sudah memilih akhir ini. Akhir untukku sendiri.
Aku memutar kenop pintu berwarna keperakan, yang terasa dingin dalam genggaman tanganku.
Ceklik.
Sejurus kemudian daun pintu berdecit terbuka. Mengayun. Membentangkan kenyataan bahwa aku harup sudah siap. Siap dengan jalan yang telah ku cetuskan sendiri.
Cakrawala pagi dengan sepoi lembut sang angin menyapa sendiriku. Jilbab yang ku kenakan mulai bergerak liar dimainkan angin yang terasa lebih kencang dari atas sini. Empat tingkat dibawahku kehidupan masih berjalan seperti biasa. Deretan kendaraan yang terparkir rapi, lalu titik-titik manusia yang bergerak acak menyerupai elektron dalam sebuah atom.
Apa mereka tidak melihat aku, disni ?
Ah, tapi kalaupun mereka melihat,
mereka tidak akan merasa perlu untuk repot-repot mencegahku untuk mengeksekusi pemikiranku.
Toh, aku memang tidak lagi penting untuk mereka. Siapa sih Ify ? Hanya seorang gadis dengan lupus di tubuhnya.
Aku menutup mata, ku rentangkan kedua tanganku, menikmati penggalan-penggalan deru nafas yang sebentar lagi mungkin tak akan jadi milikku. Aku mulai melangkah, meski kedua lututku bergetar hebat. Ku selusuri tepian atap gedung ini. Matahari, awan, pohon palem, semua mengabur, mataku panas.
"Aku harap tidak akan ada lagi orang lain yang bernasib sepertiku Tuhan. Bunda, Mas Riko, Acha, maafin Ify."
"dan kamu Rio, kamu jahat, Yo.." lirihku pada angin, berharap ia menyampaikannya pada pemuda jangkung itu.
"Maaf, Fy.."
Aku terpaku, suara itu ?
Saat aku menoleh, ku dapati Rio berjalan kearahku.
"Cukup. Diam disitu. Atau aku akan lompat sekarang juga." ancamku.
"Fy, jangan main-main. Itu berbahaya, aku mohon menjauhlah dari situ." pinta Dea, gadis itu mengulurkan tangannya, sorot matanya tidak bisa berbohong, ia sangat khawatir terhadapku.
Ya, tentu saja khawatir. Dea kan sahabatku. Dia sangat menyayangiku. Ah, tapi tidak juga. Dia jahat. Ya, dia jahat. Aku tidak boleh luluh hanya karena air mata yang tak seberapa itu.
"Tau apa kamu soal bahaya. Orang sepertimu justru lebih berbahaya." cercaku, "Sudah, kalian pergi saja. Jangan pedulikan aku." usirku.
"Fy, maafkan aku kalau perkataanku tadi menyinggungmu, tapi sungguh aku tidak bermaksud seperti itu. Aku tidak akan pergi kemanapun. Aku tidak pernah mempermasalahkan emm, fisik. Maksudku, aku...aku menyayangi sosok Ify bukan sekedar wajah, rambut atau kulitmu. Percayalah." tutur Rio lembut.
Aku tertawa sinis, "Kamu kira aku buta ? Kalau kamu menyayangiku, lantas apa yang kalian lakukan tadi. Kamu hanya kasihan kepadaku, iya kan ? Pergilah, sebelum aku mendorongmu dari tempat ini." gertakku.
"apa itu bisa membuatmu puas nona Alyssa. Kalau iya, ayo kau dorong saja kami sekarang juga." tantang Dea, "kau ini kekanak-kanakan sekali Fy, kamu harusnya mendengarkan penjelasan kami, apa yang kamu lihat tidak selalu sama dengan apa yang terjadi sebenarnya." lanjut Dea.
Aku bungkam.
"Jika Tuhan menurunkan raga yang sakit, agar yang sehat pandai bersyukur berarti sakitnya adalah anugrah. Jika Tuhan menyisipkan kesedihan dalam rangkaian kebahagian, itu agar kita bisa memahami dua sisi yang berbeda dari dunia. Tidak ada yang perlu disesali, apalagi berandai-andai agar hidup selalu indah, Tuhan itu Maha Tahu, mana yang paling baik untuk hamba-Nya." Rio mengucap ulang perkataanku beberapa bulan lalu. Saat kaki Rio cidera parah dan ia tidak bisa mengikuti pertandingan basket yang sudah ia nanti-nantikan cukup lama. Pada waktu itu Rio sama sekali tidak mau keluar kamar ataupun makan.
Hebat sekali pemuda ini. Ia masih menghafal dengan sempurna kalimat spontan dariku itu.
"Apa ucapan itu sekedar bualan mulutmu, supaya aku menganggapmu dewasa ??" tanya Rio, datar.
Aku tercekat, "Kau masih sempat menuduhku yang bukan-bukan ?" kataku, tak menyangka.
"kenapa memangnya ?? aku tidak akan melarangmu lompat, tidaka akan pernah. Terserah saja. Itu hakmu." ujar Rio dengan ekspesi tak peduli.
"Rio !!" sentak Dea, "Fy, jangan pedulikan Rio. Kemari Fy, aku mohon." lanjutnya, lagi-lagi dengan tatapan memohon kearahku.
"Biarkan saja De, untuk apa kamu repot-repot mencegahnya." suara baritone itu kembali membuatku menelan ludah tanpa bisa bicara sepatah katapun.
"tapi sebelumnya, ada yang perlu kamu ingat Alyssa. Dirumahmu, ada seorang ibu yang siang malam bercucuran air mata mendoakanmu. Ada seorang kakak yang selalu menyayangimu. Dan ada seorang adik yang selalu membanggakanmu. Kalau kamu memang cukup pandai, paling tidak tunda niatmu mengakhiri hidup sebelum kamu bisa membahagiakan mereka."
Nada dingin dan ekspresi datar itu bisa saja dibuat, tapi tatapan tulus dari dua bola mata coklat pekat itu, tidak. Juga tangan itu. Tangan yang masih terulur kearahku sejak tadi, padahal satuan menit telah lama terlewati.
Rio, bakat actingmu benar-benar nol besar.
"Kau bisa bicara seperti itu, karena kau sama sekali tidak merasakan apa yang ku rasakan." tukasku tak mau kalah.
"Baiklah. Aku memang tidak memang tidak merasakan apa yang kamu rasakan, begitu pula denganmu..." Rio berhenti sejenak untuk menghela nafas, "kamu tidak pernah merasakan bagaimana jadi aku. Kamu melarangku menemuimu, kamu sama sekali tidak memberitahu aku apa yang terjadi padamu, kamu sakit apa? tiga bulan kamu menghukumku tanpa satu hal pun sebagai alasan. Aku kaget dengan apa yang terjadi padamu, apa aku salah ??"
"aku tidak pernah bilang, kamu salah."
"tapi kamu menyalahkanku. Kamu bilang aku jahat tadi."
"tidak."
"Sudah. Cukup. Kalian apa-apaan sih ?" lerai Dea, melihat aku dan Rio yang sudah tersulut emosi.
"Apa kamu kira aku baik-baik saja ? Ayahmu pergi, aku tau kamu sedih, tapi kamu sama sekali tidak mengizinkan aku menemanimu. Sekarang kamu muncul dihadapanku, menangis, menyalahkanku, lalu kembali berniat meninggalkanku. Aku hampir gila Fy, tidakkah kamu mengerti ??"
"Rio tutup mulutmu." raung Dea.
Aku benar-benar kehabisan kata-kata. Perbendaharaan kata yang aku miliki, yang sempat menjadi andalanku tiap bertemu tugas presentasi, tiba-tiba saja menguap.
Aku memilih untuk berbalik, memunggungi Dea dan Rio.
Beberapa memori kecil yang indah berpusar di otakku, seakan mengajakkan untuk sejenak bernostalgia sebelum semuanya hilang dibawa jiwa yang sepertinya akan segera terlepas dari sang raga.
Rio. Gitar. Api unggun. tatapan menyejukan. Bunga.
Kak Riko. Usapan lembut di puncak kepalaku. Perlindungan. Kumandang Al-Qur'an, dan satu janji, "Kalau aku sudah sukses jadi dokter, aku akan mendirikan sebuah panti asuhan dan kamu yang akan menjadi ketua yayasannya, Fy."
Acha. Senyum manis. Sepeda Ozy. Ayunan. Drama Asia.
Lalu Bunda...
"Ify takut Bunda." rajukku sambil memeluk bunda waktu itu.
"tidak perlu takut sayang. Menstruasi adalan tanda bahwa Ify sekarang sudah dewasa, sudah jadi gadisnya ayah dan bunda. Sudah harus melaksanakan kewajiban-kewajiban Ify sebagai seorang muslimah. Juga sudah harus bisa menjaga diri sendiri."
"tapi kan jijik, Bun. Ify tidak suka kalau setiap bulan harus seperti ini."
"Kenapa harus jijik. Itu kan kodrat seorang wanita, Allah mengaturnya agar kelak seorang ibu juga tidak jijik membersihkan kotoran anaknya."
Memori kecil itu tersimpan rapi diotakku semenjak 5 tahun lalu, tepat ketika aku duduk di bangku kelas 2 SMP.
Rio benar. Bukankah beberapa hari ini aku yang begitu ngotot meminta bunda dan yang lain untuk segera bangkit, lalu kenapa aku harus menyerah ?
Bukankah aku sudah mempersiapkan diriku untuk hari ini jauh sebelumnya, lalu kenapa aku harus pasrah ?
Tidak. Aku tidak ingin mendapati diriku terseok kembali. Digeret kelemahan, lantas tenggelam selamanya, bersamanya. Aku kuat. Aku berani. Aku belum kalah. Tidak boleh, aku tidak boleh berhenti.
"ada saatnya untuk menyerah Fy, itu pasti. Tapi bukan sekarang. Bukan saat ini. Aku minta maaf kalau tanpa sadar aku...aku membuatmu merasa dibohongi. Tapi sungguh, sumpah demi apapun, yang kamu lihat tadi bukan apa-apa." tutur Dea, lembut.
"janganlah menangis, lepaskan semua beban dihatimu," aku mendengar lagu itu, lagu yang menurut Rio bisa menghilangkan rasa sedih, lagu yang diajarkan kakek Rio pada pemuda itu sewaktu ia masih sekolah dasar, aku mendengar lagi Rio menyanyikan lagu itu untukku, "ayo ikutlah denganku. Kita bernyanyi nanananananananana..."
Aku menoleh. Tangan itu, masih setia terulur untukku, sekarang malah dibonusi senyum manis Rio.
Sedetik kemudian, aku berlari menubruk tubuh tinggi Rio, memeluknya begitu erat. Meleburkan jarak yang tersisa, tak ku izinkan barang angin sekalipun menyusup membentuk sekat untuk kami.
3 bulan. Dan aku sungguh sangat merindukan pria ini. Merindukan aroma tubuhnya yang khas, merindukan dekapnya yang hangat.
"aku kangen kamu..." bisikku padanya.
Aku merasakan lengan kanan Rio mengelus kepalaku. Damai itu menyusup, bersatu dengan darahku, lantas menjalari setiap jengkal tubuhku.
"kamu tau, berat badanku menyusut sampai 5 kg karena terlalu sering memikirkan dan mengkhawatirkanmu." celetuk Rio.
Aku melepas pelukanku, lalu tersenyum simpul pada Rio. Lekat-lekat ku pandangi dua bola mata penyejuk itu.
"kenapa ? Ada yang aneh denganku ?" tanyanya seraya menaikan sebelah alisnya.
Aku menggeleng.
"aku ingin bertanya, boleh ?"
Rio menggangguk.
"kenapa dipunggungmu tidak ada sayapnya ?" ceplosku, yang disahuti gelak tawa kecil dari Rio.
Haah, Tuhan... Tolong ingatkan aku bahwa surga itu masih ada, sebelum aku menobatkan senyum pria ini adalah yang terindah dari yang paling indah yang pernah Kau ciptakan.
"kau fikir aku ini apa, Fy ? Burung ?" ujarnya sambil terkekeh. Aku menggelembungkan kedua pipiku.
"ekhm." Dea berdehem usil, "sampai kapan kalian akan disini ? Aku rasa kita sudah tertinggal satu jam pelajaran." katanya, lalu berjalan menuju pintu dengan santai, anak-anak rambutnya bergoyang diulik angin.
Rio menggandeng tanganku, "tunggu kami, De." serunya, lalu mengekori Dea.
Haah, rasanya aku ingin terus tersenyum hari ini, besok, besoknya lagi, besoknya lagi, besoknya lagi...
Aku yakin, aku akan terus bisa tersenyum, selama pria ini disampingku. Rasanya lega sekali. Berbeda dengan saat pertama aku menjalari tempat ini tadi, kini langkahku terasa lebih ringan. Bahkan aku merasa seperti tengah melayang disela gumulan awan.
Aku melirik punggung pria menjulang yang berdiri bersisian denganku. Tetap sama. Tidak ada sepasang sayap yang tersisip disana.
Berarti benar kata mbak dewi lestari, terkadang malaikat itu tak bersayap. Tapi percayalah mereka ada. Kadang malah menjelma menjadi sosok sempurna yang kasatmata. Menasbihkan diri dalam perwujudan manusia.
Walaupun dirimu tak bersayap
ku akan percaya
kau mampu terbang bawa diriku
tanpa takut dan ragu
walaupun kau bukan titisan dewa
ku tak kan kecewa
karena kau jadikanku sang dewi
ditaman surgawi.
***
6 Desember.
Dear diary..
ia sempat pergi. Aku sempat menangis.
Tapi tak ada ikrar yang menyatakan ia tidak akan datang lagi.
Kini lihat !!
Saat senja terpulas penuh oleh warna jingga, diufuk barat kepak sayapnya terlihat. Ia kembali.
Membawa bait-bait gita perjalanannya.
Diceritakan tentang wilayah barat yang mewah dengan gemerlap peradabannya, lalu utara dan selatan dengan hamparan salju yang lembut serta timur dengan keramahan bunga-bunganya.
Ah, aku ingin segera sembuh. Aku juga ingin mengunjungi tempat-tempat itu.
tuhan perkenanakanlah sayapku terkepak kembali. Aku ingin terbang lagi.
Tuhan, aku ingin sembuh.
***
Hanya orang sakit yang bisa menikmati indahnya sehat. Dan saat sakit telah menjadi sahabatku, maka sehat akan jadi harta tak ternilai untuhku.
Masih ingatkah kalian ? Diawal cerita ini, aku pernah bicara tentang sisi semu, tak pasti, abu-abu. Sisi itu telah kulewati sekarang. Gamang. Galau. Tak pasti. Semua itu telah ku lalui.
Aku telah memilih untuk bertahan, dan akan ku perjuangkan pilihanku.
Perlahan detik di gulirkan masa, merangkai menit yang kemudian terpaut menjadi jam. Hari berganti mengikuti bumi yang berotasi. Bulan dan tahun ikut berlalu, mengimbangi revolusi bumi terhadap matahari.
Waktu telah berlalu.
4 tahun telah lewat. Masa-masa sulit itu telah tertinggal. Sekarang inilah hidupku, inilah Ify yang baru, yang Insya Allah akan jauh lebih baik dari Ify yang dulu. Tidak mudah memang. Tidak segampang merontokan embun yang bergelantung pasrah pada ranting-ranting cemara. Tidak segamapang menawan melati dari pohonnya. Ada saat-saat dimana sisi abu-abu itu menang. Membuat ku limbung. Melahap habis cerca cahaya putih yang menerangi langkahku, dan menggantinya dengan dominasi hitam yang lebih nyata. Ada kalanya tubuh ini menolak diajak bertahan, nafas ini seakan ingin segera kabur dariku, mata ini memberontak tidak ingin terus terjaga. Ada saat dimana kematian begitu dekat denganku.
Tapi toh akhirnya aku berhasil.
Kawan, aku sembuh. Aku sehat. Lupus ini mau berteman denganku. Tuhan menuntaskan ujiannya dan mengembalikan semua yang pernah ku miliki. Kulit mulusku, rambut panjangku, paras-yang menurut orang-ayuku... Semuanya kembali.
Aku tidak lagi membenci 'Si Lupus' ini, karena sekarang ia telah menjadi kawan paling setia dalam hidupku.
4 tahun. Tentu banyak sekali hal yang sudah berubah. Aku bukan hanya telah menuntaskan Sekolah Menengah Atas-ku, tapi aku juga telah lulus dengan IPK 4 dari Universitas Gajah Mada. Sekarang aku tengah sibuk dengan profesiku sebagai psikolog dan ketua yayasan untuk sebuah panti yang didirikan kak Riko. Untuk mengisi sedikit waktu luang yang aku punya, aku juga masih sempat sesekali mengajar mengaji pada anak-anak disekitar tempat tinggalku.
6 bulan lalu, aku yang begitu semangat belajar menulis juga mendapat kesempatan untuk mem-publish ceritaku. Sebuah penerbit berminat mengangkat cerita yang awalnya ku tulis di blog pribadiku untuk dijadikan sebuah novel. Novel yang ku beri judul, "Kamu Sekuat Alyssa" menceritakan tentang aku dan lupus yang ku derita. Mungkin novel itu tidak akan menguras air mata layaknya "Surat Kecil Untuk Tuhan" karya Agnes Davonar, novel itu juga tidak akan se-booming "Fairish"nya Esti Kinasih yang sampai dicetak berulangkali. Tidak pula akan se-inspiratif "Perahu Kertasnya" mbak Dewi Lestari. Tapi aku tetap bangga dengan karya pertamuku itu. Aku berharap siapa pun yang kelak membacanya dapat memetik sepenggal hikmah yang ku selipkan didalamnya.
Aku sangat mencintai hidupku saat ini. Dan ini tidak akan ku dapatkan hanya dengan menangis dan meratap, tidak akan ku dapatkan kalau saja aku benar-benar mengakhiri hidupku waku itu.
Benar kata kak Shilla, kita tidak akan pernah tau baik atau burukkah rencana Tuhan kalau kita tidak berani untuk meniliknya dengan terus maju.
Dan bicara tentang kak Shilla, sekarang Mbak Ayu itu menjadi dosen di salah satu universitas negri di Solo. Sedangkan Mas gantengku tentu saja akan 'ngintil calon istrinya. Kak Riko sekarang sudah menjadi dokter disalah satu rumah sakit besar di kota Solo, ia sudah mampu membeli rumah sendiri yang cukup besar dan membuka praktek disana.
Saat dunia terus berputar, melahirkan berjuta atau bahkan milyaran perubahan, aku ingin memberikan acungan jempol setinggi-tingginya untuk pasangan ini. Entah doa apa yang mereka lantunkan, cara apa yang mereka tempuh dan terbuat dari apa hati mereka. Ozy dan Acha, pasangan ini meski terpisah benua dan terhalang bentangan laut tidak ada yang bisa merubah cinta yang merka punya. Aku rasa, tidak ada yang berubah dari keduanya. Acha, adik bungsuku itu baru saja menyelesaikan SMAnya di Perancis, tepatnya di Paris, ia juga sudah menjadi mahasiswi semester 2 di salah satu universitas, di kota yang menjadi kiblatnya mode itu. Sedangkan Ozy entah setia atau memang tidak laku...oh, bukan-bukan, pemuda setampan dan semanis Ozy tentu saja laku, pemuda itu masih saja sabar menunggu Acha yang tengah mengejar impian-impiannya. Ozy tetap di Yogya membantu ayahnya memasarkan patung-patung ukir, dan meneruskan pendidikannya di UGM, sesekali Ozy juga membantuku mengurusi panti. Aku tidak pernah melihat Ozy menggandeng gadis lain, begitu pula dengan Acha yang tidak pernah absen menanyakan Ozy setiap ia mengirim e-mail kepadaku. Aku rasa mereka berdua benar-benar layak dinobatkan jadi pengganti figur Romeo and Juliette.
Hah, kalau seperti ini rasanya kok bodoh sekali ya dulu aku sempat berniat terjun dari lantai 4 gedung sekolahku.
Aku tertawa kecil lalu menggelengkan kepalaku, "bodoh." gumamku.
"bodoh ? Siapa, aku ?" suara berat milik pengemudi sedan silver disampingku membuat aku menoleh sekilas.
Aku mengerutkan keningku, "tentu saja bukan, apa kau rela, aku bilang bodoh, Mario?" kataku.
"aku tidak keberatan dibilang bodoh oleh orang dengan IPK 4" balas pengemudi tadi, Rio, santai, dengan tetap fokus pada jalanan di depannya.
"kamu juga pasti bisa dapat IPK 4. Kedipkan saja matamu pada dosen-dosen wanitamu, pasti mereka langsung memberimu nilai A plus. Hhehe." aku terkekeh. Semakin lebar, saat tangan kiri Rio mengelus puncak kepalaku.
Aku alihkan tangan kiri Rio yang masih asik mengacak poni rambutku yang sudah terlalu panjang. Ku letakkan di pipi kananku, ku kunci kelima jemari itu disitu. Kurasakan pipiku memanas.Pasti memerah.
Tapi ku abaikan. Saat-saat berdua dengan Rio seperti ini sangat jarang bisa terjadi karena kesibukan masing-masing.
Rio, sekarang masih tercatat sebagai mahasiswa di Universitas Indonesia, Fakultas Kedokteran. Paling sering Rio berkunjung ke Jogja dua bulan sekali, itupun paling hanya 2 sampai 3 hari. Di Jogja aku pun memiliki banyak kesibukan yang tidak bisa ku tinggalkan semauku.
Tak jarang rasa cemburu tak berasas, atau galau tak bersebab menyapaku. Takut Rio meninggalkanku, melupakan aku. Tapi segera ku tepis kelebatan pemikiran negatif semacam itu. Aku yakin Rio akan selalu menjaga hati yang telah aku titipkan padanya. Sama seperti aku yang tak pernah berniat melukai hati yang Rio percayakan padaku.
Terhitung setelah aku sembuh. Dan fisikku kembali normal, banyak pemuda-pemuda yang mencoba mendekatiku, terutama mereka yang tidak tau sama sekali perihal riwayat kesehatanku. Tapi aku menolak mereka dengah halus. Aku sudah mdmatenkan pilihanku, sama sekali tidak berminat melirik option-option lain. Rio. Dia yang mau bertahan denganku, bagaimanapun keadaanku dan dihatiku Rio nomer satu.
"besok adik manisku pulang ya ? Aku kangen sekali padanya." suara Rio memecah lamunanku.
Karena tidak begitu memperhatikan ucapan Rio sebelumnya, maka ku putuskan untuk sekedar mengangguk.
"Acha minta dijemput jam berapa ? Boleh tidak, aku saja yang menjemputnya ?" izin Rio.
Oh. Acha. Batinku, menangkap objek pembicaraan.
"kita jemput sama-sama ya. Bersama bunda dan kak Riko."
"oh, baiklah. Tapi Ozy tidak ikut ?"
"dia masih di Semarang."
"oh, begitu. Fy, apa Acha menyukai boneka seperti itu ?" Rio menunjuk seperti kearah jok belakang dengan dagunya, "Acha memintaku membelikannya kado saat dia pulang. Apa boneka itu bagus ?!" tanya Rio, meminta pendapat.
Aku mengerucutkan bibirku, "huu, aku juga mau yang seperti itu. Kenapa hanya membeli satu, aku tidak dibelikan ? Tidak adil." protesku iri, melihat sebuah boneka beruang berukuran besar warna pink memakai pita dengan aksen bunga-bunga berwarna putih dan merah.
"kamu kan sudah tidak main boneka lagi." sergah Rio.
"Acha juga tidak." tegasku tak mau kalah.
"tapi, dia kan adikku.."
"kapan ibumu melahirkan Acha. Dia itu adikku."
Rio tertawa kecil, "iya, iya, nanti aku belikan, yang lebih bagus dari itu. Tapi nantinya, kalau kamu sudah resmi jadi nyonya Mario. OK ??" Rio melirik penuh arti kepadaku.
"Jangan mengigau yang macam-macam. Ini masih sore." tanggapku, datar.
Segera ku palingkan wajahku yang entah sudah seberapa merah, mungkin sudah layak menjadi saingan buah strawberry.
Diluar mobil, hujan menari, turun dengan rintik yang mengalun sempurna menjadi backsong yang menambah suasana romantis yang tengah tercipta kini. Langit keunguan yang lebih gelap karena di gelayuti mendung, tak tau bagaimana prosesnya jadi terlihat berwana merah muda, dimataku. Hehehe.
Sedan silver Rio jerus melaju, memperkecil rentangan jarak agar semakin dekat dengan titik tujuan.
Acara galang dana Omnya Rio, yang lagi-lagi didedikasikan untuk penderita Lupus. Untuk acara itulah Rio sengaja pulang ke Jogja. Acara itu akan berlangsung sekitar 2 jam lagi dari sekarang. Dan aku untuk yang ke 4 kalinya ikut berpartisipasi mengisi acara tersebut.
***
Gedung besar itu sudah sangat ramai. Kami sepertinya memang sangat terlambat. Aku melirik jam tangan coklat ditanganku. Pukul 19.15, astaga, pantas saja sudah sangat ramai, acaranya akan segera dimulai kurang dari 15 menit lagi. Setelah turun dari mobil Rio, dengan langkah lebar-lebar kami menuju backstage.
"Ya Tuhan, kemana saja kalian, kenapa baru datang. Kalian kan akan jadi pembuka acara ini." gerutu kesal seorang pria berkumis dengan tubuh sedikit tambun, menyambut kedatangan kami.
"Maaf Om." ujar Rio pendek.
"ya sudah, ya sudah, cepat sekarang kalian bersiap." intruksi, Om Ony, adik dari Papa Rio.
Kami mengangguk patuh. Tidak ingin mengulur waktu, kami sepera bersiap. Mengganti pakaian dengan yang lebih formal, karena yang saat ini aku dan Rio kenakan, hanya jean dan kaos. Lalu menambahkan beberapa sapuan make up diwajah, agar terlihat lebih fresh.
"Lha, rambutmu kenapa to cah ayu, kok rontok begini." komentar seorang pria kemayu saat menyisir rambutku.
"Oh, ini tidak apa-apa. Mungkin efek, aku terlalu lelah atau stress." jawabku santun.
Pria itu tampak mengangguk faham.
Kurang dari 20 menit, kami sudah siap. Beberapa menit kemudian seorang wanita berdress panjang dengan corak batik menyusul kami dibackstage agar kami segera naik panggung.
Meskipun bukan untuk yang pertama kali, rasa nervous itu selalu muncul dengan intensitas yang berbeda, setiap aku akan perform didepan orang banyak. Apalagi specialnya, sekarang acara ini didatangi langsung oleh para odapus yang akan menerima bantuan. Aku sangat ingin tambil sebaik mungkin. Aku ingin mengatakan pada merera, jangan menyerah, kamu sekuat aku. Aku ingin sekali membuktikan bahwa segala keterbatasan itu bukanlah batas untuk meraih sesuatu yang tidak terbatas. Kita bisa. Kita mampu. Hanya butuh kesabaran untuk mengajak lupus berdamai dan semuanya akan baik-baik saja.
Aku sudah siap didepan sebuah grand piano putih yang menjadi sentris panggung besar ini. Begitu pula dengan Rio yang sudah mantap berdiri dengan stand mic-nya.
Tanpa ragu, satu persatu tuts-tuts putih-hitam itu ku tekan. Mengalunlah sebuah intro lagu yang aku dedikasikan untuk ayahku tercinta. Hari ini tepat 4 tahun beliau meninggalakan aku.
"lagu ini buat ayah, selalu doakan Ify ya, Yah." batinku.
Tak 'kan pernah habis
air mataku
bila ku ingat tentang dirimu
mungkin hanya kau yang tau
mengapa sampai saat ini
ku masih sendiri
adakah disana
kau rindukan aku
meski kita
kini ada didunia berbeda
bila masih mungkin
waktu kuputar
kan ku tunggu dirimu...
Biarlah ku simpan
sampai nanti aku
kan ada disana
tenanglah dirimu
dalam kedamaian
ingatlah cintaku
kau tak terlihat lagi
namun cintamu
abadi...
Ah terkadang aku benci suara lembut Rio. Setiap menyanyikan lagu semacam ini, rasanya jadi sangat nyata dan menyesakkan. Sepertinya itu juga bukan hanya pendapatku, beberapa orang dikursi depan mulai bergerak tidak nyaman dikursinya. Beberapa lagi, malah sudah bercucuran air mata. Apalagi selama lagu dilantunkan slide-slide gambar bermunculan pada layar dibelakang kami. Gambar-gambar itu adalah gambar para odapus yang telah berhenti berjuang dan akhirnya menyerah pada keadaan.
"eergh." erangku pelan.
Ya Allah, kenapa lagi dengan dadaku. Kenapa akhir-akhir ini sering sekali terasa sesak. Jangan Tuhan, jangan sekarang. Biarkan aku membuktikan dulu pada mereka, bahwa odapus kuat, kami akan selalu kuat.
Jariku tetap ku usahakan menari diatas piano. Meski mungkin temponya sedikit melambat. Rio berkali-kali menoleh kearahku, aku hanya melempar cengiran padanya. Berharap, pria itu tidak menangkap sesuatu yang aneh padaku.
Adakah disana
kau rinduka aku
meski kita
kini ada didunia berbeda.
Bila masih mungkin
waktu ku putar
kan ku tunggu
dirimu...
Biarlah ku simpan
sampai nanti aku
kan ada disana
tenanglah dirimu
dalam kedamaian
ingatlah cintaku
kau tak terlihat lagi
namun cintamu
abadi...
Ingatlah cintaku
kau tak terlihat lagi
namun cintamu abadi...
Tak 'kan pernah habis
air mataku
bila ku ingat tentang dirimu...
Hah, alhamdulillah. Sesaknya hilang. Aku berhasil menyelesaikan permainan pianoku. Setelah memberikan hormat pada penonton yang datang, kami turun dari panggung diiringi tepuk tangan.
"kamu tidak apa-apa ?" tanya Rio saat kami tiba dibackstage.
Aku menggeleng.
Satu lagi hal positif yang bisa ku lalukan bersama Si Lupus. Dan berhasil, semua berjalan lancar.
Berdamai dengan masalah adalah cara paling tepat untuk melawan masalah itu sendiri.
***
orang-orang dengan koper besar berseliweran didepan kami. Seperti dikejar sesuatu yang tak berwujud namun pasti bernama waktu, mereka berlalu dengan menyeret koper-koper mereka secara brutal.
Para penumpang yang baru keluar dari sebuah pesawat dengan rute penerbangan Paris-Jakarta yang baru saja landing beberapa menit yang lalu, semua tampak sangat lelah usai melakukan perjalanan jauh yang memakan waktu berjam-jam.
Aku berjinjit-jinjit, mencari satu tubuh mungil milik adik bungsuku.
"bunda... Acha kangeen." suara khas Acha melantun disela hiruk pikuk bandara.
Aku menoleh, dan mendapati seorang gadis cantik bertubuh tinggi semampai tengah memeluk bundaku.
Ah, Acha ?
Benarkah ?
Selama ini, Acha selalu mengirimi kami foto-foto terbarunya.
Tapi ternyata, foto-foto itu menipu. Acha terlihat jauh lebih anggun dan manis, aslinya. Aku yakin setiap pria yang melihatnya, harus pandai-pandai mengontrol ekspresi wajahnya, kalau tidak ingin bertampang konyol seperti Kak Riko dan Rio saat ini.
"aku saran kan kalian segera menutup mulut kalian. Sebelum lalat-lalat berminat untuk memasukinya." candaku, pada mereka.
Kak Riko dan Rio kompak memicing pandangan mencibir kearahku, aku membalasnya dengan juluran lidah.
Setelah selama 4 tahun Acha tidak pernah berkunjung ke Indonesia, dengan alasan repot. Acha yang kulihat sekarang memang benar-benar berbeda dengan Acha yang menangis tersedu-sedu di bandara ini 4 tahun rilam. Kedua kakinya yang jenjang menyokong tubuhnya yang ideal, sorot matanya terlihat lebih tenang dan tegas, pipi gembilnya juga terlihat lebih tirus dengan semburat rona merah yang alami.
Mungkin hanya rambutnya yang tidak berubah sama sekali, baik style waupun warnanya. Tetap hitam, bergelombang, dengan panjang melewati bahu.
Setelah melepas pelukan pertamanya dengan bunda, Acha melirik Kak Riko dan Aku bergantian.
"kakak-kakak ini tidak ada yang berniat memelukku ya? Tidak merindukan aku rupanya." kata Acha, sambil melipat kedua tangannya didada, dan menggelumbumgkan kedua pipinya.
"Welcome, adik cantik..." kak Riko sudah merentangkan kedua tangannya hendak memeluk Acha, tapi Acha malah melengos berbalik badan kearahku.
Acha tersenyum manis, aku balas tersenyum.
"Kak Rioooo" sapa Acha, riang.
what ? Apa tadi ? Kak Rio?
Huh Acha ini. Aku kira dia merubah haluan tubuhnya dari Kak Riko, karena ingin memelukku lebih dulu, tapi ternyata malah Rio. Ckckck. Adik macam apa dia.
"wah, mas ku yang satu ini, makin ganteng aja deh. Sekarang sudah jadi dokterkah ?" tanya Acha, yang sudah bergelayut manja dilengan kanan Rio.
Rio dan Acha, memang dekat. Rio yang anak tunggal dan terobsesi memiliki adik perempuan yang manis, tentu saja sangat menyayangi Acha. Jadilah Acha juga sangat dekat dengan Rio, tak jarang malah Acha lebih suka bercerita tentang masalahnya pada Rio daripada denganku, yang notabenenya adalah kakak kandungnya.
"Jangan kau puji dia, salah-salah nanti badannya tambah kurus karena kau puji." kataku asal, entah apa hubungannya pujian dengan badan yang kurus.
"kamu juga makin cantik, Cha. Beda sekali dengan mbakmu yang makin hari makin galak saja." ujar Rio, balas dendam.
"benarkah ?" tanya Acha.
Tapi suara terakhir Acha tidak begitu tertangkap oleh indera pendengarku. Fokusku tiba-tiba saja rancuh, kepalaku berputar, perutku mual serasa dikoyak-koyak oleh entah monster apa didalamnya.
"aaaargh." erangku, pelan.
Tapi ternyata tidak cukup pelan karena orang-orang disekitarku sepertinya mendengar eranganku.
"Kak Ify, kakak kenapa ?" lagi-lagi suara itu tak begitu jelas terdengar.
Nafasku benar-benar terasa tercekat di tenggorokan. Aku berusaha menghirup udara sebanyak mungkin, tapi ternyata hidungku menolak diajak bekerja sama. Paru-paruku seperti kosong dan itu terasa sangat menyesakkan. Ya Allah ada apa lagi dengan tubuhku ?
Satu-satu aku merasakan nafas yang terputus-putus. Kematian. Kenapa aku merasa sangat dekat dengan kematian ??
Tapi aku pasrah, berserah akan membuat semuanya terasa lebih mudah. Perlahan semuanya gelap, aku mencoba tersenyum sekilas sebelum tubuhku ambruk dan semua jadi pekat.
***
Tuhan..
Bila Engkau berniat memelukku detik ini juga, izinkan aku mengucap permohonan kecil.
Naungi mereka, orang-orang tercintaku dengan kebahagiaan.
Jika Engkau tak lagi membiarkan aku menghapus air mata mereka, maka janganlah Engkau turunkan hal yang membuat mereka menangis.
Aku ingin melihat mereka tersenyum. Setelah itu, aku tidak akan meronta atau memohon untuk tetap tinggal.
Aku berserah padamu, bila mati adalah yang terbaik, aku akan selalu menantinya dengan senang hati.
***
aku rasa gamang itu tak kian usai.
Samarnya semakin mengaburkan.
Padahal yang membasuhnya sudah sejernih shubuh.
Tapi tak putus asa.
Bodoh !! Kalau pernah berfikir untuk berhenti dititik ini.
***
Tuhan...
Jika seorang hamba diperkenankan menghujat Engkau, sudah pantaskah aku menghujat-Mu ??
Ya, Allah..
Sudah sampaikah aku pada titik yang layak untuk menghardikmu-Mu ??
Aku lelah.
Percayalah.
Semua begitu sulit untukku.
***
Sadar ataupun tidak, entah logika atau emosi, yang pasti kedua kakiku telah membawa raguku menyusuri jalan-jalan ini. Lantas berpijak pada satu-persatu undakan dari kayu itu, lalu berlabuh pada anak tangga terakhir, berhenti tepat di depan sebuah pintu yang sedikit usang. Nafasku memburu, seperti ada aksi penolakan dari tubuhku, untuk melaksanakan apa yang berkelebatan dalam benakku. Ujung tangga, ujung hidupku ?? Adakah kaitannya ? Atau aku saja yang terlalu mendramatisir keadaan ?
Aku menyeka air mataku, rasanya perih sekali saat kulit wajahku yang pecah-pecah dibasahi air mata.
Pintu itu mengejekku. Anak-anak tangga itu menggunjingkanku. Angin berdesing mencibirku.
Haah. Benar kan ? aku berlebihan, aku memang sudah mulai gila akhir-akhir ini. Mungkin.
Aku melangkah pasti. Tak ku izinkan gentar mengusikku. Toh setiap hal pasti berujung, pasti berakhir, dan aku sudah memilih akhir ini. Akhir untukku sendiri.
Aku memutar kenop pintu berwarna keperakan, yang terasa dingin dalam genggaman tanganku.
Ceklik.
Sejurus kemudian daun pintu berdecit terbuka. Mengayun. Membentangkan kenyataan bahwa aku harup sudah siap. Siap dengan jalan yang telah ku cetuskan sendiri.
Cakrawala pagi dengan sepoi lembut sang angin menyapa sendiriku. Jilbab yang ku kenakan mulai bergerak liar dimainkan angin yang terasa lebih kencang dari atas sini. Empat tingkat dibawahku kehidupan masih berjalan seperti biasa. Deretan kendaraan yang terparkir rapi, lalu titik-titik manusia yang bergerak acak menyerupai elektron dalam sebuah atom.
Apa mereka tidak melihat aku, disni ?
Ah, tapi kalaupun mereka melihat,
mereka tidak akan merasa perlu untuk repot-repot mencegahku untuk mengeksekusi pemikiranku.
Toh, aku memang tidak lagi penting untuk mereka. Siapa sih Ify ? Hanya seorang gadis dengan lupus di tubuhnya.
Aku menutup mata, ku rentangkan kedua tanganku, menikmati penggalan-penggalan deru nafas yang sebentar lagi mungkin tak akan jadi milikku. Aku mulai melangkah, meski kedua lututku bergetar hebat. Ku selusuri tepian atap gedung ini. Matahari, awan, pohon palem, semua mengabur, mataku panas.
"Aku harap tidak akan ada lagi orang lain yang bernasib sepertiku Tuhan. Bunda, Mas Riko, Acha, maafin Ify."
"dan kamu Rio, kamu jahat, Yo.." lirihku pada angin, berharap ia menyampaikannya pada pemuda jangkung itu.
"Maaf, Fy.."
Aku terpaku, suara itu ?
Saat aku menoleh, ku dapati Rio berjalan kearahku.
"Cukup. Diam disitu. Atau aku akan lompat sekarang juga." ancamku.
"Fy, jangan main-main. Itu berbahaya, aku mohon menjauhlah dari situ." pinta Dea, gadis itu mengulurkan tangannya, sorot matanya tidak bisa berbohong, ia sangat khawatir terhadapku.
Ya, tentu saja khawatir. Dea kan sahabatku. Dia sangat menyayangiku. Ah, tapi tidak juga. Dia jahat. Ya, dia jahat. Aku tidak boleh luluh hanya karena air mata yang tak seberapa itu.
"Tau apa kamu soal bahaya. Orang sepertimu justru lebih berbahaya." cercaku, "Sudah, kalian pergi saja. Jangan pedulikan aku." usirku.
"Fy, maafkan aku kalau perkataanku tadi menyinggungmu, tapi sungguh aku tidak bermaksud seperti itu. Aku tidak akan pergi kemanapun. Aku tidak pernah mempermasalahkan emm, fisik. Maksudku, aku...aku menyayangi sosok Ify bukan sekedar wajah, rambut atau kulitmu. Percayalah." tutur Rio lembut.
Aku tertawa sinis, "Kamu kira aku buta ? Kalau kamu menyayangiku, lantas apa yang kalian lakukan tadi. Kamu hanya kasihan kepadaku, iya kan ? Pergilah, sebelum aku mendorongmu dari tempat ini." gertakku.
"apa itu bisa membuatmu puas nona Alyssa. Kalau iya, ayo kau dorong saja kami sekarang juga." tantang Dea, "kau ini kekanak-kanakan sekali Fy, kamu harusnya mendengarkan penjelasan kami, apa yang kamu lihat tidak selalu sama dengan apa yang terjadi sebenarnya." lanjut Dea.
Aku bungkam.
"Jika Tuhan menurunkan raga yang sakit, agar yang sehat pandai bersyukur berarti sakitnya adalah anugrah. Jika Tuhan menyisipkan kesedihan dalam rangkaian kebahagian, itu agar kita bisa memahami dua sisi yang berbeda dari dunia. Tidak ada yang perlu disesali, apalagi berandai-andai agar hidup selalu indah, Tuhan itu Maha Tahu, mana yang paling baik untuk hamba-Nya." Rio mengucap ulang perkataanku beberapa bulan lalu. Saat kaki Rio cidera parah dan ia tidak bisa mengikuti pertandingan basket yang sudah ia nanti-nantikan cukup lama. Pada waktu itu Rio sama sekali tidak mau keluar kamar ataupun makan.
Hebat sekali pemuda ini. Ia masih menghafal dengan sempurna kalimat spontan dariku itu.
"Apa ucapan itu sekedar bualan mulutmu, supaya aku menganggapmu dewasa ??" tanya Rio, datar.
Aku tercekat, "Kau masih sempat menuduhku yang bukan-bukan ?" kataku, tak menyangka.
"kenapa memangnya ?? aku tidak akan melarangmu lompat, tidaka akan pernah. Terserah saja. Itu hakmu." ujar Rio dengan ekspesi tak peduli.
"Rio !!" sentak Dea, "Fy, jangan pedulikan Rio. Kemari Fy, aku mohon." lanjutnya, lagi-lagi dengan tatapan memohon kearahku.
"Biarkan saja De, untuk apa kamu repot-repot mencegahnya." suara baritone itu kembali membuatku menelan ludah tanpa bisa bicara sepatah katapun.
"tapi sebelumnya, ada yang perlu kamu ingat Alyssa. Dirumahmu, ada seorang ibu yang siang malam bercucuran air mata mendoakanmu. Ada seorang kakak yang selalu menyayangimu. Dan ada seorang adik yang selalu membanggakanmu. Kalau kamu memang cukup pandai, paling tidak tunda niatmu mengakhiri hidup sebelum kamu bisa membahagiakan mereka."
Nada dingin dan ekspresi datar itu bisa saja dibuat, tapi tatapan tulus dari dua bola mata coklat pekat itu, tidak. Juga tangan itu. Tangan yang masih terulur kearahku sejak tadi, padahal satuan menit telah lama terlewati.
Rio, bakat actingmu benar-benar nol besar.
"Kau bisa bicara seperti itu, karena kau sama sekali tidak merasakan apa yang ku rasakan." tukasku tak mau kalah.
"Baiklah. Aku memang tidak memang tidak merasakan apa yang kamu rasakan, begitu pula denganmu..." Rio berhenti sejenak untuk menghela nafas, "kamu tidak pernah merasakan bagaimana jadi aku. Kamu melarangku menemuimu, kamu sama sekali tidak memberitahu aku apa yang terjadi padamu, kamu sakit apa? tiga bulan kamu menghukumku tanpa satu hal pun sebagai alasan. Aku kaget dengan apa yang terjadi padamu, apa aku salah ??"
"aku tidak pernah bilang, kamu salah."
"tapi kamu menyalahkanku. Kamu bilang aku jahat tadi."
"tidak."
"Sudah. Cukup. Kalian apa-apaan sih ?" lerai Dea, melihat aku dan Rio yang sudah tersulut emosi.
"Apa kamu kira aku baik-baik saja ? Ayahmu pergi, aku tau kamu sedih, tapi kamu sama sekali tidak mengizinkan aku menemanimu. Sekarang kamu muncul dihadapanku, menangis, menyalahkanku, lalu kembali berniat meninggalkanku. Aku hampir gila Fy, tidakkah kamu mengerti ??"
"Rio tutup mulutmu." raung Dea.
Aku benar-benar kehabisan kata-kata. Perbendaharaan kata yang aku miliki, yang sempat menjadi andalanku tiap bertemu tugas presentasi, tiba-tiba saja menguap.
Aku memilih untuk berbalik, memunggungi Dea dan Rio.
Beberapa memori kecil yang indah berpusar di otakku, seakan mengajakkan untuk sejenak bernostalgia sebelum semuanya hilang dibawa jiwa yang sepertinya akan segera terlepas dari sang raga.
Rio. Gitar. Api unggun. tatapan menyejukan. Bunga.
Kak Riko. Usapan lembut di puncak kepalaku. Perlindungan. Kumandang Al-Qur'an, dan satu janji, "Kalau aku sudah sukses jadi dokter, aku akan mendirikan sebuah panti asuhan dan kamu yang akan menjadi ketua yayasannya, Fy."
Acha. Senyum manis. Sepeda Ozy. Ayunan. Drama Asia.
Lalu Bunda...
"Ify takut Bunda." rajukku sambil memeluk bunda waktu itu.
"tidak perlu takut sayang. Menstruasi adalan tanda bahwa Ify sekarang sudah dewasa, sudah jadi gadisnya ayah dan bunda. Sudah harus melaksanakan kewajiban-kewajiban Ify sebagai seorang muslimah. Juga sudah harus bisa menjaga diri sendiri."
"tapi kan jijik, Bun. Ify tidak suka kalau setiap bulan harus seperti ini."
"Kenapa harus jijik. Itu kan kodrat seorang wanita, Allah mengaturnya agar kelak seorang ibu juga tidak jijik membersihkan kotoran anaknya."
Memori kecil itu tersimpan rapi diotakku semenjak 5 tahun lalu, tepat ketika aku duduk di bangku kelas 2 SMP.
Rio benar. Bukankah beberapa hari ini aku yang begitu ngotot meminta bunda dan yang lain untuk segera bangkit, lalu kenapa aku harus menyerah ?
Bukankah aku sudah mempersiapkan diriku untuk hari ini jauh sebelumnya, lalu kenapa aku harus pasrah ?
Tidak. Aku tidak ingin mendapati diriku terseok kembali. Digeret kelemahan, lantas tenggelam selamanya, bersamanya. Aku kuat. Aku berani. Aku belum kalah. Tidak boleh, aku tidak boleh berhenti.
"ada saatnya untuk menyerah Fy, itu pasti. Tapi bukan sekarang. Bukan saat ini. Aku minta maaf kalau tanpa sadar aku...aku membuatmu merasa dibohongi. Tapi sungguh, sumpah demi apapun, yang kamu lihat tadi bukan apa-apa." tutur Dea, lembut.
"janganlah menangis, lepaskan semua beban dihatimu," aku mendengar lagu itu, lagu yang menurut Rio bisa menghilangkan rasa sedih, lagu yang diajarkan kakek Rio pada pemuda itu sewaktu ia masih sekolah dasar, aku mendengar lagi Rio menyanyikan lagu itu untukku, "ayo ikutlah denganku. Kita bernyanyi nanananananananana..."
Aku menoleh. Tangan itu, masih setia terulur untukku, sekarang malah dibonusi senyum manis Rio.
Sedetik kemudian, aku berlari menubruk tubuh tinggi Rio, memeluknya begitu erat. Meleburkan jarak yang tersisa, tak ku izinkan barang angin sekalipun menyusup membentuk sekat untuk kami.
3 bulan. Dan aku sungguh sangat merindukan pria ini. Merindukan aroma tubuhnya yang khas, merindukan dekapnya yang hangat.
"aku kangen kamu..." bisikku padanya.
Aku merasakan lengan kanan Rio mengelus kepalaku. Damai itu menyusup, bersatu dengan darahku, lantas menjalari setiap jengkal tubuhku.
"kamu tau, berat badanku menyusut sampai 5 kg karena terlalu sering memikirkan dan mengkhawatirkanmu." celetuk Rio.
Aku melepas pelukanku, lalu tersenyum simpul pada Rio. Lekat-lekat ku pandangi dua bola mata penyejuk itu.
"kenapa ? Ada yang aneh denganku ?" tanyanya seraya menaikan sebelah alisnya.
Aku menggeleng.
"aku ingin bertanya, boleh ?"
Rio menggangguk.
"kenapa dipunggungmu tidak ada sayapnya ?" ceplosku, yang disahuti gelak tawa kecil dari Rio.
Haah, Tuhan... Tolong ingatkan aku bahwa surga itu masih ada, sebelum aku menobatkan senyum pria ini adalah yang terindah dari yang paling indah yang pernah Kau ciptakan.
"kau fikir aku ini apa, Fy ? Burung ?" ujarnya sambil terkekeh. Aku menggelembungkan kedua pipiku.
"ekhm." Dea berdehem usil, "sampai kapan kalian akan disini ? Aku rasa kita sudah tertinggal satu jam pelajaran." katanya, lalu berjalan menuju pintu dengan santai, anak-anak rambutnya bergoyang diulik angin.
Rio menggandeng tanganku, "tunggu kami, De." serunya, lalu mengekori Dea.
Haah, rasanya aku ingin terus tersenyum hari ini, besok, besoknya lagi, besoknya lagi, besoknya lagi...
Aku yakin, aku akan terus bisa tersenyum, selama pria ini disampingku. Rasanya lega sekali. Berbeda dengan saat pertama aku menjalari tempat ini tadi, kini langkahku terasa lebih ringan. Bahkan aku merasa seperti tengah melayang disela gumulan awan.
Aku melirik punggung pria menjulang yang berdiri bersisian denganku. Tetap sama. Tidak ada sepasang sayap yang tersisip disana.
Berarti benar kata mbak dewi lestari, terkadang malaikat itu tak bersayap. Tapi percayalah mereka ada. Kadang malah menjelma menjadi sosok sempurna yang kasatmata. Menasbihkan diri dalam perwujudan manusia.
Walaupun dirimu tak bersayap
ku akan percaya
kau mampu terbang bawa diriku
tanpa takut dan ragu
walaupun kau bukan titisan dewa
ku tak kan kecewa
karena kau jadikanku sang dewi
ditaman surgawi.
***
6 Desember.
Dear diary..
ia sempat pergi. Aku sempat menangis.
Tapi tak ada ikrar yang menyatakan ia tidak akan datang lagi.
Kini lihat !!
Saat senja terpulas penuh oleh warna jingga, diufuk barat kepak sayapnya terlihat. Ia kembali.
Membawa bait-bait gita perjalanannya.
Diceritakan tentang wilayah barat yang mewah dengan gemerlap peradabannya, lalu utara dan selatan dengan hamparan salju yang lembut serta timur dengan keramahan bunga-bunganya.
Ah, aku ingin segera sembuh. Aku juga ingin mengunjungi tempat-tempat itu.
tuhan perkenanakanlah sayapku terkepak kembali. Aku ingin terbang lagi.
Tuhan, aku ingin sembuh.
***
Hanya orang sakit yang bisa menikmati indahnya sehat. Dan saat sakit telah menjadi sahabatku, maka sehat akan jadi harta tak ternilai untuhku.
Masih ingatkah kalian ? Diawal cerita ini, aku pernah bicara tentang sisi semu, tak pasti, abu-abu. Sisi itu telah kulewati sekarang. Gamang. Galau. Tak pasti. Semua itu telah ku lalui.
Aku telah memilih untuk bertahan, dan akan ku perjuangkan pilihanku.
Perlahan detik di gulirkan masa, merangkai menit yang kemudian terpaut menjadi jam. Hari berganti mengikuti bumi yang berotasi. Bulan dan tahun ikut berlalu, mengimbangi revolusi bumi terhadap matahari.
Waktu telah berlalu.
4 tahun telah lewat. Masa-masa sulit itu telah tertinggal. Sekarang inilah hidupku, inilah Ify yang baru, yang Insya Allah akan jauh lebih baik dari Ify yang dulu. Tidak mudah memang. Tidak segampang merontokan embun yang bergelantung pasrah pada ranting-ranting cemara. Tidak segamapang menawan melati dari pohonnya. Ada saat-saat dimana sisi abu-abu itu menang. Membuat ku limbung. Melahap habis cerca cahaya putih yang menerangi langkahku, dan menggantinya dengan dominasi hitam yang lebih nyata. Ada kalanya tubuh ini menolak diajak bertahan, nafas ini seakan ingin segera kabur dariku, mata ini memberontak tidak ingin terus terjaga. Ada saat dimana kematian begitu dekat denganku.
Tapi toh akhirnya aku berhasil.
Kawan, aku sembuh. Aku sehat. Lupus ini mau berteman denganku. Tuhan menuntaskan ujiannya dan mengembalikan semua yang pernah ku miliki. Kulit mulusku, rambut panjangku, paras-yang menurut orang-ayuku... Semuanya kembali.
Aku tidak lagi membenci 'Si Lupus' ini, karena sekarang ia telah menjadi kawan paling setia dalam hidupku.
4 tahun. Tentu banyak sekali hal yang sudah berubah. Aku bukan hanya telah menuntaskan Sekolah Menengah Atas-ku, tapi aku juga telah lulus dengan IPK 4 dari Universitas Gajah Mada. Sekarang aku tengah sibuk dengan profesiku sebagai psikolog dan ketua yayasan untuk sebuah panti yang didirikan kak Riko. Untuk mengisi sedikit waktu luang yang aku punya, aku juga masih sempat sesekali mengajar mengaji pada anak-anak disekitar tempat tinggalku.
6 bulan lalu, aku yang begitu semangat belajar menulis juga mendapat kesempatan untuk mem-publish ceritaku. Sebuah penerbit berminat mengangkat cerita yang awalnya ku tulis di blog pribadiku untuk dijadikan sebuah novel. Novel yang ku beri judul, "Kamu Sekuat Alyssa" menceritakan tentang aku dan lupus yang ku derita. Mungkin novel itu tidak akan menguras air mata layaknya "Surat Kecil Untuk Tuhan" karya Agnes Davonar, novel itu juga tidak akan se-booming "Fairish"nya Esti Kinasih yang sampai dicetak berulangkali. Tidak pula akan se-inspiratif "Perahu Kertasnya" mbak Dewi Lestari. Tapi aku tetap bangga dengan karya pertamuku itu. Aku berharap siapa pun yang kelak membacanya dapat memetik sepenggal hikmah yang ku selipkan didalamnya.
Aku sangat mencintai hidupku saat ini. Dan ini tidak akan ku dapatkan hanya dengan menangis dan meratap, tidak akan ku dapatkan kalau saja aku benar-benar mengakhiri hidupku waku itu.
Benar kata kak Shilla, kita tidak akan pernah tau baik atau burukkah rencana Tuhan kalau kita tidak berani untuk meniliknya dengan terus maju.
Dan bicara tentang kak Shilla, sekarang Mbak Ayu itu menjadi dosen di salah satu universitas negri di Solo. Sedangkan Mas gantengku tentu saja akan 'ngintil calon istrinya. Kak Riko sekarang sudah menjadi dokter disalah satu rumah sakit besar di kota Solo, ia sudah mampu membeli rumah sendiri yang cukup besar dan membuka praktek disana.
Saat dunia terus berputar, melahirkan berjuta atau bahkan milyaran perubahan, aku ingin memberikan acungan jempol setinggi-tingginya untuk pasangan ini. Entah doa apa yang mereka lantunkan, cara apa yang mereka tempuh dan terbuat dari apa hati mereka. Ozy dan Acha, pasangan ini meski terpisah benua dan terhalang bentangan laut tidak ada yang bisa merubah cinta yang merka punya. Aku rasa, tidak ada yang berubah dari keduanya. Acha, adik bungsuku itu baru saja menyelesaikan SMAnya di Perancis, tepatnya di Paris, ia juga sudah menjadi mahasiswi semester 2 di salah satu universitas, di kota yang menjadi kiblatnya mode itu. Sedangkan Ozy entah setia atau memang tidak laku...oh, bukan-bukan, pemuda setampan dan semanis Ozy tentu saja laku, pemuda itu masih saja sabar menunggu Acha yang tengah mengejar impian-impiannya. Ozy tetap di Yogya membantu ayahnya memasarkan patung-patung ukir, dan meneruskan pendidikannya di UGM, sesekali Ozy juga membantuku mengurusi panti. Aku tidak pernah melihat Ozy menggandeng gadis lain, begitu pula dengan Acha yang tidak pernah absen menanyakan Ozy setiap ia mengirim e-mail kepadaku. Aku rasa mereka berdua benar-benar layak dinobatkan jadi pengganti figur Romeo and Juliette.
Hah, kalau seperti ini rasanya kok bodoh sekali ya dulu aku sempat berniat terjun dari lantai 4 gedung sekolahku.
Aku tertawa kecil lalu menggelengkan kepalaku, "bodoh." gumamku.
"bodoh ? Siapa, aku ?" suara berat milik pengemudi sedan silver disampingku membuat aku menoleh sekilas.
Aku mengerutkan keningku, "tentu saja bukan, apa kau rela, aku bilang bodoh, Mario?" kataku.
"aku tidak keberatan dibilang bodoh oleh orang dengan IPK 4" balas pengemudi tadi, Rio, santai, dengan tetap fokus pada jalanan di depannya.
"kamu juga pasti bisa dapat IPK 4. Kedipkan saja matamu pada dosen-dosen wanitamu, pasti mereka langsung memberimu nilai A plus. Hhehe." aku terkekeh. Semakin lebar, saat tangan kiri Rio mengelus puncak kepalaku.
Aku alihkan tangan kiri Rio yang masih asik mengacak poni rambutku yang sudah terlalu panjang. Ku letakkan di pipi kananku, ku kunci kelima jemari itu disitu. Kurasakan pipiku memanas.Pasti memerah.
Tapi ku abaikan. Saat-saat berdua dengan Rio seperti ini sangat jarang bisa terjadi karena kesibukan masing-masing.
Rio, sekarang masih tercatat sebagai mahasiswa di Universitas Indonesia, Fakultas Kedokteran. Paling sering Rio berkunjung ke Jogja dua bulan sekali, itupun paling hanya 2 sampai 3 hari. Di Jogja aku pun memiliki banyak kesibukan yang tidak bisa ku tinggalkan semauku.
Tak jarang rasa cemburu tak berasas, atau galau tak bersebab menyapaku. Takut Rio meninggalkanku, melupakan aku. Tapi segera ku tepis kelebatan pemikiran negatif semacam itu. Aku yakin Rio akan selalu menjaga hati yang telah aku titipkan padanya. Sama seperti aku yang tak pernah berniat melukai hati yang Rio percayakan padaku.
Terhitung setelah aku sembuh. Dan fisikku kembali normal, banyak pemuda-pemuda yang mencoba mendekatiku, terutama mereka yang tidak tau sama sekali perihal riwayat kesehatanku. Tapi aku menolak mereka dengah halus. Aku sudah mdmatenkan pilihanku, sama sekali tidak berminat melirik option-option lain. Rio. Dia yang mau bertahan denganku, bagaimanapun keadaanku dan dihatiku Rio nomer satu.
"besok adik manisku pulang ya ? Aku kangen sekali padanya." suara Rio memecah lamunanku.
Karena tidak begitu memperhatikan ucapan Rio sebelumnya, maka ku putuskan untuk sekedar mengangguk.
"Acha minta dijemput jam berapa ? Boleh tidak, aku saja yang menjemputnya ?" izin Rio.
Oh. Acha. Batinku, menangkap objek pembicaraan.
"kita jemput sama-sama ya. Bersama bunda dan kak Riko."
"oh, baiklah. Tapi Ozy tidak ikut ?"
"dia masih di Semarang."
"oh, begitu. Fy, apa Acha menyukai boneka seperti itu ?" Rio menunjuk seperti kearah jok belakang dengan dagunya, "Acha memintaku membelikannya kado saat dia pulang. Apa boneka itu bagus ?!" tanya Rio, meminta pendapat.
Aku mengerucutkan bibirku, "huu, aku juga mau yang seperti itu. Kenapa hanya membeli satu, aku tidak dibelikan ? Tidak adil." protesku iri, melihat sebuah boneka beruang berukuran besar warna pink memakai pita dengan aksen bunga-bunga berwarna putih dan merah.
"kamu kan sudah tidak main boneka lagi." sergah Rio.
"Acha juga tidak." tegasku tak mau kalah.
"tapi, dia kan adikku.."
"kapan ibumu melahirkan Acha. Dia itu adikku."
Rio tertawa kecil, "iya, iya, nanti aku belikan, yang lebih bagus dari itu. Tapi nantinya, kalau kamu sudah resmi jadi nyonya Mario. OK ??" Rio melirik penuh arti kepadaku.
"Jangan mengigau yang macam-macam. Ini masih sore." tanggapku, datar.
Segera ku palingkan wajahku yang entah sudah seberapa merah, mungkin sudah layak menjadi saingan buah strawberry.
Diluar mobil, hujan menari, turun dengan rintik yang mengalun sempurna menjadi backsong yang menambah suasana romantis yang tengah tercipta kini. Langit keunguan yang lebih gelap karena di gelayuti mendung, tak tau bagaimana prosesnya jadi terlihat berwana merah muda, dimataku. Hehehe.
Sedan silver Rio jerus melaju, memperkecil rentangan jarak agar semakin dekat dengan titik tujuan.
Acara galang dana Omnya Rio, yang lagi-lagi didedikasikan untuk penderita Lupus. Untuk acara itulah Rio sengaja pulang ke Jogja. Acara itu akan berlangsung sekitar 2 jam lagi dari sekarang. Dan aku untuk yang ke 4 kalinya ikut berpartisipasi mengisi acara tersebut.
***
Gedung besar itu sudah sangat ramai. Kami sepertinya memang sangat terlambat. Aku melirik jam tangan coklat ditanganku. Pukul 19.15, astaga, pantas saja sudah sangat ramai, acaranya akan segera dimulai kurang dari 15 menit lagi. Setelah turun dari mobil Rio, dengan langkah lebar-lebar kami menuju backstage.
"Ya Tuhan, kemana saja kalian, kenapa baru datang. Kalian kan akan jadi pembuka acara ini." gerutu kesal seorang pria berkumis dengan tubuh sedikit tambun, menyambut kedatangan kami.
"Maaf Om." ujar Rio pendek.
"ya sudah, ya sudah, cepat sekarang kalian bersiap." intruksi, Om Ony, adik dari Papa Rio.
Kami mengangguk patuh. Tidak ingin mengulur waktu, kami sepera bersiap. Mengganti pakaian dengan yang lebih formal, karena yang saat ini aku dan Rio kenakan, hanya jean dan kaos. Lalu menambahkan beberapa sapuan make up diwajah, agar terlihat lebih fresh.
"Lha, rambutmu kenapa to cah ayu, kok rontok begini." komentar seorang pria kemayu saat menyisir rambutku.
"Oh, ini tidak apa-apa. Mungkin efek, aku terlalu lelah atau stress." jawabku santun.
Pria itu tampak mengangguk faham.
Kurang dari 20 menit, kami sudah siap. Beberapa menit kemudian seorang wanita berdress panjang dengan corak batik menyusul kami dibackstage agar kami segera naik panggung.
Meskipun bukan untuk yang pertama kali, rasa nervous itu selalu muncul dengan intensitas yang berbeda, setiap aku akan perform didepan orang banyak. Apalagi specialnya, sekarang acara ini didatangi langsung oleh para odapus yang akan menerima bantuan. Aku sangat ingin tambil sebaik mungkin. Aku ingin mengatakan pada merera, jangan menyerah, kamu sekuat aku. Aku ingin sekali membuktikan bahwa segala keterbatasan itu bukanlah batas untuk meraih sesuatu yang tidak terbatas. Kita bisa. Kita mampu. Hanya butuh kesabaran untuk mengajak lupus berdamai dan semuanya akan baik-baik saja.
Aku sudah siap didepan sebuah grand piano putih yang menjadi sentris panggung besar ini. Begitu pula dengan Rio yang sudah mantap berdiri dengan stand mic-nya.
Tanpa ragu, satu persatu tuts-tuts putih-hitam itu ku tekan. Mengalunlah sebuah intro lagu yang aku dedikasikan untuk ayahku tercinta. Hari ini tepat 4 tahun beliau meninggalakan aku.
"lagu ini buat ayah, selalu doakan Ify ya, Yah." batinku.
Tak 'kan pernah habis
air mataku
bila ku ingat tentang dirimu
mungkin hanya kau yang tau
mengapa sampai saat ini
ku masih sendiri
adakah disana
kau rindukan aku
meski kita
kini ada didunia berbeda
bila masih mungkin
waktu kuputar
kan ku tunggu dirimu...
Biarlah ku simpan
sampai nanti aku
kan ada disana
tenanglah dirimu
dalam kedamaian
ingatlah cintaku
kau tak terlihat lagi
namun cintamu
abadi...
Ah terkadang aku benci suara lembut Rio. Setiap menyanyikan lagu semacam ini, rasanya jadi sangat nyata dan menyesakkan. Sepertinya itu juga bukan hanya pendapatku, beberapa orang dikursi depan mulai bergerak tidak nyaman dikursinya. Beberapa lagi, malah sudah bercucuran air mata. Apalagi selama lagu dilantunkan slide-slide gambar bermunculan pada layar dibelakang kami. Gambar-gambar itu adalah gambar para odapus yang telah berhenti berjuang dan akhirnya menyerah pada keadaan.
"eergh." erangku pelan.
Ya Allah, kenapa lagi dengan dadaku. Kenapa akhir-akhir ini sering sekali terasa sesak. Jangan Tuhan, jangan sekarang. Biarkan aku membuktikan dulu pada mereka, bahwa odapus kuat, kami akan selalu kuat.
Jariku tetap ku usahakan menari diatas piano. Meski mungkin temponya sedikit melambat. Rio berkali-kali menoleh kearahku, aku hanya melempar cengiran padanya. Berharap, pria itu tidak menangkap sesuatu yang aneh padaku.
Adakah disana
kau rinduka aku
meski kita
kini ada didunia berbeda.
Bila masih mungkin
waktu ku putar
kan ku tunggu
dirimu...
Biarlah ku simpan
sampai nanti aku
kan ada disana
tenanglah dirimu
dalam kedamaian
ingatlah cintaku
kau tak terlihat lagi
namun cintamu
abadi...
Ingatlah cintaku
kau tak terlihat lagi
namun cintamu abadi...
Tak 'kan pernah habis
air mataku
bila ku ingat tentang dirimu...
Hah, alhamdulillah. Sesaknya hilang. Aku berhasil menyelesaikan permainan pianoku. Setelah memberikan hormat pada penonton yang datang, kami turun dari panggung diiringi tepuk tangan.
"kamu tidak apa-apa ?" tanya Rio saat kami tiba dibackstage.
Aku menggeleng.
Satu lagi hal positif yang bisa ku lalukan bersama Si Lupus. Dan berhasil, semua berjalan lancar.
Berdamai dengan masalah adalah cara paling tepat untuk melawan masalah itu sendiri.
***
orang-orang dengan koper besar berseliweran didepan kami. Seperti dikejar sesuatu yang tak berwujud namun pasti bernama waktu, mereka berlalu dengan menyeret koper-koper mereka secara brutal.
Para penumpang yang baru keluar dari sebuah pesawat dengan rute penerbangan Paris-Jakarta yang baru saja landing beberapa menit yang lalu, semua tampak sangat lelah usai melakukan perjalanan jauh yang memakan waktu berjam-jam.
Aku berjinjit-jinjit, mencari satu tubuh mungil milik adik bungsuku.
"bunda... Acha kangeen." suara khas Acha melantun disela hiruk pikuk bandara.
Aku menoleh, dan mendapati seorang gadis cantik bertubuh tinggi semampai tengah memeluk bundaku.
Ah, Acha ?
Benarkah ?
Selama ini, Acha selalu mengirimi kami foto-foto terbarunya.
Tapi ternyata, foto-foto itu menipu. Acha terlihat jauh lebih anggun dan manis, aslinya. Aku yakin setiap pria yang melihatnya, harus pandai-pandai mengontrol ekspresi wajahnya, kalau tidak ingin bertampang konyol seperti Kak Riko dan Rio saat ini.
"aku saran kan kalian segera menutup mulut kalian. Sebelum lalat-lalat berminat untuk memasukinya." candaku, pada mereka.
Kak Riko dan Rio kompak memicing pandangan mencibir kearahku, aku membalasnya dengan juluran lidah.
Setelah selama 4 tahun Acha tidak pernah berkunjung ke Indonesia, dengan alasan repot. Acha yang kulihat sekarang memang benar-benar berbeda dengan Acha yang menangis tersedu-sedu di bandara ini 4 tahun rilam. Kedua kakinya yang jenjang menyokong tubuhnya yang ideal, sorot matanya terlihat lebih tenang dan tegas, pipi gembilnya juga terlihat lebih tirus dengan semburat rona merah yang alami.
Mungkin hanya rambutnya yang tidak berubah sama sekali, baik style waupun warnanya. Tetap hitam, bergelombang, dengan panjang melewati bahu.
Setelah melepas pelukan pertamanya dengan bunda, Acha melirik Kak Riko dan Aku bergantian.
"kakak-kakak ini tidak ada yang berniat memelukku ya? Tidak merindukan aku rupanya." kata Acha, sambil melipat kedua tangannya didada, dan menggelumbumgkan kedua pipinya.
"Welcome, adik cantik..." kak Riko sudah merentangkan kedua tangannya hendak memeluk Acha, tapi Acha malah melengos berbalik badan kearahku.
Acha tersenyum manis, aku balas tersenyum.
"Kak Rioooo" sapa Acha, riang.
what ? Apa tadi ? Kak Rio?
Huh Acha ini. Aku kira dia merubah haluan tubuhnya dari Kak Riko, karena ingin memelukku lebih dulu, tapi ternyata malah Rio. Ckckck. Adik macam apa dia.
"wah, mas ku yang satu ini, makin ganteng aja deh. Sekarang sudah jadi dokterkah ?" tanya Acha, yang sudah bergelayut manja dilengan kanan Rio.
Rio dan Acha, memang dekat. Rio yang anak tunggal dan terobsesi memiliki adik perempuan yang manis, tentu saja sangat menyayangi Acha. Jadilah Acha juga sangat dekat dengan Rio, tak jarang malah Acha lebih suka bercerita tentang masalahnya pada Rio daripada denganku, yang notabenenya adalah kakak kandungnya.
"Jangan kau puji dia, salah-salah nanti badannya tambah kurus karena kau puji." kataku asal, entah apa hubungannya pujian dengan badan yang kurus.
"kamu juga makin cantik, Cha. Beda sekali dengan mbakmu yang makin hari makin galak saja." ujar Rio, balas dendam.
"benarkah ?" tanya Acha.
Tapi suara terakhir Acha tidak begitu tertangkap oleh indera pendengarku. Fokusku tiba-tiba saja rancuh, kepalaku berputar, perutku mual serasa dikoyak-koyak oleh entah monster apa didalamnya.
"aaaargh." erangku, pelan.
Tapi ternyata tidak cukup pelan karena orang-orang disekitarku sepertinya mendengar eranganku.
"Kak Ify, kakak kenapa ?" lagi-lagi suara itu tak begitu jelas terdengar.
Nafasku benar-benar terasa tercekat di tenggorokan. Aku berusaha menghirup udara sebanyak mungkin, tapi ternyata hidungku menolak diajak bekerja sama. Paru-paruku seperti kosong dan itu terasa sangat menyesakkan. Ya Allah ada apa lagi dengan tubuhku ?
Satu-satu aku merasakan nafas yang terputus-putus. Kematian. Kenapa aku merasa sangat dekat dengan kematian ??
Tapi aku pasrah, berserah akan membuat semuanya terasa lebih mudah. Perlahan semuanya gelap, aku mencoba tersenyum sekilas sebelum tubuhku ambruk dan semua jadi pekat.
***
Tuhan..
Bila Engkau berniat memelukku detik ini juga, izinkan aku mengucap permohonan kecil.
Naungi mereka, orang-orang tercintaku dengan kebahagiaan.
Jika Engkau tak lagi membiarkan aku menghapus air mata mereka, maka janganlah Engkau turunkan hal yang membuat mereka menangis.
Aku ingin melihat mereka tersenyum. Setelah itu, aku tidak akan meronta atau memohon untuk tetap tinggal.
Aku berserah padamu, bila mati adalah yang terbaik, aku akan selalu menantinya dengan senang hati.
***
Label:
Adakah Yang Sempurna ?
Adakah Yang Sempurna ?? (part 4)
Aku tak percaya lagi
Dengan apa yang Kau beri
Aku terdampar disini
Tersudut menunggu mati
kenapa ada derita ??
bila bahagia tercipta
kenapa ada sang hitam ??
bila putih menyenangkan
***
"sudahlah Fy, tidak perlu mendesak Shilla seperti itu." sela kak Riko, aku tau dia juga pasti merasa sangat kecewa, "aku hargai keputusanmu Shilla, dan maaf kalau aku terlalu berani berharap lebih padamu..."
kami sama-sama terdiam untuk beberapa saat.
"ekhm," kak Shilla berdehem kecil, lalu tersenyum penuh arti, "jadi kapan kamu akan melamarku pada kedua orang tuaku??" tanyanya dengan nada menantang.
Aku yang sedari tadi menunduk memandangi rerumputan, mulai mengangkat kepalaku, begitu pula dengan kak Riko.
"ma...maksudmu??" tanya kak Riko.
"ck, masa kamu tidak mengerti sih, payah." gerutu kak Shilla, "maksudnya jadi kapan pak dokter ini akan melamarku langsung kepada orang tuaku? Kalau aku sih pasti menerimamu, tapi kan belum tentu kedua orang tuaku sejutu." jawab kak Shilla santai, sambil memamerkan senyum manisnya.
Kak Riko mulai menampakan tanda-tanda kehidupan di wajahnya, ia mulai menarik kedua sudut bibirnya, "jadi...jadi kamu menerimaku Shilla?" katanya hati-hati.
"ya, sejauh ini, aku belum menemukan alasan untuk menolakmu." balas kak Shilla.
"ah, akhirnya," ujarku lega, "jadi resepsinya akan berlangsung dimana nih?" ceplosku. Baik kak Shilla ataupun kak Riko langsung terlihat salah tingkah dan tersipu-sipu.
"itu masih jauh, cantik. Riko harus mau menungguku menyesaikan kuliahku." tukas kak Shilla.
"yah itu terlama lama kak, masih 2 tahun lagi. Kalau aku keburu mati bagaimana?" celetukku asal, dan tanpa perlu diingatkan aku langsung merutuki diriku sendiri.
Bodoh kamu Fy, bodoh !!
Mengapa kata-kata semacam itu harus terlontar tanpa di proses dulu oleh otakku.
Semua langsung terdiam, senyum kak Shilla dan kak Riko seketika itu juga menguap. Aku jadi merasa sangat bersalah, sepertinya aku sudah meruntuhkan pilar-pilar kebahagian yang baru saja mencuat diantara kami.
"dek.." kak Riko duduk bersimpuh didepan kursi rodaku, dan kalau kak Riko sudah memanggilku dengan sebutan 'dek' seperti barusan itu artinya ia sedang serius.
"kamu dengar ini baik-baik. Kalau aku berjodoh dengan Shilla, kamu, dek. Kamu yang akan menjadi pendamping penganti wanitanya. Kamu akan memakai kebaya, kamu dan bunda yang akan membantuku menyiapkan semuanya dan kelak anak-anakku akan memanggilmu bibi, kamu akan menemani mereka bermain. Tolong jangan bicara seperti itu, aku sedih mendengarnya. Kamu pasti sembuh Ify, kamu pasti sembuh." tutur kak Riko penuh keyakinan.
"maafkan Ify, kak." aku memeluk kakakku, menumpahkan tangisku dipundaknya.
"jangan seperti orang tak beragama, ingat kita masih punya Tuhan, Fy. Tuhan yang tidak akan pernah tidur, dan akan selalu mendengarkan doa-doa kita." tambah kak Riko.
"iya Fy, nanti kamu yang akan membantuku memilih gaun pengantin, dan aku juga akan melakukan hal sama saat kamu dan Rio menikah. Jalanmu masih sangat panjang Fy. Banyak hal yang belum kamu raih, jadi jangan dulu patah arang ya." pesan kak Shilla, sambil mengelus rambutku, lembut.
Aku hanya mengangguk pasrah.
Hahahaha, batinku benar-benar tertawa miris.
Menikah dengan Rio?
Ya, sepertinya itu hanya akan terjadi dalam fikiran kak Shilla dan khayalanku saja.
Masih dalam pelukan kak Riko, ku alih pandanganku pada langit kelam diatas sana. Bulan itu, ternyata ia masih bertahan disana. Ah, malam benar-benar tertolong dengan kehadirannya, jadi tidak terlalu mencekam meski gelap mendominasi setiap sudut tempat ini. Bulan itu, apakah Rio juga sedang memandanginya, sama seperti aku saat ini? Masihkah ia menggantungkan mimpi-mimpi kecil beserta doa dan harapan untuk hari esok, seperti yang sering kami lakukan selama ini.
Kalau iya, bulan....
Tolong sampaikan padanya bahwa aku sangat merindukannya.
Sangat, sangat, sangaaat merindunya.
***
Aku selalu berusaha untuk bisa mengimbangi kepak sayapmu.
mengantarkanmu terbang menjelajahi dunia.
ku kerahkan seluruh kekuatanku untuk melawan dera angin yang akan menghalau perjalananmu.
Berdua kita arungi masa.
Lalu, maukah sejenak kau berhenti saat ku rapuh, saat kedua sayapku melemah, dan hampir patah?
Maukah kau menungguku saat ku lelah?
Mau kah? Masih mau kah?
***
Takkan selamanya tanganku mendekapmu
Takkan selamanya raga ini menjagamu
Seperti alunan detak jantungku
Tak bertahan melawan waktu
Dan semua keindahan yang memudar
Atau cinta yang telah hilang
Biarkan aku bernafas sejenak
Sebelum hilang
Tak 'kan selamanya
tanganku mendekapmu
Tak 'kan selamanya
Raga ini menjagamu
Jiwa yang lama segera pergi
Bersiaplah para pengganti...
Tak ada yang abadi
Tak ada yang abadi
Tak ada yang abadi
Tak ada yang abadi...
***
setelah satu minggu aku terpenjarakan dalam ruang serba putih itu, kamar anggrek no 24. Hari ini aku diizinkan pulang. Kondisiku berangsur membaik, lagi pula hari ini adalah hari 'yang seharusnya' menjadi hari pertunangan kak Riko.
Tapi seakan tidak betah berlama-lama, atmosfer gembira yang tadi memayungi keluargaku, tiba-tiba sama menguap. sesaat setelah kak Riko menerima telfon yang entah dari siapa dan tanda ba-bi-bu lagi ia segera menyambar kunci mobilnya lalu pergi begitu saja. Tanpa ucapan 'assalamualaikum' yang biasanya tak pernah luput tertasbih dari bibirnya saat hendak pergi atau kembali kerumah.
Detik berikutnya otakku langsung gencar mencetuskan berbagai pertanyaan? Ada apa sebenarnya? Siapa ya menelfon kak Riko? Apa yang dibicarakannya dengan kak Riko?
Setelah bergulat dengan rasa was-was dan khawatir, akhirnya aku bisa sedikit bernafas lega, saat sekitar dua jam berikutnya lamat-lamat suara mobil kak Riko terdengar memasuki halaman rumah kami.
Aku, Acha dan bunda segera menyongsong kedatangan kak Riko dengan setengah berlari keluar. Baru sampai diambang pintu, kami bertiga kompak membatu.
Terlihat, sebuah mobil berwarna putih mengekor dibelakang mobil kak Riko, sirinenya yang khas mampu menggetarkan tubuh. Bunyi itu terdengar lebih mencekam dari gaungan petir, sentakan guntur ataupun teriakkan halilintar.
Perlahan, kedua mobil tadi melambat sebelum akhirnya berhenti diselasar rumah kami. Kak Riko segera keluar dengan ekspresi sedih yang teramat sangat.
"bunda.." hanya satu kata itu yang sempat kak Riko ucapkan sebelum ia terduduk lemas.
"kamu kenapa, nak?" tanya bunda lembut, "berdiri sayang, ada apa?"
kak Riko nampaknya tidak perlu repot-repot menjawab. Karena potongan peristiwa berikutnya sudah bisa memaparkan jawaban, bahkan lebih dari sekedar yang ingin kami ketahui.
Lidahku kelu, tubuhku bergetar hebat, jantungku beregup kencang, saat sosok kaku itu digotong melewatiku.
"innalillahi wa innailahi rodziun." suara lirih milik bunda, seakan menjadi cambuk untuk kedua kakiku yang tadi serasa lemas dilolosi tulang belulang.
"ayaaaaaah" teriakku dan Acha bersamaan, kami menubruk dua petugas berseragam putih yang jadi menggotong jasad.....ayah kami.
"ayah bangun, ayaaah. Jangan tinggalan Acha. Ayah bangun." tangis Acha mulai pecah.
"ay-ah," kataku terbata. Ya, hanya satu kata itu yang bisa keluar dari bibirku, sisanya tercekat ditenggorokkan.
"ayah kecelakaan." suara parau kak Riko terdengar bersamaan dengan raganya yang berjalan gontai kearahku, disampingnya bunda bergerak menyerupai zombie, mata sendunya dipenuhi titik-titik air mata.
"cuaca sangat buruk menyebabkan trouble pada penerbangan. pesawat ayah gagal melakukan pendaratan darurat. Seluruh awak dan penumpang, dipastikan tewas." jelas kak Riko.
"BOHONG, BOHONG, INI BUKAN AYAH, BUKAN." raung Acha tak terima, "kak Riko, ayo bilang kak, ini semua bohong kan'" desaknya, bunda langsung memeluk Acha.
"ayah belum sempat melihatku diwisuda, padahal itu adalah harapan terbesarnya. Ayah belum sempat melihatku jadi dokter." kak Riko terus meracau, seraya memeluk erat-erat jenazah ayah.
Entah apa yang hendak dilakukannya, Acha tiba-tiba saja berlari kekamarnya. Aku hanya bisa memandangi ayunan rambut indahnya, dengan tatapan nanar. Acha memang yang paling dekat dengan ayah, dan miris rasanya melihat adik bungsuku itu begitu terguncang nampaknya. Tak berapa lama Acha kembali.
"ayah, Acha bawakan bolpoin dan rapor Acha. Ayah belum menanda-tangani rapor Acha, ayo ayah bangun. Tanda-tangani rapor Acha, Yah. Dan ini..." acha membuka sebuah majalah, "Acha udah milih, yah. Acha mau kado ini untuk ulang tahun Acha, ayah harus membelikan ya."
aku tau, Acha tidak sungguh-sungguh dengan kado yang ia minta. Karena aku melihat, Acha hanya menunjuk sederet tulisan bukan sebuah barang. Acha seperti orang hilang akal.
"aku sudah menyiapkan batik untukmu, Mas. Hari ini adalah hari pertunangan anak kita, apa kamu lupa, Mas? Segeralah bangun, jangan sampai keluarga Nugraha menunggu kita terlalu lama." kini giliran bunda yang meracau dengan nada penuh harap.
Sedangkan aku?
Entah lah, aku tidak bisa merasakan apa-apa sekarang, bahkan aku tidak bisa merasakan helaan nafasku sendiri. Limbung dan kosong seperti melayang dalam ruang hampa.
"ya Allah dimana engkau? Dimana keadilan-Mu? Mana, mana kasih sayang yang selalu Kau janjikan. Aku tidak sekuat itu, aku tidak setegar itu untuk menerima semua ujian ini."
***
Ada pepatah yang mengatakan 'kalau kamu ingin tau bagaimana seseorang hidup, maka lihatlah saat ia mati.'
Dan ayahku orang baik, sangat baik. Itu terlihat dari jumlah pelayat yang tidak henti-hentinya berdatangan, ikut melantunkan doa-doa dan penghormatan terakhir untuk ayah. Sanak saudara dan tetangga, serta teman-teman kerja ayah juga sudah berdatangan sejak kabar kepergian ayah tersebar.
Tapi aku memilih mengunci diriku dikamar. Aku tidak ingin para pelayat yang ingin mendoakan ayah, takut melihat kondisiku.
Aku baru keluar, sesaat sebelum acara pertunangan kak Riko digelar.
Ya, karena kak Shilla dan keluarganya sudah ada dirumah kami, kak Riko meminta agar pertungannya dilangsungkan didepan jenazah ayah sebelum di kebumikan.
Ah, kenapa jadi seperti ini sih? Kenapa kak Riko harus menyematkan cincin dijari gadis yang sangat dicintainya dalam suasana duku seperti ini.
Seorang ayah yang selalu berjuang, mengabaikan lelahnya untuk kami, mengapa ia tidak diberi kesempatan barang sebentar untuk menyaksikan putra kebanggaannya , bertunangan.
Aku tidak kuat, benar-benar tidak kuat. Apalagi saat kak Shilla juga ikut menangis, disela lantunan hamdallahnya, "alhamdulillah, alhamdulillah, alhamdulillah." hanya itu yang kak Shilla ucapankan setelah kak Riko menyematkan cincin dari emas putih dijari manisnya.
Aku memutuskan untuk segera kembali kekamar. Duduk disalah satu sudut kamarku, yang remang. Lamat-lamat lantunan ayat-ayat suci al-qur'an mulai terdengar kembali dari luar.
Aku merasakan sekujur tubuhku mulai nyeri dan ngilu kembali.
Tidak. Tidak boleh. Tubuhku tidak boleh nyeri dan ngilu lagi, karena sekarang tidak ada lagi, ayah yang akan dengan sabar memijitiku.
"ayaaaahh." lagi-lagi tangisku terurai, ku gigit ujung bantalku , berharap itu bisa mengurangi perih yang ku rasakan.
Sudah cukup. Cukup. Aku lelah menangis, kenapa air mata ini tak mau berhenti??
Drrt.drrt.drrt
Ponselku mulai bergetar tak nyaman dalam saku jeansku. Aku mengabaikannya, sampai getar ponsel itu berhenti dengan sendirinya. Setelah menghela nafas berulang kali, dan merasa sedikit lebih baik, aku segera mengecek ponselku.
61 panggilan tak terjawab.
Dan itu berasal dari nomor orang yang sama, Rio.
Drrt.drrt.drrt
ikon gagang telfon dengan tanda panah berarti ada panggilan masuk muncul di LCD ponselku yang ngerjap-ngerjap.
"halo." sapaku, parau.
"Ify, bagaimana keadaanmu? Aku turut berduka cita ya. Aku boleh menemuimu kan Fy, sekarang ? Ayolah Fy, berhentilah menghukumku dengan cara seperti ini. Aku sangat mengkhawatirkanmu, aku tidak mungkin membiarkanmu sendiri disaat seperti ini." orang diujung telfon sana langsung menyerocos tanpa jeda, aku malah tak yakin ia sempat menarik satu helaan nafas atau tidak, selama mengeluarkan kalimat-kalimat tadi.
"jangan pernah menemuiku."
klik
hhahaha, aku hebat bukan?
Aku jelas-jelas butuh seseorang untukku bersandar, untuk membagi tangisku, untuk menguatkanku. Tapi saat ada orang yang akan dengan suka rela meminjamkan bahunya untuk tempatku menumpahkan tangis, aku malah menampiknya dengan sangat tidak sopan.
Ya, aku baru sadar. Ternyata aku memang sangat pandai, mempersulit hidupku.
"maafkan aku, Yo." lirihku, menyesal.
Dari luar, suara tangis dan lantunan surat yasin terus membaur. Seakan berlomba-lomba untuk sampai secepat mungkin ke telingaku dan menguar kenangan-kenangan tentang ayah, yang sejak tadi sudah memberontak ingin keluar, sekuat apapun usahaku untuk tidak mengingatnya.
"kenapa ayah pergi?" lagi-lagi tiga kata itu yang terlontar dari mulutku.
Sebuah pertanyaan bodoh yang tercetus oleh otak seseorang yang didera rasa kehilangan maha dahsyat.
Sejurus kemudian, tanpa perlu diiming-imingi bujuk dan rayu, jiwaku dengan senang hati sudah berkelana, menjelajahi puzzle-puzzle kenangan yang selama hampir 18 tahun ini ku susun bersama sosok seorang ayah. Potongan-potongan kenangan manis itu muncul satu persatu, berkelebatan bak film yang sengaja diputar secara otomatis dalam otakku. Terasa sangat menyesakkan.
Ayah mendorongku diatas sepeda biru muda beroda tiga, hadiah ulang tahunku yang ke-5.
Ayah datang dalam keadaan basah kuyup, sambil menenteng satu kantong kresek dan berkata padaku, "akhirnya ayah menemukan penjual martabaknya, ini untuk putri ayah yang cantik.".
Ya Tuhan, aku ingat kejadian itu, dan aku belum sempat mengucapkan trimakasih pada ayah. Tangisku semakin deras, ku pejamkan mataku, tapi dalam gelap, kelebatan kenangan itu malah semakin nyata.
Saat ayah menggendongku diatas punggungnya, saat ayah mengajariku mengaji, mengajakku bermain hujan, membuatkan sarapan untuk Riko dan Ify kecil saat bunda sedang kedatangan tamu bulanannya.
Dan sekarang ia telah pergi, benar-benar pergi untuk selamanya. Sebelum kami bisa membalas satu pun peluh, yang metetes karena kerja kerasnya untuk kami.
Ayah...
Sekarang kami tidak akan bisa lagi melihatmu dimeja makan setiap pagi, melihatmu yang dengan sangat khusyuk' mengimami shalat berjamaah kami.
Cukup Tuhan, aku mohooon.
Ambil, ambil saja otak ini, hati ini, mata ini. Mereka, benar-benar membuatku merana. Aku tidak ingin mengingat ayah lagi, aku tidak ingin menangis, aku tidak ingin merasakan kehilangan. Ku mohon cukup, Tuhan.
***
Pancaran warna jingga keemasan dari langit sore, terpantul sempurna diatas permukaan kolam ikan kecil di pekarangan rumahku. Mentari masih semangat berpijar meski kilaunya mulai meredup dirundung lembayung senja. Bunga-bunga pukul empat berwarna merah yang tumbuh liar disekitar pagar, nampak mulai merekah indah.
Hanya saja, ada satu yang menjadi pertanyaan untukku. Mentari adalah kiblat untuk bunga kuning besar yang tumbuh berjejer rapi bersisian dengan tanaman euporbhia bunda. Bunga matahari, ya, menurut ilmu biologi yang ku pelajari, bunga ini menanggapi rangsang cahaya matahari dengan selalu tumbuh menghadap kearah datangnya sinar matahari itu sendiri, lalu bagaimana jika mentari berpulang seperti saat ini? Kemana ia akan berkiblat?
Atau ia akan layu, sama seperti aku yang langsung memutuskan untuk menyerah saat aku kehilangan arahku, kiblatku, panutanku, Ayah.
Satu, dua, tiga...
Daun-daun mangga kering mulai berjatuhan, terlalu rapuh untuk menahan terpaan angin rupanya. Bersamaan dengan gugurnya daun-daun itu, suatu cairan hangat juga terasa mulai mengalir membentuk alurnya sendiri dipipiku. Disekitarku gas-gas oksigen ku yakini masih berseliweran, tapi nampaknya hemoglobin dalam darahku kehilangan kemampuan untuk mengikatnya, hingga ku rasakan sesak memenuhi rongga dadaku.
Seminggu sudah ayah berpulang menghadap Rabb-nya, tapi sungguh, tidak sedikit pun kerelaan itu berkenan mampir dalam benakku. Aku masih sering berharap ayah tengah duduk manis dengan kopi dan korannya setiap pagi. Aku masih berharap, bisa melihat ayah mengenakan seragam pilotnya lagi. Tapi harapan itu sia-sia, dan akan selalu sia-sia.aku tau itu.
"apa dengan menangis, ayahmu akah hidup lagi, heuh? Kenapa orang-orang dirumah ini begitu bodoh, masih saja menangisi orang mati."
hei, siapa itu yang berani berkata begitu lancang. Aku segera menoleh, seorang gadis berjilbab putih gading keluar dari dalam rumah, menghampiriku yang terduduk di ayunan dibawah rimbunan daun pohon mangga.
Kak Shilla?
Sejak kapan mulut gadis itu begitu lancang??
"aku kecewa pada kalian semua." lanjutnya setelah berdiri dihadapanku.
"kalian orang-orang pintar, tapi dimana otak kalian?" aku memicing mataku, kenapa sih, dia? Kemasukan setan mulut cabe sepertinya.
"kalau dengan ditangisi ayahmu akan kembali lagi, pasti sudah sejak kemarin beliau bangkit lagi dari kuburnya, tapi mana?" lanjut kak Shilla dengan nada mencibir, kedua tangannya terlipat didada.
"kamu bicara apa sih?" tanyaku dengan nada tidak suka.
"aku bicara tentang kenyataan." jawabnya lugas. Dan tanpa memberiku kesempatan untuk menyela, kak Shilla sudah menyambung kembali kalimatnya, "aku memang bukan siapa-siapa di keluarga ini. Aku hanya.... Aku.." kak Shilla, malah mulai terbata-bata melanjutkan ucapannya, "aku hanya tidak ingin usaha tunanganku disia-siakan." lanjutnya.
Aku terdiam,semakin tidak faham apa maksud ucapan kak Shilla barusan, dan aku juga sama sekali tidak mau repot-repot memahaminya.
"lihat dirimu Alyssa Saufika Umari, kau bahkan lebih menyedihkan dari penderita AIDS yang di vonis akan segera mati dalam 2 hari" cela kak Shilla.
Aku tidak peduli, sama sekali tidak. Gadis ini sepertinya baru dijatuhi karung berisi satu ton batu tepat dikepalanya, jadilah bicaranya ngawur seperti barusan.
"kamu tau, Ify. Riko sedang berusaha mengajak kalian bangkit. Membangun kembali keluarga ini. Mengakhiri duka yang sudah berhari-hari menyelubungi rumah ini. Tapi kalian semua mengabaikannya, kalian semua lebih memilih terbenam dalam kesedihan. Sampai kapan, kalian terus seperti ini?"
Seketika, tiba-tiba kak Shilla bersimpuh ditanah, bahunya bergetar hebat dan saat ia mengangkat kepalanya,tampak riak deras sudah membanjiri paras ayunya.
"aku mohon Ify," kak Shilla beringsut, lalu bersujud menyentuh kakiku, "aku mohon jangan menangis lagi, jangaaan. Kasian Riko, ia paling tidak suka melihat keluarganya menangis. Kamu, Acha dan bunda adalah orang-orang yang sangat berarti untuknya. Ia sedang berusaha menguatkan kalian, menguatkan dirinya sendiri, tolong bantu dia. Hiks....
"kamu tau kan ia tengah menyelesaikan skripsinya, Riko akan segera sidang untuk kelulusannya, Riko butuh dukungan kalian. Jangan sampai ia gagal, kasian Riko. Dia sangat ingin meraih gelar sarjananya dan membuat ayah kalian bangga." tutur kak Shilla panjang lebar.
"kakak bangun kak, jangan seperti ini."
aku mengerti sekarang, ucapan-ucapan pedas sebelumnya adalah wujud dari kasih sayangnya yang begitu tulus untuk kakakku.
"kak Shilla, aku tau kakak sangat menyayangi kak Riko. Tapi tidak semudah itu untuk bangkit. Kami telah kehilangan seorang pemimpin yang tak tergantikan, tidak mudah untuk keluarga ini kembali seperti dulu, kak." kataku, sambil menunduk dalam-dalam.
"Ify, lalu kamu fikir untuk apa ayahmu begitu semangat mencekoki Riko dengan berbagai ilmu pengetahuan., menjejalinya dengan ilmu-ilmu agama? Itu karena ayahmu ingin mempersiapkan putranya untuk jadi seorang pemimpin yang tangguh, yang bisa diandalkan, yang pantas menggantikannya saat beliau harus pergi. Aku saja bisa mempercayai Riko, lalu kenapa kalian yang keluarganya sendiri, tidak bisa??" ujar kak Shilla, kini dengan nada yang lembut seperti biasanya.
"kamu masih punya kehidupan Fy, begitu juga dengan Acha dan bunda. Kalian harus segera melanjutkan kehidupan kalian, belum saatnya untuk berhenti sekarang. Percayalah, Tuhan selalu punya rencana dibalik setiap perkara. Dan kamu tidak akan pernah tau rencana itu indah atau buruk, kalau kamu tidak pernah berusaha untuk terus melangkah maju. Apapun yang terjadi sekarang, kita ini harus 'nrimo lan legowo, Fy. Lha wong kita ini cuma hamba, ndak punya kuasa apa-apa."
aku melirik sekilas kearah kak Shilla yang kini duduk disampingku. Aku tidak pernah tau kalau didunia ini ada orang yang kata-katanya mengandung kekuatan magic yang bisa menentramkan hati. Aku tersenyum kecil, ya mungkin beginilah wujud bidadari surga yang selalu Allah janjikan untuk pria-pria yang shaleh.
"Tuhan memberikan kehidupan untukmu didunia ini pastilah ada alasannya. Dan kewajibanmulah mencari tau apa alasan itu, tapi rasa-rasanya bukan hanya untuk dihabiskan untuk menangisi orang yang telah berpulang."
aku mencoba menyusun setiap kalimat yang diucapkan kak Shilla. Mencoba meyakininya dan menjadikannya pondasi untuk kehidupan baru yang akan segera ku jalani.
Kak Shilla, benar. Aku harus segera keluar dari belenggu kesedihan. Ayah tidak akan bangga sedikitpun kalau tau putrinya yang telah dididik tentang ikhas dari kecil, ternyata sama sekali tidak mencoba mengamalkan keikhlasan itu sendiri.
***
Embun masih bergelantungan diranting-ranting pohon, nampak berkilau diterpa cerca sinar mentari yang baru muncul malu-malu. Memang belum terasa hangat, tapi sepertinya sudah cukup untuk jadi alarm alam bagi burung-burung kecil dan ayam jago untuk mulai bersenandung riuh. Aku melirih jam tangan biru muda yang melingkari pergelangan tangan kiriku. Kombinasi jarum pendek dan jarum panjangnya menunjukkan waktu baru beranjak 20 menit dari pukul 6 pagi.
Sambil menunggu, kak Riko memanaskan mobilnya, aku menyisiri rambut Acha yang tergerai indah melewati bahunya.
"pagi Achaaaantiiik" pemuda bersenyum khas itu menyapa Acha dengan manis, "pagi kakak-kakak iparku," lanjutnya menyapa, aku dan kak Riko.
"pagi Zy." balasku, pada pria tadi, Ozy.
"siapa yang kamu maksud kakak ipar, bocah?" tanya kak Riko, sambil melipat kedua tangannya didada dan menggoyang-goyangkan kaki kanannya.
"hhehe, piss kak." Ozy malah cecengesan, sambil mengacungkan jari telunjuk dan jari tengahnya membentuh huruf V, "ish, Raissa...kamu cantik sekali dengan kacamata itu." puji Ozy, sambil tersenyum jahil.
"jangan menggodaku." balas Acha ketus.
"aku tidak akan pernah berani menggodamu. Kamu kan galak." celetuk Ozy santai.
"iiihh, Ozyyy kamu itu ya...." Acha langsung berdiri dan memukuli bahu Ozy sekenanya.
"tu kan galak." tutur Ozy, seraya menghindar dari serangan bertubi-tubi yang digencarkan Acha.
"dasar bocah." kak Riko menggeleng-gelengkan kepalanya.
"dasar orang tua." balas Ozy dan Acha kompak.aku terkekeh pelan.
"Cha, sebaiknya kita segera berangkat." saran Ozy setelah mendapat tatapan angker dari kak Riko.
"OK." Acha segera menyelempangkan tas coklatnya ke bahu, "nih..." ia mengangsurkan sebuah kotak makan kepada Ozy.
"apa ini?"
"sarapan buat Ozy. Ozy pasti langsung kesini kan setelah mengantar patung-patung ayah Ozy? Pasti Ozy belum sempat sarapan, jadi Acha buatkan roti bakar untuk Ozy." jelas Acha dengan senyum bangga. Aku tau, Acha menyiapkan roti itu sudah sejak shubuh.
"makasih ya Cha. Nanti kita makan sama-sama disekolah. Sekarang kita berangkat, yuk." ajak Ozy yang sudah bertengger diatas jok sepeda kebanggaannya.
"Acha, berangkat ya kakak-kakak, assalamualaikum." pamit Acha.
"walaikumsalam." timpalku bebarengan dengan kak Riko.
Sejurus kemudian, sepeda Ozy sudah berbelok ke kanan jalan lalu menghilang.
Hari ini, tepat 2 minggu setelah kepergian ayah. Dan kami sepakat untuk segera melanjutkan kehidupan kami. Meski kak Riko masih sering melamun, Acha masih sering menangis memeluk foto ayah, dan bunda masih sering memeluk dan menciumi baju seragam ayah. begitu pula dengan aku yang belum bisa sepenuhnya mengikhlaskan kepergian ayah. saat orang normal mampu berjalan dua atau tiga langkah dan aku hanya bisa maju setengah langkah, aku harus tetap berjalan, ya, kami harus tetap berusaha untuk maju. kami harus tetap bisa tabah, harus tetap saling menguatkan dan saling menjaga.
Karena dunia terus berputar, menggulirkan masa yang tak pernah mau menunggu. Maka ku putuskan untuk berpacu, mengimbangi gerak cepat sang waktu. Berharap, didepan sana akan segera aku temui titik penghabisan dari segala ujian ini.
"kamu yakin Fy, akan masuk sekolah hari ini?" pertanyaan dari kak Riko, berhasil menyita perhatianku yang tadinya ku curahkan pada sepasang burung kecil yang tengah mengepak-ngepakkan sayapnya yang kecoklatan.
"walaupun tidak ada dirukun islam, menuntut ilmu itu hukumnya wajib kan kak ?? Jadi untuk apa aku tidak yakin dalam menunaikan kewajiban." balasku mantap.
Aku benar-benar sedang menata hati, mempertebal benteng pertahananku, dan pertanyaan semacam tadi benar-benar tidak ingin ku dengar.
"apa....kamu sudah...siap, bertemu Rio ?"
aku tersenyum tipis.
"siap ataupun tidak, aku tidak bisa terus menghindarinya kan? Dulu aku berharap kondisiku akan membaik, jadi ku putuskan untuk tidak menemui Rio dulu sebelum aku sembuh. Tapi rasanya, untuk sembuh seperti dulu lagi akan sangat sulit, jadi ya, barangkali ini memang saatnya aku menemui Rio. Kalau dia masih mau menerimaku dengan keadaan seperti inh, aku akan sangat bersyukur. Tapi kalaupun tidak, mungkin Rio memang bukan jodohku."
"Rio pasti akan menerimamu. Kamu cantik, kamu juga baik, tidak ada alasan untuknya menyia-nyiakanmu." tandas kak Riko.
"wah, kalau begitu kakak lupa. Diluar sana bahkan banyak sekali gadis yang lebih baik dan jauh lebih cantik dariku, yang mengharapkan Rio."
"tapi Rio kan sangat menyayangimu ?"
"ya, aku harap juga masih begitu." balasku, sedikit ragu, "kak, bunda bagaimana ? Apa tidak apa-apa kalau kita...."
"jangan khawatir, Fy," sela kak Riko, memotong kalimatku yang memang enggan untuk ku perjelas, "kakek sudah menyuruh bunda untuk mengurus usaha percetakannya yang di Jogja. Jadi mulai lusa bunda sudah aku sibuk dengan aktivitas barunya."
"oh, syukurlah kalau begitu. Ya, sudah. Berangkat yuk, kak."
"OK. Sebentar ya, kakak pamitan dulu sama bunda." kak Riko segera memasuki rumah.
Aku mengecek kembali penampilan baruku, rok abu dan kemeja putih panjang, serta jilbab putih yang membungkus rapi mahkotaku, lalu kacamata yang sama dengan yang dikenakan Acha, untuk menyarukan mata kami yang masih sedikit terlihat sembab.
"tidak terlalu buruk." batinku, menghibur diri sendiri.
"ayo Fy, berangkat." ajak kak Riko. Aku menurut, segera memasuki sedan putih metallic, hadiah ulang tahun ke-17 kak Riko.
***
Aku menghirup udara, sebanyak mungkin. Aku gugup. Rasanya ingin sekali meninta kak Riko putar-balik, dan kembali kerumah. Keberanianku tiba-tiba saja menciut, hatiku mencelos, saat menatapi gedung bertingkat tiga didepan sana. Gerombolan siswa berseragam putih abu seperti aku, mulai memasuki gerbang gedung ber-plang SMA Budi Dharma, itu. Entahlah, apa reaksi siswa-siswa itu kalau aku masuk kesana. Aku tidak bisa membayangkannya, tapi..... bismillahhirrohmanirrohim...
Dengan menyebut nama-Mu Ya Allah, semoga segalanya Engkau permudah.
"Fy..." panggil Kak Riko, aku menoleh, "berjuang ya dek, kakak selalu mendoakanmu." pesannya.
Aku mengangguk, lalu memamerkan seulas senyum, "aku turun ya kak, assalamuaikum." pamitku.
"walaikumsalam."
Dan detik berikutnya, terasa bergulir begitu cepat. Sekarang mau tidak mau, aku sudah berjalan menyusuri komplek sekolahku. Tempat aku menempa ilmu selama hampir 3 tahun. Ah, sudah berapa bulan, aku tidak bersekolah. Rasanya rindu juga, pada gedung bercat hijau muda ini. Awalnya, aku kira semua akan berjalan lancar, tapi ternyata tidak. TIDAK. TIDAK SAMA SEKALI.
Beberapa siswi mulai memekik ketakutan, dan sebagian lagi langsung mempercepat langkah mereka saat aku melewati koridor-koridor antar kelas.
"gila, itu orang?" celetukan itu terdengar jelas ditelingaku. Aku mencoba tetap tersenyum ramah, tapi sepertinya tidak ada satu orang pun yang berniat membalas senyumku. Mereka malah membelalakkan mata, seakan-akan aku ini alien yang wajib ditonton.
"dasar norak, apa kalian belum pernah melihat penderita Lupus." cibirku dalam hati.
"itu kak Ify? Yang anak cheers itu kan, kenapa jadi begitu??" tanya seorang adik kelas pada teman-temannya yang sedang bergerombol didepan kelas saat aku melewati mereka.
"iya, ya. Kok jadi seram begitu." komentar yang lain.
"kena tulah barang kali, ku dengar dia sering menolak pria-pria yang memintanya jadi pacar." timpal yang lain.
"kalau sudah begitu, siapa ya yang mau dengannya ?" ujar salah satu dari mereka.
"sabar Ify, sabar. Tidak usah dihiraukan." aku terus berkomat-kamit merapal berbagai kalimat penguat. Ku pererat pegangan tanganku pada tas selempang yang ku kenakan.
"itu Ify ya? Kok jelek sekali, nyesel saya pernah menyukainya." tutur seorang pemuda yang tengah melintasi ku, bersama temannya.
"pantas saja Rio sekarang lebih memilih Dea ya?" meski telah berjarak sekitar 3 meter, aku masih bisa mendengar kalimat itu.
Aku menggigit bibir bawahku. Rio dan Dea? Benarkah apa yang aku dengar tadi ?
Aku segera mempercepat ritme ayunan kedua kakiku, setengah berlari aku berbelok kekiri menuju kelasku yang berada diujung deretan kelas XII.
XII IPA 1.
Sekarang aku telah sampai. Berdiri tepat diambang pintu kelasku. Aku tidak peduli lagi dengan tatapan-tatapan menghina, kaget ataupun tidak suka yang dilayangkan hampir oleh seluruh penghuni kelas itu. Tatapan dan fikiranku, langsung tertawan oleh dua orang yang duduk berdekatan itu. Mereka tampak sangat asik bercanda, sambil tertawa mengamati entah majalah apa yang ada didepan mereka.
Rio dan Dea. Sejak kapan mereka begitu dekat. Sejak kapan Dea berani melingkarkan tangannya diatas bahu Rio, dan sejak kapan Rio menyuguhkan senyum semanis itu pada gadis lain, selain aku. Sejak kapan?
Pelan, aku mulai melangkah, menghampiri mereka berdua.
"ekhm," aku berdehem, "permisi Rio, ini tempatku." kataku berusaha sebiasa mungkin.
"ASTAGA..." pekik Rio, ia sedikit berjingkat dari kursinya saat melihatku.
Berbeda dengan Dea yang sudah sering mengunjungiku dalam kondisi seperti ini, Rio belum pernah sekalipun tau bagaimana keadaanku. Jadi wajar saja, kalau dia shock, melihat manusia seperti ku tiba-tiba berdiri dihadapannya.
Meski aku tau itu wajar. Tapi tetap saja, rasanya sakit. Sangat sakit. Hanya satu kata yang Rio ucapkan, tapi itu sudah lebih dari cukup membuatku jatuh kembali. Satu kata yang dilontarkan pria itu, Rio, orang yang sangat aku sayangi, bagai bom nuklir yang memporak-porandakan benteng pertahananku. Habislah semuanya disini !!! Desau angin yang sering mengejekku itu benar. Aku lemah. Bahkan terlalu lemah, untuk bisa menahan gelombang air mataku. Semuanya telah usai, rasanya tidak ada alasan apapun untukku terus bertahan.
Aku segera berlari, berlari, mencoba menjauh dari kenyataan. Mencoba memuntahkan pil-pil pahit yang dijejalkan secara paksa padaku, hari ini.
Aku tidak peduli, umpatan-umpatan kasar orang-orang yang tertabrak olehku. Aku terus berlari, pergi sejauh mungkin, pergi meninggalkan dunia ini kalau perlu.
***
Ternyata tidak,
kamu tidak mau menunggu kedua sayapku sembuh.
Menunggu kekuatanku kembali.
Kamu lebih memilih untuk terus terbang, menggapai anganmu.
Mengejar matahari, menyentuh bulan dan menari bersama bintang.
Sedangkan aku?
Aku akan terus disini, terpuruk dan tidak akan pernah mau mencoba untuk bangkit kembali.
karena kamu telah meninggalkan aku..
***
Dengan apa yang Kau beri
Aku terdampar disini
Tersudut menunggu mati
kenapa ada derita ??
bila bahagia tercipta
kenapa ada sang hitam ??
bila putih menyenangkan
***
"sudahlah Fy, tidak perlu mendesak Shilla seperti itu." sela kak Riko, aku tau dia juga pasti merasa sangat kecewa, "aku hargai keputusanmu Shilla, dan maaf kalau aku terlalu berani berharap lebih padamu..."
kami sama-sama terdiam untuk beberapa saat.
"ekhm," kak Shilla berdehem kecil, lalu tersenyum penuh arti, "jadi kapan kamu akan melamarku pada kedua orang tuaku??" tanyanya dengan nada menantang.
Aku yang sedari tadi menunduk memandangi rerumputan, mulai mengangkat kepalaku, begitu pula dengan kak Riko.
"ma...maksudmu??" tanya kak Riko.
"ck, masa kamu tidak mengerti sih, payah." gerutu kak Shilla, "maksudnya jadi kapan pak dokter ini akan melamarku langsung kepada orang tuaku? Kalau aku sih pasti menerimamu, tapi kan belum tentu kedua orang tuaku sejutu." jawab kak Shilla santai, sambil memamerkan senyum manisnya.
Kak Riko mulai menampakan tanda-tanda kehidupan di wajahnya, ia mulai menarik kedua sudut bibirnya, "jadi...jadi kamu menerimaku Shilla?" katanya hati-hati.
"ya, sejauh ini, aku belum menemukan alasan untuk menolakmu." balas kak Shilla.
"ah, akhirnya," ujarku lega, "jadi resepsinya akan berlangsung dimana nih?" ceplosku. Baik kak Shilla ataupun kak Riko langsung terlihat salah tingkah dan tersipu-sipu.
"itu masih jauh, cantik. Riko harus mau menungguku menyesaikan kuliahku." tukas kak Shilla.
"yah itu terlama lama kak, masih 2 tahun lagi. Kalau aku keburu mati bagaimana?" celetukku asal, dan tanpa perlu diingatkan aku langsung merutuki diriku sendiri.
Bodoh kamu Fy, bodoh !!
Mengapa kata-kata semacam itu harus terlontar tanpa di proses dulu oleh otakku.
Semua langsung terdiam, senyum kak Shilla dan kak Riko seketika itu juga menguap. Aku jadi merasa sangat bersalah, sepertinya aku sudah meruntuhkan pilar-pilar kebahagian yang baru saja mencuat diantara kami.
"dek.." kak Riko duduk bersimpuh didepan kursi rodaku, dan kalau kak Riko sudah memanggilku dengan sebutan 'dek' seperti barusan itu artinya ia sedang serius.
"kamu dengar ini baik-baik. Kalau aku berjodoh dengan Shilla, kamu, dek. Kamu yang akan menjadi pendamping penganti wanitanya. Kamu akan memakai kebaya, kamu dan bunda yang akan membantuku menyiapkan semuanya dan kelak anak-anakku akan memanggilmu bibi, kamu akan menemani mereka bermain. Tolong jangan bicara seperti itu, aku sedih mendengarnya. Kamu pasti sembuh Ify, kamu pasti sembuh." tutur kak Riko penuh keyakinan.
"maafkan Ify, kak." aku memeluk kakakku, menumpahkan tangisku dipundaknya.
"jangan seperti orang tak beragama, ingat kita masih punya Tuhan, Fy. Tuhan yang tidak akan pernah tidur, dan akan selalu mendengarkan doa-doa kita." tambah kak Riko.
"iya Fy, nanti kamu yang akan membantuku memilih gaun pengantin, dan aku juga akan melakukan hal sama saat kamu dan Rio menikah. Jalanmu masih sangat panjang Fy. Banyak hal yang belum kamu raih, jadi jangan dulu patah arang ya." pesan kak Shilla, sambil mengelus rambutku, lembut.
Aku hanya mengangguk pasrah.
Hahahaha, batinku benar-benar tertawa miris.
Menikah dengan Rio?
Ya, sepertinya itu hanya akan terjadi dalam fikiran kak Shilla dan khayalanku saja.
Masih dalam pelukan kak Riko, ku alih pandanganku pada langit kelam diatas sana. Bulan itu, ternyata ia masih bertahan disana. Ah, malam benar-benar tertolong dengan kehadirannya, jadi tidak terlalu mencekam meski gelap mendominasi setiap sudut tempat ini. Bulan itu, apakah Rio juga sedang memandanginya, sama seperti aku saat ini? Masihkah ia menggantungkan mimpi-mimpi kecil beserta doa dan harapan untuk hari esok, seperti yang sering kami lakukan selama ini.
Kalau iya, bulan....
Tolong sampaikan padanya bahwa aku sangat merindukannya.
Sangat, sangat, sangaaat merindunya.
***
Aku selalu berusaha untuk bisa mengimbangi kepak sayapmu.
mengantarkanmu terbang menjelajahi dunia.
ku kerahkan seluruh kekuatanku untuk melawan dera angin yang akan menghalau perjalananmu.
Berdua kita arungi masa.
Lalu, maukah sejenak kau berhenti saat ku rapuh, saat kedua sayapku melemah, dan hampir patah?
Maukah kau menungguku saat ku lelah?
Mau kah? Masih mau kah?
***
Takkan selamanya tanganku mendekapmu
Takkan selamanya raga ini menjagamu
Seperti alunan detak jantungku
Tak bertahan melawan waktu
Dan semua keindahan yang memudar
Atau cinta yang telah hilang
Biarkan aku bernafas sejenak
Sebelum hilang
Tak 'kan selamanya
tanganku mendekapmu
Tak 'kan selamanya
Raga ini menjagamu
Jiwa yang lama segera pergi
Bersiaplah para pengganti...
Tak ada yang abadi
Tak ada yang abadi
Tak ada yang abadi
Tak ada yang abadi...
***
setelah satu minggu aku terpenjarakan dalam ruang serba putih itu, kamar anggrek no 24. Hari ini aku diizinkan pulang. Kondisiku berangsur membaik, lagi pula hari ini adalah hari 'yang seharusnya' menjadi hari pertunangan kak Riko.
Tapi seakan tidak betah berlama-lama, atmosfer gembira yang tadi memayungi keluargaku, tiba-tiba sama menguap. sesaat setelah kak Riko menerima telfon yang entah dari siapa dan tanda ba-bi-bu lagi ia segera menyambar kunci mobilnya lalu pergi begitu saja. Tanpa ucapan 'assalamualaikum' yang biasanya tak pernah luput tertasbih dari bibirnya saat hendak pergi atau kembali kerumah.
Detik berikutnya otakku langsung gencar mencetuskan berbagai pertanyaan? Ada apa sebenarnya? Siapa ya menelfon kak Riko? Apa yang dibicarakannya dengan kak Riko?
Setelah bergulat dengan rasa was-was dan khawatir, akhirnya aku bisa sedikit bernafas lega, saat sekitar dua jam berikutnya lamat-lamat suara mobil kak Riko terdengar memasuki halaman rumah kami.
Aku, Acha dan bunda segera menyongsong kedatangan kak Riko dengan setengah berlari keluar. Baru sampai diambang pintu, kami bertiga kompak membatu.
Terlihat, sebuah mobil berwarna putih mengekor dibelakang mobil kak Riko, sirinenya yang khas mampu menggetarkan tubuh. Bunyi itu terdengar lebih mencekam dari gaungan petir, sentakan guntur ataupun teriakkan halilintar.
Perlahan, kedua mobil tadi melambat sebelum akhirnya berhenti diselasar rumah kami. Kak Riko segera keluar dengan ekspresi sedih yang teramat sangat.
"bunda.." hanya satu kata itu yang sempat kak Riko ucapkan sebelum ia terduduk lemas.
"kamu kenapa, nak?" tanya bunda lembut, "berdiri sayang, ada apa?"
kak Riko nampaknya tidak perlu repot-repot menjawab. Karena potongan peristiwa berikutnya sudah bisa memaparkan jawaban, bahkan lebih dari sekedar yang ingin kami ketahui.
Lidahku kelu, tubuhku bergetar hebat, jantungku beregup kencang, saat sosok kaku itu digotong melewatiku.
"innalillahi wa innailahi rodziun." suara lirih milik bunda, seakan menjadi cambuk untuk kedua kakiku yang tadi serasa lemas dilolosi tulang belulang.
"ayaaaaaah" teriakku dan Acha bersamaan, kami menubruk dua petugas berseragam putih yang jadi menggotong jasad.....ayah kami.
"ayah bangun, ayaaah. Jangan tinggalan Acha. Ayah bangun." tangis Acha mulai pecah.
"ay-ah," kataku terbata. Ya, hanya satu kata itu yang bisa keluar dari bibirku, sisanya tercekat ditenggorokkan.
"ayah kecelakaan." suara parau kak Riko terdengar bersamaan dengan raganya yang berjalan gontai kearahku, disampingnya bunda bergerak menyerupai zombie, mata sendunya dipenuhi titik-titik air mata.
"cuaca sangat buruk menyebabkan trouble pada penerbangan. pesawat ayah gagal melakukan pendaratan darurat. Seluruh awak dan penumpang, dipastikan tewas." jelas kak Riko.
"BOHONG, BOHONG, INI BUKAN AYAH, BUKAN." raung Acha tak terima, "kak Riko, ayo bilang kak, ini semua bohong kan'" desaknya, bunda langsung memeluk Acha.
"ayah belum sempat melihatku diwisuda, padahal itu adalah harapan terbesarnya. Ayah belum sempat melihatku jadi dokter." kak Riko terus meracau, seraya memeluk erat-erat jenazah ayah.
Entah apa yang hendak dilakukannya, Acha tiba-tiba saja berlari kekamarnya. Aku hanya bisa memandangi ayunan rambut indahnya, dengan tatapan nanar. Acha memang yang paling dekat dengan ayah, dan miris rasanya melihat adik bungsuku itu begitu terguncang nampaknya. Tak berapa lama Acha kembali.
"ayah, Acha bawakan bolpoin dan rapor Acha. Ayah belum menanda-tangani rapor Acha, ayo ayah bangun. Tanda-tangani rapor Acha, Yah. Dan ini..." acha membuka sebuah majalah, "Acha udah milih, yah. Acha mau kado ini untuk ulang tahun Acha, ayah harus membelikan ya."
aku tau, Acha tidak sungguh-sungguh dengan kado yang ia minta. Karena aku melihat, Acha hanya menunjuk sederet tulisan bukan sebuah barang. Acha seperti orang hilang akal.
"aku sudah menyiapkan batik untukmu, Mas. Hari ini adalah hari pertunangan anak kita, apa kamu lupa, Mas? Segeralah bangun, jangan sampai keluarga Nugraha menunggu kita terlalu lama." kini giliran bunda yang meracau dengan nada penuh harap.
Sedangkan aku?
Entah lah, aku tidak bisa merasakan apa-apa sekarang, bahkan aku tidak bisa merasakan helaan nafasku sendiri. Limbung dan kosong seperti melayang dalam ruang hampa.
"ya Allah dimana engkau? Dimana keadilan-Mu? Mana, mana kasih sayang yang selalu Kau janjikan. Aku tidak sekuat itu, aku tidak setegar itu untuk menerima semua ujian ini."
***
Ada pepatah yang mengatakan 'kalau kamu ingin tau bagaimana seseorang hidup, maka lihatlah saat ia mati.'
Dan ayahku orang baik, sangat baik. Itu terlihat dari jumlah pelayat yang tidak henti-hentinya berdatangan, ikut melantunkan doa-doa dan penghormatan terakhir untuk ayah. Sanak saudara dan tetangga, serta teman-teman kerja ayah juga sudah berdatangan sejak kabar kepergian ayah tersebar.
Tapi aku memilih mengunci diriku dikamar. Aku tidak ingin para pelayat yang ingin mendoakan ayah, takut melihat kondisiku.
Aku baru keluar, sesaat sebelum acara pertunangan kak Riko digelar.
Ya, karena kak Shilla dan keluarganya sudah ada dirumah kami, kak Riko meminta agar pertungannya dilangsungkan didepan jenazah ayah sebelum di kebumikan.
Ah, kenapa jadi seperti ini sih? Kenapa kak Riko harus menyematkan cincin dijari gadis yang sangat dicintainya dalam suasana duku seperti ini.
Seorang ayah yang selalu berjuang, mengabaikan lelahnya untuk kami, mengapa ia tidak diberi kesempatan barang sebentar untuk menyaksikan putra kebanggaannya , bertunangan.
Aku tidak kuat, benar-benar tidak kuat. Apalagi saat kak Shilla juga ikut menangis, disela lantunan hamdallahnya, "alhamdulillah, alhamdulillah, alhamdulillah." hanya itu yang kak Shilla ucapankan setelah kak Riko menyematkan cincin dari emas putih dijari manisnya.
Aku memutuskan untuk segera kembali kekamar. Duduk disalah satu sudut kamarku, yang remang. Lamat-lamat lantunan ayat-ayat suci al-qur'an mulai terdengar kembali dari luar.
Aku merasakan sekujur tubuhku mulai nyeri dan ngilu kembali.
Tidak. Tidak boleh. Tubuhku tidak boleh nyeri dan ngilu lagi, karena sekarang tidak ada lagi, ayah yang akan dengan sabar memijitiku.
"ayaaaahh." lagi-lagi tangisku terurai, ku gigit ujung bantalku , berharap itu bisa mengurangi perih yang ku rasakan.
Sudah cukup. Cukup. Aku lelah menangis, kenapa air mata ini tak mau berhenti??
Drrt.drrt.drrt
Ponselku mulai bergetar tak nyaman dalam saku jeansku. Aku mengabaikannya, sampai getar ponsel itu berhenti dengan sendirinya. Setelah menghela nafas berulang kali, dan merasa sedikit lebih baik, aku segera mengecek ponselku.
61 panggilan tak terjawab.
Dan itu berasal dari nomor orang yang sama, Rio.
Drrt.drrt.drrt
ikon gagang telfon dengan tanda panah berarti ada panggilan masuk muncul di LCD ponselku yang ngerjap-ngerjap.
"halo." sapaku, parau.
"Ify, bagaimana keadaanmu? Aku turut berduka cita ya. Aku boleh menemuimu kan Fy, sekarang ? Ayolah Fy, berhentilah menghukumku dengan cara seperti ini. Aku sangat mengkhawatirkanmu, aku tidak mungkin membiarkanmu sendiri disaat seperti ini." orang diujung telfon sana langsung menyerocos tanpa jeda, aku malah tak yakin ia sempat menarik satu helaan nafas atau tidak, selama mengeluarkan kalimat-kalimat tadi.
"jangan pernah menemuiku."
klik
hhahaha, aku hebat bukan?
Aku jelas-jelas butuh seseorang untukku bersandar, untuk membagi tangisku, untuk menguatkanku. Tapi saat ada orang yang akan dengan suka rela meminjamkan bahunya untuk tempatku menumpahkan tangis, aku malah menampiknya dengan sangat tidak sopan.
Ya, aku baru sadar. Ternyata aku memang sangat pandai, mempersulit hidupku.
"maafkan aku, Yo." lirihku, menyesal.
Dari luar, suara tangis dan lantunan surat yasin terus membaur. Seakan berlomba-lomba untuk sampai secepat mungkin ke telingaku dan menguar kenangan-kenangan tentang ayah, yang sejak tadi sudah memberontak ingin keluar, sekuat apapun usahaku untuk tidak mengingatnya.
"kenapa ayah pergi?" lagi-lagi tiga kata itu yang terlontar dari mulutku.
Sebuah pertanyaan bodoh yang tercetus oleh otak seseorang yang didera rasa kehilangan maha dahsyat.
Sejurus kemudian, tanpa perlu diiming-imingi bujuk dan rayu, jiwaku dengan senang hati sudah berkelana, menjelajahi puzzle-puzzle kenangan yang selama hampir 18 tahun ini ku susun bersama sosok seorang ayah. Potongan-potongan kenangan manis itu muncul satu persatu, berkelebatan bak film yang sengaja diputar secara otomatis dalam otakku. Terasa sangat menyesakkan.
Ayah mendorongku diatas sepeda biru muda beroda tiga, hadiah ulang tahunku yang ke-5.
Ayah datang dalam keadaan basah kuyup, sambil menenteng satu kantong kresek dan berkata padaku, "akhirnya ayah menemukan penjual martabaknya, ini untuk putri ayah yang cantik.".
Ya Tuhan, aku ingat kejadian itu, dan aku belum sempat mengucapkan trimakasih pada ayah. Tangisku semakin deras, ku pejamkan mataku, tapi dalam gelap, kelebatan kenangan itu malah semakin nyata.
Saat ayah menggendongku diatas punggungnya, saat ayah mengajariku mengaji, mengajakku bermain hujan, membuatkan sarapan untuk Riko dan Ify kecil saat bunda sedang kedatangan tamu bulanannya.
Dan sekarang ia telah pergi, benar-benar pergi untuk selamanya. Sebelum kami bisa membalas satu pun peluh, yang metetes karena kerja kerasnya untuk kami.
Ayah...
Sekarang kami tidak akan bisa lagi melihatmu dimeja makan setiap pagi, melihatmu yang dengan sangat khusyuk' mengimami shalat berjamaah kami.
Cukup Tuhan, aku mohooon.
Ambil, ambil saja otak ini, hati ini, mata ini. Mereka, benar-benar membuatku merana. Aku tidak ingin mengingat ayah lagi, aku tidak ingin menangis, aku tidak ingin merasakan kehilangan. Ku mohon cukup, Tuhan.
***
Pancaran warna jingga keemasan dari langit sore, terpantul sempurna diatas permukaan kolam ikan kecil di pekarangan rumahku. Mentari masih semangat berpijar meski kilaunya mulai meredup dirundung lembayung senja. Bunga-bunga pukul empat berwarna merah yang tumbuh liar disekitar pagar, nampak mulai merekah indah.
Hanya saja, ada satu yang menjadi pertanyaan untukku. Mentari adalah kiblat untuk bunga kuning besar yang tumbuh berjejer rapi bersisian dengan tanaman euporbhia bunda. Bunga matahari, ya, menurut ilmu biologi yang ku pelajari, bunga ini menanggapi rangsang cahaya matahari dengan selalu tumbuh menghadap kearah datangnya sinar matahari itu sendiri, lalu bagaimana jika mentari berpulang seperti saat ini? Kemana ia akan berkiblat?
Atau ia akan layu, sama seperti aku yang langsung memutuskan untuk menyerah saat aku kehilangan arahku, kiblatku, panutanku, Ayah.
Satu, dua, tiga...
Daun-daun mangga kering mulai berjatuhan, terlalu rapuh untuk menahan terpaan angin rupanya. Bersamaan dengan gugurnya daun-daun itu, suatu cairan hangat juga terasa mulai mengalir membentuk alurnya sendiri dipipiku. Disekitarku gas-gas oksigen ku yakini masih berseliweran, tapi nampaknya hemoglobin dalam darahku kehilangan kemampuan untuk mengikatnya, hingga ku rasakan sesak memenuhi rongga dadaku.
Seminggu sudah ayah berpulang menghadap Rabb-nya, tapi sungguh, tidak sedikit pun kerelaan itu berkenan mampir dalam benakku. Aku masih sering berharap ayah tengah duduk manis dengan kopi dan korannya setiap pagi. Aku masih berharap, bisa melihat ayah mengenakan seragam pilotnya lagi. Tapi harapan itu sia-sia, dan akan selalu sia-sia.aku tau itu.
"apa dengan menangis, ayahmu akah hidup lagi, heuh? Kenapa orang-orang dirumah ini begitu bodoh, masih saja menangisi orang mati."
hei, siapa itu yang berani berkata begitu lancang. Aku segera menoleh, seorang gadis berjilbab putih gading keluar dari dalam rumah, menghampiriku yang terduduk di ayunan dibawah rimbunan daun pohon mangga.
Kak Shilla?
Sejak kapan mulut gadis itu begitu lancang??
"aku kecewa pada kalian semua." lanjutnya setelah berdiri dihadapanku.
"kalian orang-orang pintar, tapi dimana otak kalian?" aku memicing mataku, kenapa sih, dia? Kemasukan setan mulut cabe sepertinya.
"kalau dengan ditangisi ayahmu akan kembali lagi, pasti sudah sejak kemarin beliau bangkit lagi dari kuburnya, tapi mana?" lanjut kak Shilla dengan nada mencibir, kedua tangannya terlipat didada.
"kamu bicara apa sih?" tanyaku dengan nada tidak suka.
"aku bicara tentang kenyataan." jawabnya lugas. Dan tanpa memberiku kesempatan untuk menyela, kak Shilla sudah menyambung kembali kalimatnya, "aku memang bukan siapa-siapa di keluarga ini. Aku hanya.... Aku.." kak Shilla, malah mulai terbata-bata melanjutkan ucapannya, "aku hanya tidak ingin usaha tunanganku disia-siakan." lanjutnya.
Aku terdiam,semakin tidak faham apa maksud ucapan kak Shilla barusan, dan aku juga sama sekali tidak mau repot-repot memahaminya.
"lihat dirimu Alyssa Saufika Umari, kau bahkan lebih menyedihkan dari penderita AIDS yang di vonis akan segera mati dalam 2 hari" cela kak Shilla.
Aku tidak peduli, sama sekali tidak. Gadis ini sepertinya baru dijatuhi karung berisi satu ton batu tepat dikepalanya, jadilah bicaranya ngawur seperti barusan.
"kamu tau, Ify. Riko sedang berusaha mengajak kalian bangkit. Membangun kembali keluarga ini. Mengakhiri duka yang sudah berhari-hari menyelubungi rumah ini. Tapi kalian semua mengabaikannya, kalian semua lebih memilih terbenam dalam kesedihan. Sampai kapan, kalian terus seperti ini?"
Seketika, tiba-tiba kak Shilla bersimpuh ditanah, bahunya bergetar hebat dan saat ia mengangkat kepalanya,tampak riak deras sudah membanjiri paras ayunya.
"aku mohon Ify," kak Shilla beringsut, lalu bersujud menyentuh kakiku, "aku mohon jangan menangis lagi, jangaaan. Kasian Riko, ia paling tidak suka melihat keluarganya menangis. Kamu, Acha dan bunda adalah orang-orang yang sangat berarti untuknya. Ia sedang berusaha menguatkan kalian, menguatkan dirinya sendiri, tolong bantu dia. Hiks....
"kamu tau kan ia tengah menyelesaikan skripsinya, Riko akan segera sidang untuk kelulusannya, Riko butuh dukungan kalian. Jangan sampai ia gagal, kasian Riko. Dia sangat ingin meraih gelar sarjananya dan membuat ayah kalian bangga." tutur kak Shilla panjang lebar.
"kakak bangun kak, jangan seperti ini."
aku mengerti sekarang, ucapan-ucapan pedas sebelumnya adalah wujud dari kasih sayangnya yang begitu tulus untuk kakakku.
"kak Shilla, aku tau kakak sangat menyayangi kak Riko. Tapi tidak semudah itu untuk bangkit. Kami telah kehilangan seorang pemimpin yang tak tergantikan, tidak mudah untuk keluarga ini kembali seperti dulu, kak." kataku, sambil menunduk dalam-dalam.
"Ify, lalu kamu fikir untuk apa ayahmu begitu semangat mencekoki Riko dengan berbagai ilmu pengetahuan., menjejalinya dengan ilmu-ilmu agama? Itu karena ayahmu ingin mempersiapkan putranya untuk jadi seorang pemimpin yang tangguh, yang bisa diandalkan, yang pantas menggantikannya saat beliau harus pergi. Aku saja bisa mempercayai Riko, lalu kenapa kalian yang keluarganya sendiri, tidak bisa??" ujar kak Shilla, kini dengan nada yang lembut seperti biasanya.
"kamu masih punya kehidupan Fy, begitu juga dengan Acha dan bunda. Kalian harus segera melanjutkan kehidupan kalian, belum saatnya untuk berhenti sekarang. Percayalah, Tuhan selalu punya rencana dibalik setiap perkara. Dan kamu tidak akan pernah tau rencana itu indah atau buruk, kalau kamu tidak pernah berusaha untuk terus melangkah maju. Apapun yang terjadi sekarang, kita ini harus 'nrimo lan legowo, Fy. Lha wong kita ini cuma hamba, ndak punya kuasa apa-apa."
aku melirik sekilas kearah kak Shilla yang kini duduk disampingku. Aku tidak pernah tau kalau didunia ini ada orang yang kata-katanya mengandung kekuatan magic yang bisa menentramkan hati. Aku tersenyum kecil, ya mungkin beginilah wujud bidadari surga yang selalu Allah janjikan untuk pria-pria yang shaleh.
"Tuhan memberikan kehidupan untukmu didunia ini pastilah ada alasannya. Dan kewajibanmulah mencari tau apa alasan itu, tapi rasa-rasanya bukan hanya untuk dihabiskan untuk menangisi orang yang telah berpulang."
aku mencoba menyusun setiap kalimat yang diucapkan kak Shilla. Mencoba meyakininya dan menjadikannya pondasi untuk kehidupan baru yang akan segera ku jalani.
Kak Shilla, benar. Aku harus segera keluar dari belenggu kesedihan. Ayah tidak akan bangga sedikitpun kalau tau putrinya yang telah dididik tentang ikhas dari kecil, ternyata sama sekali tidak mencoba mengamalkan keikhlasan itu sendiri.
***
Embun masih bergelantungan diranting-ranting pohon, nampak berkilau diterpa cerca sinar mentari yang baru muncul malu-malu. Memang belum terasa hangat, tapi sepertinya sudah cukup untuk jadi alarm alam bagi burung-burung kecil dan ayam jago untuk mulai bersenandung riuh. Aku melirih jam tangan biru muda yang melingkari pergelangan tangan kiriku. Kombinasi jarum pendek dan jarum panjangnya menunjukkan waktu baru beranjak 20 menit dari pukul 6 pagi.
Sambil menunggu, kak Riko memanaskan mobilnya, aku menyisiri rambut Acha yang tergerai indah melewati bahunya.
"pagi Achaaaantiiik" pemuda bersenyum khas itu menyapa Acha dengan manis, "pagi kakak-kakak iparku," lanjutnya menyapa, aku dan kak Riko.
"pagi Zy." balasku, pada pria tadi, Ozy.
"siapa yang kamu maksud kakak ipar, bocah?" tanya kak Riko, sambil melipat kedua tangannya didada dan menggoyang-goyangkan kaki kanannya.
"hhehe, piss kak." Ozy malah cecengesan, sambil mengacungkan jari telunjuk dan jari tengahnya membentuh huruf V, "ish, Raissa...kamu cantik sekali dengan kacamata itu." puji Ozy, sambil tersenyum jahil.
"jangan menggodaku." balas Acha ketus.
"aku tidak akan pernah berani menggodamu. Kamu kan galak." celetuk Ozy santai.
"iiihh, Ozyyy kamu itu ya...." Acha langsung berdiri dan memukuli bahu Ozy sekenanya.
"tu kan galak." tutur Ozy, seraya menghindar dari serangan bertubi-tubi yang digencarkan Acha.
"dasar bocah." kak Riko menggeleng-gelengkan kepalanya.
"dasar orang tua." balas Ozy dan Acha kompak.aku terkekeh pelan.
"Cha, sebaiknya kita segera berangkat." saran Ozy setelah mendapat tatapan angker dari kak Riko.
"OK." Acha segera menyelempangkan tas coklatnya ke bahu, "nih..." ia mengangsurkan sebuah kotak makan kepada Ozy.
"apa ini?"
"sarapan buat Ozy. Ozy pasti langsung kesini kan setelah mengantar patung-patung ayah Ozy? Pasti Ozy belum sempat sarapan, jadi Acha buatkan roti bakar untuk Ozy." jelas Acha dengan senyum bangga. Aku tau, Acha menyiapkan roti itu sudah sejak shubuh.
"makasih ya Cha. Nanti kita makan sama-sama disekolah. Sekarang kita berangkat, yuk." ajak Ozy yang sudah bertengger diatas jok sepeda kebanggaannya.
"Acha, berangkat ya kakak-kakak, assalamualaikum." pamit Acha.
"walaikumsalam." timpalku bebarengan dengan kak Riko.
Sejurus kemudian, sepeda Ozy sudah berbelok ke kanan jalan lalu menghilang.
Hari ini, tepat 2 minggu setelah kepergian ayah. Dan kami sepakat untuk segera melanjutkan kehidupan kami. Meski kak Riko masih sering melamun, Acha masih sering menangis memeluk foto ayah, dan bunda masih sering memeluk dan menciumi baju seragam ayah. begitu pula dengan aku yang belum bisa sepenuhnya mengikhlaskan kepergian ayah. saat orang normal mampu berjalan dua atau tiga langkah dan aku hanya bisa maju setengah langkah, aku harus tetap berjalan, ya, kami harus tetap berusaha untuk maju. kami harus tetap bisa tabah, harus tetap saling menguatkan dan saling menjaga.
Karena dunia terus berputar, menggulirkan masa yang tak pernah mau menunggu. Maka ku putuskan untuk berpacu, mengimbangi gerak cepat sang waktu. Berharap, didepan sana akan segera aku temui titik penghabisan dari segala ujian ini.
"kamu yakin Fy, akan masuk sekolah hari ini?" pertanyaan dari kak Riko, berhasil menyita perhatianku yang tadinya ku curahkan pada sepasang burung kecil yang tengah mengepak-ngepakkan sayapnya yang kecoklatan.
"walaupun tidak ada dirukun islam, menuntut ilmu itu hukumnya wajib kan kak ?? Jadi untuk apa aku tidak yakin dalam menunaikan kewajiban." balasku mantap.
Aku benar-benar sedang menata hati, mempertebal benteng pertahananku, dan pertanyaan semacam tadi benar-benar tidak ingin ku dengar.
"apa....kamu sudah...siap, bertemu Rio ?"
aku tersenyum tipis.
"siap ataupun tidak, aku tidak bisa terus menghindarinya kan? Dulu aku berharap kondisiku akan membaik, jadi ku putuskan untuk tidak menemui Rio dulu sebelum aku sembuh. Tapi rasanya, untuk sembuh seperti dulu lagi akan sangat sulit, jadi ya, barangkali ini memang saatnya aku menemui Rio. Kalau dia masih mau menerimaku dengan keadaan seperti inh, aku akan sangat bersyukur. Tapi kalaupun tidak, mungkin Rio memang bukan jodohku."
"Rio pasti akan menerimamu. Kamu cantik, kamu juga baik, tidak ada alasan untuknya menyia-nyiakanmu." tandas kak Riko.
"wah, kalau begitu kakak lupa. Diluar sana bahkan banyak sekali gadis yang lebih baik dan jauh lebih cantik dariku, yang mengharapkan Rio."
"tapi Rio kan sangat menyayangimu ?"
"ya, aku harap juga masih begitu." balasku, sedikit ragu, "kak, bunda bagaimana ? Apa tidak apa-apa kalau kita...."
"jangan khawatir, Fy," sela kak Riko, memotong kalimatku yang memang enggan untuk ku perjelas, "kakek sudah menyuruh bunda untuk mengurus usaha percetakannya yang di Jogja. Jadi mulai lusa bunda sudah aku sibuk dengan aktivitas barunya."
"oh, syukurlah kalau begitu. Ya, sudah. Berangkat yuk, kak."
"OK. Sebentar ya, kakak pamitan dulu sama bunda." kak Riko segera memasuki rumah.
Aku mengecek kembali penampilan baruku, rok abu dan kemeja putih panjang, serta jilbab putih yang membungkus rapi mahkotaku, lalu kacamata yang sama dengan yang dikenakan Acha, untuk menyarukan mata kami yang masih sedikit terlihat sembab.
"tidak terlalu buruk." batinku, menghibur diri sendiri.
"ayo Fy, berangkat." ajak kak Riko. Aku menurut, segera memasuki sedan putih metallic, hadiah ulang tahun ke-17 kak Riko.
***
Aku menghirup udara, sebanyak mungkin. Aku gugup. Rasanya ingin sekali meninta kak Riko putar-balik, dan kembali kerumah. Keberanianku tiba-tiba saja menciut, hatiku mencelos, saat menatapi gedung bertingkat tiga didepan sana. Gerombolan siswa berseragam putih abu seperti aku, mulai memasuki gerbang gedung ber-plang SMA Budi Dharma, itu. Entahlah, apa reaksi siswa-siswa itu kalau aku masuk kesana. Aku tidak bisa membayangkannya, tapi..... bismillahhirrohmanirrohim...
Dengan menyebut nama-Mu Ya Allah, semoga segalanya Engkau permudah.
"Fy..." panggil Kak Riko, aku menoleh, "berjuang ya dek, kakak selalu mendoakanmu." pesannya.
Aku mengangguk, lalu memamerkan seulas senyum, "aku turun ya kak, assalamuaikum." pamitku.
"walaikumsalam."
Dan detik berikutnya, terasa bergulir begitu cepat. Sekarang mau tidak mau, aku sudah berjalan menyusuri komplek sekolahku. Tempat aku menempa ilmu selama hampir 3 tahun. Ah, sudah berapa bulan, aku tidak bersekolah. Rasanya rindu juga, pada gedung bercat hijau muda ini. Awalnya, aku kira semua akan berjalan lancar, tapi ternyata tidak. TIDAK. TIDAK SAMA SEKALI.
Beberapa siswi mulai memekik ketakutan, dan sebagian lagi langsung mempercepat langkah mereka saat aku melewati koridor-koridor antar kelas.
"gila, itu orang?" celetukan itu terdengar jelas ditelingaku. Aku mencoba tetap tersenyum ramah, tapi sepertinya tidak ada satu orang pun yang berniat membalas senyumku. Mereka malah membelalakkan mata, seakan-akan aku ini alien yang wajib ditonton.
"dasar norak, apa kalian belum pernah melihat penderita Lupus." cibirku dalam hati.
"itu kak Ify? Yang anak cheers itu kan, kenapa jadi begitu??" tanya seorang adik kelas pada teman-temannya yang sedang bergerombol didepan kelas saat aku melewati mereka.
"iya, ya. Kok jadi seram begitu." komentar yang lain.
"kena tulah barang kali, ku dengar dia sering menolak pria-pria yang memintanya jadi pacar." timpal yang lain.
"kalau sudah begitu, siapa ya yang mau dengannya ?" ujar salah satu dari mereka.
"sabar Ify, sabar. Tidak usah dihiraukan." aku terus berkomat-kamit merapal berbagai kalimat penguat. Ku pererat pegangan tanganku pada tas selempang yang ku kenakan.
"itu Ify ya? Kok jelek sekali, nyesel saya pernah menyukainya." tutur seorang pemuda yang tengah melintasi ku, bersama temannya.
"pantas saja Rio sekarang lebih memilih Dea ya?" meski telah berjarak sekitar 3 meter, aku masih bisa mendengar kalimat itu.
Aku menggigit bibir bawahku. Rio dan Dea? Benarkah apa yang aku dengar tadi ?
Aku segera mempercepat ritme ayunan kedua kakiku, setengah berlari aku berbelok kekiri menuju kelasku yang berada diujung deretan kelas XII.
XII IPA 1.
Sekarang aku telah sampai. Berdiri tepat diambang pintu kelasku. Aku tidak peduli lagi dengan tatapan-tatapan menghina, kaget ataupun tidak suka yang dilayangkan hampir oleh seluruh penghuni kelas itu. Tatapan dan fikiranku, langsung tertawan oleh dua orang yang duduk berdekatan itu. Mereka tampak sangat asik bercanda, sambil tertawa mengamati entah majalah apa yang ada didepan mereka.
Rio dan Dea. Sejak kapan mereka begitu dekat. Sejak kapan Dea berani melingkarkan tangannya diatas bahu Rio, dan sejak kapan Rio menyuguhkan senyum semanis itu pada gadis lain, selain aku. Sejak kapan?
Pelan, aku mulai melangkah, menghampiri mereka berdua.
"ekhm," aku berdehem, "permisi Rio, ini tempatku." kataku berusaha sebiasa mungkin.
"ASTAGA..." pekik Rio, ia sedikit berjingkat dari kursinya saat melihatku.
Berbeda dengan Dea yang sudah sering mengunjungiku dalam kondisi seperti ini, Rio belum pernah sekalipun tau bagaimana keadaanku. Jadi wajar saja, kalau dia shock, melihat manusia seperti ku tiba-tiba berdiri dihadapannya.
Meski aku tau itu wajar. Tapi tetap saja, rasanya sakit. Sangat sakit. Hanya satu kata yang Rio ucapkan, tapi itu sudah lebih dari cukup membuatku jatuh kembali. Satu kata yang dilontarkan pria itu, Rio, orang yang sangat aku sayangi, bagai bom nuklir yang memporak-porandakan benteng pertahananku. Habislah semuanya disini !!! Desau angin yang sering mengejekku itu benar. Aku lemah. Bahkan terlalu lemah, untuk bisa menahan gelombang air mataku. Semuanya telah usai, rasanya tidak ada alasan apapun untukku terus bertahan.
Aku segera berlari, berlari, mencoba menjauh dari kenyataan. Mencoba memuntahkan pil-pil pahit yang dijejalkan secara paksa padaku, hari ini.
Aku tidak peduli, umpatan-umpatan kasar orang-orang yang tertabrak olehku. Aku terus berlari, pergi sejauh mungkin, pergi meninggalkan dunia ini kalau perlu.
***
Ternyata tidak,
kamu tidak mau menunggu kedua sayapku sembuh.
Menunggu kekuatanku kembali.
Kamu lebih memilih untuk terus terbang, menggapai anganmu.
Mengejar matahari, menyentuh bulan dan menari bersama bintang.
Sedangkan aku?
Aku akan terus disini, terpuruk dan tidak akan pernah mau mencoba untuk bangkit kembali.
karena kamu telah meninggalkan aku..
***
Label:
Adakah Yang Sempurna ?
