Tampilkan postingan dengan label Cerpen Sad Ending. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Cerpen Sad Ending. Tampilkan semua postingan

Minggu, 23 Oktober 2011

Putih Abu-Abu (cerpen)

Layaknya lembayung yang memayungi senja.

Teduh yang selalu iringi hujan.

Dan bara yang menguatkan api.

Seperti itulah, aku dan kamu, sahabatku..

Satu kesatuan yang saling melengkapi.


***


Putih abu-abu.

Perkenalan. Jabat tangan. Seulas senyum.


Tahun pertama. Mereka mengikatku dengan tali persahabatan.


Ada banyak hal didunia ini yang sulit untuk diungkapkan dengan kata-kata. Seperti halnya suhu di Ibu Kota pada siang hari ini. Entah harus berapa banyak kata banget yang harus aku bubuhkan dibelakang kata panas, agar sesuai untuk menggambarkan bagaimana garangnya matahari membakar Jakarta. Aku benar-tidak sanggup membayangkan bagaimana rasanya kalau harus tinggal di Merkurius, planet yang jaraknya paling dekat dengan Matahari. Entah, akan selegam apa kulitku yang sudah hitam ini.


Kemeja putihku sudah lengket, menempel dengan tubuh yang dibanjiri keringat. Dua kancing teratasnya sengaja kubiarkan terbukan. Bukan sok sexy, tapi... oh ayolah, siang ini benar-benar panas dan gerah. Matahari sepertinya memang sedang murka pada manusia, karena pepohonan yang selalu ingin dilihatnya dari atas sana, dienyahkan dari bumi oleh tangan-tangan tak bertanggung jawab yang hanya mementingkan perut sendiri.


Haah, kalau saja bukan karena keteledoranku sendiri yang menjatuhkan kunci mobil, pasti aku akan menolak mentah-mentah jika diharuskan berputar-putar selama hampir satu jam di area parkir seperti ini.


"Yo, sebenarnya kuncinya hilang atau lo telan sih ?" Alvin sudah berdiri dibelakangku yang sedang mengorek-ngorek tempat sampah dengan gagang sapu ijuk.


"Gue malah curiga, elo yang makan tu kunci." selorohku, menanggapi ucapannya.


"Gue nyerah deh! Udah hampir satu jam kita cari tapi nggak ada hasil. Udahlah mending pulang naik taksi aja yuk!" saran Alvin. Ia menyandarkan tubuh pada kap vios hitamku. Wajahnya sudah kuyu dan penuh peluh. Dasi abu-abu tergantung serampangan pada kerah kemeja yang tidak pernah ia masukkan.


Aku menghela napas, "Ya udah deh, yuk balik." ujarku, pasrah.


Aku merangkul pundak Alvin. Kasihan dia. Sahabatku ini memang paling tidak tahan dengan panas. Aku jadi tidak enak sudah merepotkannya.

Hari ini, kami baru resmi menjadi siswa kelas X, setelah seminggu melewati masa orientasi yang seru bersama kakak-kakak OSIS yang 'baik dan manis'. Aku belum mempunyai teman untuk dimintai tolong, jadilah hanya Alvin yang membantu mencari kunci mobilku yang jatuh, entah dimana.

Kebetulan, kalau Alvin, aku sudah berteman dekat dengannya sejak SMP.


Sekali lagi, aku melayangkan pandangan ke sekelilingku, berharap menemukan benda perak yang aku cari. Tapi memang benda itu tidak ada disekitar sini. Mataku malah bertumbuk dengan dua manik coklat gelap milik seorang siswa. Jika diperhatikan, siswa bertubuh jangkung itu, sejak tadi berdiri dibawah naungan pohon trembesi yang teduh, tak jauh dari tempatku berdiri. Siswa itu kemudian bergerak menghampiri aku dan Alvin. Aku tersenyum tipis, basa-basi agar tidak dikira sombong.


"Kalian cari ini ?" tanyanya, sembari mengangsurkan sebuah kunci berbandul bola basket yang sangat aku kenali.


Mataku berbinar, "Eh iya, itu punya gue." aku menerimanya dengan perasaan lega, "Lo temuin dimana ? Thanks banget ya." sambungku, riang.


"Tadi pagi pas gue datang, gue lihat kunci itu jatuh, ya udah gue simpan aja. Barangkali nanti ada yang kehilangan, ternyata punya kalian."


"Berarti dari tadi lo tahu dong, kita kelimpungan nyari tu kunci ? Bukannya dikembaliin dari tadi kek, malah nontonin dibawah pohon, senang ya lihat orang susah ?" gerutu Alvin, kesal.


"Gue cuma mau lihat, seberapa besar tanggung jawab anak orang kaya, atas barang titipan orang tua mereka." sahutnya, tenang.


Aku mengangguk paham, "Iya Vin, yang penting kan udah dibalikkin. Oh iya, kenalin gue Mario, panggil aja Rio. Kalau ini Alvin. Lo siapa ?"


Siswa tadi mengulurkan tangannya, "Gue Gabriel. Kita sekelas kok. Gue duduk dibelakang lo berdua."


Aku membalas uluran tangannya, "Oh iya ? Wah nice to know you, Gabriel. Dan sebagai ucapan terima kasih dari gue, lo gue traktir makan deh Yel. Kebetulan dekat-dekat sini ada cafè baru."


"Emm, traktir dikantin aja gimana ? Kalau nggak mau juga nggak apa-apa. Ucapan terima kasih dari lo juga udah cukup kok."


Aku menyernyit heran, kantin ?

Biasanya, teman-temanku yang lain akan berlomba menyebutkan cafè-cafè mahal atau restaurant ternama setiap kali aku ingin mentraktir mereka. Tapi Gabriel memilih di kantin sekolah ? Serius ?


"Jadi nggak ?" tegur Gabriel.


"Eh, iya jadi kok. Ayo Vin." aku merangkul pundak Alvin. Berdua, kami membuntuti Gabriel yang berjalan lebih dulu.


*


Delapan bulan berlalu.

Adakah yang pandai menbelenggu waktu.

Aku bahkan masih terseok menata langkahku,

tapi waktu... tak pernah kenal kata menunggu.


Aku berlari secepat kakiku bisa, menyusuri koridor-koridor panjang antar kelas yang sudah sepi. Hanya ada beberapa siswa yang masih melaksanakan tudas piket, sedang membuang sampah keluar kelas. Sepuluh menit lagi pelajaran akan dimulai, aku terlambat. Dan sialnya PR Kimia, mata pelajaran pertama hari ini, belum aku rampungkan. Dengan panik aku mempercepat ayunan langkah kedua kakiku, seraya membentuk simpul dasi dileher secara asal-asalan.


"Gaaaabb, gue nyontek PR Ki-"


Aku berteriak-teriak saat tiba dimejaku, tapi suara cemprengku segera berakhir ketika buku bersampul coklat menempel diwajahku.


"Bangga banget sih lo, mau nyontek aja pakai teriak-teriak." cibir Gabriel yang terlihat sedang berkutat dengan kamus dan LKS bahasa Inggrisnya.


"Hehe, thankyou bro."


"Hm." timpalnya singkat.


Dengan cepat, aku mengeluarkan buku tugas kimiaku. Kemudian menyalin semua tulisan kecil yang menyemut rapi khas Gabriel, kedalam buku tulisku. Dalam beberapa menit saja, aku sudah berhasil meng-copy PR Gabriel sebanyak 3 nomor.


"Elo, cepat banget deh ya, kalau urusan nyontek tugas." goda Alvin yang baru saja datang membawa sebungkus roti dan sebotol air mineral, "Ni Yel." terdengar suaranya berbicara dengan Gabriel yang duduk dibekakangku.


"Nggak usah Vin." tolak Gabriel.


Huuh. Hal seperti ini selalu terjadi hampir disetiap pagi. Gabriel entah kenapa tidak ada bosan-bosannya menolak apapun yang aku ataupun Alvin berikan. Gabriel sering datang ke sekolah tanpa sarapan dulu, katanya sih tidak sempat atau tidak lapar, tapi aku yakin dia berbohong, karena tidak jarang terdengar perutnya berbunyi ditengah jam pelajaran, ketika kelas sedang benar-benar hening. Menurut beberapa siswa mungkin itu lucu, mereka akan tertawa-tawa dan Gabriel hanya akan memasang seringai lebar. Tapi untukku dan Alvin itu sama sekali tidak lucu. Kami tahu bagaimana keadaan keluarga Gabriel. Karena itu, sekarang, aku atau Alvin akan membelikan atau mengajaknya sarapan dikantin, walaupun tidak setiap hari karena Gabriel lebih sering menolak ajakkan kami..


Tidak terasa, delapan bulan sudah, kami berteman.

Ternyata, insiden kunci mobilku dulu, adalah jembatan awal untuk perhabatan kami. Ada banyak hal yang telah kami lalui, bukan cuma suka, sering sekali selisih faham terjadi, tapi kami mencoba untuk tigak egois. Tidak memperuncing masalah dan membesar-besarkannya.


"Go Rio. Go go Rio... Go Rio. Go go Rio.. Yeah !!" Alvin yang sepertinya sudah berhasil membujuk Gabriel untuk menerima sarapan yang dibawakan untuknya, sekarang berbalik menggangguku dengan melakukan berbagai gerakan ala-ala pemandu sorak, lengkap dengan pom-pom khayalan di kedua tangannya. Pemuda sipit itu bergerak hiperaktif, bertepuk tangan dan melompat-lompat tidak jelas. Aneh sekali dia, seperti anak autis saja.


"Apaan sih lo Vin, ganggu deh!" sentakku.


"Makanya ngerjain PR tu dirumah. Lo mah malas sama bodoh dipiara sih, Yo." cela Alvin.


"Eh songong banget lo ngatain gue."


Karena kesal aku menghentikan aktivitasku, dan memilih meladeni Alvin. Pemuda itu sekarang berlari keluar, di depan pintu, ia berhenti dan menekan-nekan hidungnya sambil menjulurkan lidah. Apa tu maksudnya ? Mau menghina hidungku yang tidak mancung ? Ah sial.

Geram, ku raih botol air mineral Gabriel yang tinggal setengah, lantas ku lempar kearah Alvin. Duh, meleset.

Kemudian ganti kuambil penghapus whiteboard dan kupastikan benda ini akan mengenai salah satu bagian tubuh pemuda yang sudah mengambil ancang-ancang untuk kabur itu. Aku mengejarnya. Kami berlarian sepanjang koridor, melompati beberapa pot bunga yang sudah tertata rapi. Haah, anak kecil sekali bukan, kami ini ? Tapi percayalah, kelak hal seperti ini akan sangat dirindukan dan jadi kenangan yang tak terlupakan.


Aku masih semangat berlari, mengejar Alvin yang tertawa-tawa mengejekku. Tapi kemudian aku teringat sesuatu, aku buru-buru berbalik arah menuju kelas. Kuurungkan niat membalas Alvin, ada yang lebih krusial dari itu. PRku belum selesai !!

Aku melirik jam digital hitam yang melingkari pergelangan tanganku. Kurang 2 menit dari pukul 7 pagi. Astaga, matilah aku. Kalau sampai ketahuan Pak Jantes, aku belum membuat PR, bisa-bisa aku tidak boleh mengikuti pelajarannya hari ini.


Aku tiba dikelas dengan napas yang senin-kamis. Masih dengan mulut yang mangap-mangap karena kehabisan napas, aku menuju mejaku, "Loh buku gue mana ni ?" tanyaku karena tidak menemukan buku tugas kimiaku diatas meja.


"Ni buku lo, udah puas lari-larinya ?" Gabriel menyerahkan buku tugasku.


Aku terdiam beberapa saat, bingung mau berkata apa, "Lo tulisin PR gue Yel ?"


Gabriel tidak menjawab, hanya tersenyum kalem kemudian kembali sibuk dengan LKSnya. Gabriel melakukan itu pasti karena tidak ingin melihatku dihukum, baik sekali dia. Kalau saja kami sama-sama perempuan, aku akan langsung memeluk Gabriel. Tapi sayangnya, adegan berpelukan seperti itu terasa janggal dilakukan dua remaja laki-laki yang mengaku normal. Maka sebagai gantinya, aku membalas senyum simpul Gabriel dengan satu tepukan dipundak dan ucapan terima kasih.


Sahabat adalah mereka yang memberi mesti tak pernah kamu meminta,

dan ia tidak merasa perlu mendapat imbalan atas apa yang telah ia berikan.


*


Upacara terakhir sebelum kami menghadapi ulangan umum kenaikan kelas dan bisa ditebak, tentu saja kepala sekolah kami yang menjadi pembina upacara pagi hari ini akan dengan senang hati memberikan berbagai wejangan agar kami bersungguh-sungguh dalam mempersiapkan diri untuk ulangan umum tersebut. Aku tidak habis fikir, sudah 35 menit laki-laki botak dengan kumis lebat itu berbicari diatas podium, tapi ia tidak kehabisan kata-kata dan belum ada tanda-tanda amanat pembina upacara itu akan usai. Padahal kami para siswa, sudah sangat nelangsa berbaris dibawah guyuran sinar matahari seperti sekarang.


"Ngomong apaan sih tu orang ?" bisikku yang memang tidak ada niat secuilpun untuk memperhatikan apa yang disampaikan bapak kepala sekolah tercinta.


"Paling juga itu-itu lagi Yo yang dibahas. Bosen gue dengarnya." timpal Alvin yang berbaris didepanku.


"Memang lo pernah dengarin Vin ?" tanya Gabriel sok polos.


"Hehehe." Alvin hanya melempar cengiran kuda. Aku ikut terkikik pelan.


"..... Baiklah, seperti apa yang tadi sama sampaikan bahwa memasang atribut sekolah secara lengkap adalah salah satu bentuk disiplin menaati tata tertib, maka bagi sisa yang tidak beratribut lengkap diharapkan maju ke depan. Kalian akan diberi sanksi agar lebih disiplin." suara berat berwibawa Bapak Kepala Sekolah terdengar sampai kebelakang.


"Huuuh." Alvin mendesah, kentara. Aku menoleh, ternyata Alvin tidak mengenakan topinya. Otomatis, ia pasti harus bergabung dengan siswa-siswa lain yang tidak beratribut lengkap untuk menerima sanksi.

Alvin menunduk. Dari bahasa tubuhnya, jelas sekali ia tidak suka dengan sanksi yang akan diterimanya. Terlebih karena aku dan Gabriel mengenakan atribut lengkap. Jadi kami tidak akan menjalani hukuman bersama-sama.

Alvin sudah beranjak untuk maju, ketika tiba-tiba saja sebuah topi melayang didepan wajahku dan mendarat tepat disela-sela semak dibelakang barisan kami. Aku mencari oknum pelempar atribut sekolah itu. Gabriel. Ia membuang topinya dan merangkul pundak Alvin.


"Gue temanin." ujarnya.


Aku tersenyum haru. Tak mau kalah, akupun ikut melepas dasiku lantas melemparnya sembarangan. Beberapa siswa yang melihat aksiku, menatap heran, tapi apa peduliku ?


"Kira-kira dihukum apa ya kita ?" tanyaku seraya menerobos barisan. Berarak maju, bersama dua sahabatku.


Yang membungkuskan suka untukmu dan mau mencicipi dukamu adalah orang yang sama, sahabatmu...


***


Putih abu-abu. Larutnya perbedaan. Sejuta maaf tanpa jeda. Sayang yang sempurna.


Tahun kedua. Mereka membuatku merasa berharga dengan cara yang sederhana.


Vios hitamku berlari membelah udara. Berbalap dengan angin, melintas jalan-jalan 'tikus' untuk menuju sekolahku, secepat mungkin. Bangunan bertingkat dengan catnya yang hijau cerah, sudah berada dalam jarak pandangku. Aku tidak berani melirik jam. Aku sudah tahu, pasti kami sangat terlambat. Aku menginjak gas lebih kedalam. Ban mobilku dengan beringas menggilas aspal jalan. Terdengar bunyi decit saat rem ku injak. Viosku terhenti, "Udah ditutup Vin gerbangnya." aku menoleh pada Alvin yang duduk disampingku.


"Ya iyalah, udah jam 8, Bro. Lo kira ini gerbang puskesmas, buka sampai jam 12." seloroh Alvin.


Tin-tin-tiiiiin.


Alvin malah menekan klakson sembarang. Satpam sekolah kami keluar dari posnya. Aku menyembulkan kepala dari balik kaca mobil, "Pak bukain gerbangnya dong !!" pintaku, memelas.


"Kalian tahu sekarang jam berapa ? Sudah, lebih baik pulang lagi saja sana."


"Ya, nggak bisa gitu dong Pak, kita kan udah bayar, masa mau masuk aja nggak boleh." balas Alvin, asal.


"Hari ini saya ada ulangan Pak, please bukain." imbuhku dengan wajah berkadar memelas yang lebih tinggi dari sebelumnya.


"Harusnya kamu fikirkan itu, sebelum datang terlambat."


"Gini aja deh Pak, biar sama-sama enak mending sekarang bapak bukain gerbangnya dan nanti kami kasih uang rokok." sogok Alvin.


Pak Satpam menggeleng-gelengkan kepalanya, "Mau jadi apa kalian ? Masih muda tapi cari instannya saja. Sudah, kalian pulang sana! Saya tidak terima sogokkan kalian." putus Pak Satpam.


"Bukain aja Pak!" aku melihat tubuh jangkung Gabriel berdiri menghadap satpam berpotongan cepak tadi. Pembawaannya yang selalu tenang, sungguh-sungguh mampu menghanyutkan siapapun yang jadi lawan interaksinya.


"Tidak bisa Mas Gabriel, ini sudah peraturan sekolah. Siswa yang terlambat tidak boleh masuk." keukeuh Pak Satpam.


"Mereka nggak terlambat kok Pak, Rio dan Alvin sudah datang sejak tadi, cuma mereka pulang lagi buat ambil tugas yang ketinggalan." jawab Gabriel, berbohong.


Satpam tadi tampak menimbang, sebelum akhirnya setuju untuk membukakan gerbang. Tanpa ba-bi-bu, langsung saja ku parkirkan mobil, lalu bersama Alvin, menyusul Gabriel yang berjalan lebih dulu.


"Gabriel !!" aku memanggilnya, tapi Gabriel tidak menyahut, menoleh saja tidak.


Aku dan Alvin saling pandang. Sepertinya Gabriel sedang marah pada kami.


"Gabriel ?" aku lagi-lagi menyapa, sambil menepuk pundaknya. Tapi Gabriel menepis tanganku.


"Lo kenapa ? ngambek ? Kayak anak perawan aja sih lo." tanya Alvin to the point.


Gabriel tersenyum ganjil.


"Lo marah sama kita ?" tanyaku, ingin tahu, "Ngomong aja Yel!"


"Kemana lo berdua semalam ?" tanyanya, tiba-tiba.


Aku dan Alvin sama-sama terdiam. Tidak tahu harus menjawab apa. Aku menyikut Alvin, agar ia memberikan jawaban.


"Semalam... Gue sama Rio anu Yel, itu... Kita ke... anu..."


"Jangan coba-coba bohongin gue." tandas Gabriel, mendengar Alvin yang terbata-bata memberikan jawaban.


Alvin menghela napas, sebelum memulai kalimatnya, "Gini Yel, kemarin tu gue sama Rio ditantang anak genk motor buat balapan. Ya, dari pada disangka cemen atau pengecut akhirnya kita terima tentangan mereka. Kebetulan kita menang, ya udah deh kita parti party dicafè buat rayain. Karena udah kemalaman, kita akhirnya pilih nginap dirumah teman yang dekat-dekat situ." papar Alvin sejujur-jujurnya. Aku meng-iya-kan dengan beberapa anggukkan.


"Kalau mau ngapa-ngapain tu apa susahnya sih minta izin dulu sama keluarga kalian." balas Gabriel, ketus.


"Ya ampun Yel, anak SD juga kalau mau minta izin pilih-pilih dulu kali. Mau balapan masa minta izin ? Ya mana dikasih." seloroh Alvin.


"Ya kalau nggak dikasihpun itu karena mereka khawatir sama keselamatan kalian. Gimana kalau semalam kalian kenapa-kenapa, siapa yang repot ? Siapa yang mau nolongin kalian, rasa gengsi kalian itu ? Semalam abang lo telponin gue Yo, berkali-kali nanyain lo ada dimana, dia baru berhenti hubungin gue setelah gue bilang lo mau nginap ditempat gue semalam. Lo juga Vin. Lo udah nggak punya Mama lo, apa lo nggak takut kehilangan Oma lo juga. Beliau kerumah gue semalam, nanyain lo. Lo nggak kasihan ? Beliau udah nggak semuda dulu Vin, buat hadapin kenakalan lo." Gabriel terdiam sejenak, "Kalian sobat gue, kalian boleh minta apapun dari gue, tapi jangan paksa gue bohongin keluarga kalian." tegas Gabriel.


Sekarang aku mengerti duduk perkaranya, jadi karena ini Gabriel marah pada kami, "Maafin kita ya Yel." lirihku menyesal.


"Gue marah, kecewa, sama lo berdua. Tahu kenapa ?" Gabriel menatap aku dan Alvin bergantian, "Gue nggak pernah iri karena kalian ke sekolah pakai mobil mewah, gue nggak iri karena uang jajan kalian gede, handphone kalian canggih, sepatu kalian bagus, tapi satu yang gue iri banget. Kalian punya keluarga, punya ayah, ibu, nenek, kakak, orang-orang yang peduli dan sayang sama kalian. Gue iri sama semua itu. Lo berdua beruntung, tapi malah nggak menghargai kehadiran mereka. Coba, lo berdua tahu, gimana rasanya nggak punya keluarga kayak gue."


Aku mengerti, Gabriel pasti sangat sedih. Ia tidak pernah tahu dimana keluarganya berada. Tidak tahu siapa Mama dan Papanya. Sejak kecil, Gabriel diasuh oleh seorang janda beranak 5 yang semuanya masih berusia dibawah 10 tahun. Itulah sebabnya, Gabriel lebih sering mengalah untuk tidak sarapan dari rumah, agar adik-adiknya kebagian sarapan.

Pasti sangat menyesakkan, melihat sebayanya mendapat curahan kasih sayang dari keluarga mereka serta hidup berkecukupan. Tapi Gabriel tidak pernah mengeluh. Selalu tampak 'nrimo dengan segala vonis Tuhan atas jalan hidupnya. Kejadian pagi ini, memberikanku satu pelajaran, betapa berharganya arti sebuah keluarga, dan aku tidak akan berbuat seperti ini lagi nantinya, "Lo punya keluarga kok Yel, mulang sekarang, kita abang lo. Hehe. Iya nggak Vin ?" Aku merangkul pundak Gabriel dan Alvin.


"Yoi ! Nanti kalau lo nggak pulang-pulang kita juga pasti bakal cariin lo kok." imbuh Alvin, sambil tersenyum lebar.


Gabriel hanya tertawa. Ia tidak menambahkan apa-apa, aku pun tidak berharap ia mengatakan sesuatu. Biar hati yang mengendapkan segalanya serta mengawetkannya dalam bentuk kristal-kristal kenangan.


Kami bertiga berjalan sejajar, menyusuri koridor bisu yang jadi saksi betapa indah sebuah persahabatan.


*


When it hurts to look back and you scared to look up, you can look beside you and your best friend will be there.


Siang itu, sama saja dengan siang-siang sebelumnya. Panas dan gerah. Angin yang berpusar, rasanya terlalu lemah untuk bisa menerbangkan setumpuk dahaga yang merajai tubuh, semilir udara terlalu minim untuk menguapkan penat yang ada.

Saat ini, pukul 2 siang lewat 45 menit. Baru seperempat jam yang lalu, bel tanda berakhirnya jam pelajaran disekolahku berbunyi. Siswa-siswi yang belum ingin segera pulang, kebanyakan memilih kantin sebagai tempat herat. Beberapa terlihat sedang menyantap makanan yang mereka pesan, sedang sisanya, ada yang sekedar nongkrong atau mengobrol dengan teman-teman mereka. Aku, Alvin dan Gabriel menjadi bagian dari para penghuni kantin siang ini. Niatnya sih kami kemari untuk cari makan, tapi ternyata rasa laparku telah lari entah kemana. Aku mendadak merasa kenyang.


"Huuuh." aku mendengar Gabriel menghembuskan napas, berat.


"Lo berdua kenapa sih ?" tegur Alvin.


Aku mengangkat wajah, berhenti mengaduk-aduk kuah bakso yang kupesan. Alvin memandangiku dan Gabriel bergantian. Menyelidik. Aku melihat Gabriel menggeleng samar, kemudian menghempaskan tubuhnya kesandaran kursi.


"Lo kenapa Yel ?" aku ikut menanyainya.


Gabriel tampak ragu, tapi kemudian setelah beberapa saat, ia memutuskan untuk bercerita. Mungkin ia teringat pada janji kami bahwa tidak akan ada yang boleh disembunyikan antara satu sama lain.


"Tadi gue dipanggil wali kelas," Gabriel mulai bercerita, "Beliau bilang, nilai gue disemester 3 kemarin menurun, dan kalau gue nggak bisa memperbaikinya disemester depan, pihak sekolah akan cabut beasiswa gue. Ya... Kalian tahu kan, gue nggak mungkin bisa terusin sekolah tanpa beasiswa itu."


Oh begitu toh, masalahnya. Perkara nilai rapor memang jadi satu hal yang penting bagi Gabriel.


"Nilai lo turun pasti karena kebanyakan main sama kita ya, Yel ?" tebak Alvin.


"Ha ? Nggak kok, bukan. Mungkin karena belakangan gue juga sibuk kerja paruh waktu disalah satu cafè, jadi ya waktu belajar gue banyak ke sita."


Gabriel membungkuk, mengeluarkan selembar kertas dari dalam tasnya. Ia menyerahkan kertas itu pada Alvin yang duduk lebih dekat dengannya, "Gimana mau gue perbaiki nilai disemester depan, kalau belum apa-apa ulangan harian kimia gue dapat 75. Padahal gue udah belajar semalaman, gue bingung banget." tutur Gabriel.


"Ya elah, lo dapat 75 masih galau ? Gue aja yang nilainya stuck diangka 4 sama 5, nyantai." komentar Alvin.


"Ya jangan samain Gabriel sama lo dong Vin." sergahku.


"Ya tapi nggak usah dipikiran sampai stres gitu juga kali. Toh, kalaupun bukan bantuan dari pihak sekolah, gue atau Rio juga bisa bantu kok."


"Ck. Gue kan udah bilang berkali-kali. Gue paling nggak suka ngerepotin kalian, apalagi soal materi. Nanti kesannya gue malah kayak manfaatin kalian aja."


"Ok-ok, saran gue sih ya Yel, lo kan udah berusaha dan berdoa pastinya, ya udah serahin aja semuanya sama Tuhan. Dia tahu mana yang paling baik buat lo. Sekarang, yang penting jangan karena nilai 75 lo yang sekali ini, lo jadi down dan nggak mensyukuri nilai-nilai 100 yang lebih sering lo dapat."


Alvin selesai menyampaikan petuahnya, ia kemudian menyeruput orange jusnya sampai habis.


"Thanks ya Vin."


"Buat ?"


"Ya buat sarannya. Gue udah usaha semaksimal mungkin, apapun hasilnya ya mungkin memang segitu jatah gue dari Tuhan."


"Sip." jawab Alvin singkat, ia lantas ganti melihat kearahku, "Ini lagi, bocah satu, kenapa lo ?"


"Apanya yang kenapa ?" sahutku, sok polos.


"Gue perhatiin lo dari tadi diam aja Yo ?" tambah Gabriel.


"Nggak apa-apa kok, gue cuma lagi mikir, kayaknya gue udah nggak cocok gabung sama kalian." kataku.


Alvin memutar bola matanya, "Walaupun taraf ketampanan lo jauh dibawah kita berdua, tapi ya... nggak masalah kok, persahabatan kan nggak mentingin rupa." kelakar Alvin.


"Gue nggak bercanda Vin. Sekarang tiap kita ngumpul, lo berdua selalu bahas makalah fisika, praktikum biologi, rumus kimia, sedangkan gue ? Gue nggak nyambung sama sekali. Semuanya jadi beda sekarang."


Gabriel dan Alvin, walaupun tidak satu kelas, mereka berdua masuk jurusan IPA, hanya aku sendiri yang masuk IPS karena nilai mata pelajaran IPAku lebih kecil.


"Heran deh ya, anak-anak zaman sekarang tu pada pengin cepat tua apa gimana sih ? Hal-hal sepela aja digalauin. Yo, emang gue pernah ajuin syarat apa, kalau mau berteman sama gue itu harus nyambung tiap ngomongin pelajaran ?" ujar Alvin dengan raut kesal.


"Apa dan gimana pun keadaannya, kemarin, sekarang dan mudah-mudahan sampai nanti, kita tetap teman, Yo." imbuh Gabriel.


"Kamar lo tetap jadi basecamp kita, mobil lo tetap jadi kendaraan umum kita, PS lo tetap one for all. So, gue yakin nggak ada yang berubah." Alvin menggenapi.


Aku mengangguk kecil. Mungkin pemikiran seperti tadi memang sangat kekanak-kanakan. Seharusnya aku sadar, betapa sahabat-sahabatku adalah manusia luar biasa yang mau menerimaku apa adanya. Beserta lebih dan segunung kurangku. Mereka tidak akan berubah hanya karena perbedaan jurusan.


Dalam persahabatan. Setiap orang adalah bunga, punya hak yang sama untuk mekar dan jadi indah, dengan kelopak dan warnanya sendiri. Jangan merasa minder, hanya karena kamu berbeda.


*


Lilin angka 1 dan 7 yang dimahkotai api kecil yang meliuk-liuk digelitik angin telah padam sejak 2 jam yang lalu. Sumbu-sumbu mungilnya sudah mendingin. Kue tart sebagai tempat kedua lilin tapi tertancap pun sudah dipotong. Tapi Gabriel belum juga datang. Malam ini adalah pesta perayaan ulang tahunku yang ke-17. Acaranya cukup meriah, Mama mengaturnya dengan sangat apik. Teman-teman SMP dan SMA sampai beberapa teman SDku datang untuk memberikan ucapan selamat dan doa. Sebenarnya aku sedikit kecewa karena Gabriel tidak datang malam ini. Ia bilang, tidak punya baju yang cocok untuk datang ke pestaku. Aku sudah mendesaknya, tapi Gabriel tetap menolak, jadi ya sudahlah.


"Si Gabriel betulan nggak jadi datang ?" tanya Alvin.


"Nggak ada baju yang pantas katanya." jawabku, pelan.


"Gitu banget sih, masa cuma gara-gara baju aja nggak mau datang." dumel Alvin, "Eh, dia datang kok. Tu dia..." Alvin menunjuk kearah pintu masuk. Seorang pemuda jangkung melangkah enggan, memasuki halaman rumahku yang disulap jadi area pesta. Seperti dalam film-film, tanpa di komandoi, mendadak sebagai besar, mata para tamu undangan tertuju pada sosok Gabriel. Tapi bukan karena terpesona oleh ketampanannya, lebih karena kemeja lusuh yang Gabriel kenakan, warnanya sudah hampir pudar. Ditambah jeans belel dan sepatu tali yang bagian depannya sudah menganga. Tentu penampilan semacam ini sangat kontras dengan tamu-tamu yang lain. Dengan kepala tertunduk, ia menghampiriku.


"Joyeux anniversaire Rio."


"Mercy. Pourquoi fin ?"


"Désolé Rio. Dan kayaknya gue juga nggak bisa lama-lama deh. Ini kado buat lo," Gabriel meminta maaf atas keterlambatannya dan menyerahkan kresek hitam berukuran besar kepadaku, "Gue pamit ya Yo, Vin. Duluan!"


"Eeehh... nggak bisa. Enak banget lo, datang paling akhir, balik paling dulu. Nggak mau tahu. Pokoknya malam ini lo sama Alvin nginap disini." tegasku tak ingin dibantah.


"Ikutin aja Yel, apa maunya Rio. Hari ini kan birthday nya." Alvin menambahi.


*


Aku baru saja selesai membilas tubuh. Sambil menggosok-gosokkan handuk ke kepala agar rambutku lekas kering, aku berjalan kearah doublebed-ku. Suasana kamar ini sepi, meskipun tidak lagi dihuni olehku seorang diri, seperti biasanya. Hanya terdengar bunyi-bunyi kecil dari jari-jari Alvin yang beradu lincah dengan keypad laptopku, ia sedang memainkan salah satu game favouritenya. Dan suara lain, berasal dari halaman demi halaman majalah otomotif yang sedang dibolak-balik oleh Gabriel.

Aku bersiul santai, kemudian merebahkan tubuh keatas kasur. Hari ini lelah sekali.


"Yo !" panggil Gabriel.


"Hm ?"


"Maaf ya."


"Emang lo ada salah apa ?"


"Ya, gue datang ke acara lo pakai baju kayak gini, terlambat pula. Pasti malu-maluin lo banget kan ?"


Gabriel masih saja merasa tidak enak, walaupun aku sudah berulang kali meyakinkannya bahwa bajunya tidak begitu buruk. Aku sangat menghargai apapun yang Gabriel pakai malam ini.


"Yang penting lo masih pakai baju Yel." celetuk Alvin tanpa menoleh.


"Hahaha, benar lo Vin." aku ikut menimpali.


"Sialan lo. Eh anyway, gue mau tanya Yo."


"Apa ?"


"Emm... Soal Sivia. Lo benar pacaran sama dia ?"


Mataku melotot lebar, aku segera bangun dari tidurku, "Kata siapa ?" pekikku tak percaya, Gabriel bisa bertanya seperti itu padaku.


"Udah jujur aja," goda Alvin, "Sok kayak artis deh lo, pacaran diam-diam gitu." ceplosnya.


Aku mendelik marah, "Apaan sih lo Vin, bacot aja." sentakku, "Jangan percaya Yel. Gue temanan aja kok sama Via." ralatku.


"Serius ?"


"Ck," Alvin berdecak, lantas memutar kursinya menghadap kami setelah sebelumnya mem-pause gamenya, "Rio sama Via udah jadian Yel, dua hari yang lalu. Mereka backstreet, alasannya klise. Nggak mau bikin lo sakit hati."


"VIN !!" bentakku.


"Apa deh lo bentak-bentak, bokap gue yang ngasih uang jajan aja nggak pernah bentak gue."


"Kok lo bohong Yo ? Tadi kenapa lo bilang kalian cuma teman ?"


"Ya gue..." aku tidak tahu harus bicara apa. Kalau berterus terang pasti Gabriel akan marah kepadaku. Sivia itu adalah gadis yang disukai Gabriel sejak kelas X. Tapi kalau mesti berbohong, sudah kepalang tanggung, Alvin sudah membongkar semuanya, "Gue bohong demi kebaikan kita Yel, sementara waktu, gue tadinya nggak mau lo tahu dulu hubungan gue sama Via. Gue nggak mau lo sakit hati sama gue."



Gabriel tertawa mencibir, "Kebohongan itu nggak akan membuat apapun jadi lebih baik. Nggak ada bohong demi kebaikan. Bohong ya bohong aja. Lagi pula, gue nggak marah kok. Dua orang yang gue sayang sama-sama senang, nggak ada hal yang lebih membahagiakan buat gue. Patah hati sih pasti, gue nggak muna, tapi gue yakin kalau bukan Sivia, diluar sana Tuhan udah siapin gadis yang terbaik buat gue." Gabriel tersenyum tulus, ia menepuk pundakku beberapa kali.



Aku jadi merasa bersalah. Seharusnya aku tahu bahwa Gabriel adalah orang yang bijak. Ia tidak mungkin marah dan memutuskan tali persahabatan kami hanya karena seorang gadis, seperti yang aku khawatirkan sebelumnya.



"Tu kan apa gue bilang ? Mending juga jujur dari awal, biar nggak ribet. Emang dasar lo nya aja chicken, kalau jadi Sivia sih gue ogah deh sama lo. Hareee geneeeh masih backstreet, go to hell mendingan." Alvin menirukan cara bicara anak-anak kelewat gaul untuk mencibirku.



"Sialan lo." Aku melempar bantar, sekenanya. Tapi dengan sigap, meski membelakangiku, Alvin berhasil menangkap amunisi pertamaku dengan baik.



"Eh, iya, anayway gue belum buka kado dari lo, Yel." aku meraih keresek hitam yang kuletakkan diatas meja kecil dekat tempat tidurku.



"Nggak usah dibuka lah Yo. Mending buka punya Alvin aja."cegah Gabriel.



"Ni," aku mengangsurkan sebuah bola basket. Disana sudah tertera tanda tanganku dan Alvin, "Giliran lo, tanda tangan!" Aku memberikan Gabriel spidol hitam, "Itu kado dari Alvin. Jadi tinggal punya lo yang belum gue buka." tandasku.


Kado dari Gabriel unik, dibungkus dengan kertas koran, "Isinya apaan ni ?" aku menimang-nimang kado itu, kemudian memutuskan segera membukanya. Ternyata isinya adalah sebuah kotak dari kayu berukuran sedikit lebih besar dari kotak sepatu.


"Sorry ya Yo, gue cuma bisa kasih begituan. Bingung juga mau kasih apa."


Aku tidak menanggapi ucapan Gabriel, melainkan sibuk meneliti beberapa benda yang ditaruh dalam kotak kayu itu.


Sebuah pensil.

Aku tersenyum. Ini adalah pensil yang aku berikan pada Gabriel saat akan ulangan Matematika dan Gabriel tidak membawa pensil. Dulu masih utuh, tapi sekarang panjangnya kurang dari tinggi jari kelingkingku.


Surat pemanggilan orang tua.

Itu adalah surat pertama yang diterima Gabriel saat kami duduk di kelas X, karena ia menghanjar dua orang kakak kelas yang coba-coba memalakku, hingga babak-belur.


Sisanya, kebanyakan hanya foto-foto kami bertiga. Yang terakhir aku keluarkan dari dalam kotak kayu tadi adalah selembar kartu ucapan. Pupil mataku mulai bergerak, membaca barisan kata yang tertera disana dengan seksama.


Weey, yang tambah tua...

Kertas sekecil ini nggak akan cukup untuk nulis semua doa gue buat lo. Yang perlu lo ingat, kalau terjadi kebaikan-kebaikan dihidup lo kedepannya, itu berarti doa-doa gue yang dikabulkan Tuhan. Hehe. Sebenarnya, gue paling benci tiap lo atau Alvin ulang tahun, karena gue nggak pernah bisa kasih kalian kado yang pantas. Tapi semoga hal-hal kecil dan sederhana yang gue kasih, nggak akan mengurangi kebahagiaan lo, dihari jadi lo ini ya.


Gabriel.


***


Putih abu-abu. Akhir perjuangan. Penghujung kebersamaan. Berai lalu pisah.


Tahun ketiga. Tahun terakhirku.

Waktu mengajariku bahwa yang pergi tak akan kembali lagi.

Dan yang hilang tak akan pernah pulang.



Hujan turun sangat deras, padahal seharusnya bulan ini sudah memasuki musim pancaroba. Matahari melelah kalah. Tak kuasa melawan kepungan mendung. Udara dingin menusuki belulang hingga ke sumsum, dan aku sangat heran, melihat anak-anak jalanan yang tampak begitu riang menikmati hujan sore ini. Kaki-kaki tanpa alas itu berlari, gurau mereka menghadirkan tawa, bermain gembira dibawah siraman air langit. Dingin, sepertinya sudah sangat akrab menyapa kulit legam bocah-bocah itu.

Dari kaca mobil yang berembun, pemandangan itu berbingkai dengan begitu manis.


Aku mendesah melirik tas sekolah yang teronggok disampingku. PR yang menggunung, tugas-tugas yang semakin sulit, haah, andai saja, hidupku bisa semudah menikmati hujan. Tanpa beban. Seperti bocah-bocah itu.


Aku kembali melayangkan pandanganku, mataku menangkap sosok yang sepertinya aku kenali. Pemuda jangkung berkaos hitam yang sibuk menyodor-nyodorkan payung bututnya kepada beberapa orang yang hilir mudik didepannya.


"Pak ! Ketempat itu Pak !" perintahku pada supirku agar menepikan mobil ke beranda sebuah pusat perbelanjaan. Setelah tiba, aku segera melompat turun.


"Pak payungnya Pak, mbak ojeg payungnya..." tawar pemuda berkaos hitam tadi dibarengi seulas senyum ramah.


"Gabriel !" panggilku.


Pemuda itu menoleh. Ah ya, ternya memang benar Gabriel.


"Lo ngapain hujan-hujanan begini ? Bawa-bawa payung tapi nggak dipakai." aku mengamati Gabriel dari ujung rambut sampai ujung kaki, basah kuyup, "Besok tu lo UN Yel, gila ya lo, malah hujan-hujanan begini. Kalau sakit, mampus deh lo." omelku.


"Nggak akan lah Yo, cuma kehujanan gini doang udah biasa."


Aku menggeleng-gelengkan kepala, "Lo ojeg payung."


Gabriel mengangguk tenang, "Iya, mumpung hujan. Lumayan buat bantu-bantu Ibu, beliau kan makin tua, tenaganya nggak kayak dulu, kasihan kalau masih harus kerja keras."


"Tapi nggak gini juga dong Yel, besok tu kita UN. Udah! Ayo sekarang gue antar balik." paksaku.


Gabriel terlebih dahulu, merogoh sakunya, mengamati segenggam uang ribuan dan receh-receh, hasil jerih payahnya sore ini.


"Ya udah, ayo deh!" serunya, setuju.


Baguslah. Untung Gabriel langsung setuju, karena kalau dia menolak, akan aku patahkan payung norak warna merah bergambar bunga-bunga miliknya itu.


*


Cita-citanya jadi orang baik...


Ckckck.

Sekarang aku sedang bersama dua orang pemuda mellow yang duduk manis menatap bintang-bintang dilangit,

menggelikan sekali bukan ? Aku sudah bilang aktivitas seperti ini sangat tidak 'cowok' tapi mereka malah memelototiku dan menyuruhku pergi saja, kalau tidak suka berada disini. Terpaksa, aku harus ikut duduk memeluk lutut dan mengamati ornamen-ornamen malam yang dilukis diatas langit gelap. Tidak begitu buruk rupanya, bintang-bintang diatas sana memang terlihat sangat cantik.Dan angkasa terpulas hitam, memberikan ketenangan dalam hati.


Sekian lama, kami membunuh waktu dengan kebisuan. Membiarkan angin yang menyuarakan desauannya, membiarkan serangga-serangga yang bernyanyi merobek sunyi.


"Nggak terasa ya, udah hampir tiga tahun kita lewati. Padahal rasanya baru kemarin gue pakai seragam putih abu-abu." Alvin membuka pembicaraan.


"Iya... Setelah lulus nanti, pasti bakal kangen banget sama upacara bendera, acara nyontek PR masal sama bendahara kelas yang mencak-mencak setiap tagihin uang kas." Imbuhku, menerawang. Membayangkan keluh-kesah siswa-siswi ketika harus mengikuti upacara dan betapa sibuknya kelas dipagi hari kalau banyak PR.


"Lusa, surat kelulusan dibagiin. Udah deh. Kita bakal berjuang masing-masing. Menempuh jalan baru yang pastinya bakal berbeda sama masa-masa SMA kita." Gabriel ikut menambahi, "Ya, life must go on, kita punya cita-cita yang nggak akan pernah terwujud kalau kita stuck disatu titik kan ? Tiga tahun ini, mungkin akan sulit banget kita tinggalin tapi masa depan juga cukup menarik buat dijalani." Gabriel menoleh kearahku dan Alvin bergantian. Kami mengangguk setuju.


"By the way, lo gimana Yo, udah tahu apa cita-cita lo ?" tanya Gabriel sembari tertawa pelan.


Aku nyengir lebar. Diantara kami bertiga, memang akulah yang paling galau kalau sudah bicara soal cita-cita. Aku merasa hidupku benar-benar suram, karena belum menemukan sesuatu yang bisa ku sebut cita-cita.


"Nggak tahu lah Yel, tapi kayaknya gue tertarik sama dunia musik. Gue mau jadi penyanyi atau musisi, mungkin." jawabku tak yakin.


"Lo Vin ? Masih belum berubah ?"


"Lo kira cita-cita gue bunglon, berubah-berubah. Ya tetaplah. Gue mau jadi arsitek. Lo sendiri ? Cita-cita lo apa, lo belum

pernah cerita deh."


Gabriel mendongakkan wajahnya menatap langit, ia tersenyum kecil, "Gue mau jadi orang baik. Jadi anak yang berbakti sama Ibu. Kakak yang bisa melindungi adik-adik gue, jadi sahabat yang menyenangkan buat kalian, jadi orang yang ikhlas dan pandai bersyukur."


Alvin mengerutkan dahi, "Jadi orang baik sih semua orang juga mau Yel. Masa yang kayak gitu lo bilang cita-cita."


"Semua orang mau, tapi belum tentu semua orang punya kesempatan buat jadi orang baik kan ? Dan gue harap, Tuhan kasih gue, waktu yang cukup buat meraih cita-cita itu."


Saat kebaikan jadi cita-cita hidupmu, maka kebaikan pulalah yang akan mengiringi setiap langkahmu.


*


Hidup dan keabadian adalah dua hal yang tak akan pernah sejalan.


Gabriel keluar dari cafè tempatnya bekerja paruh waktu. Senyum lebar mengembang dikedua sudut bibirnya. Tangan kanannya, menjinjing 3 buah layangan putih polos. Rencananya, besok setelah pengumuman kelulusan, kalau hasilnya seperti yang diharapkan, Gabriel akan mewarnai layang-layang itu bersamaku dan Alvin untuk kemudian kami terbangkan dilapangan dekat sekolah. Sepulang bekerja, rencananya, Gabriel berniat membeli cat yang akan kami gunakan besok. Aku melihat Gabriel berjalan menuju sepedanya. Tak berapa lama, ia mulai mengayuh kendaraan roda dua itu. Sepeda melaju lambat-lambat, sebelum menepi didepan sebuah toko kecil yang menjual cat-cat, dipinggir jalan. Setelah melakukan transaksi jual-beli yang tidak lama dengan pramuniaga toko itu, Gabriel segera keluar. Sialnya, ia mendapati sepedanya tidak lagi berada ditempat semula. Gabriel panik, ia memutar pandangan ke segala arah.


"WOY. Sepeda gue !!" teriaknya, ketika keberadaan Si Pencuri ternyata masih tertangkap indera penglihatannya. Tanpa menunggu lagi, Gabriel memecut kakinya untuk segera berlari. Dengan tenaga yang dikerahkan seluruhnya, Gabriel mengejar pencuri sepeda itu.

Ya, sudah barang tentu Gabriel akan mengejar pencuri itu, karena sepeda yang ia gunakan setiap harinya untuk pergi bekerja adalah pemberianku dan Alvin untuk hadiah ulang tahunnya, tahun lalu. Kami membelinya dengan uang hasil kerja kami sendiri, sebagai delivery sebuah rumah makan. Sepeda yang dibeli pun sebetulnya tidak baru. Kami membelinya di sebuah bengkel kecil. Tapi Gabriel sangat menghargai pemberian kami itu dan menjaganya baik-baik sampai sekarang.


Gabriel menambah kecepatan larinya. Tapi aku merasa ganjil dengan pencuri sepeda Gabriel itu. Ia mengenakan jubah hitam dan kepalanya ditutupi tudung. Ia tidak perlu mengayuh agar sepeda yang ia kendarai melaju.


Aku merasa tidak enak. Aku berteriak-teriak memanggil Gabriel. Menyuruhnya agar berhenti mengejar sepeda itu. Tidak apa-apa, aku dan Alvin tidak akan marah. Ayolah Gabriel, kamu sudah terjatuh berulang kali, kamu sudah tampak kepayahan, berhentilah. Jangan dikejar lagi. Aku memutuskan ikut berlari dan terus memanggil-manggil nama sobatku itu, tapi ia seolah tak mendengarkanku.


Sampai akhirnya aku benar-benar panik, ketika layang-layang yang dibawa Gabriel terjatuh ditengah jalan. Gabriel bermaksud memungutnya, tanpa ia sadari sebuah truk melaju dengan kecepatan maksimal kearahnya.


"Gabriel awaaas, minggir !!" aku berteriak seperti kesetanan, sampai-sampai pita suaraku rasanya sudah putus. Aku ingin menarik Gabriel agar menepi, tapi anehnya, kedua tanganku tidak bisa menyentuh Gabriel.


Kemudian, jeritan pilu terdengar. Memekak telinga. Melumpuhkan saraf, melunakkan belulang. Kakiku lemas. Hatiku mencelos. Ketika ku beranikan diri menatap sosok Gabriel, tubuh sahabatku itu sudah terkapar diaspal. Dengan darah yang menganak sungai. Tiga layang-layang masih ia genggam erat. Sekarang tidak perlu diwarnai. Karena bercak-bercak darah Gabriel telah memulas hampir seluruh permukaannya.


Aku mencoba mendekat. Berjongkok disisi Gabriel. Aku bisa menangkap segurat senyum diwajahnya.


"Selamat tinggal..." lirihnya.


Aku tertawa, "Nggak, ini nggak mungkin." tawaku semakin keras, berusaha bangkit dan menjauh. Semakin jauh. Semakin jauh.


"Gabriel!" seruku.


Aku terbangun dari tidurku. Keringat dingin membasahi sekujur tubusku. Napasku tersengal. Ya Tuhan, untung yang tadi itu hanya mimpi.


***


Saat waktu memenggal nadi dan takdir menyumbat napas.

Kita lepas, terpisah.

Sekarang rindu yang jadi kawanku.

Bukan lagi, kamu...


Aku berjalan gontai. Memasuki kamar yang menguarkan wangi lavender. Tumpukan kardus dan sebuah koper berukuran besar terunduk disatu titik. Tidak ada yang berubah dalam ruangan ini, sejak terakhir kali aku tinggalkan sekitar dua jam yang lalu. Aku tersenyum pahit, ya... tidak ada yang berubah termasuk kusen-kusen jendela itu. Tempat favouritemu setiap kali pelesir kekamarku. Kapan Ya, aku akan melihatmu duduk sambil memetik gitar disana, seperti dulu ?


Aku terduduk disisi tempat tidurku. Berusaha mengabaikan lolongan tawa dan slide-slide kenangan yang berputar dalam benakku, sejak aku mengunjungimu sore ini.


Kenapa ya, belajar merelakan itu tidak semudah saat memulai untuk menyayangi seseorang ?


Aku mengulurkan tangan kananku, mengeluarkan kotak kayu pemberian Gabriel yang ku letakkan dikolong tempat tidur. Hal yang sama, aku lakukan setiap kali rindu mengetuk relungku. Kuelus permukaan kayu itu, ada ketulusan yang tergurat disetiap pahatan rumitnya. Huruf G, A dan R terukir rapi diatas penutupnya, memang tidak bisa dibilang sangat indah tapi aku yakin, Gabriel mengerahkan kemampuan terbaiknya untuk membuat kotak ini untukku. Dan aku sangat menyesal, belum sempat berbuat hal yang sama untuk teman-temanku sebelum kami berpisah seperti sekarang.


Kotak kayu ini, isinya sekarang sudah lebih banyak dibanding saat pertama kali Gabriel memberikannya padaku dulu. Aku memenuhinya dengan berbagai benda (yang menurutku) istemewa, selama, tiga tahun masa putih abu-abuku.

Aku selalu mengeluarkan beberapa diantaranya untuk mengurangi kangen pada teman-teman SMAku. Sore ini, yang pertama teraih oleh tanganku adalah selembar kertas ulangan fisika. Aku mendapatkan nilai 8 waktu itu, setelah semalaman Gabriel mengajariku. Dan saat aku menawarkan imbalan, Gabriel bilang hanya menginginkan nilai 9 diulanganku yang berikutnya. Padahal, kalau saja Gabriel meminta traktir apapun dan dimanapun, aku tidak akan merasa keberatan.


Kemudian, aku mengeluarkan bunga melati kering dari dalam kotak kayu dipangkuanku. Melati layu seperti ini, mungkin akan dengan mudah ditemukan berserakan dijalan-jalan. Tapi yang satu ini tentu saja berbeda.


"Suka banget cium-cium melati begitu sih Vin ? Horror banget deh lo." ledekku pada suatu sore.


"Lo tahu nggak Yo, melati ini analogi kebaikan. Sekecil apapun bentuknya, pasti bakal kecium wanginya. Nggak tahu ya lo ? NDESO." sahut Alvin waktu itu.


Bunga melati ini kemudian ditinggal Alvin begitu saja. Aku memungut dan menyimpannya, sampai detik ini. Dengan harapan, setiap kali melihatnya lagi aku akan tersemangati untuk berbuat kebaikan. Karena sekecil apapun itu, pasti akan ada manfaatnya.


Benda selanjutnya yang menyita perhatianku adalah sebuah layang-layang ringsek. Bilah bambu yang jadi kerangkanya sudah patah tak beraturan. Sedangkan kertasnya, sudah sobek-sobek dan lusuh, juga dipenuhi noda-noda darah yang mengering.


Rasa sesak memenuhi rongga dadaku, mendesak demikian kuat hingga rasanya sulit untuk bernapas. Aku segera melesakkan layang-layang ini kedalam kotak, tidak ingin berlama-lama melihatnya. Benda ini seharusnya kita terbangkan bersama bukan ? Tepat setelah pengumuman kelulusan. Sekarang sudah hampir 3 minggu berselang setelah kita dinyatakan lulus. Tapi sayangnya, layang-layang tadi tidak akan pernah mengudara. Selamanya.


Mataku kemudian terpaut pada sehelai baju yang merupakan bagian dari isi kotak kayu tadi. Seragam sekolahku. Warnanya tidak lagi putih polos seperti dulu, sudah banyak coretan warna-warni yang menghiasinya. Tanda tangan dan pesan dari beberapa teman-temanku tertera pada kemeja putih ini.


"Good luck bro!"


"Jangan lupain gueeee Yo !"


"Tiga tahun yang menyenangkan. Nice to know you, Mario."


Dari sederat tulisan-tulisan dan pulasan pilox, ada bagian yang tidak kubiarkan tercoreng warna. Ku jaga agar tetap putih polos. Bagian itu disini, didekat jantungku. Tempat yang seharusnya diisi tanda tangan Alvin dan Gabriel.


"Gue nggak bisa Yo." tolak Alvin, ketika aku menyuruhnya membubuhkan tanda tangan. Dan yang tergores disana pada akhirnya, malah setitik air mata.

Andai kamu masih bersama kami, Gabriel. Hari itu pasti akan jadi hari terbaik untukku.


Hari itu pengumuman kelulusan, semua diliputi suka cita. Seragam putih abu-abu, akan segera dilepas, dilipat dan tidak akan dikenakan lagi. Begitu cepat waktu berlalu. Harus ku akui, hari kelulusan adalah the best part of being in high school. Hari saat kami semua mengendurkan dasi, menggulung lengan kemeja dan berteriak lepas, "Yeaah kami luluuuss !!!"


Tapi buatku dan Alvin, hari itu jadi berbeda. Tidak seindah yang pernah kami bayangkan. Tidak seperti yang sering kami ceritakan bersama. Itu karena kamu tidak bersama kami lagi, Gabriel. Meski sekuat apapun kami meminta, kamu tidak akan pernah kembali. Sehebat apapun rindu ingin menjemputmu, kamu sudah tidak lagi terengkuh.

Kita tidak bisa berteriak bersama, tidak bisa melompat dan meluapkan kegembiraan bersama. Prom night yang mengesankan, acara reuni, atau perjodohan anak-anak kita ?? hahaha, iyu hanya akan jadi angan bodoh yang terenggut takdir dan tak akan pernah menemui perwujudan.


Sejak dulu, aku selalu berfikir kalau mimpi itu tidak lebih dari sekedar bunga tidur. Tapi ternyata tidak dengan mimpiku malam itu. Entah sama persis atau tidak, tapi mimpiku ternyata benar terjadi pada Gabriel. Ia mengalami kecelakaan sepulang kerja. Menurut orang yang berada ditempat kejadian, Gabriel sedang mengikat tali sepatunya ketika tiba-tiba saja sebuah mobil pick up menabrak tubuhnya hingga terlempar beberapa meter. Gabriel meninggal sebelum sempat dilarikan kerumah sakit. Peristiwa itu terjadi pada malam sebelum pengumuman kelulusan. Padahal kamu lulus, Gabriel. Bahkan, kamu juara umum sekolah kita.Tapi hasil itu tidak bisa kamu lihat. tidak bisa kamu pamerkan pada adik-adik kecil dan Ibumu. Kamu tahu Gabriel, Chacha, adik kesayanganmu, dia selalu menangis. Dia mencarimu, Siapa yang akan menenangkannya sekarang ? siapa yang akan mengajaknya bermain sekarang ? Tidakkah kamu ingin kembali ?


Vin, Yo. Lo berdua mungkin nggak tahu seberapa besar rasa syukur gue karena Tuhan kasih gue dua sahabat terbaik kayak lo berdua. Makasih banyak buat 3 tahun yang nggak akan pernah gue lupain. Makasih banyak untuk semua waktu dan kebaikan yang udah kalian kasih, walaupun gue nggak pernah minta. Hidup gue nggak gampang, tapi kalian berdua bikin gue semangat untuk jalani semuanya. Perpisahan itu mutlak, gue tahu. Dan kalau hal itu terjadi sama kita,

lo berdua harus yakin, doa gue selalu sama kalian :)


Aku masih hafal, itu adalah pesan terakhir yang Gabriel kirimkan via SMS, sekitar satu jam sebelum kecelakaan yang merenggut nyawanya terjadi. Ah, andai saja, waktu bisa diputar ulang. Sebentar saja. Aku hanya ingin diberi waktu untuk meminta maaf karena telah merepotkannya selama ini, dan berterima kasih, terutama untuk layang-layang yang kamu beli dengan uang hasil ojeg payungmu. Terima kasih banyak.


Tok-tok-tok.


"Yo ! Sudah siap, Nak ?" terdengar suara lembut Mamaku dari balik pintu.


"Iya, sebentar Ma." sahutku.


Hari ini aku akan pergi, karena itu pula, sore ini aku mengunjungi pemakaman Gabriel untuk berpamitan.


Aku teringat ucapannya, "Kalau hidup lo nggak bisa jadi manfaat buat orang lain, coba deh minimal lo jangan jadi beban."


Karena kalimat itu aku memutuskan untuk menerima tawaran Ayahku untuk sekolah hukum di London. Ketika pulang ke Indonesia kelak, aku harap, bisa menegakkan hukum Indonesia yang sudah melenceng jauh dari kata adil. Aku

ingin jadi penegak hukum yang lurus dan berani. Aku ingin menjadi manfaat untuk orang lain. Doakan aku berhasil menggapai cita-citaku ya Yel, seperti kamu yang telah mampu mewujudkan cita-citamu. Menjadi orang baik. Kamu sudah berhasil mewujudkannya Gabriel. Kamu sudah hidup sangat baik. Begitu banyak yang menumpahkan tangis saat kamu pergi, itu jadi tanda bahwa hidupmu memberikan banyak arti untuk orang lain, kamu sangat dicintai.


Aku segera merapikan isi kotak kayu tadi, menutupnya, lantas menyimpannya ketempat semula. Aku memang tidak ingin membawa kotak kenangan itu ke London. Aku tidak mau ada hal-hal yang akan menggoyahkan konsentrasi dan tekadku. Bersamaan dengan itu, Ayahku menyeruak masuk, tersenyum kearahku. Aku membalasnya.


"Sudah siap semua Yo ?"


"Udah Yah."


"Ok. Ayah bawain ke mobil Ya."


Aku mengangguk setuju. Setelah Ayah berlalu, aku buru-buru bangkit, kemudian meraih satu koper besar yang masih tersisa. Untuk terakhir kalinya, aku menatap berkeliling kesetiap sudut kamarku. Selamat tinggal. Sekarang, aku akan segera terbang, menjangkau angan dan cita-citaku.


Untuk semua orang yang masih diberi kesempatan menyandang seragam putih abu-abu. Aku berpesan. Jangan pernah sia-siakan waktu. Isi 3 tahun yang singkat itu dengan hal-hal manis tak terlupakan, yang setiap kali mengingatnya akan selalu melahirkan senyum dan rasa bangga dalam hati.

Sedangkan untuk teman-temanku, ku titipkan doa pada selaksa udara, ku bisikkan rindu pada desauan angin. Semoga kita berhasil pada setapak yang telah dipilih masing-masing, yuk berjuang sama-sama.


***


especially, untuk sahabat-sahabatku...


Best regard

=Nvia=

Sabtu, 12 Maret 2011

Catatan Si Putih (cerpen)

***

Dia terbatas.
Dia hanya tau tentang saling menyayangi, tanpa pernah mengerti selubung misteri yang menutup rupa asli bumi.
Dia hanya butuh sebentuk hati untuk menjalani hidup, lantas akan selalu tersenyum tulus.
Tak peduli busur-busur jahanam telah mengintai tepat kearahnya.
Dia sederhana. Sesederhana kasih sayang seorang kakak pada adiknya.


***

Minggu, 27 Februari 2011

Seorang gadis menunduk dalam-dalam. Rambutnya yang panjang bergelombang terjuntai menutupi wajahnya yang kian tirus. Tak jelas apa yang menarik dibawah sana, tapi sepertinya gadis ini sangat betah memaku pandangannya pada tanah kemerahan yang becek setelah berbaur dengan air hujan. Renda-renda berwarna senada vanilla yang menghiasa ujung-ujung gaun hitamnya sudah dipenuhi bercak-bercak kecoklatan dari lumpur yang bercipratan saat kaki kecilnya melangkah kemari tadi. Ia memang tidak sendiri di tempat menyedihkan ini, tapi ketahuilah, saat ini apapun dan siapapun akan jadi tak kasat mata untuk gadis dengan bola mata indah ini. Gadis tadi tersenyum samar, berusaha menyarukan sedih yang merangkulnya sejak lama. Ini akhirnya. Ini doanya,  untuk segera tau nasib orang yang disayanginya. Lantas, kenapa ia harus menangis ?

Seorang pemuda disisinya hanya bisa berdoa dalam hati, "Kuatkan dia, Tuhan..."

***

Kamis, 21 Oktober 2010

Ini catatanku. Catatan Si Putih. Catatan kecil tentang sebuah kekuatan. Kekuatan besar yang berawal dari sepercik rasa sederhana yang telah jadi hal langka dalam opera panjang bernama kehidupan ini.
Tidak, ini tidak serumit kisah-kisah cinta klasik atau sesukar kata-kata sayang yang kadang tersimpul membentuk jerat yang mencekik tanpa ampun. Kisah dalam catatan ini tidak berinti seberat itu. Hanya bercerita tentang sesuatu yang simpel tapi bermakna, sesuatu yang akan mempertegas segala rupa yang samar, yang akan melapangkan setiap sisi yang sempit, yang akan menguatkan setiap insan yang rapuh, serta yang akan memudahkan setiap jalan yang kadang terasa sulit.
Sesuatu yang sederhana itu, adalah...
panji-panji ketulusan.

Aku ingin membagi catatanku, sebuah cerita tentang dua anak manusia yang menyelami arti dan makna ketulusan dengan sangat benar dan sempurna...

***

Jum'at, 22 Oktober 2010

Aku tengah mengepakkan kedua sayapku yang lembab disentuh rintik hujan. Seperti biasa, bulan Oktober. Hujan sudah mulai berkeracak tiada henti. Tuhan memang sangat menganak-emaskan sang air, setiap kali musim penghujan tiba. Sehingga tidak aneh, kalau disetiap titik yang ku dapati hanya air, air dan air. Ah, kemana sih Si Matahari ? Kenapa ia lebih memilih bersembunyi dibalik dekapan awan, sementara penduduk bumi merindukan kehadirannya.

Pagi ini kupaksakan untuk terbang. Sayap-sayapku bisa lumpuh kalau selama beberapa bulan harus berdiam, tanpa ku kepakan. Gerimis masih terus bersenandung, membuat sang kodok penghuni danau kecil ditaman ini bersorak riang. Ya, aku memilih taman kecil ini sebagai tempat menghabiskan pagi yang sangat dingin ini. Biasanya, setiap aku mengunjungi tempat ini barisan bunga tapak dara dan asoka akan berayun kompak seperti memberi ucapan selamat datang. Menurutku, taman ini juga memiliki rumput paling sempurna, hijau cerah dan segar. Tapi nampaknya hujan telah banyak merubah tempat ini, sekarang yang ada hanya genangan-genangan air dan guguran dedaunan.
Tapi ada satu yang tidak berubah. Gadis itu. Gadis manis dengan slayer putih yang membelit tangan kirinya. Gadis itu tetap pada kebiasaannya, menggambar ditaman ini. Tak peduli pada rinai air yang kian gencar mendera tubuhnya, tangan gadis berambut panjang itu tetap luwes menari diatas buku gambar ukuran A4nya. Disisi kanannya, seorang pemuda berusia sekitar 16 tahun dengan kaos hijau lumut, tengah menggerutu kesal, entah karena apa.

Oya, karena ada pepatah tak kenal maka tak sayang, maka kenalkan aku Putih, Si Putih. Aku seekor merpati. Karena buluku putih senada salju, jadilah kunamai diriku sendiri dengan julukan Si Putih. Hehe..

"Bosan.. Bosan.. Bosaaaan." teriak pemuda tadi, seraya menghentak-hentakkan kakinya.
Merasa belum cukup, pemuda tadi melempar tempat pensil Si Gadis. Tindakan semacam itu benar-benar tidak layak dilakukan pemuda seusianya.

Gadis tadi hanya tersenyum sabar, lalu memunguti isi tempat pensilnya yang berserakan.
Mmh, pemuda itu memang sedikit berbeda dengan yang lain. Dia idiot. Ah, bukan-bukan, rasanya itu terlalu kasar. Terbelakang. Ya pemuda dengan kulit sawo matang itu terbelakang.
Duh, kok rasanya, kata terbelakang tidak jauh lebih baiknya dari idiot.
Ya, intinya dia berbeda. Dia terbatas.

"Kak Rio sabar dong, Acha sebentar lagi selesai kok." hibur gadis yang akrab disapa Acha tadi, sebelum ia kembali menekuni gambarnya.
Seperti mengabaikan kata-kata Acha, pemuda berambut acak dengan poni sedikit melewati alis, yang dipanggil Rio tadi, malah berdiri.

"Ehh." Acha mendongak saat merasakan bayangan jangkung tubuh Rio, menghalau cahaya yang jatuh diatas buku gambarnya, membuat permukaan putih itu, menggelap. Di dapati kakak tercintanya, tengah berdiri dengan kedua tangan bertaut diatas kepala Acha.

"Kakak ngapain ?" tanya Acha heran.

"Jagain kamu, dari hujan. Biar gak sakit." jawab Rio, polos.

"Acha gak akan sakit, air hujan doang sih, kecil." Acha menjentikka ibu jari dan kelingkingnya.
Diraihnya lengan-lengan kokoh Rio, dibimbing agar turun, lalu Acha mengedipkan sebelah matanya, "Achanya Kak Rio kan kuat." lanjutnya, yakin.

"Aku benci hujan." kata Rio setelah kembali duduk manis disamping Acha. Dua buah kursi dan satu meja bundar yang ada ditaman ini, sepertinya sudah mereka kontrak dan akan selalu jadi tempat favorit keduanya setiap kali mengunjungi taman komplek ini.

"Kenapa emangnya ?" tanya Acha, lembut, tanpa mengalihkan perhatiannya dari buku gambar.

"karena menurutku setiap kali hujan turun, pasti ada seseorang yang sedang sedih dan menangis."

Acha tertawa kecil, "Masa sih kak ?"

"Iya, buktinya aku sering liat kamu nangis kalau liat hujan."

Acha menghentikan aktivitasnya. Jadi kakaknya sering melihatnya menangis ??
Acha melirik Rio, sekilas. Pemuda itu tengah asik memainkan genangan air dengan ujung-ujung kaki yang dibiarkan tak beralas.

"Setiap hujan turun, Acha gak sedih kok, Aku cuma kangen sama Ayah dan Bunda. Kak Rio kangen gak sama mereka ?"

Rio hanya menggangguk, pelan.

"Itu gambar apa ?" tanya Rio setelah menilik buku gambar yang sedari tadi menyita adik semata wayangnya itu.

"Istana diatas awan." jawab Acha, singkat.

"Bagus." puji Rio, "Kasih Tuhan aja. Minta buatin yang seperti itu untuk tempat tinggal Ayah dan Bunda diatas awan." saran Rio.

Setelah kalimat tidak masuk akal yang Rio ucapkan, keduanya tidak bicara apa-apa lagi untuk beberapa saat. Keduanya terdiam.

"Kalau itu apa ?" Rio menunjuk kearahku yang bertengger di salah satu batang pohon Kiara.

"Itu Merpati kak."

"Merprati ?"

"Mer-pa-ti."

"meraptri ??"

Acha menggeleng, "Bukan kak Rio. Itu mer-pa-ti."

"Mer-pa-ti. Merpati ?"

"Yapp. Merpati." Acha mengacungkan kedua jempolnya.

"Hehehe, namanya susah ya." Rio terkekeh lucu.

Kalian tau ? Aku selalu kagum pada kakak beradik ini. Si adik yang begitu menyayangi kakaknya, bagaimanapun kondisi kakaknya. Dan si kakak, yang dengan segala keterbatasannya, masih tetap berusaha menjaga adik kecilnya. Berbeda sekali dengan kebanyakan orang diluar sana, yang bahkan tega menciderai saudaranya hanya karena hal-hal sepele.

Banyak orang yang mengecilkan, memandang sebelah mata sosok-sosok tak sempurna seperti Rio. Padahal belum tentu, dimata Tuhan derajatnya lebih tinggi daripada orang yang dihinakannya. Menurutku, justru orang-orang seperti Rio jauh lebih tulus, ia hidup bukan untuk pujian, bukan untuk segala hal yang berbau duniawi. Baginya selama masih ada orang yang disayangi dan menyayanginya itu sudah cukup. Dan pada hakekatnya, bukankah itu makna sejati dari kehidupan. Saling mengasihi dan menyayangi. Bagi Rio cukuplah Acha sebagai dunianya. Saat Acha tersenyum, itu berarti dunia juga tersenyum untuknya. Sesederhana itu.

"Nah, selessaaiii..." seru Acha bangga, "Ini buat kak Rio." Acha menyodorkan gambar yang baru saja diselesaikannya. Sebuah gambar dengan dominasi warna hitam dan putih, melukiskan sebuah istana megah yang mencuat dari balik gumulan-gumulan awan. Indah, sangat terkesan nyata.

"Buat aku lagi ? Kenapa bukan kamu yang simpen. Ini kan gambar kamu."

"gak pa-pa, ini buat kak Rio. Kalau gak mau dibuang aja."

"Setelah aku bosen nungguin kamu ngegambar, udah jadi trus dibuang gambarnya ? Apa ada hal lain yang lebih bodoh yang bisa kamu sarankan ?"

"Hehehe. Makanya kakak simpen ya."

Rio akhirnya mengangguk, ditelusuri gambar itu dengan kelima jarinya, "Aku mau belikin kamu pensil warna. Punya kamu udah kecil terus cuma tinggal warna hitam sama putih aja. Tapi aku gak ada uangnya." celetuk Rio, tampak sangat menyesal.

Acha pasti menjerit pilu dalam hati, mendengar kata-kata Rio. Di pandangi lekuk-lekuk sempurna wajah kakak tersayangnya itu. Betapa gurat-gurat tegas dan bijaksana itu masih ada, sorot cerdas dan tenang itu masih tersisa, garis-garis ketampanan pun masih terpancar jelas. Rio...
kenapa takdir begitu seenaknya saja memutar balikkan nasib seseorang??

Rio, pemuda ini adalah satu-satunya anggota keluarga inti yang Acha punya, setelah kepergian kedua orang tuanya. Rio dan Acha sebenarnya bukan lahir dari kalangan keluarga tidak mampu. Orang tua mereka meninggalkan warisan yang lebih dari cukup untuk biaya hidup mereka hingga dewasa. Tapi sayangnya paman mereka, adik dari sang Ayah yang dipercaya menjadi wali mereka sekaligus mengelola seluruh aset kekayaan keluarga Rio dan Acha, tidak bertanggung jawab. Perusahan Ayah mereka belakangan mengalami kemunduran drastis, hutang bertumpuk, klien banyak yang pergi, bahkan rumah mewah yang Rio dan Acha tempati sekarang akan disita oleh bank kalau paman mereka tidak segera melunasi hutang-hutangnya.

Keadaan Rio saat ini, juga dikarenakan perlakuan paman mereka yang kerap memukuli Rio dengan kalap. Tidak manusiawi. Dari sapu, sabuk, bahkan Rio pernah dilempar sebuah vas cantik dari keramik tepat mengenai kepalanya. Tidak akan ada yang menyangka kalau Rio ini adalah ketua OSIS dan termasuk the most wanted boy di SMAnya, dulu ketika masih bersekolah. Benturan dikepalanya yang menciderai organ krusial tubuh rio, yaitu otaknya, hampir setahun yang lalu, membuat Rio jadi seperti ini sekarang. Kini untuk mengucapkan beberapa kata saja Rio terdengar kaku. Perbendaharaan katanya bahkan tidak lebih banyak dari anak kelas 5 SD.

"Kenapa aku gak kayak yang lain ? Aku udah besar tapi cuma bisa ngerepotin kamu." tutur Rio, masih dengan kosakata tak beraturan khasnya.

"Kakak, sama sekali gak ngerepotin Acha. Kakak gak perlu kayak orang lain, karena Acha sayangnya sama Kak Rio yang ini, yang ada didepan Acha, sekarang." balas Acha lembut, bukan hanya bibirnya, sorot matanya juga ikut berbicara tentang ketulusan hatinya.

"Acha..."

"Ya ?"

"aku mau digambarin bunga krisan sama kamu."

"Bunga Krisan ? Emang kayak apa bentuknya, kak Rio udah pernah liat bunga Krisan ?"

Rio mengangguk.

"Oya ? Dimana ? Acha belum pernah liat."

Rio menggeleng, "Gak inget, dimana." jawabnya singkat.

Acha hanya tersenyum, faham betul bagaimana ingatan kakaknya itu, "Ya udah nanti kalau Acha udah liat kayak apa bunga Krisan itu, Acha bakal gambarin buat kakak." janji Acha.

Rio mengangguk antusias, matanya yang polos kini berbinar senang.

Krisan. Queen of the east. Lambang ketulusan.
Tulus... Sama seperti Rio. Dia tulus.

***

Minggu, 24 Oktober 2010

Eerrr, hujan lagi-hujan lagi. Huh. Begini nih, kalau hidup didaerah tropis. Musim penghujannya berlangsung lebih lama, setengah tahun. Rasanya sayap-sayapku sudah mulai kelu dan beku. Lama sekali, aku tidak terbang jauh.
Beruntung, kali ini aku tidak perlu repot-repot mencari tempat berteduh dari bengisnya air langit. Rio membuka jendela kamarnya, dan karena dia terlihat sangat sibuk dengan lamunannya, aku rasa tidak perlu meminta izin dulu untuk sekedar berteduh sebentar dikusen-kusen dari kayu jati itu. Ku kepak-kepakkam kedua sayapku untuk merontokan titik-titik air yang bersembunyi dibalik bulu-buluku.

PRAANG

Dari luar terdengar bunyi suatu benda yang sepertinya telah pecah.

"Jangan. Jangan. Aku takut. Aku takut. Aku takut."

Aku menoleh saat mendengar jerit ketakutan itu.
Rio. Dia meringkuk disalah satu ujung ranjangnya, kedua tangannya menutup rapat telinganya, wajah Rio memucat. Jelas, ia sangat ketakutan.
Aku terbang ke meja disisi dekat tempat tidur Rio. Berharap saat melihatku Rio tidak akan merasa sendiri dan ketakutan seperti itu lagi. Dari tempatku, aku baru bisa melihat, ada beberapa kertas yang berserkan diatas ranjang berseprai coklat muda itu.
Gambar bernuansa hitam putih. Ya, pasti gambar-gambar buatan Acha, siapa lagi ??
Aku menjulurkan leherku, melongok salah satu gambar yang paling terjangkau penglihatanku. Gambar yang terlihat, adalah gambar seorang pemuda tampan dengan sepasang sayap menyembul dari balik punggungnya.

Oh, iya, iya. Aku ingat gambar itu. Kalau tidak salah gambar itu diberikan Acha pada Rio, seminggu setelah kedua orang tua mereka meninggal.

"kak Rio sekarang adalah malaikat penjaga buat Acha. Acha gak punya siapa-siapa lagi selain kakak. Janji ya, kakak jangan pernah tinggalin Acha."

Seingatku, itulah kalimat yang diucapkan Acha saat memberikan gambar itu. Pada waktu itu, dengan dewasa Rio masih bisa mengayomi adiknya dengan kata-kata bijak dan menenangkan.

Gambar selanjutnya yang bisa aku lihat adalah gambar sebuah padang bunga matahari lengkap dengan sang surya yang terkesan berpendar angkuh disisi kanannya. Meski bukan dipulas dengan warna kuning menyala, tapi gambar itu tetap terkesan hidup. Malah terkesan lebih dramatis dan sendu.

"Bunga matahari akan selalu tumbuh mengikuti arah datangnya cahaya matahari. Begitu pula Acha. Kakak mataharinya Acha, dan Acha akan selalu jadiin kakak panutan, gimanapun keadaan kakak. Kakak tetep kakak nomor satu sedunia."

makna itulah yang coba Acha siratkan dalam gambarnya, gambar sang surya dan padang bunga matahari.
Dan masih banyak lagi gambar-gambar yang lain. Tetap dengan nuansa hitam putih yang sepertinya menjadi ciri khas Acha. Menurutku gadis itu memiliki jemari ajaib yang bisa menyeret setiap orang dalam dimensi lain melalui gambar-
gambarnya. Gadis itu bisa bercerita tentang segala hal hanya dengan goresan pensil serta pulasan warna dalam selembar kertas.

"RIO...ACHA.." teriakan itu memekak telinga, terdengar lantang dan liar, disusul bunyi-bunyi rusuh yang sepertinya berasal dari barang-barang yang dilempar.

"Jangan bentak. Jangan bentak. Takut. Jangan bentak, aku takut." Rio kembali merancau. Kini seluruh tubuhnya terlihat dibanjiri keringat. Wajahnya pucat pasi.

BRAK

Pintu dibuka dengan kasar, seorang gadis segera menghambur kedalam, lantas memeluk Rio, setelah mengunci pintu kamar dari kayu Aras berplitur mengkilap disisi kanan ruangan ini.

"Kakak, Om datang kak. Acha mesti gimana, Acha takut, Kak." keluh gadis itu, rautnya tak kalah tegang dari Rio.

Rio mengelus rambut panjang Acha dengan penuh kasih sayang. Ia lalu berbisik, "Berjanjilah !!"

Acha melepas pelukannya, keningnya berkerut.

"Untuk ?"

"Aku akan keluar. Kamu pergi, lari yang jauh. Jangan pernah kembali, jangan pernah tengok kebelakang."

"terus kak Rio gimana ? Aku mau sama kakak."

"Aku menyusul."

"Nggak." Acha menggeleng mantap, "Acha mau sama kak Rio. Ayo kak kita lari sama-sama. Aku gak mungkin ninggalin kakak."

"RIO...ACHA.." suara keras sang paman kembali menggelegar, sekarang malah bertambah suara ribut-ribut dari beberapa orang. Sepertinya sang paman tidak sendiri.

"Ayo cepet lari"

"Nggak kak. Jangan paksa Acha, Acha gak mau."

"Aku gak mau kamu dijual. Aku gak mau. Ayo lari. Aku mohon."

"kak Rio, Acha gak mauu. Acha gak mau kak."

Acha menangis tersedu. Air matanya terurai kesana-kemari, rata terpeta di seluruh wajahnya. Rambut ikalnya sebagian menempel pada pipi gembilnya dan sebagian lagi berayun luwes seirama gelengan kepalanya.

"Jangan nangis. Aku mohon pergilah. Aku akan menyusul, aku janji." pinta Rio, sungguh-sungguh.

"tapi Kak..."

"Kalau kamu tertangkap, kamu gak akan bisa buatin aku gambar bunga Krisan, kamu udah janji mau buatin."

"Kak.."

Rio segera mengacungkan jari kelingkingnya, menuntut Acha untuk berjanji.

"nana..nana..nanananana..nanananana..nanana..nanaaa" Rio melagukan sebuah nada tanpa syair sambil tersenyum tulus. Menurut Rio nada itu bisa mengusir rasa sedih dan takut.

Acha tidak langsung menautkan kelingkingnya, ia mengikatkan slayer putih yang biasa di gunakannya. Membentuk sebuah simpul pada pergelangan tangan kanan Rio yang masih tergantung diudara.

Acha menghapus air matanya, "tapi kakak juga harus janji ya, kakak bakal nyusul Acha." tuntut Acha.

"Janji." balas Rio mantap.

Keduanya menautkan jari mereka yang sama-sama terlihat putih memucat.

Perlahan keduanya keluar, lalu berpisah di pintu dapur. Rio menuju ruang tamu, sedangkan Acha mengendap-ngendap kearah pintu belakang.

Aku terus mengikuti pergerakan mereka, dari atas pohon jambu tempatku bertengger sekarang.
Aku bisa menangkap sosok Rio seorang diri, berdiri tegap didepan pamannya yang terlihat jelas sangat marah dan murka.

"DIMANA ADIKMU ?" tanyanya dengan nada tinggi.

Rio diam. Manik matanya, menatap tajam pada coklat gelap milik adik sang Ayah.

"TULI YA KAMU ? DIMANA ACHA ?" bentaknya lagi.

Rio mempertahankan diamnya. Tak kuasa menahan amarah, sang paman melayangkan tinjunya ke perut Rio.

"JAWAB IDIOT. DIMANA ADIKMU, SURUH DIA KEMARI." makinya, sambil melayangkan tinjunya yang kedua. Tubuh kurus Rio terhempas jatuh, membentur sofa di sisinya.

Sang paman, hari ini berniat menjual Acha pada seorang germo sekaligus bandar narkoba kelas kakap, buronan nomer wahid kepolisian Indonesia. Acha yang berparas cantik dengan lekuk tubuh sempurna sepertinya akan dijadikan 'perempuan tidak baik'. Tapi sebelum rencana penjualan Acha untuk melunasi hutang terlaksana, Rio dan Acha sudah lebih dulu mengetahuinya. Mereka tidak sengaja menguping pembicaraan pamannya dengan seseorang di telepon, tempo hari.

"JAWAB BODOH. DIMANA ACHA. JANGAN MEMBUATKU MARAH."

BUGG

kaki kanan sang paman ikut beraksi, kaki besar itu menendang Rio yang meringkuk lemas dilantai.

Aku bisa melihat sekilas pemuda menganggumkan itu tersenyum tulus pada seorang gadis yang tengah menangis dibalik pintu dapur tak jauh dari situ.

"nana..nana..nanananana..nanananana..nanananana.." Rio kembali bersenandung lirih. Senandung tanpa syair yang sering ia lantunkan untuk Acha, "Lari adik manis.." ucapnya, pelan.

Acha mengangguk meski ragu. Ia segera mengambil ancang-ancang untuk lari, tapi sialnya salah satu dari tiga orang berpakaian serba hitam, yang entah siapa itu, memergokinya.
Orang itu dengan cepat menarik kerah baju Rio, memaksanya berdiri.

"HEH KAMU !! Jangan lari kamu. Kalau kamu lari, orang ini akan saya tembak." ancam orang itu.

Acha tersentak, ia menghentikan langkahnya.

"Ayo lari. Kamu udah janji." seru Rio dengan sisa-sisa tenaga yang dimilikinya.

"DIAM KAMU." sentak orang yang sama, seraya memukulkan pistolnya ke pelipis Rio.

"Aaargh." Rio mengerang, darah segar menetes dari dahinya.

"Kak.."

"Lari ayo, lari."

"Diam disitu atau dia akan mati. Kamu seret dia kemari." perintah orang tadi pada rekannya.

"Aku sayang Acha. Ayo Acha pergi. Jangan kecewakan aku." lirih Rio setengah putus asa mendapati Acha yang masih bertahan ditempatnya.

"kak Rio akan menyusulmu Cha. Dia sudah janji. Ayo lari, Cha." bisik hatinya.

Acha pun mengangguk mantap, ditariknya nafas dalam-dalam. Mengumpulkan tenaga untuk lari secepat mungkin, nantinya. Pada saat otak serta hatinya mengkomandoi agar kedua kakinya segera lari, tanpa ragu Achapun langsung berlari.

Ia terus berlari, sambil menghalau segala fikiran buruk dan rasa takut dalam benaknya.

"Ayo lari, Raissa. Lari." tekadnya dalam hati.

"AKU SAYANG KAMU, CHA.." hanya teriakan itulah yang Acha dengar, saat ia telah melewati gerbang menjulang didepan rumahnya.

DOORR

CETTARR..

Petir, kilat dan suara asing itu melumpahkan seluruh daya yang Acha punya. Mencekat nafasnya, membekukan aliran darahnya. Hingga gadis ini sempat berfikir, bahwa kematian akan terasa lebih menggembirakan untuknya.
Suara asing itu..
Apa ? Tembakankah ? Lalu, lalu, siapa yang ditembak ? Riokah ?

Aku yang sedari tadi mengikuti Acha berlari, tentu juga bertanya-tanya. Apa yang terjadi didalam rumah mewah itu ? Bagaimana nasib Rio ?

Aku yakin, saat ini Acha pasti sangat ingin kembali.
Tapi ribuan jempol untuk gadis cantik ini, saat ku lihat kaki-kaki jenjangnya terus berlari. Air matanya membaur dengan air hujan, seakan ingin menunjukan, mana yang lebih deras. Tanpa alas kaki, diselusuri jalanan beraspal didepannya. Acha pasti merasakan dingin yang luar biasa, dan parahnya sekarang ia sendiri. Seorang diri.

"Kak Rio bilang jangan berbalik. Jangan kembali. Kak Rio akan menyusul. Terus lari Cha." aku bisa mendengar Acha mengeja kalimat-kalimat itu secara terus-menerus. Kasihan Acha.

Siapapun bisa berkorban untuk orang yang dicintainya. Berkorban tidak membutuhkan keahlian khusus. Hanya butuh sedikit ketulusan.

***

Satu hari sebelum dirimu pergi
kau berikan segela yang kau punyai
jika saja ku tau engkau kan pergi...

Indah kau jalani hidup
tapi ku mengerti, sampai disini
engkau kan menjadi bintang
dipelukan malam yang memelukku dan menjagaku

Satu hari sebelum dirimu pergi
kau padamkan letihku dengan pelukan
jika saja ku tau engkau akan pergi
sisa waktu, ku habiskan merawatmu.

***

Minggu, 27 Februari 2011

Gadis bergaun hitam dengan renda-renda senada vanila tadi masih terpekur dalam diamnya. Sedih pastinya. Tapi dia tidak menangis, barangkali air matanya sudah terkuras habis tak bersisa. Acha. Ia terus mengelus-elus marmer putih yang menjadi nisan untuk makam sang kakak. Seorang kakak yang rela telah mengorbankan nyawanya, demi supaya Acha bisa hidup dalam kehormatan.

Teriakan terakhir kakaknya masih terus bergaung dalam ruang dengarnya, "Aku sayang kamu, Cha."

Astaga, hanya orang tolol saja yang tidak tau betapa besar rasa sayang kakaknya terhadap Acha.

"Kenapa kakak tinggalin Acha. Acha sendirian kak, Acha takut."

Setelah empat bulan berselang, Acha baru berani kembali kerumahnya ditemani Ozy. Rumah itu ternyata sudah disegel oleh bank. Tapi Acha berhasil memperoleh informasi yang ia inginkan, nasib kakaknya ?
Dan inilah. Pemakaman inilah yang ditunjukkan penduduk setempat saat Acha menanyakan perilah Rio. Disinilah, kakak kebanggaannya tertidur tenang. Tanpa iringan doa ataupun taburan bunga dari Acha, selama 4 bulan. Ia berpulang, sebelum sempat berpamitan dengan Acha. Sebelum Acha sempat mengucapkan trimakasih atas pengorbanannya.

"Kakak udah janji mau nyusul Acha."

"Udah dong Cha, Rio bertaruh nyawa buat kamu supaya kamu bahagia. Dia pasti sedih kalau liat kamu gak bisa relain kepergiannya. Hujan-hujan Rio dateng kerumahku, dia minta supaya aku jemput kamu hari itu. Hari dimana, Rio nyuruh kamu lari. Dan liat Cha, sekarang kamu selamat dari rencana busuk Om mu, Rio pasti senang, dan dia akan jauh lebih senang kalau kamunya yang kuat, yang tegar, terus semangat jalanin hidup kamu. Jangan buat pengorbanan Rio sia-sia." pemuda yang sedari tadi berjongkok disisi Acha, mulai angkat bicara.

Namanya Ozy, dia adalah satu-satunya sahabat Rio yang masih mau peduli pada Rio dan Acha setelah keadaan Rio berubah.

"Rio kakak yang hebat, semua tau itu. Sampai kapanpun gak akan ada yang bisa gantiin dia, termasuk aku. Tapi Cha, aku harap seenggaknya aku bisa gantiin tugas Rio buat jagain kamu. Aku bakal selalu ada dan akan selalu jagain Acha." tutur Ozy, sungguh-sungguh.

Acha melirik sekilas pemuda manis yang dengan murah hati, telah mau menolongnya dihari pelariannya. Dan telah bersedia menampung Acha di panti asuhan milik bundanya selama 4 bulan terakhir ini. Pemuda itu memang benar-benar perhatian dan sangat baik pada Acha. Menurut penglihatanku, sepertinya Ozy menyimpan perasaan yang lebih pada Acha.

"makasih ya kak Ozy. Maafin Acha, Acha selalu ngerepotin kakak." Acha melempar senyum manisnya kearah Ozy.

Pemuda itu terlihat lega, mendapati senyum Acha kembali tersungging di wajah ayunya.
Ozy mengangguk pelan. Dengan lembut disekanya buliran-buliran air mata dipipi Acha.

Acha kembali mengalihkan pandangannya ke makam Rio, "Kak Rio, Acha kangen." lirihnya.

"Mmh, ini buat kakak. Gambar bunga krisan yang dulu Acha janjiin. Maaf ya, Acha baru bisa kasih ini sekarang. Tapi Acha harap, malaikat-malaikat Tuhan mau turun sebentar ke bumi dan ngambil gambar ini buat kakak. Supaya kakak bisa liat gambar Acha. Acha bakal berusaha ikhlasin kakak, Acha gak mau kecewain kakak. Acha sayang banget sama kak Rio. Salam buat ayah sama bunda ya." Acha mengecup nisan dengan ukiran nama 'Mario Haling' berikut hari jadi dan tanggal wafatnya, yang ada didepan Acha.

"nana..nana..nanananana..nanananana..nananananaa.." Acha melantunkan senandung itu lagi. Senandung kecil favorit Rio, yang sebetulnya, syairnya sudah berulang kali Acha ajarkan pada Rio. Tapi Rio tetap kesulitan untuk mengingatnya, "Cangkul..cangkul..cangkul yang dalam. Menanam jagung..dikebun kita. Semoga sekarang kakak bisa inget ya syair lagu itu." tambah Acha.

Perlahan ia bangkit, lantas membenahi roknya yang sedikit kusut.

"Mau pulang sekarang ?" tanya Ozy yang turut bangkit.

Acha mengangguk, yakin, "aku harus secepatnya menata hidupku kan kak? Disini lama-lama, cuma bakal buang-buang waktu. Yang penting aku akan selalu doain kak Rio." jawab Acha, lebih bijak.

"Bagus, kalau gitu." timpal Ozy.

Keduanya lalu berjalan menyusuri barisan-barisan nisan di komplek pemakaman umum ini. Aku masih memandangi mereka dengan rasa haru bercampur bangga.

Inilah potret asli kehidupan. Tidak ada pangeran tampan kaya raya yang kemudian menikah dengan putri cantik dari negara tetangga, lantas hidup bahagia selamanya. Sekali lagi ini bukan negeri dongeng. Ada kalanya kita dipaksa menangis, lalu disuruh bangkit kemudian dititah untuk terus berjalan.

***

Kasih dan sayang...
Adalah dua nada yang saat ia mulai bernyanyi, seharusnya semua akan terasa lebih mudah dan indah.
Cinta...
Adalah milik mereka, orang-orang yang mau menerima kekurangan dan dengan tulus bersedia untuk menyempurnakannya.
Ya, jika ada yang mau belajar tentang kasih sayang dan cinta yang sempurna..
Maka terlebih dulu, belajarlah tentang ketulusan dengan sebenar-benarnya.

***

Senin, 28 Februari 2011

'akhir...'

Rio.
Manusia...
kalian tau dia terbatas.

Lantas tak malukah kalian kepadanya ? Dia yang dengan jahat sering kalian anggap idiot, mampu menyibak tabir seluas langit yang sering menyarukan cara pandang manusia tentang cinta dan kasih sayang. Hawa, yang bernama cinta bukan berarti menyerahkan harga diri dan kehormatan kalian.
Adam, yang namanya sayang tidak bisa diuji lewat ciuman. Itu dangkal.
Lihat pengorbanan Rio. Itulah sejatinya cinta dan sayang.

Rio bisa membuktikan bahwa hidup
sesederhana pergantian siang dan malam. Mengalir begitu saja. Tanpa harus diskenario dulu. Tanpa harus diatur dulu. Tidak rumit, karena sebetulnya manusia sendirilah yang membuatnya rumit.

Rio.
Manusia..
Kalian tau dia terbatas.

Lantas tak malukah kalian kepadanya ??
Mencibirnya, mengabaikan kehadirannya. Padahal dari orang-orang sepertinyalah, Tuhan mengajarkan kita tentang ketulusan hakiki. Ia menangis saat ia sedih, ia tertawa saat bahagia, ia menjerit saat tersakiti, tidak perlu topeng, tidak perlu kepura-puraan, tidak perlu sekat dengan tirai-tirai kemunafikan. Hidup Rio lurus, jauh dari kebohongan.

Manusia..
Aku catat jalan hidup dua anak manusia ini untuk kalian jadikan pelajaran. Untuk bahan renungan.
Kadang Tuhan menyimpan mutiara dibalik pekatnya lumpur. Tuhan kadang menyertakan aroma melati dibalik busuk barak sampah.

Jangan belajar meremehkan, jangan terbiasa menghina dan mencela.
Jangan menyarukan kejahatan dengan mengatasnamakan cinta.
Jangan melancarkan kemungkaran dengan kasih sayang kau jadikan tamengnya.
Itu pesanku...

Akhirnya, ku sudahi catatan ini dengan bait dan lantunan doa untuk Rio.
Semoga dunia ini masih cukup layak untuk disinggahi orang-orang berhati malaikat sepertinya.

Salam sayang,
Putih.

The End


***

Ara dan Burung Nuri (cerpen)

Tak ada tempat seperti surga
'tuk ku abadikan hidupku denganmu
barisan syair yang terindah
akan ku lantunkan
teruntuk dirimu, Ara....
Separuh sukma jiwaku.

***

18 juli 2010

"halo, Ra..." sapa seorang pemuda pada orang yang menghubunginya diujung sana.

Setelah genap, 6 kali orang yang sama menghubunginya, baru pemuda ini berkenan untuk mengangkat telepon orang itu.

"aku lagi nyetir, Ra... Nanti aku telfon lagi ya. Apa Ra? Emang mau ngomong apa? Aduh nanti lagi aja ya Ra, nanti aku telfon lagi. Udah dulu ya Ra, bye." pemuda tadi segera menekan tombol merah pada keypad handphonenya.

Semena-mena? Ya, tentu saja. Pemuda tadi tidak tau, betapa orang diujung telfon sana begitu merindukannya, betapa orang itu sangat ingin mendengar suaranya.

Ditemani lantunan suara merdu milik seorang penyanyi pria yang membawakan lagu bergenre jazz dari CD yang disetelnya, mobil hitam mengkilap yang dikemudikan pemuda tadi meluncur mulus, membelah lalu lintas sore kota London.

Sudah hampir 4 tahun pemuda tadi menetap dikota ini. Ia sudah terbiasa dengan bangunan-bangunan mewah dengan arsitektur khas yang berjejer rapi disepanjang jalan, ia juga sudah terbiasa dengan 4 musim yang menyatroli kota ini selama 1 tahun, dan tak bisa dipungkiri kota ini menyedot begitu banyak rasa kagum yang dimiliknya. Tapi bukan berarti ia lupa pada tanah airnya. Warna kulitnya yang sawo matang seakan jadi pengingat dari mana ia berasal. Indonesia. Tanah gemah ripah dengan semboyan cantik berbunyi bhineka tunggal ika.
Ah, apa kabar negrinya itu sekarang??

***

London, 24 september 2010

Haii Ara,
bagaimana kabarmu dan burung Nuri kita? Disela lembaran kertas soal yang bercecer dimejaku, ku sempatkan menulis surat ini untukmu.

Ra, ini surat ke 5 dalam 2 bulan terakhir yang aku kirimkan padamu, tapi tak satupun balasan mendarat ditanganku. Apa kamu marah? Kenapa akhir-akhir ini, kamu sangat sulit dihubungi? Ada apa sebenarnya? Aku merindukanmu Ra, sangat merindukanmu. Dan aku harap kamu pun begitu.


Salam sayangku...


Ps : doakan aku, Ra. Lusa aku akan mengikuti perlombaan drama musikal, doakan semuanya lancar ya Ra.

***

London, 19 Oktober 2010

Ara... Masihkah kamu mengingatku? Atau memang sudah ada penggantiku?
Aku tidak akan marah bila itu memang benar. Karena waktu dan jarak terkadang memang bisa melahirkan perubahan. Aku tidak akan menuntutmu untuk mempertahankan kisah kita, meski rindu tak pernah berkurang sedikitpun dalam relungku, tapi biar itu hanya menjadi milikku, sendiri.

Oya, Ra. Perlombaan drama musikalku berjalan lancar. Trimakasih atas doanya.

Dan satu lagi. Ara, kalau kamu ingin tau keadaanku saat ini. Sungguh aku tidak pernah baik-baik saja semenjak kau 'menghilang' !!!

Salam sayangku...

***

London, 28 November 2010

bila aku tau dari awal, beasiswa ke London ternyata hanya akan membuatku jauh darimu. Aku betul-betul tidak akan pernah mengambilnya. Aku memang kuat Ra, aku memang tegar. Tapi taukah kamu, tanpa kamu aku berjalan dalam pesakitan. Ayolah Ara, barang satu atau dua kata saja sudah cukup untukku. Ada apa sebenarnya?

Ara, awal tahun depan aku akan pulang. Dan aku berjanji, orang yang pertama akan ku temui adalah kamu, apa kamu masih mau bertemu denganku, Ra?

salam sayangku...

***

London, 21 Desember 2010

Cita-citaku sudah ku genggam. Saatnya aku mengejar cinta yang dulu ku tangguhkan. Dan aku harap semuanya belum berubah,belum terlambat. semoga kamu masih Ara yang dulu, Ara yang sama, yang menangis di bandara 4 tahun lalu untukku.

Aku tidak peduli Ra, kalaupun suratku ini hanya akan jadi sampah dirumahku, atau hanya akan jadi penghuni lacimu, aku juga tidak akan memintamu membalas surat ini, karena kita akan segera bertemu Ra, semoga kamu senang mendengar kabar ini dariku.

Sampai bertemu, Ara...

***

Secarik kertas yang ditunggu itu pun datang, dan kini tengah bergetar dalam genggaman seorang pemuda. Tidak seperti yang diharapkan, isi lembaran putih itu bukan luapan rasa gembira, tapi deretan kata yang membuat hati pemuda tadi, ketar-ketir sendiri membacanya.


Jakarta, 09 Januari 2011

Hi Dear,

maaf aku baru bisa membalas suratmu. Aku baik baik saja, dan aku sangat berharap kamu juga baik disana. Jangan terlalu memikirkan keadaanku, fokuslah pada studymu disana. Aku juga minta maaf kalau balasan surat dariku ini tidak sesuai dengan keinginanmu. Surat singkat ini hanya berisi tentang permintaan seorang gadis tak sempurna agar kekasihnya lekas melupakannya. Mungkin terdengar aneh ya? Tapi inilah kenyataannya. Mengingatku, menyayangiku, hanya akan membuatmu sakit.

Aku telah lebih dulu melupakanmu, dan semoga kamu juga bisa segera melupakanku.

Jangan mencoba menemuiku setelah tiba di Jakarta.

Ara.

Ps : Nuri baik-baik saja.


Bagaimana mungkin otak pemuda tadi tidak sibuk membuat penyangkalan atas apa yang dibacanya? Setelah 4 tahun mereka bertahan, melawan bentangan jarak dan guliran waktu, dan sekarang semua harus berakhir seperti ini?
Berakhir, tanpa ada satu alasan pun yang bisa ia jadikan pemakluman.

"kenapa Ra, apa yang salah denganku ?" lirih pemuda tadi bingung.

Ya, tentu saja ia tidak mengerti. Dimana sebenarnya letak kesalahannya, sampai-sampai Ara memilih untuk menyudahi hubungan dengannya?

Sivia gadis chinese bermata sipit dengan parah ayu dan tutur kata yang lembut. Ify, gadis manis dengan dagu tirus dan matanya yang indah, asli Indonesia. Sampai Acha, si primadona kampus, gadis asli London, berkulit putih, rambut panjang bergelombang, serta lengkung senyum cantik yang menurut orang-orang jadi saingan terberat bagi sang pelangi. Dan masih banyak lagi, gadis-gadis yang bisa dibilang diatas standart, berlomba mencari perhatiannya. Tapi semua di abaikan, semua di tampik dengan halus, hanya karena satu gadis, Ara. Apa semua itu masih kurang? Bukankah kunci sukses dari longdistance adalah bisa saling percaya dan setia?

***

15 Januari 2011

Malam terlihat lebih suram dari biasanya. Desau angin sepertinya belum cukup tangguh untuk mengusir awan-awan kelabu yang menggelayuti langit. Bulan dan bintang, sama sekali tidak bisa berkutik dikepung kawanan mendung. Tapi pemuda ini tak goyah. Meski malam menampakkan suasana tak bersahabat, ia tetap berniat memenuhi ucapannya untuk menemui Ara dihari pertama ia menjejakkan kakinya kembali di Indonesia.

Pemuda tadi terus berkonsentrasi pada jalanan remang didepannya. Mobil avanza silvernya merangkak teratur menyusuri jalan-jalan ibu kota.

Ah, Jakarta? Setelah 4 tahun ia tinggalkan tidak banya perubahan yang terjadi. Jakarta tetap dengan kepulan asap abu-abu menyesakkan, tetap dengan deru mobil yang memekak telinga dan Jakarta, tetap dengan kilau kaca dari gedung-gedung yang berdiri angkuh yang menjamur disetiap sudut kota ini.

Seulas senyum terus menghiasi wajahnya, satu buket bunga lily favorit Ara, dan ribuan kata rindu telah ia persiapkan. Tak peduli pada penolakan gadis itu disuratnya tempo hari.

Perlahan, roda-roda mobil melambat sebelum akhirnya berhenti total didepan sebuah rumah bergaya natural dengan dominasi warna putih dan biru laut. Pemuda tadi merapikan pakaiannya, sekilas di lirik spion mobilnya untuk memastikan penampilannya sempurna. Setelah siap, ia berjalan mantap ke arah pintu rumah di depannya.

ting-tong, ting-tong

Dipijitnya bel disisi pintu ukir bercat putih itu, dengan tidak sabar. Tak lama pintu berdecit terbuka, seorang gadis hitam manis menyapanya dengan tatapan shock.

"malam Dea." sapa pemuda tadi, sambil memamerkan senyum miringnya yang semakin menyempurnakan wajah tampannya.

Dea tertegun, kaget.

Siapa sangka, biang onar dikelas, biang rusuh SMAnya, kini berdiri dihadapannya dengan karisma dan wibawa yang luar biasa.

Kacamata tanpa bingkai yang ia kenakan dan kemeja putih yang lengannya digulung hingga ke siku membuatnya terlihat cerdas dan dewasa.

"hellooo." pemuda tadi mengibas-ngibaskan lengannya didepan wajah Dea, yang tengah terpaku menatapnya, "malam Dea." ulangnya.

"oh, eh, iya..ii...ya, malam Rio." jawab Dea tergugup.

Pemuda bernama lengkap Mario Stevano Aditya tadi, tersenyum kecil.

"Ara ada? Ekh, emm, maksudnya Shilla. Apa Shilla ada?" tanya Rio.

Gadis yang Rio cari memang bernama lengkap Ashilla Zahrantiara, atau Shilla begitu ia akrab disapa, dan Ara adalah panggilan sayang Rio untuk Shilla.

"Shil..la, Shilla, dia itu anu Yo. Shilla, aku..."

melihat raut tegang dan gugup yang terpancar jelas di wajah lembut Dea, Rio menduga-duga, pasti ada suatu hal yang telah terjadi.

"Shilla mana De? Boleh aku bertemu dengannya?" tanya Rio lagi.

Dea masih terdiam, tak ada jawaban yang keluar dari bibirnya. Samar-samar malah selaput bening yang terlihat melapisi matanya. Rio semakin penasaran,

"Dea, Shilla mana?" tanya Rio sambil mengguncang-guncangkan pundak gadis yang tengah menunduk dalam-dalam dihadapannya.

"Shilla, dia..."

"dia apa De? Tolong cepat katakan, Shilla kenapa?"


"Shilla kecelakaan."

***

04 Februari 2011

Angin berdesir pelan, dengan usil memainkan anak-anak rambut gadis itu. Gadis cantik yang tengah terduduk dibawah jalinan pohon mendevilla yang tumbuh merambat dengan bunga-bunga putih menjuntai. Sepertinya ia sedang asik memandangin kerlipan bintang-bintang dilangit. Siluet milik gadis itu masih terlihat anggun bagi Rio, meski ia mengamati gadis itu hanya dari kejauhan.

Rio tersenyum getir, entah mengapa penjelasan Dea perihal keadaan gadis itu seakan memaku kedua kakinya dengan bumi. Rio merasa tidak pantas menghampiri gadis itu. meski perasaan semacam ini sudah sering kali ditepisnya, tapi tetap saja rasa bersalah itu terus saja mengulik hatinya.

Kata-kata Dea, terus saja berdengung disekitar telinganya, tapi isi dari batok kepalanya sama sekali belum bisa atau lebih tepatnya belum mau, menyinkronkan antara penjelasan Dea dengan kenyataan yang ia lihat. Karena bila semaunya telah disusun, sudah diruntun dan diurutkan, hanya akan ada satu hal yang Rio dapati, kebenaran. Dan Rio benci kebenaran itu.

"Shilla sudah di Bandara waktu itu, tapi dia minta balik lagi. Katanya burung nuri pemberianmu tertinggal dan menurut Shilla, kamu akan sangat marah kalau Shilla sampai menelantarkan burung nuri itu. Menurutku itu sangat bodoh, aku sudah melarangnya kembali pulang. Apalagi pesawat juga akan segera berangkat sekitar setengah jam lagi. Tapi Shilla ngotot, ia minta untuk membawa mobil sendiri, dan berjanji akan kembali secepatnya.

"tapi sampai pesawat berangkat, Shilla nggak juga datang. Om dan tante sudah sangat cemas, kami akhirnya membatalkan niat mengunjungimu di London. Satu jam berikutnya, Om menerima telfon dari kepolisian yang mengabarkan bahwa mobil Shilla mengalami kecelakaan. Saat itu juga aku ingin mengabarimu, tapi orang tuamu melarang. Mereka ingin kamu konsentrasi dulu dengan study mu di London. Karena statusku hanya sebagai sepupunya Shilla, aku hanya bisa menurut dengan keputusan-keputusan yang telah dibuat orang dewasa. Ya, aku tidak bisa berbuat banyak, bahkan saat Om dan Tante sudah angkat tangan dan berniat melepas semua alat medis yang menopang hidup Shilla selama 5 bulan ia koma. Aku hanya menangis dan berdoa, berharap datangnya keajaiban.

"sampai suatu hari ku bawa burung nuri pemberianmu ke rumah sakit, aku bisikan pada Shilla bahwa burung itu kesepian. Dan akhirnya berhasil, Shilla sadar. Tapi terjadi masalah pada pembuluh darah diotaknya, aku tidak tau separah apa kerusakannya, yang jelas menurut dokter, Shilla tidak akan bertahan lama, walaupun ia telah melewati masa-masa tersulitnya. Tapi dokter itu bukan Tuhan kan? Aku percaya Yo, Shilla pasti bisa sembuh, tolong bantu dia Yo, dampingi dia.

"dan satu lagi, maaf Yo. Aku sudah membohongimu mengenai surat, surat yang kamu terima itu, aku yang menulisnya."

Saat mendengar penjelasan Dea itu, Rio hanya diam tak banyak memberi komentar ataupun pertanyaan. Kecelakaan naas yang menimpa Shilla terjadi tepat pada tanggal 18 juni, dan hanya berselang sekitar satu jam setelah Shilla menelfon Rio, waktu itu. sepertinya yang ingin Shilla bicarakan waktu itu adalah perihal kunjungannya ke London. Dan jahatnya, waktu itu Rio dengan semena-mena memutus sambungan telfonnya.

Apa gunanya nilai-nilai A yang bertebaran dikertas-kertas ulangannya. Apa gunanya tropi-tropi penghargaan dan gelar sarjana yang telah diraihnya, kalau Shilla sama sekali tidak akan bangga, bahkan mungkin ia sama sekali tidak mengerti sekarang.

Setelah menarik seluruh bagian jiwanya dari alam penyesalan, Rio mulai berjalan mendekati Shilla. Ia melangkah pelan, agar tidak membuat Shilla kaget, lalu mengamuk seperti 2 hari yang lalu. Rio tidak ingin menambah koleksi bekas cakaran-cakaran Shilla di tubuhnya. Sambil mendekat, hatinya merapal berbagai kalimat penguat, "kamu harus kuat Rio, Shilla butuh Rio yang kuat.". Kalimat semacam ini terus dijejalkan Rio, dalam otaknya, entah berefek atau tidak.

"hai Ara." sapa Rio.

Gadis yang disapa Ara tadi menoleh, memandangi Rio dengan tatapan bingung dan bibir yang mengerucut.

"bu..kan.. Ara..bu..kan." ia menggeleng, "aku.. Shil..la.. Bukan...Ara." jelasnya terbata-bata, persis seperti anak kecil yang baru belajar bicara.

Rio menarik nafasnya dalam-dalam, lalu tersenyum ramah, "eh, iya, Rio lupa. Maaf ya Shilla." ujarnya sabar.

"ka..mu te..mannya...Shilla? Bu..kan..orang...ja..hat? Kita..te..man?" Shilla memiringkan kepalanya dan memandangi Rio dengan sorot mata sangat polos.

Rio berjongkok di depan kursi roda Shilla, di pandangi seperti itu oleh Shilla membuat benteng yang susah payah Rio bangun akhirnya runtuh juga. Satu tetes air mata mulai bergulir dari bola mata Rio.

"iya, kita teman Shilla." jawab Rio. lirih.

Shilla lagi-lagi menggeleng, "jangan ...na..ngis.. Shilla..nggak..su..ka." ujarnya.

Tangan kanan Shilla mulai bergerak menyapu titik air mata diwajah Rio.

"ki..ta..teman..ya ? Nama..ka..mu..siapa?"

"aku Rio, Shilla. Dan kita teman. Aku bukan orang jahat."

kalimat itu kembali Rio ulangi. Sudah sekitar 3 minggu Rio di Indonesia, dan pertanyaan-pertanyaan serta jawaban seperti tadi selalu berulang setiap harinya. Pagi, siang, sore, malam, Rio selalu harus memperkenalkan dirinya lagi-lagi-lagi dan lagi pada Shilla. Surat yang waktu itu Dea kirim, benar. Shilla memang sudah 'melupakannya'.

"ka...mu..pange..ran..ganteng." ucap Shilla sambil tersenyum tulus, "seper..ti.. ini." lanjut Shilla, ia menunjuk gambar pangeran berkuda pada sampul sebuah buku dongeng anak-anak yang ia pegang.

"kalau Rio pangeran, Shilla mau nggak jadi putrinya?" tawar Rio.

"mau,mau,mau...nan..ti ki..ta..naik kuda..ke..ista..na ya Rio?" rajuk Shilla manja.

Rio mengangguk.

Jujur tak pernah terbayang oleh Rio, bahkan dalam mimpi terburuknya sekalipun, Shilla akan jadi seperti ini. Gadis cantik yang cerdas, aktif dan tegas, mantan ketua OSIS, anggota tim cheers di SMA dulu, mahasisa yang aktif dalam kegiatan sosial dan aktivis lingkungan hidup sejati, sekarang jadi seperti ini?

Mana Shillanya yang dulu? Yang setiap hari sibuk menggerutu perihal global warming, efek greenhouse ataupun pencemaran lingkungan. Mana Shilla yang selalu mencekokinya nasihat agar tidak mengkonsumsi junk food secara berlebihan. Mana Shilla yang selalu menenteng proposal-proposal kegiatan amal?

Yang ada dihadapan Rio sekarang adalah wujud yang sama, tapi ia berbeda?sangat berbeda.

"pange..ran..Rio bintang..itu..siapa ya yang..pu..nya?" tanya Shilla seraya menerawang memandang langit.

"memang kenapa?"

"Shil..la..suka..bin..tang. Boleh..nggak ya kalau Shil..la..minta..satu ?" tanya Shilla lagi, masih dengan terbata-bata.

"Shilla mau bintang?"

"Shil..la..suka..ditinggal.. sama orang..orang. Shil..la nggak su..ka..sendiri..an. Kalau..Shilla pu..nya..bintang, bin..tangnya..pasti..mau temenin..Shilla terus-terusan."

Rio menunduk dalam, ucapan Shilla barusan serasa tamparan maha dahsyat yang menghujam kesadarannya.

5 bulan Shilla koma dan tak sedetik pun Rio berada didekatnya. Ia membiarkan gadis yang sangat ia sayangi itu berjuang sendirian. Sedang ia? Rio malah sempat disibukkan dengan pemikiran bahwa Shilla telah memiliki orang lain, saat balasan untuk suratnya tak kunjung Rio terima.

"Rio..Shil..la mau ketem..patnya bintang..bintang." kata Shilla, tiba-tiba.

Rio kembali mengangkat wajahnya, didapatinya Shilla tengah menjulurkan kedua tangannya keatas, seperti hendak menggapai satu dari sekian banyak bintang yang menghiasi langit, malam ini.

"iya, nanti kita ketempatnya bintang ya. Nanti Rio temenin, tapi sekarang kita masuk dulu ya, sudah malam." Rio mulai bangkit dari posisi jongkoknya, lalu membersihkan pulir-bulir debu yang menempel pada celana panjangnya.

Shilla menggeleng-gelengkan kepalanya dengan cepat, hingga rambut panjangnya bergerak lincah kesana-kemari, diikuti dengan gerakan tangan yang berarti menolak. Bersamaan dengan itu seekor burung kecil bertengger di pegangan kursi roda Shilla. Burung itu mengepak-ngepakkan kedua sayapnya, yang berwarna kuning bercampur semburat hijau.

Rio kembali berjongkok.

"Rio..nggak..usah i..kut. Shilla mau..per..gi sendi..ri. Rio disi..ni..aja..jagain Nuri.. Shil..la..ketempat bin..tang sen..diri." Shilla mengacungkan satu jari telunjuknya.

Nuri adalah burung kecil pemberian Rio, saat ia sempat pulang ke Indonesia bulan mei tahun lalu. Usia burung itu sudah hampir 1 tahun, tapi burung lucu itu masih tetap gesit beterbangan, warna bulu-bulunya juga masih sangat indah. Shilla menjaganya dengan sungguh-sungguh, nampaknya.

Dan hanya dua hal itulah yang Shilla ingat, setelah ia sadar dari koma. Bahwa namanya adalah Shilla, dan ia memiliki seekor burung nuri yang ia beri nama Nuri pula. Selebihnya Shilla tidak ingat apa-apa lagi.

Rio terdiam, apa ucapan Shilla barusan bisa dibilang ucapan selamat tinggal?
Apa Shilla akan pergi?

Tiba-tiba, Rio merasakan ada dua tangan yang memeluknya. Dua tangan milik Shilla.

"Shil..la sayaaaang seka..li, sa..ma Rio." lirih Shilla.

Rio tidak berkata apa-apa, suaranya terasa tercekat di tenggorokan. Otaknya benar-benar tidak bisa bekerja, bahkan hanya untuk sekedar merangkai kata, Rio-juga-sayang-Shilla.

Ia hanya bisa membalas pelukan Shilla, mendekapnya erat, agar Shilla tidak akan pernah pergi meninggalkannya.

***

Bintang malam katakan padanya
aku ingin melukis sinarmu dihatinya...


 8 tahun kemudian.

Seorang pemuda dengan kemeja hitam dan dasi biru tua yang bergantung longgar dilehernya, muncul dari balik pintu. Menyeruak masuk kedalam kamar bercat coklat pucat ini. Merasa sangat lelah, ia segera menghempaskan tubuhnya diatas sofa empuk berwarna pastel yang menghadap langsung kearah jendela. Diluar sana, terlihat angkasa yang terbagi dua, berwarna jingga kemerahan di ufuk barat dan sebagian lagi telah berwarna ungu gelap. Satu persatu bintang mulai menampakkan wujudnya, malam ini akan jadi malam yang cerah sepertinya.

"apa kamu sudah sampai ditempatnya bintang-bintang, Shilla ??" tanya pemuda tadi entah pada siapa, karena nyatanya tak ada satu orang pun yang menghuni kamar itu selain dirinya.

Seperti biasa, tangannya secara reflek langsung bergerak menyusuri meja kayu disampingnya. Diraih satu bingkai berisi sebuah foto. Foto peristiwa paling sakral dalam hidupnya, foto pernikahannya.

Perlahan disentuhnya kaca yang mengukung foto itu. Aktivitas seperti ini sudah puluhan bahkan ratusan kali ia lakukan. Setiap rasa rindu menderanya begitu hebat, menatap langit berbintang ditemani foto itu adalah penawar rindu yang paling ampuh untuknya.

Dalam foto itu terlihat seorang gadis mengenakan gaun panjang berwarna putih susu. Rambutnya dihiasi rangkaian bunga mawar putih yang disusun membentuk sebuah tiara (a.k.a mahkota), disampingnya seorang pemuda tampan berdiri tegap, tubuhnya terlihat gagah berbalut jas putih. Tangan mereka bertautan, senyum manis merekah menghiasi wajah-wajah bahagia itu. Keduanya sangat cocok dan serasi. Ya, dalam foto itu adalah Shilla dan Rio, dihari pernikahan mereka, 24 Oktober 2011.

Rio telah berjanji pada dirinya sendiri, untuk tidak akan meninggalkan Shilla lagi. Tepat dihari ulang tahunnya, Rio memperkukuh janjinya didepan para saksi, untuk selalu ada disamping Shilla dan selalu menjaganya. Dan itu jadi kado paling indah selama hidupnya.

"Papaaa..."

Suara cempreng seorang bocah membuyarkan lamunan Rio.

"papa udah pulang??" tanya gadis kecil berkuncir dua yang tengah berdiri diambang pintu, jemari kecilnya masih memegangi gagang pintu.

"iya, sini sayang." Rio melambaikan tangannya, memberi isyarat agar gadis kecil tadi mendekat, "kan katanya Nuri mau main ke timezone." tambah Rio.

"kita jadi mainnya, Pa?" tanya gadis bernama Nuri tadi, sambil berlari kecil kearah Rio. Rambutnya yang dikuncir 2 berayun ringan mengimbangi gerak tubuhnya. Nuri langsung duduk di pangkuan Papa tercintanya.

"jadi dong sayang, Papa kan udah janji." jawab Rio.

"ish, papa belum mandi ya? Bau.." kata Nuri, sambil menggelembungkan pipinya, lucu sekali.

"hu, masa Papanya dikatain bau sih? Papa batalin nih jalan-jalannya." ancam Rio.

"eh, nggak, nggak, Papa wangi kok. Papa capek ya, mau Nuri pijitin?" tawar Nuri, seraya memijat-mijat tangan Rio.

Rio hanya menggeleng dan mengelus puncak kepala putri tunggalnya dengan lembut.

Shilla memang sudah pergi, 5 tahun lalu. 2 tahun setelah Nuri kecil lahir. Shilla meninggal setelah gangguan pada sistem pembuluh darah diotaknya semakin parah, dan menyebabkan penyumbatan aliran darah ke otak. Sebelum meninggal Shilla sempat sembuh walaupun tidak kembali normal 100%. Paling tidak gadis itu sudah bisa mengingat Rio dan sifat seperti anak kecilnya juga hilang perlahan.

Sebelum pergi Shilla juga telah meninggalkan kenang-kenangan paling indah, Nuri.

Nuri, gadis ini bisa dibilang Shilla kecil. Ia memang sangat mirip dengan ibunya. Kulitnya yang putih bersih, rambut panjangnya yang hitam, mata bulat yang di hiasi tatanan alis yang melengkung sempurna, dan bibirnya yang merah alami. Nuri ini benar-benar cetak biru dari Shilla.

nama Nuri dipilih Rio dan Shilla, untuk mengenang burung kecil mereka yang sudah mati saat Nuri kecil lahir.

"aku sudah menjaga Nuri, Shilla. Persis seperti permintaanmu. Aku harap kamu sudah sampai ya ditempat bintang-bintang dan semoga kamu berkenan menjadi bintang untuk kami disini."



Tau kah engkau wahai langit
aku ingin bertemu membelai wajahnya

kan ku pasang hiasan
angkasa yang terindah
hanya untuk dirinya

lagu rindu ini ku ciptakan
hanya untuk bidadari hatiku tercinta
walau hanya nada sederhana
izinkan ku ungkap segenap rasa dan kerinduan...


THE END