Well ini sebenarnya cerbung lama yang udah pernah gue post tahun 2010an kalo nggak salah. tapi waktu itu tulisannya masih berantakan banget, jadi iseng-iseng gue betulin tulisannya dan sedikit alurnya yang juga nggak keruan, habis itu gue repost. kalau yang ada waktu buat baca lagi, silakan dibaca lagi, kalaupun nggak ya ini kayak yang gue bilang tadi cuma sekedar iseng-isengan aja.
*
Malaikat Hidup Gue Part 3
***
"Fy lo jadikan pura-pura pacaran sama gue?" bisik Rio pelan pada saat jam pelajaran matematika berlangsung.
Ify memutar kedua bola matanya, "tadinya sih gue ok aja mau bantuin lo, tapiii...berhubung tadi pagi aja lo udah bikin gue gondok setengah mampus, jadi ya..." ify menggantung kata-katanya.
"eh fy, kalo lo nggak mau bantuin gue, gue bikin hidup lo nggak tenang. I promise," ancam rio fasih.
Ify mendelik, "jah, ngancam pula, gue nggak takut."
Rio merengut, memamerkan ekspresi kecewa yang menurut ify mirip seorang bocah yang tidak dipenuhi keinginannya.
"muka lo biasa aja kali. Iya, iya, gue bantuin."
Rio mengangkat sebelah alis matanya, "well berarti entar malam lo ke partynya shilla sama gue. dandan yang cantik, jangan malu-maluin, gue mau gelar konfrensi pers tentang hubungan baru kita," pesan rio panjang lebar.
"bawel," cela Ify, kesal.
"hai rio," sapa shilla, gadis itu menghampiri tempat duduk rio dan ify, tersenyum manis hanya pada salah satu dari dua orang di hadapannya, "kamu datang kan ke birthdayku nanti malam?"
"Lihat entar deh," balas Rio ketus.
Shilla mengangguk pelan, lantas segera kembali ke kursinya, tidak ingin kejadian bentak-membentak tempo hari terulang lagi.
*
jam istirahat sudah berbunyi sekitar lima belas menit yang lalu. rio yang tadi memisahkan diri dari kawan-kawannya menuju perpustakaan, sekarang memilih bergabung dengan mereka yang duduk berkeliling di kantin.
"kemana aja lo Yo? baru nongol, untung ni kantin belum dikosongin sama si Ify," kelakar Alvin yang dibalas plototan menyeramkan dari Ify.
"Cari referensi tugas," jawab rio singkat, lalu matanya mulai berkeliling mengamati seisi kantin, tanpa sengaja sepasang bola mata rio terpagut tepat pada coklat jernih milik Ify yang baru Rio sadari duduk tepat di hadapannya, "apa lo ngeliatin gue, ganteng?" sengak Rio.
"idih muka nggak beraturan gitu, lo bilang ganteng??" ejek ify tak mau kalah.
"terserah deh, susah ya ngomong sama orang susah," Rio mengibaskan satu tangannya, tak acuh.
"lo tu blangsak, dasar rese!" gerutu Ify kesal. benar-benar tidak tahu diri pemuda di depannya ini, sudah meminta bantuan padanya bukannnya bermanis-manis ria malah bersikap menyebalkan seperti itu. huh awas saja.
"Udah deh kalian ribut mulu deh, saling suka baru tahu rasa lho," komentar Via.
"Gue sih nggak mungkin suka sama Ify, Vi. nggak tau deh kalau tu cewek aneh naksir gue," Rio mengaduk-aduk jus mangga yang baru saja diantarkan pelayan ke mejanya.
"Idih sarapan apa lo tadi pagi? PD amat, bung?" Cibir Ify, "gue juga ogah kali sama lo."
"Ya we'll see, jangan panggil gue rio kalo gue nggak bisa bikin lo suka sama gue."
"kalau bukan rio, terus gue panggil lo apa dong? Paijo?" Gabriel menatap Rio sok polos.
Rio berdecak, "Ck, whatever."
*
Drrt, drrt.
ify merasakan handphone dalam sakunya bergetar.
From : Rio kunyuk
jam 7 gue jemput di rumah lo, gue nggak suka nunggu jadi be on time.
Ify segera mengetikkan beberapa kalimat untuk membalas pesan singkat dari Rio.
To : Rio kunyuk
sipp, kunyuk.
From : Rio kunyuk
lo tu, kuyuk!
To : Rio kunyuk
bisa nggak sih lo nggak usah cari ribut sama gue?
From : Rio kunyuk
nyuruh gue? siapa lo?
To : Rio kunyuk
calon pacar lo kan? apa nggak jadi aja sandiwaranya?
kalo lo nggak bersikap baik ke gue, gue nggak bakal mau bantu lo. I seriously.
Rio tidak membalas pesan Ify, sepertinya ancaman gadis ini tadi cukup berefek.
*
seorang gadis sedang duduk termenung sendirian, terpaan angin kecil membuat rambutnya bergerak-gerak. sudah berkali-kali ia melihat jam merah muda yang melingkari pergelangan tangannya.
"Huuuh," gadis itu membuang napas, "Bosan," keluhnya.
"via, kok belum pulang?" sapa Gabriel pada gadis itu.
"eh gabriel, iya ni."
"pulang bareng aku aja yuk!" tawar gabriel.
sejenak via terdiam, belum sempat ia memjawab, sosok jangkung itu menghampirinya dan Gabriel. Ia Alvin.
"via sorry ya lama. eh gab, belum balik lo?" sapa Alvin.
"ini mau balik, ya udah gue duluan ya," Gabriel tersenyum tenang. biar, biar hatinya saja yang bergolak tapi tidak dengan bahasa tubuh atau air wajahnya. ia sudah terlatih, ia harus pandai bersandiwara, berlagak semua selalu baik-baik saja. itu sudah jadi keahliannya kan? Ya seperti yang tadi dikatakan, Gabriel sudah terlatih.
*
To : Ify bawel
gue udah depan rumah lo. buruan keluar kita udah telat.
Tak berapa lama ify keluar. gadis itu terlihat manis dalam balutan dress putihnya, rambut panjangnya dibiarkan terurai indah membingkai wajahnya.
Rio menaikkan sebelah alis matanya, "manis," komentarnya singkat.
Ify menunduk, mendadak jadi tersipu-sipu mendengar pujian dari Rio yang hanya satu kata itu.
Rio membukakan pintu mobilnya, mempersilahkan Ify masuk. tak berapa lama sedan kesayangan rio sudah menyusuri jalanan kota bandung yang mulai meremang. Rio berkonsentrasi pada kemudi mobilnya. Malam itu, tak kalah dengan ify, rio pun terlihat lebih lebih lebih tampan dari biasanya (dengan terpaksa Ify harus mengakui bahwa wajar saja banyak siswi-siswi Citra Bangsa yang tertarik pada pemuda di sebelahnya). Untuk menghadiri pesta ulang tahun shilla malam ini, Rio memilih berpenampilan semi formal, ia mengenakan kemeja putih yang lengannya digulung hingga ke siku, dipadu padankan dengan dasi dan celana berwarna hitam, serta sepatu cats warna putih. simple but cool.
Malam ini, ify dan rio terlihat sangat cocok. wajah dan postur tubuh mereka hampir mirip, keduanya juga memiliki senyum yang sama-sama manis,ah apa mungkin dua insan yang hobi beradu mulut ini berjodoh? entahlah.
Tak berapa lama mobil rio terhenti di depan halaman sebuah rumah megah, hingar bingar pesta terdengar dari luar.
"ayo fy," rio mengulurkam tangannya.
"lo yakin ni Yo, kita... pura-pura pacaran?" ekspresi wajah Ify nampak cemas, "Kalo abis ini gue dicakar-cakar sama fans lo gimana?"
"believe me, everything gonna be ok."
perlahan ify mengulurkan tangannya. saat rio menggenggamnya, pemuda itu bisa merasakan tangan ify sangat dingin. rio tersenyum menenangkan ke arah ify, gadis manis itu balas tersenyum meski terlihat dipaksakan.
kedatangan rio dan ify di pesta shilla malam ini menyita perhatian beberapa pasang mata. keduanya berjalan santai menuruni undakan-undakan batu berhias deretan lilin. Dengan nuansa pakaian yang senada dan senyum yang mengembang dari keduanya, sungguh merena nampak seperti king n' queen pestanya shilla. mata-mata usil itu masih saja menguntit setiap pergerakan Rio dan Ify yang sekarang tengah berjalan kearah teman-teman mereka yang berkumpul di tepi kolam renang. Ada Alvin, Gabriel, Via, beberapa teman sekelas mereka yang lain dan juga Shilla yang menatap tidak suka pada gadis yang berjalan bersisian dengan Rio.
"Astagaaa...tampar gue Vin, tampar gue," ujar Gabriel saking terpesonanya melihat dua makhluk itu (Rio dan Ify) akhirnya bisa akur.
PLAK
sebuah tamparan keras mendarat di pipi kanan Gabriel.
"AAAW," gabriel tersentak dihadiahi tamparan seperti itu oleh saudaranya, "apa sih lo Vin? main tampar-tampar aja. sakit ya lo?" gerutu Gabriel mencak-mencak.
"Kan tadi lo yang minta," jawab Alvin sok polos.
"Hai guys," sapa Ify ramah.
Rio dan Ify nampaknya memang terlambat, acara potong kue dan tiup lilin pun sepertinya telah usai.
"hai Rio, kok telat sih?" Shilla beramah-tamah pada Rio, mengabaikan sapaan Ify sebelumnya, "padahal tadinya potongan pertama kue ulangan tahun aku mau buat kamu lho," Shilla memamerkan senyum terbaiknya. gadis itu cantik, ify tentu saja bukan saingannya. apalagi, malam ini, shilla benar-benar seperti barbie dengan long dress dan tatanan rambut yang sempurna. tapi tetap saja, toh secantik apapun Shilla, gadis itu tidak pernah berhasil menawan hati Rio.
"Kenapa nggak lo kasih ke cowok lo aja," sahut Rio, dingin.
Shilla tersipu, "akan belum punya cowok yo."
"Iya doi nungguin lo, Yo. masak lo nggak faham sih?" imbuh Alvin.
"Gue udah punya Ify, cewek gue."
hanya enam kata tapi mampu membuat siapapun yang mendengar pernyataan Rio barusan terlongong-lomgomg sambil berseru "HAAAH???" secara bersamaan. oh my good ini benar-benar keajaiban. bukankah dua makhluk ini tidak pernah akur, setiap pertemuan mereka selalu saja diwarnai perdebatan, bagaimana bisa keduanya jadi sepasang kekasih? belum selesai keterkejutan yang lain setelah mendapat pengumuman kecil dari Rio tadi, tiba-tiba semuanya dikagetkan dengan bunyi...
BYUURR
"Lo nggak pantes buat Rio. nggak pantes," Shilla mendorong Ify ke dalam kolam renang. setiap pemilik mata yang menyaksikan peristiwa pendorongan itu membelalak tak percaya. Shilla yang mereka kenal anggun, ternyata bisa seanarkis itu hanya karena seorang pemuda.
Tanpa babibu rio langsung terjun ke kolam renang, beberapa saat tak ada yang muncul di permukaan air kolam, sejenak shilla ketakutan. setelah sekitar 5 menit berselang barulah rio muncul, dengan susah payah ia membawa ify yang terbatuk-batuk.
Sivia membantu, ia segera menyelimutkan jaket alvin ke tubuh ify dan memeluknya.
"apa-apaan sih lo shil? nggak punya otak lo?" bentak rio kasar.
"semua juga gara-gara lo tau, gara-gara lo!" shilla berteriak sambil menangis, berlari secepatnya ke dalam rumah.
dan pesta perayaan ulang tahun shilla malam itu, benar-benar hancur. hancur seperti hati shilla.
*
via masih tertegun, sepucuk surat dan setangkai mawar putih masih digenggamnya.
mentariku telah ada yang memiliki
tapi aku masih tetap memujanya
karena aku masih sangat membutuhkan sinarnya untuk bertahan
semoga kekagumanku terhadapnya, takkan mengusik kebahagiannya dengan orang pilihannya
begitu isi suratnya. sederhana tapi cukup membuat via bertanya-tanya. siapa pengirim dua benda yang ada di tangannya ini? mungkin kah Alvin?
setelah meletakkan tasnya, via memutuskan untuk berjalan-jalan keluar kelas karena kelasnya masih sangat sepi, saat melewati beberapa kelas, telinganya sudah sangat pengang menangkap sindiran-sindiran menyakitkan tentang sahabatnya dan kejadian semalam.
"si ify pakai dukun kali ya, jelas-jelas kalo si rio waras pasti pilih shilla lah," celetuk seorang siswa.
"atau nggak dia ngancem bunuh diri kali ke rio kalo nggak dipacarin," tambah yang lain.
"emang pangeran es kayak Rio mempan diancam?" balas siswi berbando putih.
"heh" sentak via, "sekali lagi lo ngomong kurang ajar tentang ify, gue kepang lidah lo pada," ancam via, galak.
Dari arah parkiran ify dan rio berjalan santai. Ify masih terlihat pucat dan lesu, jaket rio tersampar dipundaknya, rio terus menggenggam tangan ify yang terasa hangat.
"kenapa nggak istirahat aja dulu di rumah sih, fy?" saran rio.
"gue nggak apa-apa kok," jawab ify lemah, ia menyandarkan kepalanya ke pundak rio.
Mereka berjalan menyusuri koridor-koridor kelas diiringi tatapan jealous, tak menyangka, marah, mencibir, dari berpasang-pasang mata. tapi toh ify maupun rio bergeming. Keduanya sudah sepakat dan tau konsekuensi atas sandiwara ini. Saat di depan kelas, ify dan rio berpapasan dengan shilla, shilla menatap marah pada ify..
Dukk
shilla menghentakan kaki kanannya dengan keras, lalu sengaja menyenggol kasar pundak ify saat berjalan keluar. Rio menatapnya galak.
"udah baikan fy?" tanya via, ify hanya mengangguk samar.
*
"pagi anak-anak," sapa pak tono, guru sejarah yang mengisi jam pertama di kelas XII IPA 1.
"pagi pak," koor anak-anak.
"hari ini kita ulangan!"
"hah? Ulangan apa pak?" tanya danang.
"ya ulangan sejarahlah, masa ulangan tatabogaa. emang kamu fikir saya guru mata pelajaran apa?" jawab pak tono, ketus.
Dengan peraraan kesal setengah mati semua anak terpaksa pasrah, tawakal berserah diri pada tuhan yang maha esa perihal nilai ulangan mereka hari ini.
"kerjakan 30 menit dari sekarang!!!"
Semua murid langsung diam, kelas hening. Hanya terdengar goresan pena di atas kertas yang berlomba dengan waktu.
"waduh mampus gue, gimana ngerjainnya ni," keluh danang, "AHHHAA!" serunya beberapa detik kemudian, ia lalu mengangkat pulpennya dan menulis dengan cepat. belum genap sepuluh menit, danang sudah merapikan kertas ulangan dan alat tulisnya.
"lo udah kelar, Nang?" tanya rizky.
"udah dong!"
"liat dong!"
"ni!" danang mengangsurkan lembar jawabannya kepada Ozy.
nama : M. Danang Pratomo.
kelas: XII IPA 1
mata pelajaran : sejarah
jawaban.
1. ada dibuku hal 48
2. ada di LKS hal 21
3. ada di catetannya rio.
4. sama kaya rio
5. sama kayak rio
rizky melongo...
"lo apa-apaan Nang?" tanya rizky.
"udah jangan bawel, rio kan pinter ya udah gue tulis aja begitu," jawab danang enteng.
"sarap lo!" cela rizky, kemudian kembali menulis.
"nulis apaan lo Ky? tau jawabannya? perasaan otak lo sebelas duabelas deh sama gue," tanya danang.
"ya, gue ngikutin jawaban lo lah.
1. sama kayak Danang
2. sama kayak Danang
3. sama kayak Danang
4. sama kayak Danang
5. sama kayak Danang
ckckck parah.
gabriel juga tak jauh beda, ia masih berkutat di soal terakhir.
"apa perbedaan corak candi di jawa tengah dan candi di jawa timur?"
ia berkali-kali mengacak rambutnya, frustasi karena tidak mampu mengingat jawabannya sama sekali.
"time is over!" seru pak tono.
"waduh gawat, gue asal aja deh daripada nggak diisi," gabriel putus asa.
akhirnya ditulislah jawaban sebagai berikut,
candi jateng adanya di jateng dan candi jatim adanya di jatim.
*
"hai guys!" sapa gabriel yang baru bergabung dengan teman-temannya di kantin.
"hai Gab" balas via.
Beberapa saat pandangan mereka beradu, keduanya saling melempar senyum. riolah orang pertama yang menyadari adegan saling-pandang-dan-tebar-senyum tadi, pemuda itu menggeleng yang percaya.
"kemana aja lo, Gab? tadi dicariin tau," kata Ify.
"dicari siapa?" tanya Gabriel.
"malaikat pencabut nyawa, mau nanya lo udah siap belom katanya," seloroh Ify dengan niat bercanda.
DEGG
Gabriel merasakan hatinya seperti mencelos dari tempat semula setelah mendengar kata-kata Ify barusan, ia langsung pucat.
"hahaha becanda kali Gab. yaelah nggak usah pucet gitu!" Ify tertawa geli, sementara Gabriel hanya tersenyum masam.
"vin!" panggil rio pada pemuda sipit yang duduk di sebelah Via.
"hmm?"
Rio melirik Gabriel dan Via bergantian, "kalo seandainya ya Vin, sodara atau sobat lo deh yang udah deket banget sama lo, ternyata dia suka sama via. nah lo mau gimana tuh?" Rio tersenyum miring, merasakan perubahan ekspresi pada Gabriel dan Via.
Via mulai bergerak tak nyaman di tempatnya, sedangkan Gabriel memandang Rio dengan tatapan tidak suka.
"ya gue bakal pertahanin vialah, gimana pun caranya, kan via punya gue. cinta tu butuh pengorbanan bro," jawab alvin tagas.
Rio mengangkat bahu, "well done," timpalnya singkat.
tak berapa lama setelah percakapan Rio dan Alvin berakhir, bel tanda masuk pun berbunyi. mereka bergegas kembali ke kelas untuk melanjutkan pelajaran. setelah ini siswa siswa XI IPA 1 masih harus berkutat dengan matematika, bahasa inggris, lalu ditutup oleh pelajaran kimia.
*
"SENENG LO?" sentak shilla secara tiba-tiba, membuat seorang pemuda cantik yang berdiri asyik memainkan gadgetnya terperejat. belum sempat gadis itu menimpali bentakan pertama, shilla sudah meluncurkan bentakan-bentakan yang lainnya, "seneng lo fy udah hancurin semuanya, HAH?"
"Maksud lo apa sih?"
"jangan sok bloon gitu deh. lo seneng kan bikin gue patah hati, udah gitu lo juga hancurin pesta ulang tahun gue. lo ada masalah apa sih sama gue? IRI HAH?"
saat ini ruangan kelas XI IPA 1 sudah sepi. bel tanda pelajaran usai sudah berbunyi sejak sepuluh menit yang lalu. ify hanya sendiri di ruangan ini karena tadi rio bilang pamit sebentar untuk ke toilet. Rio dan Ify memang janjian untuk berangkat dan pulang bersama demi mendukung sandiwara mereka.
"lo pasti pake dukun kan buat dapetin rio," tuduh shilla.
Ify tersenyum meremehkan, "kampungan banget sih lo masih percaya sama begituan." ejeknya.
"whatever deh lo mau ngomong apa yang jelas, LO-HARUS-PUTUSIN-RIO-SEKARANG!" tegas shilla, dua bola mata hitamnya menatang manik coklat mata Ify.
"apa?"
"putusin rio atau lo bakal nyesel."
"lo kira gue takut sama ancaman lo?"
"gue nggak bercanda, PUTUSIN RIO!!!" raung shilla.
Ify masih bersikap santai, melipat kedua tangannya di dada, "trus kalopun Rio putus dari gue, apa lo pikir dia mau sama lo?"
"KIARA SAUFIKA,PUTUSIN RIO, dia itu punya gue!!!"
"NGGAK AKAN!!!"
"PUTUS!!!"
"NGGAK!!!"
Shilla sudah mengangkat telapak tangan kanannya tinggi-tinggi, siap mendaratkan satu tamparan di wajah mulus ify.
"CUKUP!" teriak rio yang berdiri di ambang pintu.
"rio," ify berlari menyongsong kedatangan rio, lantas memeluk mesra tubuh jangkung pemuda itu dengan sengaja di hadapan shilla, "Shilla maki-maki aku yo!" adunya, kemudian menjulurkan lidah ke arah shilla.
"BOHONG," bela shilla.
"DIAM!!! lo tu rese banget ya jadi cewek. gue peringatkan sekali lagi lo nyakitin ify, lo bakal terima akibatnya," ancam rio, ekspresinya terlihat begitu marah.
"tapi dia-"
"ayo fy kita pulang!" rio menggandeng ify, keluar.
sebelum melewati ambang pintu, ify memandang dengan tatapan yang berarti lo-udah-kalah, gadis berdagu tirus itu balik mengangdeng tangan rio dan berjalan dengan senyum kemenangan. senang sekali bisa membuat shilla semarah itu, anggap saja yang barusan adalah balasan untuk aksi pendorongan ke kolam renang tempo hari.***
*
"huuuh, selamat deh gue. coba tadi lo telat sebentar aja yo, abis deh pipi gue sama tu nenek lampir," keluh ify, ketika mobil rio berjalan lambat keluar dari lapangan parkir SMA CITRA BANGSA, "tanggung jawab lo tu yo. Si shilla jadi bringas begitukan gara-gara lo padahal dulunya dia anggun lho, walaupun dulu ataupun sekarang tetep aja gue nggak suka sama gayannya," cerocos ify panjang lebar.
Ify tidak menunggu rio membalas celotehannya, sekarang gadis ini sudah faham betul bahwa rio ini adalah tipe orang yang bicara kalau ada perlunya saja, jadi ia tidak begitu peduli apakah rio akan menanggapinya atau tidak.
tak berapa lama, sedan rio menepi tepat di depan rumah ify, "thanks ya yo," Ify tersenyum singkat.
"maaf ya fy, gara-gara bantuin gue, lo jadi berantem sama shilla," rio akhirnya buka suara.
"udahlah nggak usah difikirin yo, shilla emang gitu, apa yang dia mau harus selalu dia dapetin, nggak aneh. asal lo jangan ke-PD-an aja ya, berasa direbutin dua cewek gitu. inget! kalo gue sih cuma pura-pura."
"ye, siapa juga yang ke-PD-an?"
"elo tu yang kePD-an."
"elo kali."
"elo."
"elo."
"tau ah, capek."
"capek kenapa?"
"ngomong sama lo."
"ya udah diem."
"ini juga diem"
"itu masih ngomong?"
"iiiiiihhhh rio, gue tu gemes bangat tau nggak sama lo. rese banget siiiiiih?" ify mengulurkan kedua tangannya, mengacak-acak rambut rio dengan semangat.
"Ifyyyyy, rambut gue rusak!!!" keluh rio.
"nggak kok, tetep keren."
"tumben lo puji gue?
"biarinlah bikin lo seneng, sekali-kali. muka kayak lo pasti nggak pernah dipuji kan. udah ah, gue masuk dulu ya daaahhh," ify keluar dari mobil rio, lantas melambaikan tangan dan mengantarkan kepergian rio beserta sedan hitamnya dengan seulas senyum..
*
setelah dibuat frustasi dan depresi oleh pelajaran kimia yang disusul ulangan fisika, akhirnya siswa kelas XI ipa 1 bisa meloloskan diri. Ini waktunya merela melepas lelah, duka dan nestapa mereka di kantin.
Sebuah meja di sudut kanan kantin sudah diisi oleh tiga mahkluk terlanjur tampan lengkap dgn bidadari-bidadari cantik pendampingnya. keseluruhan dari mereka memasang wajah shock dan putus asa. Kecuali rio yang masih konsisten memajang wajah dinginnya.
"kalo gue jadi presiden, bakal gue hapusin tu pelajaran kimia dari bumi pertiwi tercinta ini," tegas Gabriel dengan nada bicara yang super duper merana.
"minggu lalu katanya MTK yang mau lo hapusin, gab?" kata ify.
"katanya fisika?" tambah via.
"tiga hari yang lalu lo bilang bahasa inggris yang mau lo musnahkan?" imbuh alvin.
"kemarin lo bilang sejarah Gab?" tambah rio.
"ckckck, sekalian aja lo gusurin semua sekolah Gab" decak Ify.
"ide bagus tu, Fy. Negara kan jadi nggak perlu gaji guru dan menteri pendidikan ya," jawab gabriel sekenanya.
"by the way kalo difikir-fikir, sekarang di antara kita bertiga, cuma lo doang deh Gab yang nggak punya cewek," alvin mengamati saudara angkatnya itu dari ujung rambut sampai ke pangkal kaki, seolah sedang mencari tahu apa yang salah dari gabriel, sampai-sampai pemuda tampan ini sampai sekarang belum punya gandengan, "kita cariin pacar yuk, Yo" usul alvin seraya melirik rio.
"jangan!" seru via tiba-tiba. semua kontan melirik ke arahnya.
"kenapa emangnya?" tanya alvin curiga.
"mmm...maksud aku, jangan. ya...itukan urusan pribadinya gabriel," jawab via gelagapan.
"iya, benar tu kata via, lagian emang gue se-nggak laku itu apa sampai harus dicariin pacar segala," tambah iel.
"iya jangan gabriel kan udah mengharapkan seseorang," celetuk rio usil.
"apaan sih lo? sotoy banget," gabriel sewot.
"eh, eh, gimana kalo gabriel sama shilla aja? cantik sama ganteng. Ketua osis sama kapten basket, cocok kan?" usul ify.
"idih jangan mau Gab," Rio bergidik.
"kenapa? shilla kan cantik, cocok kali," sela Alvin.
"cantik dari mana? Cantikan juga ify kali," sanggah rio.
"wohooo iya dong ify gitu kan," ify tersenyum sumringah.
"eh, nggak jadi deh, cantikan kamu aja via," ralat rio seraya tersenyum ke arah via.
"CANTIKAN GUE TAUUU," teriak ify tidak suka.
"aduh ify, lo tu bisa nggak sih yang kalem, yang mamis kayak via. jangan teriak-teriak kayak tarzan di siram air keras gitu. malu-maluin!" rio menutup kedua telinganya.
"duh makasih rio, di puji terus daritadi," balas via lembut.
"sama-sama," jawab rio tak kalah lembut.
"wadohh ify kemana ya? nggak lihat ni cowoknya muji-muji sobatnya sendiri,"ify menyindir, rio mendelik, "lho kenapa berhenti? Ayo terusin aja, ifynya nggak ada kok," lanjutnya sambil beranjak pergi. Setelah beberapa langkah menjauh, ify kembali, "rio!"
"apa?"
"kok nggak ngelarang gue pergi?" ify manyun.
"ya ngapain gue larang? siapa tau lo kebelet poop dari pada keluar di sini? gimana?" jawab rio polos.
"via lo kok mau sih tadi dipuji-puji sama cowok sarap macam si Rio?" tanya ify marah.
"siapa juga yang nggak mau dipuji cowok ganteng," ujar via santai, senang sekali mengusili sobat baiknya sampai manyun-manyum begitu.
"Via jangan kegenitan deh," alvin melirik sinis, yang dibalas cengiran lebar dari gadisnya.
*
siang itu sangat terik, mentari bersinar begitu hebat, seperti berniat memanggang bumi. terpaan angin kecil di sela dedauanan tak lagi terasa menyejukkan. Tapi kelima, pemuda ini masih bersemangat. berlarian di lapangan dengan bola yang dipantul-pantulkan lincah oleh tangan mereka. Gabriel, Rio, Alvin, Cakka, dan septian, mereka adalah pemain inti dari tim basket SMA CITRA BANGSA. Mereka memang lebih sering berlatih basket akhir-akhir ini, mengingat pertandingan basket tingkat nasional akan berlangsung beberapa minggu lagi.
"Break-break!" Gabriel sebagai kapten tim basket terpilih, memberikan instruksi agar timnya beristirahat. pemuda itu nampak pucat dengan keringat yang mengalir deras menuruni pelispisnya. gabriel memegangi dadanya yang tiba-tiba terasa nyeri, ia yakin tidak akan sanggup untuk melanjutkan latihan siang ini, "latihan siang ini udahan sampai sini dulu aja, guys," gabriel duduk berselonjor di tepi lapangan.
"lo kenapa? sakit?" Alvin menghampiri Gabriel, mengangsurkan sebotol air mineral untuk pemuda itu.
Gabriel hanya menggeleng. tidak ingin bicara apa-apa. ia sedang konsentrasi merasakan nyeri yang kini membuat matanya berkunang-kunang.
"Nggak usah bohong? lo kenapa sih, kok akhir-akhir ini kelihatan sering nggak sehat," kini ganti Rio yang mengintrogasi gabriel.
"Gue nggak apa-apa. udah ah jangan pada lebay," Gabriel berusaha tersenyum menenangkan.
Ya, gabriel tidak apa-apa. sungguh. semuanya baik-baik saja. akan selalu baik-baik saja. selamanya. semoga.
***
best regard
via
Minggu, 28 April 2013
Kamis, 18 April 2013
Malaikat Hidup Gue (part 2) repost
Well ini sebenarnya cerbung lama yang udah pernah gue post tahun 2010an kalo nggak salah. tapi waktu itu tulisannya masih berantakan banget, jadi iseng-iseng gue betulin tulisannya dan sedikit alurnya yang juga nggak keruan, habis itu gue repost. kalau yang ada waktu buat baca lagi, silakan dibaca lagi, kalaupun nggak ya ini kayak yang gue bilang tadi cuma sekedar iseng-isengan aja.
*
Malaikat Hidup Gue Part 2
*
Sore ini indah dengan cipratan keemasan di ufuk barat dan pulasan jingga yang menyeret setiap insan dalam ketenangan. Sore ini menakjubkan, seperti pemandangan di depan Via. Di hadapan gadis berlesung pipi itu berdiri sebatang pohon yang entah bagaimana disulap menjadi begitu menawan. Pohon itu dipasangi foto-foto Via, dalam berbagai gaya dan usia. Foto via kecil yang menggenggam arum manis raksasa, foto via dengan ekspresi kesal yang luar biasa saat ospek SMP, foto saat Via tersenyum, tertawa, membaca, makan, semua lengkap dan digantung dengan pita-pita ungu terang. Terpaan sisa-sisa cahaya mentari yang jatuh disela-sela dedaunan menambah syahdu suasana sore itu. Sedang asik-asiknya mengagumi pemandangan dihadapan Via, gadis itu dikagetkan dengan suara ledakan balon tepat di depan wajahnya. Segulung kertas jatuh dari dalam balon. Via memungut dan membuka lintingannya, gadis itu kian tersipu membaca tulisan yang menyemut rapi didalamnya.
bahkan senja paling sempurna pun tidak bisa menyaingi cantik dan menawannya kamu.
"Vin, semua ini, kamu yang buat?" Via bertanya pada pemuda jangkung di hadapannya yang tadi sempat terabai kehadirannya karena Via terlalu sibuk mengagumi pemandangan yang tertangkap kedua mata indahnya.
"hehehe," alvin hanya menyeringai, "semoga suka ya," lanjutnya.
Via mengangguk, "Banget, suka banget vin."
Alvin lantas berjalan mendekat, hingga jaraknya dengan Via hanya beberapa centimeter. Pemuda itu memagut pandangan gadisnya dengan tatapan yang sangat meneduhkan, "i love you," bisiknya lembut, "would you be mine, Via?" katanya dalam dan sungguh-sungguh.
"Vin... ini serius?"
Alvin menganggung singkat.
"Tapi aku fikir... kita kan sahabat dan... dan..."
"Apa udah ada orang lain di hati kamu?"
"Bukan gitu, tapi nggak nyangka aja kalo..."
"Aku sayang sama kamu Vi, udah lama. Aku tau kita sahabat, tapi aku rasa itu bukan masalah."
Via malah menunduk memainkan ujung-ujung kaos yang ia kenakan. Ada perasaan yang berkecamuk dalam hatinya, perasaan yang sulit dijelaskan. keraguan, ketakutan atau entah apa. Via menatap cemas pemuda di hadapannya. Alvin baik, ia sempurna, bodoh jika Via melepaskan pemuda sesempurna Alvin. Tapi benarkah Alvin adalah yang terbaik ataukah ada yang lain di tempat lain yang lebih bisa meyakinkan dan membuatnya bahagia?
Sivia terdiam sejenak, membuat alvin berdebar tak keruan.
"Gimana Vi, apa aku udah boleh dapet jawabannya?" tanya Alvin, "Tapi kalo kamu butuh waktu, aku bisa kasih kamu waktu sebanyak-banyaknya."
Via menarik napas, memantapkan hatinya. Hidup adalah pilihan dan pilihannya adalah...
"iya, vin." via mengangguk, lalu tersenyum manis.
Sedetik kemudian, Alvin memeluk via erat sekali, Via baru menyadari ternyata sejak tadi keringat dingin bercucuran membasahi tubuh pemuda itu, "makasih vi, makasih. Aku janji nggak akan kecewain kamu," lirih alvin.
Via membalas pelukan Alvin, berharap menemukan keteguhan dalam dekapan pemudanya.
Kegundahan tetap menyapa meski indah telah menjelma.
Meski tak terbaca, meski tak tersibak, tapi ada yang tak terpungkiri.
Ada cinta lain yg lebih diharapkan.
Ada ikatan lain yang telah lebih dulu menjerat hati.
Meski lagi-lagi semua hanya terungkap dalam diam.
Tak jauh dari tempat via dan alvin, sepasang mata memandang nanar pasangan baru itu, "gue nggak tau kalo rasanya bakal sesakit ini," lirih orang itu.
*
Hari ini pelajaran dikelas XI IPA 1 diawali oleh trigonometri dari bu Sasha, semua murid berusaha fokus pada rentetan akar dan rumus dihadapan mereka,tapi nihil. Trigonometri tetap tak mau singgah di otak mereka.
Semakin mereka memperhatikan, yang ada malah membuat mereka ingin buang air atau mual-mual. Setelah lolos dari trigonometri yang mematikan, pelajaran keduanya adalah fisika dengan materi cermin. Arrghh, ini tidak lebih baik. Kepala anak-anak XI IPA 1 sudah mulai berasap. Di saat-saat seperti ini bel tanda istirahat terdengar bagai nyanyian dari nirvana.
"Guys sebelum istirahat, gue minta waktunya sebentar ya," Shilla berdiri di depan kelas, memberikan pengumuman sebelum teman-temannya beranjak dari tempat duduk untuk beristirahat, "Tiga hari lagi kan ulang tahun gue. So, gue mau ngundang kalian semua datang ke party gue, dijamin seru deh, datang ya," ujar shilla diakhiri senyum manis dan lirikan penuh ari hanya ke arah rio meski yang dimaksud malah asyik dengan gadgetnya. jelas sekali bahwa gadis ini sangat mengharapkan kedatangan Rio.
*
Matahari tampaknya sedang on fire. Ia bersemangat sekali mencurahkan sinarnya pada bumi. membuat penghuninya dilanda panas dan gerah yang berlebihan, terutama yang baru selesai jam pelajaran olahraga seperti siswa-siswa kelas XI IPA 1.
Ify menggerak-gerakkan tangannya di depan wajah, "Gila panasnya nyiksa ni," keluhnya.
"Ni..."
Ify menoleh, di sampingnya Rio telah duduk berselonjor, entah sejak kapan pemuda itu berada di sana. Yang paling mengherankan adalah Rio mengangsurkan sebotol minuman dingin pada Ify.
"Buat gue?" tanya Ify tak yakin.
"Iya, ambil buruan sebelum gue berubah fikiran."
Ify mengangkat bahu, "Ok. Thanks. Dalam rangka apa ni?"
"Dalam rangka gue mau minta bantuan lo."
Ify mendelik, "tu kan pasti ada maunya," gerutu Ify, "bantuan apa?"
"Gimana kalo kita pura-pura pacaran?"
"hah?" Ify terlongong.
"iya, kita pura-pura pacaran. Lo pura-pura jadi cewek gue. Lo harus mau."
"Idih maksa banget, kenapa juga gue harus mau?"
"Ya lo kan udah terima minum dari gue."
"Minuman kayak beginian doang mah gue juga bisa beli sendiri kali Yo."
"Ayolah Fy please, gue bener-bener butuh bantuan lo. Ya gue tau mungkin lo bingung, untuk saat ini gue nggak bisa cerita banyak tapi nanti gue pasti jelasin semuanya. Intinya karena satu dan lain hal gue nggak nyaman sama cewek-cewek Citra Bangsa yang yaaa bisa dibilang terlalu welcome sama kedatangan gue, lo ngerti kan maksudnya? Gue minta tolong banget Fy," Rio menelungkupkan kedua tangannya di depan dada, memohon dengan sangat pada gadis manis yang kebingungan di hadapannya.
"Iya gue ngerti, lo minta gue pura-pura jadi pacar lo supaya cewek-cewek yang deketin lo mundur dan ngejauh karena lo risih sama mereka, gitu kan? Tapi kenapa harus gue sih Yo, kenapa nggak lo pilih satu cewek yang emang suka sama lo, Shilla misalnya. Gue yakin lo nggak buta, lo pasti tau kalo Shilla suka sama lo kan dan gue rasa dia juga nggak akan nolak bantuin lo," usul Ify.
"Justru gue nggak mau, karena kalo gue pura-pura pacaran sama Shilla atau cewek lain yang suka sama gue, gue cuma bakal nyakitin mereka. Gue butuh yang kayak elo, yang cuek, yang nggak suka sama gue."
"Terus untungnya buat gue apa?"
"Gue tau lo bukan tipe orang yang perhitungan, please Fy bantuin gue."
"Sampai kapan sandiwara pacaran itu bakal berlangsung?"
Sampai gue bisa lupain masa lalu gue dan kayaknya akan sangat lama, batin Rio sedih
"Nggak akan lama," itulah jawaban yang dipilih Rio, untuk sementara biarlah ia bohongi Ify yang terpenting saat ini adalah bagaimanapun caranya Ify harus mau membantu Rio, "Gimana lo mau kan?"
Ify lagi-lagi mengendikkan bahu, "Ya, Ok lah. Gue bantu. tapi janji ya nggak akan lama dan semua konsekuensinya lo yang tanggung."
"Deal?"
"Deal."
*
Rio terdiam di balkon kamarnya, menatap hamparan bintang yang berpedar mengelilingi sang bulan, semilir angin menyentuh lembut kulit dan ujung-ujung rambutnya. Menikmati malam dengan gelap dan kesunyiannya, membuat rasa rindu terhadap sosok lama itu muncul kembali.
"Udah lah, Ka. Kita punya cita-cita, aku nggak mau hubungan kita akan menghambat mimpi-mimpi kita. Berjuanglah di sana, Kak, karena aku juga akan berjuang dengan hidupku di sini. Aku akan baik-baik saja."
Kalimat Ara lengkap dengan suaranya yang lembut dan senyum penenangnya mengusik renungan Rio. Kenangan tentang Ana bagai kaset yang diputar secara otomatis di kepalanya, secara terus menerus dan berulang-ulang. Entah harus dengan cara apalagi Rio menghapus kengangan itu, melupakan gadisnya, merelakan cintanya pergi, tentu bukan hal yang mudah. Senyum Ana, tatapannya, perhatiannya, wajahnya semua seakan memaksa masuk berjejalan di fikiran rio.
"aarrghhh" erang rio sambil mengacak rambutnya, "sampai kapan Ra, sampai kapan gue kayak gini?"
*
Pagi ini Citra Bangsa SEnior High School sudah sangat ramai. Semua anak seperti digiring berkumpul di lapangan basket. Suara tepuk tangan dan teriakan riuh rendah berdengung di mana-mana. Ternyata senior tim basket sekolah sedang mengadakan seleksi untuk memilih kapten baru untuk tim basket putra Citra Bangsa.
Gabriel, alvin, dan rio mengikuti seleksi tersebut, mereka sangat antusias dan berusaha semaksimal mungkin mengeluarkan kemampuan terbaik dalam mengolah bola. Penonton yang kebanyakan terdiri dari para siswi rela berpanas-panas ria, dijemur di bawah guyuran cahaya matahari hanya untuk menyaksikan aksi para pebasket terbaik Citra Bangsa.
Setelah seleksi selesai, Gabriel, Alvin dan Rio memutuskan untuk pergi ke kantin, karena pengumuman siapa ketua tim basket yang baru akan diumumkan satu jam ke depan. Saat memasuki kantin, ketiganya mengedarkan pandangan ke segala penjuru mencari tempat yang layak dan masih kosong untuk ditempati. Kebetulan hanya ada tiga bangku tersisa di depan Ify dan Via, kedua sobat ini tampaknya sedang bersemangat menyantap makanan masing-masing.
"di sana aja yuk," ajak Alvin bersemangat.
Gabriel dan Rio hanya mengangguk patuh lantas mengikuti Alvin yang berjalan lebih dulu.
"Hai Via," sapa Alvin ramah, "kita gabung ya kosong kan?"
"Ciyee mentang-mentang ya pasangan baru, yang disapa Via aja ni? gue nggak?" seloroh Ify.
"Apa sih Fy, lebay deh," Via menyenggol pelan Ify dengan sikunya, wajah gadis itu semu memerah.
"PJ bisa kali Vin, Vi."
"Iya iya, tapi jangan bikin gue bangkrut Fy. Lo kan biasanya kalo makan nggak kira-kira," balas Alvin.
"Badan begang gitu emang iya makannya banyak?" cela Rio dengan ekspresi tak percaya.
"nggak usah sok-sok ngatain gue begang deh, lo nggak punya kaca apa?"
"Tapi lo lebih begang kali Fy dari gue, badan kok kayak sapu lidi."
"Lo tu ya, jarang ngomong sekalinya ngomong bikin emosi. lagian ya tolong dicatat, badan gue tu badan model kali, tinggi langsing" bela ify.
Rio tidak membalas hanya melempari Ify dengan kulit kacang.
"Udah jangan pada ribut deh lo berdua, saling suka tau rasa deh," komentar Gabriel.
Rio tersenyum tipis kemudian melirik singkat gadis yang sebentar lagi akan menjadi "pacarnya".
"eh vi, itu ada kotoran di pipi kamu," kata alvin sambil menghapus lelehan coklat di sudut bibir via.
"gue cabut duluan ya," tiba-tiba Gabriel bangkit dari kursinya dan bergegas untuk pergi, tapi belum sempat melangkah jauh ia merasakan pusing yang teramat. Kepalanya serasa dilempari puluhan batu. ia terduduk kembali, menunduk seraya meremas rambut.
"aarrghh," erangnya. Wajah Gabriel memerah yang tidak ada hubungannya dengan cuaca panas di sekitarnya, rahang pemuda itu mengeras menahan sakit.
"lo kenapa, Gab?" tanya alvin cemas.
"Gabriel hidung kamu berdarah," imbuh Via tak kalah kalut.
via dengan cepat menghampiri Gabriel, mengeluarkan sapu tangannya dan perlahan menghapus darah segar yang mengalir dari hidung Gabriel. Saat ini, dengan posisi sedekat ini, Gabriel bisa dengan jelas menatap dua bola mata indah itu, "jangan via, aku mohon jangan nangis," batin Gabriel khawatir melihat selaput bening yang terpeta pada sepang bola mata Via.
"tolong cariin es batu, Fy," perintah Via.
Ify pun dengan sigap langsung berlari, tak berapa lama gadis itu kembali dengan sebalok es batu ditangannya, "nih" katanya dengan napas terengah.
"Ya Tuhan, Ify, lo kira Gabriel mau jualan es campur, yang kecilan aja kali nggak usah sebalok gini," Rio sangat gemas melihat kelakuan ajaib Ify, gadis ini benar-benar langka.
"biar cepet mampet, Rioooo."
"udah-udah, fy. Gue nggak apa-apa, udah berenti kok mimisannya," kata iel sambil memegangi sapu tangan via di bawah hidungnya.
"lo sakit Gab?" tanya alvin.
"nggak kok, paling karena panas banget aja ni cuacanya," balas Gabriel santai.
"yaudah, balik aja yuk, lo naik mobil gue aja. motor lo, tinggal aja di sekolah," ajak alvin yang masih memasang wajah cemas.
"iya, pulang gih, ntar hasil seleksinya, gue smsin lo berdua," kata rio.
Gabriel menurut, alvin memapahnya perlahan. saat melewati sivia, gabriel menatapnya sekilas, gadis itu hanya menunduk.
"aku duluan ya vi" pamit alvin, tangan kirinya mengacak poni kekasihnya.
*
PANTI ASUHAN KASIH BUNDA
Kesinilah Gabriel mengajak via jalan-jalan sore ini, pemuda itu sudah nampak lebih sehat pasca insiden mimisan tadi siang. tadinya Alvin juga ingin ikut bersama Gabriel dan Via, hanya saja pemuda itu sudah ada janji dengan klub fotografernya. Sejenak via bingung, tumben sekali Gabriel mengajaknya ke tempat seperti ini. Biasanya taman ria, pasar malam atau yang paling mainstream adalah mall dan bioskop. Pemuda ini memang sangat payah kalo urusan mencari tempat jalan.
"ayo, vi" Gabriel membukakan pintu mobilnya untuk via.
"tempat apaan sih ini?"
"panti untuk anak-anak penderita kanker."
"kanker? trus kenapa kamu ajak aku kesini? " tanya via.
Gabriel tidak menjawab, ia hanya tersenyum dan membimbing via masuk dengan menggandeng jemari gadis itu. Gabriel tau ini salah, tapi ia nyaman menikmati jalaran rasa hangat yang memenuhi rongga dadanya saat jemarinya bertaut dengan milik Via, ya Via, gadis saudaranya. Entah pengkhiannatan macam apa ini.
Saat memasuki halaman bangunan bercat hijau muda itu, Gabriel dan via disambut senyum hangat anak-anak penghuni panti, mereka sangat ceria, tak akan ada yang menyangka bahwa sosok-sosok kecil ini mungkin esok atau lusa akan pergi meninggalkan dunia. Semangat dan kebersamaan menghiasi setiap sudut tempat ini.
"kak Gabriieeelll," sapa seorang gadis kecil berkuncir ekor kuda yang datang menyongsong kedatangan Gabriel dengan berlari.
"eh Aren" Gabriel berjongkok, mengecup penuh sayang puncak kepala Aren.
"kakak kemana aja? Kok nggak pernah kesini?" tanya aren.
"kakak sibuk sama sekolah, sayang. Eh iya kenalin, ini teman kakak," kata Gabriel.
"hai aren, aku via" ujar via sambil mengulurkan tangannya.
"Hallo kak, aku Aren. kak via cantik ya, kak?" puji Aren seraya menarik-narik ujung baju Gabriel.
Gabriel mengangguk setuju.
"aren juga cantik," balas via.
"kakak pasti putri cantiknya kak gabriel ya?" tanya aren.
"putri cantik?" tanya via bingung.
"ssttt, aren itu kan rahasia kita," sela gabriel.
"oh iya, hehe," Aren menyeringai, ekh kakak-kakak main yuk teman-teman pasti seneng kalo tau kakak datang, apalagi bawa teman baru, ayuk kak," aren menarik tangan via dan Gabriel, "teman-teman coba tebak, siapa yang datan?" seru aren.
"KAK GABRIEELLL!!!" koor anak-anak seraya berlarian kearah Gabriel.
"kakak, aku kangen."
"kak apa kabar?"
"kakak kemana aja?"
semua anak terlihat sangat dekat dan menyayangi Gabriel. Via yang pada dasarnya memang menyukai anak kecil, jadi cepat akrab dengan mereka. Kekagumannya terhadap sosok Gabriel tanpa ia sadari mulai tumbuh. Di balik sosoknya yang slengekan, jayus, nggak romantis dan kadang seenaknya, ternyata Gabriel bisa begitu diidolakan oleh anak-anak, bahkan anak-anak penderita kanker. Diajak kemari oleh Gabriel juga membuat Via begitu bersyukur atas hidupnya yang nyaris sempurna. Via tersenyum... "semangat via!" tekadnya dalam hati.
"hei,senyum-senyum sendiri." tegur iel.
"kamu udah sering kesini ya?"
Gabriel mengangguk, "tau nggak kenapa kamu aku ajak kesini?"
Via menggeleng pelan.
"Suatu saat kalo kamu sedih, kamu ngerasa hidup yang harus kamu lalui terlalu berat, kamu ingat lagi hari ini. kamu ingat gimana perjuangan anak-anak di sini melawan penyakit mereka. kamu ingat gimana semangat mereka buat sembuh. manusia nggak pernah benar-benar punya alasan buat sedih, Vi, kalau semua diahadapi dengan senyum dan semangat. itu yang aku pelajari dari anak-anak di sini." papar gabriel panjang lebar, "jadi kalo lagi berantem sama pacar baru kamu, jangan pake galau-galau segala ya," goda Gabriel ditambah senyum usil.
"Ih apa siiiihh jayus deh," Via menjulurkan lidah, "sayang ya Alvin nggak bisa ikut kita kesini. sok sibuk tu bocah," lanjutnya menggerutu.
Gabriel tersenyum masam, "kamu tau Vi? aku sakit."
"Hah? maksudnya?"
Gabriel lagi-lagi tidak menjawab, membiarkan pertanyaan Via menggantung begitu saja. ia malah berdiri dan menggendong aren di punggungnya, "kita nyanyi sama-sama yuk" ajak Gabriel yang meninggalkan Via berikut pertanyyannya seorang diri.
Via tergugu, menatap punggung Gabriel yang menjauh.
*
Seperti biasa, kelas XI ipa 1, sepagi ini sudah ramai, makhluk-makhluk penghuninya sudah berkicau ngalor ngidul nggak jelas arah dan tujuannya. Ify berjalan ringan menyusuri barisan meja dan kursi di kelas, menuju tempat duduknya. betapa jengkelnya gadis itu melihat Rio si cowok mulut cabe (julukan terkini Ify untuk Rio) sudah duduk manis di tempat Via.
"ngapain lo duduk disini? kemarin kan udah gue usir, ini kursi Via tau. ngerti bahasa indonesia nggak sih lo?"
"Yaelah, nyerocos aja, bawel!" sentak Rio, "Sobat lo, si via noh duduk sama pacarnya. kalo nggak disini, lo mau nyuruh gue duduk dimana? lo mau gue lesehan gitu?" rio sewot.
Ify merengut, "lo tu emang bener-benernya, ngeselin klimaks!!!" Ify membanting tasnya lalu duduk dengan kedua tangan terlipat di dada dan bibir mengerucut beberapa centi.
"lo tu yang ngeselin, mak lampir," balas rio tak mau kalah.
"lo kan yang ngajarin."
"lo kan guru gue."
"pokoknya lo lebih ngeselin."
"lo lebih lebih ngeselin."
"lo lebih amat sangat ngeselin."
"lo teramat sangat lebih ngeselin sekali."
"elo...."
"DIAAAMMM!!!"
karena teriakan Pak Arief guru bahasa Indonesia yang entah sejak kapan sudah hadir dalam kelas, adu mulut antara Ify dan Rio terpaksa harus dipending. keduanya kemudian duduk sambil saling menyikut dan injak-injakkan kaki.
"selamat pagi anak-anak," sapa pak arief berwibawa.
"selamat pagi, pak" koor anak-anak.
"ok, seperti telah bapak sampaikan sebelumnya, hari ini kita akan praktek membacakan puisi yang telah kalian buat masing-masing dengan tema bebas. Bapak akan memanggil secara acak, untuk yang pertama, Mario.. silakan!"
rio berjalan ke depan kelas, ia menatap ke arah teman-temannya, menarik nafas sejenak...
Hilang..
Terhenti..
Hanya ingin menepi sejenak, setelah lelah ku berlari.
Menjauh dari sebuah masa yang terus mengejarku.
Semua usai, terhenti tanpa pernah diingini.
Letih...
jalan yg kulalui terlalu panjang untuk ditempuh sendiri.
Arahnya, membendung langkahku.
Likunya mengubur tawaku, merenggut senyumku.
Habis sudah semua terkikis takdir-Mu.
Tapi perihnya tak akan hilang ditelan guliran waktu.
Prok-prok-prok
semua anak memberi applause untuk puisi rio.
"bagus rio, selanjutnya Danang, silakan maju!!!" lanjut pak arief.
CINTA..
Danang mulai membacakan judul puisinya.
Luka-luka-luka
yang kurasakan
bertubi-tubi-tubi
engkau berikan
Cintaku bertepuk sebelah tangan,
tapi aku balas senyum keindahan.
Bertahan satu cinta
bertahan satu
C.I.N.T.A
"kayaknya gue tau deh puisi ini," celetuk rizky yang duduk disebelah daud.
"WOII penyair gagal, itu mah lagunya d'bagindas dodol," seru daud.
"sstt, diem aja sih lo, berisik," Danang memelototi Daud.
"sudah sudah, danang duduk dan perbaiki puisi kamu."
Pembacaan puisi karya masing-masing siswa terus berlanjut, adanya puisinya begitu indah dan menyentuh, ada yang ambigu antara membuat puisi atau cerpen, ada yang tidak nyambung dan sebagainya, "dan untuk pembaca puisi terakhir, silakan saudara Gabriel."
mampus gue, kebagian pula. mana belum buat puisinya. alamat ngarang bebas ini sih, batin gabriel
"gabriel, mana kertas puisi kamu?"
"saya sudah hafal pak," jawab gabriel berbohong.
"baiklah, silakan kalau begitu."
aku...
sedikit lelah, karena bertahan sendiri
tapi tak berniat untuk menyerah
selama bunga masih merekah
mentari bersinar cerah
aku tak ingin pergi
aku tak ingin berhenti
mereka, orang-orang terkasihku
telah kah mereka sadari?
telahkah mereka pahami?
hilangnya tawaku
hilangnya semangatku
hilangnya peganganku
atau memang hanya aku yang menyadarinya???
tapi biarlah,
karena selayaknya mereka tak perlu
tentang aku,
tentang kerapuhanku,
tentang sebenarnya aku...
puisi itu mengalir begitu saja dari mulut iel, tapi rangkaian kata sederhana itu ternyata mampu membius semua orang dalam ruangan kelas. benar jika orang berkata, yang betul-betul dari hati akan lebih terasa maknanya. seperti puisi gabriel tadi, curahan isi hatinya. setelah dirasa usai dengan puisi dadakannya, gabriel membungkuk memberi salam tapi seisi kelas masih saja terdiam, hening.
waduh ,puisi gue kayaknya ancur banget deh, sampai pada shock gini, batin gabriel.
"SEKIAN DAN TRIMAKASIH" teriak Gabriel, mengagetkan semuanya.
"Oh ya ya, bagus gabriel, bagus." puji pak arief.
"Hah?" Gabriel tampak bingung, bagaimana mungkin puisi seabsurd itu bisa dibilang bagus, dimana letak kebagusannya, "Makasih pak," ujarnya seraya berjalan menuju kursinya.
***
best regard
via
*
Malaikat Hidup Gue Part 2
*
Sore ini indah dengan cipratan keemasan di ufuk barat dan pulasan jingga yang menyeret setiap insan dalam ketenangan. Sore ini menakjubkan, seperti pemandangan di depan Via. Di hadapan gadis berlesung pipi itu berdiri sebatang pohon yang entah bagaimana disulap menjadi begitu menawan. Pohon itu dipasangi foto-foto Via, dalam berbagai gaya dan usia. Foto via kecil yang menggenggam arum manis raksasa, foto via dengan ekspresi kesal yang luar biasa saat ospek SMP, foto saat Via tersenyum, tertawa, membaca, makan, semua lengkap dan digantung dengan pita-pita ungu terang. Terpaan sisa-sisa cahaya mentari yang jatuh disela-sela dedaunan menambah syahdu suasana sore itu. Sedang asik-asiknya mengagumi pemandangan dihadapan Via, gadis itu dikagetkan dengan suara ledakan balon tepat di depan wajahnya. Segulung kertas jatuh dari dalam balon. Via memungut dan membuka lintingannya, gadis itu kian tersipu membaca tulisan yang menyemut rapi didalamnya.
bahkan senja paling sempurna pun tidak bisa menyaingi cantik dan menawannya kamu.
"Vin, semua ini, kamu yang buat?" Via bertanya pada pemuda jangkung di hadapannya yang tadi sempat terabai kehadirannya karena Via terlalu sibuk mengagumi pemandangan yang tertangkap kedua mata indahnya.
"hehehe," alvin hanya menyeringai, "semoga suka ya," lanjutnya.
Via mengangguk, "Banget, suka banget vin."
Alvin lantas berjalan mendekat, hingga jaraknya dengan Via hanya beberapa centimeter. Pemuda itu memagut pandangan gadisnya dengan tatapan yang sangat meneduhkan, "i love you," bisiknya lembut, "would you be mine, Via?" katanya dalam dan sungguh-sungguh.
"Vin... ini serius?"
Alvin menganggung singkat.
"Tapi aku fikir... kita kan sahabat dan... dan..."
"Apa udah ada orang lain di hati kamu?"
"Bukan gitu, tapi nggak nyangka aja kalo..."
"Aku sayang sama kamu Vi, udah lama. Aku tau kita sahabat, tapi aku rasa itu bukan masalah."
Via malah menunduk memainkan ujung-ujung kaos yang ia kenakan. Ada perasaan yang berkecamuk dalam hatinya, perasaan yang sulit dijelaskan. keraguan, ketakutan atau entah apa. Via menatap cemas pemuda di hadapannya. Alvin baik, ia sempurna, bodoh jika Via melepaskan pemuda sesempurna Alvin. Tapi benarkah Alvin adalah yang terbaik ataukah ada yang lain di tempat lain yang lebih bisa meyakinkan dan membuatnya bahagia?
Sivia terdiam sejenak, membuat alvin berdebar tak keruan.
"Gimana Vi, apa aku udah boleh dapet jawabannya?" tanya Alvin, "Tapi kalo kamu butuh waktu, aku bisa kasih kamu waktu sebanyak-banyaknya."
Via menarik napas, memantapkan hatinya. Hidup adalah pilihan dan pilihannya adalah...
"iya, vin." via mengangguk, lalu tersenyum manis.
Sedetik kemudian, Alvin memeluk via erat sekali, Via baru menyadari ternyata sejak tadi keringat dingin bercucuran membasahi tubuh pemuda itu, "makasih vi, makasih. Aku janji nggak akan kecewain kamu," lirih alvin.
Via membalas pelukan Alvin, berharap menemukan keteguhan dalam dekapan pemudanya.
Kegundahan tetap menyapa meski indah telah menjelma.
Meski tak terbaca, meski tak tersibak, tapi ada yang tak terpungkiri.
Ada cinta lain yg lebih diharapkan.
Ada ikatan lain yang telah lebih dulu menjerat hati.
Meski lagi-lagi semua hanya terungkap dalam diam.
Tak jauh dari tempat via dan alvin, sepasang mata memandang nanar pasangan baru itu, "gue nggak tau kalo rasanya bakal sesakit ini," lirih orang itu.
*
Hari ini pelajaran dikelas XI IPA 1 diawali oleh trigonometri dari bu Sasha, semua murid berusaha fokus pada rentetan akar dan rumus dihadapan mereka,tapi nihil. Trigonometri tetap tak mau singgah di otak mereka.
Semakin mereka memperhatikan, yang ada malah membuat mereka ingin buang air atau mual-mual. Setelah lolos dari trigonometri yang mematikan, pelajaran keduanya adalah fisika dengan materi cermin. Arrghh, ini tidak lebih baik. Kepala anak-anak XI IPA 1 sudah mulai berasap. Di saat-saat seperti ini bel tanda istirahat terdengar bagai nyanyian dari nirvana.
"Guys sebelum istirahat, gue minta waktunya sebentar ya," Shilla berdiri di depan kelas, memberikan pengumuman sebelum teman-temannya beranjak dari tempat duduk untuk beristirahat, "Tiga hari lagi kan ulang tahun gue. So, gue mau ngundang kalian semua datang ke party gue, dijamin seru deh, datang ya," ujar shilla diakhiri senyum manis dan lirikan penuh ari hanya ke arah rio meski yang dimaksud malah asyik dengan gadgetnya. jelas sekali bahwa gadis ini sangat mengharapkan kedatangan Rio.
*
Matahari tampaknya sedang on fire. Ia bersemangat sekali mencurahkan sinarnya pada bumi. membuat penghuninya dilanda panas dan gerah yang berlebihan, terutama yang baru selesai jam pelajaran olahraga seperti siswa-siswa kelas XI IPA 1.
Ify menggerak-gerakkan tangannya di depan wajah, "Gila panasnya nyiksa ni," keluhnya.
"Ni..."
Ify menoleh, di sampingnya Rio telah duduk berselonjor, entah sejak kapan pemuda itu berada di sana. Yang paling mengherankan adalah Rio mengangsurkan sebotol minuman dingin pada Ify.
"Buat gue?" tanya Ify tak yakin.
"Iya, ambil buruan sebelum gue berubah fikiran."
Ify mengangkat bahu, "Ok. Thanks. Dalam rangka apa ni?"
"Dalam rangka gue mau minta bantuan lo."
Ify mendelik, "tu kan pasti ada maunya," gerutu Ify, "bantuan apa?"
"Gimana kalo kita pura-pura pacaran?"
"hah?" Ify terlongong.
"iya, kita pura-pura pacaran. Lo pura-pura jadi cewek gue. Lo harus mau."
"Idih maksa banget, kenapa juga gue harus mau?"
"Ya lo kan udah terima minum dari gue."
"Minuman kayak beginian doang mah gue juga bisa beli sendiri kali Yo."
"Ayolah Fy please, gue bener-bener butuh bantuan lo. Ya gue tau mungkin lo bingung, untuk saat ini gue nggak bisa cerita banyak tapi nanti gue pasti jelasin semuanya. Intinya karena satu dan lain hal gue nggak nyaman sama cewek-cewek Citra Bangsa yang yaaa bisa dibilang terlalu welcome sama kedatangan gue, lo ngerti kan maksudnya? Gue minta tolong banget Fy," Rio menelungkupkan kedua tangannya di depan dada, memohon dengan sangat pada gadis manis yang kebingungan di hadapannya.
"Iya gue ngerti, lo minta gue pura-pura jadi pacar lo supaya cewek-cewek yang deketin lo mundur dan ngejauh karena lo risih sama mereka, gitu kan? Tapi kenapa harus gue sih Yo, kenapa nggak lo pilih satu cewek yang emang suka sama lo, Shilla misalnya. Gue yakin lo nggak buta, lo pasti tau kalo Shilla suka sama lo kan dan gue rasa dia juga nggak akan nolak bantuin lo," usul Ify.
"Justru gue nggak mau, karena kalo gue pura-pura pacaran sama Shilla atau cewek lain yang suka sama gue, gue cuma bakal nyakitin mereka. Gue butuh yang kayak elo, yang cuek, yang nggak suka sama gue."
"Terus untungnya buat gue apa?"
"Gue tau lo bukan tipe orang yang perhitungan, please Fy bantuin gue."
"Sampai kapan sandiwara pacaran itu bakal berlangsung?"
Sampai gue bisa lupain masa lalu gue dan kayaknya akan sangat lama, batin Rio sedih
"Nggak akan lama," itulah jawaban yang dipilih Rio, untuk sementara biarlah ia bohongi Ify yang terpenting saat ini adalah bagaimanapun caranya Ify harus mau membantu Rio, "Gimana lo mau kan?"
Ify lagi-lagi mengendikkan bahu, "Ya, Ok lah. Gue bantu. tapi janji ya nggak akan lama dan semua konsekuensinya lo yang tanggung."
"Deal?"
"Deal."
*
Rio terdiam di balkon kamarnya, menatap hamparan bintang yang berpedar mengelilingi sang bulan, semilir angin menyentuh lembut kulit dan ujung-ujung rambutnya. Menikmati malam dengan gelap dan kesunyiannya, membuat rasa rindu terhadap sosok lama itu muncul kembali.
"Udah lah, Ka. Kita punya cita-cita, aku nggak mau hubungan kita akan menghambat mimpi-mimpi kita. Berjuanglah di sana, Kak, karena aku juga akan berjuang dengan hidupku di sini. Aku akan baik-baik saja."
Kalimat Ara lengkap dengan suaranya yang lembut dan senyum penenangnya mengusik renungan Rio. Kenangan tentang Ana bagai kaset yang diputar secara otomatis di kepalanya, secara terus menerus dan berulang-ulang. Entah harus dengan cara apalagi Rio menghapus kengangan itu, melupakan gadisnya, merelakan cintanya pergi, tentu bukan hal yang mudah. Senyum Ana, tatapannya, perhatiannya, wajahnya semua seakan memaksa masuk berjejalan di fikiran rio.
"aarrghhh" erang rio sambil mengacak rambutnya, "sampai kapan Ra, sampai kapan gue kayak gini?"
*
Pagi ini Citra Bangsa SEnior High School sudah sangat ramai. Semua anak seperti digiring berkumpul di lapangan basket. Suara tepuk tangan dan teriakan riuh rendah berdengung di mana-mana. Ternyata senior tim basket sekolah sedang mengadakan seleksi untuk memilih kapten baru untuk tim basket putra Citra Bangsa.
Gabriel, alvin, dan rio mengikuti seleksi tersebut, mereka sangat antusias dan berusaha semaksimal mungkin mengeluarkan kemampuan terbaik dalam mengolah bola. Penonton yang kebanyakan terdiri dari para siswi rela berpanas-panas ria, dijemur di bawah guyuran cahaya matahari hanya untuk menyaksikan aksi para pebasket terbaik Citra Bangsa.
Setelah seleksi selesai, Gabriel, Alvin dan Rio memutuskan untuk pergi ke kantin, karena pengumuman siapa ketua tim basket yang baru akan diumumkan satu jam ke depan. Saat memasuki kantin, ketiganya mengedarkan pandangan ke segala penjuru mencari tempat yang layak dan masih kosong untuk ditempati. Kebetulan hanya ada tiga bangku tersisa di depan Ify dan Via, kedua sobat ini tampaknya sedang bersemangat menyantap makanan masing-masing.
"di sana aja yuk," ajak Alvin bersemangat.
Gabriel dan Rio hanya mengangguk patuh lantas mengikuti Alvin yang berjalan lebih dulu.
"Hai Via," sapa Alvin ramah, "kita gabung ya kosong kan?"
"Ciyee mentang-mentang ya pasangan baru, yang disapa Via aja ni? gue nggak?" seloroh Ify.
"Apa sih Fy, lebay deh," Via menyenggol pelan Ify dengan sikunya, wajah gadis itu semu memerah.
"PJ bisa kali Vin, Vi."
"Iya iya, tapi jangan bikin gue bangkrut Fy. Lo kan biasanya kalo makan nggak kira-kira," balas Alvin.
"Badan begang gitu emang iya makannya banyak?" cela Rio dengan ekspresi tak percaya.
"nggak usah sok-sok ngatain gue begang deh, lo nggak punya kaca apa?"
"Tapi lo lebih begang kali Fy dari gue, badan kok kayak sapu lidi."
"Lo tu ya, jarang ngomong sekalinya ngomong bikin emosi. lagian ya tolong dicatat, badan gue tu badan model kali, tinggi langsing" bela ify.
Rio tidak membalas hanya melempari Ify dengan kulit kacang.
"Udah jangan pada ribut deh lo berdua, saling suka tau rasa deh," komentar Gabriel.
Rio tersenyum tipis kemudian melirik singkat gadis yang sebentar lagi akan menjadi "pacarnya".
"eh vi, itu ada kotoran di pipi kamu," kata alvin sambil menghapus lelehan coklat di sudut bibir via.
"gue cabut duluan ya," tiba-tiba Gabriel bangkit dari kursinya dan bergegas untuk pergi, tapi belum sempat melangkah jauh ia merasakan pusing yang teramat. Kepalanya serasa dilempari puluhan batu. ia terduduk kembali, menunduk seraya meremas rambut.
"aarrghh," erangnya. Wajah Gabriel memerah yang tidak ada hubungannya dengan cuaca panas di sekitarnya, rahang pemuda itu mengeras menahan sakit.
"lo kenapa, Gab?" tanya alvin cemas.
"Gabriel hidung kamu berdarah," imbuh Via tak kalah kalut.
via dengan cepat menghampiri Gabriel, mengeluarkan sapu tangannya dan perlahan menghapus darah segar yang mengalir dari hidung Gabriel. Saat ini, dengan posisi sedekat ini, Gabriel bisa dengan jelas menatap dua bola mata indah itu, "jangan via, aku mohon jangan nangis," batin Gabriel khawatir melihat selaput bening yang terpeta pada sepang bola mata Via.
"tolong cariin es batu, Fy," perintah Via.
Ify pun dengan sigap langsung berlari, tak berapa lama gadis itu kembali dengan sebalok es batu ditangannya, "nih" katanya dengan napas terengah.
"Ya Tuhan, Ify, lo kira Gabriel mau jualan es campur, yang kecilan aja kali nggak usah sebalok gini," Rio sangat gemas melihat kelakuan ajaib Ify, gadis ini benar-benar langka.
"biar cepet mampet, Rioooo."
"udah-udah, fy. Gue nggak apa-apa, udah berenti kok mimisannya," kata iel sambil memegangi sapu tangan via di bawah hidungnya.
"lo sakit Gab?" tanya alvin.
"nggak kok, paling karena panas banget aja ni cuacanya," balas Gabriel santai.
"yaudah, balik aja yuk, lo naik mobil gue aja. motor lo, tinggal aja di sekolah," ajak alvin yang masih memasang wajah cemas.
"iya, pulang gih, ntar hasil seleksinya, gue smsin lo berdua," kata rio.
Gabriel menurut, alvin memapahnya perlahan. saat melewati sivia, gabriel menatapnya sekilas, gadis itu hanya menunduk.
"aku duluan ya vi" pamit alvin, tangan kirinya mengacak poni kekasihnya.
*
PANTI ASUHAN KASIH BUNDA
Kesinilah Gabriel mengajak via jalan-jalan sore ini, pemuda itu sudah nampak lebih sehat pasca insiden mimisan tadi siang. tadinya Alvin juga ingin ikut bersama Gabriel dan Via, hanya saja pemuda itu sudah ada janji dengan klub fotografernya. Sejenak via bingung, tumben sekali Gabriel mengajaknya ke tempat seperti ini. Biasanya taman ria, pasar malam atau yang paling mainstream adalah mall dan bioskop. Pemuda ini memang sangat payah kalo urusan mencari tempat jalan.
"ayo, vi" Gabriel membukakan pintu mobilnya untuk via.
"tempat apaan sih ini?"
"panti untuk anak-anak penderita kanker."
"kanker? trus kenapa kamu ajak aku kesini? " tanya via.
Gabriel tidak menjawab, ia hanya tersenyum dan membimbing via masuk dengan menggandeng jemari gadis itu. Gabriel tau ini salah, tapi ia nyaman menikmati jalaran rasa hangat yang memenuhi rongga dadanya saat jemarinya bertaut dengan milik Via, ya Via, gadis saudaranya. Entah pengkhiannatan macam apa ini.
Saat memasuki halaman bangunan bercat hijau muda itu, Gabriel dan via disambut senyum hangat anak-anak penghuni panti, mereka sangat ceria, tak akan ada yang menyangka bahwa sosok-sosok kecil ini mungkin esok atau lusa akan pergi meninggalkan dunia. Semangat dan kebersamaan menghiasi setiap sudut tempat ini.
"kak Gabriieeelll," sapa seorang gadis kecil berkuncir ekor kuda yang datang menyongsong kedatangan Gabriel dengan berlari.
"eh Aren" Gabriel berjongkok, mengecup penuh sayang puncak kepala Aren.
"kakak kemana aja? Kok nggak pernah kesini?" tanya aren.
"kakak sibuk sama sekolah, sayang. Eh iya kenalin, ini teman kakak," kata Gabriel.
"hai aren, aku via" ujar via sambil mengulurkan tangannya.
"Hallo kak, aku Aren. kak via cantik ya, kak?" puji Aren seraya menarik-narik ujung baju Gabriel.
Gabriel mengangguk setuju.
"aren juga cantik," balas via.
"kakak pasti putri cantiknya kak gabriel ya?" tanya aren.
"putri cantik?" tanya via bingung.
"ssttt, aren itu kan rahasia kita," sela gabriel.
"oh iya, hehe," Aren menyeringai, ekh kakak-kakak main yuk teman-teman pasti seneng kalo tau kakak datang, apalagi bawa teman baru, ayuk kak," aren menarik tangan via dan Gabriel, "teman-teman coba tebak, siapa yang datan?" seru aren.
"KAK GABRIEELLL!!!" koor anak-anak seraya berlarian kearah Gabriel.
"kakak, aku kangen."
"kak apa kabar?"
"kakak kemana aja?"
semua anak terlihat sangat dekat dan menyayangi Gabriel. Via yang pada dasarnya memang menyukai anak kecil, jadi cepat akrab dengan mereka. Kekagumannya terhadap sosok Gabriel tanpa ia sadari mulai tumbuh. Di balik sosoknya yang slengekan, jayus, nggak romantis dan kadang seenaknya, ternyata Gabriel bisa begitu diidolakan oleh anak-anak, bahkan anak-anak penderita kanker. Diajak kemari oleh Gabriel juga membuat Via begitu bersyukur atas hidupnya yang nyaris sempurna. Via tersenyum... "semangat via!" tekadnya dalam hati.
"hei,senyum-senyum sendiri." tegur iel.
"kamu udah sering kesini ya?"
Gabriel mengangguk, "tau nggak kenapa kamu aku ajak kesini?"
Via menggeleng pelan.
"Suatu saat kalo kamu sedih, kamu ngerasa hidup yang harus kamu lalui terlalu berat, kamu ingat lagi hari ini. kamu ingat gimana perjuangan anak-anak di sini melawan penyakit mereka. kamu ingat gimana semangat mereka buat sembuh. manusia nggak pernah benar-benar punya alasan buat sedih, Vi, kalau semua diahadapi dengan senyum dan semangat. itu yang aku pelajari dari anak-anak di sini." papar gabriel panjang lebar, "jadi kalo lagi berantem sama pacar baru kamu, jangan pake galau-galau segala ya," goda Gabriel ditambah senyum usil.
"Ih apa siiiihh jayus deh," Via menjulurkan lidah, "sayang ya Alvin nggak bisa ikut kita kesini. sok sibuk tu bocah," lanjutnya menggerutu.
Gabriel tersenyum masam, "kamu tau Vi? aku sakit."
"Hah? maksudnya?"
Gabriel lagi-lagi tidak menjawab, membiarkan pertanyaan Via menggantung begitu saja. ia malah berdiri dan menggendong aren di punggungnya, "kita nyanyi sama-sama yuk" ajak Gabriel yang meninggalkan Via berikut pertanyyannya seorang diri.
Via tergugu, menatap punggung Gabriel yang menjauh.
*
Seperti biasa, kelas XI ipa 1, sepagi ini sudah ramai, makhluk-makhluk penghuninya sudah berkicau ngalor ngidul nggak jelas arah dan tujuannya. Ify berjalan ringan menyusuri barisan meja dan kursi di kelas, menuju tempat duduknya. betapa jengkelnya gadis itu melihat Rio si cowok mulut cabe (julukan terkini Ify untuk Rio) sudah duduk manis di tempat Via.
"ngapain lo duduk disini? kemarin kan udah gue usir, ini kursi Via tau. ngerti bahasa indonesia nggak sih lo?"
"Yaelah, nyerocos aja, bawel!" sentak Rio, "Sobat lo, si via noh duduk sama pacarnya. kalo nggak disini, lo mau nyuruh gue duduk dimana? lo mau gue lesehan gitu?" rio sewot.
Ify merengut, "lo tu emang bener-benernya, ngeselin klimaks!!!" Ify membanting tasnya lalu duduk dengan kedua tangan terlipat di dada dan bibir mengerucut beberapa centi.
"lo tu yang ngeselin, mak lampir," balas rio tak mau kalah.
"lo kan yang ngajarin."
"lo kan guru gue."
"pokoknya lo lebih ngeselin."
"lo lebih lebih ngeselin."
"lo lebih amat sangat ngeselin."
"lo teramat sangat lebih ngeselin sekali."
"elo...."
"DIAAAMMM!!!"
karena teriakan Pak Arief guru bahasa Indonesia yang entah sejak kapan sudah hadir dalam kelas, adu mulut antara Ify dan Rio terpaksa harus dipending. keduanya kemudian duduk sambil saling menyikut dan injak-injakkan kaki.
"selamat pagi anak-anak," sapa pak arief berwibawa.
"selamat pagi, pak" koor anak-anak.
"ok, seperti telah bapak sampaikan sebelumnya, hari ini kita akan praktek membacakan puisi yang telah kalian buat masing-masing dengan tema bebas. Bapak akan memanggil secara acak, untuk yang pertama, Mario.. silakan!"
rio berjalan ke depan kelas, ia menatap ke arah teman-temannya, menarik nafas sejenak...
Hilang..
Terhenti..
Hanya ingin menepi sejenak, setelah lelah ku berlari.
Menjauh dari sebuah masa yang terus mengejarku.
Semua usai, terhenti tanpa pernah diingini.
Letih...
jalan yg kulalui terlalu panjang untuk ditempuh sendiri.
Arahnya, membendung langkahku.
Likunya mengubur tawaku, merenggut senyumku.
Habis sudah semua terkikis takdir-Mu.
Tapi perihnya tak akan hilang ditelan guliran waktu.
Prok-prok-prok
semua anak memberi applause untuk puisi rio.
"bagus rio, selanjutnya Danang, silakan maju!!!" lanjut pak arief.
CINTA..
Danang mulai membacakan judul puisinya.
Luka-luka-luka
yang kurasakan
bertubi-tubi-tubi
engkau berikan
Cintaku bertepuk sebelah tangan,
tapi aku balas senyum keindahan.
Bertahan satu cinta
bertahan satu
C.I.N.T.A
"kayaknya gue tau deh puisi ini," celetuk rizky yang duduk disebelah daud.
"WOII penyair gagal, itu mah lagunya d'bagindas dodol," seru daud.
"sstt, diem aja sih lo, berisik," Danang memelototi Daud.
"sudah sudah, danang duduk dan perbaiki puisi kamu."
Pembacaan puisi karya masing-masing siswa terus berlanjut, adanya puisinya begitu indah dan menyentuh, ada yang ambigu antara membuat puisi atau cerpen, ada yang tidak nyambung dan sebagainya, "dan untuk pembaca puisi terakhir, silakan saudara Gabriel."
mampus gue, kebagian pula. mana belum buat puisinya. alamat ngarang bebas ini sih, batin gabriel
"gabriel, mana kertas puisi kamu?"
"saya sudah hafal pak," jawab gabriel berbohong.
"baiklah, silakan kalau begitu."
aku...
sedikit lelah, karena bertahan sendiri
tapi tak berniat untuk menyerah
selama bunga masih merekah
mentari bersinar cerah
aku tak ingin pergi
aku tak ingin berhenti
mereka, orang-orang terkasihku
telah kah mereka sadari?
telahkah mereka pahami?
hilangnya tawaku
hilangnya semangatku
hilangnya peganganku
atau memang hanya aku yang menyadarinya???
tapi biarlah,
karena selayaknya mereka tak perlu
tentang aku,
tentang kerapuhanku,
tentang sebenarnya aku...
puisi itu mengalir begitu saja dari mulut iel, tapi rangkaian kata sederhana itu ternyata mampu membius semua orang dalam ruangan kelas. benar jika orang berkata, yang betul-betul dari hati akan lebih terasa maknanya. seperti puisi gabriel tadi, curahan isi hatinya. setelah dirasa usai dengan puisi dadakannya, gabriel membungkuk memberi salam tapi seisi kelas masih saja terdiam, hening.
waduh ,puisi gue kayaknya ancur banget deh, sampai pada shock gini, batin gabriel.
"SEKIAN DAN TRIMAKASIH" teriak Gabriel, mengagetkan semuanya.
"Oh ya ya, bagus gabriel, bagus." puji pak arief.
"Hah?" Gabriel tampak bingung, bagaimana mungkin puisi seabsurd itu bisa dibilang bagus, dimana letak kebagusannya, "Makasih pak," ujarnya seraya berjalan menuju kursinya.
***
best regard
via
Label:
Malaikat Hidup Gue
