Entah kenapa..
aku rasa gamang itu tak kian usai.
Samarnya semakin mengaburkan.
Padahal yang membasuhnya sudah sejernih shubuh.
Tapi tak putus asa.
Bodoh !! Kalau pernah berfikir untuk berhenti dititik ini.
***
Tuhan...
Jika seorang hamba diperkenankan menghujat Engkau, sudah pantaskah aku menghujat-Mu ??
Ya, Allah..
Sudah sampaikah aku pada titik yang layak untuk menghardikmu-Mu ??
Aku lelah.
Percayalah.
Semua begitu sulit untukku.
***
Sadar ataupun tidak, entah logika atau emosi, yang pasti kedua kakiku telah membawa raguku menyusuri jalan-jalan ini. Lantas berpijak pada satu-persatu undakan dari kayu itu, lalu berlabuh pada anak tangga terakhir, berhenti tepat di depan sebuah pintu yang sedikit usang. Nafasku memburu, seperti ada aksi penolakan dari tubuhku, untuk melaksanakan apa yang berkelebatan dalam benakku. Ujung tangga, ujung hidupku ?? Adakah kaitannya ? Atau aku saja yang terlalu mendramatisir keadaan ?
Aku menyeka air mataku, rasanya perih sekali saat kulit wajahku yang pecah-pecah dibasahi air mata.
Pintu itu mengejekku. Anak-anak tangga itu menggunjingkanku. Angin berdesing mencibirku.
Haah. Benar kan ? aku berlebihan, aku memang sudah mulai gila akhir-akhir ini. Mungkin.
Aku melangkah pasti. Tak ku izinkan gentar mengusikku. Toh setiap hal pasti berujung, pasti berakhir, dan aku sudah memilih akhir ini. Akhir untukku sendiri.
Aku memutar kenop pintu berwarna keperakan, yang terasa dingin dalam genggaman tanganku.
Ceklik.
Sejurus kemudian daun pintu berdecit terbuka. Mengayun. Membentangkan kenyataan bahwa aku harup sudah siap. Siap dengan jalan yang telah ku cetuskan sendiri.
Cakrawala pagi dengan sepoi lembut sang angin menyapa sendiriku. Jilbab yang ku kenakan mulai bergerak liar dimainkan angin yang terasa lebih kencang dari atas sini. Empat tingkat dibawahku kehidupan masih berjalan seperti biasa. Deretan kendaraan yang terparkir rapi, lalu titik-titik manusia yang bergerak acak menyerupai elektron dalam sebuah atom.
Apa mereka tidak melihat aku, disni ?
Ah, tapi kalaupun mereka melihat,
mereka tidak akan merasa perlu untuk repot-repot mencegahku untuk mengeksekusi pemikiranku.
Toh, aku memang tidak lagi penting untuk mereka. Siapa sih Ify ? Hanya seorang gadis dengan lupus di tubuhnya.
Aku menutup mata, ku rentangkan kedua tanganku, menikmati penggalan-penggalan deru nafas yang sebentar lagi mungkin tak akan jadi milikku. Aku mulai melangkah, meski kedua lututku bergetar hebat. Ku selusuri tepian atap gedung ini. Matahari, awan, pohon palem, semua mengabur, mataku panas.
"Aku harap tidak akan ada lagi orang lain yang bernasib sepertiku Tuhan. Bunda, Mas Riko, Acha, maafin Ify."
"dan kamu Rio, kamu jahat, Yo.." lirihku pada angin, berharap ia menyampaikannya pada pemuda jangkung itu.
"Maaf, Fy.."
Aku terpaku, suara itu ?
Saat aku menoleh, ku dapati Rio berjalan kearahku.
"Cukup. Diam disitu. Atau aku akan lompat sekarang juga." ancamku.
"Fy, jangan main-main. Itu berbahaya, aku mohon menjauhlah dari situ." pinta Dea, gadis itu mengulurkan tangannya, sorot matanya tidak bisa berbohong, ia sangat khawatir terhadapku.
Ya, tentu saja khawatir. Dea kan sahabatku. Dia sangat menyayangiku. Ah, tapi tidak juga. Dia jahat. Ya, dia jahat. Aku tidak boleh luluh hanya karena air mata yang tak seberapa itu.
"Tau apa kamu soal bahaya. Orang sepertimu justru lebih berbahaya." cercaku, "Sudah, kalian pergi saja. Jangan pedulikan aku." usirku.
"Fy, maafkan aku kalau perkataanku tadi menyinggungmu, tapi sungguh aku tidak bermaksud seperti itu. Aku tidak akan pergi kemanapun. Aku tidak pernah mempermasalahkan emm, fisik. Maksudku, aku...aku menyayangi sosok Ify bukan sekedar wajah, rambut atau kulitmu. Percayalah." tutur Rio lembut.
Aku tertawa sinis, "Kamu kira aku buta ? Kalau kamu menyayangiku, lantas apa yang kalian lakukan tadi. Kamu hanya kasihan kepadaku, iya kan ? Pergilah, sebelum aku mendorongmu dari tempat ini." gertakku.
"apa itu bisa membuatmu puas nona Alyssa. Kalau iya, ayo kau dorong saja kami sekarang juga." tantang Dea, "kau ini kekanak-kanakan sekali Fy, kamu harusnya mendengarkan penjelasan kami, apa yang kamu lihat tidak selalu sama dengan apa yang terjadi sebenarnya." lanjut Dea.
Aku bungkam.
"Jika Tuhan menurunkan raga yang sakit, agar yang sehat pandai bersyukur berarti sakitnya adalah anugrah. Jika Tuhan menyisipkan kesedihan dalam rangkaian kebahagian, itu agar kita bisa memahami dua sisi yang berbeda dari dunia. Tidak ada yang perlu disesali, apalagi berandai-andai agar hidup selalu indah, Tuhan itu Maha Tahu, mana yang paling baik untuk hamba-Nya." Rio mengucap ulang perkataanku beberapa bulan lalu. Saat kaki Rio cidera parah dan ia tidak bisa mengikuti pertandingan basket yang sudah ia nanti-nantikan cukup lama. Pada waktu itu Rio sama sekali tidak mau keluar kamar ataupun makan.
Hebat sekali pemuda ini. Ia masih menghafal dengan sempurna kalimat spontan dariku itu.
"Apa ucapan itu sekedar bualan mulutmu, supaya aku menganggapmu dewasa ??" tanya Rio, datar.
Aku tercekat, "Kau masih sempat menuduhku yang bukan-bukan ?" kataku, tak menyangka.
"kenapa memangnya ?? aku tidak akan melarangmu lompat, tidaka akan pernah. Terserah saja. Itu hakmu." ujar Rio dengan ekspesi tak peduli.
"Rio !!" sentak Dea, "Fy, jangan pedulikan Rio. Kemari Fy, aku mohon." lanjutnya, lagi-lagi dengan tatapan memohon kearahku.
"Biarkan saja De, untuk apa kamu repot-repot mencegahnya." suara baritone itu kembali membuatku menelan ludah tanpa bisa bicara sepatah katapun.
"tapi sebelumnya, ada yang perlu kamu ingat Alyssa. Dirumahmu, ada seorang ibu yang siang malam bercucuran air mata mendoakanmu. Ada seorang kakak yang selalu menyayangimu. Dan ada seorang adik yang selalu membanggakanmu. Kalau kamu memang cukup pandai, paling tidak tunda niatmu mengakhiri hidup sebelum kamu bisa membahagiakan mereka."
Nada dingin dan ekspresi datar itu bisa saja dibuat, tapi tatapan tulus dari dua bola mata coklat pekat itu, tidak. Juga tangan itu. Tangan yang masih terulur kearahku sejak tadi, padahal satuan menit telah lama terlewati.
Rio, bakat actingmu benar-benar nol besar.
"Kau bisa bicara seperti itu, karena kau sama sekali tidak merasakan apa yang ku rasakan." tukasku tak mau kalah.
"Baiklah. Aku memang tidak memang tidak merasakan apa yang kamu rasakan, begitu pula denganmu..." Rio berhenti sejenak untuk menghela nafas, "kamu tidak pernah merasakan bagaimana jadi aku. Kamu melarangku menemuimu, kamu sama sekali tidak memberitahu aku apa yang terjadi padamu, kamu sakit apa? tiga bulan kamu menghukumku tanpa satu hal pun sebagai alasan. Aku kaget dengan apa yang terjadi padamu, apa aku salah ??"
"aku tidak pernah bilang, kamu salah."
"tapi kamu menyalahkanku. Kamu bilang aku jahat tadi."
"tidak."
"Sudah. Cukup. Kalian apa-apaan sih ?" lerai Dea, melihat aku dan Rio yang sudah tersulut emosi.
"Apa kamu kira aku baik-baik saja ? Ayahmu pergi, aku tau kamu sedih, tapi kamu sama sekali tidak mengizinkan aku menemanimu. Sekarang kamu muncul dihadapanku, menangis, menyalahkanku, lalu kembali berniat meninggalkanku. Aku hampir gila Fy, tidakkah kamu mengerti ??"
"Rio tutup mulutmu." raung Dea.
Aku benar-benar kehabisan kata-kata. Perbendaharaan kata yang aku miliki, yang sempat menjadi andalanku tiap bertemu tugas presentasi, tiba-tiba saja menguap.
Aku memilih untuk berbalik, memunggungi Dea dan Rio.
Beberapa memori kecil yang indah berpusar di otakku, seakan mengajakkan untuk sejenak bernostalgia sebelum semuanya hilang dibawa jiwa yang sepertinya akan segera terlepas dari sang raga.
Rio. Gitar. Api unggun. tatapan menyejukan. Bunga.
Kak Riko. Usapan lembut di puncak kepalaku. Perlindungan. Kumandang Al-Qur'an, dan satu janji, "Kalau aku sudah sukses jadi dokter, aku akan mendirikan sebuah panti asuhan dan kamu yang akan menjadi ketua yayasannya, Fy."
Acha. Senyum manis. Sepeda Ozy. Ayunan. Drama Asia.
Lalu Bunda...
"Ify takut Bunda." rajukku sambil memeluk bunda waktu itu.
"tidak perlu takut sayang. Menstruasi adalan tanda bahwa Ify sekarang sudah dewasa, sudah jadi gadisnya ayah dan bunda. Sudah harus melaksanakan kewajiban-kewajiban Ify sebagai seorang muslimah. Juga sudah harus bisa menjaga diri sendiri."
"tapi kan jijik, Bun. Ify tidak suka kalau setiap bulan harus seperti ini."
"Kenapa harus jijik. Itu kan kodrat seorang wanita, Allah mengaturnya agar kelak seorang ibu juga tidak jijik membersihkan kotoran anaknya."
Memori kecil itu tersimpan rapi diotakku semenjak 5 tahun lalu, tepat ketika aku duduk di bangku kelas 2 SMP.
Rio benar. Bukankah beberapa hari ini aku yang begitu ngotot meminta bunda dan yang lain untuk segera bangkit, lalu kenapa aku harus menyerah ?
Bukankah aku sudah mempersiapkan diriku untuk hari ini jauh sebelumnya, lalu kenapa aku harus pasrah ?
Tidak. Aku tidak ingin mendapati diriku terseok kembali. Digeret kelemahan, lantas tenggelam selamanya, bersamanya. Aku kuat. Aku berani. Aku belum kalah. Tidak boleh, aku tidak boleh berhenti.
"ada saatnya untuk menyerah Fy, itu pasti. Tapi bukan sekarang. Bukan saat ini. Aku minta maaf kalau tanpa sadar aku...aku membuatmu merasa dibohongi. Tapi sungguh, sumpah demi apapun, yang kamu lihat tadi bukan apa-apa." tutur Dea, lembut.
"janganlah menangis, lepaskan semua beban dihatimu," aku mendengar lagu itu, lagu yang menurut Rio bisa menghilangkan rasa sedih, lagu yang diajarkan kakek Rio pada pemuda itu sewaktu ia masih sekolah dasar, aku mendengar lagi Rio menyanyikan lagu itu untukku, "ayo ikutlah denganku. Kita bernyanyi nanananananananana..."
Aku menoleh. Tangan itu, masih setia terulur untukku, sekarang malah dibonusi senyum manis Rio.
Sedetik kemudian, aku berlari menubruk tubuh tinggi Rio, memeluknya begitu erat. Meleburkan jarak yang tersisa, tak ku izinkan barang angin sekalipun menyusup membentuk sekat untuk kami.
3 bulan. Dan aku sungguh sangat merindukan pria ini. Merindukan aroma tubuhnya yang khas, merindukan dekapnya yang hangat.
"aku kangen kamu..." bisikku padanya.
Aku merasakan lengan kanan Rio mengelus kepalaku. Damai itu menyusup, bersatu dengan darahku, lantas menjalari setiap jengkal tubuhku.
"kamu tau, berat badanku menyusut sampai 5 kg karena terlalu sering memikirkan dan mengkhawatirkanmu." celetuk Rio.
Aku melepas pelukanku, lalu tersenyum simpul pada Rio. Lekat-lekat ku pandangi dua bola mata penyejuk itu.
"kenapa ? Ada yang aneh denganku ?" tanyanya seraya menaikan sebelah alisnya.
Aku menggeleng.
"aku ingin bertanya, boleh ?"
Rio menggangguk.
"kenapa dipunggungmu tidak ada sayapnya ?" ceplosku, yang disahuti gelak tawa kecil dari Rio.
Haah, Tuhan... Tolong ingatkan aku bahwa surga itu masih ada, sebelum aku menobatkan senyum pria ini adalah yang terindah dari yang paling indah yang pernah Kau ciptakan.
"kau fikir aku ini apa, Fy ? Burung ?" ujarnya sambil terkekeh. Aku menggelembungkan kedua pipiku.
"ekhm." Dea berdehem usil, "sampai kapan kalian akan disini ? Aku rasa kita sudah tertinggal satu jam pelajaran." katanya, lalu berjalan menuju pintu dengan santai, anak-anak rambutnya bergoyang diulik angin.
Rio menggandeng tanganku, "tunggu kami, De." serunya, lalu mengekori Dea.
Haah, rasanya aku ingin terus tersenyum hari ini, besok, besoknya lagi, besoknya lagi, besoknya lagi...
Aku yakin, aku akan terus bisa tersenyum, selama pria ini disampingku. Rasanya lega sekali. Berbeda dengan saat pertama aku menjalari tempat ini tadi, kini langkahku terasa lebih ringan. Bahkan aku merasa seperti tengah melayang disela gumulan awan.
Aku melirik punggung pria menjulang yang berdiri bersisian denganku. Tetap sama. Tidak ada sepasang sayap yang tersisip disana.
Berarti benar kata mbak dewi lestari, terkadang malaikat itu tak bersayap. Tapi percayalah mereka ada. Kadang malah menjelma menjadi sosok sempurna yang kasatmata. Menasbihkan diri dalam perwujudan manusia.
Walaupun dirimu tak bersayap
ku akan percaya
kau mampu terbang bawa diriku
tanpa takut dan ragu
walaupun kau bukan titisan dewa
ku tak kan kecewa
karena kau jadikanku sang dewi
ditaman surgawi.
***
6 Desember.
Dear diary..
ia sempat pergi. Aku sempat menangis.
Tapi tak ada ikrar yang menyatakan ia tidak akan datang lagi.
Kini lihat !!
Saat senja terpulas penuh oleh warna jingga, diufuk barat kepak sayapnya terlihat. Ia kembali.
Membawa bait-bait gita perjalanannya.
Diceritakan tentang wilayah barat yang mewah dengan gemerlap peradabannya, lalu utara dan selatan dengan hamparan salju yang lembut serta timur dengan keramahan bunga-bunganya.
Ah, aku ingin segera sembuh. Aku juga ingin mengunjungi tempat-tempat itu.
tuhan perkenanakanlah sayapku terkepak kembali. Aku ingin terbang lagi.
Tuhan, aku ingin sembuh.
***
Hanya orang sakit yang bisa menikmati indahnya sehat. Dan saat sakit telah menjadi sahabatku, maka sehat akan jadi harta tak ternilai untuhku.
Masih ingatkah kalian ? Diawal cerita ini, aku pernah bicara tentang sisi semu, tak pasti, abu-abu. Sisi itu telah kulewati sekarang. Gamang. Galau. Tak pasti. Semua itu telah ku lalui.
Aku telah memilih untuk bertahan, dan akan ku perjuangkan pilihanku.
Perlahan detik di gulirkan masa, merangkai menit yang kemudian terpaut menjadi jam. Hari berganti mengikuti bumi yang berotasi. Bulan dan tahun ikut berlalu, mengimbangi revolusi bumi terhadap matahari.
Waktu telah berlalu.
4 tahun telah lewat. Masa-masa sulit itu telah tertinggal. Sekarang inilah hidupku, inilah Ify yang baru, yang Insya Allah akan jauh lebih baik dari Ify yang dulu. Tidak mudah memang. Tidak segampang merontokan embun yang bergelantung pasrah pada ranting-ranting cemara. Tidak segamapang menawan melati dari pohonnya. Ada saat-saat dimana sisi abu-abu itu menang. Membuat ku limbung. Melahap habis cerca cahaya putih yang menerangi langkahku, dan menggantinya dengan dominasi hitam yang lebih nyata. Ada kalanya tubuh ini menolak diajak bertahan, nafas ini seakan ingin segera kabur dariku, mata ini memberontak tidak ingin terus terjaga. Ada saat dimana kematian begitu dekat denganku.
Tapi toh akhirnya aku berhasil.
Kawan, aku sembuh. Aku sehat. Lupus ini mau berteman denganku. Tuhan menuntaskan ujiannya dan mengembalikan semua yang pernah ku miliki. Kulit mulusku, rambut panjangku, paras-yang menurut orang-ayuku... Semuanya kembali.
Aku tidak lagi membenci 'Si Lupus' ini, karena sekarang ia telah menjadi kawan paling setia dalam hidupku.
4 tahun. Tentu banyak sekali hal yang sudah berubah. Aku bukan hanya telah menuntaskan Sekolah Menengah Atas-ku, tapi aku juga telah lulus dengan IPK 4 dari Universitas Gajah Mada. Sekarang aku tengah sibuk dengan profesiku sebagai psikolog dan ketua yayasan untuk sebuah panti yang didirikan kak Riko. Untuk mengisi sedikit waktu luang yang aku punya, aku juga masih sempat sesekali mengajar mengaji pada anak-anak disekitar tempat tinggalku.
6 bulan lalu, aku yang begitu semangat belajar menulis juga mendapat kesempatan untuk mem-publish ceritaku. Sebuah penerbit berminat mengangkat cerita yang awalnya ku tulis di blog pribadiku untuk dijadikan sebuah novel. Novel yang ku beri judul, "Kamu Sekuat Alyssa" menceritakan tentang aku dan lupus yang ku derita. Mungkin novel itu tidak akan menguras air mata layaknya "Surat Kecil Untuk Tuhan" karya Agnes Davonar, novel itu juga tidak akan se-booming "Fairish"nya Esti Kinasih yang sampai dicetak berulangkali. Tidak pula akan se-inspiratif "Perahu Kertasnya" mbak Dewi Lestari. Tapi aku tetap bangga dengan karya pertamuku itu. Aku berharap siapa pun yang kelak membacanya dapat memetik sepenggal hikmah yang ku selipkan didalamnya.
Aku sangat mencintai hidupku saat ini. Dan ini tidak akan ku dapatkan hanya dengan menangis dan meratap, tidak akan ku dapatkan kalau saja aku benar-benar mengakhiri hidupku waku itu.
Benar kata kak Shilla, kita tidak akan pernah tau baik atau burukkah rencana Tuhan kalau kita tidak berani untuk meniliknya dengan terus maju.
Dan bicara tentang kak Shilla, sekarang Mbak Ayu itu menjadi dosen di salah satu universitas negri di Solo. Sedangkan Mas gantengku tentu saja akan 'ngintil calon istrinya. Kak Riko sekarang sudah menjadi dokter disalah satu rumah sakit besar di kota Solo, ia sudah mampu membeli rumah sendiri yang cukup besar dan membuka praktek disana.
Saat dunia terus berputar, melahirkan berjuta atau bahkan milyaran perubahan, aku ingin memberikan acungan jempol setinggi-tingginya untuk pasangan ini. Entah doa apa yang mereka lantunkan, cara apa yang mereka tempuh dan terbuat dari apa hati mereka. Ozy dan Acha, pasangan ini meski terpisah benua dan terhalang bentangan laut tidak ada yang bisa merubah cinta yang merka punya. Aku rasa, tidak ada yang berubah dari keduanya. Acha, adik bungsuku itu baru saja menyelesaikan SMAnya di Perancis, tepatnya di Paris, ia juga sudah menjadi mahasiswi semester 2 di salah satu universitas, di kota yang menjadi kiblatnya mode itu. Sedangkan Ozy entah setia atau memang tidak laku...oh, bukan-bukan, pemuda setampan dan semanis Ozy tentu saja laku, pemuda itu masih saja sabar menunggu Acha yang tengah mengejar impian-impiannya. Ozy tetap di Yogya membantu ayahnya memasarkan patung-patung ukir, dan meneruskan pendidikannya di UGM, sesekali Ozy juga membantuku mengurusi panti. Aku tidak pernah melihat Ozy menggandeng gadis lain, begitu pula dengan Acha yang tidak pernah absen menanyakan Ozy setiap ia mengirim e-mail kepadaku. Aku rasa mereka berdua benar-benar layak dinobatkan jadi pengganti figur Romeo and Juliette.
Hah, kalau seperti ini rasanya kok bodoh sekali ya dulu aku sempat berniat terjun dari lantai 4 gedung sekolahku.
Aku tertawa kecil lalu menggelengkan kepalaku, "bodoh." gumamku.
"bodoh ? Siapa, aku ?" suara berat milik pengemudi sedan silver disampingku membuat aku menoleh sekilas.
Aku mengerutkan keningku, "tentu saja bukan, apa kau rela, aku bilang bodoh, Mario?" kataku.
"aku tidak keberatan dibilang bodoh oleh orang dengan IPK 4" balas pengemudi tadi, Rio, santai, dengan tetap fokus pada jalanan di depannya.
"kamu juga pasti bisa dapat IPK 4. Kedipkan saja matamu pada dosen-dosen wanitamu, pasti mereka langsung memberimu nilai A plus. Hhehe." aku terkekeh. Semakin lebar, saat tangan kiri Rio mengelus puncak kepalaku.
Aku alihkan tangan kiri Rio yang masih asik mengacak poni rambutku yang sudah terlalu panjang. Ku letakkan di pipi kananku, ku kunci kelima jemari itu disitu. Kurasakan pipiku memanas.Pasti memerah.
Tapi ku abaikan. Saat-saat berdua dengan Rio seperti ini sangat jarang bisa terjadi karena kesibukan masing-masing.
Rio, sekarang masih tercatat sebagai mahasiswa di Universitas Indonesia, Fakultas Kedokteran. Paling sering Rio berkunjung ke Jogja dua bulan sekali, itupun paling hanya 2 sampai 3 hari. Di Jogja aku pun memiliki banyak kesibukan yang tidak bisa ku tinggalkan semauku.
Tak jarang rasa cemburu tak berasas, atau galau tak bersebab menyapaku. Takut Rio meninggalkanku, melupakan aku. Tapi segera ku tepis kelebatan pemikiran negatif semacam itu. Aku yakin Rio akan selalu menjaga hati yang telah aku titipkan padanya. Sama seperti aku yang tak pernah berniat melukai hati yang Rio percayakan padaku.
Terhitung setelah aku sembuh. Dan fisikku kembali normal, banyak pemuda-pemuda yang mencoba mendekatiku, terutama mereka yang tidak tau sama sekali perihal riwayat kesehatanku. Tapi aku menolak mereka dengah halus. Aku sudah mdmatenkan pilihanku, sama sekali tidak berminat melirik option-option lain. Rio. Dia yang mau bertahan denganku, bagaimanapun keadaanku dan dihatiku Rio nomer satu.
"besok adik manisku pulang ya ? Aku kangen sekali padanya." suara Rio memecah lamunanku.
Karena tidak begitu memperhatikan ucapan Rio sebelumnya, maka ku putuskan untuk sekedar mengangguk.
"Acha minta dijemput jam berapa ? Boleh tidak, aku saja yang menjemputnya ?" izin Rio.
Oh. Acha. Batinku, menangkap objek pembicaraan.
"kita jemput sama-sama ya. Bersama bunda dan kak Riko."
"oh, baiklah. Tapi Ozy tidak ikut ?"
"dia masih di Semarang."
"oh, begitu. Fy, apa Acha menyukai boneka seperti itu ?" Rio menunjuk seperti kearah jok belakang dengan dagunya, "Acha memintaku membelikannya kado saat dia pulang. Apa boneka itu bagus ?!" tanya Rio, meminta pendapat.
Aku mengerucutkan bibirku, "huu, aku juga mau yang seperti itu. Kenapa hanya membeli satu, aku tidak dibelikan ? Tidak adil." protesku iri, melihat sebuah boneka beruang berukuran besar warna pink memakai pita dengan aksen bunga-bunga berwarna putih dan merah.
"kamu kan sudah tidak main boneka lagi." sergah Rio.
"Acha juga tidak." tegasku tak mau kalah.
"tapi, dia kan adikku.."
"kapan ibumu melahirkan Acha. Dia itu adikku."
Rio tertawa kecil, "iya, iya, nanti aku belikan, yang lebih bagus dari itu. Tapi nantinya, kalau kamu sudah resmi jadi nyonya Mario. OK ??" Rio melirik penuh arti kepadaku.
"Jangan mengigau yang macam-macam. Ini masih sore." tanggapku, datar.
Segera ku palingkan wajahku yang entah sudah seberapa merah, mungkin sudah layak menjadi saingan buah strawberry.
Diluar mobil, hujan menari, turun dengan rintik yang mengalun sempurna menjadi backsong yang menambah suasana romantis yang tengah tercipta kini. Langit keunguan yang lebih gelap karena di gelayuti mendung, tak tau bagaimana prosesnya jadi terlihat berwana merah muda, dimataku. Hehehe.
Sedan silver Rio jerus melaju, memperkecil rentangan jarak agar semakin dekat dengan titik tujuan.
Acara galang dana Omnya Rio, yang lagi-lagi didedikasikan untuk penderita Lupus. Untuk acara itulah Rio sengaja pulang ke Jogja. Acara itu akan berlangsung sekitar 2 jam lagi dari sekarang. Dan aku untuk yang ke 4 kalinya ikut berpartisipasi mengisi acara tersebut.
***
Gedung besar itu sudah sangat ramai. Kami sepertinya memang sangat terlambat. Aku melirik jam tangan coklat ditanganku. Pukul 19.15, astaga, pantas saja sudah sangat ramai, acaranya akan segera dimulai kurang dari 15 menit lagi. Setelah turun dari mobil Rio, dengan langkah lebar-lebar kami menuju backstage.
"Ya Tuhan, kemana saja kalian, kenapa baru datang. Kalian kan akan jadi pembuka acara ini." gerutu kesal seorang pria berkumis dengan tubuh sedikit tambun, menyambut kedatangan kami.
"Maaf Om." ujar Rio pendek.
"ya sudah, ya sudah, cepat sekarang kalian bersiap." intruksi, Om Ony, adik dari Papa Rio.
Kami mengangguk patuh. Tidak ingin mengulur waktu, kami sepera bersiap. Mengganti pakaian dengan yang lebih formal, karena yang saat ini aku dan Rio kenakan, hanya jean dan kaos. Lalu menambahkan beberapa sapuan make up diwajah, agar terlihat lebih fresh.
"Lha, rambutmu kenapa to cah ayu, kok rontok begini." komentar seorang pria kemayu saat menyisir rambutku.
"Oh, ini tidak apa-apa. Mungkin efek, aku terlalu lelah atau stress." jawabku santun.
Pria itu tampak mengangguk faham.
Kurang dari 20 menit, kami sudah siap. Beberapa menit kemudian seorang wanita berdress panjang dengan corak batik menyusul kami dibackstage agar kami segera naik panggung.
Meskipun bukan untuk yang pertama kali, rasa nervous itu selalu muncul dengan intensitas yang berbeda, setiap aku akan perform didepan orang banyak. Apalagi specialnya, sekarang acara ini didatangi langsung oleh para odapus yang akan menerima bantuan. Aku sangat ingin tambil sebaik mungkin. Aku ingin mengatakan pada merera, jangan menyerah, kamu sekuat aku. Aku ingin sekali membuktikan bahwa segala keterbatasan itu bukanlah batas untuk meraih sesuatu yang tidak terbatas. Kita bisa. Kita mampu. Hanya butuh kesabaran untuk mengajak lupus berdamai dan semuanya akan baik-baik saja.
Aku sudah siap didepan sebuah grand piano putih yang menjadi sentris panggung besar ini. Begitu pula dengan Rio yang sudah mantap berdiri dengan stand mic-nya.
Tanpa ragu, satu persatu tuts-tuts putih-hitam itu ku tekan. Mengalunlah sebuah intro lagu yang aku dedikasikan untuk ayahku tercinta. Hari ini tepat 4 tahun beliau meninggalakan aku.
"lagu ini buat ayah, selalu doakan Ify ya, Yah." batinku.
Tak 'kan pernah habis
air mataku
bila ku ingat tentang dirimu
mungkin hanya kau yang tau
mengapa sampai saat ini
ku masih sendiri
adakah disana
kau rindukan aku
meski kita
kini ada didunia berbeda
bila masih mungkin
waktu kuputar
kan ku tunggu dirimu...
Biarlah ku simpan
sampai nanti aku
kan ada disana
tenanglah dirimu
dalam kedamaian
ingatlah cintaku
kau tak terlihat lagi
namun cintamu
abadi...
Ah terkadang aku benci suara lembut Rio. Setiap menyanyikan lagu semacam ini, rasanya jadi sangat nyata dan menyesakkan. Sepertinya itu juga bukan hanya pendapatku, beberapa orang dikursi depan mulai bergerak tidak nyaman dikursinya. Beberapa lagi, malah sudah bercucuran air mata. Apalagi selama lagu dilantunkan slide-slide gambar bermunculan pada layar dibelakang kami. Gambar-gambar itu adalah gambar para odapus yang telah berhenti berjuang dan akhirnya menyerah pada keadaan.
"eergh." erangku pelan.
Ya Allah, kenapa lagi dengan dadaku. Kenapa akhir-akhir ini sering sekali terasa sesak. Jangan Tuhan, jangan sekarang. Biarkan aku membuktikan dulu pada mereka, bahwa odapus kuat, kami akan selalu kuat.
Jariku tetap ku usahakan menari diatas piano. Meski mungkin temponya sedikit melambat. Rio berkali-kali menoleh kearahku, aku hanya melempar cengiran padanya. Berharap, pria itu tidak menangkap sesuatu yang aneh padaku.
Adakah disana
kau rinduka aku
meski kita
kini ada didunia berbeda.
Bila masih mungkin
waktu ku putar
kan ku tunggu
dirimu...
Biarlah ku simpan
sampai nanti aku
kan ada disana
tenanglah dirimu
dalam kedamaian
ingatlah cintaku
kau tak terlihat lagi
namun cintamu
abadi...
Ingatlah cintaku
kau tak terlihat lagi
namun cintamu abadi...
Tak 'kan pernah habis
air mataku
bila ku ingat tentang dirimu...
Hah, alhamdulillah. Sesaknya hilang. Aku berhasil menyelesaikan permainan pianoku. Setelah memberikan hormat pada penonton yang datang, kami turun dari panggung diiringi tepuk tangan.
"kamu tidak apa-apa ?" tanya Rio saat kami tiba dibackstage.
Aku menggeleng.
Satu lagi hal positif yang bisa ku lalukan bersama Si Lupus. Dan berhasil, semua berjalan lancar.
Berdamai dengan masalah adalah cara paling tepat untuk melawan masalah itu sendiri.
***
orang-orang dengan koper besar berseliweran didepan kami. Seperti dikejar sesuatu yang tak berwujud namun pasti bernama waktu, mereka berlalu dengan menyeret koper-koper mereka secara brutal.
Para penumpang yang baru keluar dari sebuah pesawat dengan rute penerbangan Paris-Jakarta yang baru saja landing beberapa menit yang lalu, semua tampak sangat lelah usai melakukan perjalanan jauh yang memakan waktu berjam-jam.
Aku berjinjit-jinjit, mencari satu tubuh mungil milik adik bungsuku.
"bunda... Acha kangeen." suara khas Acha melantun disela hiruk pikuk bandara.
Aku menoleh, dan mendapati seorang gadis cantik bertubuh tinggi semampai tengah memeluk bundaku.
Ah, Acha ?
Benarkah ?
Selama ini, Acha selalu mengirimi kami foto-foto terbarunya.
Tapi ternyata, foto-foto itu menipu. Acha terlihat jauh lebih anggun dan manis, aslinya. Aku yakin setiap pria yang melihatnya, harus pandai-pandai mengontrol ekspresi wajahnya, kalau tidak ingin bertampang konyol seperti Kak Riko dan Rio saat ini.
"aku saran kan kalian segera menutup mulut kalian. Sebelum lalat-lalat berminat untuk memasukinya." candaku, pada mereka.
Kak Riko dan Rio kompak memicing pandangan mencibir kearahku, aku membalasnya dengan juluran lidah.
Setelah selama 4 tahun Acha tidak pernah berkunjung ke Indonesia, dengan alasan repot. Acha yang kulihat sekarang memang benar-benar berbeda dengan Acha yang menangis tersedu-sedu di bandara ini 4 tahun rilam. Kedua kakinya yang jenjang menyokong tubuhnya yang ideal, sorot matanya terlihat lebih tenang dan tegas, pipi gembilnya juga terlihat lebih tirus dengan semburat rona merah yang alami.
Mungkin hanya rambutnya yang tidak berubah sama sekali, baik style waupun warnanya. Tetap hitam, bergelombang, dengan panjang melewati bahu.
Setelah melepas pelukan pertamanya dengan bunda, Acha melirik Kak Riko dan Aku bergantian.
"kakak-kakak ini tidak ada yang berniat memelukku ya? Tidak merindukan aku rupanya." kata Acha, sambil melipat kedua tangannya didada, dan menggelumbumgkan kedua pipinya.
"Welcome, adik cantik..." kak Riko sudah merentangkan kedua tangannya hendak memeluk Acha, tapi Acha malah melengos berbalik badan kearahku.
Acha tersenyum manis, aku balas tersenyum.
"Kak Rioooo" sapa Acha, riang.
what ? Apa tadi ? Kak Rio?
Huh Acha ini. Aku kira dia merubah haluan tubuhnya dari Kak Riko, karena ingin memelukku lebih dulu, tapi ternyata malah Rio. Ckckck. Adik macam apa dia.
"wah, mas ku yang satu ini, makin ganteng aja deh. Sekarang sudah jadi dokterkah ?" tanya Acha, yang sudah bergelayut manja dilengan kanan Rio.
Rio dan Acha, memang dekat. Rio yang anak tunggal dan terobsesi memiliki adik perempuan yang manis, tentu saja sangat menyayangi Acha. Jadilah Acha juga sangat dekat dengan Rio, tak jarang malah Acha lebih suka bercerita tentang masalahnya pada Rio daripada denganku, yang notabenenya adalah kakak kandungnya.
"Jangan kau puji dia, salah-salah nanti badannya tambah kurus karena kau puji." kataku asal, entah apa hubungannya pujian dengan badan yang kurus.
"kamu juga makin cantik, Cha. Beda sekali dengan mbakmu yang makin hari makin galak saja." ujar Rio, balas dendam.
"benarkah ?" tanya Acha.
Tapi suara terakhir Acha tidak begitu tertangkap oleh indera pendengarku. Fokusku tiba-tiba saja rancuh, kepalaku berputar, perutku mual serasa dikoyak-koyak oleh entah monster apa didalamnya.
"aaaargh." erangku, pelan.
Tapi ternyata tidak cukup pelan karena orang-orang disekitarku sepertinya mendengar eranganku.
"Kak Ify, kakak kenapa ?" lagi-lagi suara itu tak begitu jelas terdengar.
Nafasku benar-benar terasa tercekat di tenggorokan. Aku berusaha menghirup udara sebanyak mungkin, tapi ternyata hidungku menolak diajak bekerja sama. Paru-paruku seperti kosong dan itu terasa sangat menyesakkan. Ya Allah ada apa lagi dengan tubuhku ?
Satu-satu aku merasakan nafas yang terputus-putus. Kematian. Kenapa aku merasa sangat dekat dengan kematian ??
Tapi aku pasrah, berserah akan membuat semuanya terasa lebih mudah. Perlahan semuanya gelap, aku mencoba tersenyum sekilas sebelum tubuhku ambruk dan semua jadi pekat.
***
Tuhan..
Bila Engkau berniat memelukku detik ini juga, izinkan aku mengucap permohonan kecil.
Naungi mereka, orang-orang tercintaku dengan kebahagiaan.
Jika Engkau tak lagi membiarkan aku menghapus air mata mereka, maka janganlah Engkau turunkan hal yang membuat mereka menangis.
Aku ingin melihat mereka tersenyum. Setelah itu, aku tidak akan meronta atau memohon untuk tetap tinggal.
Aku berserah padamu, bila mati adalah yang terbaik, aku akan selalu menantinya dengan senang hati.
***
Sabtu, 12 Maret 2011
Malaikat Hidup Gue -part 19-
Seakan dè javu, keadaan seperti ini terulang kembali. Bedanya dulu mereka melantunkan doa-doa tulus untuk Ify, tapi sekarang mereka memohon dengan sungguh-sungguh pada Tuhan untuk keselamatan Gabriel. Semua duduk dengan gelisah, tapi tidak ada satu orang pun yang berniat untuk buka mulut, hanya denting hujan yang terdengar berkeracak riuh diluar sana. Rio, Cakka, Alvin, Ify, Sivia, Shilla serta Agni, mereka semua duduk berjejer, memenuhi sebaris kursi berwarna biru yang disediakan pihak rumah sakit, didepan sebuah kamar rawat, flamboyan no 28. Ya, kamar yang Iel bilang rumah keduanya. Saat dilarikan kerumah sakit ini, para petugasnya seperti sudah hafal betul kemana Iel harus dibawa. Setelah menunggu sekitar 59 menit, tepat pada detik ke-24 sebelum genap satu jam mereka menunggu, kenop pintu kamar itu terlihat bergerak, sejurus kemudian daun pintu didepan sana mulai berayun dan berderik terbuka. Seorang dokter yang cukup familiar untuk Rio, keluar dari dalam. Rio segera bangkit dari duduknya, lalu menghampiri dokter tadi. Dari semua yang ada ditempat itu, tentu saja Rio lah yang paling khawatir dengan keadaan Iel, karena memang hanya ia yang tau, bagaimana sebenarnya kondisi sahabatnya itu.
"bagaimana keadaan Gabriel, dokter ?" tanya Rio, cemas.
Dokter bernama lengkap, Fadli Nugraha tadi hanya tersenyum simpul, lalu menepuk pundak Rio beberapa kali.
"tidak perlu khawatir Mario, Gabriel tidak apa-apa. Ia hanya terlambat melakukan transfusi jadi kondisinya sedikit lemah. Seharusnya kemarin jadwal Gabriel melakukan transfusi darah. Setelah di transftsi, nanti sore Gabriel juga sudah diizinkan pulang." jelas dokter Fadli.
"syukurlah.," Rio menghela nafas, lega.
"transfusi ??" lirih seseorang. Rio tehenyak, suara tadi menyadarkannya bahwa saat ini bukan hanya ada ia dan dokter Fadli, di tempat ini. Ada berpasang-pasang telinga, yang ikut mendengarkan percakapan singkatnya tadi.
"kenapa Iel harus transfusi darah ?" suara itu kembali melontarkan sebuah pertanyaan.
"memang ada apa dengan saudara saya, dok ?" karena belum mendapatkan jawaban, suara itu kembali terdengar bertanya.
"apa kamu yang bernama Alvin?" tanya dokter Fadli.
"ya, saya Alvin. Dokter sudah mengenal saya ?"
"ya, tentu saja. Gabriel banyak bercerita tentang kamu pada saya." balas dokter Fadli sambil tetap tersenyum ramah, "maaf Alvin. Kalau selama ini saya terpaksa harus merahasiakan banyak hal dari kamu, tentang Gabriel, tapi ini semua atas permintaannya." lanjutnya.
"sudah saatnya mereka tau, dok." sela Rio.
"ya, tentu Mario, tentu saja." dokter Fadli terlihat mengangguk kecil, sebelum melanjutkan ucapannya, ia menghela nafas berkali-kali, "Gabriel menderita thalassemia major. Semacam penyakit darah keturunan, yang cukup berbahaya."
"apa ?? nggak, nggak mungkin dok. Iel itu se-"
"sehat maksudmu, Alvin?? Ya, penderita thalassemia memang tidak pernah terlihat ringkih diluar, itu karena transfusi darah yang secara rutin harus dijalaninya. Apa kamu pernah melihat Gabriel menggunakan alat, mmh, semacam...suntikan ?" tanya sang dokter yang diamini Alvin dengan sebuah anggukan.
"penderita thalassemia selain harus transfusi dengar rutin, ia juga harus melakukan suntik desferal setiap harinya. Itu untuk mengurangi timbunan zat besi sebagai efek dari seringnya transfusi darah. Atau singkatnya seorang penderita thalassemia major seumur hidupnya akan sangat bergantung pada dua hal itu, transfusi dan suntik desferal."
"apa dokter tidak salah mendiagnosa ? Maksud saya, ya, Iel sama sekali tidak seperti orang sakit." tukas Alvin.
"orang tuamu sudah membawa Gabriel ke-8 rumah sakit bertaraf internasional dan hasilnya sama. Apa kamu masih meragukannya ?"
"jadi orang tua saya sudah tau ?" tanya Alvin, dokter Fadli menganggukkan kepala yang berarti 'iya'.
"dan nggak ada yang ngasih tau gue." lirih Alvin, ditundukkan kepalanya dalam-dalam.
"sekali lagi saya tegaskan, itu permintaan Gabriel sendiri, Alvin."
"la...lalu..se..parah apa keadaan Iel sekarang ?" tanya Alvin hati-hati.
Dokter Fadli menggeleng lemah, perlahan ia melepas kacamata yang sedari tadi membingkai matanya yang tegas.
"saya selalu benci pertanyaan ini." kata dokter Fadli, berat. Terlihat ia begitu enggan untuk bicara lebih lanjut dan
memaparkan semuanya, "Gabriel, ya...dia sudah saya anggap sebagai putra saya sendiri." dokter Fadli, malah memberikan potongan kalimat yang sama sekali tidak ada sangkut pautnya dengan pertanyaan Alvin sebelumnya.
"dok, Iel masih bisa sembuh kan?" tanya Alvin, penuh keyakinan.
Dokter Fadli menggeleng, "sejauh ini bahkan belum ditemui solusi lain untuk penderita thalassemia major, selain transfusi. Kalau kamu ingin tau separah apa kondisi Iel saat ini, jawabannya hanya dua kata, sangat parah." balas dokter Fadli, getir. Hati Alvin mencelos, lututnya serasa gemetar dan seluruh tubuhnya lemas.
"Iel sudah mengalami gagal jantung, jantungnya tidak lagi bisa bekerja secara normal. Karena jantungnya sudah tidak bisa berfungsi secara sempurna, terjadi pembengkakan pada organ krusial lainnya. Seperti hati dan limfa. Tulang-tulangnya juga semakin rawan patah dan sangat rapuh." tutur dokter Fadli, menjelaskan.
Semua orang -kecuali Rio- yang sejak tadi ada disana, dan menjadi pendengar yang baik, tanpa berani membuka mulut untuk ikut berkomentar, kini menampakkan respon yang hampir sapa. Ternganga tak percaya ?
Benarkah ? Benarkah ada penyakit seperti itu ditubuh Iel ?
Saking tidak percaya, Cakka sempat mencubit tangannya sendiri dan meringis kesakitan sesudahnya. Berarti ini bukan mimpi.
"tapi saya selalu salut pada Gabriel. Aktivitasnya tidak sedikit, tapi ia tetap bisa bertahan sampai usianya yang hampir 17 tahun. Padahal pada umumnya penderita thalassemia major hanya mampu bertahan sampai usia 8 tahun. Ia tidak pernah mengeluh, dan setiap saya bertanya pada Gabriel, tentang apa yang menjadi motivasi untuknya, dia hanya akan selalu menyebut satu nama...." dokter Fadli, tersenyum lembut, "Alvin. 'Alvin saudara saya yang paling hebat, saya tidak akan meninggalkannya sendiri', Gabriel selalu berkata demikian." jelas dokter Fadli.
Alvin membisu. Sebesar itukah rasa sayang Iel padanya? Tapi Alvin? Hanya karena seorang gadis, Alvin tega memukuli Iel sampai ia terkapar di rumah sakit. Disatu sisi, hatinya mulai trenyuh, tapi sisi yang lain menyangkal habis-habisan.
"dia sudah membohongimu Alvin. Dokter Fadli pasti hanya menambah-nambahi, kalau Iel menyayangimu, ia tidak akan pernah tega menyakitimu." suara ghaib semacam itu muncul dan terus berpusar diotaknya.
"jangan berkecil hati. Sekarang kalian sudah tau kan bagaimana kondisi Gabriel ? Dia tidak butuh tangisan, tapi dia butuh doa dan semangat dari kalian. Percayalah, mukjizat itu akan selalu ada. Baiklah, saya permisi dulu kalau begitu. Selamat siang." pamit dokter Fadli. Setelah melempar seulas senyum, beliau berlalu. Jas putihnya berayun lentur mengiringi tubuhnya yang perlahan menjauh.
"hiks, hiks. Iel..." isakan tertahan itu berasal dari seorang gadis yang bersembunyi dibalik bahu Ify.
"sabar ya, Vi..." Ify mencoba menenangkan sahabatnya itu.
Rio sudah menjelaskan semuanya, perihal Iel dan Via pada teman-temamannya. Ia terpaksa mengingkari janjinya pada Iel. Toh, cepat atau lambat semua juga akan tau. Dari pada mereka mendengar versi Alvin, yang tidak objektif pastinya, jadi akan lebih baik dan adil, kalau Rio yang menceritakannya.
isakan kecil milik Sivia tadi, ternyata mampu menyulut kembali bara yang tadi sudah hampir padam di hati Alvin. Alvin mengepalkan tangannya kuat-kuat.
"lo udah tau semuanya, Yo ?" tanya Alvin datar.
Rio tidak menjawab.
"ikut gue, Yo !!" pinta Alvin.
"Vin, kontrol emosi lo." ujar Cakka mengingatkan, ia tau kilatan emosi itu masih meletup-letup, terlihat di kedua manik mata Alvin.
"ikut gue, Mario." Alvin mengulangi ucapannya. Ia lalu berjalan lebih dulu, mengabaikan tatapan-tatapan memohon dari teman-temannya. Rio, dengan terpaksa, mengekor dibelakang.
Kedua pemuda ini, lalu berhenti tepat di taman rumah sakit ini. Taman itu sepi, mungkin karena hujan yang belum juga mereda jadi tidak ada yang berkenan mengunjunginya. Dalam beberapa detik saja, baju Alvin dan Rio sudah langsung basah kuyup disembur air hujan. Sepatu mereka juga sudah dipenuhi lumpur, hasil genangan-genangan air yang bercampur tanah.
"sejak kapan lo tau Iel sakit ??" tanya Alvin.
"gue juga ba-"
BUGG
Tinju Alvin mendarat tepat di ulu hati Rio, sebelum Rio sempat melanjutkan jawabannya.
"sejak kapan elo tau kalau Via sama Iel selingkuh dibelakang gue ?"
"Vin, maafin gu-"
BUGG
Pukulan Alvin lagi-lagi menghujam tubuh Rio. Rio terhuyung dan jatuh tersungkur di tanah. Lumpur kecoklatan, langsung bercipratan dan memulas kemeja putihya.
"lo pikir, elo tu siapa sih Yo, heuh? ELO TU BUKAN SIAPA-SIAPA. ELO CUMA ORANG BARU." raung Alvin.
Rio masih berusaha untuk bisa bangun, tapi BUGG.
Lagi-lagi, kepalan tangan Alvin menderanya. Kali ini, tepat di pelipis kanan Rio. Seperti di film-film kartun, Rio merasa banyak burung-burung berputar-putar disekitar kepalanya.
"BANGUN LO !!" sentak Alvin.
"berhenti mukulin gue, Vin. Berhenti !!" seru Rio, gusar, "apa lo pikir, gue mau, gue seneng ? Karena jadi satu-satunya orang yang tau rahasia Iel. Nggak Vin, nggak sama sekali." tandas Rio.
"cih, ada hak apa lo minta gue berhenti mukulin lo. Orang kayak elo tu pantes dihajar."
"ELO YANG PANTES DIHAJAR, ELO GAK TAU TRIMAKASIH." cerca Rio.
"sialan lo..."
tangan Alvin sudah melayang diudara, mengambil ancang-ancang untuk segera mendarat di bagian manapun, dari tubuh Rio.
"jangaaann," teriak seorang gadis, membuat kepalan tangan Alvin terkunci diudara.
"cukup Vin, cukup. Gue mohon." pinta gadis tadi.
"diem lo, Fy. Gak usah ikut campur, kalo elo gak mau kena pukul." gertak Alvin.
"gue gak takut, Vin. Silakan kalo elo mau pukul gue." balas gadis tadi lantang, Ify.
"shit." umpat Alvin, sambil mengeksekusi tinjunya di udara.
"elo tu childish banget sih, Vin. Elo tu udah dewasa Vin, harusnya lo mikir dulu kalau maju ngehajar orang. Elo salah sasaran, tau." ujar Ify, tegas.
"kesalahan Rio gak sefatal yang ada di otak lo. Soal penyakit Iel, kalau pun ada orang yang paling pantes buat dipukulin. Itu orang tua lo. 17 tahun mereka nyembunyiin semuanya dari lo. Dan soal Via. Harusnya dia yang lo pukul, kenapa dia gak jujur dari awal kalau dia gak cinta sama lo? buka mata lo, Vin." tutur Ify panjang lebar. Bak pengacara profesional, Ify benar-benar total membela kliennya agar lolos dari sanksi apapun.
"gue gak peduli, gak-pe-du-li. Buat gue Rio tetep salah." sanggah Alvin.
Ify tersenyum sinis, "elo cuma nyari orang buat melampiaskan emosi lo, iya kan? Dasar labil. Pantes aja Via lebih suka sama Iel"
"apa maksud lo?"
"maksud gue, elo ABG labil. Beda banget sama Iel yang dewasa dan peduli banget sama perasaan orang-orang disekitarnya. Jelas ??"
"hahaha," Alvin tertawa mengejek, "Ify, Ify. Nggak usah sok ngomentarin gue deh. Elo pikir, elo gak labil. Mau-maunya lo dimanfaatin Rio. Dan parahnya elo malah jatuh cinta sama dia, ckckck. LABIL LO !!" cibir Alvin, sambil melempar sebuah senyum miring tak bersahabat. Setelah itu, Alvin pergi. Meninggalkan Ify dan Rio yang sama-sama terpaku, mendengar pernyataan Alvin barusan.
Rinai hujan masih bergulir. Meski tidak sederas tadi, tapi sekujur tubuh dua anak manusia ini sudah terlanjur basah kuyup. Sama halnya seperti perasan mereka yang terlanjur tergelincir telalu jauh dalam lubang yang mereka buat sendiri. Rio dengan kecamuk rasa bersalahnya, dan Ify dengan perasaannya, yang selalu mendesak minta diungkapkan.
"Fy.," suara berat itu menyerukan nama Ify.
Ify diam saja, tidak berniat menoleh atau menyahut. Ia menunggu kelenjar air matanya untuk berhenti berproduksi terlebih dulu. Tidak sabar dengan respon diam yang ditunjukkan Ify, rio berjalan menghampirinya. Berdiri tepat dihadapan gadis itu. Perlahan dengan ibu jari dan telunjuknya, diangkat dagu tirus Ify, hingga kedua manik mata mereka bertemu.
"apa yang dibilang Alvin tadi gak bener kan Fy ??" tanya Rio lembut.
Bukannya menjawab, Ify malah menangis. Air matanya membaur dengan air hujan yang dengan brutal, menyentuh wajah cantiknya.
"nggak Fy, gue mohon. Ayo Fy, bilang kalau itu semua gak bener. Plis Fy." batin Rio.
"Fy..." Rio kembali menyerukan satu suku kata itu, potongan dari nama Ify.
"Fy, dengerin gue. Elo nggak boleh say-"
"diam Mario, diaaam." sentak Ify, tiba-tiba, "lo pikir elo siapa Yo ? Elo selalu ngelarang gue suka sama lo, apa hak lo, heuh? Gue udah terlalu sering dengerin elo Yo, sekarang elo yang harus dengerin gue."
"tapi Fy, elo salah kalau sayang sama gu-"
"kenapa Yo ? Kenapa gue yang salah ? Elo Yo, yang salah. Elo terlalu sempurna, terlalu sulit bagi cewek normal buat gak suka sama lo. Dan gue masih normal."
"tapi elo tau kan Fy, gue gak sesempurna itu...gue..."
"gue tau Yo, gue tau banget. Tapi itulah bodohnya gue, bahkan elo tetep sempurna dimata gue, padahal elo udah nunjukkan semua sisi buruk lo. Dan kalau bisa milih gue juga gak mau Yo, sayang sama orang yang gak pernah mau melepas masa lalunya. Gue juga capek, Rio. Capek. Hiks, hiks."
"kalau gitu berhenti Fy, berhenti sayang sama gue. Berhenti !!"
"GUE UDAH COBA RIO, TAPI SUSAH YO, SUSAH. KENAPA SIH LO GAK NGERTI JUGA ?"
"Fy, ini tu salah. Elo cuma bakal nyakitin diri lo sendiri."
"gue gak takut Yo. Toh, gue udah sering sakit. Apa setiap elo cerita panjang lebar tentang Dea, setiap elo mangil-manggil nama Dea, setiap lo bandingin gue sama Dea, apa lo pikir gue gak sakit ?"
"Fy, gue mohon, lupain semua perasaan elo buat gue, karena gue gak mungkin bisa bales semua itu. Gue gak bisa lepasin masa lalu gue."
"sampai kapan sih Yo, lo mau kayak gini? Gue selalu berusaha ada buat lo, tapi kenapa si masa lalu itu yang selalu nomer satu dihati lo?"
"Fy.... Dea itu segalanya buat gue dan gak akan pernah ada yang bisa gantiin dia." lirih Rio, sambil menunduk dalam.
"fuiihh" Ify menghembuskan nafasnya, detik berikutnya ia tersenyum simpul.
Kedua bola matanya menatap lembut pada pria didepannya.....
Kali ini..
Hampir habis dayaku
membuktikan padamu
ada cinta yang nyata
setia...
hadir setiap hari
tak tega, biarkan kau sendiri
meski sering kali kau malah asik sendiri.
Satu bait lagu itu, entah bagaimana prosesnya, tiba-tiba mengalun begitu saja dari bibir Ify yang membiru karena dingin, tangannya mulai bergerak, menelusuri setiap lekuk sempurna wajah Rio, yang dipahat dengan indah oleh Sang Pencipta.
"OK. Gue nyerah Yo. tapi walaupun bukan gue, gue tetep berharap suatu saat akan ada orang lain yang bisa buka hati lo. dan lo perlu tau satu hal Yo, gue-"
"RIO, IFY..." suara teriakan seorang gadis, membuat Rio dan Ify reflek, menoleh.
"Rio, kok ujan-ujananan sih ? Terus itu muka lo kenapa ?" gadis itu tampak cemas, ia segera memayungi tubuh Rio dengan payung ungu kotak-kotak yang dibawanya.
Ify tersenyum miris.
"mungkin dia orangnya ya, Yo." batin Ify. Tanpa sepatah kata pun, dengan setengah berlari, Ify segera pergi meninggalkan tempat itu. Sebelum air matanya semakin sulit dikontrol, dan dadanya semakin sesak.
"masalah lo berdua belum selesai ya ?" tanya gadis tadi hati-hati. Tangan kanannya mulai sibuk membersihkan darah yang menitik disudut bibir Rio.
Rio menggeleng lemah, "emang gak ada yang perlu diselesaikan, Shil, kita gak pa-pa." jawabnya singkat.
"oh, OK. Ya udah, masuk aja yuk, jangan disini terus. Entar lo malah sakit lagi." saran gadis tadi, Shilla.
"Shil, emang tampang gue nyebelin banget ya? Kok kayaknya orang-orang seneng banget nonjokkin gue." celetuk Rio sambil mencoba menggerak-gerakkan rahangnya yang terasa sakit dan kaku.
"hehehe," Shilla tertawa kecil, "nggak kok Yo. Mungkin elo terlalu ganteng Yo, jadi pada ngiri gitu sama lo." ceplos Shilla.
"ck, bisa aja lo, Shil." timpal Rio diiringi seulas senyum.
Keduanya terus berjalan, menapaki rerumputan yang terlihat makin segar setelah tersentuh air hujan. Cipratan-cipratan air mengekori setiap langkah kaki mereka. Tangan kanan Shilla melingkari lengan kiri Rio. Dan tanpa bisa ditampik, sulur-sulur rasa hangat mulai merambat dan meliliti tubuh Rio, selepas kepergian serta pengakuan Ify yang sempat membuatnya beku.
***
Lelahmu...
Jadi lelahku juga
Bahagiamu, Bahagiaku pasti
Berbagi...
Takdir kita selalu
Kecuali tiap kau jatuh hati
Kali ini...
Hampir habis dayaku
Membuktikan padamu
Ada cinta yang nyata
Setia, hadir setiap hari
Tak tega, biarkan kau sendiri
Meski sering kali
Kau malah asik, sendiri...
Ify teruduk dalam diam, dikamarnya. Tidak seperti bibirnya yang terkatup rapat, hatinya masih saja sibuk ber-orasi, sibuk memaki kebodohannya.
"hei, Ify. Bukankah Rio telah melarangmu jatuh cinta kepadanya berulang-ulang kali ? Sekarang apa yang bisa kamu lakukan, menangis ? Cengeng kamu, rasakan !! Rasakan Ify !!" cercaan itu seakan terus bergaung dalam hatinya dan menjalari seluruh tubuhnya.
Ah, rasanya hidup manusia akan benar-benar lebih mudah, tanpa sebentuk hati.
Titipan Tuhan yang satu itu benar-benar merepotkan. Kadang mau tapi malu, benci tapi rindu, galau, resah, nah bagaimana tidak merepotkan coba kalau manusia harus merasakan hal-hal seperti itu, dan itu semua gara-gara yang bernama hati itu tuh.
Sama seperti Ify saat ini. Dengan seenaknya hatinya telah memilih, terlanjur mematri satu nama dan tak berniat sedikitpun untuk menggantinya dengan nama yang lain. Tapi sayangnya, pemilik nama itu tidak lagi memiliki sebentuk hati yang utuh untuk diserahkan pada Ify. Pemilik nama itu, terlanjur menggadaikan hatinya, pada masa lalu.
Ify jadi teringat sebait lirik dari salah satu lagu histnya Kerispatih, "mencoba memahami, bimbangmya nurani 'tuk pastikan semua..."
ya, memahami bimbangnya nurani? Berulang-kali sudah, Ify mencoba memahami segalanya, tapi hingga detik ini kepastian itu tak kunjung ia temukan. Malah Ify, mendapati dirinya terseret semakin jauh dalam kebimbangannya. Jadi, apa sebenarnya yang harus Ify lakukan? Harus bertahankah? Atau ini saatnya menyerah dan mulai belajar melupakan pemilik nama itu?
Rinai air hujan, hanya satu-satu terdengar membentur atap-atap rumah. Mendung nampaknya juga masih bingung, akan mencurahkan air langit habis-habisan malam ini, atau menyimpannya, agar esok denting dawai alam itu masih bisa bernyanyi. Mengghibur hati-hati yang sendiri, agar tidak terpuruk dalam kesepian.
"aku kira aku kuat Yo, aku kira aku cukup kuat buat nyimpen perasaan ini sendirian." suara parau Ify mulai terdengar, menggeser serpihan hening yang tadi berkuasa di kamar ini, "kenapa aku harus bersaing sama masa lalu itu Yo ? Masa lalu yang gak pernah mau mati ? Kenapa kamu gak mau liat aku ? Aku yang selalu berusaha ada disamping kamu."
Benar kata orang, pelangi itu hanya untuk dinikmati bukan untuk dimiliki. Begitu pula Rio untuk Ify. Ia hanya untuk dilihat dan dikagumi dari jauh, tidak untuk direngkuh. Karena semakin Ify merusaha mengejar, indahnya akan semakin nyata, tapi jarak yang terbentang akan semakin jauh. Rio sama sekali tak akan terjamah dan tergapai olehnya.
Seiring dingin yang mulai menggelitiki kulitnya, kenangan-kenangan itu pun berkelebatan minta ditengok kembali oleh Ify.
Ulangan fisika, air matanya, boneka spongebob, Dea, senyuman Rio, rekamam Debo, usapan lembut dipuncak kepala Ify, payung Shilla.
Semua hal itu berlomba menyerbu otak Ify, seakan ingin mempertegas siapa yang paling juara, kenangan yang maniskah atau yang pahit ??
"aku harus gimana, Yo ?" lirih Ify, terdengar pasrah. Kedua tangannya semakin erat melingkari lututnya.
Ada yang bilang obat paling aman dan manjur untuk seseorang yang patah hati adalah menumbuhkan cinta pada orang yang juga pernah merasakan patah hati.
When you ever broken hearted, effeccacious charm for it you must make love for somebody who also ever broken hearted.
kalau ungkapan itu benar, berati Ify harus segera berpaling dari Rio, dan mencari orang yang senasib denagannya. Orang yang juga pernah patah hati ??
Tapi siapa?
Apa.... Alvin??
Tok-tok-tok
pintu kamar Ify, terdengar diketuk pelan.
"non Ify, ada mas Rio..."
Hampamu...
Tak 'kan hilang semalam
oleh pacar impian
tetapi kesempatan
untukku...
Yang mungkin tak sempurna
tapi, siap untuk diuji
ku percaya diri
cintaku lah yang sejati...
Dibelahan bumi yang lain, seorang pemuda melakukan hal yang hampir sama dengan Ify. Membisu dalam kamarnya yang gelap. Bukan, bukan karena keluarganya belum membayar tagihan listrik. Tapi pemuda ini, memang tak berniat sama sekali untuk menyentuh saklar lampu. Ia terlalu takut. Takut slide-slide bayangan pengkhianatan dan kebohongan itu akan semakin nyata bila memperoleh pijar sinar lampu.
Alvin. Ia masih asik dengan 2 benda yang sama, ditangannya. 2 lembar foto, fotonya dan Iel, serta fotonya dengan Via. Sudah bisa ditebak, posisi duduk bersandar dengan tatapan menerawang semacam ini bukan baru beberapa menit berlangsung, tapi pasti sudah berjam-jam lamanya.
"semuanya udah gue lakuin Vi, buat lo. Cuma buat lo. Apapun gue kasih buat lo. Tapi..." Alvin terdiam, sebentar. Ia menarik nafas, mengambil oksigen yang tersedia di udara sebanyak mungkin sebelum ia melanjutkan racauannya, "Apa gue mesti ganti muka gue Vi, biar mirip Iel, baru lo bisa sayang sama gue ? Jawab Via, jangan diem aja." seperti orang yang sudah tidak waras, Alvin berbicara sungguh-sungguh pada selembar foto, dan detik-detik berikutnya, Alvin terdiam seperti menunggu sebuah jawaban dari foto itu.
Ah, gadis putih berlesung pipi itu benar-benar sudah berhasil memporak-porandakan otak dan hati Alvin.
Andai ada yang mau mengerti, sedikit saja. Dibalik letupan emosinya, dibalik sorot kemarahannya, dibalik umpatan-umpatan kecewanya, ada yang lebih dalam dari itu. Luka yang lebih dalam, dari apa yang bisa orang bayangkan. Sakit, menyesakkan. Entah sampai kapan luka yang terlanjur membekas itu akan terus menganga. Entah berapa guliran waktu yang dibutuhkan untuk menyembuhkan luka itu.
Alvin. adakah yang mau peduli padanya, atau berkenan sedetik saja untuk membayangkan bagaimana perasaan pemuda ini. Kepercayaannya hanya dihargai bualan-bualan manis tanpa makna. Ketulusannya hanya dibalas senyum-senyum dari topeng yang sengaja dipasang lakon-lakon sandiwara, untuk mengelabuinya.
JEDDEERR
Kilat, seakan membelah angkasa. Disusul gemuruh petir menggelegar, yang menggetarkan kaca-kaca berbingkai kusen kayu.
Seakan bolham berukuran 1000 watt muncul diotaknya, pemuda berparas oriental itu, bangkit. Sejurus kemudian, ia meraih kunci motornya dan dengan cepat Alvin sudah menghilang dibalik pintu. Sepertinya keperkasaan petir tadi, telah memberikannya keberanian untuk melakukan sesuatu.
Kau selalu meminta
terus ku temani
dan kau s'lalu bercanda
andai wajahku diganti
kau melarangku pergi
karna tak sanggup
sendiri...
Saat manusia normal di seantero kota ini mulai berhenti dengan aktivitasnya dan berniat segera membungkus diri dalam balutan selimut tebal. Seorang gadis malah terjaga dari tidur singkatnya, ia mulai menggeser guling empuk yang sejak tadi dipeluknya. Pukul 21.15, ah, berarti baru sekitar 45 menit ia tertidur.
"CK" ia berdecak kesal, karena matanya sepertinya tidak ingin diajak terpejam lagi.
Perlahan, dijejakkan kedua kakinya pada lantai. Dingin, sangat dingin. Gadis itu lalu berjalan gontai kesudut kamarnya. Ya, mungkin untuk orang sepertinya lah, pepatah 'hidup enggan mati pun segan' tercipta. Kalau ada kontes berjalan mirip zombie, bisa dipastikan gandis berkuncir kuda inilah yang akan keluar sebagai juara.
Kedua tangannya kini mulai sibuk dengan benda bulat berwarna orange yang tadi diambilnya dari sudut kamar. Duk-buk-duk,
suara pantulan bola basket yang bergerak centil ditangannya, membuat gadis ini tersenyum tipis.
"Agniii....jangan main basket malem-malem dong sayang, berisik..." teriakan mamanya dari luar itu, membuat gadis tadi, dengan terpaksa harus menghentikan aktivitas yang sedikit bisa menghiburnya.
Agni. Kini ia memilih untuk kembali merebahkan tubuhnya di tempah tidur, "fuhh" ia menghembuskan nafas, dengan gusar. Berharap rasa lega akan segera menelusup memenuhi rongga dadanya yang sudah longgar, karena gas karbondioksida baru saja ia keluarkan.
Tapi alih-alih menjadi lega, dadanya malah terasa semakin sesak juga sakit, seperti dihimpit batu-batu besar dan panas. segala hal tentang Cakka, bak Sianida. unsur beracun itu akan lebih dulu menenuhi rongga dadanya, lebih cepat diikat oleh sel darah merahnya dan secara langsung akan segera tersebar ke setiap inci tubuhnya.
"lo tau Kka, satu-satunya hal yang pengen banget gue lakuin sekarang adalah bales semua perbuatan lo Kka, semuuaanya..." batin Agni.
Agni memandangin langit-langit kamarnya yang berwarna putih polos tanpa detail, "andai diotak gue ada tombol delete," lirih Agni, berandai-andai, "pergi sebentar bisa kali ya, Kka. Gue pengen tidur, jadi stop. Stop bayang-bayang lo, gangguin hidup gue. Pergi lo jauh-jauh, bawa sekalian sakit hati yang lo kasih buat gue." Agni menutup wajahnya dengan bantal. Merasa sudah cukup lelah dengan fikiran-fikirannya sendiri tentang satu objek yang sama, Agni pun tertarik untuk mencoba kembali tidur.
"good night Cakka, have a nice dream." lirih Agni, lalu menarik selimut tebalnya hingga menutupi seluruh tubuhnya.
Namun tak kau lihat
terkadang malaikat
tak bersayap
tak cemerlang
tak rupawan
namun kasih ini
silahkan kau adu
malaikat juga tau
aku...
'kan jadi, juaranya...
***
Sivia masih berkutat dengan kertas dan pulpen, dimeja belajarnya. Meski kedua matanya sudah memerah, merajuk meminta dipejamkan, tapi Via sama sekali tidak berniat untuk segera bangkit dari kursinya dan berbaring diatas kasur. Kemelut fikiran yang berseliweran diotaknya, Via yakini tidak akan membuatnya terlelap dengan mudah. Jadi, ia memutuskan untuk mengerjakan tugas mengarang prosa yang diberikan guru bahasa Indonesianya.
Tik-tok, tik-tok
jarum detikan berwarna merah pada jam berbentuk pinguin yang terpajang di sisi meja belajar Via, terus bergerak. Sedangkan jarum pendek dan jarum panjangnya tampak berhimpitan diangka 10.
Sivia berhenti dari aktivitas menulisnya, dipandangi kertas yang sudah terisi susunan kalimat-kalimat hampir 3/4nya. Pupil matanya mulai bergerak, menyunting ulang setiap tanda baca ataupun huruf-huruf yang mungkin telah salah ia bubuhkan. Dan ternyata, benar saja. Banyak sekali kesalahan pada karangannya kali ini, dan kesalahan-kesalahan yang tertera disana semakin mempertegas bahwa otaknya memang sedang tidak mau diajak berkomromi, barang sebentar. Tidak mau bekerja, selain memikirkan kedua pemuda itu. Huh, bagaimana bisa dalam karangan yang ia tulis, nama Iel ataupun Alvin terbubuh begitu saja dibeberapa bagian. Bahkan kalimat terakhir yang baru beberapa detik lalu Via tuliskan membuatnya tercekat sendiri.
'maafin aku, Alvin.'
Astaga !! Sebesar inikah rasa bersalah yang harus ia tanggung ??
Semoga saja kau
kan kau dapati
hati yang tulus mencintaimu
tapi bukan, Aku....
Alunan suara merdu milik sammy terdengar dari handphone Via yang sudah mengerjap-ngerjap dengan tidak sabar.
Panjang umur sekali pemuda ini. Baru saja partikel-partikel tubuh Via, riuh rendah membicarakannya, ekh sekarang orangnya telfon.
"ha..halo, Vin?" sapa Via sedikit gugup.
Tidak ada sautan dari ujung telfon sana.
"halo, Alvin ?" Via mengulangi sapaannya.
Tetap bisu. Hening. Rasa cemas mulai menyerang Sivia. Jangan-jangan ada apa-apa dengan Alvin.
"Alvin, ha-"
aku memang terlanjur mencintaimu
dan tak pernah kusesali itu
seluruh jiwa telah ku serahkan menggenggam janji setiaku
belum sempat Sivia menyelesaikan sapaannya yang ketiga, suara lembut Alvin terdengar lirih, ditelinga Via. Gleek. Via menelan ludah. Entah perasaannya saja, atau memang benar, suara Alvin bergetar seperti menahan sesuatu. Sarat akan nada getir dan pedih, membuat Via tak kuasa menahan lelehan air matanya.
"Vin, aku min-"
ku mohon jangan jadikan semua ini
alasan kau, menyakitiku
meskipun cintamu
tak hanya untukku
tapi cobalah
sejenak mengerti...
Tidak diberi kesempatan untuk bicara, Via memutuskan untuk hanya menjadi pendengar yang baik. Ia mulai bangkit dari kursinya. Dan, entah didorong oleh apa atau siapa, Via malah menghampiri jendela kamarnya, yang dihalangi gorden putih susu. Via menyibaknya perlahan. Ia ternganga...
Bila rasaku ini rasamu
sanggup kah engkau ??
Menahan sakitnya terkhianati cinta yang kau jaga
coba bayangkan kembali
betapa hancurnya hati ini, kasih
semua telah terjadi
Alvin. Pemuda itu berdiri dihalaman rumah Via, dibawah guyuran air hujan. Tapi Via tidak segera menghampirinya, memayungi Alvin dan mengajaknya masuk. Via malah terpaku ditempatnya, dengan tatapan nanar diawasinya Alvin yang berdiri ditemani keremangan diluar sana. Detik berikutnya Via terduduk lemas di lantai, kepalanya terkulai bersandar pada dinding, isakannya semakin jelas, bahkan Alvin pun pasti bisa mendengarnya di ujung telfon.
"cukup Vin, aku mohon. Cukup... Maafin aku Vin, aku mohon..." pinta Via. Ia ingin Alvin segera menyudahi lagu itu. Tapi Alvin sepertinya tidak peduli, apa yang dirasakan Via saat ini tidak ada seujung kukupun dari apa yang ia rasakan. Lagu itu mulai detik ini, bisa dipastikan akan langsung masuk playlist lagu yang Via benci dan akan langsung menduduki posisi pertama, mungkin.
Ku mohon jangan
jadikan semua ini
alasan kau, menyakitiku
meskipun cintamu
tak hanya untukku
tapi cobalah sejenak mengerti
bila rasaku ini rasamu
sanggupkah engkau ??
Terkhianati cinta yang kau ja-
klik
Via terpaksa menekan tombol merah untuk segera mengakhiri telfon, dengan kasar. Setelah itu, Via menon-aktifkan handphonenya. Ia tau itu sama sekali tidak sopan, tapi mau bagaimana lagi ??
"maafin aku, Vin. Aku udah kecewain kamu, aku bikin kamu sedih. Maaf Vin, maaf.."
entah sudah untuk yang keberapa ratus kali kata maaf itu terlontar. Tapi sungguh. Sebanyak apapun Via merapalnya, tidak akan merubah apapun. Hanya akan mempertegas kenyataan, bahwa ia SALAH dan kesalahannya telah menghancurkan hidup orang lain.
Memilihlah, selagi kamu masih di beri kesempatan untuk itu.
Karena sejatinya, hidup adalah pilihan.
Bila sedetik saja kamu terlambat menentukan.
Maka takdirlah yang akan ber-andil.
Dan saat itu, bukan lagi saatnya untuk memilih, tapi saatnya kamu melepaskan salah satunya.
***
Seakan mendukung euforia yang akan segera tercipta, cuaca hari ini sangaaaaatt cerah. Matahari berkilau hangat, arak-arakan awan putih cemerlang berpatroli memutari angkasa, seperti telah siaga untuk segera mengusir gumpulan mendung yang nekat muncul hari ini. Angin bertiup semilir, seakan menbisikkan kata-kata semangat untuk semua peserta pertandingan. Selayaknya pertandingan basket pada umumnya, para suporter pasti berlimpah ruah. Apalagi ini pertandingan akhir, pertandingan final antara SMA Citra Bangsa dengan SMA Yos Sudarso.
Tapi berbeda dengan alam yang sangat antusias menyaksikan pertandingan puncak yang akan segera berlangsung dalam waktu kurang dari 30 menit lagi, Cakka malah nampak putus asa.
"bagaimana Cakka, apa mereka sudah bisa dihubungi ?" tanya sang pelatih, gusar.
Cakka menggeleng lemah.
Semua yang berada di ruangan yang terdiri dari barisan loker-loker itu, terlihat sama cemas dan kesalnya dengan Cakka.
"udah Kka, gue main aja ya. Gue bisa kok." usul Iel.
"nggak !!" tegas Cakka.
"Kka, gue gak selemah yang lo fikir. Plis, izinin gue main." desak Iel
"Yel, gak ada yang bilang lo lemah. Tapi lo baru keluar dari rumah sakit, lagian lo udah janji kan, sama kita. Lo cuma bakal nonton pertandingan final ini, dan gak akan ikut main." ujar Cakka, yang diamini dengan anggukan teman-teman yang lain.
"iya, Yel. Kamu gak usah main ya... Alvin sama Rio pasti bakal dateng kok. Mungkin kejebak macet." tambah Via.
"ini, ini... Rio, Rio telfon gue." Ozy segera menyodorkan telfonnya pada Cakka.
Ya, mengingat Iel tidak bisa bermain, dan permainan Ozy dibabak penyisihanwaktu itu cukup baik, pelatih merekrut Ozy untuk bergabung dengan tim inti.
"halo Yo, lo dimana?.......Lho, emang kenapa kalo gue yang angkat?......APA?? Yo, lo jangan bercanda deh." Cakka memandangi teman-temannya satu persatu.
"Rio, lo jangan macem-macem deh. Siapa yang bilang gitu? Kita semua tuh sayang sama lo........Yo, RIO !! Lo dimana ?? RIO, jangan ditutup Yo, Mario !!!"
tuttut.tuttut.
"aaargh SHIT." saking kesalnya, Cakka melempar Handphonenya. Benda elektronik itu langsung pecah menjadi beberapa bagian setelah beradu dengan lantai.
"Rio.....aargh, anak itu kenapa sih ??" Cakka malah mengacak-acak rambutnya.
"ada apa sama Rio, Kka?" tanya Ify.
"Rio bilang dia mau pergi... tapi nggak mau kasih tau dia mau kemana, gue takut kalo dia ngelakuin hal yang nggak-nggak." jawab Cakka.
"ja..jadi.. Rio beneran pergi ??" Ify langsung terduduk lemas dikursi panjang yang berada dekat, di sampingnya.
Shilla berbalik dan segera keluar dari ruang ganti baju itu, "maafin gue. Maafin gue Fy.. Maafin gue semua.. Gue terpaksa..." batinnya, menyesal.
***
"bagaimana keadaan Gabriel, dokter ?" tanya Rio, cemas.
Dokter bernama lengkap, Fadli Nugraha tadi hanya tersenyum simpul, lalu menepuk pundak Rio beberapa kali.
"tidak perlu khawatir Mario, Gabriel tidak apa-apa. Ia hanya terlambat melakukan transfusi jadi kondisinya sedikit lemah. Seharusnya kemarin jadwal Gabriel melakukan transfusi darah. Setelah di transftsi, nanti sore Gabriel juga sudah diizinkan pulang." jelas dokter Fadli.
"syukurlah.," Rio menghela nafas, lega.
"transfusi ??" lirih seseorang. Rio tehenyak, suara tadi menyadarkannya bahwa saat ini bukan hanya ada ia dan dokter Fadli, di tempat ini. Ada berpasang-pasang telinga, yang ikut mendengarkan percakapan singkatnya tadi.
"kenapa Iel harus transfusi darah ?" suara itu kembali melontarkan sebuah pertanyaan.
"memang ada apa dengan saudara saya, dok ?" karena belum mendapatkan jawaban, suara itu kembali terdengar bertanya.
"apa kamu yang bernama Alvin?" tanya dokter Fadli.
"ya, saya Alvin. Dokter sudah mengenal saya ?"
"ya, tentu saja. Gabriel banyak bercerita tentang kamu pada saya." balas dokter Fadli sambil tetap tersenyum ramah, "maaf Alvin. Kalau selama ini saya terpaksa harus merahasiakan banyak hal dari kamu, tentang Gabriel, tapi ini semua atas permintaannya." lanjutnya.
"sudah saatnya mereka tau, dok." sela Rio.
"ya, tentu Mario, tentu saja." dokter Fadli terlihat mengangguk kecil, sebelum melanjutkan ucapannya, ia menghela nafas berkali-kali, "Gabriel menderita thalassemia major. Semacam penyakit darah keturunan, yang cukup berbahaya."
"apa ?? nggak, nggak mungkin dok. Iel itu se-"
"sehat maksudmu, Alvin?? Ya, penderita thalassemia memang tidak pernah terlihat ringkih diluar, itu karena transfusi darah yang secara rutin harus dijalaninya. Apa kamu pernah melihat Gabriel menggunakan alat, mmh, semacam...suntikan ?" tanya sang dokter yang diamini Alvin dengan sebuah anggukan.
"penderita thalassemia selain harus transfusi dengar rutin, ia juga harus melakukan suntik desferal setiap harinya. Itu untuk mengurangi timbunan zat besi sebagai efek dari seringnya transfusi darah. Atau singkatnya seorang penderita thalassemia major seumur hidupnya akan sangat bergantung pada dua hal itu, transfusi dan suntik desferal."
"apa dokter tidak salah mendiagnosa ? Maksud saya, ya, Iel sama sekali tidak seperti orang sakit." tukas Alvin.
"orang tuamu sudah membawa Gabriel ke-8 rumah sakit bertaraf internasional dan hasilnya sama. Apa kamu masih meragukannya ?"
"jadi orang tua saya sudah tau ?" tanya Alvin, dokter Fadli menganggukkan kepala yang berarti 'iya'.
"dan nggak ada yang ngasih tau gue." lirih Alvin, ditundukkan kepalanya dalam-dalam.
"sekali lagi saya tegaskan, itu permintaan Gabriel sendiri, Alvin."
"la...lalu..se..parah apa keadaan Iel sekarang ?" tanya Alvin hati-hati.
Dokter Fadli menggeleng lemah, perlahan ia melepas kacamata yang sedari tadi membingkai matanya yang tegas.
"saya selalu benci pertanyaan ini." kata dokter Fadli, berat. Terlihat ia begitu enggan untuk bicara lebih lanjut dan
memaparkan semuanya, "Gabriel, ya...dia sudah saya anggap sebagai putra saya sendiri." dokter Fadli, malah memberikan potongan kalimat yang sama sekali tidak ada sangkut pautnya dengan pertanyaan Alvin sebelumnya.
"dok, Iel masih bisa sembuh kan?" tanya Alvin, penuh keyakinan.
Dokter Fadli menggeleng, "sejauh ini bahkan belum ditemui solusi lain untuk penderita thalassemia major, selain transfusi. Kalau kamu ingin tau separah apa kondisi Iel saat ini, jawabannya hanya dua kata, sangat parah." balas dokter Fadli, getir. Hati Alvin mencelos, lututnya serasa gemetar dan seluruh tubuhnya lemas.
"Iel sudah mengalami gagal jantung, jantungnya tidak lagi bisa bekerja secara normal. Karena jantungnya sudah tidak bisa berfungsi secara sempurna, terjadi pembengkakan pada organ krusial lainnya. Seperti hati dan limfa. Tulang-tulangnya juga semakin rawan patah dan sangat rapuh." tutur dokter Fadli, menjelaskan.
Semua orang -kecuali Rio- yang sejak tadi ada disana, dan menjadi pendengar yang baik, tanpa berani membuka mulut untuk ikut berkomentar, kini menampakkan respon yang hampir sapa. Ternganga tak percaya ?
Benarkah ? Benarkah ada penyakit seperti itu ditubuh Iel ?
Saking tidak percaya, Cakka sempat mencubit tangannya sendiri dan meringis kesakitan sesudahnya. Berarti ini bukan mimpi.
"tapi saya selalu salut pada Gabriel. Aktivitasnya tidak sedikit, tapi ia tetap bisa bertahan sampai usianya yang hampir 17 tahun. Padahal pada umumnya penderita thalassemia major hanya mampu bertahan sampai usia 8 tahun. Ia tidak pernah mengeluh, dan setiap saya bertanya pada Gabriel, tentang apa yang menjadi motivasi untuknya, dia hanya akan selalu menyebut satu nama...." dokter Fadli, tersenyum lembut, "Alvin. 'Alvin saudara saya yang paling hebat, saya tidak akan meninggalkannya sendiri', Gabriel selalu berkata demikian." jelas dokter Fadli.
Alvin membisu. Sebesar itukah rasa sayang Iel padanya? Tapi Alvin? Hanya karena seorang gadis, Alvin tega memukuli Iel sampai ia terkapar di rumah sakit. Disatu sisi, hatinya mulai trenyuh, tapi sisi yang lain menyangkal habis-habisan.
"dia sudah membohongimu Alvin. Dokter Fadli pasti hanya menambah-nambahi, kalau Iel menyayangimu, ia tidak akan pernah tega menyakitimu." suara ghaib semacam itu muncul dan terus berpusar diotaknya.
"jangan berkecil hati. Sekarang kalian sudah tau kan bagaimana kondisi Gabriel ? Dia tidak butuh tangisan, tapi dia butuh doa dan semangat dari kalian. Percayalah, mukjizat itu akan selalu ada. Baiklah, saya permisi dulu kalau begitu. Selamat siang." pamit dokter Fadli. Setelah melempar seulas senyum, beliau berlalu. Jas putihnya berayun lentur mengiringi tubuhnya yang perlahan menjauh.
"hiks, hiks. Iel..." isakan tertahan itu berasal dari seorang gadis yang bersembunyi dibalik bahu Ify.
"sabar ya, Vi..." Ify mencoba menenangkan sahabatnya itu.
Rio sudah menjelaskan semuanya, perihal Iel dan Via pada teman-temamannya. Ia terpaksa mengingkari janjinya pada Iel. Toh, cepat atau lambat semua juga akan tau. Dari pada mereka mendengar versi Alvin, yang tidak objektif pastinya, jadi akan lebih baik dan adil, kalau Rio yang menceritakannya.
isakan kecil milik Sivia tadi, ternyata mampu menyulut kembali bara yang tadi sudah hampir padam di hati Alvin. Alvin mengepalkan tangannya kuat-kuat.
"lo udah tau semuanya, Yo ?" tanya Alvin datar.
Rio tidak menjawab.
"ikut gue, Yo !!" pinta Alvin.
"Vin, kontrol emosi lo." ujar Cakka mengingatkan, ia tau kilatan emosi itu masih meletup-letup, terlihat di kedua manik mata Alvin.
"ikut gue, Mario." Alvin mengulangi ucapannya. Ia lalu berjalan lebih dulu, mengabaikan tatapan-tatapan memohon dari teman-temannya. Rio, dengan terpaksa, mengekor dibelakang.
Kedua pemuda ini, lalu berhenti tepat di taman rumah sakit ini. Taman itu sepi, mungkin karena hujan yang belum juga mereda jadi tidak ada yang berkenan mengunjunginya. Dalam beberapa detik saja, baju Alvin dan Rio sudah langsung basah kuyup disembur air hujan. Sepatu mereka juga sudah dipenuhi lumpur, hasil genangan-genangan air yang bercampur tanah.
"sejak kapan lo tau Iel sakit ??" tanya Alvin.
"gue juga ba-"
BUGG
Tinju Alvin mendarat tepat di ulu hati Rio, sebelum Rio sempat melanjutkan jawabannya.
"sejak kapan elo tau kalau Via sama Iel selingkuh dibelakang gue ?"
"Vin, maafin gu-"
BUGG
Pukulan Alvin lagi-lagi menghujam tubuh Rio. Rio terhuyung dan jatuh tersungkur di tanah. Lumpur kecoklatan, langsung bercipratan dan memulas kemeja putihya.
"lo pikir, elo tu siapa sih Yo, heuh? ELO TU BUKAN SIAPA-SIAPA. ELO CUMA ORANG BARU." raung Alvin.
Rio masih berusaha untuk bisa bangun, tapi BUGG.
Lagi-lagi, kepalan tangan Alvin menderanya. Kali ini, tepat di pelipis kanan Rio. Seperti di film-film kartun, Rio merasa banyak burung-burung berputar-putar disekitar kepalanya.
"BANGUN LO !!" sentak Alvin.
"berhenti mukulin gue, Vin. Berhenti !!" seru Rio, gusar, "apa lo pikir, gue mau, gue seneng ? Karena jadi satu-satunya orang yang tau rahasia Iel. Nggak Vin, nggak sama sekali." tandas Rio.
"cih, ada hak apa lo minta gue berhenti mukulin lo. Orang kayak elo tu pantes dihajar."
"ELO YANG PANTES DIHAJAR, ELO GAK TAU TRIMAKASIH." cerca Rio.
"sialan lo..."
tangan Alvin sudah melayang diudara, mengambil ancang-ancang untuk segera mendarat di bagian manapun, dari tubuh Rio.
"jangaaann," teriak seorang gadis, membuat kepalan tangan Alvin terkunci diudara.
"cukup Vin, cukup. Gue mohon." pinta gadis tadi.
"diem lo, Fy. Gak usah ikut campur, kalo elo gak mau kena pukul." gertak Alvin.
"gue gak takut, Vin. Silakan kalo elo mau pukul gue." balas gadis tadi lantang, Ify.
"shit." umpat Alvin, sambil mengeksekusi tinjunya di udara.
"elo tu childish banget sih, Vin. Elo tu udah dewasa Vin, harusnya lo mikir dulu kalau maju ngehajar orang. Elo salah sasaran, tau." ujar Ify, tegas.
"kesalahan Rio gak sefatal yang ada di otak lo. Soal penyakit Iel, kalau pun ada orang yang paling pantes buat dipukulin. Itu orang tua lo. 17 tahun mereka nyembunyiin semuanya dari lo. Dan soal Via. Harusnya dia yang lo pukul, kenapa dia gak jujur dari awal kalau dia gak cinta sama lo? buka mata lo, Vin." tutur Ify panjang lebar. Bak pengacara profesional, Ify benar-benar total membela kliennya agar lolos dari sanksi apapun.
"gue gak peduli, gak-pe-du-li. Buat gue Rio tetep salah." sanggah Alvin.
Ify tersenyum sinis, "elo cuma nyari orang buat melampiaskan emosi lo, iya kan? Dasar labil. Pantes aja Via lebih suka sama Iel"
"apa maksud lo?"
"maksud gue, elo ABG labil. Beda banget sama Iel yang dewasa dan peduli banget sama perasaan orang-orang disekitarnya. Jelas ??"
"hahaha," Alvin tertawa mengejek, "Ify, Ify. Nggak usah sok ngomentarin gue deh. Elo pikir, elo gak labil. Mau-maunya lo dimanfaatin Rio. Dan parahnya elo malah jatuh cinta sama dia, ckckck. LABIL LO !!" cibir Alvin, sambil melempar sebuah senyum miring tak bersahabat. Setelah itu, Alvin pergi. Meninggalkan Ify dan Rio yang sama-sama terpaku, mendengar pernyataan Alvin barusan.
Rinai hujan masih bergulir. Meski tidak sederas tadi, tapi sekujur tubuh dua anak manusia ini sudah terlanjur basah kuyup. Sama halnya seperti perasan mereka yang terlanjur tergelincir telalu jauh dalam lubang yang mereka buat sendiri. Rio dengan kecamuk rasa bersalahnya, dan Ify dengan perasaannya, yang selalu mendesak minta diungkapkan.
"Fy.," suara berat itu menyerukan nama Ify.
Ify diam saja, tidak berniat menoleh atau menyahut. Ia menunggu kelenjar air matanya untuk berhenti berproduksi terlebih dulu. Tidak sabar dengan respon diam yang ditunjukkan Ify, rio berjalan menghampirinya. Berdiri tepat dihadapan gadis itu. Perlahan dengan ibu jari dan telunjuknya, diangkat dagu tirus Ify, hingga kedua manik mata mereka bertemu.
"apa yang dibilang Alvin tadi gak bener kan Fy ??" tanya Rio lembut.
Bukannya menjawab, Ify malah menangis. Air matanya membaur dengan air hujan yang dengan brutal, menyentuh wajah cantiknya.
"nggak Fy, gue mohon. Ayo Fy, bilang kalau itu semua gak bener. Plis Fy." batin Rio.
"Fy..." Rio kembali menyerukan satu suku kata itu, potongan dari nama Ify.
"Fy, dengerin gue. Elo nggak boleh say-"
"diam Mario, diaaam." sentak Ify, tiba-tiba, "lo pikir elo siapa Yo ? Elo selalu ngelarang gue suka sama lo, apa hak lo, heuh? Gue udah terlalu sering dengerin elo Yo, sekarang elo yang harus dengerin gue."
"tapi Fy, elo salah kalau sayang sama gu-"
"kenapa Yo ? Kenapa gue yang salah ? Elo Yo, yang salah. Elo terlalu sempurna, terlalu sulit bagi cewek normal buat gak suka sama lo. Dan gue masih normal."
"tapi elo tau kan Fy, gue gak sesempurna itu...gue..."
"gue tau Yo, gue tau banget. Tapi itulah bodohnya gue, bahkan elo tetep sempurna dimata gue, padahal elo udah nunjukkan semua sisi buruk lo. Dan kalau bisa milih gue juga gak mau Yo, sayang sama orang yang gak pernah mau melepas masa lalunya. Gue juga capek, Rio. Capek. Hiks, hiks."
"kalau gitu berhenti Fy, berhenti sayang sama gue. Berhenti !!"
"GUE UDAH COBA RIO, TAPI SUSAH YO, SUSAH. KENAPA SIH LO GAK NGERTI JUGA ?"
"Fy, ini tu salah. Elo cuma bakal nyakitin diri lo sendiri."
"gue gak takut Yo. Toh, gue udah sering sakit. Apa setiap elo cerita panjang lebar tentang Dea, setiap elo mangil-manggil nama Dea, setiap lo bandingin gue sama Dea, apa lo pikir gue gak sakit ?"
"Fy, gue mohon, lupain semua perasaan elo buat gue, karena gue gak mungkin bisa bales semua itu. Gue gak bisa lepasin masa lalu gue."
"sampai kapan sih Yo, lo mau kayak gini? Gue selalu berusaha ada buat lo, tapi kenapa si masa lalu itu yang selalu nomer satu dihati lo?"
"Fy.... Dea itu segalanya buat gue dan gak akan pernah ada yang bisa gantiin dia." lirih Rio, sambil menunduk dalam.
"fuiihh" Ify menghembuskan nafasnya, detik berikutnya ia tersenyum simpul.
Kedua bola matanya menatap lembut pada pria didepannya.....
Kali ini..
Hampir habis dayaku
membuktikan padamu
ada cinta yang nyata
setia...
hadir setiap hari
tak tega, biarkan kau sendiri
meski sering kali kau malah asik sendiri.
Satu bait lagu itu, entah bagaimana prosesnya, tiba-tiba mengalun begitu saja dari bibir Ify yang membiru karena dingin, tangannya mulai bergerak, menelusuri setiap lekuk sempurna wajah Rio, yang dipahat dengan indah oleh Sang Pencipta.
"OK. Gue nyerah Yo. tapi walaupun bukan gue, gue tetep berharap suatu saat akan ada orang lain yang bisa buka hati lo. dan lo perlu tau satu hal Yo, gue-"
"RIO, IFY..." suara teriakan seorang gadis, membuat Rio dan Ify reflek, menoleh.
"Rio, kok ujan-ujananan sih ? Terus itu muka lo kenapa ?" gadis itu tampak cemas, ia segera memayungi tubuh Rio dengan payung ungu kotak-kotak yang dibawanya.
Ify tersenyum miris.
"mungkin dia orangnya ya, Yo." batin Ify. Tanpa sepatah kata pun, dengan setengah berlari, Ify segera pergi meninggalkan tempat itu. Sebelum air matanya semakin sulit dikontrol, dan dadanya semakin sesak.
"masalah lo berdua belum selesai ya ?" tanya gadis tadi hati-hati. Tangan kanannya mulai sibuk membersihkan darah yang menitik disudut bibir Rio.
Rio menggeleng lemah, "emang gak ada yang perlu diselesaikan, Shil, kita gak pa-pa." jawabnya singkat.
"oh, OK. Ya udah, masuk aja yuk, jangan disini terus. Entar lo malah sakit lagi." saran gadis tadi, Shilla.
"Shil, emang tampang gue nyebelin banget ya? Kok kayaknya orang-orang seneng banget nonjokkin gue." celetuk Rio sambil mencoba menggerak-gerakkan rahangnya yang terasa sakit dan kaku.
"hehehe," Shilla tertawa kecil, "nggak kok Yo. Mungkin elo terlalu ganteng Yo, jadi pada ngiri gitu sama lo." ceplos Shilla.
"ck, bisa aja lo, Shil." timpal Rio diiringi seulas senyum.
Keduanya terus berjalan, menapaki rerumputan yang terlihat makin segar setelah tersentuh air hujan. Cipratan-cipratan air mengekori setiap langkah kaki mereka. Tangan kanan Shilla melingkari lengan kiri Rio. Dan tanpa bisa ditampik, sulur-sulur rasa hangat mulai merambat dan meliliti tubuh Rio, selepas kepergian serta pengakuan Ify yang sempat membuatnya beku.
***
Lelahmu...
Jadi lelahku juga
Bahagiamu, Bahagiaku pasti
Berbagi...
Takdir kita selalu
Kecuali tiap kau jatuh hati
Kali ini...
Hampir habis dayaku
Membuktikan padamu
Ada cinta yang nyata
Setia, hadir setiap hari
Tak tega, biarkan kau sendiri
Meski sering kali
Kau malah asik, sendiri...
Ify teruduk dalam diam, dikamarnya. Tidak seperti bibirnya yang terkatup rapat, hatinya masih saja sibuk ber-orasi, sibuk memaki kebodohannya.
"hei, Ify. Bukankah Rio telah melarangmu jatuh cinta kepadanya berulang-ulang kali ? Sekarang apa yang bisa kamu lakukan, menangis ? Cengeng kamu, rasakan !! Rasakan Ify !!" cercaan itu seakan terus bergaung dalam hatinya dan menjalari seluruh tubuhnya.
Ah, rasanya hidup manusia akan benar-benar lebih mudah, tanpa sebentuk hati.
Titipan Tuhan yang satu itu benar-benar merepotkan. Kadang mau tapi malu, benci tapi rindu, galau, resah, nah bagaimana tidak merepotkan coba kalau manusia harus merasakan hal-hal seperti itu, dan itu semua gara-gara yang bernama hati itu tuh.
Sama seperti Ify saat ini. Dengan seenaknya hatinya telah memilih, terlanjur mematri satu nama dan tak berniat sedikitpun untuk menggantinya dengan nama yang lain. Tapi sayangnya, pemilik nama itu tidak lagi memiliki sebentuk hati yang utuh untuk diserahkan pada Ify. Pemilik nama itu, terlanjur menggadaikan hatinya, pada masa lalu.
Ify jadi teringat sebait lirik dari salah satu lagu histnya Kerispatih, "mencoba memahami, bimbangmya nurani 'tuk pastikan semua..."
ya, memahami bimbangnya nurani? Berulang-kali sudah, Ify mencoba memahami segalanya, tapi hingga detik ini kepastian itu tak kunjung ia temukan. Malah Ify, mendapati dirinya terseret semakin jauh dalam kebimbangannya. Jadi, apa sebenarnya yang harus Ify lakukan? Harus bertahankah? Atau ini saatnya menyerah dan mulai belajar melupakan pemilik nama itu?
Rinai air hujan, hanya satu-satu terdengar membentur atap-atap rumah. Mendung nampaknya juga masih bingung, akan mencurahkan air langit habis-habisan malam ini, atau menyimpannya, agar esok denting dawai alam itu masih bisa bernyanyi. Mengghibur hati-hati yang sendiri, agar tidak terpuruk dalam kesepian.
"aku kira aku kuat Yo, aku kira aku cukup kuat buat nyimpen perasaan ini sendirian." suara parau Ify mulai terdengar, menggeser serpihan hening yang tadi berkuasa di kamar ini, "kenapa aku harus bersaing sama masa lalu itu Yo ? Masa lalu yang gak pernah mau mati ? Kenapa kamu gak mau liat aku ? Aku yang selalu berusaha ada disamping kamu."
Benar kata orang, pelangi itu hanya untuk dinikmati bukan untuk dimiliki. Begitu pula Rio untuk Ify. Ia hanya untuk dilihat dan dikagumi dari jauh, tidak untuk direngkuh. Karena semakin Ify merusaha mengejar, indahnya akan semakin nyata, tapi jarak yang terbentang akan semakin jauh. Rio sama sekali tak akan terjamah dan tergapai olehnya.
Seiring dingin yang mulai menggelitiki kulitnya, kenangan-kenangan itu pun berkelebatan minta ditengok kembali oleh Ify.
Ulangan fisika, air matanya, boneka spongebob, Dea, senyuman Rio, rekamam Debo, usapan lembut dipuncak kepala Ify, payung Shilla.
Semua hal itu berlomba menyerbu otak Ify, seakan ingin mempertegas siapa yang paling juara, kenangan yang maniskah atau yang pahit ??
"aku harus gimana, Yo ?" lirih Ify, terdengar pasrah. Kedua tangannya semakin erat melingkari lututnya.
Ada yang bilang obat paling aman dan manjur untuk seseorang yang patah hati adalah menumbuhkan cinta pada orang yang juga pernah merasakan patah hati.
When you ever broken hearted, effeccacious charm for it you must make love for somebody who also ever broken hearted.
kalau ungkapan itu benar, berati Ify harus segera berpaling dari Rio, dan mencari orang yang senasib denagannya. Orang yang juga pernah patah hati ??
Tapi siapa?
Apa.... Alvin??
Tok-tok-tok
pintu kamar Ify, terdengar diketuk pelan.
"non Ify, ada mas Rio..."
Hampamu...
Tak 'kan hilang semalam
oleh pacar impian
tetapi kesempatan
untukku...
Yang mungkin tak sempurna
tapi, siap untuk diuji
ku percaya diri
cintaku lah yang sejati...
Dibelahan bumi yang lain, seorang pemuda melakukan hal yang hampir sama dengan Ify. Membisu dalam kamarnya yang gelap. Bukan, bukan karena keluarganya belum membayar tagihan listrik. Tapi pemuda ini, memang tak berniat sama sekali untuk menyentuh saklar lampu. Ia terlalu takut. Takut slide-slide bayangan pengkhianatan dan kebohongan itu akan semakin nyata bila memperoleh pijar sinar lampu.
Alvin. Ia masih asik dengan 2 benda yang sama, ditangannya. 2 lembar foto, fotonya dan Iel, serta fotonya dengan Via. Sudah bisa ditebak, posisi duduk bersandar dengan tatapan menerawang semacam ini bukan baru beberapa menit berlangsung, tapi pasti sudah berjam-jam lamanya.
"semuanya udah gue lakuin Vi, buat lo. Cuma buat lo. Apapun gue kasih buat lo. Tapi..." Alvin terdiam, sebentar. Ia menarik nafas, mengambil oksigen yang tersedia di udara sebanyak mungkin sebelum ia melanjutkan racauannya, "Apa gue mesti ganti muka gue Vi, biar mirip Iel, baru lo bisa sayang sama gue ? Jawab Via, jangan diem aja." seperti orang yang sudah tidak waras, Alvin berbicara sungguh-sungguh pada selembar foto, dan detik-detik berikutnya, Alvin terdiam seperti menunggu sebuah jawaban dari foto itu.
Ah, gadis putih berlesung pipi itu benar-benar sudah berhasil memporak-porandakan otak dan hati Alvin.
Andai ada yang mau mengerti, sedikit saja. Dibalik letupan emosinya, dibalik sorot kemarahannya, dibalik umpatan-umpatan kecewanya, ada yang lebih dalam dari itu. Luka yang lebih dalam, dari apa yang bisa orang bayangkan. Sakit, menyesakkan. Entah sampai kapan luka yang terlanjur membekas itu akan terus menganga. Entah berapa guliran waktu yang dibutuhkan untuk menyembuhkan luka itu.
Alvin. adakah yang mau peduli padanya, atau berkenan sedetik saja untuk membayangkan bagaimana perasaan pemuda ini. Kepercayaannya hanya dihargai bualan-bualan manis tanpa makna. Ketulusannya hanya dibalas senyum-senyum dari topeng yang sengaja dipasang lakon-lakon sandiwara, untuk mengelabuinya.
JEDDEERR
Kilat, seakan membelah angkasa. Disusul gemuruh petir menggelegar, yang menggetarkan kaca-kaca berbingkai kusen kayu.
Seakan bolham berukuran 1000 watt muncul diotaknya, pemuda berparas oriental itu, bangkit. Sejurus kemudian, ia meraih kunci motornya dan dengan cepat Alvin sudah menghilang dibalik pintu. Sepertinya keperkasaan petir tadi, telah memberikannya keberanian untuk melakukan sesuatu.
Kau selalu meminta
terus ku temani
dan kau s'lalu bercanda
andai wajahku diganti
kau melarangku pergi
karna tak sanggup
sendiri...
Saat manusia normal di seantero kota ini mulai berhenti dengan aktivitasnya dan berniat segera membungkus diri dalam balutan selimut tebal. Seorang gadis malah terjaga dari tidur singkatnya, ia mulai menggeser guling empuk yang sejak tadi dipeluknya. Pukul 21.15, ah, berarti baru sekitar 45 menit ia tertidur.
"CK" ia berdecak kesal, karena matanya sepertinya tidak ingin diajak terpejam lagi.
Perlahan, dijejakkan kedua kakinya pada lantai. Dingin, sangat dingin. Gadis itu lalu berjalan gontai kesudut kamarnya. Ya, mungkin untuk orang sepertinya lah, pepatah 'hidup enggan mati pun segan' tercipta. Kalau ada kontes berjalan mirip zombie, bisa dipastikan gandis berkuncir kuda inilah yang akan keluar sebagai juara.
Kedua tangannya kini mulai sibuk dengan benda bulat berwarna orange yang tadi diambilnya dari sudut kamar. Duk-buk-duk,
suara pantulan bola basket yang bergerak centil ditangannya, membuat gadis ini tersenyum tipis.
"Agniii....jangan main basket malem-malem dong sayang, berisik..." teriakan mamanya dari luar itu, membuat gadis tadi, dengan terpaksa harus menghentikan aktivitas yang sedikit bisa menghiburnya.
Agni. Kini ia memilih untuk kembali merebahkan tubuhnya di tempah tidur, "fuhh" ia menghembuskan nafas, dengan gusar. Berharap rasa lega akan segera menelusup memenuhi rongga dadanya yang sudah longgar, karena gas karbondioksida baru saja ia keluarkan.
Tapi alih-alih menjadi lega, dadanya malah terasa semakin sesak juga sakit, seperti dihimpit batu-batu besar dan panas. segala hal tentang Cakka, bak Sianida. unsur beracun itu akan lebih dulu menenuhi rongga dadanya, lebih cepat diikat oleh sel darah merahnya dan secara langsung akan segera tersebar ke setiap inci tubuhnya.
"lo tau Kka, satu-satunya hal yang pengen banget gue lakuin sekarang adalah bales semua perbuatan lo Kka, semuuaanya..." batin Agni.
Agni memandangin langit-langit kamarnya yang berwarna putih polos tanpa detail, "andai diotak gue ada tombol delete," lirih Agni, berandai-andai, "pergi sebentar bisa kali ya, Kka. Gue pengen tidur, jadi stop. Stop bayang-bayang lo, gangguin hidup gue. Pergi lo jauh-jauh, bawa sekalian sakit hati yang lo kasih buat gue." Agni menutup wajahnya dengan bantal. Merasa sudah cukup lelah dengan fikiran-fikirannya sendiri tentang satu objek yang sama, Agni pun tertarik untuk mencoba kembali tidur.
"good night Cakka, have a nice dream." lirih Agni, lalu menarik selimut tebalnya hingga menutupi seluruh tubuhnya.
Namun tak kau lihat
terkadang malaikat
tak bersayap
tak cemerlang
tak rupawan
namun kasih ini
silahkan kau adu
malaikat juga tau
aku...
'kan jadi, juaranya...
***
Sivia masih berkutat dengan kertas dan pulpen, dimeja belajarnya. Meski kedua matanya sudah memerah, merajuk meminta dipejamkan, tapi Via sama sekali tidak berniat untuk segera bangkit dari kursinya dan berbaring diatas kasur. Kemelut fikiran yang berseliweran diotaknya, Via yakini tidak akan membuatnya terlelap dengan mudah. Jadi, ia memutuskan untuk mengerjakan tugas mengarang prosa yang diberikan guru bahasa Indonesianya.
Tik-tok, tik-tok
jarum detikan berwarna merah pada jam berbentuk pinguin yang terpajang di sisi meja belajar Via, terus bergerak. Sedangkan jarum pendek dan jarum panjangnya tampak berhimpitan diangka 10.
Sivia berhenti dari aktivitas menulisnya, dipandangi kertas yang sudah terisi susunan kalimat-kalimat hampir 3/4nya. Pupil matanya mulai bergerak, menyunting ulang setiap tanda baca ataupun huruf-huruf yang mungkin telah salah ia bubuhkan. Dan ternyata, benar saja. Banyak sekali kesalahan pada karangannya kali ini, dan kesalahan-kesalahan yang tertera disana semakin mempertegas bahwa otaknya memang sedang tidak mau diajak berkomromi, barang sebentar. Tidak mau bekerja, selain memikirkan kedua pemuda itu. Huh, bagaimana bisa dalam karangan yang ia tulis, nama Iel ataupun Alvin terbubuh begitu saja dibeberapa bagian. Bahkan kalimat terakhir yang baru beberapa detik lalu Via tuliskan membuatnya tercekat sendiri.
'maafin aku, Alvin.'
Astaga !! Sebesar inikah rasa bersalah yang harus ia tanggung ??
Semoga saja kau
kan kau dapati
hati yang tulus mencintaimu
tapi bukan, Aku....
Alunan suara merdu milik sammy terdengar dari handphone Via yang sudah mengerjap-ngerjap dengan tidak sabar.
Panjang umur sekali pemuda ini. Baru saja partikel-partikel tubuh Via, riuh rendah membicarakannya, ekh sekarang orangnya telfon.
"ha..halo, Vin?" sapa Via sedikit gugup.
Tidak ada sautan dari ujung telfon sana.
"halo, Alvin ?" Via mengulangi sapaannya.
Tetap bisu. Hening. Rasa cemas mulai menyerang Sivia. Jangan-jangan ada apa-apa dengan Alvin.
"Alvin, ha-"
aku memang terlanjur mencintaimu
dan tak pernah kusesali itu
seluruh jiwa telah ku serahkan menggenggam janji setiaku
belum sempat Sivia menyelesaikan sapaannya yang ketiga, suara lembut Alvin terdengar lirih, ditelinga Via. Gleek. Via menelan ludah. Entah perasaannya saja, atau memang benar, suara Alvin bergetar seperti menahan sesuatu. Sarat akan nada getir dan pedih, membuat Via tak kuasa menahan lelehan air matanya.
"Vin, aku min-"
ku mohon jangan jadikan semua ini
alasan kau, menyakitiku
meskipun cintamu
tak hanya untukku
tapi cobalah
sejenak mengerti...
Tidak diberi kesempatan untuk bicara, Via memutuskan untuk hanya menjadi pendengar yang baik. Ia mulai bangkit dari kursinya. Dan, entah didorong oleh apa atau siapa, Via malah menghampiri jendela kamarnya, yang dihalangi gorden putih susu. Via menyibaknya perlahan. Ia ternganga...
Bila rasaku ini rasamu
sanggup kah engkau ??
Menahan sakitnya terkhianati cinta yang kau jaga
coba bayangkan kembali
betapa hancurnya hati ini, kasih
semua telah terjadi
Alvin. Pemuda itu berdiri dihalaman rumah Via, dibawah guyuran air hujan. Tapi Via tidak segera menghampirinya, memayungi Alvin dan mengajaknya masuk. Via malah terpaku ditempatnya, dengan tatapan nanar diawasinya Alvin yang berdiri ditemani keremangan diluar sana. Detik berikutnya Via terduduk lemas di lantai, kepalanya terkulai bersandar pada dinding, isakannya semakin jelas, bahkan Alvin pun pasti bisa mendengarnya di ujung telfon.
"cukup Vin, aku mohon. Cukup... Maafin aku Vin, aku mohon..." pinta Via. Ia ingin Alvin segera menyudahi lagu itu. Tapi Alvin sepertinya tidak peduli, apa yang dirasakan Via saat ini tidak ada seujung kukupun dari apa yang ia rasakan. Lagu itu mulai detik ini, bisa dipastikan akan langsung masuk playlist lagu yang Via benci dan akan langsung menduduki posisi pertama, mungkin.
Ku mohon jangan
jadikan semua ini
alasan kau, menyakitiku
meskipun cintamu
tak hanya untukku
tapi cobalah sejenak mengerti
bila rasaku ini rasamu
sanggupkah engkau ??
Terkhianati cinta yang kau ja-
klik
Via terpaksa menekan tombol merah untuk segera mengakhiri telfon, dengan kasar. Setelah itu, Via menon-aktifkan handphonenya. Ia tau itu sama sekali tidak sopan, tapi mau bagaimana lagi ??
"maafin aku, Vin. Aku udah kecewain kamu, aku bikin kamu sedih. Maaf Vin, maaf.."
entah sudah untuk yang keberapa ratus kali kata maaf itu terlontar. Tapi sungguh. Sebanyak apapun Via merapalnya, tidak akan merubah apapun. Hanya akan mempertegas kenyataan, bahwa ia SALAH dan kesalahannya telah menghancurkan hidup orang lain.
Memilihlah, selagi kamu masih di beri kesempatan untuk itu.
Karena sejatinya, hidup adalah pilihan.
Bila sedetik saja kamu terlambat menentukan.
Maka takdirlah yang akan ber-andil.
Dan saat itu, bukan lagi saatnya untuk memilih, tapi saatnya kamu melepaskan salah satunya.
***
Seakan mendukung euforia yang akan segera tercipta, cuaca hari ini sangaaaaatt cerah. Matahari berkilau hangat, arak-arakan awan putih cemerlang berpatroli memutari angkasa, seperti telah siaga untuk segera mengusir gumpulan mendung yang nekat muncul hari ini. Angin bertiup semilir, seakan menbisikkan kata-kata semangat untuk semua peserta pertandingan. Selayaknya pertandingan basket pada umumnya, para suporter pasti berlimpah ruah. Apalagi ini pertandingan akhir, pertandingan final antara SMA Citra Bangsa dengan SMA Yos Sudarso.
Tapi berbeda dengan alam yang sangat antusias menyaksikan pertandingan puncak yang akan segera berlangsung dalam waktu kurang dari 30 menit lagi, Cakka malah nampak putus asa.
"bagaimana Cakka, apa mereka sudah bisa dihubungi ?" tanya sang pelatih, gusar.
Cakka menggeleng lemah.
Semua yang berada di ruangan yang terdiri dari barisan loker-loker itu, terlihat sama cemas dan kesalnya dengan Cakka.
"udah Kka, gue main aja ya. Gue bisa kok." usul Iel.
"nggak !!" tegas Cakka.
"Kka, gue gak selemah yang lo fikir. Plis, izinin gue main." desak Iel
"Yel, gak ada yang bilang lo lemah. Tapi lo baru keluar dari rumah sakit, lagian lo udah janji kan, sama kita. Lo cuma bakal nonton pertandingan final ini, dan gak akan ikut main." ujar Cakka, yang diamini dengan anggukan teman-teman yang lain.
"iya, Yel. Kamu gak usah main ya... Alvin sama Rio pasti bakal dateng kok. Mungkin kejebak macet." tambah Via.
"ini, ini... Rio, Rio telfon gue." Ozy segera menyodorkan telfonnya pada Cakka.
Ya, mengingat Iel tidak bisa bermain, dan permainan Ozy dibabak penyisihanwaktu itu cukup baik, pelatih merekrut Ozy untuk bergabung dengan tim inti.
"halo Yo, lo dimana?.......Lho, emang kenapa kalo gue yang angkat?......APA?? Yo, lo jangan bercanda deh." Cakka memandangi teman-temannya satu persatu.
"Rio, lo jangan macem-macem deh. Siapa yang bilang gitu? Kita semua tuh sayang sama lo........Yo, RIO !! Lo dimana ?? RIO, jangan ditutup Yo, Mario !!!"
tuttut.tuttut.
"aaargh SHIT." saking kesalnya, Cakka melempar Handphonenya. Benda elektronik itu langsung pecah menjadi beberapa bagian setelah beradu dengan lantai.
"Rio.....aargh, anak itu kenapa sih ??" Cakka malah mengacak-acak rambutnya.
"ada apa sama Rio, Kka?" tanya Ify.
"Rio bilang dia mau pergi... tapi nggak mau kasih tau dia mau kemana, gue takut kalo dia ngelakuin hal yang nggak-nggak." jawab Cakka.
"ja..jadi.. Rio beneran pergi ??" Ify langsung terduduk lemas dikursi panjang yang berada dekat, di sampingnya.
Shilla berbalik dan segera keluar dari ruang ganti baju itu, "maafin gue. Maafin gue Fy.. Maafin gue semua.. Gue terpaksa..." batinnya, menyesal.
***
Label:
Malaikat Hidup Gue
